Monday, November 25, 2013

Hari Perempuan Sedunia (International's Woman Day)



Pendahuluan

Hari Perempuan Sedunia jatuh pada tanggal (8 Maret) yang dirayakan perempuan di seluruh dunia. Hari Perempuan Sedunia ini dirayakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pada banyak negara hari tersebut dijadikan perayaan nasional. Ketika para perempuan di seluruh benua yang tidak jarang dibedakan oleh batas nasional atau etnis, bahasa, budaya, ekonomi, perbedaan politik, berkumpul bersama demi merayakan hari tersebut, mereka memiliki kemampuan mengingat tradisi yang melambangkan perlawanan paling sedikit 9 – 10 perlawanan demi persamaan, keadilan, kedamaian dan kemajuan.

Hari Perempuan Sedunia merupakan perayaan para perempuan yang menciptakan sejarah yang berasal dari perjuangan agar dapat ikut serta dalam kehidupan bermasyarakat yang sama seperti layaknya kaum lelaki. Pada masa Yunani Kuna demi menghentikan perang diselenggarakan pemogokan seksual terhadap kaum lelaki; pada masa Revolusi Prancis para perempuan Paris berunjuk rasa demi ((Liberte, Egalite, Fraternite)) menyelenggarakan mars di Versaille, agar kaum perempuan mendapatkan hak yang sama.

Ide mengenai peringatan Hari Perempuan Sedunia muncul pada abad ke-20 ketika usaha perdamaian melalui periode ekspansi dan keguncangan, gaung demokrasi dan kemunculan ideologi radikal

Kronologi

Di bawah ini kronologi singkat mengenai peristiwa penting:

1909: Pernyataan kelayakan Partai Sosialis Amerika 28 Februari pada seluruh wilayah Amerika Serikat untuk merayakan Hari Perempuan Nasional. Para perempuan melanjutkan perayaan hari tersebut pada hari minggu akhir bulan sampai tahun 1913.

1910: Dewan Sosialis Internasional Kopenhagen berdasarkan karakter masing-masing bersidang dalam Hari Perempuan, agar mendapatkan hak-hak perempuan dan membantu perempuan seluruh haknya. Dalam konferensi tersebut dihadiri lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, membentuk parlemen Finlandia. Data konkrit mengenai kongres tersebut tidak ada.

1911: Dalam hasil keputusan pertemuan di Kopenhagen mengenai Hari Perempuan yang pertama-tama dirayakan pada 19 Maret di Austria, Jerman, Denmark, Swedia, dimana demonstrasi hampir diikuti oleh 1 juta laki-laki dan perempuan. Melalui peraturan wajib negara mereka menggunakan hukum demi kebenaran  dan teknis profesional persiapan dan penghentian diskrimkinasi dalam bidang pekerjaan.

Kurang dari seminggu setelah acara tersebut, 25 Maret terjadi kebakaran di salah satu pabrik Swedia di New York yang menewaskan lebih dari 140 karyawan yang sebagian besar berkebangsaan Italia dan Yahudi imigran. Peristiwa tersebut menandai pengaruh hukum Amerika Serikat, syarat pekerja menjadi alasan malaapetaka tersebut yang mengingatkan kejadian di tahun berikutnya pada Hari Perempuan Sedunia.


1913-1914: Dalam rangka pergerakan untuk kedamaian, menjelang perang dunia I, para perempuan Rusia merayakan Hari Perempuan Sedunia pertama pada minggu pertama Februari 1913. Pada tahun berikutnya di negara-negara lain seperti Eropa pada tanggal 8 Maret para perempuan mengadakan unjuk rasa dalam rangka protes, serta dalam rangka solidaritas sesama saudara perempuan.

1917: Ketika perang berlangsung, 2 juta pasukan Rusia, para perempuan memilih hari minggu akhir Februari sebagai acara pemogokan dengan jargon ((demi roti dan kedamaian)). Pemimpin politik bergabung tidak tepat waktunya namun para perempuan tetap sama. Sejarah mencatat: 4 hari kejatuhan tsar






Sejak saat itu Hari Perempuan Sedunia mendapatkan tempat baru bagi para perempuan, yang hidup berkembang sebagaimana negara berkembang. Perkembangan Hari Perempuan Sedunia  yang disetujui oleh konferensi perempuan PBB yang mengambil tindakan berupa impuls, memberikan koordinasi yang kuat mengenai tujuan hal tersebut agar hak-hak perempuan ditambahkan dan dapat ikut serta dalam kancah ekonomi dan politik. Hari Perempuan Sedunia dalam setiap tahap mengalami progres, menunjukkan permohonan untuk perubahan serta keberanian dari sisi perempuan, memberikan peran dalam sejarah perlawanan terhadap hukum perempuan.

Peran Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
Tidak banyak kampanye yang dikumandangkan PBB secara aktif dan bantuan yang luas dalamrangka kampanye memberi semangat dan perlindungan hak-hak perempuan. Piagam PBB yang ditandatangani di San Fransico pada tahun 1945 menjadi persetujuan internasional pertama, hukum persamaan laki-laki dan perempuan dalam hal hak asasi manusia. Sejak saat itu Organisasi membuat sejarah strategi persetujuan internasional, standar, program dan tujuan, meninggikan derajat kaum perempuan di seluruh dunia.


Pada tahun itu keadaan PBB bertujuan untuk meninggikan derajat kaum perempuan menjadi 4 tujuan nyata: dukungan terhadap batas hukum, mobilisasi pendapat dan keadaan internasional; persiapan pelajaran dan penelitian pendidikan, ikut serta dalam perkumpulan statistik pembagian tanah; bantuan langsung, kelompok yang tersakiti. Hari ini prinsip mobilisasi global PBB berkesimpulan mengenai hal tersebut, bahwa tidak ada  masalah sosial yang tidak serius, masalah politik dan ekonomi masyarakat tidak dapat ditemukan tanpa keikutsertaan para perempuan seluruh serta tanpa pemberian kesempatan dan kemampuan dalam semua aturan.

No comments:

Post a Comment