Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Monday, August 26, 2024

Si Adun dan Keseimbangan Semesta.

 

[]

Assalamualaikum. Begitu kalimat pertama yang meluncur dari Adun, anak sekolah menengah yang memiliki keterbatasan mental. Saya sering bertemu anak itu di mesjid. Menurut bapak saya, Adun anak yang baik dan sering berinteraksi dengan orang normal di sekelilingnya. Bapak saya pernah bertutur juga kalau Si Adun sering mengambilkan air minum bagi jamaah mesjid ketika acara pengajian. Artinya dapat saya pahami bahwa anak itu tidak sepenuhnya memiliki kekurangan sebagaimana anggapan orang pada umumnya.

Pernah suatu hari semesta berkehendak atas izin Allah saya berinteraksi dengan Adun. Bertanya kabar, tinggal dimana, dan tidak lupa menyelipkan pesan semangat dan selalu siap waspada. Adun menanggapinya dengan ceria, selalu dengan tawa renyah di wajahnya. Saya percaya andai si Adun itu dikasih hidup normal pastilah dia akan menjadi sebagaimana anak seusianya, tanpa embel-embel berkebutuhan khusus. Inilah konsep takdir yang manusia jarang ketahui, malahan yang manusia hanya ketahui itu perkataan sia-sia andaikan dulu ini itu anu saya begini dan begitu dan seterusnya. Bukan itu konsep takdir sejatinya yang telah ditulis jauh 50 ribu tahun sebelum penciptaan alam semesta ini.

Hal yang buat saya berkesan kepada Adun yaitu anak seperti itu masih memiliki kemauan untuk salat berjamaah di mesjid meski dia tau keterbatasan akal yang dimilikinya. Salat di mesjid mungkin bagi sebagian orang merupakan hal biasa saja, namun bagi saya itu membuktikan konsistensi dan konsekuensi iman seseorang yang mengaku bertauhid.

Banyak orang yang tinggal bersebelahan dengan masjid. Saban hari mendengar suara azan yang nyaring, namun sedikit orang yang hatinya tergerak untuk ke masjid. Artinya bahwa hidayah itu sesuatu yang teramat mahal di semesta ini. Suatu hal yang murni menjadi hak prerogratif Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Wajar kalau manusia dilabel oleh Allah sebagai manusia sesat bahkan lebih sesat dari hewan karena diberi pendengaran tidak digunakan sebagaimana mestinya yaitu untuk ibadah.

Maka dari itu saya pikir fitrah manusia waras akan berkata bahwa surga itu merupakan suatu produk Allah yang mahal harganya melebihi apapun di dunia ini. Karena fakta dan nyatanya, dunia ini akan punah, tak ada yang abadi di dunia ini. Logika sederhana dari akal yang waras yakni bahwa surga tidak mungkin didapat dengan santai dan leyeh-leyeh tanpa ada pengorbanan diri. Sejarah telah mencatat bagaimana perjuangan Nabi dan para sahabatnya memperjuangkan agama ini dengan harta dan jiwa sebagai taruhannya. Lantas bagaimana dengan manusia yang hidup jaman ini, yang tidak mungkin ibadahnya melebihi ibadah mereka yang telah dijamin surga.

Saya pun yakin Allah menciptakan manusia seperti Adun untuk memberikan warna pada semesta ini. Bayangkan saja jika di alam semesta ini hanya dihuni oleh makhluk dengan satu karakter yang sama, makan akan membosankan sekali hidup di alam semesta ini. Pun seterusnya ada istilah orang kaya dan orang miskin yang saling berlawanan maknanya. Orang kaya membutuhkan eksistensi orang miskin agar dia bisa dibilang kaya, begitu pun sebaliknya.

Kaya dan miskin, sejatinya berujung kepada perhitungan amal baik dan buruk dengan variasi biner halal dan haram. Artinya harta halal bakalan dihisab, dan sebaliknya harta haram bakalan diazab sesuai kadarnya. Ibnul Qayyim pernah berpesan mengenai harta dan cinta dunia bahwa pecinta dunia tidak akan lepas dari tiga perkara: kegelisahan terus menerus, keletihan berkelanjutan, dan penyesalan tak henti.

Adun adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang terabaikan dalam hidup kita manusia urban yang sibuk mencari dunia tanpa ada ujungnya. Dari Adun saya belajar untuk ikhlas dan senyum, tak peduli seberat apa masalah yang saya hadapi. Sabar adalah level standar dalam ranah musibah, namun syukur adalah level tertinggi dari itu semua. Syukur atas segala nikmat dan musibah sejatinya itulah hal yang dikehendaki oleh Allah kepada manusia dalam segala hal dan setiap detik waktu.

Begitulah kehidupan, mengutip Rocky Gerung, bagi orang kaya kehidupan seperti komedi dan sebaliknya bagi orang miskin kehidupan seperti tragedi. Artinya tergantung bagaimana seorang manusia memaknai kehidupan di muka bumi ini yang sejatinya hanya senda gurau dan permainan belaka. Istilah kaya dan miskin lahir akibat konsekuensi penciptaan semesta. Sejatinya kaya atau miskin itu ujian apakah manusia mampu bersyukur atau bersabar, jika tidak maka artinya manusia itu tidak lulus ujian.

x

Wednesday, August 23, 2023

Belajar Menulis Baik dan Benar sesuai Kaidah KBBI

 

Belajar Menulis Baik dan Benar Sesuai Kaidah KBBI

oleh John Koplo

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuhu

Halo teman teman perkenalkan nama saya asal Abnor, kependekan dari Abnormal, domisili dari Jakarta. Saat ini alhamdulillah saya sudah menikah dan dikaruniai dua anak, satu laki dan satu perempuan; Kesibukan saya saat ini menjadi pengangguran swasta, pekerjaan saya sibuk ibadah, sampingan saya ngajar di salah satu kampus swasta di Jakarta. Hobi saya baca, naik motor dan naik gunung. Cita-cita saya ingin jadi storyteller, karena menurut saya jadi storyteller itu sangat sulit. Idola saya dalam dunia storytelling itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Kalau yang di dunia nyata sekarang ini ada 2 yang pertama itu Pandji Pragiwaksono dan kedua itu Ferry Irwandi. Bedanya Cuma 1, saya Cuma follow Ferry Irwandi.

Bicara tentang manusia dengan hubungannya, saya akan bercerita tentang kisah hubungan saya dengan istri dari awal ketemu sampai kami nikah. Setidaknya ada dua premis utama dalam cerita saya ini.

Pertama, saya adalah orang yang sangat tidak percaya pada istilah cinta pada pandangan pertama, karena saya yakin mata saya mudah sekali berkhianat sehingga lisan saya gampang bilang cinta seandainya emang ada cinta pada pandangan pertama.

Kedua, saya percaya pada akhirnya semesta ini kadang memang suka bercanda cuma kita aja yang terlalu serius. Banyak hal di hidup kita yang sebenarnya berjalan tanpa kita ketahui bagaimana caranya. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, itu aja.

Lanjut

Untuk menjelaskan premis saya yang pertama, awal saya ketemu istri itu aja udah absurd. Saya orang yang yakin dengan istilah coba aja dulu siapa tau rejeki atau jodoh. Singkat cerita saya ketemu istri saya itu dikenalin sama temen saya. Ya intinya kenal via instagram, pada waktu itu akun ig istri saya itu digembok, sampai sekarang juga sih. Di saat itu tujuan saya sederhana, Cuma mau minta nomer kontaknya aja. Dan ringkas cerita dikasih. Kamipun bertemu di salah satu kedai pizza di bilangan Jakarta Timur sebut aja Rawamangun.

Waktu itu hari Selasa. Di tempat itu saya gak banyak basa-basi, artinya Cuma sedikit ngomong basa-basi kenalan di awal dan selebihnya saya jujur langsung to the poin intinya saya mau bahas apa di situ. Anehnya ternyata si istri saya pun menjawab hal serupa. Intinya kami ketika itu bukan nyari pacar, melainkan nyari pasangan hidup alias suami istri. FYI aja istri saya itu orang yang termasuk introvert soal percintaan, itu akhirnya bisa saya pahami karena masalalu doi yang pernah gagal dalam urusan cinta. Okelah.

Balik ke cerita.

Saya anterin istri saya pulang ke rumahnya abis dari kedai pizza itu. Di tengah jalan sebelum sampai ke rumahnya dia sempet nanya saya, lebih tepatnya nantang sih. Dia tanya mau gak saya serius ketemu orangtuanya pas besok wiken. Saya jawab siapa takut. Saya menerima tantangan itu. Jadinya Sabtu besok abis zuhur saya diundang ke rumahnya.

Walhasil berjalan waktu. Sampailah saya di hari Sabtu. Ada hal menarik saat itu, yaitu pada hari itu saya janjian sama cewek juga paginya, mau ngapain? Saya mau taaruf. Jadi sebelum saya ketemu istri saya itu sebenernya saya lagi ikut program taaruf yang diadakan oleh salah satu ustadz ternama di Jakarta. Singkat cerita paginya saya ketemu si cewek itu, ternyata emang gak cocok. Siangnya saya cabut ke rumah istri saya, tak lupa saya bawa buah tangan, yaitu Japanese cake yang ternyata ampuh buat mencuri hati mertua saya. Cerita ini saya dapet setelah nikah.

Waktu berjalan, dan berjalan. Pada akhirnya kami menikah. Prosesnya pun boleh dibilang sederhana dan berjalan lancar atas izin Allah. Tercatat dalam catatan pribadi saya, orang tua saya ketemu mertua itu Cuma sekali pas sebelum lamaran, sekali pas lamaran, dan sekali pas nikah. Cuma tiga kali. Total waktu kami, saya dan istri, dari awal kenalan sampai menikah itu kurang lebih tiga bulan. Dan hal yang paling berkesan buat saya dan istri saya yaitu kamu menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di hari Jumat sebelum jumatan. Saya inget banget. Sebelum hal semacam ini viral di media sosial kalau ternyata nikah di KUA itu gratis. Tanpa mengurangi khidmat dan sakral sebuah pernikahan.

Lanjut ya

Ada sebuah hal unik setelah kami menikah yaitu satu hal. Ceritanya waktu itu kami, saya dan istri saya lagi berkunjung ke rumah orangtua saya di daerah Bekasi. Jadi sebelum kami menikah, istri saya itu nyaris nikah dengan mantannya. Nah si mantan pacarnya yang laki ini ternyata pacaran sama tetangga orangtua saya di Bekasi itu. Uniknya setelah kami menikah, istri saya sering cerita soal si istri mantannya ini. Ibaratnya saya itu nyusun puzzle cerita istri saya, jadi istri saya itu cerita ciri-ciri istri mantannya, dari mulai ciri fisik, tempat mereka nikah, kerjaannya dan kerjaan lakinya, anak-anaknya. Dan ajaibnya semua cocok dengan yang diceritain orangtua saya soal tetangga saya itu yang adalah istri dari mantan bini saya.

Jadi pas istri saya lagi di tempat orangtua saya itu, ndilalah ketemulah dengan istri mantannya itu. Dan sekalian juga ketemu papasan dengan mantannya. Hal yang terjadi udah saya tebak yaitu canggung alias awkward. Begitulah kesimpulannya dari premis saya yang kedua bahwa semesta itu kadang bercanda, Cuma kita aja sebagai manusia yang terlalu serius dan angkuh pada kesombongan yang kita bawa.

Ternyata kesimpulan dari kisah di atas itu salah satunya sangat sulit menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia sendiri merupakan sebuah kata yang merangkum keragaman dalam satu frase.istilahnya ya gado-gado. Bahasa dan bangsa Indonesia lahir dari ketidaksengajaan manusia berinteraksi, yang sifatnya fitrah. Untuk itu marilah bersama agar berhenti dari memberi label atau cap sebagai paling Indonesia karena sejatinya tidak akan pernah ada.

x

Thursday, January 26, 2023

Catatan Perjalanan: Gresik

Kota Gresik menjadi salah satu kota yang saya jelajahi selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas. Saya pun sendiri belum mengetahui sejarah ataupun cerita mengenai kota ini, cuma yang saya ketahui kalau kota ini dijuluki kota santri lantaran hampir di setiap sisinya banyak ditemui simbol religius Islam. Belakangan saya tahu  muasal nama kota ini dari Prof Daud Rasyid guru besar Universitas Islam Al Azhar Jakarta. Konon kata Gresik berasal dari Qarra As-Syai yang bermakna tempat berkumpulnya atau menancapnya sesuatu.

Alkisah saya memutuskan untuk berhenti kuliah di semester kedua. Bukan apa-apa namun entah ada perasaan berkecamuk dalam diri saya bahwa saya mesti mencari ilmu agama yang haq yang bersumber dari guru, bukan melalui katanya dan katanya. Setelah perdebatan panjang dengan orangtua saya, ibu dan ayah saya akhirnya setuju saya hijrah ke Gresik untuk  menempuh pendidikan agama, ya sebutlah mondok di pondok pesantren.

Hal semacam ini bukan sesuatu yang mudah di kala itu bagi anak muda seusia saya yang baru lulus SMA. Bayangkan saja di zaman itu teknologi tidak secanggih dan semudah sekarang. Masih saya ingat di zaman itu masih banyak bertebaran di mana-mana apa yang disebut dengan warung telepon alias disingkat wartel. Teknologi komunikasi tercanggih di saat itu. Adapun penggunaan henpon alias telepon seluler sangatlah jarang.

Masih ingat di memori saya bagaimana ayah saya kekeuh ingin mengantarkan saya ke pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik. Kami berdua naik bus dari terminal Rawamangun tujuan Surabaya via jalur Pantura. Turun di Terminal Bunder Gresik lanjut dengan bus ke arah Lamongan dan kami turun di Alun-alun Sedayu untuk kemudian lanjut naik becak ke pondok pesantren.

Saya dan ayah disambut oleh salah satu santri yang bernama Ahmadi dari Lombok yang kebetulan ketika itu sedang ditugaskan jadi penerima tamu. Kami disambut dengan makan bersama di wadah tampah besar dengan nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Lantas ketika hari menjelang sore setelah ashar, ayah saya pamit dan di situlah batin saya sedih karena harus berpisah dengan ayah saya dan memulai kehidupan baru sebagai seorang santri pondok pesantren yang jauh dari hingar bingar kota dan segala macam godaannya.

Ayah saya sempat menanyakan ulang tentang kesungguhan saya untuk mondok, mungkin dengan harapan saya membatalkan niat awal saya dan kembali ke Jakarta bersama beliau. Namun bagi saya sudah mantap ingin menimba ilmu agama di Gresik. Saya masih ingat skena bagaimana kami berpisah di sana, di depan kantor pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik. Saya pun masih ingat pesan ayah saya agar selalu bertaqwa dan bersabar, kata bersabar saya pahami mungkin karena sambutan makan yang ala kadarnya yang kami terima. Namun bagi saya hal tersebut bukan halangan berarti mengingat niat yang sudah lurus dan kesungguhan yang berapi-api dari seorang anak muda yang mencari jati dirinya sebagai hamba Allah.

Saya ingat bertemu dengan sosok yang saya kagumi hingga kini, namanya Ali Mustain. Beliau banyak mengajarkan saya tentang hidup di Gresik dan Surabaya khususnya karena beliau tinggal di Surabaya dan setiap hari pergi pulang dengan sepeda motor kesayangannya Honda GL Pro. Pak Ali, saya panggil beliau, karena terpaut usia yang lumayan jauh. Beliau tinggal di daerah terminal Osowilangun Surabaya namun lebih memilih menghabiskan waktunya sebagai marbot di Masjid Al Gharib Surabaya yang tak jauh dari terminal tersebut.

Hampir setiap pekan Pak Ali selalu mengajak saya sowan ke tempatnya untuk menginap. Saya pun tidak pernah menyia-nyiakan hal itu. Bagi saya itu merupakan suatu kehormatan dan rejeki bisa melihat dunia luar yang sebelumnya belum pernah saya rasakan dengan panca indra.  Beliau selalu mengajak saya, atau lebih tepatnya mentraktir saya nasi bebek di depan Stasiun Pasar Turi. Kenangan itu selalu teringat oleh saya sampai kini.

Saya ingat nyaris sebulan Ramadan saya menghabiskan waktu bolak balik Surabaya Gresik dan menginap di Masjid Al Gharib Surabaya tempat kediaman Pak Ali. Saya merasakan nikmatnya mendapat pertolongan dari seorang saudara muslim, sesuai dengan namanya Pak Ali Mustain yang bermakna Ali sang penolong. Masih ingat saya selalu terbangun jam 3 menjelang subuh dan saya saksikan sendiri Pak Ali sudah tidak di sebelah saya melainkan beliau sedang khusyuk salat malam di masjid. Saya jadi terheran-heran ketika itu, luar biasa benar sosok orang ini, siang malam wara-wiri menghabiskan waktu untuk dunia namun tak lupa malamnya habiskan waktu untuk akhirat.

Pak Ali tidak pernah cerita siapa dia sesungguhnya sampai saya sendiri mencari tau dari berbagai sumber. Kalau tidak salah beliau lulusan teknik dari kampus negeri di Surabaya. Saya mendapati beliau kerap kali membaca koran yang bagi anak santri ketika itu merupakan suatu yang tidak lazim. Pun saya pernah mendapati semacam sketsa gambar teknik desain masjid yang kemungkinan besar itu hasil karya Pak Ali. Beliau sangat rendah hati, menurutnya tidak penting segala macam titel duniawi toh pada sejatinya kita semua adalah hamba Allah, begitu tutur beliau.

Soal pekerjaan saja, Pak Ali memang unik. Beliau menjadi semacam petugas penyalur zakat infak dan sedekah di bawah naungan Dompet Duafa Jawa Timur. Saya masih ingat diajak beliau keliling komplek perumahan orang Arab di daerah dekat makam Sunan Giri Gresik. Gaya Pak Ali pun sangat sederhana, dengan ciri khas pakai sandal jepit dan jaket sepeda motor dealer Honda, beliau melaksanakan tugasnya. Pernah beliau cerita ke saya waktu mau jemput sedekah di salah satu kantor di Surabaya lantas beliau diusir satpam lantaran pakai sandal jepit. Semenjak itulah beliau siap sedia sepatu kalau ada tugas ke kantor.

Saya menyaksikan sendiri keluwesan dan kelemahlembutan akhlak Pak Ali. Saya ingat waktu itu teman saya di pondok mau pulang ke rumahnya di Buton. Singkat cerita jadwal kapal jurusan Surabaya - Bau Bau mengalami kendala sehingga terlambat. Si teman saya ini tidak sabar menunggu, padahal Pak Ali sudah kasih kontak kapten kapal yang akan mengangkut teman saya ini. Walhasil Pak Ali ambil alih untuk bicara langsung via telepon dengan kapten kapal. Saya menyaksikan kemahiran beliau dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda suku. Masya Allah.

Pernah juga saya merasakan pengalaman turing bersama Pak Ali. Rencananya saya dari Surabaya tempat kediaman beliau lanjut ke Solo tempat kediaman teman saya. Ndilalah Pak Ali juga punya hajat ke Solo, maka jadilah kami berdua pergi dengan sepeda motor Honda GL Pro kesayangan beliau. Saya ingat hari pertama kami sowan ke Pondok Pesantren Langitan Tuban yang terkenal itu, kami salat zuhur dan kemudian lanjut makan siang di sana. Di sepanjang jalan saya berpikir, hebat benar Pak Ali ini punya kenalan dimana-mana. Malamnya kami singgah di daerah Blora, di belakang bekas Stasiun Kereta Api Blora, nginap di rumah temannya Pak Ali. Lagi-lagi saya terheran, siapa pula ini teman beliau kok bisa ada di Blora. Esoknya kami meneruskan perjalanan ke daerah Grobogan yang ternyata adalah kampung halaman Pak Ali. Kami menginap di sana semalam. Saya ingat rumahnya besar ala rumah joglo adat Jawa.

Besoknya saya menelusuri hutan jati berkelok-kelok sebelum akhirnya tiba di Sragen, tempat kediaman teman Pak Ali. Saya jadi bertanya dalam hati kok bisa ya beliau ini punya banyak teman hampir di seluruh daerah di Pulau Jawa. Hingga akhirnya kami berpisah di pertigaan jalan menuju kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Masih ingat waktu itu Pak Ali sempat ditanya teman saya soal statusnya yang masih jomblo, beliau jawab sambil menggelengkan kepala, menurutnya beliau sudah tua untuk usia 33 tahun kala itu. Saya hanya diam. Pertanyaan yang saya temukan jawabannya setelahnya, yaitu beliau tak lepas dari hobinya yang suka menolong orang, selalu ringan tangan dalam kebaikan, mungkin inilah alasan beliau telat menikah. Semoga Allah balas beliau dengan surga Firdaus.

Pertemuan terakhir saya dengan Pak Ali terjadi tahun 2016. Singkat cerita saya dapat kesempatan dari kantor untuk berkunjung ke Surabaya. Entah mengapa saya bersikeras ingin berjumpa dengan beliau. Walhasil Alhamdulillah berkat izin Allah kami bertemu walau dalam kondisi yang serba mepet karena saya mesti langsung berangkat ke Bandara Juanda Surabaya mengingat pesawat take off pukul 19. Saya ingat Pak Ali waktu itu bawa kendaraan roda empat yang berisikan beliau, istri, dan tiga orang anaknya yang masih kecil semua. Mobilnya seken, merk Daihatsu Zebra. Saya ingat beliau bilang tidak masalah mobil jelek tapi intinya berfunsi dan tidak didapat dari harta haram. Pertemuan yang sangat singkat namun berkesan bagi saya karena saya sangat utang rasa dengan beliau. Saya ingat saya berpelukan dan kami saling mendoakan dalam kebaikan disertai kata maaf karena kami tidak bisa bercengkerama dalam waktu lama. Saya langsung pamit dan masuk bandara. Doa saya yang terbaik untuk beliau dan keluarga beliau semoga Allah selalu jaga dan semoga kami dipertemukan kembali di surga Firdaus dengan rahmat Allah. Amin.

 []

 

Wednesday, December 7, 2022

Istiqamah dalam Kebaikan dan Menjauhi Maksiat adalah Hal Paling Berat

 via Jun Khaer

Ada orang beribadah sepanjang hidupnya. Setiap hari orang ini rajin ke mesjid. Tak lupa selalu sedekah. Intinya semua kebaikan dalam hidupnya selalu terdepan. Dan yang paling penting lagi yaitu menjauhi segala bentuk maksiat dan pelanggaran. Ini poin berikutnya yang paling sulit.

Betapa banyak orang yang tidak kenal atau bahkan mungkin tidak mau kenal agama ini. Ada juga yang sudah kenal agama, namun sebatas kenal saja, tidak ingin menelusuri labirin yang teramat banyak dari sisi agama ini. Artinya agama ini tidak kecil selebar daun kelor, dia teramat luas seperti angkasa. Semakin dijelajahi semakin sadarlah manusia soal kebodohannya.

Itulah pentingnya doa meminta hidayah. Betapa banyak manusia yang sudah beragama Islam namun tidak mengenal agama itu sendiri. Bayangkan saja ada orang yang melakukan amalan kecil, anggaplah baca surat tertentu dalam Al Quran yang mungkin isinya hanya seperti surat juz 30 yang pendek bacaannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah amalan mudah, namun permasalahannya bagaimana kalau amalan itu dikerjakan sepanjang hari secara konsisten alias istiqamah. Inilah letak yang menjadikan sebuah amalan kecil secara kuantitas namun menjadi besar secara kualitas. Amalnya biasa saja, namun kualitasnya yang luar biasa karena konsisten dan tidak terputus.

Sejatinya malas merupakan musuh terbesar manusia setelah setan Iblis laknatullah dan bala tentaranya. Malas merupakan sosok gaib yang melekat pada diri setiap manusia yang merupakan fitrah bawaan dalam penciptaan manusia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya agar berlindung diri dari sifat malas dalam doa pagi dan petang. Artinya sifat malas ini menjadi salah satu godaan di antara sekian banyak godaan dalam hidup manusia di dunia.

Alih-alih.
Alkisah, di dekat rumah saya ada sebuah masjid bernama Masjid Al Istiqamah. Saya perhatikan jamaah di sana sungguh mencerminkan nama masjidnya yaitu selalu istiqamah di dalam iman dan islam di atas sunnah nabi yang mulia ﷺ. Saya jadi ambil kesimpulan betapa pentingnya memberikan nama kepada sesuatu benda. Istiqamah dapat dimaknai sebagai suatu hal yang dikerjakan secara konsisten dan terus menerus tanpa adanya jeda rehat panjang, artinya seseorang melakukan pekerjaan secara kontinyu tanpa adanya rasa bosan yang merupakan bawaan sifat fitrah manusia.

Bayangkan hal semacam di atas pastinya sulit, karena istiqamah itu pasti membosankan. Dalam hidup ini algoritma manusia selalu menghindari kejenuhan dan kebosanan yang itu-itu saja, adapun hal ini sejatinya benar. Namun belajar untuk konsisten dalam suatu hal terutama kebaikan ini akan menjadikan seorang manusia lebih memiliki makna dalam hidup. Manusia akan lebih mampu memaknai hakikat untuk apa dia hidup di alam semesta ini. Jawabannya hanya satu, yaitu ibadah. Artinya kesimpulan sederhana dari tulisan ini bahwa ibadah itu membutuhkan konsistensi dan perjuangan untuk dimulai dari garis awal hingga diakhiri di garis akhir.

Mari lanjut kepada pembahasan istiqamah dalam hal kebaikan. Ini yang menjadi pokok pertama dalam tulisan ini. Saya ingin mengajak para pembaca yang budiman agar sekedar, atau bahkan mungkin mendalami, makna konsisten dalam kebaikan. Dengan kata lain kebaikan itu membutuhkan konsistensi. Karena kalau kebaikan tidak disertai dengan konsistensi maka dapat dimaknai sebagai aji mumpung, atau tumben atau dan lain sebagainya yang dapat mendistorsi makna kebaikan itu sendiri.

Sejatinya sadar atau tidak sadar, bahwa hidup di muka bumi ini hanya mengulang secara terus menerus apa yang kita lakukan sejak lahir hingga tua dan mati, lebih spesifik lagi yaitu mengulangi apa saja yang kita lakukan sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Hidup adalah pengulangan, oleh karena itu kita tinggal memilih secara sederhana apakah mau mengulang suatu hal yang baik atau hal yang buruk. Percayalah, untuk memulai suatu hal yang baik itu lebih sulit ketimbang memulai suatu hal yang buruk padahal sejatinya manusia pertama Nabi Adam waktu masih hidup di surga dikelilingi dengan hal-hal yang baik dengan jumlah yang banyak. Dan hal-hal yang buruk hanya sedikit. Namun lagi-lagi begitulah fitrah manusia, ada hal yang baik dalam jumlah banyak malahan memilih hal yang buruk dalam jumlah sedikit.

Kemudian hal kedua yang teramat sulit dilakukan dalam hidup ini adalah menjauhi maksiat. Saya tidak menggunakan kata bermaksiat, namun saya gunakan kata menjauhi maksiat. Sama halnya ketika larangan zina dalam Alquran yang tidak menggunakan kata berzina, melainkan menggunakan kata jangan dekati zina. Bayangkan saja, untuk perihal zina saja manusia dilarang untuk mendekati, apalagi untuk melakukan dan seterusnya hal yang lebih rusak dari paket perihal zina. Artinya dapat dipahami dengan pemahaman bahasa yang mudah bahwa zina itu merusak dan ada tingkatan-tingkatan kerusakannya masing-masing sampai titik paling puncaknya.

Menjauhi maksiat merupakan frase yang hanya terdiri dari dua kata, yaitu jauh dan maksiat. Kelihatannya sepele namun mari perhatikan lebih jauh mengenai kata jauh dan maksiat. Kata jauh memiliki lawan kata yaitu dekat, ini merupakan hal yang menarik ditinjau dari segi bahasa. Mari kita jauhi narkoba, misalnya. Artinya mengandung konsekuensi bahwa kita jangan berinteraksi dengan segala perangkat dan rupa yang berhubungan dengan narkoba. Cukup kita mengetahui narkoba sebagai ranah pengetahuan dan bukan sebagai ranah amalan atau bahkan lebih parah yaitu menjadi pelaku professional dalam bidang narkoba. Nauzubillah.

Tuesday, November 22, 2022

Manusia itu Mudah Melupakan dan Dilupakan

oleh John Copelow

Pernahkah Anda berpikir tentang perkara lupa? Sebuah perkara receh namun besar. Perkara yang meliputi sifat dasar manusia yang di dalamnya terkandung makna luas menyangkut hakikat kehidupan manusia yang berhubungan dengan keseimbangan dan keharmonisan semesta, yaitu bernama lupa. Lupa memang menjadi ciri khas perkara kemanusiaan dalam kaitannya dengan interaksi manusia dengan manusia serta interaksi manusia dengan semesta.

Konsep lupa merupakan konsep fitrah manusia artinya ini merupakan sifat asli bawaan manusia sejak manusia pertama Nabi Adam hingga manusia paling terakhir yang hidup di muka bumi. Bahasa Inggris menggunakan istilah forget /fərˈɡet/ yang bermakna gagal untuk mengingat sesuatu. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Keterbatasan akal manusia menjadi sebab akibat konsep dasar lupa. Namun jangan salah, lupa dalam konteks keseimbangan semesta bermakna besar yaitu dengan eksistensi lupa maka manusia selalu menjadi makhluk yang selalu berevolusi menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk.

Bayangkan saja kalau manusia tidak memiliki sifat lupa, alias manusia mengambil ceruk sifat ilahiah yang sempurna tanpa cela dan noda sama sekali. Akibatnya adalah terjadi ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan di alam semesta ini. Manusia tidak ada yang mengoreksi dirinya sendiri dan orang lain. Semua akan bertabrakan satu dengan yang lain. Semesta akan hancur dengan sendirinya karena sejatinya lupa adalah oposisi biner dari kata ingat.

Saya teringat sebuah cerita, untungnya saya tidak lupa dalam hal ini, sebuah cerita dari ustadz yang menceritakan perkara apa saja yang akan dilewati manusia dalam fase setelah kehidupan di muka bumi ini. Bahkan baru saja manusia wafat dan dikebumikan, maka tidak selang beberapa lama dia langsung dilupakan oleh keluarga atau bahkan pasangan hidupnya semasa di dunia. Karena tidak ada manusia yang mati ditemani di alam kuburnya. Dari sini saja dapat dipahami bahwa konsep lupa yang disengaja adalah merupakan sebuah keniscayaan hidup atas orang yang mati. Lantas kemudian kehidupan terus belanjut detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari bahkan tahun demi tahun yang hingga pada akhirnya seorang manusia hanya akan dikenang namanya entah karena sesuatu yang baik ataupun sebaliknya sesuatu yang buruk.

Begitulah kehidupan di semesta ini. Semesta yang teramat luas yang manusia tidak tahu ukuran matematisnya berapa luasnya semesta, sedangkan manusia hidup di bumi yang ukurannya amat sempit. Lantas masih banyak manusia yang terlalu menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Di bumi yang kecil ini kita sombong, berlagak jadi makhluk sempurna padahal kenyataannya amat jauh panggang dari asap. Manusia lahir dari lubang yang sempit, bernapas dari lubang yang sempit, makan dan minum dari lubang yang sempit, buang kotoran dari lubang yang sempit. Hingga pada akhirnya mati dan kembali ke tanah melalui lubang yang sempit. Lantas di sisi mana manusia mesti sombong.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah lama ini rasanya mesti dikaji kembali melalui gaya hidup manusia modern. Terlalu sibuknya kita dengan hidup ini menjadikan suatu hal yang bernama makna menjadi semakin terkikis. Kita hidup di jaman dimana laki-laki dan perempuan saling kenal di pagi hari dan sudah bilang cinta di siang hari, begitu cepatnya, walau belum kenal secara utuh. Bayangkan di jaman dulu manusia berkeluh kesah lewat buku catatan pribadi atau mungkin bisa juga lewat tulisan yang dijadikan surat menyurat lewat PT Pos Indonesia. Dimana saat hari raya Idul Fitri atau hari besar agama lainnya terdapat ucapan yang menjadi sangat spesial pakai telur karena diucapkan dan diterima langsung oleh orang yang bersangkutan secara ikhlas dan tepat sasaran. Atau mungkin saat dimana orang saling berkirim pesan singkat lewat telegram yang disisipkan pesan sayang berupa uang kepada yang tersayang. Pesan sayang yang diabadikan oleh penyair WS Rendra lewat sajaknya yang terkenal berjudul Ada Tilgram Tiba Senja.

Maka dari itu tulisan ini saya abadikan agar kelak dibaca oleh siapa saja asal dia masih manusia. Saya ucapkan terima kasih masih mau dan sempat-sempatnya membaca tulisan receh yang tidak terlalu penting ini. Niat saya cuma agar dikenang oleh anak cucu cicit canggah saya sebagai pendahulunya yang eksis dengan menulis dan bahwa saya merupakan manusia nyata dan pernah hidup dengan tulisan ini sebagai barang bukti otentiknya.

Alhasil, kenangan demi kenangan yang dialami oleh seorang manusia pada akhirnya akan berujung kepada kenangan. Ya tinggal pilih saja, mau berujung kenangan baik atau buruk serta bonusnya yaitu ada kenangannya. Ibarat pahlawan yang sejatinya tidak perlu penghargaan atau kenangan. Belajarlah untuk menjadi ikhlas. Ikhlas menjalani kehidupan sebagai manusia yang tak luput dari sifat lupa. Lupakan hal yang baik dari diri sendiri, maafkan orang lain yang pernah punya salah kepada kita, niscaya kita akan dikenang sebagai yang baik dan tidak dilupakan.


Thursday, October 6, 2022

Kisah-kisah dari Kereta Api: Bapak Tua di Stasiun Bogor

Suatu hari, saya pernah menjumpai seorang bapak di pelataran Stasiun Bogor. Si bapak ini tampak merenung sembari merokok. Tampak raut kebingungan dari wajahnya. Seakan beliau tidak menikmati rokok di tangannya melainkan pikirannya entah kemana. Saya coba iseng bertanya ke beliau dengan basa-basi ala Melayu.

“Pak, numpang tanya. Kalau dari sini ke Terminal Baranangsiang naik angkot apa ya?”. Begitu kira-kira kalimat basa-basi saya. Kemudian si bapak menjawab dengan detail. Malahan beliau tahu benar rute trayek angkot sekitaran Stasiun Bogor. Makanya saya tanya kembali kok si bapak bisa paham berbagai rute di situ. Ternyata jawabnya beliau baru saja kecopetan di angkot.

Saya pun diam sejenak.

Pikiran-pikiran muncul di otak saya. Pikiran yang didasari hati seraya membayangkan kalau saya dalam posisi si bapak ini. Atau mungkin saja bapak saya, ibu saya, atau anak saya atau siapapun itu yang berada dalam posisi si bapak ini, pastilah sesuatu yang tidak menyenangkan. Lagipula siapa sih orang yang ingin kecopetan?

Lantas saya bertanya dimana rumahnya? Beliau jawab dengan rinci alamatnya, yang saya ingat itu di daerah Tenabang. Kemudian beliau balas tanya dengan dugaan kalau saya itu orang asli Betawi, menurutnya dialek saya seperti orang Betawi tengah yang selalu menyisipkan frase Arab seperti ane dan ente. Memang banyak orang asing yang belum kenal saya biasanya menebak asal saya dari Betawi.

Kemudian si bapak itu saya bantu dengan sedekah uang receh. Beliau mengucap syukur Alhamdulillah kemudian berterima kasih kepada saya. Namun saya malah bilang kenapa tidak cerita dari awal, beliau jawab kalau beliau malu untuk meminta-minta jadinya beliau diam saja sambil berpikir mencari cara bagaimana bisa pulang. Lantas beliau menyebut alamatnya dengan lengkap tadi itu seraya ditambahkan jika saya mau mampir ke rumahnya maka beliau akan sangat senang. Tidak penting sebenarnya, namun hal yang terpenting digarisbawahi bahwa si bapak itu sampai menyebut alamatnya lengkap menunjukkan rasa terima kasihnya dan rasa senangnya masih ada orang yang menolong beliau.

Akhirnya saya berpamitan dan beliau pun lanjut masuk ke Stasiun Bogor untuk pulang ke rumahnya.

Tuesday, June 21, 2022

Harta yang Paling Berharga adalah Tidur Siang


Setelah saya pikir-pikir, nikmat dalam hidup ini banyak sekali sampai-sampai saya sendiri tidak mampu menghitung bahkan merincinya. Kalau kata sinetron Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga. Namun bagi saya harta yang paling berharga adalah tidur siang. Karena dengan tidur siang yang nyenyak dan berkualitas menjadikan interaksi dengan keluarga semakin baik.

Pengertian paling berharga mungkin dapat ditafsirkan sebagai paling mahal. Alhasil menurut saya tidur siang merupakan sesuatu yang paling mahal di jaman serba canggih ini. Betapa banyak manusia yang luput dari nikmat ini dikarenakan kesibukan mesti mengurus ini mengurus itu mengurus anu dari seluruh kegiatan duniawi sehingga tidur siang menjadi sesuatu yang sulit dilakukan kecuali hanya di akhir pekan dengan catatan tidak ada aktifitas.

Sibuk, sibuk, dan sibuk agaknya menjadi kata kunci manusia  perkotaan yang menghabiskan jatah umur di muka bumi dengan berbagai cara dan berbagai niat. Sampai pada akhirnya merasa kesal karena capek sendiri yang menurut saya itu adalah sebuah keanehan. Sejatinya manusia memang diciptakan untuk punya rasa capek dan lelah. Justru di situlah letak nikmatnya tidur, apalagi tidur siang yang sesuai dengan tema pembahasan kali ini.

Menurut penelitian Medical Xpress, tidur siang menjadikan kinerja otak lebih tajam dan bisa meningkatkan ketangkasan mental. Hal ini disebut bisa membuat seseorang lebih sadar tempat dia berada, lebih fasih secara verbal, serta memiliki memori kerja lebih baik. Hasil temuan ini diperolah dari setidaknya 2.214 orang dengan usia 60 tahun di China. Dari seluruh partisipan, sebanyak 1.534 orang tidur siang secara rutin sedangkan 680 orang lainnya tidak.

Menurut National Sleep Fondation, kegiatan tidur siang dapat dibagi menjadi 3 jenis.

1.      Tidur siang yang direncanakan

Jenis tidur siang ini adalah tidur siang yang dilakukan pada saat badan tidak mengalami kelelahan atau tidak mengantuk. Kegiatan tidur siang ini dilakukan untuk menjadi suatu persiapan kegiatan yang berlebih seperti lembur kerja, bergadang, ataupun melakukan kerja berat. Jenis tidur siang ini sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki manajemen waktu yang baik yang bisa memprediksi kelelahan dan aktivitas yang padat pasca tidur siang. Harapannya dengan melakukan kegiatan tidur siang, mereka mampu melaksanakan kegiatan yang akan dilakukan secara optimal.

2.      Tidur siang yang tidak direncanakan

Jenis tidur siang ini dilakukan jika kita mengalami kelelahan yang berlebihan sehingga tubuh secara sadar ataupun tidak sadar melakukan kegiatan tidur siang.

3.      Tidur siang yang menjadi kebiasaan

Jenis tidur siang ini terjadi bagi mereka yang biasa melakukan kegiatan tidur siang baik pada saat badan mengalami kelelahan maupun tidak mengalami kelelahan. Jenis tidur siang ini biasa terjadi pada balita ataupun orang lanjut usia.

Seperti dijelaskan di atas, bahwa kegiatan tidur siang tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan untuk menyegarkan tubuh, namun beberapa penelitian menunjukkan beberapa manfaat tidur siang. Beberapa manfaat tidur siang berdasarkan hasil penelitian University of Harvardyaitu peningkatan memori daya ingat, menyegarkan pikiran, dan memperbaiki suasana hati. Durasi tidur siang bergantung pada apa yang menjadi tujuan dari tidur siang tersebut. Untuk fungsi tidur siang sebagai menyalakan ulang otak, direkomendasikan untuk melakukan durasi tidur siang selama 20-30 menit. Tidak lama, namun cukup efektif.

Kualitas tidur siang yang lebih baik dapat dilakukan hingga 30-40 menit, namun tidur siang dengan durasi ini dapat menimbulkan pusing, dan keadaan linglung.  Hal tersebut disebabkan karena pada durasi 30-40 menit telah terjadi penyusunan ulang dan regenerasi beberapa sel otak, sehingga akan terjadi sedikit dampak pada otak dan kejiwaan seperti pusing dan linglung. Tapi permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mengkonsumsi air putih secukupnya dilanjutkan dengan membasuh wajah dan kepala dengan air, maka efek tersebut akan hilang dan kita kembali ke aktivitas dengan segar bugar seperti pada waktu pagi hari.

Adapun khusus untuk pekerja berat ataupun pekerja yang mendapatkan jam kerja malam, maka direkomendasikan untuk tidur siang selama 20-30 menit. Selain itu hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengkombinasikan tidur siang dengan konsumsi kafein seperti teh dan atau kopi untuk meningkatkan performa kerja di malam hari. Namun diharapkan konsumsi kafein dilakukan paling lambat 4 jam sebelum tidur.

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa tidur siang memiliki banyak manfaat bagi tubuh baik secara fisik maupun mental dan kejiwaan. Namun yang patut kita garis bawahi adalah tidur siang yang dilakukan tidak boleh terlalu lama (maksimal 90 menit) dikarenakan tidur siang yang terlalu lama akan mempengaruhi jam tidur di malam hari. Jam tidur yang berubah akan berdampak pada perubahan pola tidur yang tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Nabi Muhammad telah mencontohkan lebih dari seribu empat ratus tahun lalu mengenai manfaat tidur siang. Istilah tidur siang disebut dengan qailulah, sebagaimana termaktub dalam hadits:

“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jumat, kemudian istirahat siang. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240).

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang. (HR. Abu Nuaim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637).

 

Berdasarkan penjelasan ilmiah sains dan agama, maka telah jelas bahwa tidur siang merupakan salah satu kegiatan yang memiliki faidah yang besar. Bagi saya pribadi, tidur siang adalah harta yang mahal. Artinya kalau di jam tidur siang saya ada menerima tamu atau hal lain yang mesti dilakukan dari urusan duniawi, itu artinya urusan tersebut memiliki kepentingan besar. Perkara tidur siang telah dijelaskan dan dipraktikkan oleh manusia terbaik di alam semesta ini . Sudah seharusnya bagi manusia untuk mencontoh teladan terbaik yang diutus bagi semesta, niatkan ibadah, niscaya ada ganjaran pahala besar di balik setiap kebaikan yang dilakukan atas dasar ilmu dan niat mencontoh Nabi Muhammad .

 

  

Tuesday, June 7, 2022

Mesjid dan 300 Juta

 Hari Jumat.

Tiba-tiba saya dengar pengumuman dari pengeras suara mesjid dekat rumah. Pengumuman itu berisi maklumat uang kas mesjid yang berjumlah 300 juta. Reaksi pertama saya yaitu kaget. Kok bisa ya mesjid di kampung namun uang kas sampai tembus nominal fantastis segitu?. Selidik punya selidik, saya perlahan mencari tahu darimana sumber uang sebanyak itu. Ternyata salah satunya adalah anggaran yang digelontorkan oleh Dewan Mesjid Indonesia (DMI) per tahun bagi mesjid-mesjid yang terdaftar sebagai anggota. Sisanya ya mudah ditebak, yaitu zakat dan sedekah jamaah mesjid.

Fungsi religius dan fungsi sosial mesjid menjadi terpisahkan. Begitu penuturan rekan saya yang dulu aktif di salah satu mesjid kampus. Padahal jika melihat realitanya, kedua fungsi tersebut selalu menyatu dan tak dapat dipisahkan. Dari seluruh rukun Islam yang lima, setelah syahadat seluruhnya perlu menggunakan modal finansial. Apalagi rukun kelima yaitu haji, yang merupakan puncak ibadah tertinggi yang membutuhkan modal finansial dan spiritual yang paling besar.  

Bayangkan saja uang 300 juta itu jika disalurkan kepada yang membutuhkan maka akan sangat bermanfaat ketimbang diumumkan keras-keras pakai pengeras suara yang alih-alih malahan bikin sakit hati orang yang punya kuping waras. Masih banyak orang kelaparan, sakit, dan segala macam cobaan duniawi yang mestinya walau sedikit mampu diringankan oleh mesjid sebagai wadah pergerakan umat. Pandemi corona jelas meluluhlantahkan perekonomian, mestinya di sini lah mesjid tampil sebagai pahlawan bagi umat, bukan sebaliknya.

Alhasil, tidak heran kalau umat Islam malas ke mesjid. Stigma mesjid yang kolot dan sakral menjadikan orang hanya menafsirkan mesjid sebagai tempat ritual semata, tanpa disertai dengan aspek spiritual. Seharusnya mesjid merupakan tempat yang mengubah stigma jaman dulu tersebut. Benar kiranya, bahwa seharusnya orang yang mengurus mesjid adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya sadar betul bahwa segala sesuatu soal mesjid kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Harta yang ada di mesjid adalah titipan mau berapapun jumlahnya. Mau satu perak, dua perak, seribu, apalagi 300 juta.

Thursday, June 2, 2022

Bertengkar dengan Orang Tak Dikenal Perkara Duit Goceng

 Suatu hari selepas salat Jumat.

Saya pulang ke rumah naik motor. Di tengah jalan tiba-tiba uang saya jatuh gegara terhempas angin. Uang receh, cuma lima ribu perak. Lantas saya sadar dan reflek mau ambil itu uang. Waktu mau saya ambil tiba-tiba ada dua manusia yang berboncengan naik motor yang juga minat pada itu uang dan berusaha mengambilnya. Sontak saja saya teriak. Maksud teriak tidak ada yang aneh, cuma agak ekspresif saja. Kemudian si manusia-manusia itu salah satunya mungkin karena sudah kepalang tanggung takut diteriaki maling malah balik tanya ke saya apa boleh itu uang buat mereka. Langsung saja saya bilang TIDAK. Mirip iklan partai anu yang promosikan program anti korupsi.

Saya bilang tidak, sekaligus menimpali kalau itu harta buat istri saya. Lagipula ngapain juga itu manusia rebutan uang yang bukan jadi hak mereka. Permasalahannya bukan pada nilai uang lima ribu perak alias goceng namun pada nilai kejujuran. Kalau satu orang manusia semacam itu dibiarkan mudah mengambil hak orang lain yang bukan haknya maka bagaimana kalau dikali sepuluh, seratus, sejuta, dan seterusnya. Artinya makin banyak manusia malas semacam itu.

Hidup di jaman modern yang katanya canggih ini makin absurd. Makin banyak orang aneh yang keanehannya sulit ditebak dan dipahami dengan akal sehat. Logika dan akal sehat manusia banyak yang terjerembab ke lubang hitam yang tak jelas arah tujuannya. Orang dengan mudahnya mencari jalan pintas untuk jadi hebat, kaya, pintar dan lain sebagainya tanpa mau usaha keras dan menempuh jalan yang semestinya. Mirip dengan teknologi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh jalan pikiran manusia, pun begitu dengan sikap manusia itu sendiri yang tidak siap menerima teknologi.

Teknologi seharusnya menjadikan manusia lebih maju. Artinya maju dalam segala urusan yang bermakna positif. Bukan sebaliknya, manusia yang jadi budak teknologi akibat ketidaksiapan mental dalam menggunakan teknologi yang sejatinya untuk kebaikan umat manusia. Sikap mental yang cacat tanpa akhlak budi pekerti yang benar maka akan menjadikan manusia itu serakah tamak rakus sehingga teknologi yang seharusnya berjalan beriringan dengan akhlak manusia menjadi sebaliknya. Bermula dari hal kecil, kalau perkara uang goceng alias lima ribu perak saja sampai rebutan padahal jelas bukan haknya, maka bagaimana dengan nominal yang jauh lebih besar dari itu. Mari kembalikan pikiran dan hati nurani pada tempatnya agar menjadi manusia normal seutuhnya yang berguna bagi alam semesta.

Saturday, March 19, 2022

Sekardus Indomie dan Kekuatan Doa

oleh John Koplo




Suatu hari saya pernah berkhayal ingin punya Indomie satu kardus.

Sudah sejak lama impian ini saya ciptakan di alam bawah sadar saya. Jawaban yang muncul dari orang sekitar saya selalu sama. Ngaco.

Saya selalu optimis pada doa yang positif. Apa salahnya juga Indomie satu kardus. Ya kalau menurut medis, makan sesuatu yang mengandung monosodium glutamat alias mecin itu konon bisa menimbulkan efek negatif hingga muncul istilah generasi mecin. Entahlah.

Kalau saya menanggapinya dengan netral saja. Segala sesuatu kalau berlebihan pasti tidak baik. Artinya kalau makan Indomie satu kardus dalam satu waktu satu perut, itu yang bikin berbahaya. Berbahaya bagi tubuh sekaligus zalim terhadap hak orang lain yang mestinya ikut makan bersama.

Ngomong-ngomong soal Indomie, saya mau bertema kasih terlebih dahulu kepada peracik resep bumbu Indomie yang legendaris itu yang tahun lalu meninggal dunia, yaitu Ibu Nunuk Nuraini. Saya haturkan terima kasih seluas-luasnya kepada beliau semoga Allah jadikan amal baiknya sebagai kebaikan yang selalu mengalir sebagai lading pahala. Saya dan seluruh penduduk bumi berutang rasa pada beliau. Saya jadi ingat perkataan Chef Agus Jamhari soal resep rahasia yang teruji itu mahal harganya karena di balik itu semua ada pengalaman, konsistensi, uji coba, kegagalan, dan sederet kisah yang tidak semua orang tahu. Oleh karena itu saya paham resep Indomie buatan Ibu Nunuk Nuraini semoga Allah merahmati beliau, adalah yang terbaik sebagai warisan kuliner nusantara terbaik.

Alih-alih.

Tak ada yang mustahil di kolong langit. Tak ada doa yang tidak didengar dan dijawab, asal yakin bahwa Allah punya nama Ar Razzaq Al Wahhab, Maha Pemberi tak harap kembali. Isi doa saya itu receh, minta sekardus Indomie enteh bagaimana caranya. Ternyata Allah jawab doa saya dengan indah. Allah takdirkan saya kena musibah covid-19 omicron. Setelah proses isolasi mandiri yang melelahkan, ternyata saya dapat bantuan sosial dari pemerintah yang diwakili oleh pihak kelurahan yang isinya salah satunya adalah satu kardus Indomie rasa kaldu ayam. Saya kaget sekaligus bahagia. Alhamdulillah Allah jawab doa saya.

 Maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

 


Friday, March 18, 2022

Apa Sih Sulitnya dan Sampai Kapan: Sebuah Catatan Refleksi Diri sebagai Seorang Manusia

 oleh RMK

Manusia adalah makhluk yang selalu ingin segala sesuatunya enak, lancar, mulus, indah, dan segala macam rupa yang menunjukkan sesuatu yang baik dan positif tanpa banyak rintangan, gangguan, hambatan, dan semisalnya. Begitulah sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Sekaligus manusia digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan bodoh, selalu cari celah dari sebuah larangan. Sudah dilarang tidak boleh memakan satu pohon di surga eh malah ngeyel. Padahal cuma itu saja pohon yang dilarang, selebihnya manusia bebas makan, minum, dan lain sebagainya di surga. Akibat itulah manusia turun ke bumi, yang takdirnya telah ditulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan semesta.

Lantas setelah manusia turun ke bumi mesti apa? Ternyata jawabannya sederhana. Ibadah. Bukan sampai di situ saja, Allah teruskan ayat setelahnya bahwa dengan tegas bahwa Allah tidak butuh diberi rejeki, justru Allah, zat Maha Pemberi Rejeki dan Maha Kuat. yang beri manusia rejeki segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk hidup di bumi sampai mati. Tujuan penciptaan jin dan manusia di muka bumi hanyalah ibadah, menyembah Allah saja tanpa sekutu, tanpa tandingan.

Allah telah wajibkan rukun agama Islam atas lima pilar yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Artinya kalau memang kita tidak mampu ya rukun Islam itu dilakukan semampu kita sebagai seorang hamba.

Dari kelima rukun Islam itu, ada yang menarik buat saya yaitu salat. Ibadah yang satu ini sungguh spesial di agama Islam. Karena ibadah ini sebagai simbol tegaknya agama dan sebagai ibadah yang pertama kali nantinya akan dihisab di hari kiamat. Artinya jika ibadah ini baik, maka ibadah yang lain akan ikut baik.

Bicara soal salat, maka tak lepas dari peristiwa Isra Miraj. Sebuah peristiwa agung yang menunjukkan kebesaran Allah yang kuasa menjalankan hamba-Nya dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsha di Baitul Maqdis. Peristiwa itu terjadi dalam satu malam, ketika itu Nabi Muhammad ﷺ sebelum berangkat terlebih dahulu menjalani operasi bedah jantung tanpa anaestesi oleh Malaikat Jibril dan Mikail, kemudian dibuang bagian yang kotor tempat bersarang dosa dan penyakit, kemudian diisi oleh hikmah karena sebagai persiapan menerima ibadah yang paling mulia dari seluruh ibadah dalam syariat Islam yaitu salat. Hal yang menarik dari ibadah salat yaitu jika ibadah-ibadah lainnya diperintahkan melalui Malaikat Jibril yang turun ke bumi, terkhusus salat maka Nabi Muhammad ﷺ dipanggil ke tempat tertinggi untuk bertemu Allah menerima perintah salat, oleh karena itu hal demikian menunjukkan agungnya kedudukan salat dibandingkan dengan ibadah lainnya.  

Isra Miraj mengandung dua kata yaitu Isra yang bermakna perjalanan malam dan Miraj yang bermakna naik ke langit. Kedua peristiwa tersebut terjadi hanya dalam satu malam saja dari tengah malam hingga menjelang subuh. Hal inilah yang didustakan oleh kafir Quraish pada waktu itu, dan diriwayatkan bahwa hampir seluruh sahabat Nabi Muhammad tidak percaya dan nyaris kafir akibat peristiwa yang menggoncangkan iman ini kecuali Abu Bakr, oleh karena itu beliau digelari As Siddiq yang bermakna membenarkan peristiwa Isra Miraj.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad sebelum naik ke langit, sempat menjadi imam salat bagi seluruh nabi dan rasul yang diutus untuk menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama terakhir dan rahmat bagi semesta. Ketika beliau naik ke langit pertama, berjumpa dengan Nabi Adam, bapak manusia. Di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam bertemu Nabi Musa. Di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.

Menurut Google Maps, jarak Kabah di Makkah ke Masjid Al Aqsha Baitul Maqdis yaitu 1789km melalui rute jalan darat yang mampu dilalui manusia via Kota Madinah. Dalam perjalanan itu Nabi Muhammad menaiki tunggangan bernama Buraq, hewan yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai yang mampu terbang memiliki kecepatan cahaya, beliau  sempat singgah di Madinah, kemudian singgah di Bukit Sinai, dan kemudian sampai di Masjid Al Aqsha.

Dari seluruh cerita di atas, saya mengambil hikmah besar tentang ibadah salat. Pertanyaan besar dan selalu saya ulang untuk diri saya sendiri. Apa sih sulitnya salat di zaman modern ini? Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba untuk salat? Sulitkah menemukan air di Indonesia ini?

Saya menemukan jawaban sendiri mengenai perihal salat. Bayangkan saja, dari seluruh syariat yang ada dalam Islam, hanya salat yang perintahnya langsung di langit tanpa perantara. Tempatnya di Sidratul Muntaha, ujung pohon bidara yang luasnya seluas langit dan bumi. Tempat dimana Malaikat Jibril sekalipun tidak mampu memasukinya, kecuali bagi yang dikehendaki Allah. Artinya hanya Nabi Muhammad manusia pilihan terbaik semesta yang Allah pilih dengan jasad dan ruh untuk menerima perintah yang paling mulia.

Kemudian muncul pelbagai referensi mengenai hidup di dunia. Allah telah sampaikan mengenai contoh terbaik manusia yang pernah hidup di bumi. Lantas mengapa saya sebagai hamba Allah dan pengikut Muhammad tidak mengambil suri teladan tersebut? Sungguh sebuah kerugian besar, mengingat Allah menggunakan huruf sumpah dalam Alquran dengan pengulangan.energi.

Manusia tidak mungkin menjangkau kemuliaan Allah, segala apapun yang mencakup zat, ilmu, dan kekuasaan-Nya. Apa ada manusia yang sangup mengukur luas semesta ini? Semesta yang lengkap dengan konstelasi keruwetan dan kerumitan yang tanpa batas. Perkara-perkara gaib teramat banyak yang pastinya tidak mampu dijangkau akal manusia yang cetek.

Dengan demikian tidak mungkin manusia mampu melihat Allah di dunia. Jelas hal ini dapat dimaknai dengan akal sehat. Bahwasanya energi Allah maha dahsyat dengan segala kemuliaan-Nya dan kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi beserta jagad raya semesta ini. Jika surga digambarkan oleh Allah dengan redaksi kalimat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbersit dalam hati seorang hamba. Maka pertanyaan berikutnya bagaimana wajah Allah sebagai pencipta itu semua? Sebuah kenikmatan yang digambarkan merupakan puncak kenikmatan di surga yaitu melihat wajah-Nya yang mulia. Maha Suci Allah dengan segala sifat asmaul husna yang dimiliki-Nya.

Segala macam ilmu pengetahuan manusia sejatinya hanya setitik ilmu yang Allah berikan bagi hamba-Nya, maka di luar itu adalah kebodohan dan kegelapan. Dialah Allah, An-Nur, Maha Cahaya yang menerangi kegelapan dengan rahmat-Nya yang luar biasa besar bagi hamba-Nya.

Kemudian saya ingin pertanyakan dua pertanyaan yang sederhana namun punya makna besar yaitu apa sulitnya bagi seorang hamba untuk beribadah?, kemudian sampai kapan mau tidak beribadah?

Telah dijelaskan sebelumnya perkara salat adalah ibadah paling mulia dari seluruh ibadah yang ada di semesta ini. Lantas ada syariat bernama azan yang berfungsi panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk menghadap kepada-Nya. Allah tidak butuh ibadah manusia sedikitpun. Walaupun manusia kufur seluruhnya atau sebaliknya beriman seluruhnya, maka sama sekali tidak berpengaruh kepada kerajaan dan kemuliaan Allah.

Logikanya, tidak mungkin bagi Allah untuk menyeru manusia dengan seruan sesuai dengan kemuliaan zat-Nya. Level frekuensi manusia tidak sanggup atau katakanlah tidak akan selevel dengan Allah. Maka dari itu sebagai bentuk rahmat Allah yang luar biasa besar, ada syariat azan. Namun banyak sekali saya temukan di sekitar saya, manusia yang lalai dari panggilan Allah.

Saya tidak menemukan adanya kesulitan atau halangan bagi manusia terutama yang hidup di Indonesia untuk menemukan air sebagai syarat sah wudhu yang menjadi kunci syarat sah salat. Air di negara ini berlimpah ruah seakan tidak ada habisnya, yang merupakan nikmat Allah bagi bangsa ini. Artinya kalau seribu empat ratus tahun lalu Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang mulia kesulitan menemukan air untuk bersuci dan hajat hidup lainnya, maka bangsa ini Allah berikan nikmat yang luar biasa dahsyatnya dengan kemudahan air. Oleh karena itu tidak ada uzur, kecuali bagi yang sakit atau musafir, bagi hamba Allah untuk tidak menemukan air sebagai syarat berwudhu untuk menunaikan salat. Justru kebalikannya, banyak manusia yang boros dalam menggunakan air wudhu, padahal yang demikian dilarang oleh Nabi Muhammad dan perkara wudhu sudah dicontohkan dengan jelas.

Allah Akbar. Allah Maha Besar.

Artinya yang kecil dan receh pastilah bukan Allah, melainkan makhluk khususnya yang bernama dunia yang teramat hina dan kecil.

Hal yang saya maknai dari azan yaitu Allah mengajak hamba-Nya untuk komunikasi. Bermunajat. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya pun mencoba untuk bertanya lebih dalam, apa ruginya seorang hamba yang taat kepada Allah? Ingatlah Allah adalah zat yang tak pernah ingkar janji. Surga adalah jaminan terbesar Allah yang disiapkan bagi hamba-Nya yang taat. Pun sebaliknya neraka adalah jaminan Allah bagi hamba-Nya yang maksiat.

Pertanyaan berikutnya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba dalam sehari semalam untuk menunaikan salat wajib? Anggaplah sepuluh menit, dengan rincian salat dan zikir. Semua dikalikan lima. Totalnya hanya lima puluh menit alias satu jam kurang. Hanya itu yang Allah minta agar hamba mengingat-Nya dalam sehari semalam. Namun kenyataannya masih banyak langkah-langkah berat untuk menuju masjid bagi kaum lelaki. Sampai ada satir berbunyi, gunung tinggi ku daki, lautan ku seberangi, masjid ku lewati.

Pertanyaan kedua yaitu sampai kapan manusia mau hidup begitu begitu saja tanpa ada perubahan berarti dalam hidupnya? Saya ingat khutbah seorang khatib yang berkata bahwa jangan sampai manusia masuk mesjid karena terpaksa. Maksudnya terpaksa karena kematian alias disalatkan di mesjid. Mestinya malu, semasa hidup tak pernah ke mesjid namun ketika wafat malah masuk mesjid namun beda cerita dan keadaan.

Hidup di bumi itu singkat. Kalau menggunakan perhitungan matematika langit, Allah berfiman bahwa satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di muka bumi. Kalau dihitung usia umat akhir zaman kira-kira hanya satu setengah jam saja kita hidup menggunakan perhitungan waktu akhirat. Lantas untuk apa manusia menghabiskan waktu yang hanya satu setengah jam akhirat kalau hanya dipakai maksiat kepada Allah. Sungguh kerugian besar.

Sementara perjalanan menuju surga itu teramat panjang dan misterius. Kalau manusia di bumi sering melakukan ritual mudik pulang kampung untuk bertemu sanak famili handai taulan biasanya menyiapkan bekal serta navigasi untuk di jalan dan dibagikan di kampung halaman tercinta. Maka bagaimana dengan mudik ke surga tempat asal muasal manusia anak cucu Nabi Adam. Pastilah manusia lebih siap untuk perjalanan teramat jauh yang butuh bekal dan navigasi yang mumpuni bernama ketaqwaan atas dasar ilmu dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan dalam Surah Al Fatihah. Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat surga dari para nabi, para shidiq, para syuhada, dan orang salih. Dan bukan jalan orang yang dimurkai karena berilmu tanpa beramal dan jalan orang sesat yang beramal tanpa berilmu. Amin.

Apa sih sulitnya ibadah? Sampai kapan hidup begini saja dan tidak mau ibadah?

 

Saturday, February 26, 2022

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib

RM Kencrot

Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.

Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?

Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.

Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.

Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia.  Imaji yang diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.

Oleh karena itu Allah utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.

 

Ya Allah ampuni hamba-Mu yang zalim ini, yang tidak tahu caranya bersyukur kepada-Mu. Jadikan hamba sebagai hamba-Mu yang bersyukur dan selalu bersyukur.