Selang
beberapa hari, selintas terngiang di telingaku ada dua orang mahasiswi
bercakap-cakap mengenai surat cinta kepada seorang mahasiwa yang
dikagumi salah seorang dari mereka. Ternyata salah seorang dari mereka
itu GG. “Lho?”. Hatiku mulai curiga baik sangka sekaligus doa penuh
harap. Semoga yang mengirim surat yang waktu itu dialah orangnya alias
GG. Dan juga semoga ketika aku berdoa ini, doaku diamini oleh para
malaikat.
Kemudian hari-hari berikutnya kejadian
tersebut bersipongang terus di otakku. Apa iya, GG-lah orangnya yang
merupakan jawaban dari pertanyaan yang masih berkecamuk di otakku
mengenai surat misterius itu yakni: siapa?. Hal yang kulakukan
semadyanya kemudian yakni berusaha menyelidiki siapa gerangan penulis
surat misterius atau lebih tepatnya adalah memverifikasi antara
selentingan yang telah kudengar dengan dugaanku. Ibarat Sherlock Holmes
yang selalu berhasil memecahkan kasus misteri ala detektif dengan
mengumpulkan fakta dan dugaan.
Alih-alih hal yang kulakukan untuk mengujinya
adalah mengadakan sedikit pendekatan pada GG dengan mengajaknya makan
bersama di sebuah tempat yang telah kutentukan, sebutlah di Warung TRSNO
Jl. Margonda . Masalah waktu, biar ia yang menentukan. .
Kuhubungi ia. Ia mengamini. Ditambah dengan ekspresi antusiasnya yang membuatku semakin merasa suka padanya.
Pada hari H
Aku telah tiba lebih awal darinya. Kemudian
ia datang. Namun tunggu dulu, ada suatu hal yang mengganjal hatiku.
Ternyata ada seorang yang tak kuharapkan datang mengantarnya ke Warung
TRSNO. Memang orang itu yang adalah laki-laki tidak ikut makan bersama,
hanya mengantar. Namun hal yang kubenci adalah kulihat dengan mata
kepalaku sendiri orang tak kukenal itu memegang lengan GG untuk kemudian
minta diri padanya.
Sial, pikirku. Siapa pula itu orang. Huh.
Ternyata aku tahu bahwa GG memang sudah punya
gandengan. Betul-lah isu yang beredar mengenai hal itu. Tak apalah,
pikirku kemudian.
Arkian saat ini, kata tanya berikutnya yang
muncul akibat surat misterius yakni: apakah?. Apakah benar GG yang
mengirimku surat misterius itu. Aku harus temukan jawabannya kali ini.
Kemudian deretan pertanyaan berikutnya yang telah kusiapkan adalah:
mengapa? dan bagaimana?. Aku akan memberondonginya dengan pertanyaan
tersebut, itu intinya dari acara makan-makan ini.
Ketika ia datang di hadapanku, ia melambai sambil berkata.
“Hai. Udah lama nunggu? Maaf ya, agak telat. Tadi ada urusan sebentar”
“Oh, gak apa-apa kok. Mari, silakan duduk”. Jawabku.
“Capek ya?” sambungku lagi.
“Lumayan. Panas banget di luar sana” serunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat.
“Langsung aja deh” sahutku kemudian. “Mau pesan apa?” seraya memberikan daftar menu padanya.
“Apa aja” jawabnya sangat Melayu.
“Lho. Pilih lah. Tenang aja, gue yang bayar”. Jawabku sangat Eropa
“Hmm..” ia menggumam. “Mi Goreng Spesial Pake Telor Cinta” jawabnya sambil tersenyum kemudian berkata lagi,
“Kok namanya pake cinta-cintaan segala sih? tanyanya penasaran.
“Sesuai dengan nama tempat ini, Warung TRSNO
yang berarti warung cinta dalam bahasa Jawa, gitu loh. Mbacanya bukan Te
Er Es En Ow tapi Tresno” ujarku menjawab pertanyaannya macam ilmuwan.
“O, gitu toh”. ujarnya sembari tertawa renyah
Selanjutnya percakapan terjadi dengan lancar.
Terjadi ala Melayu dengan bumbu basa-basi walau hanya sedikit berhubung
makanan yang dipesan belum kunjung datang. Karena kupikir jika aku
langsung pada tujuanku yakni menanyakan perihal surat misterius tersebut
maka mungkin akan merusak suasana nafsu makan. Jadi aku bersabar dan
memilih untuk bersikap Melayu. Tak apalah.
No comments:
Post a Comment