Friday, November 15, 2013

Orang Gila di Masjid: Sebuah Renungan



Orang itu selalu tertawa tersenyum cemberut sendiri. Saya selalu menemuinya di masjid. Hampir tiap pekan terkhusus hari Jumat saya temui orang itu di Masjid Baitul Qarib yang terletak di Perum Dosen Univ. Muhammadiyah Surakarta. Banyak orang yang tidak suka melihat tingkahnya karena sering membuat gaduh pada saat khatib berceramah Jumat yang termasuk rukun dari shalat Jumat. Orang itu masih muda beliau, jadi sebut saja pemuda. Fisiknya gagah, bersih, namun akalnya saja yang kurang. Mengenai hal ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَوَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه
“Diangkat pena dari tiga orang:. Orang tidur hingga dia bangun, Orang gila hingga dia sadar, Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
Sejatinya orang gila tidak wajib untuk melakukan ibadah terlebih ibadah yang menjadi rukun Islam yakni shalat yang dalam hal ini shalat Jumat yang hukumnya fardhu ‘ain bagi laki-laki baligh dan berakal. Bersyukurlah kita sebagai manusia yang masih diberikan kejernihan kewarasan akal budi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun betapa banyak manusia yang ingkar dan tak mau bersyukur akan hal ini. Andaikan si pemuda gila itu waras pasti dia akan berpikir seperti kita semua yang dapat menikmati hidup ini. Saya prihatin melihat pemuda itu, seakan tak ada orang yang mau menuntunnya membantunya. Betapa mulianya Islam, sebagai agama rahmat semesta alam yang merahmati orang gila sekalipun. Memanusiakan manusia.

No comments:

Post a Comment