Wednesday, November 27, 2013

Sistem Religi Jawa

Religi Jawa
Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendak-Nya.
Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti,yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.
Niels Mulder mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.
Puncak gunung dalam kebudayaan Jawa dianggap suatu tempat yang tinggi dan paling dekat dengan dunia diatas, karena pada awalnya dipercayai bahwa roh nenek moyang tinggal di gunung-gunung.
Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati (dunia ini) dan alam adikodrati (alam gaib atau supranatural).

Pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.

Ciri pandangan hidup orang Jawa realitas yang mengarah kepada pembentukan kesatuan Numinus antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankan saja.

Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup. Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius.

Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.

Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta, yang mengandung kekuatan-kekuatan supranatural (adikodrati). Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.

Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan dan adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna ( dunia atas - dunia manusia - dunia bawah ). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.

Sikap dan pandangan terhadap dunia nyata ( mikrokosmos ) adalah tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata kehidupan manusia sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam menghadapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada kekuatan batin dan jiwanya.

Bagi orang Jawa dahulu, pusat dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia, sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua alam. Jadi raja dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari wakil Tuhan dengan keraton sebagai tempat kediaman raja. Keraton merupakan pusat keramat kerajaan dan bersemayamnya raja karena rajapun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan wilayah.

Hal hal diatas merupakan gambaran umum tentang alam pikiran serta sikap dan pandangan hidup yang dimiliki oleh orang Jawa pada jaman kerajaan. Alam pikiran ini telah berakar kuat dan menjadi landasan falsafah dari segala perwujudan yang ada dalam tata kehidupan orang Jawa.


Kegiatan Religius Orang Jawa Kejawen
Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen atau kejawaan adalah Javanism, Javaneseness ; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefisikannya sebagai suatu kategori khas. Javanisme yaitu agama beserta pandangan hidup orang Jawa, yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu dibawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam.
Neils Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu – Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang menimbulkan anthropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi dan gaya Jawa. Singkatnya Javanisme memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan yang menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagaimana adanya dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu katagori keagamaan, tetapi menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidp yang diilhami oleh cara berpikir Javanisme.
Dasar pandangan manusia jawa berpendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala seginya. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya, jadi mereka harus menanggung kesulitan hidupnya dengan sabar. Anggapan – anggapan mereka itu berhubungan erat dengan kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman.
Kejawaan atau kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti tentang rahasia-rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan keturunan – keturunannya yang menegaskan adalah bahwa kesadaran akan budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas di kalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi kebanggaan dan identitas kultural. Orang-orang inilah yang memelihara warisan budaya Jawa secara mendalam yang dapat dianggap sebagai Kejawen.
Budaya Jawa Kejawen memahami kepercayaan pada pelbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk melindungi semua itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan . Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga serta kemenyan.
Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa Kejawen adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan berpuasa pada hari-hari tertentu misalnya : Senin – Kamis atau pada hari lahir, semuanya itu merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat, orang dapat menjadi lebih tekun dan kelak akan mendapat pahala. Orang Jawa kajawen menganggap bertapa adalah suatu hal yang penting. Dalam kesusastraan kuno orang Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan tinggi serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai. Kegiatan orang Jawa Kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi, menurut Koentjaraningrat meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata ( bertapa ) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di Gunung, Makam leluhur, ruang yang mempunyai niali keramat dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.



Sumber Rujukan:

Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Cetakan Ketiga. Penerbit Dian Rakyat, Jakarta: 2009



Monday, November 25, 2013

Terjemahaan Teks: ЛЕНИН И ИНОСТРАННЫЕ ЯЗЫКИ /LENIN I INOSTRANNYE JAZIKI/ Lenin dan Bahasa-bahasa Asing



Sumber Teks: Pryžok Vpered 1 Sbornik Tekstov I Upražnenij Adviescommissie Leerplanontwikkeling Russisch, Amsterdam, 1981. Halaman 89--90



ЛЕНИН И ИНОСТРАННЫЕ ЯЗЫКИ

Ленин знал много иностранных языков. Хорошо знал немецкий, францзуский, английский, изучал их, переводил с этих языков, читал по-польский, по-итальянский. Он мог “для отдыха” часами, читать какой нибудь словарь.
Каким языкам учился Ленин в школьные годы? Ленин кончил классическую гимназию. В классических гимназиях изучали языки: русский, славянский, латинский, греческий, немецкий, францзуский – 6 языков: три живых, три мёртвых.
Владимир Ильич вспоминал как-то учителя немецкого языка в младших классах гимназии который хвалил его за хорошее знание грамматики. Мать Ильича хорошо говорила по-немецки, и это, конечно, отражалось на знании Ильичём немецкого языка. И в молодости он думал что хорошо знает немецкий язык, он знал его лучше, чем его одноклассники.
Но когда летом 1895 г. Ильич попал в Берлин, оказалось, что он очень плохо понимал разговарную речь. В письме к матери он писал: “(…) разговарную немецкую речь понимаю несравнено хуже францзуской. Немцы произносят так непривычно, что я не разбираю слов даже в публичной речи, тогда как во франций я понимал почти всё в таких речах с первого же раза. Третьего дня был в театре: давали “Weber” Гауптмана. Не смотря на то что я перед представлением перечитал всю драму, следит за игрой, -  я не мог уловить всех фраз. Впрочем я не унываю и жалею только, что у меня слишком мало времени для основательного изучения языка…”
Когда я приехала в Шушенское я привезла с собой Нурока по которому училась английскому языку в тюрьме. Ильич знал английский лучше меня я об английском произношении не имела ни малейшего представления, произносила на францзуский лад. Владимир Ильич слышал как учительница английского языка учила его сестру Ольгу читать вслух по-английски. Впрочем, Ильич по части произношения тоже не был очень твёрд. Я училась произносить по его указаниям, но потом, когда мы четыре года спустя приехали в Лондон, нас никто не понимал и мы никого не понимали. И пришлось учиться заново.
Приехав в Лондон, мы стали понемногу осваивать и английское произношение, ходили на собрания, слушали там речи на английском языке, бывали на выступлениях англичай в Гайд-Парке, разговаривали с квартирной хозяйкой. Брали такие обменные уроки и двух англичан. Мы их учили русскому языку, они нас английскому.

TRANSLITERASI TEKS:

LENIN I INOSTRANNYE JAZIKI

Lenin znal mnogo inostrannykh jazikov. Xorošo znal nemeckij, francuskij, angliskij, izučal ix, perevodil s ėtix jazikov, čital po-pol’skij, po-ital’janskij. On mog “dlja otdyxa”  časami, čitat’ kakoj nibud’ slovar’.
 Kakim jazikam učilsja Lenin v škol’nye gody?. Lenin končil klassičeskuju gimnaziju. V klassičeskix gimnazijax izučali jaziki: russkij, slavijanskij, latinskij, grečeskij, nemeckij, francsuskij - 6 jazikov: tri živyx, tri mёrtvyx.
Vladimir Il’ič vspomnal kak-to učitelja nemeckogo jazika v mladšix klassax gimnazii kotoryj xvalil ego za xorošee znanie grammatiki. Mat’ Il’iča xorošo govorila po-nemecki, i ėto, konečno, otražalos’ na znanii Il’ičёm nemeckogo jazika. I v molodosti on dumal čto xorošo znaet nemeckij jazik, on znal ego lučše, čem ego odnoklassniki.
No kogda letom 1895 godu Il’ič popal v Berlin, okazalos’, čto on očen’ ploxo ponimal razgovarnuju reč’. V pis’me k materi on pisal: “(…) razgovarnuju nemeckuju ponimaju nesravneno xuže francsuskoj. Nemcy proiznosjat tak neprivyčno, čto ja ne razbiraju slov daže v publičnoj reči, togda tak vo francij ja ponimal počti vsë v takix rečax s pervogo že raza. Tret’ego dnja byl v teatre: davali “Weber” Gauptmana. Ne smotrja na to čto ja pered predstavleniem perečital vsju dramu, sledit za igroj, - ja ne mog ulovit’ vsex fraz. Vpročem ja ne unyvaju i žaleju tol’ko, čto u menja sliškom malo vremeni dlja osnovatel’nogo izučenija jazika…”
Kogda ja priexala v Šušenskoe ja privezla s soboj Nuroka po kotoramu učilas’ anglijskomu jaziku v tjur’me. Il’ič znal anglijskij lučše menja ja ob anglijskom proiznošenii ne imela ni malejšego predstavlenija, proiznosila na franczuskij lad. Vladimir Il’ič slyšal kak učitel’nica anglijskogo jazika učila ego sestru Ol’gu čitat’ vslux po-anglijski. Vpročem, Il’ič po časti proiznošenija tože ne byl očen’ tvёrd. Ja učilas’ proiznosit’ po ego ukazanijam, no potom, kogda my četyre goda spustja priexali v London, nas nikto ne ponimal i ni my nikogo ne ponimali. I prišlos’ učit’sja zanovo.
Priexav v London, my stali po nemnogu osvaivat’ i anglijskoe proiznošenie, xodili na sobranija, slušali tam reči na anglijskom jazike, byvali na vstuplenijax angličaj v Gajd-Parke, razgovarivali s kvartirnoj xozjajkoj. Brali takie obmennye uroki i dvux angličan. My ix učili russkomu jaziku, oni nas anglijskomu.

TERJEMAHAN:

LENIN DAN BAHASA-BAHASA ASING

Lenin mengetahui banyak bahasa asing. Dia mengetahui dengan baik bahasa Jerman, Prancis, Inggris, mempelajarinya, menerjemahkan ke dalam bahasa tersebut, belajar bahasa Polandia, Italia. Dia sanggup “dalam istirahat” selama sejam, membaca kata-kata apa pun.
Apa saja bahasa yang Lenin pelajari di sekolah selama setahun?. Lenin mulai di gimnasium klasik. Di gimnasium klasik ia belajar bahasa Rusia, Slavia, Latin, Yunani, Jerman, Prancis - 6 bahasa: 3 bahasa hidup, 3 bahasa mati.
Vladimir Ilyich mengingat bagaimana guru bahasa Jerman di kelas junior gimnasium yang memujinya atas pengetahuan gramatikanya yang baik. Ibu Ilyich berbicara dalam bahasa Jerman dengan baik, oleh karena itu, tentu saja mempengaruhi dalam pengetahuan Lenin terhadap bahasa Jerman. Dan dalam masa mudanya, ia berpikir bahwa baik jika mengetahui bahasa Jerman, ia mengetahui bahasa tersebut lebih baik, bila dibandingkan dengan teman sekelasnya.
Namun pada musim panas tahun 1895 Ilyich tinggal di Berlin, ternyata ia sangat buruk memahami bahasa percakapan. Dalam surat kepada ibunya, ia telah menulis: “…bahasa percakapan Jerman saya pahami sangat baik lebih buruk dari bahasa Prancis. Orang Jerman melafalkan dangan tidak biasa, sehingga saya tidak bisa menguraikan kata-kata bahkan dalam percakapan publik, sebaliknya dalam bahasa Prancis saya telah mengerti hampir seluruh percakapan dalam pengucapan pertama kali. Hari ke-3 kami berada di teater: Mereka tampil dalam pertunjukan berjudul “Weber” karya Hoffman. Meskipun begitu saya membaca dengan sungguh-sungguh sebelum pertunjukan seluruh drama, mengikuti di belakang pertunjukan, - saya tidak mampu menangkap semua frase. Walaupun demikian saya tidak berkecil hati dan hanya berharap, bahwa saya punya sedikit waktu untuk mempelajari bahasa…” 
Ketika saya telah datang di Shushenskoe saya menuntun orang-orang Nurok yang telah belajar bahasa Inggris di penjara. Ilyich menguasai bahasa Inggris lebih baik daripada saya yang tidak pernah melafalkan bahasa Inggris dalam percakapan, saya melafalkannya seperti anak kecil Prancis. Vladimir Ilyich mendengarkan sebagaimana guru bahasa Inggris yang mengajar saudara perempuannya, Olga yang membaca bahasa Inggris dengan nyaring. Walaupun demikian, hampir seluruh pelafalan Ilyich tidak berada dalam keadaan yang memberatkan. Saya telah mempelajari pelafalan berdasarkan petunjuknya namun kemudian ketika kami telah melewati empat tahun dan kami tiba di London, tidak ada seorang pun yang mengerti kami dan kami pun tidak mengerti seorang. Dan pelajaran dimulai dari awal.
Tiba di London, kami mulai membiasakan diri dengan pelafalan bahasa Inggris, kami pernah menghadiri pertemuan, diperdengarkan di sana percakapan dalam bahasa Inggris, yang hal ini terjadi dalam pidato bahasa Inggris di Guide Park, kami bercakap-cakap dengan pemilik flat. Berlangsung pertukaran pelajaran dengan dua orang Inggris. Kami belajar bahasa Inggris pada mereka, mereka menjadi bahasa Inggris bagi kami.

Analisis Novel МНОГО ЛИ ЧЕЛОВЕКУ ЗЕМЛИ НУЖНО? /mnogo li čeloveku zemli nužno/ Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? (karya Leo Tolstoy)



Biografi Penulis: Leo Tolstoy
Lev Nikolayevich Tolstoy (bahasa Rusia: Лев Никола́евич Толсто́й) yang masyhur dengan Leo Tolstoy lahir di Yasnaya Polyana pada tanggal 9 September 1828 adalah seorang sastrawan besar Rusia, pembaharu, pasifis, anarkis Kristen, vegetarian, anak keempat dari lima bersaudara yang sangat berpengaruh di keluarga Tolstoy. Dia dikenal sebagai “Bapak Realisme Psikologis Rusia” karena karya-karyanya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia sehari-hari dan mengangkat tema yang sarat berisi kritik moral. Perang dan Damai (Война и мир [Voyna i mir]; 1865–69) serta Anna Karenina (Анна Каренина; 1875–77) merupakan dua adikaryanya yang hingga kini selalu ramai dibicarakan orang. Ditambah lagi salah satunya novel yang akan dibahas disini yang berjudul Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang (Много Ли Человеку Земли Нужно[Mnogo Li Čeloveku Zemli Nužno];1886)
Tolstoy lahir dari kalangan bangsawan, namun ia selalu menyembunyikan identitasnya dengan berperilaku layaknya rakyat jelata. Masuk Universitas Kazan pada usia 15 tahun belajar hukum dan bahasa-bahasa oriental. hingga akhirnya ia meninggalkan Universitas itu. Dosen-dosennya menggambarkan dirinya tidak mampu dan tidak mau belajar. Ia kembali di tengah-tengah studinya ke Yasnaya Polyana dan menghabiskan banyak waktunya di Moskwa dan St. Petersburg. Setelah terjerumus ke dalam utang yang besar karena berjudi, Tolstoy menemani kakaknya ke Kaukasus pada 1851 dan masuk ke dalam Tentara Rusia.
Tolstoy  menikah pada tahun 1862 dengan Sofia Andreevna Bers yang usianya 16 tahun lebih muda, dan mereka mempunyai 13 orang anak. Pernikahannya dengan Sofia Andreevna Bers ditandai pada permulaannya oleh Tolstoy pada malam pernikahannya dengan memberikan buku hariannya kepada tunangannya. Buku-buku hariannya ini memuat catatan mengenai hubungan seksualnya dengan para petaninya. Meskipun demikian, awal kehidupan perkawinan mereka cukup bahagia dan tenang, dan memberikan Tolstoy banyak kebebasan untuk menulis karya sastranya ditambah Sofia yang menjadi sekretaris pribadinya. Tolstoy meninggal pada tanggal 20 November 1910 di Stasiun Astapovo setelah mengalami penyakit radang paru-paru (pneumonia).


Deskripsi Novel: Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang

Novel ini dibuat oleh Leo Tolstoy pada tahun 1886 dalam bahasa Rusia dengan judul “много ли человеку земли нужно?” dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. James Joyce menyebut novel ini sebagai cerita pendek terbaik yang pernah ditulis1. Novel yang dijadikan rujukan dalam makalah ini merupakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kumpulan Cerita Leo Tolstoy Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra cetakan ke-2 tahun 2006 dengan mengambil terjemahan dari Leo Tolstoy: Collected Shorter Fiction (Everyman’s Library, London 1995) dengan beberapa tambahan rujukan dari wikipedia.org dalam bahasa Rusia, Inggris dan Indonesia.  Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita yang tersusun menjadi satu bagian utuh dan bermakna.

1-en.wikipedia.org

Analisis Novel: Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?

1. Tema:
Novel ini bertemakan kritik moral terhadap faham materialistic yang mengukur segala sesuatu berdasarkan maujudnya harta benda. Hal ini tersurat dari judul novel yang dituliskan oleh Tolstoy dengan jeli yaitu Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?/ How Much Land Does a Man Need?-Ing/ Много Ли Человеку Земли Нужно?-Rus –sebuah penekanan pada kata “berapa” yang menunjukkkan penekanan pada kuantitas karena dalam kaidah bahasa Rusia penekanan pada sebuah kalimat lazimnya berada pada permulaaan kata.
Pada cerita yang terdapat dalam novel ini sejatinya telah menjawab pertanyaan tersebut yakni hanya tiga elo sajalah tanah yang secukupnya dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya di bumi ini untuk hanya sekedar menguburkan jasadnya sebagaimana yang terdapat pada akhir dari cerita ini. Anton Chekov, salah seorang rekan Tolstoy yang juga merupakan penulis besar Rusia pernah berkata bahwa dalam novel ini disebutkan manusia cuma membutuhkan enam kaki, namun sebenarnya enam kaki tersebut bukanlah untuk manusia melainkan untuk mayat manusia bukan manusia itu sendiri. Manusia membutuhkan bukan hanya enam kaki, atau sebuah ladang, melainkan secara keseluruhan dari alam ini sehingga mereka dapat menunjukkan keberadaan dan keanehan jiwa bebas mereka tanpa ada yang tersembunyi.2

2-idem
2. Tokoh dan Penokohan:
 ·   Seorang wanita dari kota (kalimat ke-1 alinea ke-1), istri pedagang (kalimat ke-2 alinea ke1), membual soal harta yang dimilikinya (kalimat ke-3 alinea ke-1)

 ·   Saudara si wanita, istri petani (kalimat ke-2 alinea ke1), membual dengan merendahkan istri seorang saudagar dan meninggikan hidupnya sendiri di desa (kalimat ke-7 alinea ke-1)

·    Pahom, tokoh utama, suami si adik perempuan (kalimat ke-1 alinea ke-5), sombong, dibuktikan dalam perkataanya “seandainya aku mempunyai tanah, tentu tak ada yang harus kutakuti – tidak ada, bahkan iblis sekalipun” (kalimat ke-3 alinea ke-6), tidak menyukai hakim dan penguasa (kalimat ke-7 alinea ke-20)

·    Iblis, senang dengan sikap Pahom (kalimat ke-1 alinea ke-8), selau berusaha menggoda seperti perkataannya “aku akan menjajalmu, aku akan memberimu tanah sebanyak-banyaknya, lalu mengambilnya kembali” (kalimat ke-2, 3 alinea ke-9), bertanduk, kakinya bertelapak kuda, tertawa, menjelma dalam mimpi Pahom sebagai saudagar dari muara Sungai Volga (kalimat ke-9, 10 alinea ke-65)

·    Barina,  punya banyak tanah seluas 120 dessiatin (kalimat 1, 2 alinea ke-1), dahulu memiliki hubungan baik dengan para petani, namun berubah setelah ia mengangkat seorang bekas tentara sebagai pengawas tanahnya (kalimat ke-3, 4 alinea ke-10)

·    Seorang bekas tentara, selalu mengejar-ngejar petani dengan denda (kalimat ke-5 alinea ke-10)

·    Semka, terduga kasus perusakan tanah Pahom (kalimat ke-8 alinea ke-19)

·    Para hakim, berpihak pada tersangka dengan alasan kekurangan bukti (kalimat ke-2 alinea ke-20)

·    Petani musafir, mampir ke rumah Pahom, menginap (kalimat ke-1, 2 alinea ke-22), datang dari tempat yang lebih jauh dari Sungai Volga, menceritakan tentang sebuah perkampungan yang bernama Samara (kalimat ke-2 alinea ke-24) yang sedang berkembang dimana setiap orang yang datang menetap diberi sepuluh dessiatin tanah yang bagus dan dengan gandum yang bagus pula (kalimat ke-4, 5 , 6  alinea ke-22)

·    Kepala desa (mir), juru penerangan tanah yang akan dibeli oleh Pahom (kalimat  ke-5, 6, 7 alinea ke-24), mau menerima uang suap (kalimat ke-1 alinea ke-26)

·    Seorang pedagang, berasal dari Bashkir (kalimat ke-1, 2, 3 alinea ke-34) mengatakan bahwa ia baru membeli tanah seluas lima ribu dessiatin dengan harga hanya seribu rubel (kalimat ke-4 alinea ke-34), awalnya ia hanya memberikan beberapa hadiah seperti khalat – semacam jubah panjang, permadani, sekotak teh, uang seribu rubel serta mengajak minum vodka (kalimat ke -1 alinea ke-35)

·    Seorang penerjemah, ahli bahasa Rusia dan bahasa kaum Bashkir (kalimat ke-1 alinea ke-41) mengenal Starshina dan memperkenalkannya kepada Pahom (kalimat ke-3 alinea ke-47

·    Starshina (pemuka kaum) Bashkir, seorang laki-laki, mengenakan kopiah dari kulit serigala, semua orang Bashkir menghormatinya (kalimat ke-1,2 alinea ke-47), menyetujui permintaan Pkhom (kalimat ke-1 alinea ke-48), sejatinya adalah penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-6, 7, 8, 9,10  alinea ke-68)

·    Pelayan Pahom, setia pada Pahom hingga menguburkan di saat kematiannya (kalimat ke-3, 4  alinea ke-90)


3. Ringkasan Cerita :
Suatu hari seorang wanita pedagang mengunjungi adiknya seorang wanita petani. Si wanita membual soal kekayaannya di depan adiknya agak disegani dan dipuji. Sang adik pun tidak mau kalah membual pula namun lebih dahsyat dari kakaknya yang membual punya harta banyak, si adik menghinakan diri istri saudagar dan meninggikan dirinya sendiri di desanya agar terlihat seperti orang terhormat.  Iblis-pun mendengar hal ini dan berusaha mencelakakan si adik ini dengan berbagai cara
Singkat cerita suatu hari ada seorang wanita bernama Barina yang ingin menjual tanahnya dengan harga 120 dessiatin namun iblis selalu saja menghalanginya. Hingga pada akhirnya suatu hari ada seorang tetangga Barina membeli tanah milik Barina  20 dessiatin dengan setengah harga dibayar tahun depan. Hal ini membuat Pahom iri dan ia ingin membeli tanah pula disertai dengan ambisi menjadi tuan tanah. Suatu ketika tanah milik Pahom dirusak oleh segerombolan hewan ternak milik Semka-orang yang diduga oleh Pahom hingga Pahom marah dan kemudian mengadukannya ke hakim namun perkaranya tidak berhasil dimenangkannya.
Hingga pada suatu hari ada seorang laki-laki mengabarkan bahwa di daerah Bashkir ia membeli  tanah murah dengan 1000 rubel/5000 dessiatin dengan imbalan hanya berupa permadani, teh, jubah, minuman vodka. Seorang dapat memperoleh tanah yang diinginkannya sepanjang perjalanan yang dapat ditempuhnya dengan kaki dalam sehari mulai terbit fajar hingga terbenamnya hingga kembali ke tempat asalnya yang menjadi batas waktu yang diberikan.
Pada akhirnya Pahom ditemani pelayannya mengunjungi orang-orang Bashkir. Ia bertemu dengan Starshina (ketua suku) dan mereka menjamu dengan baik. Pahom tidak bisa tidur semalaman memikirkan berapa banyak tanah yang dapat dia peroleh dalam seharian itu. Di dalam mimpinya ia bermimpi melihat petani musafir yang pernah mampir ke rumahnya berdiri sembari tertawa, bertanduk dan bertapak kuda namun Pahom tidak hirau akan mimpinya tersebut. Ketika pagi menjelang, Pahom langsung bersiap dan membawa perbekalan menuju bukit tempat tanah itu berada. Kemudian dia menyusuri mula-mula dengan sepatunya hingga matahari mulai naik dan membuat suhu menjadi panas, Pahom berhenti sejenak menghabiskan bekalnya hingga ia terus berambisi mendapatkan tanah sebanyak-banyaknya yang membuatnya lupa diri. Pada akhirnya ia terus berjalan membuat lingkaran agar dapat kembali ke tempat asal dia berada namun matahari semakin lama semakin terbenam dan memacu semangatnya walau masih jauh perjalanan. Pahom berusaha sekuat tenaga sampai-sampai melepas sepatunya hingga kedua kakinya terluka namun dia tidak peduli. Di dalam pikirannya dia harus cepat kembali untuk meraih tanah yang dijanjikan. hingga ketika ia telah sampai ke tempat asalnya, ia sudah tak bernyawa lagi. Starshina melempar sekop dan menyuruh pelayan Pahom untuk menguburkan jasad tuannya yang cuma berukuran tiga elo saja.


4. Alur
Novel ini menggunakan alur maju karena tidak ada dalil yang menunjukkan pengembalian cerita kepada kala lampau yang mengulang urut kejadian cerita. Novel ini terdiri dari sembilan bagian cerita. Oleh karena itu penulis menjelaskan alur cerita dalam sembilan bagian cerita yakni sebagai berikut:
Bagian I: Menjelaskan tentang pengenalan tokoh utama dan figuran disertai dengan perwatakannya masing-masing
Bagian II:    Menjelaskan tentang awal mula pengenalan cerita antara Pahom, Barina dan Seorang bekas tentara
Bagian III:  Menjelaskan konflik Pahom dengan Semka serta para hakim yang akhirnya memenangkan Semka dalam perkara ternak yang merusak tanah Pahom. Seorang petani musafir mengabarkan kepada Pahom perihal tanah murah di Samara.
Bagian IV: Menceritakan tentang jalan cerita yang datar tentang Pahom yang hidup selama lima belas tahun dengan membeli tanah terus-menerus dan menaburnya dengan gandum sehingga menjadikannya makmur. Namun ia merasa bosan karena setiap tahun ia harus menyewa tanah di distrik yang lain dan memindahkan hartanya ke sana. Pahom mulai bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari Bashkir yang menceritakan tanah murah di Bashkir yang hanya didapatkan dengan beberapa hadiah kecil serta uang dalam jumlah sedikit
Bagian V:   Menceritakan tentang awal mula konflik tentang Pahom yang ingin mendapatkan tanah seluas-luasnya pasca pertemuannya dengan seorang pedagang dari Bashkir.
Bagian VI:  Menceritakan pertemuan Pahom dengan Starshina orang-orang Bashkir dan berbicara dengan dengan bantuan penerjemah. Pahom memberikan semua hadiah yang telah disiapkannya untuk kaum Bashkir dan hadiah diterima Starshina dengan baik. Starshina menjelaskan syarat-syarat untuk memeroleh tanah yang dijanjikan tersebut
Bagian VII: Menceritakan tentang pertemuan Pahom dengan orang –orang Bashkir serta Starshina yang menjamunya dengan baik dan berjanji akan memberikan tanh yang dijanjikan sesuai dengan persyaratan yang berlaku di sana yaitu sejauh perjalanan yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dan jika gagal maka batal   
Bagian VIII:      Mengisahkan usaha Pahom meraih tanah yang diinginkanya secara sungguh-sungguh
Bagian IX:   Antiklimaks dari cerita yang mengisahkan Pahom yang mati sia-sia atas usahanya meraih tanah yang diinginkannya dan hanya dikuburkan dengan luas tiga elo saja.

5. Latar
Latar yang digunakan dalam novel ini adalah sebagai berikut:
·    Desa tempat Pahom tinggal (kalimat ke-1 alinea ke-1)
·    Samara, kampung yang sedang berkembang (kalimat ke-2 alinea ke-24)
·    Bashkir, tempat orang–orang yang hidup dengan damai walaupun sejatinya Starshinanya adalah penjelmaan dari Iblis (kalimat ke-2 alinea ke-34)
·    Padang rumput Bashkir, tempat Pahom meraih tanah yang diinginkannya (kalimat ke-1 alinea ke-73)


6. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari novel ini yakni sebagai berikut:
·    Tolstoy ingin mencoba mengajak pembacanya merenung dengan judul novelnya yang dimulai dengan kata ``berapakah`` yang menunjukkan sebuah pertanyaan bahwa berapalah jumlah tanah yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya jikalau mereka mati hanya dengan luas tanah tiga elo saja sebagaimana kisah Pahom
·    Manusia pada fitrahnya adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dan selalu ingin melakukan perubahan
·    Harta benda bersifat sementara dan tidak dibawa mati ke dalam liang lahat sebagaimana harta dan segala yang dimiliki oleh Pahom
·    Liang lahat untuk manusia tidaklah sebesar harta atau tanah yang dimilikinya semasa hidup sebagaimana Pahom yang mati hanya dengan luas tanah tiga elo
·    Hendaknya manusia tidak terkecoh oleh silaunya dunia layaknya Pahom dalam cerita ini
·    Kepuasan duniawi bersifat nisbi
·    Iblis selalu menggoda manusia agar celaka atau mengikuti jalannya yang sesat seperti perkataan Iblis atas pernyataan Pahom

7. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang menggunakan diksi yang mudah dipahami sehingga pesan dari cerita yang ingin disampaikan dapat terejawantah dengan baik. Tidak ditemukan istilah yang memungkinkan terjadinya ambiguitas dalam sebuah konteks kalimat ataupun istilah yang digunakan.