Monday, November 25, 2013

Analisis Novel МНОГО ЛИ ЧЕЛОВЕКУ ЗЕМЛИ НУЖНО? /mnogo li čeloveku zemli nužno/ Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? (karya Leo Tolstoy)



Biografi Penulis: Leo Tolstoy
Lev Nikolayevich Tolstoy (bahasa Rusia: Лев Никола́евич Толсто́й) yang masyhur dengan Leo Tolstoy lahir di Yasnaya Polyana pada tanggal 9 September 1828 adalah seorang sastrawan besar Rusia, pembaharu, pasifis, anarkis Kristen, vegetarian, anak keempat dari lima bersaudara yang sangat berpengaruh di keluarga Tolstoy. Dia dikenal sebagai “Bapak Realisme Psikologis Rusia” karena karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia sehari-hari dan mengangkat tema yang sarat berisi kritik moral. Perang dan Damai (Война и мир [Voyna i mir]; 1865–69) serta Anna Karenina (Анна Каренина; 1875–77) merupakan dua adikaryanya yang hingga kini selalu ramai dibicarakan orang. Ditambah lagi salah satunya novel yang akan dibahas disini yang berjudul Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang (Много Ли Человеку Земли Нужно[Mnogo Li Čeloveku Zemli Nužno];1886)
Tolstoy lahir dari kalangan bangsawan, namun ia selalu menyembunyikan identitasnya dengan berperilaku layaknya rakyat jelata. Masuk Universitas Kazan pada usia 15 tahun belajar hukum dan bahasa-bahasa oriental. hingga akhirnya ia meninggalkan Universitas itu. Dosen-dosennya menggambarkan dirinya tidak mampu dan tidak mau belajar. Ia kembali di tengah-tengah studinya ke Yasnaya Polyana dan menghabiskan banyak waktunya di Moskwa dan St. Petersburg. Setelah terjerumus ke dalam utang yang besar karena berjudi, Tolstoy menemani kakaknya ke Kaukasus pada 1851 dan masuk ke dalam Tentara Rusia.
Tolstoy  menikah pada tahun 1862 dengan Sofia Andreevna Bers yang usianya 16 tahun lebih muda, dan mereka mempunyai 13 orang anak. Pernikahannya dengan Sofia Andreevna Bers ditandai pada permulaannya oleh Tolstoy pada malam pernikahannya dengan memberikan buku hariannya kepada tunangannya. Buku-buku hariannya ini memuat catatan mengenai hubungan seksualnya dengan para petaninya. Meskipun demikian, awal kehidupan perkawinan mereka cukup bahagia dan tenang, dan memberikan Tolstoy banyak kebebasan untuk menulis karya sastranya ditambah Sofia yang menjadi sekretaris pribadinya. Tolstoy meninggal pada tanggal 20 November 1910 di Stasiun Astapovo setelah mengalami penyakit radang paru-paru (pneumonia).


Deskripsi Novel: Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang

Novel ini dibuat oleh Leo Tolstoy pada tahun 1886 dalam bahasa Rusia dengan judul “много ли человеку земли нужно?” dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. James Joyce menyebut novel ini sebagai cerita pendek terbaik yang pernah ditulis1. Novel yang dijadikan rujukan dalam makalah ini merupakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kumpulan Cerita Leo Tolstoy Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra cetakan ke-2 tahun 2006 dengan mengambil terjemahan dari Leo Tolstoy: Collected Shorter Fiction (Everyman’s Library, London 1995) dengan beberapa tambahan rujukan dari wikipedia.org dalam bahasa Rusia, Inggris dan Indonesia.  Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita yang tersusun menjadi satu bagian utuh dan bermakna.

1-en.wikipedia.org

Analisis Novel: Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?

1. Tema:
Novel ini bertemakan kritik moral terhadap faham materialistic yang mengukur segala sesuatu berdasarkan maujudnya harta benda. Hal ini tersurat dari judul novel yang dituliskan oleh Tolstoy dengan jeli yaitu Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?/ How Much Land Does a Man Need?-Ing/ Много Ли Человеку Земли Нужно?-Rus –sebuah penekanan pada kata “berapa” yang menunjukkkan penekanan pada kuantitas karena dalam kaidah bahasa Rusia penekanan pada sebuah kalimat lazimnya berada pada permulaaan kata.
Pada cerita yang terdapat dalam novel ini sejatinya telah menjawab pertanyaan tersebut yakni hanya tiga elo sajalah tanah yang secukupnya dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya di bumi ini untuk hanya sekedar menguburkan jasadnya sebagaimana yang terdapat pada akhir dari cerita ini. Anton Chekov, salah seorang rekan Tolstoy yang juga merupakan penulis besar Rusia pernah berkata bahwa dalam novel ini disebutkan manusia cuma membutuhkan enam kaki, namun sebenarnya enam kaki tersebut bukanlah untuk manusia melainkan untuk mayat manusia bukan manusia itu sendiri. Manusia membutuhkan bukan hanya enam kaki, atau sebuah ladang, melainkan secara keseluruhan dari alam ini sehingga mereka dapat menunjukkan keberadaan dan keanehan jiwa bebas mereka tanpa ada yang tersembunyi.2

2-idem
2. Tokoh dan Penokohan:
 ·   Seorang wanita dari kota (kalimat ke-1 alinea ke-1), istri pedagang (kalimat ke-2 alinea ke1), membual soal harta yang dimilikinya (kalimat ke-3 alinea ke-1)

 ·   Saudara si wanita, istri petani (kalimat ke-2 alinea ke1), membual dengan merendahkan istri seorang saudagar dan meninggikan hidupnya sendiri di desa (kalimat ke-7 alinea ke-1)

·    Pahom, tokoh utama, suami si adik perempuan (kalimat ke-1 alinea ke-5), sombong, dibuktikan dalam perkataanya “seandainya aku mempunyai tanah, tentu tak ada yang harus kutakuti – tidak ada, bahkan iblis sekalipun” (kalimat ke-3 alinea ke-6), tidak menyukai hakim dan penguasa (kalimat ke-7 alinea ke-20)

·    Iblis, senang dengan sikap Pahom (kalimat ke-1 alinea ke-8), selau berusaha menggoda seperti perkataannya “aku akan menjajalmu, aku akan memberimu tanah sebanyak-banyaknya, lalu mengambilnya kembali” (kalimat ke-2, 3 alinea ke-9), bertanduk, kakinya bertelapak kuda, tertawa, menjelma dalam mimpi Pahom sebagai saudagar dari muara Sungai Volga (kalimat ke-9, 10 alinea ke-65)

·    Barina,  punya banyak tanah seluas 120 dessiatin (kalimat 1, 2 alinea ke-1), dahulu memiliki hubungan baik dengan para petani, namun berubah setelah ia mengangkat seorang bekas tentara sebagai pengawas tanahnya (kalimat ke-3, 4 alinea ke-10)

·    Seorang bekas tentara, selalu mengejar-ngejar petani dengan denda (kalimat ke-5 alinea ke-10)

·    Semka, terduga kasus perusakan tanah Pahom (kalimat ke-8 alinea ke-19)

·    Para hakim, berpihak pada tersangka dengan alasan kekurangan bukti (kalimat ke-2 alinea ke-20)

·    Petani musafir, mampir ke rumah Pahom, menginap (kalimat ke-1, 2 alinea ke-22), datang dari tempat yang lebih jauh dari Sungai Volga, menceritakan tentang sebuah perkampungan yang bernama Samara (kalimat ke-2 alinea ke-24) yang sedang berkembang dimana setiap orang yang datang menetap diberi sepuluh dessiatin tanah yang bagus dan dengan gandum yang bagus pula (kalimat ke-4, 5 , 6  alinea ke-22)

·    Kepala desa (mir), juru penerangan tanah yang akan dibeli oleh Pahom (kalimat  ke-5, 6, 7 alinea ke-24), mau menerima uang suap (kalimat ke-1 alinea ke-26)

·    Seorang pedagang, berasal dari Bashkir (kalimat ke-1, 2, 3 alinea ke-34) mengatakan bahwa ia baru membeli tanah seluas lima ribu dessiatin dengan harga hanya seribu rubel (kalimat ke-4 alinea ke-34), awalnya ia hanya memberikan beberapa hadiah seperti khalat – semacam jubah panjang, permadani, sekotak teh, uang seribu rubel serta mengajak minum vodka (kalimat ke -1 alinea ke-35)

·    Seorang penerjemah, ahli bahasa Rusia dan bahasa kaum Bashkir (kalimat ke-1 alinea ke-41) mengenal Starshina dan memperkenalkannya kepada Pahom (kalimat ke-3 alinea ke-47

·    Starshina (pemuka kaum) Bashkir, seorang laki-laki, mengenakan kopiah dari kulit serigala, semua orang Bashkir menghormatinya (kalimat ke-1,2 alinea ke-47), menyetujui permintaan Pkhom (kalimat ke-1 alinea ke-48), sejatinya adalah penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-6, 7, 8, 9,10  alinea ke-68)

·    Pelayan Pahom, setia pada Pahom hingga menguburkan di saat kematiannya (kalimat ke-3, 4  alinea ke-90)


3. Ringkasan Cerita :
Suatu hari seorang wanita pedagang mengunjungi adiknya seorang wanita petani. Si wanita membual soal kekayaannya di depan adiknya agak disegani dan dipuji. Sang adik pun tidak mau kalah membual pula namun lebih dahsyat dari kakaknya yang membual punya harta banyak, si adik menghinakan diri istri saudagar dan meninggikan dirinya sendiri di desanya agar terlihat seperti orang terhormat.  Iblis-pun mendengar hal ini dan berusaha mencelakakan si adik ini dengan berbagai cara
Singkat cerita suatu hari ada seorang wanita bernama Barina yang ingin menjual tanahnya dengan harga 120 dessiatin namun iblis selalu saja menghalanginya. Hingga pada akhirnya suatu hari ada seorang tetangga Barina membeli tanah milik Barina  20 dessiatin dengan setengah harga dibayar tahun depan. Hal ini membuat Pahom iri dan ia ingin membeli tanah pula disertai dengan ambisi menjadi tuan tanah. Suatu ketika tanah milik Pahom dirusak oleh segerombolan hewan ternak milik Semka-orang yang diduga oleh Pahom hingga Pahom marah dan kemudian mengadukannya ke hakim namun perkaranya tidak berhasil dimenangkannya.
Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki mengabarkan bahwa di daerah Bashkir ia membeli  tanah murah dengan 1000 rubel/5000 dessiatin dengan imbalan hanya berupa permadani, teh, jubah, minuman vodka. Seorang dapat memperoleh tanah yang diinginkannya sepanjang perjalanan yang dapat ditempuhnya dengan kaki dalam sehari mulai terbit fajar hingga terbenamnya hingga kembali ke tempat asalnya yang menjadi batas waktu yang diberikan.
Pada akhirnya Pahom ditemani pelayannya mengunjungi orang-orang Bashkir. Ia bertemu dengan Starshina (ketua suku) dan mereka menjamu dengan baik. Pahom tidak bisa tidur semalaman memikirkan berapa banyak tanah yang dapat dia peroleh dalam seharian itu. Di dalam mimpinya ia bermimpi melihat petani musafir yang pernah mampir ke rumahnya berdiri sembari tertawa, bertanduk dan bertapak kuda namun Pahom tidak hirau akan mimpinya tersebut. Ketika pagi menjelang, Pahom langsung bersiap dan membawa perbekalan menuju bukit tempat tanah itu berada. Kemudian dia menyusuri mula-mula dengan sepatunya hingga matahari mulai naik dan membuat suhu menjadi panas, Pahom berhenti sejenak menghabiskan bekalnya hingga ia terus berambisi mendapatkan tanah sebanyak-banyaknya yang membuatnya lupa diri. Pada akhirnya ia terus berjalan membuat lingkaran agar dapat kembali ke tempat asal dia berada namun matahari semakin lama semakin terbenam dan memacu semangatnya walau masih jauh perjalanan. Pahom berusaha sekuat tenaga sampai-sampai melepas sepatunya hingga kedua kakinya terluka namun dia tidak peduli. Di dalam pikirannya dia harus cepat kembali untuk meraih tanah yang dijanjikan. hingga ketika ia telah sampai ke tempat asalnya, ia sudah tak bernyawa lagi. Starshina melempar sekop dan menyuruh pelayan Pahom untuk menguburkan jasad tuannya yang cuma berukuran tiga elo saja.


4. Alur
Novel ini menggunakan alur maju karena tidak ada dalil yang menunjukkan pengembalian cerita kepada kala lampau yang mengulang urut kejadian cerita. Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita. Oleh karena itu penulis menjelaskan alur cerita dalam sembilan bagian cerita yakni sebagai berikut:
Bagian I: Menjelaskan tentang pengenalan tokoh utama dan figuran disertai dengan perwatakannya masing-masing
Bagian II:    Menjelaskan tentang awal mula pengenalan cerita antara Pahom, Barina dan Seorang bekas tentara
Bagian III:  Menjelaskan konflik Pahom dengan Semka serta para hakim yang akhirnya memenangkan Semka dalam perkara ternak yang merusak tanah Pahom. Seorang petani musafir mengabarkan kepada Pahom perihal tanah murah di Samara.
Bagian IV: Menceritakan tentang jalan cerita yang datar tentang Pahom yang hidup selama lima belas tahun dengan membeli tanah terus-menerus dan menaburnya dengan gandum sehingga menjadikannya makmur. Namun ia merasa bosan karena setiap tahun ia harus menyewa tanah di distrik yang lain dan memindahkan hartanya ke sana. Pahom mulai bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari Bashkir yang menceritakan tanah murah di Bashkir yang hanya didapatkan dengan beberapa hadiah kecil serta uang dalam jumlah sedikit
Bagian V:   Menceritakan tentang awal mula konflik tentang Pahom yang ingin mendapatkan tanah seluas-luasnya pasca pertemuannya dengan seorang pedagang dari Bashkir.
Bagian VI:  Menceritakan pertemuan Pahom dengan Starshina orang-orang Bashkir dan berbicara dengan dengan bantuan penerjemah. Pahom memberikan semua hadiah yang telah disiapkannya untuk kaum Bashkir dan hadiah diterima Starshina dengan baik. Starshina menjelaskan syarat-syarat untuk memeroleh tanah yang dijanjikan tersebut
Bagian VII: Menceritakan tentang pertemuan Pahom dengan orang –orang Bashkir serta Starshina yang menjamunya dengan baik dan berjanji akan memberikan tanh yang dijanjikan sesuai dengan persyaratan yang berlaku di sana yaitu sejauh perjalanan yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dan jika gagal maka batal   
Bagian VIII:      Mengisahkan usaha Pahom meraih tanah yang diinginkanya secara sungguh-sungguh
Bagian IX:   Antiklimaks dari cerita yang mengisahkan Pahom yang mati sia-sia atas usahanya meraih tanah yang diinginkannya dan hanya dikuburkan dengan luas tiga elo saja.

5. Latar
Latar yang digunakan dalam novel ini adalah sebagai berikut:
·    Desa tempat Pahom tinggal (kalimat ke-1 alinea ke-1)
·    Samara, kampung yang sedang berkembang (kalimat ke-2 alinea ke-24)
·    Bashkir, tempat orang–orang yang hidup dengan damai walaupun sejatinya Starshinanya adalah penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-2 alinea ke-34)
·    Padang rumput Bashkir, tempat Pahom meraih tanah yang diinginkannya (kalimat ke-1 alinea ke-73)


6. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari novel ini yakni sebagai berikut:
·    Tolstoy ingin mencoba mengajak pembacanya merenung dengan judul novelnya yang dimulai dengan kata ``berapakah`` yang menunjukkan sebuah pertanyaan bahwa berapalah jumlah tanah yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya jikalau mereka mati hanya dengan luas tanah tiga elo saja sebagaimana kisah Pahom
·    Manusia pada fitrahnya adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dan selalu ingin melakukan perubahan
·    Harta benda bersifat sementara dan tidak dibawa mati ke dalam liang lahat sebagaimana harta dan segala yang dimiliki oleh Pahom
·    Liang lahat untuk manusia tidaklah sebesar harta atau tanah yang dimilikinya semasa hidup sebagaimana Pahom yang mati hanya dengan luas tanah tiga elo
·    Hendaknya manusia tidak terkecoh oleh silaunya dunia layaknya Pahom dalam cerita ini
·    Kepuasan duniawi bersifat nisbi
·    Iblis selalu menggoda manusia agar celaka atau mengikuti jalannya yang sesat seperti perkataan Iblis atas pernyataan Pahom

7. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang menggunakan diksi yang mudah dipahami sehingga pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat terejawantah dengan baik. Tidak ditemukan istilah yang memungkinkan terjadinya ambiguitas dalam sebuah konteks kalimat ataupun istilah yang digunakan.


No comments:

Post a Comment