Hari ini Kamis. Hari ini juga aku suntuk.
Jeleh. Judeg. Banyak masalah yang kualami hari ini. Tak ada kebahagiaan.
Semua terasa hampa. Tak ada yang dapat dijadikan kegembiraan. Yang ada
hanya kemuraman dan semakin muram terasa.
Cuaca panas. Kurang bersahabat dengan suasana
hatiku. Angin bertiup lemah namun panas. Sepanas hati yang memendam
emosi. Awan beriringan lewat bersama angin. Menambah panasnya hari.
Aku berjalan perlahan.
Langkahku gontai bak penari balet pasca mabuk. Bingung mau kemana. Tak
ada tujuan pasti. Aku sedang melewati gedung perpustakaan sastra. Ingin
rasanya memutar langkah untuk kemudian masuk ke tempat ini. Namun hatiku
berkata lain.
Suara azan zuhur berkumandang.
Rumangsaku ingin salat. Kupikir ini lebih
baik daripada membuang waktu. Mensucikan diri walau aku bukan orang
suci. Masa bodoh orang mau bilang aku sok suci dan sebagainya. Bagiku,
dalam hidup cuma ada dua pilihan: baik atau buruk. Tak ada diantaranya.
Toh kalau aku beribadah untung dan ruginya bukan buat mereka.
Aku berjalan menuju musalla. Melaksanakan ritual agama. Terasa sejuk.
Selesai.
Aku menuju kantin sastra Perutku lapar.
Bagiku tercantum sebuah sikap: makan ketika lapar dan berhenti ketika
kenyang. Selesai. Alhamdulillah.
Masalahku belum selesai.
Dengan begitu aku percaya bahwasanya manusia
hidup pastilah memiliki masalah yang tidak akan dialami manusia hidup
yang sudah tak hidup lagi. Atau bahasa mudahnya telah wafat.
Tiba-tiba aku teringat perkataan tetanggaku,
beliau sering mengantarku berangkat ke SMA-ku dulu dengan menggunakan
mobil pribadinya. Suatu ketika jalanan macet dan anak beliau yang juga
temanku mencak-mencak gara-gara macet. Namun beliau dengan tenangnya
berkata : “Hidup itu harus disyukuri apa adanya. Kalau kita kena macet,
ya disyukuri macetnya”.
Ada benarnya.
Namun masalahku selesai sampai disini.
Jeda.
Aku diam. Termenung.
Tak ada lawan bicara.
Jeda lagi
Kemudian jeda.
Tiba tiba ada yang menyentakkan lamunan sesaatku.
“Hai” sapa sebuah suara di sebelah sana.
Aku kaget. Hanya sebuah vokal yang mampu keluar dari mulutku. “O”. Namun cepat kusambung. “Ada apa?”.
“Oh maaf”. Ternyata yang menyapaku ini perempuan. Cepat dia menyambungnya dengan kalimat “Ganggu ya?”.”Maaf ya” gayanya sowan.
“Oh nggak”. Jawabku singkat. “Ada yang bisa dibantu?”ujarku .
“Ah, iya. Tapi sebelumnya”. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya seraya berkata. “Nama gue Dewi”.
Kusambut dengan sedikit jeda.
“Gue..,. Apa kita pernah kenalan sebelumnya?”
“Nama loe Jun kan. gue udah tau kok” potongnya.
“Tapi kita belum kenalan aja”
“Lalu?”tanyaku dengan penuh tandatanya di hati.
“Ini”
“Apa ini?”. Dia menyerahkan secarik amplop warna putih.
“Dari temen gue. Pesannya: baca aja. Buat lo kok”.
“?!?”.
Jeda sejenak.
“Buat gue?”Aku agak kurang percaya.
“Beneran buat lo” tangkisnya.
“Ya udah. Makasih ya, bilang buat temenmu itu. Dari siapa ini?” tanyaku dengan nada penasaran
“Kata temen gue itu, pesannya: baca aja”. “Gue cuma nyampein doang”.
.”Oh ya udah. Makasih”. Jawabku.
“Kemudian dia pergi seraya berkata “Gue cabut dulu ya, dah. Selamat menikmati” serunya.
Muncul tandatanya lagi di benakku.
?
Siapa gerangan yang mengirim surat di dalam amplop putih ini. Polos. Tak ada goresan di sampulnya.
Perlahan kubuka. Apa isinya, pikirku.
Kubaca kata demi kata. Sederhana. Isinya:
Hai
Boleh nggak kenalan sama lw?.
Gue cewe yang sering liat lo
di meja biru Kansas.
Salam.
aku
Hah?!
Aku terkinjat. Teringat peristiwa waktu itu
di depan perpustakaan. Pikiranku menerawang kesana kemari. Sejurus aku
coba bertanya, apa yang akan terjadi kemudian?. Entahlah.
No comments:
Post a Comment