Semenjak
insiden tabrakan yang tak terduga itu, entah mengapa wajahnya selalu
terbayang di otakku. Sebenarnya ada keinginan untuk minta maaf,
syukur-syukur sekalian berkenalan. Ya, betul, syukur. Bagiku berkenalan
dengannya kurasa itu sudah cukup.
Sebenarnya aku mengalami sebuah dilema. Bah. Macam apa itu.
Aku sebelumnya telah terlebih dahulu menyukai
seorang gadis yang kusingkat namanya menjadi inisial GG. Ia tak ubahnya
dengan Ayas, cantik. Namun ada sisi yang berbeda antara keduanya
sebagaimana yang dikatakan oleh kawanku Mare. Maklum, namanya selera
orang berbeda-beda. Tapi entah mengapa sebenarnya aku mempunyai jiwa
playboy di satu sisi namun mempunyai jiwa setia plus pecundang di sisi
satunya. Keduanya saling tarik-menarik, namun yang menang nampaknya jiwa
yang disebut kedua.
GG. Ia adalah sosok gadis yang selama ini
kuimpikan di kampus ini. Tidak terlalu cantik, namun memancarkan aura
yang kuat di wajahnya. Terutama mata dan senyumnya yang tidak bisa
kulupakan. Berperawakan tidak terlalu tinggi namun agak padat merayap.
Nilai lebihnya dalam cerita ini, aku telah berkenalan dengannya. Berbeda
dengan Ayas yang belum kukenal secara formalitas. Gilanya lagi, aku
pernah bicara dengan GG terus terang mengaku kalau aku penggemarnya. Hal
ini menimbulkan banyak tanggapan dan dukungan dari kawan-kawanku. Ada
yang bilang aku hebat, pemberani dan sebagainya. Bagiku itu biasa saja.
Karena menurutku jika suatu perasaan kagum hanya disimpan dalam hati
saja kurang baik. Lebih baik jika diungkapkan pada yang bersangkutan.
Dan inilah yang kusukai dari GG, ia tidak marah. Ia hanya tersenyum.
Setelah itu aku uring-uringan. Merasa kurang
enak pada GG. Betapa tidak? Ia rela meluangkan waktunya hanya untuk
berbicara dengan orang macam aku ini. Itu adalah suatu anugrah bagiku
dan mungkin juga musibah baginya. Namun ia hanya tersenyum. Aku sempat
menatap matanya. Beberapa saat jeda. Kemudian ia merasa agak sedikit
malu karena kupandang matanya yang indah itu.
Apalagi si Mare, yang selalu bilang padaku:
“Udah lah, cuy”. Sembari mengebas-ngebaskan
tangannya pertanda bahwa ia menyuruhku untuk “menembak” gadis pujaan
hatiku. Atau dengan kalimatnya yang lain. “Sigapi lah!”. Sembari
tersenyum ala penjahat.
Memangnya semudah itu, pikirku. Entah mengapa
bukannya sok jual mahal, namun aku bukan tipe orang yang mudah untuk
jatuh cinta layaknya lagu dari band Matta yang berbau Don Juan yang
mencintai setiap wanita. Bukan seperti itu diriku. Namun ketika aku
melihat dua sosok mahasiswi dari jurusan yang berbeda ini, ada perasaan
lain sekaligus reaksi kimia dalam tubuhku jika bertemu atau minimal
melihat salah seorang atau keduanya.
Jika aku melihat Ayas, maka reaksi berikutnya
yang terjadi adalah jantungku berdegup tak menentu atau bahasa kerennya
sport jantung.
Lain halnya jika aku melihat GG, maka reaksi
berikutnya yang terjadi adalah perutku terasa seperti orang terkena
diare alias ingin ibuang air besar. Kontraksi perut bak orang hamil.
Kedengarannya ada selentingan isu bahwa si GG
sudah punya gandengan beda jenis. Sial, pikirku jika benar. Tapi aku
belum percaya sampai aku buktikan sendiri Mungkin jika benar berarti aku
belum beruntung. Namun satu hal yang mengganjal di hatiku yakni
mengenai surat misterius itu. Pertanyaan yang muncul banyak, namun
mungkin yang paling penting serta mewakili adalah kata tanya: siapa?
Selama ini aku tak pernah berusaha mendekati
perempuan. Bukannya takut. Hanya sedang tidak berminat karena beberapa
pertimbangan. Ditambah dengan trauma masa lalu walaupun sejatinya aku
orang yang tak pernah merasa trauma terhadap sesuatu.
Bahkan sampai pada suatu malam, aku pernah
bermimpi dan si situ lagi-lagi aku bertemu orang yang selama ini
bersipongang di rongga otak serta hatiku sejak insiden tabrakan yang tak
disengaja itu. Betul, lagi-lagi Ayas menjadi peran utama protagonis
dalam buah tidurku ini. Dalam mimpiku itu aku nampak bahagia, bertolak
belakang dengan realita.
Hingga menjelang subuh dan akupun terbangun
oleh suara azan. Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi.
Syahdan ketika itu aku teringat rentetan peristiwa ketika aku secara
tidak sengaja menabrak Ayas. Lagi-lagi yang terbayang di otakku adalah
wajahnya yang selaras namanya. Aku tersenyum sungging. Dalam lirih aku
berdoa semoga saja mimpiku tadi menjadi kenyataan. Terjadi pula monolog
dalam batinku, kira-kira begini:
kau bagai candu
bersipongang dalam batinku
namamu selaras dirimu
yang buatku terpaku
butakan matahatiku
walaupun ada suatu
ku eling siapa diriku
Setelah itu aku langsung bangkit dan beranjak
bangun dari tempat tidurku. Melalui kembali kehidupan di dunia nyata.
Terbersit keinginan untuk sekedar minta maaf kepada Ayas namun ada rasa
malu yang entah tiba-tiba datang. Mungkinkah aku minta maaf? Entahlah.
Mungkin ya.
Mungkin tidak.
Namun tak mungkin ya atau tidak.
No comments:
Post a Comment