Biografi Penulis: Leo
Tolstoy
Lev
Nikolayevich Tolstoy (bahasa Rusia: Лев
Никола́евич Толсто́й) yang masyhur dengan Leo Tolstoy lahir di Yasnaya
Polyana pada tanggal 9 September 1828 adalah seorang sastrawan besar Rusia,
pembaharu, pasifis, anarkis Kristen, vegetarian, anak keempat dari lima
bersaudara yang sangat berpengaruh di keluarga Tolstoy. Dia dikenal sebagai “Bapak
Realisme Psikologis Rusia” karena karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan
masyarakat Rusia sehari-hari dan mengangkat tema yang sarat berisi kritik moral.
Perang dan Damai (Война и мир [Voyna i mir]; 1865–69) serta Anna
Karenina (Анна Каренина; 1875–77) merupakan dua adikaryanya yang hingga
kini selalu ramai dibicarakan orang. Ditambah lagi salah satunya novel yang
akan dibahas disini yang berjudul Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh
Seseorang (Много Ли Человеку Земли Нужно[Mnogo Li Čeloveku Zemli Nužno];1886)
Tolstoy
lahir dari kalangan bangsawan, namun ia selalu menyembunyikan identitasnya
dengan berperilaku layaknya rakyat jelata. Masuk Universitas Kazan pada usia 15
tahun belajar hukum dan bahasa-bahasa oriental. hingga akhirnya ia meninggalkan
Universitas itu. Dosen-dosennya menggambarkan dirinya tidak mampu dan tidak mau
belajar. Ia kembali di tengah-tengah studinya ke Yasnaya Polyana dan
menghabiskan banyak waktunya di Moskwa dan St. Petersburg. Setelah terjerumus ke dalam
utang yang besar karena berjudi, Tolstoy menemani kakaknya ke Kaukasus pada
1851 dan masuk ke dalam Tentara Rusia.
Tolstoy menikah pada tahun 1862 dengan Sofia
Andreevna Bers yang usianya 16 tahun lebih muda, dan mereka mempunyai 13 orang
anak. Pernikahannya dengan Sofia Andreevna Bers ditandai pada permulaannya oleh
Tolstoy pada malam pernikahannya dengan memberikan buku hariannya kepada
tunangannya. Buku-buku hariannya ini memuat catatan mengenai hubungan
seksualnya dengan para petaninya. Meskipun demikian, awal kehidupan perkawinan
mereka cukup bahagia dan tenang, dan memberikan Tolstoy banyak kebebasan untuk
menulis karya sastranya ditambah Sofia
yang menjadi sekretaris pribadinya. Tolstoy meninggal pada tanggal 20 November
1910 di Stasiun Astapovo setelah mengalami penyakit radang paru-paru (pneumonia).
Deskripsi Novel: Berapa
Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang
Novel ini dibuat oleh Leo Tolstoy pada tahun 1886 dalam bahasa Rusia
dengan judul “много ли человеку земли нужно?” dan telah diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa. James Joyce menyebut novel ini sebagai cerita pendek terbaik
yang pernah ditulis1. Novel yang dijadikan rujukan dalam makalah ini
merupakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kumpulan Cerita Leo
Tolstoy Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia
Menunggu terbitan Jalasutra cetakan ke-2 tahun 2006 dengan mengambil
terjemahan dari Leo Tolstoy: Collected
Shorter Fiction (Everyman’s Library, London 1995) dengan beberapa tambahan
rujukan dari wikipedia.org dalam bahasa Rusia, Inggris dan Indonesia. Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita
yang tersusun menjadi satu bagian utuh dan bermakna.
1-en.wikipedia.org
Analisis Novel: Berapa
Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?
1. Tema:
Novel ini bertemakan kritik moral terhadap faham
materialistic yang mengukur segala sesuatu berdasarkan maujudnya harta benda. Hal
ini tersurat dari judul novel yang dituliskan oleh Tolstoy dengan jeli yaitu Berapa
Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?/ How Much
Land Does a Man Need?-Ing/ Много Ли Человеку Земли Нужно?-Rus –sebuah
penekanan pada kata “berapa” yang menunjukkkan penekanan pada kuantitas karena
dalam kaidah bahasa Rusia penekanan pada sebuah kalimat lazimnya berada pada
permulaaan kata.
Pada cerita yang terdapat dalam novel ini sejatinya
telah menjawab pertanyaan tersebut yakni hanya tiga elo sajalah tanah yang secukupnya dibutuhkan oleh manusia dalam
kehidupannya di bumi ini untuk hanya sekedar menguburkan jasadnya sebagaimana
yang terdapat pada akhir dari cerita ini. Anton Chekov, salah seorang rekan
Tolstoy yang juga merupakan penulis besar Rusia pernah berkata bahwa dalam
novel ini disebutkan manusia cuma membutuhkan enam kaki, namun sebenarnya enam
kaki tersebut bukanlah untuk manusia melainkan untuk mayat manusia bukan manusia
itu sendiri. Manusia membutuhkan bukan hanya enam kaki, atau sebuah ladang,
melainkan secara keseluruhan dari alam ini sehingga mereka dapat menunjukkan
keberadaan dan keanehan jiwa bebas mereka tanpa ada yang tersembunyi.2
2-idem
2. Tokoh dan Penokohan:
· Seorang wanita dari kota (kalimat ke-1 alinea ke-1), istri
pedagang (kalimat ke-2 alinea ke1), membual soal harta yang dimilikinya
(kalimat ke-3 alinea ke-1)
· Saudara si wanita, istri petani (kalimat ke-2
alinea ke1), membual dengan merendahkan istri seorang saudagar dan meninggikan
hidupnya sendiri di desa (kalimat ke-7 alinea ke-1)
· Pahom,
tokoh utama, suami si adik perempuan (kalimat ke-1 alinea ke-5), sombong,
dibuktikan dalam perkataanya “seandainya aku mempunyai tanah, tentu tak ada
yang harus kutakuti – tidak ada, bahkan iblis sekalipun” (kalimat ke-3 alinea
ke-6), tidak menyukai hakim dan penguasa (kalimat ke-7 alinea ke-20)
· Iblis,
senang dengan sikap Pahom (kalimat ke-1 alinea ke-8), selau berusaha menggoda
seperti perkataannya “aku akan menjajalmu, aku akan memberimu tanah
sebanyak-banyaknya, lalu mengambilnya kembali” (kalimat ke-2, 3 alinea ke-9), bertanduk,
kakinya bertelapak kuda, tertawa, menjelma dalam mimpi Pahom sebagai saudagar
dari muara Sungai Volga (kalimat ke-9, 10 alinea ke-65)
· Barina, punya banyak tanah seluas 120 dessiatin (kalimat 1, 2 alinea ke-1),
dahulu memiliki hubungan baik dengan para petani, namun berubah setelah ia
mengangkat seorang bekas tentara sebagai pengawas tanahnya (kalimat ke-3, 4
alinea ke-10)
· Seorang
bekas tentara, selalu mengejar-ngejar petani dengan denda (kalimat ke-5 alinea
ke-10)
· Semka,
terduga kasus perusakan tanah Pahom (kalimat ke-8 alinea ke-19)
· Para hakim, berpihak pada tersangka dengan alasan
kekurangan bukti (kalimat ke-2 alinea ke-20)
· Petani
musafir, mampir ke rumah Pahom, menginap (kalimat ke-1, 2 alinea ke-22), datang
dari tempat yang lebih jauh dari Sungai Volga, menceritakan tentang sebuah
perkampungan yang bernama Samara (kalimat ke-2 alinea ke-24) yang sedang
berkembang dimana setiap orang yang datang menetap diberi sepuluh dessiatin tanah yang bagus dan dengan
gandum yang bagus pula (kalimat ke-4, 5 , 6
alinea ke-22)
· Kepala
desa (mir), juru penerangan tanah
yang akan dibeli oleh Pahom (kalimat
ke-5, 6, 7 alinea ke-24), mau menerima uang suap (kalimat ke-1 alinea
ke-26)
· Seorang
pedagang, berasal dari Bashkir (kalimat ke-1, 2, 3 alinea ke-34) mengatakan
bahwa ia baru membeli tanah seluas lima
ribu dessiatin dengan harga hanya
seribu rubel (kalimat ke-4 alinea ke-34), awalnya ia hanya memberikan beberapa
hadiah seperti khalat – semacam jubah
panjang, permadani, sekotak teh, uang seribu rubel serta mengajak minum vodka
(kalimat ke -1 alinea ke-35)
· Seorang
penerjemah, ahli bahasa Rusia dan bahasa kaum Bashkir (kalimat ke-1 alinea
ke-41) mengenal Starshina dan memperkenalkannya kepada Pahom (kalimat ke-3
alinea ke-47
· Starshina
(pemuka kaum) Bashkir, seorang laki-laki, mengenakan kopiah dari kulit
serigala, semua orang Bashkir menghormatinya (kalimat ke-1,2 alinea ke-47),
menyetujui permintaan Pkhom (kalimat ke-1 alinea ke-48), sejatinya adalah
penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-6, 7, 8, 9,10
alinea ke-68)
· Pelayan
Pahom, setia pada Pahom hingga menguburkan di saat kematiannya (kalimat ke-3,
4 alinea ke-90)
3. Ringkasan Cerita :
Suatu hari seorang wanita pedagang mengunjungi adiknya
seorang wanita petani. Si wanita membual soal kekayaannya di depan adiknya agak
disegani dan dipuji. Sang adik pun tidak mau kalah membual pula namun lebih
dahsyat dari kakaknya yang membual punya harta banyak, si adik menghinakan diri
istri saudagar dan meninggikan dirinya sendiri di desanya agar terlihat seperti
orang terhormat. Iblis-pun mendengar hal
ini dan berusaha mencelakakan si adik ini dengan berbagai cara
Singkat cerita suatu hari ada seorang wanita bernama
Barina yang ingin menjual tanahnya dengan harga 120 dessiatin namun iblis selalu saja menghalanginya. Hingga pada
akhirnya suatu hari ada seorang tetangga Barina membeli tanah milik Barina 20 dessiatin dengan setengah harga dibayar
tahun depan. Hal ini membuat Pahom iri dan ia ingin membeli tanah pula disertai
dengan ambisi menjadi tuan tanah. Suatu ketika tanah milik Pahom dirusak oleh
segerombolan hewan ternak milik Semka-orang yang diduga oleh Pahom hingga Pahom
marah dan kemudian mengadukannya ke hakim namun perkaranya tidak berhasil
dimenangkannya.
Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki mengabarkan
bahwa di daerah Bashkir ia membeli tanah
murah dengan 1000 rubel/5000 dessiatin
dengan imbalan hanya berupa permadani, teh, jubah, minuman vodka. Seorang dapat
memperoleh tanah yang diinginkannya sepanjang perjalanan yang dapat ditempuhnya
dengan kaki dalam sehari mulai terbit fajar hingga terbenamnya hingga kembali
ke tempat asalnya yang menjadi batas waktu yang diberikan.
Pada akhirnya Pahom ditemani pelayannya mengunjungi
orang-orang Bashkir. Ia bertemu dengan Starshina (ketua suku) dan mereka
menjamu dengan baik. Pahom tidak bisa tidur semalaman memikirkan berapa banyak
tanah yang dapat dia peroleh dalam seharian itu. Di dalam mimpinya ia bermimpi
melihat petani musafir yang pernah mampir ke rumahnya berdiri sembari tertawa,
bertanduk dan bertapak kuda namun Pahom tidak hirau akan mimpinya tersebut.
Ketika pagi menjelang, Pahom langsung bersiap dan membawa perbekalan menuju
bukit tempat tanah itu berada. Kemudian dia menyusuri mula-mula dengan
sepatunya hingga matahari mulai naik dan membuat suhu menjadi panas, Pahom
berhenti sejenak menghabiskan bekalnya hingga ia terus berambisi mendapatkan
tanah sebanyak-banyaknya yang membuatnya lupa diri. Pada akhirnya ia terus
berjalan membuat lingkaran agar dapat kembali ke tempat asal dia berada namun
matahari semakin lama semakin terbenam dan memacu semangatnya walau masih jauh
perjalanan. Pahom berusaha sekuat tenaga sampai-sampai melepas sepatunya hingga
kedua kakinya terluka namun dia tidak peduli. Di dalam pikirannya dia harus
cepat kembali untuk meraih tanah yang dijanjikan. hingga ketika ia telah sampai
ke tempat asalnya, ia sudah tak bernyawa lagi. Starshina melempar sekop dan
menyuruh pelayan Pahom untuk menguburkan jasad tuannya yang cuma berukuran tiga
elo saja.
4. Alur
Novel ini menggunakan alur maju karena tidak ada dalil
yang menunjukkan pengembalian cerita kepada kala lampau yang mengulang urut kejadian
cerita. Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita. Oleh karena itu penulis
menjelaskan alur cerita dalam sembilan bagian cerita yakni sebagai berikut:
Bagian I: Menjelaskan tentang
pengenalan tokoh utama dan figuran disertai dengan perwatakannya masing-masing
Bagian II: Menjelaskan tentang awal mula pengenalan cerita antara Pahom,
Barina dan Seorang bekas tentara
Bagian III: Menjelaskan konflik Pahom dengan Semka serta para hakim yang
akhirnya memenangkan Semka dalam perkara ternak yang merusak tanah Pahom.
Seorang petani musafir mengabarkan kepada Pahom perihal tanah murah di Samara.
Bagian IV: Menceritakan tentang jalan
cerita yang datar tentang Pahom yang hidup selama lima belas tahun dengan membeli tanah
terus-menerus dan menaburnya dengan gandum sehingga menjadikannya makmur. Namun
ia merasa bosan karena setiap tahun ia harus menyewa tanah di distrik yang lain
dan memindahkan hartanya ke sana.
Pahom mulai bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari Bashkir yang
menceritakan tanah murah di Bashkir yang hanya didapatkan dengan beberapa
hadiah kecil serta uang dalam jumlah sedikit
Bagian V: Menceritakan tentang awal mula konflik tentang Pahom yang ingin
mendapatkan tanah seluas-luasnya pasca pertemuannya dengan seorang pedagang
dari Bashkir.
Bagian VI: Menceritakan pertemuan Pahom dengan Starshina orang-orang Bashkir
dan berbicara dengan dengan bantuan penerjemah. Pahom memberikan semua hadiah
yang telah disiapkannya untuk kaum Bashkir dan hadiah diterima Starshina dengan
baik. Starshina menjelaskan syarat-syarat untuk memeroleh tanah yang dijanjikan
tersebut
Bagian VII: Menceritakan tentang
pertemuan Pahom dengan orang –orang Bashkir serta Starshina yang menjamunya
dengan baik dan berjanji akan memberikan tanh yang dijanjikan sesuai dengan
persyaratan yang berlaku di sana
yaitu sejauh perjalanan yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari mulai
terbit fajar sampai terbenam matahari dan jika gagal maka batal
Bagian VIII: Mengisahkan usaha Pahom meraih tanah yang diinginkanya secara
sungguh-sungguh
Bagian IX: Antiklimaks dari cerita yang mengisahkan Pahom yang mati sia-sia
atas usahanya meraih tanah yang diinginkannya dan hanya dikuburkan dengan luas
tiga elo saja.
5. Latar
Latar yang digunakan dalam novel ini adalah sebagai berikut:
· Desa
tempat Pahom tinggal (kalimat ke-1 alinea ke-1)
· Samara,
kampung yang sedang berkembang (kalimat ke-2 alinea ke-24)
· Bashkir,
tempat orang–orang yang hidup dengan damai walaupun sejatinya Starshinanya
adalah penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-2 alinea ke-34)
· Padang rumput Bashkir,
tempat Pahom meraih tanah yang diinginkannya (kalimat ke-1 alinea ke-73)
6. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari novel ini yakni sebagai
berikut:
· Tolstoy
ingin mencoba mengajak pembacanya merenung dengan judul novelnya yang dimulai
dengan kata ``berapakah`` yang menunjukkan sebuah pertanyaan bahwa berapalah
jumlah tanah yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya jikalau mereka mati
hanya dengan luas tanah tiga elo saja
sebagaimana kisah Pahom
· Manusia
pada fitrahnya adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dan selalu ingin
melakukan perubahan
· Harta
benda bersifat sementara dan tidak dibawa mati ke dalam liang lahat sebagaimana
harta dan segala yang dimiliki oleh Pahom
· Liang
lahat untuk manusia tidaklah sebesar harta atau tanah yang dimilikinya semasa
hidup sebagaimana Pahom yang mati hanya dengan luas tanah tiga elo
· Hendaknya
manusia tidak terkecoh oleh silaunya dunia layaknya Pahom dalam cerita ini
· Kepuasan
duniawi bersifat nisbi
· Iblis
selalu menggoda manusia agar celaka atau mengikuti jalannya yang sesat seperti
perkataan Iblis atas pernyataan Pahom
7. Gaya
Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang menggunakan diksi yang mudah
dipahami sehingga pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat terejawantah
dengan baik. Tidak ditemukan istilah yang memungkinkan terjadinya ambiguitas
dalam sebuah konteks kalimat ataupun istilah yang digunakan.
No comments:
Post a Comment