“Oi, Mi gimana kabar lu?”
Itu sepenggal kalimat sapaan beliau yang
biasa mampir di telinga saya jika bertemu. Kata-kata yang spontan keluar
dari lisannya membuat saya kadang juga merasa takjub, misalnya saja
kata “bedebah” dan “serampangan”, dua kata ini dia pakai untuk
mendeskripsikan saya yang slengean anti kemapanan urakan dan sebagainya.
Betul. Dialah sang Legowo Prasodjo yang terlahir bernama Eko Prasetyo
Raharjo. Bersama dengan balutan jeans belel berikut baju yang kurang
“eye catching” lengkap dengan sandal jepit ala toilet dia hadir. Tak
lupa dengan tas slempang buluk yang selalu dibawanya kemana-mana. Gaya
dan tingkah lakunya buat saya kadang geleng-geleng kepala. Betapa tidak
seakan kata galau sudah melekat dalam jasadnya, maksudnya kesan tak ada
yang mengurus layaknya anak jalanan jadi ciri khas beliau. Itulah yang
saya temukan dalam perjumpaan kala 2004 di kampus Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia. Kala itu
kami masih polos bin lugu baru lulus bangku Sekolah Menengah Atas
(SMA). Sekian tahun berlalu berjalan dalam porosnya, kami menjalani
takdir sebagai mahasiswa strata satu di kampus sastra, ya kampus sastra
kampus yang mengajarkan kami tentang apa itu arti sastra, bahasa,
budaya, humaniora.
No comments:
Post a Comment