Friday, November 15, 2013

Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua - Pasca Insiden


Semenjak insiden tabrakan yang tak terduga itu, entah mengapa wajahnya selalu terbayang di otakku. Sebenarnya ada keinginan untuk minta maaf, syukur-syukur sekalian berkenalan. Ya, betul, syukur. Bagiku berkenalan dengannya kurasa itu sudah cukup.
Sebenarnya aku mengalami sebuah dilema. Bah. Macam apa itu.
Aku sebelumnya telah terlebih dahulu menyukai seorang gadis yang kusingkat namanya menjadi inisial GG. Ia tak ubahnya dengan Ayas, cantik. Namun ada sisi yang berbeda antara keduanya sebagaimana yang dikatakan oleh kawanku Mare. Maklum, namanya selera orang berbeda-beda. Tapi entah mengapa sebenarnya aku mempunyai jiwa playboy di satu sisi namun mempunyai jiwa setia plus pecundang di sisi satunya. Keduanya saling tarik-menarik, namun yang menang nampaknya jiwa yang disebut kedua.
GG. Ia adalah sosok gadis yang selama ini kuimpikan di kampus ini. Tidak terlalu cantik, namun memancarkan aura yang kuat di wajahnya. Terutama mata dan senyumnya yang tidak bisa kulupakan. Berperawakan tidak terlalu tinggi namun agak padat merayap. Nilai lebihnya dalam cerita ini, aku telah berkenalan dengannya. Berbeda dengan Ayas yang belum kukenal secara formalitas. Gilanya lagi, aku pernah bicara dengan GG terus terang mengaku kalau aku penggemarnya. Hal ini menimbulkan banyak tanggapan dan dukungan dari kawan-kawanku. Ada yang bilang aku hebat, pemberani dan sebagainya. Bagiku itu biasa saja. Karena menurutku jika suatu perasaan kagum hanya disimpan dalam hati saja kurang baik. Lebih baik jika diungkapkan pada yang bersangkutan. Dan inilah yang kusukai dari GG, ia tidak marah. Ia hanya tersenyum.
Setelah itu aku uring-uringan. Merasa kurang enak pada GG. Betapa tidak? Ia rela meluangkan waktunya hanya untuk berbicara dengan orang macam aku ini. Itu adalah suatu anugrah bagiku dan mungkin juga musibah baginya. Namun ia hanya tersenyum. Aku sempat menatap matanya. Beberapa saat jeda. Kemudian ia merasa agak sedikit malu karena kupandang matanya yang indah itu.
Apalagi si Mare, yang selalu bilang padaku:
“Udah lah, cuy”. Sembari mengebas-ngebaskan tangannya pertanda bahwa ia menyuruhku untuk “menembak” gadis pujaan hatiku. Atau dengan kalimatnya yang lain. “Sigapi lah!”. Sembari tersenyum ala penjahat.
Memangnya semudah itu, pikirku. Entah mengapa bukannya sok jual mahal, namun aku bukan tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta layaknya lagu dari band Matta yang berbau Don Juan yang mencintai setiap wanita. Bukan seperti itu diriku. Namun ketika aku melihat dua sosok mahasiswi dari jurusan yang berbeda ini, ada perasaan lain sekaligus reaksi kimia dalam tubuhku jika bertemu atau minimal melihat salah seorang atau keduanya.
Jika aku melihat Ayas, maka reaksi berikutnya yang terjadi adalah jantungku berdegup tak menentu atau bahasa kerennya sport jantung.
Lain halnya jika aku melihat GG, maka reaksi berikutnya yang terjadi adalah perutku terasa seperti orang terkena diare alias ingin ibuang air besar. Kontraksi perut bak orang hamil.
Kedengarannya ada selentingan isu bahwa si GG sudah punya gandengan beda jenis. Sial, pikirku jika benar. Tapi aku belum percaya sampai aku buktikan sendiri Mungkin jika benar berarti aku belum beruntung. Namun satu hal yang mengganjal di hatiku yakni mengenai surat misterius itu. Pertanyaan yang muncul banyak, namun mungkin yang paling penting serta mewakili adalah kata tanya: siapa?
Selama ini aku tak pernah berusaha mendekati perempuan. Bukannya takut. Hanya sedang tidak berminat karena beberapa pertimbangan. Ditambah dengan trauma masa lalu walaupun sejatinya aku orang yang tak pernah merasa trauma terhadap sesuatu.
Bahkan sampai pada suatu malam, aku pernah bermimpi dan si situ lagi-lagi aku bertemu orang yang selama ini bersipongang di rongga otak serta hatiku sejak insiden tabrakan yang tak disengaja itu. Betul, lagi-lagi Ayas menjadi peran utama protagonis dalam buah tidurku ini. Dalam mimpiku itu aku nampak bahagia, bertolak belakang dengan realita.
Hingga menjelang subuh dan akupun terbangun oleh suara azan. Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Syahdan ketika itu aku teringat rentetan peristiwa ketika aku secara tidak sengaja menabrak Ayas. Lagi-lagi yang terbayang di otakku adalah wajahnya yang selaras namanya. Aku tersenyum sungging. Dalam lirih aku berdoa semoga saja mimpiku tadi menjadi kenyataan. Terjadi pula monolog dalam batinku, kira-kira begini:
kau bagai candu
bersipongang dalam batinku
namamu selaras dirimu
yang buatku terpaku
butakan matahatiku
walaupun ada suatu
ku eling siapa diriku
Setelah itu aku langsung bangkit dan beranjak bangun dari tempat tidurku. Melalui kembali kehidupan di dunia nyata. Terbersit keinginan untuk sekedar minta maaf kepada Ayas namun ada rasa malu yang entah tiba-tiba datang. Mungkinkah aku minta maaf? Entahlah.
Mungkin ya.
Mungkin tidak.
Namun tak mungkin ya atau tidak.

No comments:

Post a Comment