Orang itu
selalu tertawa tersenyum cemberut sendiri. Saya selalu menemuinya di
masjid. Hampir tiap pekan terkhusus hari Jumat saya temui orang itu di
Masjid Baitul Qarib yang terletak di Perum Dosen Univ. Muhammadiyah
Surakarta. Banyak orang yang tidak suka melihat tingkahnya karena sering
membuat gaduh pada saat khatib berceramah Jumat yang termasuk rukun
dari shalat Jumat. Orang itu masih muda beliau, jadi sebut saja pemuda.
Fisiknya gagah, bersih, namun akalnya saja yang kurang. Mengenai hal ini
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَوَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهSejatinya orang gila tidak wajib untuk melakukan ibadah terlebih ibadah yang menjadi rukun Islam yakni shalat yang dalam hal ini shalat Jumat yang hukumnya fardhu ‘ain bagi laki-laki baligh dan berakal. Bersyukurlah kita sebagai manusia yang masih diberikan kejernihan kewarasan akal budi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun betapa banyak manusia yang ingkar dan tak mau bersyukur akan hal ini. Andaikan si pemuda gila itu waras pasti dia akan berpikir seperti kita semua yang dapat menikmati hidup ini. Saya prihatin melihat pemuda itu, seakan tak ada orang yang mau menuntunnya membantunya. Betapa mulianya Islam, sebagai agama rahmat semesta alam yang merahmati orang gila sekalipun. Memanusiakan manusia.
“Diangkat pena dari tiga orang:. Orang tidur hingga dia bangun, Orang gila hingga dia sadar, Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
No comments:
Post a Comment