============
Duh,
aku harus buru-buru. Sudah terlambat. Jam di ponselku menunjukkan pukul
13.07. Berarti aku telah terlambat tujuh menit dari jadwal. Walaupun
toleransi waktu terlambat adalah lima belas menit. Tergesa-gesa aku
setengah berlari dari kantin sastra. Hari ini memang hari Senin, biasa
saja. Namun yang membuat spesial pake telor hari ini ujian akhir. Terang
saja aku tak ingin main-main. Ini perang hidup mati istilahnya dan juga
ada pemeo yang berkembang di kalangan kampus: posisi menentukan
prestasi.
Aku berlari lurus dan kemudian belok kiri di perpustakaan sastra. Namun ketika aku berbelok, tiba-tiba,
Brukk!
Ndilalah aku menabrak seseorang hingga
membuatku sedikit mengurangi kecepatan. Orang itu ternyata mahasiswi.
Dan ternyata lagi ia itu gadis yang selama ini ku kagumi. Ia membawa
beberapa buah buku dan kamus Jerman-Indonesia yang kontan saja
berantakan akibat ku tabrak.
Naam, betul. Dialah Ayas, mahasiswi S1 sastra Jerman yang selama ini aku naksir padanya walau ia tak tahu.
Aku berhenti dan terhenti sejenak. Jantungku deg-degan. Napasku agak terengah ditambah lagi bertemu sang gadis pujaanku ini.
Jeda.
Terjadi dilema batin. Di satu sisi niatku
ingin membantunya untuk membereskan buku dan kamusnya yang
pating-tlethek. Namun di sisi lain aku terpesona pada pandangan pertama.
Mirip lagunya Mas Glen Fredly. Matanya menuju ke arah mataku. Tajam
namun indah.
Ia terus menatapku. Terjadi saling
tatap-menatap. Namun di sini ada perbedaan rumangsa. Aku menatapnya
takjub, kagum. Ia menatapku ditambah dengan sedikit kerutan di wajahnya,
agak kesal nampaknya. Mungkin di benaknya berkata: “ini orang udah
nabrak bukannya bantuin beresin buku gue”. Begitulah kira-kira
menurutku.
Terus ku tatap parasnya. Semakin cantik walau
ada rasa kesal di raut wajahnya. Sementara itu ia membereskan buku dan
kamusnya yang berserakan tersebut. Dan aku masih saja melihatnya. Hanya
jadi penonton.
Tak ada dialog. Hanya monolog batin masing-masing.
Namun tiba-tiba aku tersentak.Aku ingat,
ujian akhir telah dimulai. Aku harus buru-buru pamit dari hadapannya.
Eh, aku jadi hampir lupa membantunya membereskan perabotannya yang jatuh
gara-gara ulahku. Baru aku mau membantunya, eh ia malah sudah hampir
selesai membereskan buku yang terakhir. Aku sempat meraih ujungnya dan
ia pun memegang ujung yang satu lagi.
Barulah terjadi dialog.
“Maaf ya, nggak sengaja. Gue buru-buru”
ujarku sambil menyatukan kedua telapak tangan seraya undur diri untuk
kemudian kembali setengah berlari. Mataku sempat kembali menatap
wajahnya. Ia hanya mengeluarkan ekspresi agak kesal. Namun matanya
sempat menatapku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pamit.
Kemudian aku berlari menuju ruangan ujian.
Hatiku berbunga-bunga karena sedikit tak percaya campur tegang karena
ujian belum ku lalui. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ku pikir lain
kali aku harus bertemu untuk minta maaf padanya. Mungkin suatu saat
nanti. Entah kapan
No comments:
Post a Comment