Cintaku Tertinggal di Kampus Hijau: Catatan Mahasiswa Gagal
oleh RM Kencrot
Copyright 2021
Prolog
Baiklah.
Langsung saja aku mulai ceritanya.
Tahun 2020 mungkin menjadi tahun kebahagiaan bagi
orang-orang, namun mungkin ini adalah tahun kesialan buatku. Cobaan demi
cobaan, penderitaan, hantaman, gangguan, semuanya komplit menghiasi tahun ini.
Entah fengshui macam apa yang cocok untukku.
-
Masih teringat jelas hantaman seraya ayunan tangan
sekuriti kampus waktu itu. Suaranya mendesing bagaikan peluru Perang Diponegoro
1825. Perang yang selalu jadi bahan lelucon yang katanya paling singkat ba’da
maghrib, namun bagiku tidak lucu.
Rasanya ingin mengumpat. Bangsat. Sakitnya itu terngiang-ngiang layaknya berisik ibu-ibu arisan di awal bulan.
Semesta waktu itu memang tidak berpihak kepadaku.
Begitu pikiranku waktu itu. Pikiran anak mahasiswa semester 5 yang belum lulus.
Kalau kata dosenku, mahasiswa semester 5 itu ibarat hidup segan mati tak mau.
Tanggung. Semuanya serba tanggung.
Namaku Wawan
Hai perkenalkan, namaku Wawan. Begitu aku biasa
dipanggil oleh teman-teman dan juga orang tuaku. Tak ada yang spesial dari
namaku. Buatku namaku itu sangat norak, tapi itu dulu ketika aku masih
berseragam sekolah. Waktu itu aku belum bisa bersyukur atas sebuah nama. Iya
sebuah nama yang pasti ada di kolom absensi dosen. Namun kini aku paham nama
Wawan adalah nama paling keren yang pernah ada. Aku semakin percaya diri kalau
namaku itu sudah ditakdirkan jauh sebelum sidang pembaca yang budiman sudah
sudi-sudinya mau baca tulisan kalimat demi kalimat ini.
Wawan Suryajaya.
Entah apa artinya entah apa maksudnya orangtuaku kasih
nama itu. Mungkin yang aku tahu ya palingan cuma kata surya, yang bermakna
matahari. Dulu sih memang gitu jaman sekolah belum seperti sekarang ini aku
sering bau matahari kata teman-temanku. Anak generasi 90an pasti paham dengan
frase bau matahari. Di samping bau matahari ada istilah populer ketika itu,
yaitu bau naga. Istilah yang aku baru tahu artinya setelah kuliah, itu pun
dikasih tahu dosenku. Bau naga itu istilah yang berasal dari konon dulu pernah
ada minuman bermerk Naga, yang ngetren di jaman baby boomers, baunya tidak enak
karena mengandung alkohol. Oleh karena itu orang yang doyan minum minuman
bermerk naga maka aroma mulutnya disebut bau naga.
Aku duduk di bangku perkuliahan semester tanggung.
Sial, pikirku. Benar juga kata dosenku yang satu itu, beliau bilang dengan kelakar
namun serius kalau mahasiswa macam aku ini sedang galau-galaunya. Galau
akademis dan romantis. Begitu tutur beliau.
Kampus itu terdiri dari perjuangan dan romantisme,
ucap dosenku menirukan quotes Pidi Baiq pengarang novel Dilan yang terkenal
itu. Mungkin untuk beberapa mahasiswa itu benar dan berlaku. Buatku tidak. Aku
sama sekali tidak merasakan makna perjuangan dan romantisme di kampus hijau
ini. Nama kampusku lumayan keren. Universitas Indah Berseri, disingkat Undasri.
Penamaan yang cukup Jawa. Ya maklum saja, kampusku kan lokasinya di Jakarta
Selatan yang ada di pulau Jawa. Jadinya cara berpikirku sangat Jawa-sentris.
Temanku ada yang dari Ternate, Maluku Utara. Kalian
pasti yang anak Jakarta agak asing dengan nama Ternate. Aku pun begitu awalnya.
Pikirku itu tempat pasti jauh sekali dari ibukota Indonesia. Jauh nun jauh di
timur sana. Aku jadi ingat waktu nonton televisi kalau ada peran orang timur
Indonesia pasti heboh. Jahatnya lagi televisi sering menggambarkan orang timur
Indonesia itu selalu membuat onar biang kriminal, sungguh brengsek memang.
Peran-peran penjahat atau penagih utang alias debt collector selalu diperankan
oleh saudara kita dari timur Indonesia. Sungguh sebuah diskriminasi layar kaca
dan pelecahan atas identitas suku bangsa dan budaya secara bersamaan.
Mungkin yang paling jelas sekali itu di film The Raid
waktu adegan pace tipu-tipu. Entah. Saya sulit mencerna adegan tersebut,
soalnya digambarkan adegan itu sedikit jenaka menggunakan peran pace, panggilan
kakak atau mas untuk orang Papua, yang sedang mencari target sasaran di rumah
susun. Kadang hal semacam itu yang selalu nyangkut di pikiranku. Kenapa saudara
dari timur Indonesia selalu menjadi bahan keburukan di media, bahan kebencian,
selalu disimbolkan dengan hal negatif. Dosenku pernah bilang, diskriminasi
media terhadap ras orang timur Indonesia hampir seluruh perspektif mulai dari
warna kulit, logat bicara, yang kerap dijadikan stereotip negatif. Pertanyaan
sederhana di otakku cuma itu, apa ada orang yang lahir ke dunia ini bisa
memilih kapan, dimana, dan dengan jenis rasa apa dia dilahirkan? Jawabannya
pasti tidak ada. Anehnya hal semacam ini menjadi suatu kelumrahan dan dianggap
biasa saja dalam industri media.
Buatku tak ada urusan apa suku bangsamu, apa agamamu,
apa selera makanmu. Selama orang itu berbuat baik dan melaksanakan tugasnya
sebagai manusia sebagaimana mestinya itulah hakikatnya manusia. Aku pernah
dengar sebuah quotes, kalau kau tidak mampu membuat orang lain bahagia, minimal
jangan kau buat orang itu susah dan jengkel. Hidup ini hanya sementara, pilihan
cuma ada 2, berbuat baik atau buruk, itu saja.
Aku hidup di daerah perkotaan yang kumuh, sebut saja
di Tambora. Kalian tahu nama itu? Kalau kalian tahu itulah nama tempat di
sebelah barat Jakarta yang popular dengan kebakaran. Saking banyaknya
intensitas kebakaran dan seolah seperti rutinitas, temanku pernah berkelakar
bahwa kebakaran di kampungku itu ibarat arisan ibu-ibu yang setiap saat gonta
ganti nama yang keluar. Bedanya ini nama yang keluar untuk kebakaran rumahnya.
Sungguh tragis. Mungkin berita kebakaran di kampungku saking banyaknya jadi
bikin media itu bosan dan jenuh memberitakan kebakaran di kampungku, walhasil
aku pindah rumah pada tahun 2010 ikut orangtuaku ke daerah timur Jakarta, tepatnya di bilangan Pisangan
Lama. Aku habiskan masa kecilku sampai dewasa di sini. Sebagai kebanggaan warga
Pisangan. Hijrah dari pemukiman warga yang penuh dengan dinamika di Tambora ke
daerah yang sebenarnya agak mirip namun lebih minim dari kasus kebakaran.
Mungkin kalau di kampungku yang baru kasusnya lebih banyak kebakaran jenggot
walau korbannya tidak punya jenggot sama sekali.
Namaku punya cerita yang unik. Konon waktu aku tanya
bapakku kenapa namaku Wawan, ada kisah di balik itu. Jadi, waktu bapakku masih
muda, beliau mengidolakan grup band Dewa 19. Waktu itu personel pertamanya yang
bertugas sebagai penggebuk drum bernama Wawan Abi. Bapakku sangat suka bermain
drum, dan dia tergila-gila pada permainan penggebuk band Dewa 19 itu, menurut
bapak, permainan drum Wawan Abi pada masa itu tidak lazim karena industri musik
sedang dikuasai oleh peralihan disko ke pop cengeng.
Bicara soal nama, tampaknya budaya Indonesia agak unik
soal penamaan orang. Mau sekeren apapun namanya, sepanjang apapun namanya tetap
saja disapa dengan nama yang pendek atau nama samaran. Anggaplah aku adalah
orang terkenal, artis kah selebgram kah atau pejabat kah. Namaku Wawan Suryajaya,
tetap saja dipanggil Wawan, pahit-pahitnya cuma Wan. Lain hal kalau orang itu
punya gelar di masyarakat misalnya ustadz, kyai, dosen, atau lain sebagainya
yang menunjukkan gelar kehormatan atau akibat dari sesuatu konsekuensi.
Misalnya Prof Refly Harun, menunjukkan beliau sudah melengkapi gelar akademis
dan honorisnya sebagai profesor bidang hukum sehingga diganjar dengan gelar
prof.
Ada kisah unik soal nama gelar ini. Di Madura pernah
ada seorang bapak yang sudah menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu haji. Kultur di
sana penamaan semacam ini sangat sensitif dan memiliki arti yang sangat
esensial. Si bapak ini berprofesi sebagai pedagang ikan di pasar. Sehingga
suatu ketika si bapak Madura itu sedang di pasar, beliau sampai tidak mau
menengok ketika dipanggil namanya, barulah ketika dibubuhi imbuhan Pak untuk
bapak dan Haji karena sudah haji, beliau baru mau berpaling. Edan.
Di Indonesia begitu mudahnya orang memanggil atau
menyematkan gelar Haji atau Ustadz untuk orang laki-laki yang mengenakan
pakaian muslim lengkap dengan baju koko, sarung, dan peci. Stereotip semacam
ini sudah lazim dan jamak di masyarakat. Anggaplah ada dua sisi, yaitu baik dan
buruk. Sisi buruknya ya jelas, kalau memang si orang itu belum haji atau bukan
ustadz, ya jelas salah. Namun anggaplah sisi baiknya bahwa itu merupakan doa
agar si orang yang dipanggil Haji atau Ustadz tersebut menjadi lebih baik. Ada
semacam beban tak tertulis di masyarakat soal penamaan ini.
Beberapa anak muda mungkin bangga dengan kampusnya.
Bangga dengan nama besar kampus. Atau mungkin karena isinya dihuni oleh
mahasiswi yang rata-rata cantik. Artinya banyak faktor untuk bangga kepada
almamater kampusnya. Namun rasanya buatku jauh panggang dari api, sama sekali
tak ada rasa kebanggaan kepada almamater bagiku. Nanti aku bakalan cerita soal
kampusku.
Berhubung rumahku di kampong pinggiran kota, jadinya
aku mesti irit naik kendaraan umum dari rumah ke kampus. Biasanya aku naik
Mikrolet 02 jurusan Pulogadung-Kampung Melayu turun di Stasiun Jatinegara untuk
lanjut naik KRL Commuter jurusan Bogor. Maklum posisi kampusku dekat perbatasan
Jakarta dan Depok di jalur akademis, sebutan teman sekelasku. Seperti yang
pernah aku ceritakan sebelumnya, aku malas menyebut nama kampusku. Biarkan jadi
kenangan seperti lagu cengeng tahun 80-an.
Turun dari kereta, aku harus nyambung angkot ke
kampus, namun berhubung aku malas jadinya jalan kaki. Iya memang aku malas,
lebih tepatnya malas mengeluarkan uang untuk sopir angkot. Namun aku memaknai
itu dengan berbeda, bukan ikut-ikutan sok cinta lingkungan, lebih tepatnya
hanya ingin menghargai kaki yang telah diberikan oleh Tuhan agar dipergunakan
sebagaimana mestinya. Aku merasa problem manusia modern itu kurang menghargai
dan bersyukur atas karunia dan berkah yang dianugerahkan semesta. Salah satunya
ya jalan kaki. Anggaplah ini sebagai ritual agar jiwa dan raga ini menjadi
seimbang, tidak melulu bergantung kepada teknologi mesin.
Dosenku pernah bercerita soal rute dari rumah ke
kampus dan sebaliknya. Menurutnya, itu seperti ilustrasi pikiran manusia.
Semesta itu penuh dengan keruwetan namun teratur. Begitu kalimat-kalimat yang
saya pelajari dari dosen ilmu komunikasi saya, namanya Pak Un, begitu beliau
biasa disapa. Saya selalu menduga nama Un itu mungkin terkait dengan pemimpin
besar Korea Utara, Kim Jong Un. Atau mungkin juga terkait dengan nama took
legendaris yang ada di Semarang dan beberapa kota besar di Jawa, yaitu Toko Oen
yang dibaca Un. Entahlah.
Ngomong-ngomong soal semesta, aku mengidolakan Frank
Zappa dalam memandang konsep semesta. Banyak orang beranggapan kalau dia adalah
musisi pionir dari musik masa depan, namun bagiku dia adalah pemikir hebat
dalam sejarah. Kuotasi paling terkenalnya soal semesta itu bahwa menurutnya
ilmuwan beranggapan bahwa blok hidrogen merupakan konstelasi utama pembentuk
semesta karena jumlahnya yang amat banyak menghias angkasa, namun bagi Frank
Zappa ada yang lebih besar jumlahnya dari hidrogen, yaitu bernama kebodohan dan
itulah yang menjadi blok dasar pembentuk semesta.
Suatu hari pernah aku berangkat pagi sekali ke kampus.
Alasannya sederhana, ingin mencoba jalan kaki dari Stasiun Pasar Minggu.
Lumayan sedang untuk jarak tempuh dari stasiun ke kampus. Ternyata bukan hanya
aku saja, beberapa mahasiswa lain juga menempuh cara yang sama ke kampus dengan
jalan kaki. Omong-omong soal jalan kaki, aku pernah bertemu orang suku Badui
yang jalan kaki dari desa Ciboleger sampai Jatiwaringin Jakarta menempuh waktu
sampai lima hari sambil berjualan madu.
Maaf kalau ceritaku ini lompat sana dan sini, maklum
pikiranku terbiasa begitu. Namun sebenarnya aku ini manusia yang sangat runut
atau bahasa lainnya itu strukturalis tapi bukan yang bersi perfeksionis yang
memandang segala cara hidup dengan sempurna bahkan sampai ke hal yang detail. Bahkan
mungkin dapat dikatakan aku itu orang yang minimalis, tapi bukan pelit. Harap
dibedakan antara konsep minimalis dengan konsep frugal living yang lebih
menjurus ke arah pelit. Bagiku hidup hanya sekali, sudah itu kita mati an
kemudian hidup selama-lamanya. Maka dari itu buat apa jadi orang yang mubazir
beli ini dan itu tanpa tahu untuk apa tujannya. Masih banyak di luar sana orang
yang lebih membutuhkan ketimbang kita. Bukan begitu? Kalimat terakhir ini aku
dapat dari ceramah ustadz di mesjid.
Mungkin bagi sebagian orang, perjalanan menuju kampus hanyalah
rutinitas yang membosankan. Namun bagiku, rute menuju Universitas Indah
Berseri—atau Undasri, sebut saja begitu—adalah sebuah laboratorium sosial
terbuka. Setiap langkah kakiku di trotoar yang kadang mulus dan seringnya
berlubang, adalah pengamatan atas kebudayaan urban yang kacau balau namun tetap
berjalan dengan ritmenya sendiri.
Setiap pagi, aku adalah saksi bisu dari drama kehidupan para
komuter. Ada bapak-bapak yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka di
kursi mikrolet, ada remaja yang asyik scrolling media
sosial hingga melewatkan pemberhentiannya, dan ada juga pedagang asongan yang
suaranya selalu berhasil menembus bising knalpot kendaraan. Semua itu, kalau
kata Pak Un—dosen komunikasi favoritku—adalah representasi dari
"kebisingan komunikasi" yang sebenarnya tidak pernah benar-benar sampai
pesannya kepada audiens yang tepat.
Sampai di depan gerbang kampus, aku selalu disambut dengan
pemandangan yang kontradiktif. Di satu sisi, gedung-gedung dengan arsitektur
modern yang mencoba terlihat megah, namun di sisi lain, sering ada
spanduk-spanduk kusam yang entah sudah berapa tahun terpasang, berisi
pengumuman-pengumuman yang sudah kedaluwarsa.
Hari itu, aku melihat sekuriti yang sama—orang yang pernah
kuhindari karena insiden "ayunan tangan" yang sempat kuceritakan di
prolog. Dia masih berdiri di posnya dengan wajah yang sama: kaku, garang, dan
seolah sedang menjaga gerbang istana Buckingham, bukan gerbang kampus swasta
yang mahasiswanya lebih banyak memikirkan bagaimana cara agar bisa ikut ujian
daripada memikirkan nasib negara.
Aku menarik napas panjang. Hari ini ada kelas Media Produksi.
Mata kuliah yang mengharuskanku memutar otak, sesuatu yang sebenarnya sangat
enggan kulakukan di pagi hari. Di kepalaku masih terngiang kutipan Frank Zappa
soal "kebodohan sebagai penyusun utama semesta." Melihat rekan-rekan
mahasiswa yang datang dengan gaya berpakaian yang mencoba terlihat hype namun tampak kaku, aku bertanya pada diriku
sendiri: apakah aku juga bagian dari tumpukan blok hidrogen kebodohan itu?
Aku melangkah masuk, melewati gerbang dengan perasaan yang
bercampur aduk. Rasa tidak bangga itu bukan berarti aku membenci tempat ini.
Justru, aku merasa terjebak dalam hubungan benci tapi rindu dengan
gedung-gedung tua yang catnya mulai mengelupas ini. Di sini, di kampus hijau
ini, aku merasa seperti sebuah narasi yang belum selesai ditulis. Aku adalah
mahasiswa semester 5 yang masih meraba-raba, masih bergelut dengan definisiku
sendiri, dan masih menyimpan "cinta" yang mungkin saja tertinggal di
sudut kantin atau di antara tumpukan lembar jawaban ujian yang tak pernah
kunilai dengan benar oleh dosen yang sedang bad mood.
Aku berjalan menuju ruang kelas, merogoh saku, dan menemukan
sisa uang receh untuk membeli kopi sachet di kantin belakang. Hidup memang
tanggung, tapi setidaknya, kopi pahit bisa membuat segalanya sedikit lebih bisa
diterima.
"Wawan!" seseorang memanggilku dari kejauhan.
Aku menoleh. Itu Budi, teman seangkatanku yang selalu punya
teori konspirasi tentang apapun—mulai dari harga gorengan yang naik sampai isu
kiamat yang katanya akan terjadi di tahun kabisat.
"Wan, sudah dengar belum? Katanya Pak Un mau bikin
kebijakan baru soal tugas akhir," ujarnya dengan napas terengah-engah,
seolah baru saja lari maraton dari Depok ke Jakarta.
Aku hanya tersenyum kecut. "Kebijakan baru? Paling isinya
sama saja. Perintah untuk berpikir kritis tapi dilarang mengkritik yang memberi
tugas."
Budi terdiam sebentar, lalu tertawa keras. Tawa yang, entah
kenapa, terdengar seperti suara petir di musim hujan. "Sial, benar juga
kau, Wan. Benar juga."
Kami pun berjalan beriringan menuju kelas, melintasi
lorong-lorong kampus yang mulai ramai. Ceritaku, dan ceritanya, baru saja akan
dimulai kembali di semester yang penuh dengan ketidakpastian ini.
Langkah kami terasa berat, seolah lorong fakultas ini memiliki
gravitasi yang berbeda, menarik tumit sepatu kami agar melambat, seakan-akan ia
enggan mengantarkan kami menuju ruang kelas yang pengap itu. Budi masih terus
nyerocos tentang teorinya, kali ini ia membahas kaitan antara harga kuota
internet dengan tingkat depresi mahasiswa akhir, sebuah argumen yang sebenarnya
cukup masuk akal jika disandingkan dengan realita dompet kami yang menipis.
Namun, pikiranku melayang jauh ke arah lain. Aku teringat kembali pada kutipan
Frank Zappa tentang kebodohan sebagai penyusun utama semesta. Jika aku
memperhatikan papan pengumuman yang penuh dengan tempelan kertas tak beraturan,
poster organisasi yang sudah pudar warnanya, dan lalu-lalang mahasiswa yang
saling berpapasan tanpa pernah benar-benar menatap mata satu sama lain, aku
mulai merasa bahwa kampus ini memang hanyalah sebuah makrokosmos dari sebuah
kekacauan yang terorganisir dengan rapi. Kami semua, para mahasiswa di semester
lima ini, hanyalah atom-atom yang bergerak secara acak, berbenturan satu sama
lain tanpa tujuan yang jelas, terjebak dalam rutinitas yang konon katanya akan
mengubah masa depan kami, padahal yang terjadi justru sebaliknya—kami
perlahan-lahan tergerus oleh ekspektasi yang tak pernah kami pilih sendiri.
Sesampainya di depan pintu kelas 304, aku berhenti sejenak,
menatap pintu kayu yang catnya sudah mulai retak-retak di bagian bawah, hasil
tendangan-tendangan frustrasi para mahasiswa tahun lalu yang mungkin sudah
menyerah sebelum sempat menamatkan skripsi mereka. Di balik pintu itu, Pak Un
pasti sudah duduk dengan setumpuk kertas di atas mejanya, menanti untuk
menghakimi isi kepala kami dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan yang ia
samarkan sebagai diskusi akademis. Aku teringat akan ucapan dosenku itu
beberapa minggu lalu: "Komunikasi itu bukan sekadar
menyampaikan pesan, Wawan, melainkan tentang bagaimana kita bertahan hidup di
tengah riuhnya kebisingan yang diciptakan oleh ego manusia."
Kalimat itu sempat membuatku termenung berhari-hari di Pisangan Lama,
memikirkan apakah komunikasiku dengan dunia selama ini hanya sebatas monolog
yang tak pernah sampai, atau memang dunia yang terlalu bising untuk mendengar
suara-suara sumbang seperti diriku. Aku menarik napas panjang, mencoba meresapi
aroma debu dan kapur tulis yang sudah menjadi ciri khas ruangan ini—aroma yang
memicu perpaduan rasa nostalgia dan kemuakan yang aneh.
Budi membuka pintu dengan suara derit yang menyayat telinga, dan
seketika itu pula, percakapan kami terhenti, digantikan oleh hening yang
canggung di dalam kelas. Pandangan mata teman-temanku beralih ke arah kami—ada
tatapan iba, ada yang acuh tak acuh, dan ada yang justru menatap kami dengan
tatapan penuh rasa ingin tahu, seolah kami adalah orang asing yang baru saja
memasuki ruang tunggu menuju hukuman mati. Di pojok ruangan, seorang mahasiswi
yang kukenal bernama Sarah sedang sibuk menyusun tumpukan buku yang tebalnya
seperti kamus bahasa asing, tatapannya tajam menatap layar laptop seakan-akan
ia sedang meretas sistem pertahanan negara, bukan sekadar mengerjakan tugas
resume mata kuliah. Aku duduk di bangku paling belakang, tempat yang secara
teknis memang paling strategis bagi mereka yang ingin menghilang dari jangkauan
pandangan dosen, namun juga menjadi tempat paling pengap karena minimnya
sirkulasi udara di dekat jendela yang macet. Sambil merogoh buku catatan yang
sampulnya sudah penuh dengan coretan abstrak, aku menyadari satu hal: di dalam
ruangan yang sempit dan berdebu ini, di tengah-tengah ratusan mahasiswa yang
semuanya merasa paling menderita, aku justru menemukan sebuah kenyamanan yang
ganjil. Mungkin, "cinta yang tertinggal di kampus hijau" itu bukanlah
tentang seseorang atau sebuah romansa klise yang berakhir di pelaminan,
melainkan tentang penerimaan diri bahwa kami memang sedang tersesat, bahwa kami
memang mahasiswa yang gagal dalam mengejar standar kesuksesan yang dipaksakan
oleh arus zaman, namun setidaknya, kami masih bisa duduk di sini, berbagi
kegelisahan, dan menertawakan betapa absurdnya kehidupan ini bersama-sama
sebelum akhirnya nanti, kami benar-benar harus keluar dari gerbang ini dan menghadapi
dunia yang jauh lebih kejam di luar sana.
Kehadiran Ririn di kelas 304 bukanlah sekadar kehadiran fisik.
Ia adalah variabel yang merusak keseimbangan ekosistem kelas yang tadinya
tenang dalam kebosanan. Ririn, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan
cara berpakaian yang selalu selangkah lebih berani dibanding mahasiswi lain di
Undasri, mendadak menjadi pusat gravitasi baru. Ia bukan sekadar mahasiswi; ia
adalah anomali. Dan seperti hukum fisika yang selalu mencari keseimbangan,
kehadirannya justru menarik dua kutub yang sebenarnya berlawanan: aku—si Wawan
yang sinis dan minimalis—dan Budi—si teoritikus konspirasi yang selalu gelisah.
Semuanya bermula dari sebuah tugas kelompok untuk mata kuliah
Media Produksi. Pak Un, dengan senyum tipisnya yang misterius, secara acak
memasangkan kami dalam satu tim: aku, Budi, dan Ririn. Awalnya, aku mengira ini
adalah bencana. Bagaimana tidak? Ririn adalah tipe orang yang menganggap hidup
adalah panggung sandiwara, sementara aku dan Budi adalah tipe yang sering
merasa bahwa hidup hanyalah sebuah ruang tunggu yang membosankan. Namun, Ririn
memiliki cara unik untuk menembus dinding pertahananku. Ia tidak bicara soal
teori komunikasi atau masa depan karir yang abstrak; ia bicara soal hal-hal
yang tidak penting namun terasa nyata. Ia bercerita tentang tempat-tempat makan
tersembunyi di Jakarta Selatan, tentang bagaimana cara memanipulasi sistem
absensi tanpa ketahuan, hingga teori-teori ngawur soal mengapa
dosen sering kali merasa perlu menjadi otoriter agar tidak merasa kehilangan
kendali.
Tanpa kusadari, aku mulai sering menunggu kehadirannya di bangku
depan. Aku mulai memperhatikan detail kecil; bagaimana ia selalu menyelipkan
pulpen di balik telinganya saat berpikir, atau bagaimana ia sering tertawa
kecil setiap kali Budi mulai mengeluarkan teori konspirasi paling anehnya. Dan
di sinilah masalahnya bermula. Budi, yang biasanya hanya peduli pada isu kiamat
atau harga barang, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kompetitif. Ia mulai
rajin dandan, rajin mencuci jaket kesayangannya, dan—yang paling
menjengkelkan—ia mulai mencoba memikat perhatian Ririn dengan cara-cara yang
sok pintar, menirukan gaya dosen favorit kami.
Cinta segitiga itu tidak muncul dengan deklarasi yang dramatis
atau adegan romantis ala film layar lebar. Tidak, ini adalah drama kampus hijau
yang lebih dekat pada sebuah tragedi komedi. Ririn, dengan sadar atau tidak,
menikmati dinamika tersebut. Ia membiarkanku merasa spesial saat ia meminjam
buku catatanku, namun di saat yang sama, ia tertawa paling keras atas lelucon
garing Budi. Kami berdua, Wawan dan Budi, terjebak dalam perang dingin yang
tidak tertulis. Kami mulai berlomba mencari muka, mulai dari berebut duduk di
sampingnya saat mengerjakan tugas kelompok di kantin, hingga saling mengoreksi
cara bicara satu sama lain di depan Ririn.
Bagi Ririn, mungkin ini hanyalah hiburan di tengah semester lima
yang membosankan. Namun bagiku dan Budi, ini adalah pertaruhan harga diri. Aku,
yang tadinya merasa sangat idealis soal menjaga integritas sebagai mahasiswa
"gagal" yang mandiri, perlahan-lahan mulai kehilangan fokus. Aku
sering mendapati diriku melamunkan Ririn saat sedang berjalan kaki menuju
stasiun, memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa terlihat lebih menarik
dibanding Budi yang konyol. Sementara itu, Budi mulai memandangku dengan
tatapan yang penuh kecurigaan, seolah aku adalah agen rahasia yang mencoba
menggagalkan misi utamanya untuk memenangkan hati mahasiswi itu. Kampus hijau
yang tadinya hanya tempat untuk menuntut ilmu—atau setidaknya menuntaskan
kewajiban—kini berubah menjadi medan perang perasaan yang konyol. Kami semua
terjebak dalam permainan yang tidak kami mengerti aturannya, sementara Ririn,
sang pusat anomali itu, hanya tersenyum manis, membiarkan kami berdua
perlahan-lahan kehilangan akal sehat di tengah deru kehidupan kampus yang
semakin hari semakin tidak keruan.
Suasana di antara kami bertiga menjadi kental dengan ketegangan
yang ganjil, seperti udara sebelum badai di bulan Desember. Ririn, dengan
segala pesonanya yang nakal dan tak tertebak, seolah menikmati setiap detik
kompetisi diam-diam yang kami jalankan. Ia adalah agen kekacauan yang sempurna.
Suatu hari, di sudut kantin yang berbau minyak goreng bekas dan aroma kopi yang
sudah dingin, Ririn dengan sengaja membiarkan tasnya jatuh terbuka, menumpahkan
isi jurnal pribadinya tepat di hadapanku dan Budi.
"Ups, jangan dibaca ya," ucapnya dengan nada jenaka
yang terdengar lebih seperti undangan daripada peringatan.
Tentu saja, bagi Budi yang paranoid dan aku yang sedang dilanda
krisis eksistensial, itu adalah jebakan maut. Budi dengan sigap menyambar buku
itu sebelum aku sempat bertindak, wajahnya memerah padam saat ia membaca baris
demi baris yang ditulis Ririn. Mataku pun tak bisa menahan diri untuk tidak
ikut mengintip. Di sana, tertulis deskripsi tentang kami—bukan deskripsi
romantis, melainkan observasi tajam yang seolah menelanjangi jiwa kami. Ririn
menulis tentang "Wawan si sinis yang kesepian" dan "Budi si
badut yang putus asa."
Ririn tertawa terpingkal-pingkal saat melihat raut wajah kami
yang membeku. "Kalian lucu sekali," ujarnya, suaranya kini terdengar
lebih rendah, lebih menusuk. "Kalian merasa sedang memperebutkan hadiah,
ya? Padahal, mungkin kalian hanya sedang mencari seseorang untuk disalahkan
atas kebosanan hidup kalian sendiri."
Kata-katanya seperti tamparan keras di siang bolong. Budi
terdiam, ia yang biasanya punya seribu teori untuk menjelaskan dunia, kali ini
kehilangan kata-kata. Aku sendiri merasa seperti baru saja dipukul mundur ke titik
nol. Selama ini, aku merasa diriku adalah pengamat yang objektif, namun Ririn
baru saja menunjukkan bahwa aku hanyalah subjek dalam pengamatannya yang jauh
lebih dingin dan kalkulatif.
Sejak hari itu, dinamika kami berubah drastis. Perang dingin
yang tadinya penuh dengan upaya untuk saling memenangkan hati Ririn, perlahan
berubah menjadi ketergantungan yang beracun. Kami bertiga mulai sering
menghabiskan waktu bersama di luar jam kampus, menyusuri trotoar Jakarta
Selatan yang bising, mengunjungi pameran seni yang tidak kami pahami, atau
sekadar duduk di atas motor Budi di pinggir jalan tol, menatap lampu-lampu kota
yang tampak seperti kunang-kunang raksasa yang terjebak dalam polusi.
Ririn tetap menjadi misteri. Ia tak pernah benar-benar memilih.
Kadang ia menggandeng lenganku saat menyeberang jalan, membuat detak jantungku
berpacu tak karuan, namun lima menit kemudian ia akan berbisik di telinga Budi,
memuji jaketnya yang menurutku sangat tidak modis. Kami berdua tahu bahwa kami
sedang dipermainkan, namun ironisnya, kami tak bisa berhenti. Ada semacam candu
dalam ketidakpastian ini. Kehadiran Ririn menjadi satu-satunya warna di antara
abu-abu kehidupan mahasiswa kami yang stagnan.
Suatu malam, saat kami sedang berteduh dari hujan deras di teras
sebuah toko yang sudah tutup, Ririn menatap ke arah jalanan dengan pandangan
kosong. "Kalian tahu kenapa aku suka main-main sama kalian?" tanyanya
tiba-tiba, suaranya tenggelam oleh deru hujan. "Karena di dunia yang penuh
dengan orang-orang sok suci dan penuh pencitraan ini, kalian berdua adalah
satu-satunya orang yang jujur dengan kegagalan kalian. Kalian tidak mencoba
jadi pahlawan, kalian cuma mencoba buat bertahan hidup."
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang dingin, aku menyadari
bahwa cinta segitiga ini bukan lagi tentang siapa yang akan memenangkan hati
Ririn. Ini adalah tentang bagaimana kami bertiga—tiga jiwa yang tersesat di
Universitas Indah Berseri—saling mengikatkan diri satu sama lain, mencoba
menemukan alasan untuk tetap waras di tahun yang penuh dengan kesialan ini. Dan
Ririn, sang mahasiswi nakal itu, mungkin bukanlah sang primadona yang kami
cari, melainkan cermin yang memantulkan betapa hancurnya kami semua.
Dunia seakan berputar 180
derajat. Perasaan "menang" atau "kalah" yang kurasakan
bersama Budi mendadak terasa seperti lelucon yang sangat basi. Ternyata, selama
ini kami hanyalah pengalih perhatian, semacam "aktor pendukung" dalam
skenario megah yang disusun Ririn di kepalanya sendiri.
Targetnya bukan kami. Targetnya adalah Pak Anggara—dosen muda
primadona yang sering dipanggil "Pangeran Kampus Hijau". Dia memang
berbeda dari Pak Un yang penuh filosofi aneh; Pak Anggara itu perwujudan
kesuksesan yang diidamkan mahasiswa: kemeja slim-fit, jam tangan bermerek,
wibawa yang dingin, dan rumor bahwa dia sedang merintis karier cemerlang di
luar dunia akademik.
Aku masih ingat jelas bagaimana tatapan Ririn berubah saat Pak
Anggara memasuki kelas. Itu bukan tatapan mahasiswi yang lapar ilmu; itu adalah
tatapan seorang predator yang sudah mengunci mangsanya.
"Wawan, Budi," bisik Ririn suatu sore di kantin,
suaranya terdengar lain—lebih intens, lebih berbahaya. "Kalian itu terlalu
sibuk memikirkan masa depan yang tidak jelas. Pak Anggara... dia punya sesuatu
yang tidak akan pernah kalian miliki: akses dan kekuasaan."
Budi yang biasanya berani berteori konspirasi, kali ini hanya
bisa menelan ludah. Kami melihat bagaimana Ririn mulai mengubah taktiknya. Ia
tidak lagi memakai hoodie kebesaran atau celana jeans
belel. Ia mulai mengenakan gaun-gaun yang sedikit lebih berani, aroma parfumnya
pun berubah menjadi lebih menyengat—sebuah aroma yang menurutku terlalu dewasa
untuk mahasiswi semester lima yang masih sering bingung mencari judul skripsi.
Manuvernya sangat sistematis. Ririn mulai sering berkonsultasi
di luar jam kuliah. Ia akan sengaja menunggu Pak Anggara di depan ruang dosen,
atau "kebetulan" bertemu di kafe dekat kampus tempat Pak Anggara
sering menghabiskan waktu sendirian.
Suatu hari, aku dan Budi secara tidak sengaja melihat mereka
berdua dari balik pilar gedung fakultas saat hari sudah mulai senja.
Lampu-lampu kampus yang remang-remang membuat suasana menjadi sangat janggal.
Ririn berdiri cukup dekat dengan Pak Anggara, jemarinya memainkan ujung
rambutnya dengan gaya yang sangat provokatif, sementara Pak Anggara, yang
biasanya teguh dan berwibawa, tampak sedikit kehilangan kendali atas postur
tubuhnya.
"Dia benar-benar melakukan itu, Wan?" bisik Budi,
suaranya bergetar antara rasa jijik dan kekaguman yang terpaksa. "Dia
menukar integritas akademisnya dengan... dengan obsesi sekecil itu?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya merasakan mual yang luar biasa.
Obsesi Ririn bukan lagi sekadar bumbu cerita kampus; ini sudah menjadi racun.
Ririn tidak hanya ingin mendapatkan perhatian Pak Anggara; ia terobsesi dengan
gagasan untuk menaklukkan pria yang tampak tak tersentuh itu. Ia ingin
menghancurkan dinding wibawa Pak Anggara, ingin melihat pria itu bertekuk lutut
di bawah keinginannya, dan yang lebih mengerikan, ia ingin menjadikannya
sebagai pencapaian tertinggi dalam hidupnya yang penuh sensasi.
Kami tahu apa yang diinginkan Ririn. Bukan sekadar nilai A atau
surat rekomendasi. Ia menginginkan adegan terlarang itu—sebuah persenggamaan di
ruang dosen, di balik pintu kayu yang terkunci, di tengah sunyinya koridor
kampus saat malam tiba.
"Dia gila, Budi," kataku pelan, memalingkan muka dari
pemandangan yang membuat dadaku sesak.
"Atau mungkin," balas Budi dengan tatapan kosong,
"dia hanyalah satu-satunya orang di kampus ini yang cukup berani untuk
mengambil apa yang dia inginkan, terlepas dari seberapa hancur konsekuensinya
nanti."
Malam itu, di kampus hijau yang semakin terasa mencekam, aku
menyadari bahwa cinta segitiga yang kami jalani hanyalah bagian dari pemanasan sebelum badai besar yang akan menghancurkan
reputasi siapa pun yang terlibat di dalamnya. Ririn telah memilih jalannya, dan
aku hanya bisa menonton dari jauh, bertanya-tanya apakah dia akan mendapatkan
apa yang dia inginkan, atau apakah Pak Anggara justru akan memakannya
hidup-hidup.
Panggilan itu lahir dari mulut para mahasiswi yang hobi bergosip
di lorong lantai tiga: Pak Aang. Alasannya klise, selain karena namanya
Anggara, dia memang memiliki ketenangan yang tak tergoyahkan, seolah dia
benar-benar bisa mengendalikan elemen api, air, tanah, dan udara di dalam ruang
kelas. Namun, bagiku dan Budi, julukan itu kini terasa sangat ironis. Jika
dalam serial itu Sang Avatar bertugas menjaga keseimbangan dunia, Pak Aang yang
kami kenal justru sedang menjadi pusat dari pusaran destruktif yang Ririn
ciptakan.
Suatu petang, aku tidak sengaja tertinggal di kampus karena
harus memperbaiki tugas produksi yang berantakan. Saat melewati ruang dosen
yang sudah sepi, langkahku terhenti. Pintu ruangan Pak Aang tidak tertutup
rapat. Ada celah sempit, cukup untuk telinga orang yang memang sudah terbiasa
menguping seperti aku, untuk mendengar percakapan di dalam.
"Jangan naif, Ririn. Ini kampus, bukan ruang ganti,"
suara Pak Aang terdengar rendah, namun ada getaran di sana. Bukan getaran
wibawa, melainkan getaran seorang pria yang sedang berjuang keras melawan
naluri yang seharusnya ia padamkan.
Tawa Ririn terdengar—renyah, nakal, dan sama sekali tidak merasa
takut. "Kampus cuma gedung, Pak. Dan di balik pintu ini, tidak ada dosen
atau mahasiswa. Cuma ada dua orang yang sama-sama bosan dengan segala
kepura-puraan di luar sana."
Darahku berdesir. Ririn benar-benar sudah melampaui batas. Aku
melangkah mundur, detak jantungku berpacu di tenggorokan. Budi yang muncul dari
arah tangga menepuk bahuku keras-keras, membuatku hampir melompat. Ia memberi
isyarat agar aku segera pergi, namun matanya sendiri terpaku pada celah pintu
tersebut. Kami berdua, saksi bisu dari sebuah keruntuhan moral yang sedang
dipertontonkan di depan mata kami.
"Bapak takut kehilangan jabatan?" tanya Ririn lagi,
suaranya kini terdengar tepat di depan pintu. "Atau Bapak takut karena
sadar kalau Bapak sebenarnya menginginkan ini sejak pertemuan pertama kita di
kelas Pengantar Komunikasi?"
Keheningan yang mencekam menyusul. Itu adalah keheningan yang
jauh lebih berat daripada suara ledakan. Aku tahu, detik berikutnya akan
menentukan apakah tembok wibawa "Avatar" itu akan runtuh atau justru
akan menghancurkan Ririn seketika. Budi menggumamkan sesuatu tentang karma,
namun aku tahu, yang kami saksikan saat ini bukanlah soal karma, melainkan
sebuah pertaruhan nyawa atas nama obsesi.
Ririn tidak hanya ingin sekadar bersenggama; dia ingin memegang
kendali atas Pak Aang. Dia ingin memastikan bahwa pria yang dipuja seluruh
mahasiswi di Undasri ini bisa dijatuhkan oleh seorang mahasiswi
"nakal" yang bahkan sering membolos kelasnya sendiri. Aku melihat
bayangan Ririn mendekati Pak Aang melalui celah pintu yang tipis. Pak Aang
tampak berdiri mematung, kemejanya yang rapi mulai terlihat kusut di bagian
lengan—tanda bahwa dia sudah mencoba melawan, namun perlahan mulai menyerah
pada gravitasi keinginan Ririn.
"Kita sudah terlalu jauh untuk berhenti, Pak Aang,"
bisik Ririn, suaranya kini halus namun penuh tuntutan. "Jadilah avatar
buat aku malam ini. Bakar semua aturan yang ada."
Aku menarik Budi menjauh sebelum kami benar-benar melihat
sesuatu yang akan menghantui mimpi buruk kami selamanya. Kami melangkah pergi
dari lorong itu dengan perasaan hampa. Kampus hijau yang tadinya hanya tempat
menuntut ilmu, kini terasa seperti sarang dosa yang menyesakkan. Di tengah
jalan menuju parkiran, Budi berhenti dan menatapku dengan wajah pucat.
"Wan, kalau besok Pak Aang datang ke kelas dan mengajar
seolah-olah tidak terjadi apa-apa, apakah kita akan tetap menganggapnya sebagai
dosen yang berwibawa?"
Aku tak punya jawaban. Yang aku tahu, besok pagi saat aku
melangkah ke kelas 304, dunia tidak akan pernah sama lagi. Dan aku
bertanya-tanya, apakah setelah malam ini, Ririn akan merasa puas, atau justru
akan mencari target baru setelah berhasil menaklukkan 'Avatar' yang paling
sulit disentuh di kampus ini?
Kabar itu menyebar di kampus hijau secepat api yang membakar
ilalang kering di musim kemarau. Universitas Indah Berseri—Undasri—yang
biasanya hanya sibuk dengan gosip harga SKS atau kelakuan dosen killer, kini punya bahan bakar baru yang jauh lebih
panas: Ririn.
Tidak ada yang tahu persis siapa yang pertama kali membocorkan
"ritual" malam di ruang dosen itu. Mungkin satpam yang sempat
memergoki mereka keluar ruangan dengan wajah pias, atau mungkin mahasiswi yang
tak sengaja menemukan anting Ririn tertinggal di atas tumpukan berkas skripsi
Pak Aang. Yang jelas, Ririn tidak lagi mencoba bersembunyi. Seolah-olah
menaklukkan "Sang Avatar" memberinya kekebalan hukum—atau setidaknya,
rasa percaya diri yang membuat batas kesopanan tampak seperti lelucon bagi
dirinya.
Ririn kini menjadi fenomena yang binal. Ia sering terlihat
sengaja melewati ruang dosen dengan pakaian yang—jujur saja—terlalu provokatif
untuk lingkungan akademis. Dia tidak lagi memedulikan tatapan menghakimi dari
mahasiswi lain yang biasanya berbisik-bisik di belakangnya. Ia justru
membusungkan dada, membiarkan rahasianya menjadi senjata untuk menakut-nakuti
siapa pun yang berani mengusik.
"Lihat cara dia berjalan, Wan," bisik Budi suatu pagi
di kantin, suaranya sarat dengan campuran antara rasa jijik dan ngeri.
"Dia tidak sedang berjalan di koridor kampus. Dia sedang memamerkan trofi
kemenangannya."
Benar kata Budi. Ririn telah berubah. Kegilaannya mencapai titik
nadir ketika suatu hari, di tengah kelas yang sedang diajar Pak Aang, Ririn
sengaja menjatuhkan pulpennya, lalu saat mengambilnya di bawah meja, dia tidak
langsung berdiri. Dia membiarkan suasana kelas menjadi hening, dan di depan
mata seluruh mahasiswa yang hadir, dia menatap Pak Aang dengan pandangan yang
membuat pria itu nyaris kehilangan fokus untuk menjelaskan bab tentang etika
media.
Pak Aang, yang dulu begitu dingin dan penuh wibawa, kini tampak
seperti cangkang kosong. Wibawanya runtuh, digantikan oleh kegugupan yang nyata
setiap kali mata Ririn tertuju padanya. Dia tidak lagi bisa membentak atau
memberi teguran, karena Ririn memegang "kartu as" yang bisa
menghancurkan karier dan reputasi pria itu dalam satu kedipan mata.
Namun, di balik perilaku binalnya, aku melihat sesuatu yang lebih
kelam. Ririn mulai tampak tidak bahagia. Dia seperti pecandu yang terus
meningkatkan dosis, mencari sensasi yang lebih liar karena kejayaan menaklukkan
Pak Aang tidak lagi cukup memuaskan egonya. Teman-teman di kampus mulai
menjauhinya secara terang-terangan. Beberapa geng mahasiswi sempat mencegatnya
di toilet, mencoba melabraknya atas nama "moralitas kampus," namun
Ririn justru tertawa, menghina mereka sebagai wanita-wanita yang hanya berani
bergosip karena tidak punya nyali untuk melakukan apa yang dia lakukan.
Aku dan Budi pun menjadi semakin terasing. Kami berada dalam
posisi yang canggung; kami adalah saksi hidup dari keruntuhan seorang dosen dan
degradasi seorang mahasiswi. Kami sering duduk di bangku pojok kantin,
memperhatikan Ririn yang kini sering menghabiskan waktu dengan merokok di area
terlarang, dikelilingi oleh asap yang mengepul di udara, seolah-olah dia sedang
membakar reputasinya sendiri demi pengakuan yang semu.
"Dia bukan lagi Ririn yang dulu kita kenal," kataku
sambil menatap Ririn yang sedang tertawa lepas, membiarkan tangannya melingkar
di bahu seorang mahasiswa lain—hanya untuk memancing kecemburuan Pak Aang yang
duduk tak jauh dari situ.
Budi hanya menghela napas, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan
irama yang tak beraturan. "Dia sedang menggali kuburannya sendiri, Wan.
Masalahnya, dia membawa banyak orang untuk jatuh bersamanya ke dalam sana. Dan
aku takut, kampus ini tidak akan punya cukup ruang untuk menampung kehancuran
yang sebentar lagi akan meledak."
Benar saja, ketenangan semu itu tidak akan bertahan lama. Di
balik pintu-pintu ruang kuliah dan di ruang-ruang rapat dosen, bisikan tentang
"Skandal Ruang 304" mulai sampai ke telinga dekan. Badai itu sedang
bergerak mendekat, dan kami, para penonton di barisan depan, hanya bisa menunggu
kapan tembok-tembok Undasri ini benar-benar akan runtuh karena dosa-dosa yang
disembunyikan di balik jas laboratorium dan kemeja rapi.
Kabar itu bukan lagi sekadar bisik-bisik di balik tirai toilet
atau sudut kantin; ia telah menjadi mitos urban yang menjijikkan namun terlalu
menarik untuk tidak dibicarakan. Cerita tentang kelas kosong di lantai empat,
di mana suasana sore yang temaram menjadi saksi bisu adegan yang seharusnya
hanya ada di dalam film-film terlarang, tersebar luas dengan detail yang
semakin liar.
Mereka bilang, kejadian itu bermula saat kelas sudah bubar dan
hanya tersisa Ririn yang berpura-pura menanyakan materi "Etika
Komunikasi". Namun, alih-alih membuka buku, Ririn justru mengunci pintu
kelas dari dalam. Detail yang paling membuat siapa pun yang mendengarnya
merinding adalah bagaimana Ririn secara sadar memojokkan Pak Aang ke sudut meja
dosen.
Dengan keberanian yang melampaui batas kewarasan, Ririn tidak
lagi bermain kata-kata. Ia melakukan manuver yang membuat pertahanan Pak Aang
hancur lebur. Cerita yang beredar di kalangan mahasiswa laki-laki—yang sering
kali menutupi rasa iri mereka dengan umpatan—adalah bagaimana Ririn memaksa
pria itu menatap realitas yang tidak bisa ia tolak. Ukuran tubuh Ririn yang
luar biasa, terutama bagian dadanya yang mencapai 44DD, ia gunakan sebagai
senjata utama. Ia menempelkan lekuk tubuhnya yang penuh dan hangat itu tepat ke
wajah Pak Aang, memaksanya terbenam dalam sensasi yang selama ini pria itu coba
tekan dengan segala wibawanya.
Pak Aang, sang "Avatar" yang biasanya tenang dan
berwibawa, dikabarkan benar-benar kehilangan kontrol. Ia tidak hanya terdiam;
ia menjadi budak dari dorongan yang selama ini ia kunci rapat. Bagi mahasiswa
lain yang mendengar kisah ini, ini adalah puncak dari sebuah degradasi moral.
Namun, bagi Ririn, ini adalah mahkota kemenangan. Ia merasa memiliki kendali
penuh atas pria yang seharusnya menjadi sosok yang disegani di kampus ini.
Aku dan Budi hanya bisa terdiam ketika mendengar versi paling
vulgar dari cerita tersebut di warung kopi dekat stasiun. Budi, yang biasanya
punya teori konspirasi paling aneh sekalipun, kali ini hanya bisa memandang
gelas kopinya dengan tatapan nanar. "Dia sudah tidak waras, Wan,"
bisik Budi. "Bukan karena dia melakukan itu, tapi karena dia melakukannya
di tempat di mana ilmu seharusnya dijunjung tinggi. Dia sedang menertawakan
sistem yang sudah membesarkannya."
Dampak dari kejadian itu terlihat jelas di hari-hari berikutnya.
Pak Aang sering terlihat sering memijat pelipisnya dengan tangan yang gemetar
saat mengajar. Ia tidak lagi berani menatap mata Ririn, dan setiap kali Ririn
duduk di barisan depan dengan pakaian yang—lagi-lagi—sengaja dibuat minim, Pak
Aang akan segera memalingkan wajah atau berpura-pura sibuk memeriksa catatan
yang sama berulang kali.
Ririn sendiri seolah tidak peduli jika dunia kampus sedang
menghakimi dirinya. Ia semakin binal, semakin berani, dan sering kali sengaja
membuat kontak fisik yang tidak perlu dengan dosen lain, sekadar untuk melihat
reaksi Pak Aang yang duduk mematung di meja dosen. Ia sedang memainkan
permainan yang sangat berbahaya, sebuah permainan di mana ia tidak hanya
mempertaruhkan masa depan akademisnya, tetapi juga mulai menyeret seluruh
tatanan di kampus Undasri ke dalam jurang skandal yang memuakkan.
Aku mulai merasa bahwa kampus ini bukanlah lagi tempat untuk
menimba ilmu, melainkan sebuah panggung sandiwara yang tragis. Kami semua
terjebak di dalam kelas yang sama, menonton sebuah drama di mana pemeran
utamanya sedang membakar panggungnya sendiri, sementara kami—para penonton yang
merasa lebih baik—sebenarnya terlalu pengecut untuk melakukan apa pun selain
hanya duduk diam dan menyaksikan keruntuhan itu terjadi. Dan di sudut hatiku
yang paling dalam, aku tahu, skandal ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih
gelap yang akan segera menghancurkan kami semua sebelum semester ini berakhir.
Dilema itu menghimpit dadaku, jauh lebih menyesakkan daripada
sumpeknya mikrolet saat jam pulang kerja. Di satu sisi, aku jijik melihat
bagaimana Ririn memperalat Pak Aang hingga menjadi pria yang tampak seperti
mayat hidup. Namun, di sisi lain, denyut nadiku tidak bisa berbohong. Ada sisi
gelap dalam diriku yang justru terpikat oleh kekacauan itu. Setiap kali Ririn
melintas di lorong kelas, aroma parfumnya yang bercampur dengan sedikit bau
keringat—aroma musky ketiak basah yang khas dan
jujur—selalu menusuk hidungku, memicu imajinasi yang membuat tenggorokanku
kering.
Aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku berada di posisi Pak
Aang. Bukan sebagai dosen yang tertekan oleh jabatan, melainkan sebagai pria
yang benar-benar memuja kebebasan Ririn. Bayangan itu datang tanpa diundang
saat aku sedang mencoba mengerjakan tugas: Ririn yang masuk ke ruanganku,
mengunci pintu dengan dentuman yang tegas, lalu perlahan merapat ke arahku. Aku
membayangkan kulitnya yang hangat, kelembutan ukuran 44DD yang tampak begitu
kontras dengan tubuhnya yang lain, dan bagaimana ia akan memaksaku untuk
merasakan sensasi itu tepat di wajahku—sebuah tantangan binal yang membuat
jantungku berdegup kencang seperti genderang perang.
"Wan, kau melamun lagi?" suara Budi memecah lamunanku.
Dia menatapku tajam, seolah bisa membaca pikiran kotor yang baru saja
berkecamuk di kepalaku.
Aku tersentak, mencoba membuang bayangan itu jauh-jauh.
"Tidak, cuma... aku heran kenapa dia belum di-DO (drop out) juga,"
jawabku berbohong, padahal tanganku sendiri gemetar di bawah meja.
Di dalam kelas, Ririn memang sengaja menonjolkan diri. Ia sering
duduk dengan posisi yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas dari arah
manapun. Dan ketika dia menggerakkan bahunya, aroma ketiaknya yang basah dan
natural itu menyebar, mengusik indra penciumanku hingga ke kursi paling
belakang. Itu bukan bau busuk, bagi pria seperti diriku, itu adalah aroma
kejujuran yang provokatif. Sesuatu yang sangat manusiawi, sangat liar, dan
sangat jauh dari kata "bermoral" yang selalu didengungkan dosen-dosen
kami.
Malam harinya, di kamarku di Pisangan Lama, aku tidak bisa
tidur. Aku membayangkan Ririn datang mengetuk pintuku, menawarkan kesenangan yang
sama dengan yang ia berikan pada Pak Aang. Fantasiku bukan lagi soal cinta atau
romansa; ini adalah soal dominasi dan hasrat yang mentah. Aku ingin tahu apakah
dia sekejam itu pada pria lain, atau apakah dia hanya seorang mahasiswi yang
sebenarnya kesepian dan sedang mencoba mencari pelarian melalui sensualitasnya
yang berlebihan.
Aku mulai merasa seperti parasit. Aku membenci apa yang
dilakukan Ririn terhadap Pak Aang, tapi aku sangat menginginkan apa yang
didapatkan Pak Aang dari Ririn. Aku ingin mencicipi "menu" yang
sama—susu jumbo itu, kehangatan tubuhnya yang tak tahu malu, dan sensasi saat
aroma tubuhnya yang basah memabukkanku.
"Apa kau cemburu pada Pak Aang, atau kau iri pada
keberaniannya?" bisik nuraniku sendiri. Aku tidak punya jawaban. Yang
jelas, setiap kali aku melihat Ririn, aku tidak lagi melihat mahasiswi yang
nakal. Aku melihat sebuah candu yang perlahan-lahan merusak moralitas, namun di
saat yang sama, aku justru mendapati diriku sedang antre untuk ikut hancur di
dalamnya.
Aku tahu ini gila. Kampus hijau yang kukenal sudah benar-benar
berubah menjadi hutan belantara di mana naluri binatang sering kali lebih
dominan daripada logika akademis. Dan aku, Wawan Suryajaya, yang tadinya merasa
paling sinis dan minimalis, kini justru menjadi orang pertama yang akan
bersedia melakukan apa saja demi bisa mencium aroma itu dari dekat, tepat di
balik pakaian Ririn yang selalu saja membuatnya terlihat lebih binal dari hari
ke hari.
(Aku menarik napas panjang, menatap pantulan diriku sendiri di
layar ponsel yang redup. Suasana kamarku di Pisangan Lama terasa sesak oleh
napas berat dan pikiran-pikiran yang membusuk.)
"Ternyata, pada akhirnya aku hanyalah penonton yang
diam-diam iri.
Aku selalu membanggakan diriku sebagai pengamat sosial,
mahasiswa yang kritis, si sinis yang memandang dunia lewat kacamata realitas
yang pahit. Aku menghina sistem, aku mencemooh dosen yang feodal, aku
menertawakan kawan-kawanku yang terjebak dalam arus pencitraan. Tapi lihat
diriku sekarang. Di balik topeng ketidakpedulian ini, aku adalah predator yang
paling pengecut.
Setiap kali Ririn lewat, dan aroma itu—aroma campuran keringat
yang pekat, parfum murahan, dan hormon yang meledak-ledak—menyentuh hidungku,
logikaku langsung mati. Sial, itu bukan sekadar bau. Itu adalah undangan. Itu
adalah bau dari sesuatu yang dilarang, sesuatu yang nyata di tengah duniamu
yang penuh kepura-puraan.
Pak Aang, si Avatar yang agung itu... dia memang pantas
dikasihani, tapi di saat bersamaan, aku benci setengah mati padanya. Dia
mendapatkan apa yang aku inginkan dalam mimpiku yang paling kotor. Bayangan itu
terus berputar; bagaimana sosok Ririn, dengan segala kemolekan tubuhnya yang
luar biasa, dengan ukuran 44DD yang seolah ingin membelah kemeja ketatnya,
menunduk di depan pria itu. Menempelkan segalanya. Membiarkan aroma ketiak
basahnya meresap ke pori-pori kulit wajah sang dosen.
Apakah itu rasanya ketika harga diri runtuh? Apakah itu aroma
kekuasaan yang sesungguhnya?
Aku merasa kotor. Kampus Hijau yang dulunya kupandang sebagai
tempat mencari jati diri, sekarang hanyalah sebuah teater mesum yang membakar
nalar. Dan ironisnya, aku tidak ingin pergi. Aku justru ingin maju ke panggung,
ingin menjadi bagian dari naskah yang merusak itu. Aku ingin merasakan
bagaimana rasanya menjadi tawanan dari 'kewanitaan' Ririn yang binal, ingin
tenggelam dalam kehangatan yang menjanjikan dosa.
Bukankah ini puncak dari kemunafikan? Aku menghujat Ririn karena
dia nakal, aku menghujat Pak Aang karena dia lemah, tapi aku sendiri? Aku hanya
sedang menunggu giliran. Menunggu kapan Ririn bosan dengan 'mainan' lamanya dan
mulai melirikku. Dan saat itu terjadi, aku yakin, semua idealisme yang kubangun
selama ini—tentang integritas, tentang menjadi manusia yang lurus—akan kubuang
ke tempat sampah tanpa ragu.
Hidup memang tanggung, katanya. Ya, hidupku memang tanggung.
Tanggung jawabnya cuma satu: kapan aku akan berhenti menjadi pecundang yang
cuma berani membayangkan, dan mulai menjadi pria yang cukup gila untuk
menerjang batas itu sendiri."
Jempolku gemetar di atas layar ponsel yang retak di bagian
pinggir. Pesan itu sudah tertulis, dihapus, ditulis lagi, lalu dihapus kembali
sebanyak tiga kali. Rasa takut akan penolakan beradu dengan adrenalin yang
memompa kencang di dada. Akhirnya, dengan satu gerakan impulsif yang tak lagi
memedulikan sisa-sisa harga diri sebagai mahasiswa beretika, kutekan tombol
kirim.
"Rin, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang 304. Dan
aku tidak tertarik untuk menghakimi. Bisa ketemu malam ini? Ada sesuatu yang
harus kukatakan padamu secara pribadi."
Jantungku rasanya mau copot saat melihat status pesan berubah
menjadi read. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Suasana kamar
di Pisangan Lama yang biasanya terasa dingin kini berubah menjadi oven bagi
tubuhku sendiri. Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah balasan singkat muncul.
"Jam 9 malam. Di parkiran belakang gedung rektorat. Jangan
bawa Budi, dan pastikan kau punya nyali untuk bicara jujur."
Aku tidak menunggu lama. Aku memacu motor tua kesayanganku, yang
suaranya terdengar seperti protes terhadap kehidupan. Saat sampai di parkiran
belakang, suasananya sepi, hanya ada deru angin malam yang membawa aroma tanah
basah dan sisa polusi. Ririn sudah di sana, bersandar di pilar beton. Malam itu
dia mengenakan tank top ketat berwarna hitam yang
sengaja ia padukan dengan kemeja denim terbuka—seolah ia sudah tahu bahwa ia
akan memamerkan aset yang selama ini jadi bahan fantasi liarku.
Begitu ia mendekat, aroma itu langsung menyergap. Aroma ketiak
basah yang tajam, bercampur dengan wangi parfum maskulin yang samar—mungkin
sisa aroma tubuh Pak Aang yang masih menempel padanya. Aku menelan ludah.
Pandanganku tak bisa lepas dari bagian dadanya. Ukuran 44DD itu terlihat sangat
nyata, menonjol dengan cara yang mengancam kancing kemejanya. Dan di sana, di
balik kain tipis itu, aku bisa membayangkan samar-samar bentuk chocochip kembar yang selalu membuatku gila setiap kali
ia bergerak.
"Jadi," Ririn memecah keheningan dengan suara yang
serak, "apa yang ingin kau katakan, Wawan si sinis? Mau memeras aku karena
kau tahu soal Pak Aang?"
Aku menatap matanya yang liar, lalu turun ke arah belahan
dadanya yang mengintip dari balik kemeja denim itu. "Tidak," jawabku,
suaraku terdengar parau. "Aku tidak peduli dengan Pak Aang. Aku cuma...
aku cuma tidak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap detik, setiap kali aku
melihatmu di kelas, aku cuma bisa membayangkan betapa tidak adilnya jika cuma
pria itu yang bisa merasakan semuanya."
Ririn tertawa. Tawa yang tidak terdengar seperti penghinaan,
melainkan tawa kemenangan. Ia melangkah mendekat, sangat dekat, sampai aku bisa
merasakan panas tubuhnya. Ia mengangkat tangannya, sengaja membiarkan kemejanya
terbuka lebar, memamerkan lekuk payudaranya yang jumbo dengan begitu angkuh.
"Kau berani sekali, Wan," bisiknya tepat di depan
wajahku. Ia meraih tanganku, lalu menariknya perlahan menuju ke arah dadanya
yang empuk dan kencang. Tanganku gemetar hebat saat menyentuh tekstur kain yang
menutupi chocochip kembar itu. "Kau mau merasakan apa yang
dirasakan Pak Aang? Kau mau tahu bagaimana rasanya membenamkan wajahmu di
sini?"
Di bawah lampu parkiran yang remang-remang, aku merasa logikaku
benar-benar telah mati. Idealisme, kuliah, skripsi, dan semua dogma tentang
moralitas yang diajarkan dosen-dosen di kelas komunikasi, semuanya lenyap. Yang
tersisa hanyalah aku, hasrat yang meledak, dan Ririn—wanita yang kini sedang
menantangku untuk menyerahkan seluruh kewarasanku demi satu malam yang penuh
dosa.
Suasana yang tadinya intim dan penuh ketegangan antara aku dan
Ririn mendadak pecah oleh suara knalpot racing yang
memekakkan telinga. Sebuah motor sport modifikasi berhenti tepat di samping
kami, dan dari atasnya turun sesosok pria dengan jaket kulit yang tampak lebih
mahal dari motor itu sendiri. Itulah Agoy, atau Yoga. Pria yang, kalau dilihat
sekilas, tidak punya alasan untuk membuat perempuan cantik bertekuk lutut.
Wajahnya biasa saja, bahkan cenderung pas-pasan, dengan gaya rambut yang sering
kali berantakan. Namun, itulah kelebihannya.
Agoy adalah sang retorikus ulung. Dia adalah tipe pria yang bisa
membuat perempuan merasa seperti satu-satunya orang paling berharga di dunia
hanya dengan rangkaian kata-kata manis yang disusun dengan teknik komunikasi
tingkat dewa.
"Malam, Wan. Malam, sayang," sapa Agoy santai, matanya
menatap Ririn dengan tatapan yang sangat kepemilikan.
Ririn, yang sedetik lalu begitu liar dan provokatif di
hadapanku, mendadak berubah. Ia melepaskan tanganku, dan alih-alih marah, ia
justru melangkah mendekati Agoy dan melingkarkan lengannya di leher pria itu.
Agoy pun membalas dengan sebuah ciuman—atau lebih tepatnya, sebuah ritual
"rujak bibir" yang sangat liar. Mereka tidak peduli ada aku di sana.
Itu adalah pemandangan yang lebih intim dan vulgar daripada apa pun yang pernah
kudengar tentang Pak Aang. Bibir mereka bertaut dengan nafsu yang
meledak-ledak, seolah sedang memperebutkan sisa napas terakhir.
Aku tertegun, terpaku seperti patung. Fakta bahwa Ririn memiliki
sejarah—dan mungkin masih menjalani—hubungan dengan Agoy terasa seperti
hantaman godam tepat di ulu hati.
Agoy melepaskan ciumannya, menyeringai ke arahku. "Kaget,
Wan? Jangan tertipu oleh cerita-cerita tentang dosen itu. Pak Aang? Itu cuma
mainan Ririn untuk membuktikan kalau dia bisa menjatuhkan pria berwibawa. Tapi
kalau soal ini?" Agoy menunjuk Ririn yang kini sedang
menempelkan dadanya yang berukuran 44DD ke lengan Agoy dengan cara yang jauh
lebih intim daripada saat ia menantangku tadi. "Ini adalah urusan hati,
dan tentu saja... urusan ranjang yang jauh lebih dahsyat dari sekadar tempelan
di wajah dosen."
Ririn tertawa kecil, suara tawanya kini terdengar merendahkan,
bukan lagi mengundang. "Wawan, kamu itu terlalu naif. Kamu pikir kamu bisa
jadi satu-satunya? Agoy tahu apa yang aku butuhkan. Dia tidak sok suci seperti
dosen-dosen itu, dan dia tidak payah seperti kamu yang cuma berani
membayangkan."
Aku merasa seperti orang bodoh. Semua fantasiku tentang susu
jumbo Ririn, tentang aroma tubuhnya yang memabukkan, kini terasa seperti sampah
di depan pria yang bahkan tidak perlu usaha lebih untuk mendapatkannya. Agoy
membelai chocochip kembar Ririn di balik kemejanya tepat di
depan mataku, sebuah gestur dominasi yang telak.
"Dengar, Wan," lanjut Agoy dengan nada retorika yang
selalu bisa membuat perempuan takluk, "dunia ini bukan tentang siapa yang
paling pintar atau paling idealis. Dunia ini tentang siapa yang berani menelan
ludah dan mengambil apa yang dia mau. Kamu cuma pengamat, sementara aku? Aku
pemainnya."
Mereka berdua pun naik ke atas motor, meninggalkan aku sendirian
di parkiran yang mulai terasa dingin. Ririn sempat menoleh ke belakang,
memberikan senyum sinis sebelum motor itu melesat pergi, membawa pergi segala
obsesi dan hasrat yang baru saja membuatku hampir kehilangan akal. Malam itu,
di bawah temaram lampu rektorat, aku sadar satu hal: di kampus hijau ini, aku
bukan hanya mahasiswa gagal dalam akademis, tapi aku juga gagal dalam panggung
sandiwara kehidupan yang paling kejam. Aku hanyalah penonton yang kehabisan
tiket, dibiarkan berdiri di luar, menanggung sisa-sisa aroma yang tak lagi bisa
kumiliki.
Motor Agoy meraung membelah kesunyian malam, meninggalkan aku
yang masih mematung di parkiran. Namun, sebelum suara knalpotnya benar-benar
menjauh, Agoy sempat menarik tuas rem, memutar sedikit stang motornya, dan
menoleh ke arahku dengan seringai khas playboy yang membuat darahku mendidih
sekaligus penasaran.
"Wan!" teriaknya memecah angin malam. "Kau
terlalu sibuk menganalisis, makanya kau tak pernah dapat mangsa!"
Ririn di belakangnya hanya terkikik, tangannya yang melingkar
erat di pinggang Agoy semakin memamerkan kemesraan yang membuatku ingin muntah.
Agoy memberikan "kuliah singkat" sambil menatapku tajam dari balik
spion.
"Dengar, mahasiswa komunikasi! Jangan pernah pakai otak
kalau lagi berhadapan sama perempuan kayak Ririn. Pakai insting! Semua dosen
macam si Aang itu cuma punya jabatan, tapi mereka nggak punya 'seni'. Kamu mau
taklukkan wanita? Tiga poin saja:
Pertama, jadilah narator bagi imajinasi mereka. Wanita itu nggak butuh cowok yang pamer intelejensi, mereka
butuh cowok yang bisa jadi karakter utama dalam fantasi liarnya. Aang jatuh
karena dia kaku. Kamu? Kamu terlalu hati-hati. Lepaskan kendalimu, Wan! Biarkan
dia yang mendikte, tapi kamu yang memegang kendali atas skenarionya.
Kedua, berikan mereka rasa tidak aman yang candu. Jangan pernah kasih kenyamanan penuh. Lihat Ririn? Dia nempel
sama aku bukan karena aku pintar, tapi karena dia nggak pernah tahu apa yang
bakal kulakukan selanjutnya. Berikan dia teka-teki, beri dia tantangan, buat
dia merasa kalau kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membaca sisi gelapnya
yang paling kotor!
Ketiga, sentuhan adalah bahasa yang melampaui retorika. Kalau kamu masih pakai kata-kata buat merayu, kamu sudah kalah
sebelum perang. Sentuh sebelum mereka berpikir. Tatap matanya sampai dia merasa
telanjang sebelum pakaiannya benar-benar terbuka. Aang itu gagal karena dia
takut. Aku? Aku nggak pernah takut kehilangan, makanya aku selalu menang!"
Agoy tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar angkuh namun
berwibawa di telinga perempuan mana pun.
"Belajarlah, Wan! Kuliah di kelas itu sampah. Ilmu yang
sebenarnya ada di sini, di bawah remang-remang lampu parkiran, di antara
keringat dan adrenalin! Jangan cuma jadi pengamat yang berakhir dengan mimpi
basah di kamar kost. Jadilah pemain, atau selamanya kamu cuma bakal jadi
penonton yang merana!"
Motor itu pun melesat, meninggalkan jejak asap tipis dan aroma
parfum Ririn yang masih tertinggal di udara. Aku berdiri di sana, di parkiran
yang kini terasa sangat luas dan hampa. Kata-kata Agoy—tips-tips sesat yang
terdengar sangat masuk akal dalam dunia kami yang kacau ini—terus terngiang di
kepalaku. Aku tahu, setelah malam ini, aku tidak akan pernah bisa kembali
menjadi Wawan yang "minimalis" dan "strukturalis" lagi.
Agoy baru saja menanamkan benih kehancuran, atau mungkin, sebuah kebebasan baru
yang sangat berbahaya, ke dalam diriku. Kampus hijau ini bukan lagi sekadar
tempat menuntut ilmu, ini adalah ring tinju, dan aku baru saja dipukul jatuh
untuk pertama kalinya.
Apakah aku harus mengikuti jalan sesat Agoy, atau membiarkan
diriku hancur oleh idealisme yang tidak membuatku bahagia?
Malam itu, di sudut ruang studio fotografi kampus yang
biasanya sepi dan berdebu, aku memberanikan diri. Setelah berkali-kali memutar
memori tentang "kuliah singkat" Agoy di kepalaku, aku akhirnya
mencegat Ririn yang sedang merapikan perlengkapan di dekat gudang. Tidak ada
retorika, tidak ada gombalan basi ala mahasiswa komunikasi. Aku hanya menarik
tangannya, menyeretnya masuk ke dalam ruang gelap yang hanya disinari lampu
indikator kamera yang berkedip merah.
Begitu pintu tertutup, Ririn tidak melawan. Dia justru
menempelkan tubuhnya padaku dengan tekanan yang membuat dadanya yang berukuran
44DD itu terasa begitu masif dan kenyal, menekan dadaku hingga aku hampir
kehabisan napas. Tanganku yang gemetar hebat, yang awalnya takut-takut untuk
sekadar menyentuh, kini dipandu oleh insting purba yang kupelajari dari
observasi panjangku.
Dia tidak menunggu. Ririn langsung menyambar bibirku.
Itu bukan ciuman lembut; itu adalah serangan. Lidahnya menyapu rongga mulutku
dengan ritme yang agresif, mencicipi keragu-raguanku lalu menghancurkannya.
Kami bermain liur dengan intensitas yang membuatku lupa bagaimana cara
bernapas. Aroma ketiaknya yang basah dan *musky* memenuhi indra penciumanku,
membuat kepalaku berputar—campuran antara kenikmatan murni dan kesadaran bahwa
aku telah menyeberangi garis yang tak mungkin bisa kuputar balik.
Respon Ririn sungguh di luar nalar. Dia tidak sekadar
pasrah. Dia menarik tanganku, menuntunnya ke balik kemejanya, membiarkanku
merasakan sendiri betapa panas dan padatnya "aset" jumbo miliknya.
Begitu telapak tanganku menyentuh permukaan kulitnya yang lembut—dan mendapati
betapa keras serta menonjolnya bagian *chocochip* di ujung payudaranya—dia
melepaskan erangan panjang yang pecah di tenggorokannya. Suara itu bukan suara
mahasiswi; itu adalah suara insting yang tertahan lama.
Di tengah kegelapan ruang studio, kami tenggelam dalam
simfoni desahan dan erangan yang saling bertumpuk. Tidak ada kata-kata.
Kata-kata hanyalah sampah bagi kami saat itu. Setiap kali tanganku menekan
lebih dalam, Ririn akan membalas dengan remasan kuat di belakang kepalaku,
memaksaku untuk lebih dekat, lebih dalam, lebih liar.
Keheningan malam kampus yang biasanya mencekam kini
hanya diisi oleh suara napas kami yang memburu, gesekan kain yang tersingkap,
dan suara basah ciuman kami yang tak henti-hentinya. Aku merasakan betapa
binalnya dia, bagaimana dia tidak hanya ingin sekadar disentuh, tapi ingin
'dimangsa'. Dalam momen itu, aku bukan lagi Wawan si mahasiswa gagal, bukan
lagi pengamat sosial yang sinis. Aku adalah pria yang sedang memenangkan
taruhan paling berbahaya dalam hidupnya.
Di antara erangan yang kian keras, Ririn membisikkan
sesuatu tanpa kata—hanya lewat sentuhan kuku-kukunya yang mencengkeram
pundakku, seolah memberi perintah tanpa suara untuk terus, lebih keras, dan
jangan pernah berhenti. Di ruang studio yang sempit itu, di tengah debu-debu
mimpi akademis yang sudah lama kubuang, aku akhirnya menemukan bahwa kenikmatan
yang selama ini kuhujat ternyata jauh lebih candu daripada logika mana pun yang
pernah kutulis di atas kertas ujian. Kami bukan lagi manusia; kami hanyalah dua
makhluk yang sedang membakar sisa-sisa kewarasan kami dalam satu malam yang
panjang dan basah.
(Ririn mendorongku hingga punggungku membentur dinding ruang
studio yang dingin. Napasnya memburu di depan wajahku, panas dan lembap.
Jemarinya yang lentik namun bertenaga mulai menggerayangi tubuhku, menelusuri
tiap inci otot yang menegang karena gugup. Ia tidak lagi memandangku sebagai
mahasiswa yang ia permainkan, melainkan sebagai mangsa yang baru saja ia sadari
punya sisi gelap yang sama liarnya.)
"Ternyata kamu tidak sebodoh yang kukira, Wawan..."
bisiknya, suaranya parau, hampir seperti desisan di antara sela-sela ciuman
kami.
Tangannya bergerak turun, membuka kancing kemejaku satu per satu
dengan ketenangan yang mengintimidasi. Ia meraba dadaku, lalu turun ke perut, membuatku
tersentak setiap kali kulitnya yang hangat bersentuhan dengan kulitku.
"Dilihat dari jauh, kamu cuma mahasiswa menyedihkan yang
sibuk dengan buku dan sinisme," tangannya kini meremas bahuku, kukunya
menekan dalam, meninggalkan bekas yang perih namun nikmat. "Tapi di
sini... di dalam gelap ini, kamu ternyata punya nafsu yang lebih busuk daripada
dosen-dosen yang sok suci itu."
Aku hanya bisa mengerang, kepalaku mendongak ke belakang saat ia
mulai menempelkan tubuhnya yang penuh—membiarkan kelembutan 44DD-nya menindih
dadaku dengan bobot yang membuatku tak berdaya. Ia tertawa kecil, tawa yang
merendahkan namun sekaligus membakar gairah.
"Kamu gemetar, Wan. Kenapa? Takut? Atau kaget karena
ternyata kamu jauh lebih binal daripada yang kamu bayangkan sendiri?"
Jemarinya kini beralih ke bagian pinggangku, menarik kaosku
hingga tersingkap sepenuhnya, lalu ia membiarkan telapak tangannya menempel di
kulit perutku, bergerak perlahan dengan ritme yang menyiksa.
"Agoy itu cuma pemain kasar. Pak Aang? Dia cuma pria lemah
yang gila jabatan," Ririn mendekatkan wajahnya, hidungnya bergesekan
dengan hidungku, aroma parfum dan keringatnya kini benar-benar membuatku mabuk.
"Tapi kamu... kamu itu kejutan. Kamu punya kemarahan yang tertahan, hasrat
yang selama ini cuma kamu tulis di catatan-catatan kecilmu yang membosankan
itu."
Ia menarik napas panjang, lalu jemarinya dengan nakal mulai
meraba ke arah yang lebih intim, memancing setiap inci sarafku untuk meledak.
"Jangan berhenti, Wan. Tunjukkan padaku kalau kamu bukan cuma
penonton. Tunjukkan padaku bahwa kamu punya keberanian untuk menghancurkan
hidupmu sendiri malam ini, sama seperti aku yang sudah lama melakukannya."
Ia menatap mataku tajam, matanya berkilat di tengah kegelapan,
menuntut lebih dari sekadar sentuhan. "Sentuh aku lebih dalam. Jangan
biarkan aku pergi sebelum kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan dari tubuh
ini. Malam ini, di kampus hijau yang terkutuk ini, kita bukan mahasiswa. Kita
cuma dua orang yang sedang saling melahap."
Suhu di dalam ruang studio itu seolah meningkat drastis,
mengalahkan pengapnya udara malam Jakarta. Aku tidak lagi peduli dengan
reputasi, skripsi, atau dosen yang memburu absen. Segala rasionalitas yang
selama ini menjadi cangkang pelindungku hancur berkeping-keping. Ririn adalah
badai, dan aku adalah kapal yang dengan sukarela membiarkan dirinya karam di
tengah samudra hasrat yang paling liar.
Setiap gerakan yang kami lakukan terasa seperti pelampiasan dari
semua frustrasi semester lima yang tanggung ini. Ririn benar-benar tak
terkendali; tubuhnya yang montok dan bergelombang di bawah sentuhanku seolah
memiliki kehidupan sendiri. Keringat kami bercucuran, menyatu di atas kulit
yang saling bergesekan, membuat setiap jengkal tubuh kami menjadi licin dan
semakin panas. Aroma tubuhnya yang maskulin-feminin, perpaduan ketiak basah
yang pekat dan aroma gairah murni, membakar saraf-sarafku hingga ke titik
nadir.
Aku mencengkeram pinggulnya dengan kuat, seolah ingin memastikan
bahwa ini bukan sekadar halusinasi. Ririn melengkungkan punggungnya, kepalanya
tertengadah ke belakang, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.
Ia mengeluarkan erangan yang tidak lagi tertahan, sebuah suara melengking yang
memekakkan telinga di antara sunyinya koridor kampus. Ukuran 44DD-nya yang masif
bergerak seirama dengan setiap sentakan, memberikan sensasi yang belum pernah
kubayangkan bisa kucicipi dalam hidupku yang serba minimalis ini.
"Lagi, Wan... lebih keras!" Ririn berteriak di antara
desahannya, kukunya mencakar bahuku hingga berdarah, namun rasa sakit itu
justru menambah bahan bakar pada api yang membakar kami.
Ritme kami semakin cepat, tidak teratur, dan brutal. Tidak ada
lagi keraguan, tidak ada lagi rasa malu. Kami sedang bertarung melawan
realitas, mengubur semua kepura-puraan di balik tembok studio yang bisu. Napas
kami saling bertabrakan, beradu dalam satu frekuensi yang semakin meninggi,
semakin menuntut, hingga akhirnya, segalanya terasa mencapai titik didih yang
tak tertahankan.
Tubuhku menegang hebat, urat-urat di leherku menyembul saat aku
merasakan gelombang panas yang dahsyat menyerang dari dasar tulang belakang.
Ririn, yang menyadari aku sudah berada di ambang batas, mengeratkan pelukannya,
mengunci tubuhku dengan kekuatannya yang mengejutkan.
"Aaaaaaarrgghhhhhhhhhhh!!!"
Teriakan itu pecah bersamaan, memenuhi ruangan studio yang gelap
itu dengan dentuman emosi yang meledak. Suaranya panjang, keras, dan penuh
dengan kepuasan yang menyakitkan. Aku melepaskan seluruh ketegangan yang selama
berbulan-bulan kutimbun, sementara Ririn bergetar hebat di bawahku,
mengeluarkan erangan terakhir yang serak dan dalam.
Kami terjerembap, jatuh terkulai di atas lantai studio yang
dingin, napas kami masih terengah-engah dalam ritme yang kacau. Keringat
membasahi seluruh tubuh kami, membuat baju kami menempel di kulit seolah-olah
menjadi lapisan kedua. Keheningan kembali merayap masuk ke dalam ruangan, namun
kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang
membosankan, melainkan keheningan yang mencekam setelah sebuah badai besar baru
saja meluluhlantakkan segalanya. Akhirnya setelah lelah kami berbaring di sana,
menatap langit-langit studio yang gelap, sadar bahwa setelah teriakan keras
tadi, hidup kami tidak akan pernah bisa kembali ke jalur yang sama lagi. Kami
baru saja melakukan dosa yang paling nikmat di tempat yang paling suci, dan
entah besok pagi, apakah kami akan saling menatap sebagai kekasih atau justru
sebagai dua orang asing yang sama-sama tersesat di kampus hijau ini.
Kampus hijau yang tadinya terasa seperti penjara, kini berubah
menjadi taman bermain terlarang bagi kami. Kami menjalani hubungan rahasia yang
absurd, sebuah aliansi gelap yang dibangun di atas fondasi gairah yang tak
terpuaskan. Di kelas, kami tetap bersikap biasa saja—bahkan cenderung dingin.
Ririn tetap menjadi mahasiswi "nakal" yang sering bolos, dan aku
tetap menjadi Wawan si mahasiswa sinis yang duduk di bangku belakang. Tidak ada
yang curiga, karena dalam dunia kampus yang penuh kepura-puraan ini, rahasia
paling gelap sering kali tersimpan di balik topeng ketidaktertarikan yang
paling sempurna.
Namun, begitu jam perkuliahan usai atau saat koridor sedang
sepi, kami akan segera menghilang. Ruang studio fotografi hanyalah awal. Ritual
kami berpindah-pindah, mencari sensasi di tempat-tempat yang paling tidak masuk
akal untuk ukuran dua orang mahasiswa.
Kami pernah mengunci diri di dalam perpustakaan lantai paling
atas, di balik rak-rak buku tua yang berdebu. Di sana, di antara tumpukan
skripsi mahasiswa tahun 90-an, kami mencoba gaya-gaya yang menuntut
keseimbangan dan stamina, seolah sedang mempraktikkan isi Kamasutra di tengah literatur ilmiah yang justru
membuat suasana semakin tabu. Ririn, dengan segala keliarannya, selalu punya
ide gila. Dia pernah memaksa kami melakukannya di ruang arsip yang sempit dan
pengap, di mana setiap suara desahan harus ditahan mati-matian agar tidak
terdengar oleh petugas perpustakaan yang sedang berkeliling.
Aroma ketiak basahnya yang musky dan hangat selalu menjadi
pembuka bagi segala "kegilaan" kami. Bagiku, itu adalah aroma candu.
Setiap kali kami berganti posisi—dari yang menuntut kekuatan fisik hingga gaya
yang memaksakan kelenturan tubuh—Ririn selalu memberikan respon yang di luar
nalar. Dia tidak lagi sekadar menjadi mahasiswi; dia adalah partner yang sangat
teknis dan menuntut dalam urusan ranjang.
"Jangan cuma diam, Wan," bisiknya suatu kali saat kami
berada di ruang loker dosen yang kosong—tempat yang paling berbahaya karena
risiko ketahuan sangat tinggi. "Ingat kata Agoy, jadilah pemain. Jangan
cuma mengikuti alur, ciptakan alurnya."
Kami pun benar-benar menjajaki segala posisi yang ada di Kamasutra, mengubah ruang-ruang kampus yang sakral
menjadi arena eksekusi hasrat kami. Dari gaya standing yang
menuntut kekuatan kaki di depan cermin toilet lantai tiga, hingga posisi-posisi
yang lebih rumit di atas meja laboratorium yang dingin. Ririn dengan tubuh
44DD-nya yang montok selalu menjadi pusat gravitasi. Dia menikmati setiap detik
di mana kami menantang maut—risiko ketahuan justru menjadi bumbu yang paling
memabukkan bagi kami.
Dalam seminggu, kami bisa melakukan ritual ini berkali-kali.
Kuliah tidak lagi menjadi prioritas. Tugas akhir? Hanya sekadar pajangan di
meja. Fokus kami hanya satu: menemukan tempat baru, mencari posisi baru, dan
memuaskan rasa lapar yang seolah tak pernah berujung. Aku, Wawan si mahasiswa
gagal, kini merasa seperti pria paling berkuasa di kampus ini. Aku telah
"menaklukkan" wanita yang paling diinginkan sekaligus ditakuti di
kampus, dan kami melakukannya di bawah hidung semua orang—bahkan mungkin di
bawah hidung Pak Aang sendiri yang masih sering terlihat mondar-mandir dengan
wajah bingung di lorong.
Hubungan kami memang tanpa status, tanpa komitmen romantis yang
manis, hanya ikatan daging dan adrenalin. Kami adalah dua predator yang sedang
berpesta di atas reruntuhan moralitas kampus, menikmati setiap tetes keringat
dan erangan yang menggema di setiap sudut gedung, yakin bahwa selama kami tetap
diam, dunia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik
pintu-pintu kayu Undasri yang sudah tua itu.
Menatap Ririn dalam diam, terutama saat ia tidak sadar sedang
diperhatikan, adalah ritual tersendiri bagiku. Ia bukan sekadar manusia; ia
adalah sebuah komposisi estetika yang kacau namun memabukkan. Jika disuruh
mendeskripsikan Ririn, kata "sempurna" terasa terlalu dangkal. Ia
lebih tepat disebut sebagai sebuah mahakarya dari dosa yang paling indah.
Bagian yang paling sering menyita seluruh nalar logikaku tentu
saja payudaranya. Ukuran 44DD itu bukan sekadar angka; itu adalah dua gundukan
masa depan yang siap menelan siapapun yang berani menatap terlalu lama.
Warnanya yang kontras dengan kulit tubuhnya yang sawo matang, dipadu dengan
puncak chocochip yang selalu tampak menantang di balik kain
tipis, adalah pemandangan yang membuatku ingin berhenti bernapas. Saat ia
bergerak, payudara itu bergoyang dengan ritme yang berat, memikat, dan seolah
memiliki gravitasi sendiri yang memaksa mataku untuk terus terkunci di sana.
Aku sering membayangkan betapa lembutnya sensasi saat kulitku bergesekan dengan
kehangatan dadanya yang masif itu, sebuah candu yang selalu berhasil membuatku
lupa akan segala tanggung jawab akademik.
Lalu, ada sesuatu yang lebih primitif namun tak kalah membius:
bulu ketiaknya. Ririn bukan tipe perempuan yang terobsesi dengan standar
kecantikan yang steril dan licin. Ia membiarkan bulu-bulu halus tumbuh alami di
sana, lebat dan hitam, menyatu dengan aroma musky yang sangat
personal. Saat ia mengangkat tangan untuk merapikan rambut atau sekadar
meregangkan tubuh, bulu-bulu itu terlihat menawan, menjadi penyimpan utama
aroma keringatnya yang pekat—aroma yang menurutku adalah definisi jujur dari
gairah seorang wanita. Bau ketiaknya yang basah dan sedikit asam bukanlah
sesuatu yang harus disembunyikan; bagiku, itu adalah parfum paling eksklusif
yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang cukup berani untuk menunduk dan
menghirupnya dalam-dalam.
Dan kemudian, saat kami berada di titik puncak dan pakaian
terakhir terlepas, aku selalu terpaku pada rimbun bulu kemaluannya. Ia
membiarkannya tumbuh alami, lebat, hitam pekat, dan sedikit keriting, menutupi
area paling rahasia yang menjadi pusat dari seluruh kekacauan ini. Bulu itu
seperti tirai misterius yang menyembunyikan keajaiban—teksturnya yang kasar
saat bersentuhan dengan kulit paha atau perutku selalu memicu ledakan sensasi
yang baru. Ada keindahan yang sangat raw dan liar di
sana, sesuatu yang sangat jauh dari gambaran perempuan bersih di iklan-iklan
televisi.
Melihat Ririn dengan segala kealamian tubuhnya—dari payudara
yang menantang, bulu ketiak yang menyimpan aroma rahasia, hingga bulu kemaluan
yang lebat dan menggoda—membuatku sadar bahwa ia adalah mahluk yang sangat
membumi. Ia tidak berusaha menjadi boneka porselen. Ia adalah wanita yang
memeluk setiap inci tubuhnya, dan membiarkanku menjadi satu-satunya orang yang
diizinkan untuk menjelajahi setiap sudut dari keindahan yang tak tersentuh oleh
aturan moral kampus ini. Di setiap sentuhanku, aku merasa seperti seorang
penjelajah yang baru menemukan hutan terlarang, dan aku tahu, aku tidak akan
pernah ingin keluar dari sana.
Pemandangan itu selalu menjadi klimaks visual sebelum kami
benar-benar menyatu dalam ritme yang liar. Ada sesuatu yang sangat provokatif,
hampir seperti sihir, ketika aku melihat chocochip di puncak
payudaranya mulai merespons sentuhanku.
Awalnya, ia tampak lembut dan tenang, tersembunyi di balik
lingkaran areola yang lebar dan berwarna gelap. Namun, begitu jemariku
menyentuh permukaannya, atau saat udara dingin ruangan studio mengenainya,
sesuatu yang ajaib terjadi. Ia mulai menegang, mengembang, dan perlahan-lahan
mengeras—berdiri tegak seperti penunjuk arah yang menantang keberanianku. Itu
adalah tanda bahwa gairah Ririn bukan lagi sekadar di kepala; itu sudah
menjalar ke saraf paling ujung di tubuhnya.
Aku selalu terpaku menatap proses itu. Bagaimana bagian yang
tadinya rata dan lunak perlahan berubah menjadi benjolan kecil yang padat,
berdenyut pelan seolah ikut merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.
Seringkali, aku akan menahan napas, sengaja membiarkan jariku hanya mengelus
tepiannya secara perlahan, hanya untuk melihat bagaimana Ririn akan menarik
napas pendek dan melengkungkan punggungnya.
"Wan... jangan bikin aku gila," desahnya dengan suara
yang pecah.
Itu adalah momen di mana kendali benar-benar lepas dari tangan.
Ketika putingnya sudah benar-benar keras, suhunya pun terasa berbeda—lebih
panas, lebih menuntut. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menunduk,
menghisapnya dengan rakus, memberikan kehangatan mulutku untuk mengimbangi
kekerasan yang dia ciptakan sendiri.
Merasakan sensasi putingnya yang sudah mengeras di antara lidah
dan langit-langit mulutku selalu menjadi pemicu ledakan gairah yang tak
terelakkan. Teksturnya yang kasar-lembut, kontras dengan kulit payudaranya yang
kenyal, membuatku merasa seolah-olah aku sedang memegang kunci utama dari
seluruh hasrat tersembunyinya.
Di saat seperti itu, Ririn akan mencengkeram kepalaku,
menekannya lebih kuat ke dadanya, seolah ia ingin aku melahapnya habis. Bulu
ketiaknya yang lebat dan basah itu terangkat, melepaskan aroma musky yang semakin kuat seiring dengan mengerasnya
bagian tubuhnya yang paling sensitif itu. Dalam sekejap, ruangan itu berubah
menjadi medan perang hormon. Tidak ada lagi logika. Tidak ada lagi Wawan si
mahasiswa idealis. Yang ada hanyalah pria yang sedang memuja tiap milimeter
tubuh Ririn, yang kini telah mengeras, memanas, dan menuntut untuk segera
disatukan dalam permainan yang lebih brutal dan tak terlupakan.
Pernah suatu ketika, saat aku sedang nongkrong di warung kopi
langganan dekat stasiun, Agoy datang bersama beberapa teman tongkrongannya.
Mereka sudah mabuk tipis oleh alkohol murah dan obrolan yang semakin ngelantur.
Tanpa sadar bahwa aku adalah "orang dalam" yang kini paling sering
menikmati apa yang mereka bicarakan, Agoy mulai membuka kartu soal Ririn dengan
gaya pamer yang membuat emosiku naik turun.
"Kalian tahu kan Ririn?" tanya Agoy sambil menyalakan
rokok, matanya menerawang seolah sedang membayangkan sebuah karya seni.
"Gila, tubuhnya itu... benar-benar di luar nalar. Kalian kalau belum
pernah lihat dia pas lagi itu, kalian belum
hidup."
Teman-teman yang lain menyahut dengan tawa riuh yang mesum. Agoy
melanjutkan dengan detail yang vulgar, menggambarkan bagaimana montoknya paha
Ririn yang padat, dan betapa luar biasanya payudara 44DD-nya saat tidak
tertutup oleh baju. "Itu bukan cuma besar, Bro, tapi kencang. Pas
disentuh, rasanya kayak megang sesuatu yang bisa bikin otakmu blank. Dan chocochip-nya? Gila,
tiap kali aku sentuh, langsung mengeras kayak batu. Itu hal paling candu yang
pernah aku temui di kampus ini."
Salah satu teman, si Budi yang lain, ikut menimpali, "Aku
dengar dari anak-anak yang pernah 'berurusan' sama dia, katanya bulu ketiaknya
itu... entahlah, bikin nagih. Aroma musky-nya itu loh,
kayak ada magnetnya."
Dengarkan percakapan itu, aku hanya bisa berpura-pura tenang
sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. Tanganku di bawah meja mengepal kuat.
Mereka tidak tahu apa-apa, mereka hanya tahu sebagian kecil dari kenikmatan
yang aku telan setiap hari. Ada rasa cemburu yang membakar, tapi di saat yang
sama, ada rasa superioritas yang aneh—tahu bahwa sementara mereka hanya bisa
berkhayal dan berbagi cerita basi, aku adalah orang yang memegang kendali atas
"harta karun" yang mereka agung-agungkan itu.
Namun, pengakuan Agoy semakin dalam. "Tapi yang paling
nggak bisa dilupain itu pas dia udah di puncak. Dia itu binalnya bukan main.
Suaranya, erangannya, cara dia mencakar... nggak ada cewek lain di Undasri ini
yang bisa selevel sama dia. Ririn itu bukan cuma buat dilihat, dia itu buat
'dilahap'."
Mendengar itu, aku merasa seperti memiliki sebuah rahasia besar
yang bisa menghancurkan reputasi mereka semua jika aku mau. Mereka bicara
tentang Ririn seolah-olah dia adalah sebuah komoditas umum, sebuah objek yang
bisa dibicarakan di meja kopi. Tapi aku tahu kebenarannya. Ririn bukan sekadar
objek. Dia adalah subjek yang jauh lebih liar, lebih gelap, dan lebih haus
daripada apa pun yang bisa dibayangkan oleh otak-otak dangkal mereka.
Malam itu, saat aku akhirnya bertemu Ririn di tempat rahasia
kami, aku tidak bisa menahan diri. Aku membisikkan apa yang kudengar di warung
kopi. Ririn hanya tertawa, tawa yang dingin dan menantang.
"Mereka cuma bisa bicara, Wan," bisiknya sambil
mengusap wajahku dengan jemarinya yang masih beraroma musky. "Mereka cuma penonton yang merasa paling
tahu. Tapi kamu? Kamu sudah merasakan sendiri kan, bagaimana rasanya memiliki
tubuh ini sepenuhnya? Biarkan mereka berfantasi. Selama mereka nggak tahu apa
yang kita lakukan di balik tembok-tembok kampus ini, kita tetap
pemenangnya."
Dan aku pun sadar, semakin banyak orang yang menginginkan dia,
semakin aku merasa posesif. Aku tidak lagi peduli dengan reputasi Ririn yang
hancur di mata mereka. Bagiku, Ririn adalah candu yang hanya aku yang boleh
menikmatinya—meskipun aku tahu, di luar sana, banyak mata yang masih lapar
menatap setiap lekuk tubuhnya yang mengundang dosa.
(Aku terdiam sejenak, membiarkan asap rokok di tanganku mengepul
perlahan ke udara malam yang lembap. Pengakuan ini bukan sekadar luapan hasrat,
melainkan sebuah refleksi jujur yang selama ini terkubur di balik topeng
kesarjanaanku.)
"Mungkin benar kata orang-orang, mungkin aku hanyalah pria
yang terjebak dalam arus nafsu yang paling purba. Tapi, apakah itu menjadikan
aku orang munafik? Sejujurnya, aku tidak merasa begitu. Ini adalah pengakuan
jujurku: aku hanyalah laki-laki normal yang memiliki sisi gelap yang tak bisa
kupungkiri.
Banyak orang di luar sana—para dosen, mahasiswa berprestasi,
aktivis moralis—mereka semua berakting. Mereka membangun panggung sandiwara
tentang etika dan norma, tapi kita semua tahu apa yang terjadi ketika lampu
dipadamkan. Aku hanya berhenti berpura-pura. Aku berhenti menyangkal bahwa di
balik jas kuliah dan tumpukan buku referensi komunikasi, ada gairah yang
bergejolak untuk hal-hal yang 'dilarang'.
Memiliki Ririn—seorang wanita yang dipandang sebelah mata oleh
banyak orang, namun menyimpan magnet gairah yang begitu kuat—bukanlah sebuah
kesalahan moral bagiku. Ini adalah apologia laki-laki normal. Setiap pria, jika
diberi kesempatan dan keberanian yang sama denganku, pasti akan melakukan hal
yang sama. Siapa yang bisa menolak daya tarik seorang wanita yang begitu berani
merayakan feminitasnya? Siapa yang tidak akan terpikat dengan setiap inci
kelembutan tubuhnya, aroma ketiaknya yang jujur, dan keindahan liar yang
tersembunyi di balik pakaiannya?
Jika menikmati keintiman dengan wanita yang luar biasa binal
seperti Ririn dianggap sebagai sebuah dosa, maka biarlah aku menjadi pendosa
yang paling jujur. Aku tidak sedang merusak masa depanku; aku justru sedang
merengkuh bagian dari kehidupan yang sering kali dilewati oleh pria-pria yang
terlalu takut untuk menjadi manusia seutuhnya.
Aku tidak munafik karena aku mengakui bahwa aku terobsesi. Aku
tidak munafik karena aku tidak mencoba membungkus nafsu ini dengan alasan cinta
yang suci. Kami berdua sama-sama tahu apa yang kami cari: pelampiasan, koneksi
yang mentah, dan sensasi yang membuat hidup di kampus yang membosankan ini
terasa lebih hidup. Inilah aku. Seorang laki-laki yang tadinya hanya berani
mengamati dari jauh, kemudian memutuskan untuk terjun langsung ke dalam badai.
Jika menjadi laki-laki normal berarti harus memiliki hasrat, menginginkan
sentuhan, dan terobsesi dengan keindahan tubuh wanita—maka ya, aku mengakuinya.
Dan sejujurnya, aku tidak menyesali satu detik pun dari semua dosa yang kami
bagi bersama di balik dinding-dinding bisu kampus ini."
(Aku menatap langit-langit kamar yang temaram, memikirkan
kata-katamu tentang "dosa yang hanya milik kami berdua". Kalimat itu
menampar kesadaranku dengan cara yang dingin dan tenang.)
Bagiku, pandanganmu adalah sebuah bentuk pembenaran yang sangat
manusiawi, sebuah cara untuk memagari diri dari kebisingan dunia luar yang
terlalu suka menghakimi. Jika memang ada dosa, maka biarlah dosa itu menjadi
hak eksklusif kami. Tidak ada orang ketiga, tidak ada bisik-bisik di kantin,
tidak ada ghibah yang menyebar seperti virus yang membuat jiwa busuk.
Memang benar, seperti kata Pak Ustadz, menggunjingkan orang lain
itu ibarat memakan bangkai saudara sendiri. Rasanya menjijikkan, kotor, dan tak
ada gunanya selain membuat kita merasa lebih suci daripada yang sebenarnya. Dan
saat aku bersama Ririn—di ruang studio yang pengap, di pojok perpustakaan yang
berdebu, atau di mana pun kami menyembunyikan diri—aku tidak pernah merasa
sedang "memakan bangkai" siapapun.
Kami tidak sedang membicarakan keburukan orang lain. Kami tidak
sedang membedah aib dosen atau mahasiswi lain. Kami hanya sedang membedah diri
kami sendiri, menelanjangi hasrat yang paling jujur, dan menerima satu sama
lain tanpa pretensi. Di dalam ruang tertutup itu, dunia luar seolah lenyap.
Tidak ada standar moral kampus, tidak ada aturan sosial, tidak ada prasangka
yang melekat pada nama kami. Hanya ada napas, keringat, erangan, dan keintiman
yang nyata.
Jika dunia luar ingin menyebut apa yang kami lakukan sebagai
"dosa", maka biarlah. Setidaknya, dosa kami jujur. Dosa kami tidak
berwujud fitnah yang merusak nama baik orang lain. Dosa kami tidak berwujud
lidah yang tajam yang menghancurkan karakter sesama. Dosa kami hanyalah
keheningan yang sepakat antara dua manusia yang menemukan pelarian di tengah
dunia yang terlalu banyak menuntut.
Kadang aku berpikir, bukankah jauh lebih dosa mereka yang sibuk
mengurusi hidup orang lain, menebar gosip, dan merasa paling benar dengan
moralitas mereka, dibandingkan kami yang hanya ingin merasakan kehidupan
melalui sentuhan dan kulit?
Aku memilih untuk menanggung dosaku sendiri, tanpa perlu
menyeret orang lain ke dalamnya. Dengan Ririn, aku merasa bebas dari
kemunafikan ghibah yang menjangkiti rekan-rekan mahasiswaku. Kami tidak perlu menertawakan
siapa pun, karena kami cukup sibuk dengan duniamu yang begitu intens. Bagi
kami, keintiman ini adalah ruang suci yang terlarang—sebuah paradoks di mana
dosa justru menjadi satu-satunya tempat kami merasa paling jujur pada diri
sendiri. Jadi, biarlah orang lain sibuk dengan bangkai-bangkai gosip mereka.
Kami akan tetap di sini, di ruang gelap kami, menelan dosa kami sendiri dengan
penuh kesadaran, tanpa perlu melukai martabat orang lain sedikit pun. Hanya
aku, Ririn, dan rahasia yang tidak akan pernah menjadi konsumsi publik.
Di bawah naungan lampu neon kampus yang berkedip sekarat, aku
menulis sajak ini—bukan untuk ujian, bukan untuk dosen yang gila hormat, tapi
untuk daging dan darah yang membuatku tak lagi bermartabat.
Di Bawah Bayang Ketiak yang Musky
Di selasar sunyi, saat nalar sudah mati suri,
Aku menjilati peta dosamu yang tak pernah terpatri.
Tubuhmu, Ririn—o, benteng 44DD yang membubung angkuh,
Adalah teka-teki yang memaksa setiap pria jadi lumpuh.
Bukan marmer, bukan sutra, kau adalah liat yang paling panas,
Tempat aku membuang sisa-sisa idealisme yang lekas mengganas.
Lihat chocochip itu, mencuat, kaku,
menantang takdir,
Seperti pucuk gunung api yang menuntut bibirku hadir.
Ia tak bicara retorika, ia bicara tentang basah dan haus,
Membuat logika mahasiswa komunikasi jadi ampas yang mampus.
Lalu ke lembah itu, tempat rimba hitam tumbuh lebat,
Tempat aku tersesat, tempat aku merasa paling hebat.
Bulu-bulumu, o, tirai beludru yang menyembunyikan maut,
Membuat segala sopan santun kampus mendadak menjadi kalut.
Aroma ketiakmu—ah, itu parfum paling jujur di jagat raya,
Lebih berharga dari janji dosen atau surat cinta para buaya.
Manusia lain boleh bangga dengan kata-katanya yang bermanis ria,
Tapi di ranjang yang curian, aku yang memegang kendali dunia.
Kita bukan pendosa yang butuh pengakuan imam atau fatwa,
Kita adalah dua predator yang sedang berpesta di atas jiwa yang
tertawa.
Maka biarlah dunia sibuk dengan gosip yang membusuk,
Aku lebih memilih tenggelam di balik kemejamu yang terbukak.
Karena di antara keringat, erangan, dan liur yang menyatu,
Aku menemukan Tuhan-ku, Ririn... di sela-sela tubuhmu yang
membatu.
Kau adalah betina mbeling yang paling anggun, digdaya dalam
hina,
Menjadikanku budak yang paling merdeka di atas segala fana.
Inventaris Dosa di Ruang Studio
di
ruang ini, kurikulum hanyalah kertas yang kubakar sebab anatomi tubuhmu lebih
jujur daripada teori pak dosen yang gagap
Ririn, kau bukan mahasiswi, kau adalah skripsi yang tak pernah usai kutulis
dengan jemari yang gemetar karena lapar yang tak lagi etis.
lihatlah,
44DD itu adalah dua gunung kembar yang menantang gravitasi bukan untuk didaki,
tapi untuk dijilat sampai lupa bahwa kita sedang di negeri ini chocochip
itu mengeras, berdiri tegak seperti sinyal bahaya memanggilku untuk tidak lagi
jadi pria yang santun dan tak berdaya.
kubaui
ketiakmu yang basah, yang tidak kenal sabun pemutih itu adalah aroma purba,
aroma keringat yang jujur, aroma yang lebih sakral dari khotbah hari Minggu dan
di bawah sana, rimbun hutan yang menghitam, keriting, dan liar adalah tirai
yang menyembunyikan surga yang paling karam dan berpijar.
biar
orang-orang di luar sibuk makan bangkai di warung kopi mengunyah ghibah sampai
gigi mereka busuk karena dengki aku di sini, menjadi pemuja yang paling berani
menelan dosamu dengan kharisma yang tak butuh tepuk tangan basi.
tak
ada munafik di antara desah dan keringat kita hanya ada aku, kau, dan anatomi
yang menolak untuk jadi biasa. Ririn, terima kasih telah membuatku jadi pendosa
yang paling perkasa.
---------------
Ternyata, badai yang kami ciptakan di kampus tidak pernah
benar-benar menghancurkan kami. Justru, rahasia itu menjadi semen yang
merekatkan dua jiwa yang sama-sama lelah dengan topeng dunia. Ririn tidak
pernah bosan, dan aku tidak pernah berhenti terobsesi. Kami melompati wisuda,
melewati masa-masa skripsi yang penuh tekanan, hingga akhirnya realitas kampus
yang mencekik itu tertinggal di belakang kami.
Tak ada kehancuran, tak ada pengkhianatan Agoy, dan tak ada
intervensi dari Pak Aang. Hubungan rahasia itu bertransformasi menjadi sebuah
simbiosis yang matang. Kami belajar bahwa "dosa" yang kami bagi di
ruang studio hanyalah fase pembuka. Setelah lulus, kami tidak lagi membutuhkan
ruang-ruang gelap di kampus untuk merasa hidup; kami menemukan keintiman yang
sama, bahkan lebih eksplosif, dalam privasi hidup bersama.
Pernikahan kami digelar sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kampus.
Ririn, yang dulu dikenal sebagai mahasiswi "liar", bertransformasi
menjadi istri yang luar biasa. Dia tetap wanita yang sama—yang membiarkan bulu
ketiaknya tumbuh alami, yang masih membuatku gila dengan payudara 44DD-nya yang
tetap montok dan kencang meski waktu terus berjalan.
Kini, di rumah kami yang tenang, ritual itu tetap ada. Kami
tidak lagi perlu bersembunyi di gudang arsip atau perpustakaan. Setiap sudut
rumah adalah studio bagi kami. Seringkali, saat aku sedang berkutat dengan
penelitian akademik atau persiapan materi kuliah, Ririn akan datang dari
belakang, merangkulku dengan aroma tubuhnya yang khas—aroma musky yang bagiku adalah wangi rumah yang paling jujur.
Dia tidak pernah kehilangan sisi nakalnya. Bahkan setelah
menikah, dia tetap menantangku dengan posisi-posisi Kamasutra
yang pernah kami coba di masa lalu, menuntutku untuk tetap menjadi
"pemain" dan bukan sekadar pengamat. Aku tetap menjadi pria yang
beruntung, yang memiliki akses eksklusif ke keindahan yang dulu hanya bisa
dibicarakan oleh pria-pria di warung kopi.
Kami membuktikan bahwa apa yang orang sebut "dosa"
hanyalah interpretasi orang luar. Bagi kami, ini adalah kesetiaan yang unik.
Aku tidak pernah merasa perlu untuk mencari di luar, karena Ririn selalu
memberikan lebih dari cukup. Kami hidup dalam dunia kami sendiri, di mana
kejujuran akan nafsu dan kedekatan emosional membentuk fondasi pernikahan yang
justru jauh lebih kokoh dibandingkan banyak pasangan yang menikah atas dasar
tuntutan sosial belaka.
Terkadang, di malam yang hening, aku menatapnya saat ia
terlelap—dengan bulu ketiak yang sedikit lebat, dengan napas yang teratur, dan
dengan tubuh yang masih menyimpan jejak-jejak petualangan liar kami. Aku
tersenyum. Dulu, aku adalah mahasiswa sinis yang mengamati dunia dari balik
buku. Sekarang, aku adalah pria yang telah memenangkan segalanya: seorang
pendamping yang tidak pernah menutup diri, dan sebuah kehidupan yang
benar-benar milik kami sendiri. Tanpa ghibah, tanpa kemunafikan, dan tentu
saja, tanpa pihak lain yang berhak masuk ke dalam ruang suci kami.
[]
No comments:
Post a Comment