Showing posts with label elegi. Show all posts
Showing posts with label elegi. Show all posts
Friday, November 15, 2013
Elegi Kampus Kuning: Bagian Lima - Ketahuan
Di tempat yang lain.
Ternyata si penulis surat misterius mengalami konflik batin yang serupa denganku. Ia merasa uring-uringan karena belum ada sedikitpun jua reaksi dari surat yang dibuat olehnya sebagaimana teori aksi-reaksi Newton yang terkenal itu yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. Ia agak berharap si penerima yang tak lain adalah diriku minimal memberikan komentar atau apalah mengenai surat tersebut. Bahasa gampangnya ia merasa bete.
Selanjunya sebut saja si penulis misterius ini dengan si X.
Wabakdu, ndilalah punya cerita, si X ternyata menaruh rasa kagum terhadap diriku. Semenjak ia uring-uringan itu, tanpa setahuku ia juga berusaha mencari tahu jatidiriku yang juga masih misterius baginya. Mulai dari nama, asal-usul sekolah, rumah, latarbelakang dan seterusnya macam wartawan infotainmen.
Suatu hari yakni beberapa setelah ujian akhir selesai, aku pergi ke kampus untuk melihat nilaiku sekaligus bertemu kawan-kawanku. Hari itu aku bertemu Mare. Ia banyak bercerita tentang hal-hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pun ia bercerita tentang Ayas yang membuatku jadi bersemangat nimbrung.
Mare bercerita tentang khayalan-khayalan utopis antara aku dan Ayas. Mare bercerita andai-andai begini:
Suatu hari ia dan aku pergi ke kampus menuju Perpustakaan Pusat atau disingkat UPT untuk mengecek nilai IP. Ternyata di saat yang hampir bersamaan Ayas juga melakukan hal yang sama, namun kami tiba terlebih dahulu.
Kemudian di saat kami sedang berselancar di dunia maya untuk mengecek nilai, tiba-tiba Mare mencetuskan ide main-main untuk mencari gambar Ayas via internet. Aku menanggapi dengan positif. Lalu kami cari-lah gambar itu, dan ketemu. Ada banyak gambar di situ. Semuanya bagus. Langsung saja kami klik gambar tersebut satu per satu. Kami berdua-pun terperangah takjub.
Amboi!
Tak dinyana, tanpa diduga ada yang nyeletuk di belakang sana. Kami konangan basah.
“Eh, itu kaya foto gue deh?” serunya.
Tiada lain yang berujar seperti adalah orang yang kami tonton foto-fotonya, Ayas. Ia lah tokoh sentral pemandangan kami kala ini.
Kontan saja kami saling berpandangan lalu sejurus menengok ke belakang.
??????
Jeda.
Kami kembali menatap layar komputer untuk kemudian grusa-grusu kesusu menutup gambar tersebut. Mirip seperti lagu Ketahuan yang populer oleh grup band Matta.
Begitulah ceritanya.
Kami berdua tertawa lepas menertawai cerita utopis karangan Mare tersebut.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Empat - Efek Surat
Selang
beberapa hari, selintas terngiang di telingaku ada dua orang mahasiswi
bercakap-cakap mengenai surat cinta kepada seorang mahasiwa yang
dikagumi salah seorang dari mereka. Ternyata salah seorang dari mereka
itu GG. “Lho?”. Hatiku mulai curiga baik sangka sekaligus doa penuh
harap. Semoga yang mengirim surat yang waktu itu dialah orangnya alias
GG. Dan juga semoga ketika aku berdoa ini, doaku diamini oleh para
malaikat.
Kemudian hari-hari berikutnya kejadian
tersebut bersipongang terus di otakku. Apa iya, GG-lah orangnya yang
merupakan jawaban dari pertanyaan yang masih berkecamuk di otakku
mengenai surat misterius itu yakni: siapa?. Hal yang kulakukan
semadyanya kemudian yakni berusaha menyelidiki siapa gerangan penulis
surat misterius atau lebih tepatnya adalah memverifikasi antara
selentingan yang telah kudengar dengan dugaanku. Ibarat Sherlock Holmes
yang selalu berhasil memecahkan kasus misteri ala detektif dengan
mengumpulkan fakta dan dugaan.
Alih-alih hal yang kulakukan untuk mengujinya
adalah mengadakan sedikit pendekatan pada GG dengan mengajaknya makan
bersama di sebuah tempat yang telah kutentukan, sebutlah di Warung TRSNO
Jl. Margonda . Masalah waktu, biar ia yang menentukan. .
Kuhubungi ia. Ia mengamini. Ditambah dengan ekspresi antusiasnya yang membuatku semakin merasa suka padanya.
Pada hari H
Aku telah tiba lebih awal darinya. Kemudian
ia datang. Namun tunggu dulu, ada suatu hal yang mengganjal hatiku.
Ternyata ada seorang yang tak kuharapkan datang mengantarnya ke Warung
TRSNO. Memang orang itu yang adalah laki-laki tidak ikut makan bersama,
hanya mengantar. Namun hal yang kubenci adalah kulihat dengan mata
kepalaku sendiri orang tak kukenal itu memegang lengan GG untuk kemudian
minta diri padanya.
Sial, pikirku. Siapa pula itu orang. Huh.
Ternyata aku tahu bahwa GG memang sudah punya
gandengan. Betul-lah isu yang beredar mengenai hal itu. Tak apalah,
pikirku kemudian.
Arkian saat ini, kata tanya berikutnya yang
muncul akibat surat misterius yakni: apakah?. Apakah benar GG yang
mengirimku surat misterius itu. Aku harus temukan jawabannya kali ini.
Kemudian deretan pertanyaan berikutnya yang telah kusiapkan adalah:
mengapa? dan bagaimana?. Aku akan memberondonginya dengan pertanyaan
tersebut, itu intinya dari acara makan-makan ini.
Ketika ia datang di hadapanku, ia melambai sambil berkata.
“Hai. Udah lama nunggu? Maaf ya, agak telat. Tadi ada urusan sebentar”
“Oh, gak apa-apa kok. Mari, silakan duduk”. Jawabku.
“Capek ya?” sambungku lagi.
“Lumayan. Panas banget di luar sana” serunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat.
“Langsung aja deh” sahutku kemudian. “Mau pesan apa?” seraya memberikan daftar menu padanya.
“Apa aja” jawabnya sangat Melayu.
“Lho. Pilih lah. Tenang aja, gue yang bayar”. Jawabku sangat Eropa
“Hmm..” ia menggumam. “Mi Goreng Spesial Pake Telor Cinta” jawabnya sambil tersenyum kemudian berkata lagi,
“Kok namanya pake cinta-cintaan segala sih? tanyanya penasaran.
“Sesuai dengan nama tempat ini, Warung TRSNO
yang berarti warung cinta dalam bahasa Jawa, gitu loh. Mbacanya bukan Te
Er Es En Ow tapi Tresno” ujarku menjawab pertanyaannya macam ilmuwan.
“O, gitu toh”. ujarnya sembari tertawa renyah
Selanjutnya percakapan terjadi dengan lancar.
Terjadi ala Melayu dengan bumbu basa-basi walau hanya sedikit berhubung
makanan yang dipesan belum kunjung datang. Karena kupikir jika aku
langsung pada tujuanku yakni menanyakan perihal surat misterius tersebut
maka mungkin akan merusak suasana nafsu makan. Jadi aku bersabar dan
memilih untuk bersikap Melayu. Tak apalah.
Elegi Kampus Kuning:Bagian Tiga - Surat
Hari ini Kamis. Hari ini juga aku suntuk.
Jeleh. Judeg. Banyak masalah yang kualami hari ini. Tak ada kebahagiaan.
Semua terasa hampa. Tak ada yang dapat dijadikan kegembiraan. Yang ada
hanya kemuraman dan semakin muram terasa.
Cuaca panas. Kurang bersahabat dengan suasana
hatiku. Angin bertiup lemah namun panas. Sepanas hati yang memendam
emosi. Awan beriringan lewat bersama angin. Menambah panasnya hari.
Aku berjalan perlahan.
Langkahku gontai bak penari balet pasca mabuk. Bingung mau kemana. Tak
ada tujuan pasti. Aku sedang melewati gedung perpustakaan sastra. Ingin
rasanya memutar langkah untuk kemudian masuk ke tempat ini. Namun hatiku
berkata lain.
Suara azan zuhur berkumandang.
Rumangsaku ingin salat. Kupikir ini lebih
baik daripada membuang waktu. Mensucikan diri walau aku bukan orang
suci. Masa bodoh orang mau bilang aku sok suci dan sebagainya. Bagiku,
dalam hidup cuma ada dua pilihan: baik atau buruk. Tak ada diantaranya.
Toh kalau aku beribadah untung dan ruginya bukan buat mereka.
Aku berjalan menuju musalla. Melaksanakan ritual agama. Terasa sejuk.
Selesai.
Aku menuju kantin sastra Perutku lapar.
Bagiku tercantum sebuah sikap: makan ketika lapar dan berhenti ketika
kenyang. Selesai. Alhamdulillah.
Masalahku belum selesai.
Dengan begitu aku percaya bahwasanya manusia
hidup pastilah memiliki masalah yang tidak akan dialami manusia hidup
yang sudah tak hidup lagi. Atau bahasa mudahnya telah wafat.
Tiba-tiba aku teringat perkataan tetanggaku,
beliau sering mengantarku berangkat ke SMA-ku dulu dengan menggunakan
mobil pribadinya. Suatu ketika jalanan macet dan anak beliau yang juga
temanku mencak-mencak gara-gara macet. Namun beliau dengan tenangnya
berkata : “Hidup itu harus disyukuri apa adanya. Kalau kita kena macet,
ya disyukuri macetnya”.
Ada benarnya.
Namun masalahku selesai sampai disini.
Jeda.
Aku diam. Termenung.
Tak ada lawan bicara.
Jeda lagi
Kemudian jeda.
Tiba tiba ada yang menyentakkan lamunan sesaatku.
“Hai” sapa sebuah suara di sebelah sana.
Aku kaget. Hanya sebuah vokal yang mampu keluar dari mulutku. “O”. Namun cepat kusambung. “Ada apa?”.
“Oh maaf”. Ternyata yang menyapaku ini perempuan. Cepat dia menyambungnya dengan kalimat “Ganggu ya?”.”Maaf ya” gayanya sowan.
“Oh nggak”. Jawabku singkat. “Ada yang bisa dibantu?”ujarku .
“Ah, iya. Tapi sebelumnya”. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya seraya berkata. “Nama gue Dewi”.
Kusambut dengan sedikit jeda.
“Gue..,. Apa kita pernah kenalan sebelumnya?”
“Nama loe Jun kan. gue udah tau kok” potongnya.
“Tapi kita belum kenalan aja”
“Lalu?”tanyaku dengan penuh tandatanya di hati.
“Ini”
“Apa ini?”. Dia menyerahkan secarik amplop warna putih.
“Dari temen gue. Pesannya: baca aja. Buat lo kok”.
“?!?”.
Jeda sejenak.
“Buat gue?”Aku agak kurang percaya.
“Beneran buat lo” tangkisnya.
“Ya udah. Makasih ya, bilang buat temenmu itu. Dari siapa ini?” tanyaku dengan nada penasaran
“Kata temen gue itu, pesannya: baca aja”. “Gue cuma nyampein doang”.
.”Oh ya udah. Makasih”. Jawabku.
“Kemudian dia pergi seraya berkata “Gue cabut dulu ya, dah. Selamat menikmati” serunya.
Muncul tandatanya lagi di benakku.
?
Siapa gerangan yang mengirim surat di dalam amplop putih ini. Polos. Tak ada goresan di sampulnya.
Perlahan kubuka. Apa isinya, pikirku.
Kubaca kata demi kata. Sederhana. Isinya:
Hai
Boleh nggak kenalan sama lw?.
Gue cewe yang sering liat lo
di meja biru Kansas.
Salam.
aku
Hah?!
Aku terkinjat. Teringat peristiwa waktu itu
di depan perpustakaan. Pikiranku menerawang kesana kemari. Sejurus aku
coba bertanya, apa yang akan terjadi kemudian?. Entahlah.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua - Pasca Insiden
Semenjak
insiden tabrakan yang tak terduga itu, entah mengapa wajahnya selalu
terbayang di otakku. Sebenarnya ada keinginan untuk minta maaf,
syukur-syukur sekalian berkenalan. Ya, betul, syukur. Bagiku berkenalan
dengannya kurasa itu sudah cukup.
Sebenarnya aku mengalami sebuah dilema. Bah. Macam apa itu.
Aku sebelumnya telah terlebih dahulu menyukai
seorang gadis yang kusingkat namanya menjadi inisial GG. Ia tak ubahnya
dengan Ayas, cantik. Namun ada sisi yang berbeda antara keduanya
sebagaimana yang dikatakan oleh kawanku Mare. Maklum, namanya selera
orang berbeda-beda. Tapi entah mengapa sebenarnya aku mempunyai jiwa
playboy di satu sisi namun mempunyai jiwa setia plus pecundang di sisi
satunya. Keduanya saling tarik-menarik, namun yang menang nampaknya jiwa
yang disebut kedua.
GG. Ia adalah sosok gadis yang selama ini
kuimpikan di kampus ini. Tidak terlalu cantik, namun memancarkan aura
yang kuat di wajahnya. Terutama mata dan senyumnya yang tidak bisa
kulupakan. Berperawakan tidak terlalu tinggi namun agak padat merayap.
Nilai lebihnya dalam cerita ini, aku telah berkenalan dengannya. Berbeda
dengan Ayas yang belum kukenal secara formalitas. Gilanya lagi, aku
pernah bicara dengan GG terus terang mengaku kalau aku penggemarnya. Hal
ini menimbulkan banyak tanggapan dan dukungan dari kawan-kawanku. Ada
yang bilang aku hebat, pemberani dan sebagainya. Bagiku itu biasa saja.
Karena menurutku jika suatu perasaan kagum hanya disimpan dalam hati
saja kurang baik. Lebih baik jika diungkapkan pada yang bersangkutan.
Dan inilah yang kusukai dari GG, ia tidak marah. Ia hanya tersenyum.
Setelah itu aku uring-uringan. Merasa kurang
enak pada GG. Betapa tidak? Ia rela meluangkan waktunya hanya untuk
berbicara dengan orang macam aku ini. Itu adalah suatu anugrah bagiku
dan mungkin juga musibah baginya. Namun ia hanya tersenyum. Aku sempat
menatap matanya. Beberapa saat jeda. Kemudian ia merasa agak sedikit
malu karena kupandang matanya yang indah itu.
Apalagi si Mare, yang selalu bilang padaku:
“Udah lah, cuy”. Sembari mengebas-ngebaskan
tangannya pertanda bahwa ia menyuruhku untuk “menembak” gadis pujaan
hatiku. Atau dengan kalimatnya yang lain. “Sigapi lah!”. Sembari
tersenyum ala penjahat.
Memangnya semudah itu, pikirku. Entah mengapa
bukannya sok jual mahal, namun aku bukan tipe orang yang mudah untuk
jatuh cinta layaknya lagu dari band Matta yang berbau Don Juan yang
mencintai setiap wanita. Bukan seperti itu diriku. Namun ketika aku
melihat dua sosok mahasiswi dari jurusan yang berbeda ini, ada perasaan
lain sekaligus reaksi kimia dalam tubuhku jika bertemu atau minimal
melihat salah seorang atau keduanya.
Jika aku melihat Ayas, maka reaksi berikutnya
yang terjadi adalah jantungku berdegup tak menentu atau bahasa kerennya
sport jantung.
Lain halnya jika aku melihat GG, maka reaksi
berikutnya yang terjadi adalah perutku terasa seperti orang terkena
diare alias ingin ibuang air besar. Kontraksi perut bak orang hamil.
Kedengarannya ada selentingan isu bahwa si GG
sudah punya gandengan beda jenis. Sial, pikirku jika benar. Tapi aku
belum percaya sampai aku buktikan sendiri Mungkin jika benar berarti aku
belum beruntung. Namun satu hal yang mengganjal di hatiku yakni
mengenai surat misterius itu. Pertanyaan yang muncul banyak, namun
mungkin yang paling penting serta mewakili adalah kata tanya: siapa?
Selama ini aku tak pernah berusaha mendekati
perempuan. Bukannya takut. Hanya sedang tidak berminat karena beberapa
pertimbangan. Ditambah dengan trauma masa lalu walaupun sejatinya aku
orang yang tak pernah merasa trauma terhadap sesuatu.
Bahkan sampai pada suatu malam, aku pernah
bermimpi dan si situ lagi-lagi aku bertemu orang yang selama ini
bersipongang di rongga otak serta hatiku sejak insiden tabrakan yang tak
disengaja itu. Betul, lagi-lagi Ayas menjadi peran utama protagonis
dalam buah tidurku ini. Dalam mimpiku itu aku nampak bahagia, bertolak
belakang dengan realita.
Hingga menjelang subuh dan akupun terbangun
oleh suara azan. Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi.
Syahdan ketika itu aku teringat rentetan peristiwa ketika aku secara
tidak sengaja menabrak Ayas. Lagi-lagi yang terbayang di otakku adalah
wajahnya yang selaras namanya. Aku tersenyum sungging. Dalam lirih aku
berdoa semoga saja mimpiku tadi menjadi kenyataan. Terjadi pula monolog
dalam batinku, kira-kira begini:
kau bagai candu
bersipongang dalam batinku
namamu selaras dirimu
yang buatku terpaku
butakan matahatiku
walaupun ada suatu
ku eling siapa diriku
Setelah itu aku langsung bangkit dan beranjak
bangun dari tempat tidurku. Melalui kembali kehidupan di dunia nyata.
Terbersit keinginan untuk sekedar minta maaf kepada Ayas namun ada rasa
malu yang entah tiba-tiba datang. Mungkinkah aku minta maaf? Entahlah.
Mungkin ya.
Mungkin tidak.
Namun tak mungkin ya atau tidak.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Satu - Perjumpaan
============
Duh,
aku harus buru-buru. Sudah terlambat. Jam di ponselku menunjukkan pukul
13.07. Berarti aku telah terlambat tujuh menit dari jadwal. Walaupun
toleransi waktu terlambat adalah lima belas menit. Tergesa-gesa aku
setengah berlari dari kantin sastra. Hari ini memang hari Senin, biasa
saja. Namun yang membuat spesial pake telor hari ini ujian akhir. Terang
saja aku tak ingin main-main. Ini perang hidup mati istilahnya dan juga
ada pemeo yang berkembang di kalangan kampus: posisi menentukan
prestasi.
Aku berlari lurus dan kemudian belok kiri di perpustakaan sastra. Namun ketika aku berbelok, tiba-tiba,
Brukk!
Ndilalah aku menabrak seseorang hingga
membuatku sedikit mengurangi kecepatan. Orang itu ternyata mahasiswi.
Dan ternyata lagi ia itu gadis yang selama ini ku kagumi. Ia membawa
beberapa buah buku dan kamus Jerman-Indonesia yang kontan saja
berantakan akibat ku tabrak.
Naam, betul. Dialah Ayas, mahasiswi S1 sastra Jerman yang selama ini aku naksir padanya walau ia tak tahu.
Aku berhenti dan terhenti sejenak. Jantungku deg-degan. Napasku agak terengah ditambah lagi bertemu sang gadis pujaanku ini.
Jeda.
Terjadi dilema batin. Di satu sisi niatku
ingin membantunya untuk membereskan buku dan kamusnya yang
pating-tlethek. Namun di sisi lain aku terpesona pada pandangan pertama.
Mirip lagunya Mas Glen Fredly. Matanya menuju ke arah mataku. Tajam
namun indah.
Ia terus menatapku. Terjadi saling
tatap-menatap. Namun di sini ada perbedaan rumangsa. Aku menatapnya
takjub, kagum. Ia menatapku ditambah dengan sedikit kerutan di wajahnya,
agak kesal nampaknya. Mungkin di benaknya berkata: “ini orang udah
nabrak bukannya bantuin beresin buku gue”. Begitulah kira-kira
menurutku.
Terus ku tatap parasnya. Semakin cantik walau
ada rasa kesal di raut wajahnya. Sementara itu ia membereskan buku dan
kamusnya yang berserakan tersebut. Dan aku masih saja melihatnya. Hanya
jadi penonton.
Tak ada dialog. Hanya monolog batin masing-masing.
Namun tiba-tiba aku tersentak.Aku ingat,
ujian akhir telah dimulai. Aku harus buru-buru pamit dari hadapannya.
Eh, aku jadi hampir lupa membantunya membereskan perabotannya yang jatuh
gara-gara ulahku. Baru aku mau membantunya, eh ia malah sudah hampir
selesai membereskan buku yang terakhir. Aku sempat meraih ujungnya dan
ia pun memegang ujung yang satu lagi.
Barulah terjadi dialog.
“Maaf ya, nggak sengaja. Gue buru-buru”
ujarku sambil menyatukan kedua telapak tangan seraya undur diri untuk
kemudian kembali setengah berlari. Mataku sempat kembali menatap
wajahnya. Ia hanya mengeluarkan ekspresi agak kesal. Namun matanya
sempat menatapku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pamit.
Kemudian aku berlari menuju ruangan ujian.
Hatiku berbunga-bunga karena sedikit tak percaya campur tegang karena
ujian belum ku lalui. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ku pikir lain
kali aku harus bertemu untuk minta maaf padanya. Mungkin suatu saat
nanti. Entah kapan
Subscribe to:
Posts (Atom)