Friday, November 15, 2013

Elegi Kampus Kuning: Bagian Satu - Perjumpaan


============

Duh, aku harus buru-buru. Sudah terlambat. Jam di ponselku menunjukkan pukul 13.07. Berarti aku telah terlambat tujuh menit dari jadwal. Walaupun toleransi waktu terlambat adalah lima belas menit. Tergesa-gesa aku setengah berlari dari kantin sastra. Hari ini memang hari Senin, biasa saja. Namun yang membuat spesial pake telor hari ini ujian akhir. Terang saja aku tak ingin main-main. Ini perang hidup mati istilahnya dan juga ada pemeo yang berkembang di kalangan kampus: posisi menentukan prestasi.
Aku berlari lurus dan kemudian belok kiri di perpustakaan sastra. Namun ketika aku berbelok, tiba-tiba,
Brukk!
Ndilalah aku menabrak seseorang hingga membuatku sedikit mengurangi kecepatan. Orang itu ternyata mahasiswi. Dan ternyata lagi ia itu gadis yang selama ini ku kagumi. Ia membawa beberapa buah buku dan kamus Jerman-Indonesia yang kontan saja berantakan akibat ku tabrak.
Naam, betul. Dialah Ayas, mahasiswi S1 sastra Jerman yang selama ini aku naksir padanya walau ia tak tahu.
Aku berhenti dan terhenti sejenak. Jantungku deg-degan. Napasku agak terengah ditambah lagi bertemu sang gadis pujaanku ini.
Jeda.
Terjadi dilema batin. Di satu sisi niatku ingin membantunya untuk membereskan buku dan kamusnya yang pating-tlethek. Namun di sisi lain aku terpesona pada pandangan pertama. Mirip lagunya Mas Glen Fredly. Matanya menuju ke arah mataku. Tajam namun indah.
Ia terus menatapku. Terjadi saling tatap-menatap. Namun di sini ada perbedaan rumangsa. Aku menatapnya takjub, kagum. Ia menatapku ditambah dengan sedikit kerutan di wajahnya, agak kesal nampaknya. Mungkin di benaknya berkata: “ini orang udah nabrak bukannya bantuin beresin buku gue”. Begitulah kira-kira menurutku.
Terus ku tatap parasnya. Semakin cantik walau ada rasa kesal di raut wajahnya. Sementara itu ia membereskan buku dan kamusnya yang berserakan tersebut. Dan aku masih saja melihatnya. Hanya jadi penonton.
Tak ada dialog. Hanya monolog batin masing-masing.
Namun tiba-tiba aku tersentak.Aku ingat, ujian akhir telah dimulai. Aku harus buru-buru pamit dari hadapannya. Eh, aku jadi hampir lupa membantunya membereskan perabotannya yang jatuh gara-gara ulahku. Baru aku mau membantunya, eh ia malah sudah hampir selesai membereskan buku yang terakhir. Aku sempat meraih ujungnya dan ia pun memegang ujung yang satu lagi.
Barulah terjadi dialog.
“Maaf ya, nggak sengaja. Gue buru-buru” ujarku sambil menyatukan kedua telapak tangan seraya undur diri untuk kemudian kembali setengah berlari. Mataku sempat kembali menatap wajahnya. Ia hanya mengeluarkan ekspresi agak kesal. Namun matanya sempat menatapku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pamit.
Kemudian aku berlari menuju ruangan ujian. Hatiku berbunga-bunga karena sedikit tak percaya campur tegang karena ujian belum ku lalui. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ku pikir lain kali aku harus bertemu untuk minta maaf padanya. Mungkin suatu saat nanti. Entah kapan

No comments:

Post a Comment