Friday, November 15, 2013

Puasa ala Diet, Diet ala Puasa


11 September 2013 at 21:25
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa" [Al Baqarah: 183]

Ayat di atas cukup populer dan mudah dihapal bagi umat muslim yang berisikan perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Ada hal menarik yang dapat kita cermati dari ayat tersebut tanpa harus membuka buku tafsir manapun. Faidah puasa telah jelas sebagaimana tertulis, apa itu? agar kamu bertakwa.

Siapa manusia yang diajak bicara dalam ayat ini? Jawabannya jelas Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Khitab (objek) pembicaraan telah jelas menggunakan kata ganti persona jamak (tattaquun) yang bermakna kalian (umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Adapun Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam merupakan uswatun hasanah atau sebaik-baik contoh teladan umat manusia hingga akhir zaman:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" [Al Ahzab: 21]

Dalam ayat di atas, Allah bersumpah menggunakan dua kata sumpah (qasam) yakni lam, dan qad; sehingga menegaskan makna yang sangat kuat bagi siapa saja yang ingin mencari teladan di dunia dan akhirat. Dalam kaidah bahasa Arab jika suatu sumpah menggunakan dua kata menunjukkan sesuatu yang tidak main-main di dalamnya. Ada makna terkandung yang kita harus pelajari.

Lantas pantaskah bagi kita untuk mencari teladan lain?

Di kala muncul fenomena diet yang berbasiskan dirinya dengan puasa yang diajarkan semua agama. Bagaimanakah kita sebagai muslim menyikapinya? Dikatakan bahwa puasa telah diajarkan semua agama sehingga jika kita puasa akan menjadi sehat. Memang tidak ada salahnya kita mencontoh orang lain, namun untuk apa jika ada sebuah contoh terbaik lantas kita menukarnya dengan yang lebih rendah? Pastilah kita memilih yang terbaik bagi kehidupan kita.

"..... Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?.... [Al Baqarah: 61]

Memang benar jika ditilik dari sisi kesehatan, berpuasa menjadikan tubuh sehat karena toksifikasi racun dalam tubuh menjadi berkurang akibat minimnya makanan yang masuk ke dalam tubuh. Namun apa memang seperti itukah hakikat puasa yang diniatkan untuk diet? Sejatinya telah jelas bahwasanya puasa bertujuan untuk membentuk ketakwaan bukan untuk niat lain apapun. Jadi tidaklah pantas bagi seorang muslim untuk mencampur adukkan niat dalam beribadah kepada Allah.

Selayaknya sebagai muslim untuk mencontoh teladan manusia terbaik pilihan, hamba dan rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam yang memiliki akhlak paling mulia. Pun dalam hal diet, kita contoh bagaimana cara beliau shallallahu 'alaihi wasallam makan dan minum. Mereka yang mematuhi kebiasaan makan menurut Islam akan sehat, dan mereka yang meniru cara makan Barat yang buruk akan sakit. Kebiasaan sehat dalam adab makan Islam seharusnya ditiru oleh masyarakat Barat (Profesor Hans-Heinrich Reckeweg, M.D., ahli toksikologi, Biological Therapy Vol.1 No.2, 1983).

Bagaimana cara beliau shallallahu 'alaihi wasallam makan? Adapun beliau shallallahu 'alaihi wasallam di pagi hari memulai hari dengan minum madu yang memiliki banyak khasiat bagi segala jenis penyakit, di antaranya untuk membersihkan pencernaan sehingga memperlancar metabolisme tubuh. Dilanjutkan dengan memakan kurma Madinah atau biasa disebut Ajwah yang mampu menolak sihir sebagaimana sabdanya:

"Siapa pun yang pagi-pagi makan tujuh buah kurma ‘Ajwah, maka pada hari itu dia tidak  mudah keracunan dan terserang penyakit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)


Tidak lupa beliau melakukan qayluulah (tidur siang sejenak) pada waktu siang hari. Hal ini berfungsi membuat rileks organ tubuh yang melakukan aktifitas dari pagi hari. Di sore hari beliau biasa mengkonsumsi cuka dan minyak zaitun yang dicampur dengan roti. Penelitian membuktikan bahwa khasiat zaitun sebagai penawar kolesterol jahat bagi tubuh, mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, dan melancarkan pencernaan. Setelah makan malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak langsung tidur. Beliau melakukab aktifitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna secara sempurna. Caranya bisa juga dengan shalat, sebagaimana sabda beliau: “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras.” [HR Abu Nu'aim dari Aisyah]


Demikian sedikit contoh mengenai adab bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan dan minum. Sungguh sebuah hal kecil yang bermakna besar. Betapa tidak? Seorang Nabi masih mau mengajarkan umatnya dari hal-hal yang besar mulai dari adab berbangsa dan bernegara hingga hal kecil seperti adab makan dan minum. Subhanallah. Maka sungguh Islam ini telah sempurna sebagaimana terang dan gamblangnya bulan purnama. Dan akhir kata saya ucapkan segala puji bagi Allah sang pemilik semesta alam.

Ibn 'Abd ul Rahman

No comments:

Post a Comment