11 July 2013 at 23:24
Telah kita lewati satu bilangan Ramadhan kala waktu itu kita rasakan kehilangan seorang sahabat yang lebih dari teman. Tak ada lagi orang bengal yang iseng menyapa dan berkata semaunya “ah yang bener lo?”. Semua kenangan terukir manis di benak dan hati kita semua yang merasa sombong dan bangga pernah hidup sejaman dengan manusia yang satu ini. Manusia yang dihadiahkan untuk kita berbagi dan mengerti apa itu arti kemanusiaan yang tersimbolkan dalam fakultas humaniora tempat kita dipertemukan. Dia tidak penting pada arti sebuah popularitas, akan tetapi dia menunjukkan pada kita bahwa kesederhanaan menjadikan seseorang kaya raya tanpa embel-embel simbol duniawi yang profan. Kita dapat pelajaran berharga darinya yang telah mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang “legowo prasojo”. Saya yakin semua yang kenal dia yang pernah hidup bersama pasti merasa kehilangan sosok yang tiada duanya. Ya memang dia Eko Prasetyo yang setia merajut benang takdirnya dengan ketidakmapanan sebagai jargon utama. Perjalanan kita yang terhenti oleh titik nadir misteri ilahi memang suatu yang absolut. Masa muda yang terbungkus rapi di tempat bernama kampus sastra Margonda. Ketahuilah bahwa sang prasojo akan selalu hidup, hidup di hati kita dengan damai dan bersahaja. Hidup boleh berubah, jaman boleh berganti, tapi kenangan tidak akan pernah berubah. Kita pernah ada untuknya, kawan…
“agar lengkaplah pengabdian kita sebagai kawan” [Ossopi Dharma]
No comments:
Post a Comment