Saturday, July 4, 2026

Cerita Blog dan Blok M

"Mas, blognya bagus. jangan lupa mampir ke blog-ku ya, tulis Asri."

Irul memandangi baris kalimat itu di kolom komentar shoutbox Blogspot-nya. Sebuah tautan nama berwarna biru berkedip-kedip, mengundangnya untuk mengeklik. Di sudut kanan bawah monitor tabung 14 incinya, ikon Yahoo! Messenger sesekali berkedip kuning, menampilkan status beberapa temannya yang sedang Away atau memasang status message potongan lirik lagu Peterpan.

Irul tersenyum kecil. Ia membenarkan posisi duduknya di kursi plastik warnet yang agak miring, lalu mengeklik nama Asri.

Bunyi klik mouse Logitech yang nyaring itu membawa Irul ke sebuah halaman berlatar belakang hitam dengan taburan animasi bintang-bintang jatuh. Di bagian atas, sebuah banner berkedip dengan tulisan gotik: "Welcome to Asri’s Outer Space". Sebuah pemutar musik otomatis di pojok kiri langsung memutar lagu "Full Moon" dari band indie yang sedang naik daun lewat sela-sela headphone besar yang melingkar di leher Irul.

Ia menggulirkan tetikusnya ke bawah. Asri baru saja memperbarui jurnalnya setengah jam yang lalu.

Friday Mood: Antara Tugas Kuliah dan Kenyataan

Current Mood: Tired but Happy

Listening to: Mocca - I Remember

Hari ini capek banget setelah seharian di kampus. Kuliah Komunikasi Massa tadi bikin pusing, untung tadi sempat mampir ke warnet deket kosan buat update ini. Oh ya, tadi nemu blog seru punya anak seangkatan kayaknya. Tulisannya asyik. Semoga yang punya sadar kalau taktik blog-walking saya berhasil, hehe... :p

Irul tertawa pelan. Ia melirik sisa lumba-lumba billing siber-net di pojok layar komputer—masih ada sekitar 20 menit dari paket 2 jam yang ia beli seharga enam ribu rupiah tadi. Tanpa ragu, Irul langsung menggulirkan layar ke kotak komentar di bawah postingan Asri.

Ia mengetik dengan ritme cepat, khas anak warnet yang hapal letak papan ketik tanpa perlu melihat.

Irul_bukan_idola | Friday, July 3, 2006 16:30 PM

Taktik blog-walking-nya sukses besar, Mbak! Hehe. Salam kenal ya. Blogmu juga keren, lagunya Mocca langsung bikin betah nongkrong di sini. Btw, anak Komunikasi juga? Kapan-kapan boleh nih tukeran link di blogroll.

Salam hangat dari bilik nomor 5,

Irul

Setelah mengeklik tombol "Publish", Irul kembali ke halaman utamanya sendiri. Ia membuka pengaturan tata letak HTML-nya, siap memasukkan alamat blog Asri ke dalam daftar My Friends di kolom samping blognya.

Tepat saat ia menekan tombol save, ikon Y!M di taskbar komputernya mendadak melompat-lompat dengan bunyi khas yang sangat akrab di telinga: Buzz!

Sebuah jendela obrolan baru terbuka. Sebuah akun dengan avatar kartun anak perempuan menyapanya: asri_imut87 is typing...

"Eh, dia langsung online," bisik Irul sambil buru-buru membetulkan posisi headphone-nya, bersiap menyambut obrolan digital panjang yang mungkin akan menghabiskan sisa uang sakunya untuk menambah jam billing sore itu.

 

 

Buzz!

Sebuah getaran layar kedua dari Asri mendarat di layar Irul, disusul sebaris kalimat yang muncul di jendela Yahoo! Messenger.

asri_imut87: Hihi, cepet bgt bales komentarnya. Lagi paket begadang ya?

irul_bukan_idola: Bukan, ini paket reguler sore aja kok. Kebetulan sisa billing masih ada 15 menit lagi. Kamu sendiri di warnet mana?

asri_imut87: Oalah... Aku di Matrix Net, deket pertigaan kampus. Di sini AC-nya dingin bgt, tp untung lagunya ganti jd Sheila on 7.

Irul tersenyum, melirik sisa lumba-lumba billing-nya yang perlahan menyusut ke angka 12 menit. Angka yang terlalu kejam untuk sebuah obrolan yang baru saja dimulai. Ia buru-buru mengetik.

irul_bukan_idola: Eh, asri, billing-ku kritis nih. Daripada kepotong pas lagi seru, punya nomor HP? Nanti aku SMS aja kalau udah keluar dari warnet.

Ada jeda sekitar satu menit. Status di bawah nama Asri berubah-ubah antara typing a message... lalu hilang, lalu muncul lagi. Irul sempat was-was, jangan-jangan permintaannya terlalu agresif untuk ukuran kenalan baru di dunia blogging.

asri_imut87: Boleh... 081579xxxxx. Tapi jangan malem-malem ya, pulsa SMS-ku lagi sekarat, tinggal dapet bonus sesama operator aja nih :p

Irul langsung meraih ponsel Nokia 3310 dari saku celananya. Dengan cekatan, jempolnya menekan tombol keypad yang sudah agak keras, menyimpan nomor Asri dengan nama "Asri Blogger".

Tepat saat ia memasukkan ponselnya kembali, layar monitornya tiba-tiba menggelap. Sebuah kotak dialog besar berwarna biru muncul di tengah layar: "WAKTU BILLING ANDA TELAH HABIS. SILAKAN HUBUNGI OPERATOR."

Irul menghela napas, tapi senyumnya tidak hilang. Ia melepas headphone besar yang menjepit telinganya, mencangklong tas ransel, lalu berjalan ke meja operator untuk membayar kekurangan tiga ribu rupiah karena sempat overtime beberapa menit.

Begitu melangkah keluar dari pintu kaca warnet, hawa sore yang hangat langsung menyergapnya. Jalanan di depan kampus masih ramai oleh motor-motor bebek dan angkot yang ngetem. Irul berjalan kaki menuju pangkalan ojek sambil merogoh ponselnya lagi.

Ia membuka menu Create Message, lalu mengetik dengan karakter super hemat khas masanya demi menghindari hitungan dua halaman SMS:

Asri, ini Irul yg di warnet td. Salken y. Dh nympe kos? Jgn lupa mkn mlm.

Tombol Send ditekan. Animasi amplop terbang muncul di layar monokrom ponselnya. Sore itu, di tahun 2006, sebuah hubungan baru saja berpindah dari kabel LAN warnet menuju frekuensi sinyal seluler, siap memenuhi memori Inbox yang terbatas hanya sampai 15 pesan.

 

Tiga hari setelah insiden billing habis itu, kotak masuk Nokia 3310 milik Irul sudah penuh sesak. Setiap beberapa jam sekali, ia harus menghapus SMS lama dari operator demi memberi ruang untuk pesan-pesan baru dari Asri. Lewat ketikan singkat yang hemat karakter, mereka akhirnya sepakat untuk bertemu hari Sabtu sore di tempat paling tak berjarak bagi anak muda Jakarta Selatan kala itu: Blok M Plaza.

Irul datang lebih awal. Ia berdiri di dekat eskalator lantai dasar, mengenakan kaos band indie lokal yang dipadukan dengan kemeja flanel kotak-kotak yang sengaja tidak dikancing—gaya andalan yang ia contek dari majalah Hai. Tangannya sesekali meraba kantong celana, memastikan dompetnya yang berisi beberapa lembar uang dua puluh ribuan dan kartu mahasiswa masih aman.

"Irul, ya?"

Sebuah suara lembut membuat Irul menoleh. Seorang perempuan berambut sebahu dengan jepitan rambut kecil di poni berdiri di hadapannya. Ia memakai kaos putih polos, celana jins belel, dan tas selempang kanvas. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel Nokia daun (7610) dengan casing transparan.

"Asri?" Irul memastikan, meski ia sudah mengenali senyum itu dari foto resolusi rendah berukuran 200x200 piksel di sidebar blog Asri.

"Iya! Ih, ternyata aslinya lebih tinggi ya daripada di foto blog," kata Asri sambil tertawa kecil, sedikit canggung tapi langsung mencairkan suasana. Mereka bersalaman formal, menyebutkan nama masing-masing di tengah riuh rendah pengunjung mal dan deru AC sentral.

Karena perut sudah sama-sama protes, mereka memutuskan naik ke lantai atas untuk mencari makan. Pilihan jatuh pada food court. Irul memesan paket hemat nasi goreng, sementara Asri memilih bakso.

Sambil menunggu pesanan, obrolan yang biasanya dijembatani oleh kolom komentar kini mengalir langsung. Mereka membahas dosen Kampus Komunikasi mereka yang killer, lagu-lagu di album terbaru Samsons, hingga curhat soal susahnya mencari template blog yang tidak berat saat di-load di warnet.

"Kamu tahu enggak, Rul? Pas kamu minta nomor HP kemarin, aku tuh deg-degan. Takut kamu aslinya om-om warnet yang suka nge-spam," canda Asri sambil menusuk baksonya dengan garpu.

Irul tersedak es teh manisnya. "Ya ampun, Sri. Muka pas-pasan gini dibilang om-om. Tapi untung dikasih kan nomornya?"

"Yaa... habisnya tulisan di blogmu bagus sih. Kelihatan anaknya pinter," sahut Asri spontan, membuat pipinya sendiri agak merona setelah menyadarinya.

Setelah kenyang dan mengobrol hampir satu jam, mereka beranjak ke lantai paling atas: Blok M 21. Suasana di depan loket bioskop sangat ramai. Poster film Dunia Mereka dan Jomblo terpajang besar di dinding. Setelah berdiskusi singkat sambil melihat papan jadwal yang masih menggunakan papan cetak manual, mereka sepakat membeli tiket film Jomblo garapan Hanung Bramantyo yang lagi hits banget.

"Aku aja yang bayar tiketnya, Sri. Kamu tadi kan udah bayar bakso," kata Irul, mencoba sok jantan padahal dalam hati sedang menghitung sisa uang di dompetnya. Harga tiket bioskop hari Sabtu saat itu masih lima belas ribu rupiah, jadi dompet Irul masih aman.

Mendapat baris kursi deretan G di dalam studio yang dingin, mereka duduk bersebelahan. Selama dua jam, mereka tertawa bersama melihat tingkah kocak Ringgo Agus Rahman dan kawan-kawan di layar lebar. Sesekali, saat adegan lucu membuat seluruh studio bergemuruh, lengan baju mereka bersentuhan di sandaran kursi. Ada sengatan canggung yang manis, khas cinta monyet zaman kuliah.

Keluar dari bioskop, hari sudah berganti malam. Lampu-lampu di kawasan Blok M mulai menyala terang, bersaing dengan lampu sorot dari Terminal Blok M di bawahnya.

"Makasih ya buat hari ini, Rul. Seru banget," ucap Asri saat mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar mal.

"Aku yang makasih, Sri. Akhirnya blog-walking kita sampai ke Blok M," balas Irul sambil tersenyum.

Asri tersenyum manis, lalu mengangkat ponselnya. "Nanti malam jangan lupa buka Y!M ya. Aku mau pasang foto kita di blog."

Irul mengangguk pasti. Ia tahu, malam ini ia rela merogoh kocek lagi untuk beli paket begadang di warnet, hanya demi melihat namanya tertulis di jurnal terbaru Asri dengan Current Mood: Happy.

 

Pertemuan di Blok M malam itu membekas lama, setidaknya sampai tiga stasiun radio anak muda Jakarta memutar lagu Kemesraan sebagai penutup siaran malam.

Begitu sampai di kosannya yang berukuran 3x3 di daerah Pela Mampang, Irul tidak langsung tidur. Ia melempar jaketnya ke kasur lantai, menyalakan kipas angin kosan yang beritme putar patah-patah, lalu buru-buru mengambil dompet. Masih ada sisa selembar sepuluh ribu. Cukup untuk paket begadang dari jam 11 malam sampai jam 5 subuh di "Neo Net", warnet langganannya yang punya keunggulan keyboard-nya jarang macet.

Pukul 23.15, Irul sudah duduk di bilik nomor 12. Aroma rokok dan mi instan khas warnet malam hari menyambutnya. Di layar monitor, ia langsung membuka peramban Mozilla Firefox dan mengetik alamat blog Asri.

Halaman berlatar hitam itu termuat perlahan, baris demi baris karena koneksi malam yang agak tersendat. Dan di sana, di postingan teratas, sebuah judul baru terpajang:

Saturday Date: From Blog-Walking to Blok M!

Current Mood: Contented 😊

Listening to: Maliq & D'Essentials - Untitled

Hari ini akhirnya ketemu sama "Irul_bukan_idola" yang aslinya ternyata gak se-misterius tulisannya di blog, hehe. Malah cenderung kocak (makasih ya udah ditraktir nonton Jomblo, kapan-kapan gantian aku yang bayar!).

Tadi sempat foto bareng di depan pajangan poster bioskop pake HP-ku. Agak blur sih karena kameranya cuma VGA, tapi it's okay, yang penting memorinya. Nih, fotonya di bawah!

Irul menahan napas saat gulir mouse-nya bergerak ke bawah. Sebuah foto digital resolusi rendah muncul. Di foto itu, wajah Irul terlihat agak tegang dengan rambut yang sedikit berantakan kena angin proyek Blok M, sementara Asri tersenyum lepas sambil membuat pose peace dengan dua jarinya.

Tiba-tiba... BUZZ!

Jendela Yahoo! Messenger Irul bergetar hebat di layar.

asri_imut87: Hayo... ketahuan ya lagi ngeliatin blogku! Aku liat ada IP baru masuk di webcounter-ku, tebakanku pasti kamu :p

irul_bukan_idola: Eh, ketahuan ya? Haha. Iya nih, baru nyampe warnet langsung buka. Fotonya bagus, Sri. Tapi mukaku di situ kenapa kayak orang belom bayar kosan ya?

asri_imut87: Hahaha! Gak apa-apa, yang penting kan eksis. Eh Rul, minggu depan anak-anak Komunikasi angkatan kita mau ada acara baksos di daerah Depok. Kamu ikut gak? Kalau ikut, bareng yuk naik KRL ekonomi-nya.

Irul memandangi baris kalimat itu. Di tahun 2006, bersanding di kursi KRL ekonomi yang jendelanya tidak bisa ditutup dan pintunya selalu terbuka adalah level kedekatan yang berbeda untuk anak kuliah. Itu adalah undangan tidak resmi untuk masuk ke lingkaran dunianya yang nyata.

Irul mengetik balasannya dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan dari pantulan kaca monitor tabung di depannya.

irul_bukan_idola: Ikut dong. Kabari aja jam berapa kumpul di Stasiun Sudirman. Nanti aku yang pegangin tiket karcisnya biar gak ilang.

asri_imut87: Sip! Deal ya. Udah dulu ya Rul, ini billing-ku sisa 2 menit lagi. See you next week! Bye!

Status Asri berubah menjadi Offline. Irul bersandar di kursi plastiknya, mendengarkan lagu Maliq & D'Essentials yang berputar dari winamp komputer warnetnya. Malam itu masih panjang, paket begadangnya masih sisa lima jam lagi, tapi Irul tahu, esok hari rasanya tidak akan pernah membosankan lagi selama ada pesan singkat yang masuk ke Nokia 3310-nya.

 

Musim liburan semester akhirnya tiba, memaksa dua dunia yang baru saja bertaut itu terpisah jarak ratusan kilometer. Asri harus pulang kampung ke Palembang, kembali ke rumah orang tuanya untuk berkumpul bersama adik laki-laki satu-satunya. Sementara Irul tetap di Jakarta, menikmati sepinya ibu kota di rumah keluarga besarnya yang kental dengan logat Minang semenjak orang tuanya merantau dari Padang puluhan tahun silam. Kepergian Asri seketika meninggalkan ruang hampa yang aneh di keseharian Irul; tidak ada lagi jadwal blog-walking yang ditunggu, tidak ada lagi dering pendek SMS di Nokia 3310-nya yang biasa menanyakan kabar siang. Di sela-sela riuh rendah obrolan bahasa Padang di meja makan rumahnya, pikiran Irul justru terbang menyeberangi Selat Bangka. Di sanalah, di tengah rasa sepi yang mendadak riuh itu, Irul menyadari bahwa rasa kagumnya pada sang komentator blog telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam: benih kangen itu mulai bersemi.

Titik baliknya terjadi di suatu pagi yang bising di Bandara Soekarno-Hatta. Ponsel Irul bergetar hebat di atas kasur, menampilkan nama "Asri Si Blogger" di layarnya. Saat tombol hijau ditekan, suara Asri langsung menyergap di antara gemuruh pengumuman jadwal penerbangan. Ia menelepon untuk mengabarkan bahwa pesawatnya akan segera berangkat. Namun, yang semula diniatkan hanya sebagai panggilan pamit singkat, justru berubah menjadi obrolan magis yang menolak usai. Mengabaikan tarif telepon interlokal yang mahal dan sisa pulsa yang terus tergerus per detik, Asri tetap menempelkan ponsel daunnya di telinga, menceritakan ketakutannya naik pesawat, sementara Irul mendengarkan dengan napas tertahan dari balik bantal kosan. Panggilan itu bertahan hingga satu jam penuh—sebuah durasi yang tidak masuk akal untuk ukuran dompet mahasiswa zaman itu. Di detak menit ke-enam puluh, tepat sebelum pramugari memintanya mematikan ponsel, Asri berbisik lirih, "Rul, pesawatnya mau jalan. Jangan lupa isi Y!M ya, biar aku bisa liat kamu lewat status Away-mu." Klik. Sambungan terputus, meninggalkan Irul yang terpaku menatap layar ponselnya yang panas, menyadari bahwa obrolan satu jam itu bukan lagi sekadar bumbu pertemanan, melainkan proklamasi tidak resmi dari dua hati yang saling jatuh cinta.

 

Dua minggu berlalu di Palembang, dan rutinitas Asri kini berputar di antara ruang tengah rumahnya dan warnet terdekat dari kediamannya. Jarak Jakarta–Palembang terasa begitu menyiksa, terutama ketika ponsel Nokia 7610 miliknya lebih sering menampilkan tulisan “Memory Full” akibat ratusan SMS dari Irul yang tidak tega ia hapus. Setiap baris teks dari Irul—yang kini selalu menyelipkan panggilan "Sri" dengan nada yang lebih empuk—selalu sukses membuat adik laki-lakinya curiga karena melihat sang kakak senyam-senyum sendiri di depan layar monokrom.

Sore itu, Asri rela berjalan kaki di bawah terik matahari Palembang menuju warnet "Musinet". Begitu duduk di bilik dan menyalakan PC, ia langsung melewati ritual wajib: membuka Yahoo! Messenger.

Pop!

Sebuah jendela obrolan langsung terbuka otomatis. Di sana, status Irul tertulis Away, namun status message-nya memasang potongan lirik lagu Ungu yang sedang merajai tangga lagu radio: “...sejauh mungkin aku melangkah, hatiku pantas di posisimu...”

Asri menggigit bibir bawahnya, menahan debar di dada yang mendadak berpacu cepat. Tanpa membuang waktu, ia mengirimkan satu karakter andalan anak Y!M untuk menguji keberadaan seseorang.

asri_imut87: P

asri_imut87: Rul? Lagi di warnet juga ya?

Hanya butuh tiga detik sampai status Irul berubah menjadi Available hijau menyala.

irul_bukan_idola: SRIIII! Ya ampun, akhirnya kamu online. Aku udah nongkrong di Neo Net dari jam 1 siang cuma buat nungguin kamu.

asri_imut87: Ih, gombal bgt sih! Emang gak kuliah?

irul_bukan_idola: Kan lagi libur semester, Sri. Di rumah juga sepi, Ibu sama Ayah sibuk ngurusin toko di Pasar Tanah Abang. Di kosan apalagi, makin sepi gak ada yang ngajakin ke Blok M.

Asri tertawa kecil di depan monitor, jemarinya dengan cepat mengetik balasan di atas keyboard yang agak berdebu.

asri_imut87: Bisa aja masnya ini. Oh ya, tagihan telepon rumahku bulan ini kayaknya bakal bengkak deh gara-gara telepon 1 jam di bandara kemarin. Papaku sampai nanya, itu nelpon siapa kok lama bgt kayak dengerin siaran radio, heheu..

irul_bukan_idola: Waduh, bilangin ke Papa kamu, maafin Irul ya Nugraha (nama belakang Irul). Tapi jujur, Sri... abis nelpon itu, pulsaku langsung sisa Rp150 perak. Tapi gak apa-apa, sepadan banget.

Ada jeda yang cukup lama dari sisi Asri. Di luar bilik warnet, lamat-lamat terdengar suara azan Magrib berkumandang dari masjid di tepi Sungai Musi. Asri tahu waktu paket internetnya hampir habis, namun ada satu hal yang harus ia sampaikan—sesuatu yang selama dua minggu ini mengganjal di sudut hatinya.

asri_imut87: Rul... kamu kangen gak sih sama Jakarta? Eh salah, maksudnya... kangen gak sama suasana pas kita di Blok M?

irul_bukan_idola: Aku gak kangen Blok M-nya, Sri. Aku kangen orang yang duduk di kursi sebelahku pas nonton film Jomblo.

Mata Asri berbinar. Detak jantungnya terasa diketuk bertalu-talu. Di bilik warnet yang remang itu, di bawah putaran kipas angin langit-langit yang bising, dua anak manusia yang terpisahkan selat itu tahu bahwa jarak tidak lagi menjadi sekat. Lewat perantara teks digital berwarna biru di aplikasi Y!M, sebuah komitmen tanpa kata "pacaran" yang muluk-muluk telah resmi terbentuk.

asri_imut87: Aku juga, Rul. Dua minggu lagi aku balik ke Jakarta. Jemput di Gambir ya? Pake kemeja kotak-kotak yang kemarin.

irul_bukan_idola: Pasti, Sri. Jangankan Gambir, nungguin kamu di peron stasiun dari subuh pun bakal aku jabanin.

Asri mengeklik Sign Out dengan senyum paling lebar yang ia miliki sepanjang bulan Juli tahun 2006 itu. Saat melangkah keluar dari warnet, langit Palembang yang mulai menggelap terasa begitu indah, seindah bayangan peron Stasiun Gambir yang menunggunya di ujung liburan nanti.

 

 

Aroma khas minyak pelumas kereta, desis rem angin, dan gemuruh riuh pedagang asongan langsung menyambut Asri begitu ia menginjakkan kaki di peron Stasiun Gambir. Setelah belasan jam menempuh perjalanan yang melelahkan, rasa kantuknya menguap begitu saja saat matanya menangkap sosok laki-laki yang berdiri di dekat tiang beton besar. Irul di sana, benar-benar memakai kemeja flanel kotak-kotak andalannya, dengan rambut yang sedikit basah karena minyak rambut Gatsby yang wanginya langsung tercium begitu Asri mendekat.

"Lama ya nunggunya?" tanya Asri, menyembunyikan letup kegembiraan di balik suara seraknya.

Irul tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan keberanian yang entah datang dari mana—mungkin efek rindu yang sudah menembus ubun-ubun selama sebulan penuh—ia langsung mengambil alih tas jinjing di tangan Asri, lalu menarik pergelangan tangan perempuan itu lembut, membawanya ke dalam sebuah pelukan singkat yang hangat. Jantung Asri berdegup kencang, pipinya langsung merona merah di antara lalu-lalang penumpang KRL. Di tahun 2006, berpelukan di depan umum seperti itu sudah terasa sangat berani dan menegangkan untuk ukuran mereka.

"Kan udah janji, dari subuh pun bakal aku tungguin," bisik Irul sambil melepas pelukannya, tersenyum jahil melihat muka Asri yang mendadak matang.

Romantika Jakarta segera merenggut mereka kembali ke dalam ritmenya yang panas dan dinamis. Minggu-minggu berikutnya di ibu kota berubah menjadi rangkaian kencan yang semakin intens. Mereka tidak lagi hanya duduk rapi di food court mal. Irul mulai sering membonceng Asri membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan motor bebek Supra-X miliknya. Lengan Asri yang semula hanya berpegangan canggung pada jaket Irul, kini sudah melingkar erat di pinggang cowok itu, dagunya bersandar nyaman di bahu Irul sepanjang jalur layang miring menuju arah tempat kos.

Suatu sore yang mendung, setelah lelah berburu kaset pita di lantai bawah Blok M Square, hujan deras khas Jakarta tiba-tiba turun mengguyur kota. Irul buru-buru mengarahkan motornya menembus genangan air menuju kosannya di daerah Pela Mampang.

Dengan pakaian yang setengah basah, mereka masuk ke dalam kamar kos Irul yang berukuran ringkas itu. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng menciptakan melodi alami yang meredam bisingnya jalanan di luar. Irul memberikan selembar handuk kering dan sebuah kaos oblong miliknya yang kebesaran agar Asri bisa mengganti bajunya yang lembap.

Saat Asri keluar dari kamar mandi darurat dengan kaos Irul yang menenggelamkan tubuh kecilnya, suasana di dalam kamar mendadak berubah lapang sekaligus sempit. Hanya ada mereka berdua, ditemani pendar temaram dari lampu meja belajar dan suara kipas angin yang berputar pelan.

"Dingin ya, Rul," kata Asri sambil duduk di tepi kasur lantai, melipat kakinya ke dada.

Irul berjalan mendekat, membawa dua gelas teh manis hangat. Ia duduk di samping Asri, menyerahkan salah satu gelas. Namun, alih-alih langsung meminumnya, pandangan Irul justru terkunci pada leher Asri yang sedikit basah oleh sisa air, dengan beberapa helai rambut yang menempel di tengkuknya.

"Sini, aku keringin," ujar Irul serak. Ia mengambil ujung handuk yang menggantung di bahu Asri, lalu dengan saksama mengusap rambut perempuan itu dengan gerakan yang sangat pelan.

Sentuhan itu membuat Asri terdiam. Jarak di antara mereka terkikis habis. Ketika Irul menurunkan handuknya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Irul bisa melihat dengan jelas bulu mata Asri yang lentik, dan Asri bisa merasakan deru napas Irul yang hangat di permukaan kulit wajahnya.

Tangan Irul perlahan bergerak, menyelipkan sehelai rambut Asri ke belakang telinga. Jemarinya tidak langsung menjauh, melainkan turun membelai rahang Asri dengan lembut. Ada ketegangan yang manis, sebuah magnet remaja yang begitu kuat dan nakal yang selama ini hanya tertahan dalam bentuk ketikan teks di bilik-bilik warnet.

"Rul..." bisik Asri lirih, tapi suaranya justru terdengar seperti sebuah undangan.

Irul tidak lagi menahan diri. Ia mencondongkan badannya, memiringkan kepala, dan sedetik kemudian bibirnya sudah mendarat di atas bibir Asri. Lembut pada awalnya, seolah takut mengejutkan gadis Palembang itu. Namun, ketika tangan Asri perlahan naik dan meremas pundak kemeja kotak-kotak Irul, ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, panas, dan penuh desakan rindu yang menuntut penuntasan setelah sebulan penuh terpisah jarak selat.

Di dalam kamar kos sederhana itu, di bawah kepungan hujan Jakarta tahun 2006, dua remaja itu membiarkan diri mereka larut dalam getaran yang baru pertama kali mereka rasakan—sebuah babak baru yang jauh lebih intim, meninggalkan dunia maya dan sepenuhnya merayakan realitas cinta yang nyata.

 

Napas mereka berdua memburu saat pautan bibir itu akhirnya terlepas. Jarak wajah mereka masih begitu dekat, hingga Irul bisa melihat pantulan pendar lampu meja belajar di bola mata Asri yang kecokelatan. Sudut bibir Asri basah, dan kaos oblong Irul yang ia kenakan kini sedikit melorot di bagian bahu, menampilkan garis tulang selangka yang halus.

Irul menelan ludah, tangannya masih betah melingkar di pinggang ramping Asri, merasakan hangat tubuh gadis itu menembus kain katun yang tipis. Ada debar liar di dadanya yang seolah mau melompat keluar.

"Rul... kamu... emang biasa ya kayak gini di kosan?" bisik Asri, suaranya agak serak dengan nada menuduh yang manja. Jarinya yang lentik menjewer pelan ujung kerah kemeja flanel Irul.

Irul langsung melebarkan matanya, buru-buru menggeleng. "Ngawur! Demi Tuhan, Sri, kamar ini biasanya cuma penuh sama bau mi instan sama tumpukan fotokopian diktat kuliah. Kamu tuh tamu perempuan pertama yang duduk di kasur ini."

Asri tersenyum puas mendengar jawaban itu. Sifat manjanya perlahan mengikis rasa canggung yang sempat menggantung. Ia menyandarkan kepalanya di dada Irul, mendengarkan detak jantung cowok itu yang masih berpacu mirip ketukan drum lagu-lagu The Upstairs.

"Bohong ah. Anak band Jakarta kan biasanya nakal," goda Asri lagi, sengaja mendongakkan kepala agar hidungnya bersentuhan dengan dagu Irul yang mulai ditumbuhi janggut tipis.

"Aku kan bukan anak band, Sri. Aku cuma penikmat yang modalnya nongkrong di Aksara atau nyari kaset seken di Blok M," balas Irul sambil terkekeh. Tangannya bergerak mengusap punggung Asri, sesekali jemarinya bermain nakal di tengkuk gadis itu, membuat Asri sedikit bergidik kegelian.

Di luar, hujan Mampang perlahan mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang seng yang ritmis. Bau tanah basah menguar masuk lewat celah ventilasi udara yang ditutupi kawat nyamuk. Jam dinding berbentuk logo Nokia di atas lemari menunjukkan pukul delapan malam.

Asri melirik jam tersebut, lalu menghela napas berat. "Rul, udah jam segini. Aku harus balik ke kosan. Anak-anak kos sebelah biasanya jam sembilan udah pada nongkrong di ruang tengah, nanti aku digosipin kalau pulang kemalaman."

Irul seolah enggan melepas lingkaran lengannya. "Bentar lagi, Sri. Lima menit lagi ya? Jalur arteri masih macet banget pasti abis hujan begini."

Asri tidak menolak. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma parfum murah mixed minyak rambut Gatsby milik Irul yang kini sudah bercampur dengan aroma tubuh cowok itu. Di dalam kamar kos sederhana berkipas angin patah-patah itu, mereka sadar bahwa hubungan mereka sudah melompat jauh. Bukan lagi sekadar interaksi dua akun anonim di dunia blogging atau Yahoo! Messenger, melainkan ikatan nyata dua remaja ibu kota yang sedang mabuk kepayang oleh manis dan nakalnya romansa pertengahan tahun 2006.

"Ya udah, yuk. Ambilin jaketku," bisik Asri akhirnya, sambil memberikan satu kecupan kilat di pipi Irul sebelum buru-buru bangkit untuk ganti baju, meninggalkan Irul yang terpaku di atas kasur lantai dengan senyum bodoh yang tak kunjung hilang.

 

Suasana kamar kos malam itu mendadak senyap setelah deru motor Supra-X Irul berlalu mengantar Asri pulang. Irul berjalan masuk, masih menyisakan senyum di bibir dan sisa kehangatan Asri yang seolah masih tertinggal di kamarnya. Ia bermaksud membereskan kasur lantai dan mengembalikan kaos oblongnya ke dalam lemari plastik.

Namun, saat ia mengangkat handuk yang tadi dipakai Asri di sudut kasur, selembar kain tipis berwarna merah muda dengan hiasan renda kecil terjatuh ke lantai.

Irul terpaku. Jantungnya kembali berdegup dua kali lebih cepat daripada saat mereka berciuman tadi. Itu celana dalam Asri. Rupanya dalam kepanikan dan ketergesa-gesaannya ganti baju karena takut kemalaman, benda super personal itu luput dari ingatan Asri dan tertinggal di balik lipatan handuk.

Aroma sabun yang manis dan wangi khas Asri langsung menguar samar saat Irul memungutnya dengan ujung jari yang agak gemetar. Ada sensasi panas, nakal, sekaligus kikuk yang menyergap benak remaja lak-lakinya. Di tahun 2006, menyimpan benda seperti ini di kamar kosan adalah puncak dari sebuah "rahasia besar" yang bisa bikin dahi berkeringat dingin.

Belum sempat Irul menaruh benda itu, ponsel Nokia 3310 di kantong celananya bergetar hebat. Sebuah SMS masuk.

Rul, udh nyampe kmr nih. Aman. Eh... km liat sesuatu gak di dkt kasur? Pls jgn dibilang2, aku malu bgt!! Jgn diapa-apain y!! 🙈

Irul tertawa tertahan di tengah kamarnya yang remang. Bayangan wajah Asri yang pasti sedang merah padam menahan malu di kosannya langsung tergambar jelas. Jempol Irul dengan cepat mengetik balasan dengan nada sejail mungkin.

Oh, selembar kain pink kecil ini? Udah aman kok, Sri. Sekarang lagi aku pajang di atas monitor tabungku biar jadi jimat penolak billing habis, heheu. Nakal ya, sengaja ditinggal biar aku kangen terus ya?

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponselnya berdering lagi.

IRULLLL!!! Ih mesum bgt sih!! Sumpah demi apa aku lupa bgt td pas buru2. Awas ya klo km taro situ! Besok pas kuliah pokoknya balikin, musti dibungkus koran biar gak keliatan orang! Awas klo ilang!

Irul tersenyum lebar, memandangi benda kecil di tangannya sebelum melipatnya dengan rapi dan menyimpannya di bagian paling dalam laci dompetnya. Malam itu, di bawah putaran kipas angin yang lambat, hawa kamar kos Mampang terasa jauh lebih gerah dari biasanya. Kisah cinta yang berawal dari ketikan teks di komputer warnet itu kini telah menyimpan satu babak baru yang jauh lebih intim, nakal, dan mengikat mereka berdua dalam rahasia remaja Jakarta yang takkan terlupakan.

 

Irul memandangi benda kecil berwarna merah muda itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Detik itu juga, hawa hangat yang tersisa dari hujan Mampang mendadak berubah menjadi hawa panas yang bikin tengkuknya berkeringat dingin. Jantungnya berdentum kencang, jauh lebih bising daripada suara kipas angin kosannya yang beritme putar patah-patah.

Ada kepanikan instan yang aneh sekaligus mendebarkan. Sebagai cowok kuliahan tahun 2006 yang kamarnya biasanya cuma dipenuhi kertas fotokopian diktat, keberadaan barang super personal milik Asri di atas kasurnya terasa seperti "bom waktu".

Irul menengok ke arah pintu kamar kosnya yang terbuat dari tripleks tipis. Pikiran liarnya langsung melompat ke mana-mana. Bagaimana kalau tiba-tiba si penjaga kos datang mengetuk pintu malam-malam untuk menagih uang kebersihan? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau teman-teman kampusnya mendadak melakukan ronda malam dan mendobrak kamarnya untuk numpang main Winning Eleven di PS2 sewaan? Kalau sampai benda ini terlihat, habislah reputasinya. Dia bakal dicap sebagai cowok paling mesum se-angkatan di Jurusan Komunikasi.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Irul mengangkat kain tipis berenda itu. Aroma wangi sabun mandi yang dipakai Asri berbaur dengan sisa kehangatan tubuh gadis itu langsung menguar, memapar indra penciumannya. Sensasi itu menyengat sisi maskulin remaja Irul, mengirimkan gelombang getaran nakal yang membuatnya harus menelan ludah berkali-kali. Kamar kos berukuran 3x3 meter itu mendadak terasa begitu sempit dan gerah.

Ia berjalan jinjit ke arah jendela, memastikan gorden kainnya sudah tertutup rapat tanpa celah sepersen pun. Irul merasa seperti seorang kriminal yang baru saja menemukan barang bukti kejahatan paling rahasia di dunia.

“Gila... ini beneran ketinggalan,” bisiknya pada diri sendiri, setengah tidak percaya dengan keberanian—atau kecerobohan—situasi malam ini.

Setiap kali matanya menatap lekukan kain itu, memori tentang ciuman panas mereka di bawah pendar lampu meja beberapa jam lalu kembali berputar di kepalanya. Bahu Asri yang melorot, deru napasnya yang memburu, dan cengkeraman tangan Asri di kemeja flanelnya. Keberadaan barang ini seolah menjadi stempel absolut bahwa hubungan mereka sudah melintasi batas polos anak kuliah yang cuma hobi blog-walking.

Tepat saat Irul bingung harus menyembunyikannya di mana, Nokia 3310 di kantongnya bergetar hebat. Irul sampai terlonjak kaget, seolah-olah polisi baru saja membunyikan sirine di depan pintu kosnya.

Ia membaca SMS dari Asri yang panik dan malu setengah mati. Irul tersenyum kecut sambil menyeka keringat di dahinya. Ia mengetik balasan sok berani dan jahil demi menutupi fakta bahwa dia sendiri sebenarnya sedang gemetaran menahan debar dada.

Setelah mengirim SMS, Irul buru-buru melipat kain pink itu menjadi sekecil mungkin. Ia membuka laci meja belajar, menggeser tumpukan kaset pita Dewa 19 dan Sheila on 7, lalu menyisipkannya ke bagian paling dalam, di bawah dompet lamanya yang sudah tidak terpakai.

Irul kembali telentang di kasur lantai, menatap langit-langit kamar dengan jantung yang masih berisik. Malam itu, paket begadang di warnet Neo Net yang biasanya ia tunggu-tunggu mendadak kehilangan daya tariknya. Pikiran Irul sepenuhnya terkunci di dalam laci mejanya, merayakan ketegangan manis dari sebuah rahasia nakal remaja ibu kota yang harus ia simpan rapat-rapat sampai hari kuliah besok tiba.

 

Keesokan paginya, ketegangan itu belum juga menguap. Malah, intensitasnya naik dua kali lipat begitu Irul menginjakkan kaki di koridor kampus. Di dalam tas ranselnya, di antara diktat Pengantar Periklanan dan buku catatan, ada sebuah bungkusan kecil berlapis koran bekas yang digulung rapi dengan karet gelang.

Irul berjalan dengan gestur kaku, sesekali membetulkan posisi tali ranselnya seolah-olah dia sedang membawa barang selundupan berharga miliaran rupiah.

Dari kejauhan, di dekat tukang fotokopi kampus yang ramai oleh mahasiswa, Asri sudah berdiri bersama dua teman perempuannya. Begitu mata mereka bertemu, wajah Asri yang semula sedang tertawa langsung berubah kaku. Ada rona merah yang menjalar cepat di leher hingga ke pipinya, meski dia berusaha bersikap kasual dengan memandangi layar Nokia 7610 miliknya.

Irul menarik napas panjang, mencoba memasang wajah "lempeng" andalannya. Ia berjalan mendekat.

"Eh, Rul. Baru dateng?" sapa salah satu teman Asri.

"Iya nih, macet di Mampang," jawab Irul singkat. Matanya melirik Asri, yang sekarang sengaja tidak mau menatap matanya langsung dan malah sibuk membetulkan tali tas kanvasnya.

"Sri, bisa ikut bentar gak? Ini... ada titipan bahan tugas kelompok dari anak kelas sebelah yang kemarin ketinggalan di kosan gue," kata Irul dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal mungkin. Sebuah kebohongan publik yang dirancang instan di kepala.

Asri berdehem kecil, mencoba menetralkan suaranya. "Oh... iya, iya. Gue kesana dulu ya, sekalian mau ke mading," pamit Asri pada teman-temannya.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju lorong sepi di dekat tangga gedung B, lantai yang jarang dilewati mahasiswa kalau pagi hari. Begitu memastikan situasi benar-benar aman dari pandangan anak-anak Komunikasi yang terkenal hobi bergosip, Asri langsung berbalik dan berkacak pinggang.

"Mana?" bisik Asri setengah mendesis, matanya melotot tajam tapi pipinya matang kepanasan.

Irul tidak bisa menahan senyum jahilnya lagi. Ia membuka ritsleting tasnya perlahan, lalu mengeluarkan bungkusan koran seukuran kepalan tangan itu. "Nih. Sumpah ya, semalaman gue gak bisa tidur gara-gara ini. Kamar gue rasanya kayak mau meledak."

Asri dengan gerakan kilat menyambar bungkusan itu dari tangan Irul, langsung memasukkannya ke bagian paling dalam tas kanvasnya, lalu menarik ritsletingnya sampai mentok. Ia menghela napas lega yang sangat panjang, seolah baru saja lolos dari kejaran polisi pamong praja.

"Kamu gak buka-buka kan di warnet?!" tuduh Asri dengan suara berbisik yang galak, tapi matanya berbinar malu.

"Ya enggaklah! Tapi kalau di kamar kosan... ya diliatin dikit, mastiin warnanya beneran pink atau bukan," goda Irul, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Asri.

"IRULLL! Ih, bener-bener ya!" Asri memukul lengan kemeja flanel Irul dengan buku catatannya, cukup keras sampai menimbulkan suara pluk.

Namun, di tengah kemarahan manjanya itu, Asri tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ketegangan yang mengikat mereka sejak semalam runtuh begitu saja, berubah menjadi getaran romantis yang semakin intim. Rahasia kecil di dalam bungkusan koran itu kini resmi menjadi milik mereka berdua, sebuah simbol nakal yang menandai bahwa hubungan mereka sudah melangkah jauh melebihi batas dunia maya di tahun 2006.

"Nanti sore... ke kosan lagi gak?" bisik Irul perlahan, kali ini tanpa nada bercanda.

Asri terdiam sebentar, menatap mata Irul, lalu perlahan merapikan kerah kemeja kotak-kotak cowok itu dengan jarinya. "Gak mau ah. Nanti ada yang ketinggalan lagi." Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum sangat manis. "Tapi kalau nonton ke Blok M lagi... aku mau."

 

Irul sempat mematung selama beberapa detik di koridor lantai dua gedung B yang sepi itu. Kalimat Asri barusan benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira gadis Palembang itu akan buru-buru menyembunyikan bungkusan koran tersebut ke dasar tas kanvasnya dan pura-pura lupa, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

"Kamu... beneran nih?" bisik Irul, memastikan pendengarannya tidak salah di antara lamat-lamat suara bising mesin fotokopi dari lantai bawah.

Asri menunduk, merapatkan tas kanvas ke dadanya. Pipinya yang semula merona merah kini makin matang, tapi ada binar berani sekaligus manja di matanya saat ia mendongak menatap Irul.

"Iya, simpen aja. Anggap aja... jimat biar kamu gak genit sama anak-anak Komunikasi yang lain pas lagi paket begadang di warnet," sahut Asri dengan suara yang hampir tenggelam, lalu buru-buru mencubit pelan pinggang Irul agar cowok itu berhenti senyam-senyum. "Tapi awas ya, taronya di tempat paling dalem! Jangan sampai temen kosanmu nemu pas lagi numpang main PS!"

Irul merasakan desiran hangat yang aneh sekaligus mendebarkan kembali menyengat dadanya. Tangan kanan yang memegang bungkusan koran itu mendadak terasa dingin. Di tahun 2006, menyimpan barang se-personal itu bukan lagi sekadar bumbu pacaran remaja biasa; itu adalah sebuah proklamasi kepemilikan terselubung, sebuah rahasia nakal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua di tengah bisingnya kota Jakarta.

"Ya udah, kalau ini perintah langsung dari anak Palembang, gak bakal gue bantah," goda Irul, sengaja merendahkan intonasi suaranya menjadi lebih empuk. Ia memasukkan kembali bungkusan koran itu ke kompartemen paling rahasia di dalam tas ranselnya, tepat di sebelah dompet usang tempat ia menyimpan pas foto Asri ukuran 2x3.

Asri menggigit bibir bawahnya, menahan tawa sekaligus rasa malu yang membuncah. "Udah ah, yuk ke kelas. Sebentar lagi kuis Pengantar Periklanan dimulai. Nanti kalau telat, Pak Bambang gak bakal kasih kita masuk."

Mereka berjalan beriringan kembali menuju ruang kelas di ujung selasar. Sepanjang jalan, meski tangan mereka tidak saling bertautan demi menjaga formalitas di depan anak-anak angkatan, ada jarak yang terkikis habis di antara mereka. Setiap kali lengan kemeja flanel Irul tidak sengaja bergesekan dengan lengan kaos Asri, ada sengatan listrik romantis yang membuat keduanya diam-diam saling melempar senyum penuh arti.

Bagi Irul, tas ranselnya hari itu terasa jauh lebih berat dari biasanya—bukan karena tebalnya diktat kuliah, melainkan karena sepotong kain merah muda di dalamnya yang kini resmi menjadi saksi bisu bahwa petualangan mereka, yang berawal dari kolom komentar sebuah blog, telah bermutasi menjadi romansa ibukota yang paling manis, panas, dan takkan pernah bisa ia lupakan.

 

Beberapa bulan berlalu, dan dinamika di antara mereka mengalami pergeseran yang tak kasat mata namun terasa nyata. Angin malam Jakarta yang semula terasa panas penuh letup romansa, perlahan berubah menjadi ketegangan yang ironis. Irul, dengan segala kepolosan—atau mungkin ketidakpekaan—khas cowok kuliahan, sedang gencar melakukan pendekatan pada seorang cewek satu jurusannya yang aktif di senat mahasiswa.

Uniknya, orang pertama yang menjadi tempat curhat Irul justru Asri.

Tempat pertemuan mereka kini bergeser ke Stasiun Palmerah. Stasiun itu menjadi titik temu paling logis karena di sanalah Asri biasa naik-turun kereta untuk pulang-pergi dari kosannya ke rumah saudaranya di daerah pinggiran. Di peron stasiun yang bising oleh suara peluit kondektur dan deru KRL Rheostatik belakangan itu, mereka sering duduk bersama di bangku panjang, menunggu kereta Asri tiba.

Sore itu, aroma stasiun yang khas—perpaduan antara besi panas, bau asap rokok dari rel, dan sisa hujan—menjadi saksi obrolan mereka. Irul duduk sambil memutar-mutar ponsel Nokia 3310-nya, wajahnya tampak gusar sekaligus bersemangat.

"Sri, asli gue bingung," kata Irul membuka obrolan, matanya menatap rel kereta tanpa berani melirik Asri di sampingnya. "Gue kemarin udah ngajak dia nemenin nyari kaset seken di Duta Suara, tapi responsnya kayak dingin gitu. Pas gue SMS malamnya, cuma dibales 'oke thanks' doang. Menurut lo, cewek kayak gitu emang jual mahal atau gimana, sih?"

Asri terdiam. Ia merapatkan jaket rajutnya, jemarinya meremas tali tas kanvas dengan lebih erat. Di dalam tas itu, rahasia-rahasia lama mereka, termasuk memori bungkusan koran beberapa bulan lalu, seolah berteriak minta diperhatikan. Namun, di depan Irul, Asri memasang topeng terbaiknya: seorang sahabat perempuan yang suportif dan dewasa.

"Mungkin dia lagi sibuk rapat senat, Rul," sahut Asri, suaranya terdengar datar namun ada nada getir yang tertahan di tenggorokan. "Cewek senat kan emang biasanya kegiatannya banyak. Gak kayak anak blogging yang waktunya banyak buat nungguin orang di Y!M."

Irul terkekeh, tidak menyadari sindiran halus yang barusan dilontarkan Asri. "Iya juga sih, ya. Eh, tapi lo tahu gak? Dia tuh kalau senyum mirip-mirip sama foto yang di sidebar blog lo itu, makanya gue langsung tertarik pas pertama kali liat di selasar gedung B."

Mendengar kalimat itu, dada Asri rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Dia menyukai cewek lain karena kemiripan dengan dirinya? Ironi macam apa ini di tengah kota Jakarta. Romantika nakal yang mereka rajut di kamar kos Mampang beberapa bulan lalu seolah mendadak dikaburkan oleh ambisi baru Irul.

Namun, di sinilah letak kedewasaan—atau mungkin kepasrahan—seorang Asri. Ia menoleh, menatap garis rahang Irul yang masih mengenakan kemeja flanel yang sama saat mereka berciuman pertama kali.

"Rul," panggil Asri pelan, memotong kalimat Irul yang bersiap menceritakan taktik SMS berikutnya.

"Kenapa, Sri?"

Asri tersenyum manis, sebuah senyuman yang sengaja ia buat sekuat mungkin agar air matanya tidak lancang turun di peron Stasiun Palmerah. "Barang merah muda yang kemarin... masih kamu simpen kan di laci?"

Irul agak terkejut, dahinya mengkerut sejenak sebelum mengangguk. "Masih lah, Sri. Kan kata lo buat kenang-kenangan. Gak bakal gue buang."

"Bagus deh," bisik Asri tepat saat suara gemuruh KRL ekonomi dari arah Tanah Abang mulai terdengar mendekat, menggetarkan lantai peron tempat mereka berpijak. Asri berdiri, merapikan tasnya. "Simpen terus ya. Biar kalau suatu saat kamu gagal sama cewek senat itu, kamu inget kalau pernah ada anak Palembang yang sekamar sama kamu pas hujan di Mampang."

Asri melangkah mendekati pintu kereta yang mulai terbuka dan diserbu penumpang. Sebelum naik, ia berbalik sekali lagi, menatap Irul yang masih terpaku di bangku peron. Ada jarak baru yang membentang di antara mereka, sebuah bumbu romantika remaja ibu kota yang kini rasanya mulai berubah hambar dan dingin, meninggalkan Irul sendirian di bawah papan nama Stasiun Palmerah yang mulai temaram.

 

Suara peluit kondektur KRL yang cempreng sore itu beradu dengan denting garpu pada piring kaca. Di bawah rindang pohon kersen, persis di seberang pintu keluar Stasiun Palmerah, Irul dan Asri duduk berhadapan di atas bangku bakso yang agak reyot. Di depan mereka, dua porsi siomay bumbu kacang yang masih mengepulkan uap panas baru saja diantarkan oleh si abang gerobak keliling.

Tempat ini, dengan aroma kol rebus yang khas dan bisingnya angkot yang ngetem, telah menjelma menjadi saksi bisu babak baru hubungan mereka yang membingungkan.

Irul memotong siomaynya menjadi dua bagian, lalu menuangkan kecap manis dalam jumlah banyak—kebiasaan yang selalu diprotes Asri karena dianggap "merusak estetika rasa bumbu kacang." Namun sore ini, Asri hanya diam. Ia sibuk mengaduk-aduk tahu putihnya dengan tatapan kosong, mendengarkan Irul yang kembali membuka "bab baru" tentang petualangan cintanya di kampus.

"Kemarin gue akhirnya memberanikan diri, Sri," kata Irul penuh semangat, mulutnya agak penuh. "Pas bubar rapat senat di Gedung C, gue samperin dia. Gue pinjemin kaset pita The Adams yang baru. Dia seneng banget! Katanya dia emang lagi nyari lagu Konservatif."

Asri mengunyah siomaynya pelan. Rasanya mendadak hambar, meski bumbu kacangnya terkenal paling gurih se-Palmerah. Ia menatap Irul, memperhatikan bagaimana mata cowok itu berbinar—binar yang sama yang dulu ia lihat saat Irul menunggunya di peron Gambir, atau saat mereka terjebak hujan di kamar kos Mampang.

"Bagus dong, Rul," sahut Asri, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia mengambil selembar tisu murah dari kotak plastik di meja, menyeka sudut bibirnya. "Taktik pinjam-meminjam kaset itu emang klasik, tapi selalu berhasil buat anak kuliahan. Dulu kamu gak pakai taktik itu ke aku karena kita ketemunya di blog, ya?"

Pertanyaan Asri yang setengah bercanda namun sarat sindiran itu membuat kunyahan Irul melambat. Irul menatap Asri, baru menyadari ada gurat kelelahan dan sesuatu yang rapuh di balik sepasang mata gadis Palembang itu.

Suasana di meja siomay itu mendadak hening selama beberapa detik, menyisakan suara ulekan bumbu dari gerobak abang siomay di dekat mereka.

"Sri... lo... lo gak keberatan kan gue cerita gini terus?" tanya Irul, mendadak merasa bersalah. Sisi tidak pekanya sebagai cowok perlahan mulai terketuk oleh atmosfer dingin yang barusan tercipta. "Gue cerita ke lo karena... ya karena lo orang yang paling ngerti gue semenjak kita sering ngobrol di Y!M."

Asri tersenyum tipis, sebuah senyuman dewasa yang dipaksakan tumbuh sebelum waktunya oleh kerasnya romansa ibu kota. Ia meraih segelas es teh manisnya, meminumnya hingga menyisakan bunyi es batu yang berbenturan.

"Aku gak keberatan, Rul. Kan kita temen," kata Asri, menekankan kata temen dengan intonasi yang seolah menyayat hatinya sendiri. "Lagian, rahasia merah muda itu kan masih ada di kamu. Itu artinya, sebagian dari aku bakal tetep tinggal di kosanmu, mau siapapun cewek yang nantinya kamu ajak main ke sana."

Irul tertegun. Kata-kata Asri barusan terdengar manis, tapi sekaligus seperti tamparan telak. Ia teringat kembali pada bungkusan koran di laci paling dalam mejanya. Benda yang menjadi simbol "sentuhan nakal" dan keintiman mereka beberapa bulan lalu, kini justru terasa seperti jangkar yang menahan Irul untuk tidak sepenuhnya bisa berlari mengejar cewek lain.

Tepat saat kecanggungan itu memuncak, suara gemuruh KRL ekonomi arah Serpong terdengar membelah Stasiun Palmerah. Klaksonnya yang nyaring seolah membangunkan mereka dari hipnotis sesaat.

Asri berdiri, merogoh kantong celana jinsnya dan meletakkan selembar uang lima ribuan di atas meja untuk membayar porsinya sendiri—sebuah gestur pembatasan jarak yang sangat jelas.

"Keretaku udah dateng, Rul. Aku duluan ya," pamit Asri. Ia menyampirkan tas kanvasnya, lalu berjalan cepat menyeberang jalan menuju gerbang stasiun tanpa menunggu jawaban Irul.

Irul hanya bisa duduk terpaku di bangku reyot itu, memandangi porsi siomay Asri yang belum habis setengahnya. Di antara riuh rendah klakson angkot dan debu jalanan Palmerah, Irul mendadak merasakan gelombang penyesalan yang aneh. Sore itu, di tahun 2006 yang riuh, di depan gerobak siomay pinggir jalan, Irul baru menyadari bahwa dalam usahanya mengejar yang baru, dia mungkin baru saja melepaskan sesuatu yang paling berharga yang pernah singgah di hidupnya.

 

 

Malam itu, setelah kepergian Asri yang terasa begitu mendadak di depan gerobak siomay Palmerah, Jakarta terasa jauh lebih gerah dari biasanya. Irul pulang ke kosannya di Mampang dengan perasaan yang berkecamuk. Kamar kos berukuran 3x3 meter itu menyambutnya dengan kesunyian yang ganjil. Bau mi instan dan tumpukan kertas fotokopi yang biasanya terasa biasa saja, kini terasa asing dan dingin.

Irul melempar tas ranselnya ke lantai. Ia merebahkan diri di kasur lantai, menatap langit-langit tripleks sambil mendengarkan deru lambat kipas anginnya. Di kepalanya, kalimat-kalimat Asri di stasiun tadi sore terus berputar seperti kaset pita yang kusut.

“...sebagian dari aku bakal tetep tinggal di kosanmu, mau siapapun cewek yang nantinya kamu ajak main ke sana.”

Kata-kata itu bukan sekadar obrolan kasual. Itu adalah jeritan hati seorang perempuan yang selama ini menahan harap, sebuah pengakuan cinta yang tersamarkan oleh gengsi dan jarak yang sengaja Irul ciptakan karena ketidakpekaannya. Irul mendadak sadar, selama beberapa bulan ini dia begitu egois. Dia menjadikan Asri tempat pelarian, kotak surat untuk segala cerita egonya, tanpa pernah peduli bagaimana perasaan gadis Palembang itu saat mendengarnya.

Irul bangkit dari kasurnya. Dipicu oleh rasa bersalah yang mendadak membuncah, ia berjalan ke arah meja belajar. Tangannya membuka laci paling bawah, menggeser tumpukan kaset pita, lalu merogoh ke bagian paling dalam hingga jemarinya menyentuh bungkusan koran yang sudah agak lecek.

Ia mengeluarkan benda itu. Dibukanya karet gelang yang mengikatnya, lalu lapisan koran bekas itu ia singkap perlahan.

Di sana, di bawah pendar temaram lampu meja, selembar kain merah muda berenda itu kembali terlihat.

Dan di sinilah titik baliknya.

Begitu kain tipis itu berada di genggamannya, aroma wangi sabun mandi Asri yang samar ternyata masih bertahan, langsung menyergap indra penciumannya. Detik itu juga, seluruh memori tentang Asri menghantam benak Irul dengan kekuatan penuh. Bukan bayangan cewek senat di kampus yang muncul, melainkan kilasan-kilasan magis tentang Asri: tawanya yang renyah di sela bisingnya lesehan Blok M, keberaniannya memeluk pinggang Irul di atas motor Supra-X, detak jantungnya yang berpacu liar saat mereka berciuman di kamar ini ketika hujan deras, hingga suara seraknya yang bertahan satu jam penuh di telepon bandara hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Irul menelan ludah. Jantungnya berdegup sangat kencang, kali ini bukan karena panik atau takut ketahuan orang, melainkan karena sebuah kesadaran besar yang baru saja menembus kepalanya seperti sengatan listrik.

“Gila... gue bener-bener bodoh,” umpat Irul pada diri sendiri. Tangannya meremas kain merah muda itu erat-erat.

Dia baru sadar bahwa perempuan yang selama ini dia cari, perempuan yang membaca isi kepalanya lewat blog, perempuan yang mengerti selera musiknya, dan perempuan yang telah menyerahkan seluruh ruang rahasianya adalah Asri. Barang merah muda di tangannya ini bukan sekadar sandera atau jimat penolak billing habis; ini adalah simbol penyerahan hati yang utuh, yang dengan bodohnya hampir ia telantarkan demi mengejar ilusi baru di kampus.

Irul menoleh ke arah jam dinding Nokia di atas lemari. Pukul sembilan malam lewat lima belas menit. Kereta Asri mungkin baru saja sampai di stasiun tujuannya, atau dia sedang berjalan kaki menuju rumah saudaranya dalam kegelapan malam.

Tanpa membuang waktu semenit pun, Irul menyambar kunci motor Supra-X dan ponsel Nokia 3310-nya di atas kasur. Jempolnya dengan cepat membuka menu Create Message. Kali ini, dia tidak peduli lagi dengan hemat karakter atau batasan halaman SMS. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin yang berpacu, ia mengetik sebuah pesan yang jujur, langsung dari hatinya yang baru saja terbangun.

Sri, gue baru buka laci meja gue. Gue liat barang lo, dan gue baru sadar gue cowok paling bodoh se-Jakarta. Jangan tidur dulu. Gue otw ke tempat lo sekarang. Gue gak mau kita cuma jadi temen.

Tombol Send ditekan. Di bawah lampu jalanan Mampang yang temaram, Irul memacu motor bebeknya membelah malam Jakarta. Kali ini, dia tidak sedang melarikan diri ke warnet untuk mencari pelarian digital; dia sedang menjemput realitas cintanya yang sesungguhnya, yang selama ini telah setia menunggunya di balik selembar rahasia merah muda.

 

Hubungan yang diresmikan di bawah lampu merkuri gang malam itu ternyata tidak otomatis berjalan mulus. Memasuki tahun 2007, Jakarta semakin riuh, dan dunia blogging yang mempertemukan mereka justru menjadi panggung konflik baru yang lebih tajam.

Sore itu, Blok M Plaza kembali menjadi saksi, tapi suasananya jauh dari manis. Mereka duduk di salah satu sudut gerai donat yang baru buka. Di atas meja, bukan lagi Nokia 3310 yang terletak, melainkan Nokia 6600 milik Irul dan kertas print-out halaman blog yang sengaja dibawa Asri.

"Maksud tulisan ini apa, Rul?" Asri menghempaskan kertas tersebut. Suaranya bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam ke arah Irul yang sibuk mengaduk es kopinya.

Irul melirik kertas itu. Itu adalah cetakan postingan terbaru di blognya berjudul: “Tentang Ruang yang Terlalu Sempit dan Kebebasan yang Terbengkelai.” Di dalamnya, Irul menulis esai panjang yang puitis—khas anak komunikasi—tentang bagaimana sebuah hubungan terkadang terasa seperti bilik warnet yang pengap, membatasi ruang gerak untuk mengeksplorasi dunia luar, termasuk lingkaran pertemanan di kampus.

"Itu cuma tulisan fiksi, Sri. Kan lo tahu gue emang suka nulis eksperimental di blog," bela Irul, mencoba kasual meski dalam hati ia tahu tulisan itu lahir setelah mereka bertengkar hebat soal waktu Irul yang habis untuk nongkrong dengan anak-anak senat.

"Fiksi gundulmu!" Asri mendesis, logat Palembang-nya keluar kalau sudah benar-benar kesal. "Kamu pikir aku gak baca kolom komentarnya? Lihat ini, si cewek senat itu—si meta_permata—ngasih komentar apa di bawahnya: 'Kadang bilik yang sempit memang perlu ditinggalkan untuk melihat luasnya lapangan, Rul. Semangat rapaatnya ya.' Dan kamu balas pake emotikon senyum! Kamu sadar gak sih, kalian berdua itu kayak lagi telanjang di depan publik, pamer kedekatan lewat komedi blog?!"

Ketajaman konflik ini terasa begitu riuh karena di era itu, blog bukan sekadar catatan harian, melainkan identitas sosial. Bagi Asri, tindakan Irul yang membawa keresahan hubungan mereka ke ranah publik—dan membiarkan cewek lain masuk ke sana—adalah bentuk pengkhianatan emosional yang paling vulgar.

"Lo terlalu sensitif, Sri. Kita kan udah komitmen. Lagian barang lo... 'jimat' lo itu, masih ada di laci gue. Itu bukti kalau gue gak main-main!" Irul mulai terpancing, suaranya agak meninggi hingga memicu lirikan dari pengunjung meja sebelah.

"Jangan bawa-bawa barang itu lagi, Rul!" potong Asri, matanya mulai berkaca-kaca oleh kombinasi rasa marah dan terhina. "Barang itu ditinggal karena aku percaya sama kamu. Tapi sekarang aku ngerasa bego. Kamu jadikan itu alasan buat ngiket aku, sementara pikiran dan tulisanmu kelayapan ke mana-mana di dunia maya!"

Asri bangkit dari kursinya, menyampirkan tas kanvasnya dengan sentakan keras.

"Kita mulai dari blog, Rul. Dan sore ini, aku nyesel pernah ngeklik tautan nama kamu di shoutbox-ku dulu," ucap Asri dingin.

Ia berbalik, melangkah cepat menuju eskalator turun, membelah keramaian remaja Blok M yang sedang asyik berakhir pekan. Irul terpaku di kursinya, memandangi kertas print-out yang ditinggalkan Asri. Pendar lampu mal terasa menyengat kepalanya. Di tangannya, Nokia 6600 miliknya bergetar—sebuah notifikasi e-mail masuk memberi tahu ada komentar baru di blognya. Namun sore itu, di tengah bisingnya jantung Jakarta Selatan, Irul mendadak sadar bahwa tulisan digital yang ia anggap keren telah menghancurkan satu-satunya realitas berharga yang ia miliki.

 

Irul menatap layar Nokia 6600 miliknya dengan pandangan kosong. Notifikasi komentar baru itu berasal dari meta_permata: “Rul, jadi pinjem buku semiotikanya? Gue tunggu di selasar ya.”

Detik itu juga, Irul merasa mual. Komentar yang biasanya terasa seperti validasi eksistensi anak muda gaul kampus, kini terasa hambar, murah, dan menjijikkan. Ia melirik kertas print-out blognya yang tergeletak di atas meja gerai donat, bersanding dengan cangkir kopi yang mulai mendingin. Di sekelilingnya, musik pop melayu yang sedang naik daun di tahun 2007 berdentum dari pengeras suara mal, kontras dengan kepalanya yang mendadak sunyi senyap.

“Gue bener-bener merusak semuanya,” bisiknya jengkel pada diri sendiri.

Tanpa membalas komentar Meta, Irul menyambar tas ranselnya, menyisipkan kertas print-out penuh amarah Asri ke dalamnya, dan berlari mengejar ke arah eskalator. Langkahnya lebar-lebar membelah kerumunan anak muda Blok M yang sedang nongkrong memakai celana cutbray dan kaos gombrang.

Ia sampai di pelataran luar Blok M Plaza. Udara Jakarta Selatan jam lima sore itu pekat oleh asap knalpot metro mini dan debu jalanan. Matanya bergerak liar ke segala arah, memindai di antara kerumunan orang yang berjalan menuju Terminal Blok M. Di dekat tangga penyeberangan orang yang membelah jalanan sibuk itu, ia melihatnya. Jaket rajut longgar dan tas kanvas Asri bergerak cepat, menerobos antrean penyeberang jalan dengan kepala tertunduk.

"SRI! ASRI! TUNGGU, SRI!" teriak Irul, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.

Asri tidak menoleh. Ia justru mempercepat langkahnya, setengah berlari menaiki anak tangga besi menuju peron Terminal Blok M. Irul terus mengejar, melompati anak tangga dua-dua hingga napasnya memburu.

Tepat di koridor atas jalur bus AC 16 arah Ciledug, Irul berhasil meraih pergelangan tangan Asri. Sentuhannya dingin, membuat Asri terpaksa berbalik. Begitu wajah mereka berhadapan, pertahanan Irul runtuh seketika. Sepasang mata Asri sudah basah sepenuhnya, maskara murah yang ia pakai agak luntur di sudut mata, menciptakan garis hitam yang menyedihkan.

"Lepas, Rul! Mau apa lagi sih? Pulang aja sana, bales tuh komentar cewek senatmu di blog! Cari kebebasan yang kamu tulis itu!" tangis Asri pecah di antara deru mesin bus kota yang menderu di bawah mereka.

"Sri, dengerin gue dulu, plis..." Irul memohon, kedua tangannya kini memegang pundak Asri, mengunci gerakan gadis itu di sudut pagar pembatas terminal. "Gue khilaf. Gue akuin gue norak, gue kebawa suasana dunia maya yang semu itu. Gue pikir nulis kayak gitu keren, gue pikir dapet komen banyak itu hebat. Tapi pas lo jalan pergi tadi, gue sadar... semua tulisan di blog gue gak ada gunanya kalau gak ada lo yang baca."

Asri menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, napasnya tersengal. "Kamu egois, Rul. Kamu bawa-bawa urusan kamar kosan kita ke ranah publik lewat kiasan-kiasan menjijikkan itu. Kamu biarkan orang lain menertawakan 'ruang sempit' yang sebenarnya itu tempat kita saling sayang!"

Irul terdiam, tertohok oleh kebenaran kalimat Asri. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu di depan mata Asri yang masih berlinang, Irul membuka menu admin Blogspot lewat jaringan GPRS yang lambat dan memakan pulsa mahal. Dengan beberapa kali pencetan tombol joystick Nokia 6600-nya, Irul mengeklik perintah: Delete Post.

"Udah, Sri. Tulisannya udah gak ada. Hapus. Hilang," kata Irul serak, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan status Post Deleted Successfully. "Gue gak butuh blog itu lagi kalau bikin lo nangis kayak gini. Mulai malam ini, gue bakal tutup blog itu."

Asri menatap layar ponsel Irul, lalu beralih menatap mata Irul yang memancarkan penyesalan yang teramat dalam. Kemarahan yang tadi berkobar di dadanya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat. Konflik tajam yang berakar dari dunia digital itu membawa mereka pada titik nadir: bahwa cinta remaja mereka terlalu berharga untuk dijadikan konsumsi publik.

"Barang merah muda itu..." Asri berbisik lirih, suaranya hampir hilang ditelan klakson bus di bawah peron.

"Masih ada, Sri. Gak pernah berdebu. Dan gak bakal pernah gue lepasin," potong Irul cepat, matanya menatap Asri dengan intensitas yang sama seperti malam hujan di Mampang. "Gue mau kita balik kayak dulu. Cuma ada gue, lo, dan realitas kita di Jakarta. Gak ada orang lain, gak ada Meta, gak ada komentar blog."

Asri menghela napas panjang, kepalanya bersandar lemas di dada kemeja flanel Irul yang mulai lembap oleh keringat sore. Tangan kanannya bergerak lambat, memeluk pinggang Irul dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Konflik di Blok M hari itu memang tajam dan nyaris menghancurkan mereka, namun di bawah langit Jakarta tahun 2007 yang mulai menggelap, mereka berhasil menarik cinta mereka keluar dari fiksi dunia maya, membawanya kembali ke bumi sebagai sepotong takdir yang nyata.

 

Tahun 2008 menjelang pertengahan, dan atmosfer Jakarta Selatan tidak lagi menyisakan ruang untuk drama blog atau komentar semu di Yahoo! Messenger. Segala riuh rendah romansa remaja itu mendadak ditarik paksa ke ranah kedewasaan yang dingin ketika selembar surat keputusan dari dewan akademik keluar.

Hari itu, Jakarta sedang terik-teriknya. Namun di dalam Balai Sidang Jakarta, hawanya terasa begitu formal dan agung. Musik gending Jawa mengalun khidmat mengiringi prosesi wisuda kelulusan Jurusan Komunikasi.

Di antara ratusan toga yang berkumpul, Irul berdiri mematung memegangi sebuah buket bunga mawar murah yang ia beli di dekat Stasiun Palmerah tadi pagi. Matanya terkunci pada sosok Asri. Gadis Palembang itu terlihat luar biasa cantik hari itu; rambut sebahunya disanggul rapi, kebaya kartini berwarna merah marun membalut tubuhnya dengan anggun, dan selembar selendang songket asli Palembang tersampir di pundaknya. Di atas kepalanya, topi toga hitam dengan kuncir yang sudah dipindah ke kanan menandakan bahwa masa-masa kuliahnya di Jakarta resmi berakhir.

Ketika Asri berhasil melepaskan diri dari kerumunan keluarganya yang datang langsung dari Sumatra, ia berjalan menghampiri Irul di dekat pilar gedung. Senyumnya mengembang, namun ada binar melankolis yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.

"Selamat ya, Sri. Lulusan terbaik, nih," kata Irul, menyerahkan buket bunga dengan tangan yang agak kaku. Ia sendiri masih punya tanggungan satu semester lagi karena sempat keteteran mengurus diktat kuliah gara-gara sibuk nongkrong di warnet dulu.

"Makasih, Rul," bisik Asri. Ia menerima bunga itu, lalu menatap Irul lekat-lekat. "Papa sama Mama... udah pesen tiket kapal dan pesawat buat minggu depan, Rul. Barang-barang di kosan Bangka juga udah mulai dicicil masuk kardus."

Kalimat itu seperti hantaman godam yang jauh lebih menyakitkan daripada konflik mereka di Blok M setahun lalu. Perpisahan kali ini tidak dipicu oleh cewek senat atau ego tulisan fiksi di blog, melainkan oleh kenyataan hidup. Asri adalah anak pertama dari dua bersaudara; kewajibannya untuk pulang ke Palembang, berbakti pada orang tua, dan memulai karier di tanah kelahirannya adalah takdir yang tidak bisa ditawar oleh cinta anak kosan.

"Gak bisa extand sebulan lagi di Jakarta, Sri? Magang dulu gitu di agensi periklanan daerah Sudirman?" tanya Irul, suaranya parau, mencoba mencari celah di antara dinding kenyataan yang tebal.

Asri menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh, merusak riasan wisudanya. "Enggak bisa, Rul. Kontrak kosanku habis akhir bulan ini. Papa juga udah dapet tawaran kerja buat aku di sana. Jakarta udah selesai buat aku."

Satu minggu setelah ritual wisuda itu, Stasiun Gambir kembali menjadi latar, namun kali ini dengan peran yang kejam. Bukan lagi tempat penjemputan penuh rindu, melainkan gerbang pelepasan menuju perpisahan. Asri dan keluarganya memilih naik kereta eksekutif menuju pelabuhan penyeberangan sebelum menyeberang ke Sumatra.

Di peron stasiun yang bising, di tengah deru mesin kereta api yang siap berangkat, Irul dan Asri berdiri berhadapan untuk terakhir kalinya. Irul merogoh kantong jaket jinsnya, mengeluarkan selembar bungkusan koran kecil yang sudah lusuh—barang merah muda berenda yang selama hampir dua tahun ini mengendap di laci paling dalam mejanya.

"Ini... mau kamu bawa pulang ke Palembang?" tanya Irul dengan tangan gemetar.

Asri menatap bungkusan itu, lalu mendorong tangan Irul kembali ke dalam saku jaketnya. Ia menggenggam jemari Irul erat-erat untuk terakhir kali.

"Gak usah, Rul. Simpen aja," bisik Asri di antara isak tangisnya yang pecah. "Biar barang itu tetep tinggal di kamar kosanmu. Biar jadi saksi, kalau di antara semua tulisan fiksi yang pernah kamu buat di blog, pernah ada satu realitas paling nyata yang namanya Asri, yang pernah sayang banget sama kamu di Mampang."

Klakson kereta eksekutif berbunyi nyaring, memekakkan telinga dan memutus paksa sisa waktu mereka. Asri berbalik, melangkah naik ke gerbong kereta tanpa berani menengok lagi ke belakang, takut pertahanannya runtuh total.

Irul berdiri mematung di peron Gambir, memandangi rangkaian gerbong kereta yang perlahan bergerak menjauh, membelah malam Jakarta, membawa pergi gadis Palembang yang dulu ia kenal lewat kolom komentar shoutbox Blogspot. Di kantong jaketnya, tangannya meremas erat sepotong kain merah muda yang kini resmi berubah dari sebuah jimat nakal menjadi monumen kenangan manis dari romansa remaja ibu kota tahun 2000-an yang harus kalah oleh jarak dan waktu.

 

…….

Tahun 2008 berjalan lambat setelah kereta itu membawa Asri pergi. Kamar kos Irul di Mampang kembali ke setelan awalnya: sepi, berantakan, dan dipenuhi aroma mi instan yang dingin. Bedanya, laci paling bawah meja belajarnya kini terasa seperti sebuah makam kecil untuk sebuah cerita yang belum benar-benar selesai.

Irul akhirnya menyelesaikan kuliahnya di pertengahan tahun 2009. Kesibukan dunia kerja di sebuah agensi periklanan di daerah Jakarta Pusat perlahan-lahan menyita waktunya. Ponsel Nokia 6600 miliknya digantikan oleh Blackberry, dan alamat blog lamanya yang penuh drama itu sudah lama mati, menyisakan status This blog has been deleted jika ada yang iseng mencarinya di Google.

Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk memanggil kembali ingatan lama.

 

Epilog: 2012, Suatu Sore di Palmerah

Empat tahun kemudian. Jakarta sudah jauh berubah. KRL ekonomi yang dulu bising dan pintunya selalu terbuka kini perlahan digantikan oleh rangkaian Commuter Line yang lebih rapi dan ber-AC. Stasiun Palmerah pun sudah bersolek, lebih modern dan bersih dari debu-debu jalanan masa lalu.

Sore itu hujan deras kembali mengguyur Jakarta Selatan. Irul, yang kini mengenakan kemeja kerja rapi dan menenteng tas laptop, terpaksa menepi di area luar Stasiun Palmerah karena motornya mogok akibat genangan air. Ia berdiri di bawah kanopi stasiun, menyeka tetesan air di kacamata dan melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul lima sore.

Aroma tanah basah dan desis rem kereta yang merapat di peron mendadak mengirimkan gelombang nostalgia yang aneh ke kepalanya. Matanya secara refleks melempar pandang ke seberang jalan, ke arah tempat abang siomay dulu biasa mangkal. Gerobak itu sudah tidak ada, digantikan oleh deretan ojek motor yang sedang berteduh memakai jas hujan plastik.

Irul tersenyum kecut. Ia merogoh kantong tas laptopnya, memeriksa kompartemen paling dalam yang jarang ia buka. Di sana, di dalam dompet kulit lamanya yang sudah usang dan mengelupas, sepotong kain merah muda berenda itu masih ada. Sudah agak pudar warnanya, dan wangi sabun mandi Asri sudah lama menguap digantikan bau kertas tua. Namun, benda itu tetap di sana, keras kepala menolak dibuang.

"Irul?"

Sebuah suara memotong suara rintik hujan. Suara yang feminin, dengan intonasi yang sangat akrab di telinga, meski sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar secara langsung.

Irul berbalik dengan cepat.

Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan payung lipat berwarna biru yang basah oleh air hujan. Rambut sebahunya kini dipotong dengan gaya bob yang rapi, mengenakan pakaian kerja formal khas wanita karier Jakarta. Di jari manis tangan kanannya, tidak ada cincin. Matanya yang kecokelatan menatap Irul dengan binar terkejut yang sama besarnya.

Itu Asri.

"Asri? Lo... lo di Jakarta?" Irul terbata-bata, lidahnya mendadak sekaku saat kuis Pengantar Periklanan dulu.

Asri menurunkan sedikit payungnya, lalu sebuah senyuman manis—senyuman yang sama yang dulu runtuh di Stasiun Gambir—perlahan terbit di bibirnya. "Iya, Rul. Aku dapet pindahan kerja ke kantor cabang Jakarta Pusat sejak sebulan lalu. Sengaja gak kasih tahu kamu, mau liat kamu masih suka nongkrong di warnet apa enggak."

Irul tertawa lepas, sebuah tawa yang mencairkan seluruh kekakuan tahun-tahun yang hilang di antara mereka. Hujan di Palmerah sore itu mendadak tidak lagi terasa dingin dan menyebalkan.

"Gue udah gak main di warnet, Sri. Tapi..." Irul menggantung kalimatnya, ia menepuk tas laptopnya perlahan sambil menatap lurus ke dalam sepasang mata Asri. "...jimat penolak billing habis punya lo, masih gue simpen di sini. Gak pernah berdebu."

Pipi Asri mendadak merona merah, persis seperti sore hari di kamar kos Mampang tahun 2006 dulu. Ia melangkah maju, merapatkan payungnya agar Irul bisa ikut berteduh di bawahnya.

"Dasar mesum," bisik Asri manja, dibarengi dengan cubitan pelan di lengan kemeja kerja Irul. "Ya udah, berhubung motor kamu mogok... temenin aku makan siomay di depan yuk? Aku tahu tempat baru yang bumbunya mirip sama yang dulu."

Mereka berjalan beriringan menembus rintik hujan Jakarta yang mulai mereda. Di bawah satu payung yang sama, di antara riuh rendah kota metropolitan yang tidak pernah tidur, kisah yang berawal dari baris-baris teks digital di layar monitor tabung itu akhirnya menemukan kembali jalannya pulang ke dunia nyata. Rahasia merah muda itu tidak lagi menjadi kenangan yang menangisi perpisahan, melainkan awal dari babak baru yang siap mereka tulis bersama, kali ini tanpa batas jarak dan waktu.

 

[]

No comments:

Post a Comment