Showing posts with label Russian. Show all posts
Showing posts with label Russian. Show all posts

Saturday, July 11, 2026

Analisis Moralitas dalam Novel Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? Karya Leo Tolstoy

 Menakar Keserakahan Manusia: Analisis Moralitas dalam Novel Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? Karya Leo Tolstoy

Adikarya sastra tidak hanya lahir dari imajinasi yang indah, melainkan dari ketajaman menangkap realitas sosial dan gejolak psikologis manusia. Prinsip inilah yang melekat kuat pada diri Lev Nikolayevich Tolstoy, atau yang lebih masyhur dikenal sebagai Leo Tolstoy. Lahir di Yasnaya Polyana pada 9 September 1828, sastrawan besar Rusia ini kerap dijuluki sebagai "Bapak Realisme Psikologis Rusia". Julukan tersebut disematkan berkat kepiawaiannya dalam memotret kehidupan masyarakat sehari-hari yang sarat akan kritik moral yang tajam. Meskipun terlahir dari kalangan bangsawan tinggi, anak keempat dari lima bersaudara ini justru memilih untuk hidup bersahaja layaknya rakyat jelata. Perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika, mulai dari masa muda yang sarat utang akibat judi saat menempuh studi hukum dan bahasa oriental di Universitas Kazan, hingga keputusannya bergabung dengan Tentara Rusia di Kaukasus pada tahun 1851. Kehidupan pernikahannya yang dimulai pada tahun 1862 bersama Sofia Andreevna Bers—yang berusia enam belas tahun lebih muda—turut mewarnai produktivitasnya. Didukung penuh oleh sang istri yang bertindak sebagai sekretaris pribadi, Tolstoy melahirkan deretan karya monumental seperti Perang dan Damai serta Anna Karenina. Hingga akhir hayatnya pada 20 November 1910 di Stasiun Astapovo akibat pneumonia, Tolstoy konsisten menyuarakan pandangan pasifisme dan anarkisme Kristen. Salah satu manifesto moralnya yang paling jernih tertuang dalam sebuah novel pendek yang ditulis pada tahun 1886 dengan judul asli Много Ли Человеку Земли Нужно? atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?.

Novel pendek ini menempati posisi yang sangat terhormat dalam khazanah sastra dunia, bahkan sastrawan besar James Joyce menyebutnya sebagai cerita pendek terbaik yang pernah ditulis. Di Indonesia, teks ini dapat dinikmati melalui kumpulan cerita Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra tahun 2006, yang bersumber dari kompilasi Everyman’s Library. Narasi utuh novel ini terbagi ke dalam sembilan bagian yang tersusun secara kronologis menggunakan alur maju yang solid. Tolstoy sengaja mengemas struktur cerita dari pengenalan hingga antiklimaks secara linear tanpa kilas balik untuk mempertegas konsekuensi logis dari setiap tindakan tokohnya. Bagian awal cerita digunakan untuk mengenalkan tokoh utama dan figuran, diikuti oleh pengenalan awal konflik kepemilikan tanah antara sang tokoh utama bernama Pahom, seorang tuan tanah wanita bernama Barina, dan pengawas tanahnya yang kejam. Konflik kemudian bereskalasi ketika hewan ternak milik tetangganya, Semka, merusak lahan Pahom, namun Pahom justru kalah di pengadilan akibat kurangnya bukti. Kekecewaan ini mendorong Pahom untuk terus mencari tanah baru yang lebih luas, mulai dari perpindahannya ke Samara hingga pertemuannya dengan seorang pedagang yang membocorkan keberadaan tanah murah di wilayah kaum Bashkir. Bagian akhir novel berfokus pada klimaks usaha Pahom yang mengerahkan seluruh tenaganya demi meraih tanah seluas-luasnya, yang justru berujung pada akhir yang tragis dan ironis.

Melalui struktur alur tersebut, Tolstoy secara jeli membangun kritik moral yang tajam terhadap paham materialistik, sebuah ideologi yang mengukur kebahagiaan dan martabat manusia melulu berdasarkan kuantitas harta benda. Judul novel ini sendiri merupakan sebuah formula retoris yang brilian. Dalam kaidah bahasa Rusia, penekanan kalimat lazimnya berada di awal kata, sehingga penempatan kata "Berapa" di awal judul berfungsi memaku perhatian pembaca pada aspek kuantitas yang digugat oleh Tolstoy. Jawaban atas pertanyaan besar pada judul tersebut secara ironis terjawab di akhir cerita, di mana tanah yang sejatinya dibutuhkan manusia pada akhirnya hanyalah sebatas liang lahat untuk membungkus jasadnya sendiri. Menanggapi esensi cerita ini, Anton Chekhov, rekan sejawat Tolstoy, memberikan catatan filosofis yang mendalam. Chekhov meluruskan anggapan bahwa manusia hanya membutuhkan tanah sepanjang enam kaki atau tiga elo. Menurutnya, ukuran sempit itu hanyalah volume yang dibutuhkan oleh sesosok mayat, bukan manusia yang hidup. Manusia yang utuh sejatinya membutuhkan seluruh alam semesta agar jiwa merdekanya dapat mengekspresikan diri tanpa batas, namun ironisnya, nafsu keserakahan sering kali mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri hingga akhirnya mereka terjebak dalam tanah kuburannya yang sempit.

Eksplorasi terhadap watak manusia ini termanifestasikan dengan sangat baik melalui penokohan yang kontras dan dinamis. Cerita diawali oleh perdebatan antara dua bersaudara perempuan; sang kakak yang merupakan istri pedagang kota yang sombong memamerkan kemewahan kotanya, sementara sang adik yang merupakan istri petani desa membalas dengan meninggikan kesederhanaan hidup di desa. Perdebatan inilah yang memicu ambisi suaminya, Pahom. Sebagai tokoh utama, Pahom digambarkan sebagai sosok petani yang awalnya bersahaja namun perlahan menjelma menjadi manusia yang congkak dan dikuasai nafsu setelah mencicipi kepemilikan tanah. Kesombongannya memuncak saat ia sesumbar tidak takut pada apa pun, bahkan kepada iblis sekalipun, seandainya ia memiliki tanah yang luas. Pernyataan angkuh inilah yang memancing kehadiran Iblis, sebuah entitas metafisika dalam cerita yang digambarkan bertanduk dan bertelapak kaki kuda. Iblis memanfaatkan keserakahan Pahom sebagai instrumen untuk menghancurkannya, menjelma dalam mimpi-mimpinya, dan menyamar sebagai sosok-sosok yang menawarkan kemudahan materi, termasuk sebagai Starshina, sang pemuka kaum Bashkir. Kaum Bashkir sendiri digambarkan sebagai sekelompok masyarakat nomaden yang hidup damai dan tidak serakah di padang rumput yang luas. Mereka dipimpin oleh Starshina yang mengenakan kopiah kulit serigala dan bersedia menerima suap berupa jubah panjang (khalat), permadani, teh, dan vodka dari Pahom untuk kemudian memberikan sebuah tantangan yang mustahil ditolak oleh hati yang serakah.

Melalui latar tempat yang berpindah dari desa asal Pahom, lalu ke Samara, hingga berakhir di padang rumput Bashkir yang luas, Tolstoy memperlihatkan bagaimana ruang geografis berkorelasi dengan luasnya ambisi manusia. Puncak dari segala tragedi kemanusiaan ini terjadi ketika Pahom menyetujui syarat pembelian tanah unik yang diajukan oleh kaum Bashkir. Persyaratannya sangat sederhana namun menjebak: Pahom diperbolehkan memiliki tanah seluas apa pun yang sanggup ia kelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu satu hari penuh, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan syarat ia harus kembali ke titik semula tepat waktu atau uang seribu rubel miliknya akan hangus. Didorong oleh nafsu yang membabi buta, Pahom berjalan terlalu jauh dari titik awal. Ketika matahari mulai condong ke barat, ia menyadari posisinya terlalu jauh untuk kembali. Dalam kepanikan, Pahom berlari sekencang-kencangnya di bawah terik panas, menanggalkan sepatunya hingga kakinya terluka dan berdarah, demi mengejar batas waktu yang kian menipis. Ketakutan akan kehilangan tanah impian membuatnya lupa akan keterbatasan fisiknya sendiri. Tepat ketika matahari tenggelam dan ia berhasil menyentuh kembali bukit tempat Starshina berdiri tertawa, tubuh Pahom yang kehabisan oksigen dan tenaga ambruk seketika. Ia tewas di tempat akibat kelelahan yang luar biasa. Pelayannya yang setia kemudian mengambil sekop dan menggali tanah untuk menguburkan jasad Pahom yang terbujur kaku. Pada akhirnya, seluruh ambisi, keringat, dan darah yang dikorbankan Pahom hanya membuahkan sebidang tanah sepanjang tiga elo—sebuah ukuran standar liang lahat yang cukup untuk menampung tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.

Melalui gaya bahasa yang lugas, realistis, dan menggunakan diksi yang mudah dipahami, Tolstoy berhasil menyampaikan amanat moral yang mendalam tanpa terjebak dalam ambiguitas bahasa. Kisah tragis Pahom menjadi refleksi universal bahwa pada fitrahnya manusia kerap digoda oleh ketidakpuasan yang nisbi. Tolstoy mengajak pembacanya merenung bahwa harta benda bersifat sementara dan sama sekali tidak akan dibawa mati ke dalam liang lahat. Kesilauan akan dunia sering kali membuat manusia melupakan hakikat eksistensinya, berlari mengejar sesuatu yang semu hingga melampaui batas kemampuan tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, novel ini menegaskan sebuah kebenaran yang mutlak: tidak peduli seberapa luas tanah yang berhasil dikuasai manusia semasa hidupnya, seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, dan seberapa tinggi kesombongan yang dipelihara di hadapan sesama, ruang akhir yang akan dimiliki oleh setiap orang hanyalah sebuah kotak tanah sempit yang sama rata bagi semua jasad.

Secara tekstual dan kontekstual, dimensi kritis novel pendek ini didukung oleh fakta sejarah serta struktur sosiologis Rusia pada abad ke-19. Leo Tolstoy menulis kisah ini tepat beberapa dekade setelah reformasi emansipasi pada tahun 1861, sebuah momentum sejarah ketika Tsar Alexander II menghapuskan sistem perbudakan petani (serfdom) di Kekaisaran Rusia. Kebijakan ini secara legal memberikan hak kepada jutaan petani untuk memiliki tanah sendiri, namun dalam realitasnya justru menjebak mereka dalam sistem utang penebusan (redemption payments) yang sangat berat kepada para bangsawan. Satuan pengukuran luas yang digunakan Tolstoy dalam narasinya, seperti dessiatin (setara dengan sekitar 1,09 hektare atau 2,7 hektar per unit), mencerminkan dengan akurat bagaimana kalkulasi agraria saat itu menjadi obsesi baru bagi kelas petani seperti Pahom yang ingin menaikkan status sosial mereka. Ironisnya, angka nominal seribu rubel yang diserahkan Pahom kepada kaum Bashkir untuk membeli tanah "sejauh mata memandang" justru setara dengan modal besar yang diimpikan oleh rata-rata petani Rusia untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan sistemik di pedesaan pada akhir era 1880-an.

Dari sudut pandang resepsi sastra global, daya hidup novel ini terbukti melintasi sekat budaya melalui berbagai adaptasi dan apresiasi dari para pemikir dunia. Lebih dari sekadar komentar James Joyce, filsuf Ludwig Wittgenstein juga tercatat sebagai salah satu pengagum berat karya ini, di mana ia merekomendasikannya kepada murid-muridnya sebagai bentuk terapi filosofis untuk mengatasi keserakahan intelektual manusia. Pengaruh kultural novel ini juga terekam kuat di Asia; pada tahun 1953, sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa, menggunakan basis moralitas dan kritik agraria Tolstoy dalam karya-karyanya, sementara penulis India, Premchand, menerjemahkan kisah ini ke dalam bahasa Urdu dengan judul Zamin untuk mengkritik sistem tuan tanah (zamindari) yang menindas petani di Asia Selatan. Data bibliografi menunjukkan bahwa teks asli berbahasa Rusia ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di dunia sejak pertama kali diterbitkan oleh penerbit Posrednik di St. Petersburg. Melalui penyebaran global tersebut, fakta kematian Pahom yang secara matematis hanya menyisakan tanah sepanjang tiga elo (satuan kuno Rusia arshin, di mana satu arshin setara dengan 71 sentimeter, sehingga total tiga elo adalah sekitar 2,1 meter) tetap menjadi standar ukuran universal yang diakui dunia untuk menggambarkan batas akhir dari komodifikasi alam oleh keserakahan manusia.

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

 

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

 Pada akhirnya, eksperimen sastra dan moral yang dilakukan Leo Tolstoy dalam novel ini berhasil menelanjangi paradoks terbesar dalam eksistensi manusia. Melalui perpaduan yang solid antara potret sosiologis Rusia abad ke-19, kritik tajam terhadap materialisme global, dan kedalaman teologis pasca-krisis spiritualnya, Tolstoy tidak sekadar menyajikan sebuah cerita tragis tentang seorang petani yang serakah. Ia sedang menyodorkan sebuah cermin besar bagi setiap generasi untuk merefleksikan batas antara kecukupan dan keserakahan. Kisah Pahom yang berakhir tragis di bawah bayang-bayang tawa Iblis menegaskan bahwa ambisi yang tidak terkendali pada akhirnya akan mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri. Ketika seluruh pencarian keduniawian yang melelahkan itu mengerucut pada sebidang tanah sempit sepanjang tiga elo, novel ini menutup narasinya dengan sebuah kesimpulan tegas yang abadi: kebutuhan sejati manusia di dunia ini sangatlah bersahaja, dan esensi sejati dari kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak yang mampu kita kuasai dari bumi, melainkan tentang bagaimana kita menjaga martabat jiwa sebelum akhirnya kembali bersatu dengan tanah.

 

Tuesday, October 6, 2020

Dr. Singkop Boas Boang Manalu: Sebuah Memoar Dosen Tercinta

Perawakannya yang keras, tanpa basa-basi, sehingga kadang dicap killer oleh mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia. Begitulah Pak Boas yang saya kenal, apa adanya. Awalnya stigma negatif itu membekas di benak saya, namun lama-kelamaan saya sadar kalau saya yang salah. Pak Boas yang berlatarbelakang etnis Batak memang sering sinis dengan etnis lain terutama Jawa. Namun pada akhirnya saya paham begitulah memang cara beliau membangun narasi dan analogi, sama halnya ketika beliau memberikan perspektif ala Rusia dan Indonesia melalui pendekatan politik, ideologi, hukum, dan ekonomi.

Entahlah mungkin sensivitas Pak Boas dengan etnis Jawa kabarnya berkaitan dengan kisah cintanya yang tidak kesampaian dengan sang profesor jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia, yang hingga kini masih menjadi misteri. Namun ada satu hal yang masih saya ingat soal beliau, ketika itu beliau sering minum obat karena sakit-sakitan. Bahkan beliau pernah pingsan di kelas dan digotong oleh mahasiswa. Sebuah dedikasi yang luar biasa bagi saya yang sangat berkesan dari Pak Boas. Bahkan dosen saya juga Pak Dr. Fadli Zon yang kini aktf di pemerintahan pernah berkisah soal Pak Boas baginya adalah dosen yang paling berkesan

Ada juga kenangan ketika saya diam-diam merekam Pak Boas ketika mengajar di kelas. Footage itu saya unggah di akun YouTube sebagai memoar terbaik yang pernah saya miliki. Ternyata unggahan itu direspon oleh salah seorang murid Pak Boas:

Dr. Singkop Boas Boang Manalu - In Memoriam

“Saya Drs. Muhammad Resky, MSi, mantan dosen FISIP Universitas Nasional adalah satu2nya asisten Pak Boas di UNAS. Beliaulah yang mengajari saya mengenai Sosialisme, Marxisme dan Komunisme secara mendalam sehingga saya dapat mengajar Sistem Politik Sosialis Komunis, Sistem Politik Indocina dan Birma, Pemikiran Politik Negara-Negara Baru di FISIP UNAS. dari tahun 1987 s/d 1996. Saya diberhentikan dari UNAS tahun 1998 karena saya masih aktif bekerja di PT AP II. Atas jasa-jasa beliau saya mengucapkan terima kasih yang sedalam2nya kepada beliau dan semoga beliau REST IN PEACE disana.

Alkisah suatu hari saya pernah tidak mengerjakan tugas yang diberikan Pak Boas, yaitu tugas terjemahan sejarah menggunakan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Walhasil Pak Boas ngamuk dan memaki saya. Saya masih ingat kalimatnya:

Saya paling benci dengan orang yang malas macam kau ini.

Lantas beliau sambung kalimatnya itu:

Kau tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama sekali nggak paham soal Bahasa Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap ketemu kata-kata yang tidak saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di dalam kamus. Saya paling benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih suka dan menghargai mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.

Itulah kalimat-kalimat yang saya simpan hingga sekarang. Kalimat yang mencambuk diri saya bahwa musuh terbesar diri saya adalah diri sendiri. Kesombongan, ego, merasa cepat puas adalah deretan kata yang paling Pak Boas benci. Pesan moral yang pada akhirnya butuh sekian tahun untuk saya temukan. Belum pernah saya temukan dosen seperti Pak Boas dalam totalitasnya menjadi guru dengan karakter gaya meledak-ledak yang nyentrik dan tidak popular bagi mahasiswa malas dan hanya berorientasi pada nilai semata. Saya akhirnya paham bahwa nilai hanyalah konsekuensi logis dari sebuah pemahaman logika bukan tujuan akhir.

Sesungguhnya Pak Boas hanya ingin agar mahasiswanya melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu sedangkan mahasiswa adalah masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau guru melainkan muridnya dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen atau guru yang paling utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan mengajar. Semua orang dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat mendidik. Mendidik adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan intelejensi emosi (emotional quotient) dan intelejensi akademik (intelligent quotient) secara bersamaan.Hal ini membutuhkan waktu panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.

Saya selalu berdoa yang terbaik untuk Pak Boas, terimakasih atas jasamu yang luar biasa di diri saya. Engkau mengajarkan bagaimana cara menjadi dosen atau guru sebagai pendidik dan pengajar dengan caramu sendiri, walau banyak orang lain menganggap sebelah mata. Sekarang dirimu telah tutup usia, biarlah warisanmu berupa ilmu agar saya wariskan sebagai amanat ilmiah dari seorang guru besar di hati saya kepada muridnya yang tak kunjung pandai. Tak lupa segenap takzim dan salam hormat saya teruntuk dosen dan guru tercinta, yang saya tulis bersamaan dengan air mata: Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Pak Boas, namamu abadi.

[]

Tuesday, December 17, 2013

Peter Agung (Peter Alekseyevich Romanov) (1672-1725)



Masa Kecil Peter Agung

Peter Agung adalah anak ke-14 dari Aleksei Mikhailovich. Dia juga merupakan cucu dari Tsar Mikhail Romanov yang dipilih jadi Tsar pada tahun 1613.  Lahir di Moskow pada tanggal 30 Mei 1672 dari perkawinan keduanya dengan Natalya Kirilovna Naryshkina yang berdarah Tartar sehingga Peter banyak mewarisi gen keturunan dari ibunya. Ketika itu Tsar telah berusia 42 tahun dan telah mempunyai 2 anak laki-laki serta 6 anak perempuan dari pernikahannya yang pertama. Anak yang pertama mengalami kesehatan yang buruk Aleksei Mikhailovich menikah dengan Natalya Kirilovna Naryshkina yang kala itu masih berusia muda pasca kematian istri pertamanya yang bernama Maria Miloslavkaya. Peter diklaim jadi tsar pada usia 10 tahun serta ibunya menjadi regent tepatnya pada tahun 1682 oleh kaum Boyar Duma dan ia memimpin Rusia bersama saudaranya Ivan V di bawah kekuasaan saudara tirinya Sofia.

Kehidupan serta Westernisasi Peter Agung

Pada tahun 1682 terjadi pemberintakan Streltsy yang mengakibatkan banyak dari kawan Peter Agung yang terbunuh. Pemberontakan Streltsy berlangsung pada bulan April-Mei 1682 yang dipimpin oleh saudara tiri Peter Agung yaitu Sofia Alekseyevna, hingga pemberontakan tersebut berhasil dipadamkannya setelah kembalinya ia dari Eropa untuk belajar ilmu perkapalan. Beberapa orang yag dieksekusi sebagian kecil dieksekusi langsung melalui tangan Peter Agung.

.

Pada tahun 1689, Sofia diturunkan karena kemunduran pemerintahan. Ditambah lagi pada tahun 1696 Tsar Ivan V meninggal sehingga Peter Agung adalah pengganti yang kuat untuk memimpin pemerintahan Rusia pada saat itu. Peter melakukan reformasi besar-besaran di segala bidang dan membuka wajah Rusia kepada Eropa. Ia merekrut insinyur-insinyur, ahli perkapalan, arsitek, serta pengrajin terbaik Eropa untuk datang ke Rusia. Sebanyak ratusan orang Rusia dikirimnya ke Eropa untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam bidang seni serta teknik perkapalan.

Peter Agung menikah  dengan Eudoxia Lopukhina pada tahun 1689. Darinya Peter memeroleh tiga orang anak, namun hanya satu yakni Tsaritsa Alekseyevich yang selamat pada masa kecilnya. Pernikahannya tersebut diwarnai ketidakberesan sehingga setelah 10 tahun Peter akhirnya menceraikan istrinya yang kemudian menjadi biarawati yang memang tidak diperbolehkan untuk menikah. Peter juga sempat menikah secara rahasia dengan wanita bernama Martha Skavronskaya yang mengganti namanya menjadi Katarina pada tahun 1707.

Salah satu misi Peter Agung adalah menguasai akses dan perdagangan Laut Baltik. Pada tahun 1700 ia memulai Perang Utara dengan musuh terbesar Rusia saat itu yakni Swedia, yang mana berlangsung hingga 21 tahun. Pada saat perang berlangsung kota St.Petersburg ditemukan tepatnya pada tahun 1703 di delta Sungai Neva. Akhirnya Rusia menang dalam Perang Utara dan menguasai Laut Baltik serta mendapatkan akses menuju Eropa dan kota St.Petersburg menjadi kota pelabuhan penting. St.Petersburg berarti kota Peter, yang dalam hal ini Peter terpengaruh oleh bahasa Jerman dengan mencantumkan kata Burg di belakang namanya sendiri.

Pada tahun 1712 Peter Agung memindahkan ibukota Rusia yang semula berada di Moskow ke kota St.Petersburg dan melanjutkan perhatiannya kepada pembangunan “surga Eropa” baginya. Hal ini dimaksudkan agar Rusia dapat leluasa mengadakan akses dengan Eropa serta dunia karena letak St.Petersburg lebih lekat ke Eropa  dibandingkan dengan Moskow yang berada jauh di pedalaman Rusia. Alasan lain adalah agar Rusia lebih mudah mengalahkan Swedia dalam Perang Utara karena ketika itu Swedia di bawah pemerintahan Charles II merupakan ancaman terbesar Eropa pada saat itu. Ketika Perang Utara berakhir pada tahun 1721, Rusia mendeklarasikan diri sebagai kemaharajaan dan Peter Agung mengklaim dirinya sendiri sebagai emperor yang pertama. Oleh karena itu Peter melakukan reformasi besar-besaran terutama di bidang politik dan ekonomi. Ia kembali menyusun pemerintahan senat sebagai institusi pemerintahan tertinggi dan 10 menteri yang disebut kolegii. Peter memperkenalkan pajak baru kepada semua orang terkecuali kepada clergy yang menambah devisa negara cukup signifikan. Hingga akhirnya ia pula yang menjadi inspirasi bagi terbentuknya Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia pada tahun 1725 beberapa selang waktu setelah kematiannya. “Tsar pembaharu” adalah julukan baginya karena relah mengubah tatanan pemerintahan Rusia yang konservatif ke arah yang lebih maju dengan membuka diri kepada Eropa serta memperbaharui angkatan bersenjata Rusia dan angkatan laut Rusia disamping ia sendiri adalah seorang pencoba di dalam bidang kelautan tersebut. Ia juga mereformasi penampilan rakyatnya hingga melakukan pemotongan jenggot secara paksa dan mengganti pakaian yang selama ini dipakai oleh rakyat Rusia., serta mereformasi huruf alfabet Rusia menjadi lebih sederhana. Ia juga mengganti penanggalan kalender Julian yang selama ini dipakai. 

Kepribadian Peter Agung menimbulkan banyak pertanyaan selama hampir tiga abad. Dia merupakan laki-laki yang besar dan kuat dengan tinggi 204 cm. Ia tumbuh sebagai seorang laki-laki raksasa. Kedua tangan dan kakinya dapat dibilang kecil, namun kedua bahunya sangat proporsional dengan tinggi badannya, namun kepalanya juga tidak besar untuk tubuhnya.. Ia merupakan ahli di bidang angkatan bersenjata dan angkatan laut. Ia juga ahli di bidang teknik perkapalan karena ia pernah belajar di Eropa tepatnya di Zaandam dan di Amsterdam bersama mayor Nicholas Witsen  mengenai teknik pembuatan kapal dengan menyamar sebgai rakyat jelata. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi pembicaraan dimana seorang tsar penguasa yang besar rela menyamar menjadi seorang rakyat jelata demi meraih ilmu tentang bagaimana membangun armada laut serta kapal yang kuat. Di Inggris ia menjumpai Raja William II, mengunjungi kota Greenwich, Oxford dan menyaksikan Fleet Review, Royal Navy di Deptford. Ia juga mengunjungi kota Leipzig, Dresden dan Wina, bertemu August Perkasa dan Leopold I, Penguasa Roma Suci. Ia tidak sempat ke Venezia karena keburu ada pemberontakan Streltsy sehinga ia harus kembali secepatnya ke Rusia dari Inggris untuk memadamkan sekitar 1200 orang yang dieksekusi melalui tangannya sendiri beberapa diantaranya. Hingga akhirnya saudara tirinya Sofia menjadi biarawati layaknya istrinya.

Akhir Hidup Peter Agung

Pada tahun 1723 Peter Agung mengalami penurunan kesehatan terutama penyakit di sekitar daerah urine yang dialaminya. Pada musim panas tahun 1724 tim dokter Peter Agung melakukan operasi pada bagian urine tersebut. Peter terus menerus berada di atas tempat tidurnya bahkan hingga musim gugur. Pada awal Januari 1725 Peter terserang penyakit uremia. Peter Agung wafat pada 28 Januari 1725 ketika ia berusia 52 tahun 7 bulan. Banyak reaksi rakyat yang terjadi ketika kematiannya.


Sumber Rujukan :

Fahrurodji,A. Rusia Baru Menuju Demokrasi, Penerbit: Obor. Jakarta: 2004
Massie, Robert K. Peter The Great: His Life
Vernadsky, George. A History of Russia

Bolshevisme


Bolshevisme dan Warisan Revolusi
Setiap sistem politik hadir untuk memperkuat dirinya sendiri, dengan mencari kontinuitasnya sendiri. Salah satu jalannya dapat melalui tradisi sejarah dengan nilai-nilai yang tepat dan legenda-legenda yang menunjukkan kepada dukungan yang terkenal luas kepada rezim yang berlaku.. Bagi Rusia, warisan Bolshevik sebagai sumber-sumber simbol dan mitos yang memengaruhi dalam karakter sistem pemerintahan Soviet.

Revolusi Intelegentsia
Pergerakan revolusioner telah berjangkit di Rusia sejak awal abad ke-19. Pergerakan yang yang secara umum menentang kebijakan tsar Rusia ini dimotori oleh kaum revolusioner dari berbagai kalangan yang kemudian dikenal dengan Raznochintsy. Kaum intelegentsia ini berasal dari kalangan mahasiswa, petani, kelompok kerja perkotaan bahkan sampai kepada kelompok minoritas dalam kekaisaran Rusia. Gerakan revolusioner ini dilakukan secara bergerilya melalui bawah tanah dengan cara penyebaran literatur-literatur subversif dan berbagai aktivitas ilegal lainnya. Hal ini dikarenakan kaum intelegentsia hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menguji ide-ide mereka di dunia dan mempraktikkannya.
Situasi yang demikian dimanfaatkan oleh kaum Marxis untuk mendorong keadaan pada titik klimaks berupa demonstrasi mahasiswa, pemberontakan kaum petani terhadap tuan tanahnya dan pemogokan pabrik-pabrik. Bercermin dari kontak dengan Barat sebelum dan sesudah Perang Napoleon, hal ini membawa pengaruh besar bagi bagi revolusi yang terjadi di Rusia. Di satu sisi, sistem Tsarisme terlihat layaknya sistem kapitalis yang diterapkan di negara-negara Barat dan tentunya hal ini tidak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Rusia bahkan terkadang terlihat seperti barbar. Sebelum tahun 1917 penganut Marxis hanya sekelompok kecil saja. Gerakan revolusioner pertama yang merupakan bentuk penentangan terhadap kekuasaan tsar yang absolut adalah yang dikenal dengan Pemberontakan Desembris 1825. Gerakan ini melibatkan para perwira muda yang mengadakan perlawanan di alun-alun kota St.Petersburg dan menguasai ibukota Rusia tersebut untuk beberapa waktu. Namun gerakan ini tidak bertahan lama dan berhasil ditumpas. Para pemimpinnya dieksekusi mati dan sebagian diasingkan ke Siberia. Penyebab kegagalan gerakan ini antara lain kurangnya dukungan masyarakat dan tidak adanya konsep dan kepemimpinan yang jelas dan juga terlalu kebarat-baratan. Namun gerakan ini diyakini sebagai mukadimah yang membawa dampak yang cukup signifikan bagi gerakan revolusi selanjutnya di Rusia, sebelum munculnya Revolusi 1905, Revolusi Februari 1917 serta mencapai klimaksnya pada Revolusi Oktober 1917. Revolusi-revolusi inilah yang akhirnya mengubur dalam-dalam sistem pemerintahan absolut tsar dan menggantikannya dengan sistem komunisme.
Karl Marx pada awalnya merupakan anti-Rusia, karena sistem pemerintahan tsar di Rusia termasuk yang reaksioner, imperialis dan anti rezim kapitalis ala Eropa. Di samping itu, Rusia merupakan negara pertanian yang semi feodal, bukan negara kapitalis maju yang merupakan pengejawantahan yang pas bagi ide-ide yang dikemukakan olehnya. Namun begitu buku karangannya yang terkenal yaitu Das Kapital yang pada tahun 1872 diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa Rusia, pemikiran Marx banyak digunakan oleh kaum intelegentsia jauh sebelum Marx sendiri tertarik kepada Rusia.

Asal-usul Bolshevik
Bolshevik secara etimologi berasal dari kata больше (baca: bolshe) turunan dari kata bolshinstvo yang berarti lebih besar atau mayoritas karena merupakan kumpulan dari Partai Sosial Demokrat Buruh Rusia yang memisahkan diri dari lawannya yakni Menshevik ketika Kongres Partai ke-2 pada tahun 1903 yang pada akhirnya menjadi Partai Komunis Uni Soviet. Sedangkan lawannya di sisi lain yakni Menshevik berasal dari kata меньше (baca: menshe) yang merupakan turunan dari kata menshinstvo yang berarti lebih kecil atau minoritas. Dua kelompok yang dikenal dengan kelompok “keras” yang dipimpin Lenin dan kelompok “lembut” yang dipimpin oleh Martov hingga akhirnya kedua nama itu berubah menjadi Bolshevik dan Menshevik. Hal ini didasarkan atas fakta juga bahwasanya pendukung Lenin mengungguli pendukung Martov di dalam keanggotaan partai. Bahkan sejak tahun 1907 ada artikel di Inggris yang terkadang menggunakan istilah “maksimalis untuk Bolshevik serta minimalis untuk Menshevik”
Ketika monarki Rusia jatuh maka negara dipimpin oleh dua kekuatan yang satu sama lain saling bertentangan yakni Pemerintahan Sementara yang terdiri dari Kadet, Menshevik dan Sosialis Revolusioner (SR). Di sisi lainnya adalah para pekerja Petrograd yang bergabung dengan prajurit militer membentuk Soviet Petrograd yang banyak mendapat dukungan dari rakyat. Dalam hal ini, Soviet Petrograd memiliki kekuatan senjata yang tidak dimiliki oleh Pemerintahan Sementara. Rencana Revolusi Oktober telah dirancang oleh Lenin dua bulan sebelumnya. Dengan memanfaatkan prinsip Marx, Lenin memanfaatkan momentum perubahan yang terjadi di masyarakat akibat krisis pemerintahan. Sebelum menyerang Istana Musim Dingin yang menjadi simbol pusat Pemerintahan Sementara, ia terlebih dahulu menguasai objek-objek prasarana vital seperti jembatan, stasiun kereta api, pembangkit listrik, bank dan sebagainya.
Pada tanggal 10 Oktober 1917 Komite Sentral Partai Sosial Demokrat Buruh Rusia/ RSDRP (B) mengeluarkan sebuah resolusi tentang pemberontakan bersenjata yang hal ini ditentang oleh tokoh-tokoh komunis seperti Lev Kamenev dan Grigory Zinoviov. Namun suara mereka dapat dikalahkan oleh Lenin yang mengatakan pentingnya pengambilalihan kekuasaan dengan kekuatan bersenjata. Dua hari kemudian dibentuk Komite Militer Revolusi (VRK) yang diketuai oleh Pavel Lazimir walau pada kenyataannya organisasi ini berada di bawah kendali Lev Trotsky. Revolusi meliputi beberapa peristiwa penting:
• Kudeta Petrograd
Pada tanggal 25 Oktober 1917 diumumkan bahwa kekuasaan berpindah dari Pemerintahan Sementara ke Komite Militer Revolusioner pimpinan Pavel Lazimir. Diumumkan pula tuntutan rakyat yang berisi: pembentukan perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi dan pembentukan Pemerintahan Soviet.
• Sidang Soviet Seluruh Rusia
Sidang ini berlangsung selama tiga hari (25-27 Oktober 1917). Dalam sidang tersebut dibentuk Pemerintahan Soviet yang disebut dengan Soviet Komisaris Rakyat (SNK) yang diketuai oleh Vladimir Ilich Lenin (Kepala Negara). Sidang tersebut juga membentuk Komite Sentral Eksekutif Seluruh Rusia (VTsIK) yang diketuai oleh Lev Kamenev serta mengeluarkan dekrit penting menyangkut kebijakan domestik dan internasional yakni Dekrit Tanah (Zemlya) dan Dekrit Perdamaian (Mir).

Sumber-sumber Bolshevik
Gerakan kaum Bolshevik terinspirasi dari berbagai gerakan revolusioner yang semarak terjadi pada penghujung abad ke-19. Dua diantaranya yang paling penting yang dicatat sejarah adalah Westernisasi Peter Agung dan gerakan Slavophil. Satu diantara dua tersebut, yakni Westernisasi lebih bersifat kritis dimana menampilkan tradisi tsar Rusia.
 Terpengaruh oleh tulisan Vissarion Belinsky dan Alexander Herzen, kaum Bolshevik menyerang autokrasi sampai ke akar-akarnya menuju kekuatan kaum budak, ortodoks dan konsep negara Rusia sebagai suatu tuntutan mulia bagi bangsa Rus. Mereka mengadopsi pemerintahan konstitusional liberal dan merekonstruksikan kepada masyarakat melalui cara komunis.
Gerakan Slavophil yang dipimpin oleh orang-orang seperti Ivan Kireyevsky, Alexis Komyakov dan Konstantin Aksakov menyadari betul bahwa konsep “Eropanisasi” hanya akan menghancurkan nilai-nilai luhur bagi kehidupan dan jiwa bangsa Rusia. Mereka menggambarkan Barat sebagai suatu dekadensi, rusak akibat krisis religiusitas dan paham rasionalis serta materialis. Mereka berusaha mewujudkan Rusia yang maju berdasarkan jiwa dan nilai luhur bangsa Rusia serta tidak mengekor kepada Barat.
Pada tahun 1860 banyak dari kalangan kaum intelegentsia yang menerima pandangan Narodnik. Narodnik adalah sebutan bagi individu atau kelompok yang berorientasi pada rakyat, dari kata “Narod” yang artinya rakyat. Sebagai kaum agraris sosialis, Narodnik percaya bahwa Rusia akan mengalami progres kearah sosialis tanpa mengalami sistem kapitalis. Mereka meyakini bahwa petani Rusia adalah sosialis karena alam itu sendiri yang bebas dari perbudakan dan dengan segera akan membangun kehidupan masyarakat sosialis yang bersifat kolektif.
Landasan ide Bolshevik adalah Marxisme-Leninisme seperti: “Shto Delat?” (Apa yang Harus Dilakukan?), “Satu Langkah ke Depan, Dua Langkah ke Belakang”, “Dua Taktik Sosial-Demokrat dalam Revolusi Demokratis”, “Empiriokritisisme dan Historikal Materialisme” dan sebagainya. Kaum Bolshevik berkeyakinan bahwa konflik sosial dan pertentangan yang terjadi di Rusia merupakan hal yang harus terjadi dan revolusi merupakan suatu hal yang mutlak terjadi demi menyelesaikan konflik dan pertentangan tersebut. Serta diyakini pula bahwa pentingnya masa transisi dari kapitalisme menuju sosialisme  dimana diktatur proletariat menjadi syarat wajib bagi masa transisi tersebut.
Bagian dari revolusi pertama di Rusia yang diatur oleh kaum Narodnik disusun pada tahun 1876 yang dikenal dengan Land and Freedom. Pertentangan taktik segera memprovokasi penarikan diri dari organisasi oleh gerombolan teroris yang membentuk Narodnaya Volya (Kehendak Rakyat). Beberapa jenis anarkis ditemukan dalam intelegentsia. Beberapa diantaranya menganut filosofi anarkis damai seperti Peter Kropotkin dan Leo Tolstoy, namun kebanyakan menjadi pengikut Mikhail Bakunin. Anarkisme Bakunin menempati tekanan tinggi dalam destruksi kekerasan daripada institusi yang ada –negara, gereja, keluarga dan kepemilikan pribadi. Barangkali kebanyakan dari aksi revolusioner di Rusia, ia mengangkat kekerasan sebagai instrumen dalam hal pembersihan dan penyelamatan. Tidak ada kompromi. Sistem lama harus dihancurkan dan bukan untuk diperbaharui. Untuk hal ini Bakunin dan murid sekaligus koleganya yakni Sergei Nechaev memberlakukan kontrol yang tinggi, pengorganisasian secara disiplin, serta pendedikasian tunggal bagi destruksi kerja. Konsepsinya mengenai revolusi yang ideal tercantum dalam Catechism of Revolutionarist yang ditulisnya pada musim panas tahun 1869: Revolusi menjadikan manusia sebagai korban juga sebagai tanda pengorbanan. Dia tidak memiliki laba perseorangan, urusan, perasaan, dasi-dasi, properti bahkan namanya sendiri. Ia hanya mengenal satu pengetahuan yakni penghancuran, sebuah destruksi tanpa ampun yang mencakup sosial dan negara:
“The Revolutionist is a doomed man. He has no private interests, no affairs, sentiments, ties, property nor even a name of his own. His entire being is devoured by one purpose, one thought, one passion - the revolution. Heart and soul, not merely by word but by deed, he has severed every link with the social order and with the entire civilized world; with the laws, good manners, conventions, and morality of that world. He is its merciless enemy and continues to inhabit it with only one purpose - to destroy it.

Selayang Pandang Pembentukan USSR dan RSFSR
The Union of Soviet Socialist Republics atau biasa disebut Uni Soviet merupakan bentuk konstitusional yang eksis berada di kawasan Eurasia yang berdiri pada 30 Desember 1922 sampai dengan keruntuhannya pada 1991. Konstitusi pertama Soviet diadopsi dari Kongres Soviet Rusia ke-5 dan diumumkan pada tanggal 10 Juli 1918. Hal inilah cikal bakal terbentuknya Republik Sosial Federasi Soviet Rusia atau RSFSR.
Uni Soviet mempunyai motto “Пролетарии всех стран, соединяйтесь!” (baca: Proletarii vsekh stran, soedinyaytes!) yang artinya para buruh di seluruh dunia, bersatulah. Slogan ini terpatri pada patung pencetus Marxisme yakni Karl Marx di Moskwa. Mereka juga mempunyai lagu kebangsaan yakni The Internationale (1922–1944) dan Hymn of The Soviet Union (1944–1991).
 Pemilihan umum lokal Soviet menyerahkan kekuasaan kepada kongres provinsi Soviet dan kongres-kongres yang merupak anggota seluruh kongres Soviet Rusia. Yang terakhir adalah memilih komite eksekutif yang mengambil keputusan pada waktu jeda antara sesi-sesi kongres dan Wakil Komisaris Rakyat. Pemilihan umum bersifat terbuka dari rahasia dan mereka yang duduk di parlemen menyusun dasar kelas bersama pekerja industri yang khususnya sangat kuat dalam merepresentasikan nilai yang ada. Sebaliknya, kelas non-pekerja keras tidak mendapatkan hak suara.
Menurut Lenin, anggota partai adalah seorang yang menerima programnya dan mendukung secara utuh dalam hal materi dan keikutsertaan pribadi dalam sebuah organisasi. Sedangkan lawannya Martov mengajukan tindakan alternatif, menurutnya anggota Partai Buruh Sosial-Demokrasi Rusia adalah seorang yang menerima programnya dan mendukung secara utuh keikutsertaan materi serta kerjasama yang teratur di bawah kepemimpinan organisasi tersebut.
Akibatnya, Partai Komunis terutama sekali Komite Sentral dan Biro Politik dipimpin oleh Lenin, sejak awal mendominasi aparat negara dan mengendalikan negara. Pada tanggal 30 Desember 1922, USSR menjadi federasi Rusia, Ukraina, Belarusia, dan Transkaukasia. Akhir abad ke-20 tiga Republik Sentral Asia diterima dengan status Uni Republik. Dibandingkan dengan Dinasti Romanov, negara baru kehilangan Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan teritori Polandia, seluruhnya telah menjadi merdeka, dan lepas sebelah barat Ukraina dan sebelah barat Belarusia kepada Polandia, Bessarabia kepada Rumania, dan daerah Kars Arkhdan di Transkaukasia kepada Turki serta Jepang yang telah mengevakuasi seluruh semenanjung Siberia pada tahun 1922 dan setengah Pulau Sakhalin pada 1925. Dengan mengesampingkan hal tersebut USSR merupakan negeri yang besar yang pernah mencatatkan namanya dalam lembar sejarah dunia.


Daftar Referensi:

Carr, E.H. The Bolshevik Revolution 1917-1923, vol.1. London: 1950
Fahrurodji,A. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Penerbit: Obor. Jakarta. 2005
Hosking, Geofery. History of The Soviet Union
Mc Closky dan Turner. The Soviet Dictatorship
Riasanovsky, Nicholas V. A History of Russia. Second Edition