"Mas, blognya bagus. jangan lupa mampir ke blog-ku ya, tulis Asri."
Irul
memandangi baris kalimat itu di kolom komentar shoutbox
Blogspot-nya. Sebuah tautan nama berwarna biru berkedip-kedip, mengundangnya
untuk mengeklik. Di sudut kanan bawah monitor tabung 14 incinya, ikon Yahoo!
Messenger sesekali berkedip kuning, menampilkan status beberapa temannya yang
sedang Away atau memasang status message
potongan lirik lagu Peterpan.
Irul
tersenyum kecil. Ia membenarkan posisi duduknya di kursi plastik warnet yang
agak miring, lalu mengeklik nama Asri.
Bunyi
klik mouse Logitech yang nyaring itu membawa Irul ke sebuah halaman berlatar
belakang hitam dengan taburan animasi bintang-bintang jatuh. Di bagian atas,
sebuah banner berkedip dengan tulisan gotik: "Welcome to Asri’s Outer Space". Sebuah
pemutar musik otomatis di pojok kiri langsung memutar lagu "Full
Moon" dari band indie yang sedang naik daun lewat sela-sela headphone besar yang melingkar di leher Irul.
Ia
menggulirkan tetikusnya ke bawah. Asri baru saja memperbarui jurnalnya setengah
jam yang lalu.
Friday
Mood: Antara Tugas Kuliah dan Kenyataan
Current
Mood: Tired but Happy
Listening
to: Mocca - I Remember
Hari ini
capek banget setelah seharian di kampus. Kuliah Komunikasi Massa tadi bikin
pusing, untung tadi sempat mampir ke warnet deket kosan buat update ini. Oh ya, tadi nemu blog seru punya anak
seangkatan kayaknya. Tulisannya asyik. Semoga yang punya sadar kalau taktik blog-walking saya berhasil, hehe... :p
Irul
tertawa pelan. Ia melirik sisa lumba-lumba billing siber-net di pojok layar
komputer—masih ada sekitar 20 menit dari paket 2 jam yang ia beli seharga enam
ribu rupiah tadi. Tanpa ragu, Irul langsung menggulirkan layar ke kotak
komentar di bawah postingan Asri.
Ia
mengetik dengan ritme cepat, khas anak warnet yang hapal letak papan ketik
tanpa perlu melihat.
Irul_bukan_idola |
Friday, July 3, 2006 16:30 PM
Taktik blog-walking-nya sukses besar, Mbak! Hehe. Salam kenal
ya. Blogmu juga keren, lagunya Mocca langsung bikin betah nongkrong di sini.
Btw, anak Komunikasi juga? Kapan-kapan boleh nih tukeran link di blogroll.
Salam
hangat dari bilik nomor 5,
Irul
Setelah
mengeklik tombol "Publish", Irul kembali ke halaman utamanya sendiri.
Ia membuka pengaturan tata letak HTML-nya, siap memasukkan alamat blog Asri ke
dalam daftar My Friends di kolom samping blognya.
Tepat
saat ia menekan tombol save, ikon Y!M di taskbar komputernya mendadak melompat-lompat dengan
bunyi khas yang sangat akrab di telinga: Buzz!
Sebuah
jendela obrolan baru terbuka. Sebuah akun dengan avatar kartun anak perempuan
menyapanya: asri_imut87 is typing...
"Eh,
dia langsung online," bisik Irul sambil buru-buru membetulkan
posisi headphone-nya, bersiap menyambut obrolan digital
panjang yang mungkin akan menghabiskan sisa uang sakunya untuk menambah jam
billing sore itu.
Buzz!
Sebuah
getaran layar kedua dari Asri mendarat di layar Irul, disusul sebaris kalimat
yang muncul di jendela Yahoo! Messenger.
asri_imut87: Hihi, cepet bgt bales komentarnya. Lagi paket begadang ya?
irul_bukan_idola: Bukan, ini paket reguler sore aja kok. Kebetulan sisa billing
masih ada 15 menit lagi. Kamu sendiri di warnet mana?
asri_imut87: Oalah... Aku di Matrix Net, deket pertigaan kampus. Di sini AC-nya
dingin bgt, tp untung lagunya ganti jd Sheila on 7.
Irul
tersenyum, melirik sisa lumba-lumba billing-nya yang perlahan menyusut ke angka
12 menit. Angka yang terlalu kejam untuk sebuah obrolan yang baru saja dimulai.
Ia buru-buru mengetik.
irul_bukan_idola: Eh, asri, billing-ku kritis nih. Daripada kepotong pas lagi seru,
punya nomor HP? Nanti aku SMS aja kalau udah keluar dari warnet.
Ada jeda
sekitar satu menit. Status di bawah nama Asri berubah-ubah antara typing a message... lalu hilang, lalu muncul lagi. Irul
sempat was-was, jangan-jangan permintaannya terlalu agresif untuk ukuran
kenalan baru di dunia blogging.
asri_imut87: Boleh... 081579xxxxx. Tapi jangan malem-malem ya, pulsa SMS-ku
lagi sekarat, tinggal dapet bonus sesama operator aja nih :p
Irul
langsung meraih ponsel Nokia 3310 dari saku celananya. Dengan cekatan,
jempolnya menekan tombol keypad yang sudah agak keras, menyimpan nomor Asri
dengan nama "Asri Blogger".
Tepat
saat ia memasukkan ponselnya kembali, layar monitornya tiba-tiba menggelap.
Sebuah kotak dialog besar berwarna biru muncul di tengah layar: "WAKTU BILLING ANDA TELAH HABIS. SILAKAN HUBUNGI
OPERATOR."
Irul
menghela napas, tapi senyumnya tidak hilang. Ia melepas headphone besar yang menjepit telinganya, mencangklong
tas ransel, lalu berjalan ke meja operator untuk membayar kekurangan tiga ribu
rupiah karena sempat overtime beberapa menit.
Begitu
melangkah keluar dari pintu kaca warnet, hawa sore yang hangat langsung
menyergapnya. Jalanan di depan kampus masih ramai oleh motor-motor bebek dan
angkot yang ngetem. Irul berjalan kaki menuju pangkalan ojek sambil merogoh
ponselnya lagi.
Ia
membuka menu Create Message, lalu mengetik dengan karakter super
hemat khas masanya demi menghindari hitungan dua halaman SMS:
Asri,
ini Irul yg di warnet td. Salken y. Dh nympe kos? Jgn lupa mkn mlm.
Tombol Send ditekan. Animasi amplop terbang muncul di layar
monokrom ponselnya. Sore itu, di tahun 2006, sebuah hubungan baru saja
berpindah dari kabel LAN warnet menuju frekuensi sinyal seluler, siap memenuhi
memori Inbox yang terbatas hanya sampai 15 pesan.
Tiga hari
setelah insiden billing habis itu, kotak masuk Nokia 3310 milik Irul sudah
penuh sesak. Setiap beberapa jam sekali, ia harus menghapus SMS lama dari
operator demi memberi ruang untuk pesan-pesan baru dari Asri. Lewat ketikan
singkat yang hemat karakter, mereka akhirnya sepakat untuk bertemu hari Sabtu
sore di tempat paling tak berjarak bagi anak muda Jakarta Selatan kala itu: Blok M Plaza.
Irul datang
lebih awal. Ia berdiri di dekat eskalator lantai dasar, mengenakan kaos band
indie lokal yang dipadukan dengan kemeja flanel kotak-kotak yang sengaja tidak
dikancing—gaya andalan yang ia contek dari majalah Hai. Tangannya
sesekali meraba kantong celana, memastikan dompetnya yang berisi beberapa
lembar uang dua puluh ribuan dan kartu mahasiswa masih aman.
"Irul,
ya?"
Sebuah
suara lembut membuat Irul menoleh. Seorang perempuan berambut sebahu dengan
jepitan rambut kecil di poni berdiri di hadapannya. Ia memakai kaos putih
polos, celana jins belel, dan tas selempang kanvas. Di tangannya, ia memegang
sebuah ponsel Nokia daun (7610) dengan casing transparan.
"Asri?"
Irul memastikan, meski ia sudah mengenali senyum itu dari foto resolusi rendah
berukuran 200x200 piksel di sidebar blog Asri.
"Iya!
Ih, ternyata aslinya lebih tinggi ya daripada di foto blog," kata Asri
sambil tertawa kecil, sedikit canggung tapi langsung mencairkan suasana. Mereka
bersalaman formal, menyebutkan nama masing-masing di tengah riuh rendah
pengunjung mal dan deru AC sentral.
Karena
perut sudah sama-sama protes, mereka memutuskan naik ke lantai atas untuk
mencari makan. Pilihan jatuh pada food court. Irul
memesan paket hemat nasi goreng, sementara Asri memilih bakso.
Sambil
menunggu pesanan, obrolan yang biasanya dijembatani oleh kolom komentar kini
mengalir langsung. Mereka membahas dosen Kampus Komunikasi mereka yang killer,
lagu-lagu di album terbaru Samsons, hingga
curhat soal susahnya mencari template blog yang
tidak berat saat di-load di warnet.
"Kamu
tahu enggak, Rul? Pas kamu minta nomor HP kemarin, aku tuh deg-degan. Takut
kamu aslinya om-om warnet yang suka nge-spam," canda Asri sambil menusuk
baksonya dengan garpu.
Irul
tersedak es teh manisnya. "Ya ampun, Sri. Muka pas-pasan gini dibilang
om-om. Tapi untung dikasih kan nomornya?"
"Yaa...
habisnya tulisan di blogmu bagus sih. Kelihatan anaknya pinter," sahut
Asri spontan, membuat pipinya sendiri agak merona setelah menyadarinya.
Setelah
kenyang dan mengobrol hampir satu jam, mereka beranjak ke lantai paling atas: Blok M 21. Suasana di depan loket bioskop sangat ramai.
Poster film Dunia Mereka dan Jomblo terpajang
besar di dinding. Setelah berdiskusi singkat sambil melihat papan jadwal yang
masih menggunakan papan cetak manual, mereka sepakat membeli tiket film Jomblo garapan Hanung Bramantyo yang lagi hits banget.
"Aku
aja yang bayar tiketnya, Sri. Kamu tadi kan udah bayar bakso," kata Irul,
mencoba sok jantan padahal dalam hati sedang menghitung sisa uang di dompetnya.
Harga tiket bioskop hari Sabtu saat itu masih lima belas ribu rupiah, jadi
dompet Irul masih aman.
Mendapat
baris kursi deretan G di dalam studio yang dingin, mereka duduk bersebelahan.
Selama dua jam, mereka tertawa bersama melihat tingkah kocak Ringgo Agus Rahman
dan kawan-kawan di layar lebar. Sesekali, saat adegan lucu membuat seluruh
studio bergemuruh, lengan baju mereka bersentuhan di sandaran kursi. Ada sengatan
canggung yang manis, khas cinta monyet zaman kuliah.
Keluar
dari bioskop, hari sudah berganti malam. Lampu-lampu di kawasan Blok M mulai
menyala terang, bersaing dengan lampu sorot dari Terminal Blok M di bawahnya.
"Makasih
ya buat hari ini, Rul. Seru banget," ucap Asri saat mereka berjalan
beriringan menuju pintu keluar mal.
"Aku
yang makasih, Sri. Akhirnya blog-walking kita
sampai ke Blok M," balas Irul sambil tersenyum.
Asri
tersenyum manis, lalu mengangkat ponselnya. "Nanti malam jangan lupa buka
Y!M ya. Aku mau pasang foto kita di blog."
Irul
mengangguk pasti. Ia tahu, malam ini ia rela merogoh kocek lagi untuk beli
paket begadang di warnet, hanya demi melihat namanya tertulis di jurnal terbaru
Asri dengan Current Mood: Happy.
Pertemuan
di Blok M malam itu membekas lama, setidaknya sampai tiga stasiun radio anak
muda Jakarta memutar lagu Kemesraan sebagai
penutup siaran malam.
Begitu
sampai di kosannya yang berukuran 3x3 di daerah Pela Mampang, Irul tidak
langsung tidur. Ia melempar jaketnya ke kasur lantai, menyalakan kipas angin
kosan yang beritme putar patah-patah, lalu buru-buru mengambil dompet. Masih
ada sisa selembar sepuluh ribu. Cukup untuk paket begadang dari jam 11 malam
sampai jam 5 subuh di "Neo Net", warnet langganannya yang punya keunggulan
keyboard-nya jarang macet.
Pukul
23.15, Irul sudah duduk di bilik nomor 12. Aroma rokok dan mi instan khas
warnet malam hari menyambutnya. Di layar monitor, ia langsung membuka peramban
Mozilla Firefox dan mengetik alamat blog Asri.
Halaman
berlatar hitam itu termuat perlahan, baris demi baris karena koneksi malam yang
agak tersendat. Dan di sana, di postingan teratas, sebuah judul baru terpajang:
Saturday
Date: From Blog-Walking to Blok M!
Current
Mood: Contented 😊
Listening
to: Maliq & D'Essentials - Untitled
Hari ini
akhirnya ketemu sama "Irul_bukan_idola" yang aslinya ternyata gak
se-misterius tulisannya di blog, hehe. Malah cenderung kocak (makasih ya udah
ditraktir nonton Jomblo, kapan-kapan gantian aku
yang bayar!).
Tadi
sempat foto bareng di depan pajangan poster bioskop pake HP-ku. Agak blur sih
karena kameranya cuma VGA, tapi it's okay, yang
penting memorinya. Nih, fotonya di bawah!
Irul
menahan napas saat gulir mouse-nya bergerak ke bawah. Sebuah foto digital
resolusi rendah muncul. Di foto itu, wajah Irul terlihat agak tegang dengan
rambut yang sedikit berantakan kena angin proyek Blok M, sementara Asri
tersenyum lepas sambil membuat pose peace dengan dua
jarinya.
Tiba-tiba...
BUZZ!
Jendela
Yahoo! Messenger Irul bergetar hebat di layar.
asri_imut87: Hayo... ketahuan ya lagi ngeliatin blogku! Aku liat ada IP baru
masuk di webcounter-ku, tebakanku pasti kamu :p
irul_bukan_idola: Eh, ketahuan ya? Haha. Iya nih, baru nyampe warnet langsung buka.
Fotonya bagus, Sri. Tapi mukaku di situ kenapa kayak orang belom bayar kosan
ya?
asri_imut87: Hahaha! Gak apa-apa, yang penting kan eksis. Eh Rul, minggu depan
anak-anak Komunikasi angkatan kita mau ada acara baksos di daerah Depok. Kamu
ikut gak? Kalau ikut, bareng yuk naik KRL ekonomi-nya.
Irul
memandangi baris kalimat itu. Di tahun 2006, bersanding di kursi KRL ekonomi
yang jendelanya tidak bisa ditutup dan pintunya selalu terbuka adalah level
kedekatan yang berbeda untuk anak kuliah. Itu adalah undangan tidak resmi untuk
masuk ke lingkaran dunianya yang nyata.
Irul
mengetik balasannya dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan dari pantulan
kaca monitor tabung di depannya.
irul_bukan_idola: Ikut dong. Kabari aja jam berapa kumpul di Stasiun Sudirman. Nanti
aku yang pegangin tiket karcisnya biar gak ilang.
asri_imut87: Sip! Deal ya. Udah dulu ya Rul, ini billing-ku sisa 2 menit lagi.
See you next week! Bye!
Status
Asri berubah menjadi Offline. Irul bersandar di kursi
plastiknya, mendengarkan lagu Maliq & D'Essentials yang berputar dari winamp komputer warnetnya. Malam itu masih panjang,
paket begadangnya masih sisa lima jam lagi, tapi Irul tahu, esok hari rasanya
tidak akan pernah membosankan lagi selama ada pesan singkat yang masuk ke Nokia
3310-nya.
Musim
liburan semester akhirnya tiba, memaksa dua dunia yang baru saja bertaut itu
terpisah jarak ratusan kilometer. Asri harus pulang kampung ke Palembang,
kembali ke rumah orang tuanya untuk berkumpul bersama adik laki-laki
satu-satunya. Sementara Irul tetap di Jakarta, menikmati sepinya ibu kota di rumah
keluarga besarnya yang kental dengan logat Minang semenjak orang tuanya
merantau dari Padang puluhan tahun silam. Kepergian Asri seketika meninggalkan
ruang hampa yang aneh di keseharian Irul; tidak ada lagi jadwal blog-walking yang ditunggu, tidak ada lagi dering
pendek SMS di Nokia 3310-nya yang biasa menanyakan kabar siang. Di sela-sela
riuh rendah obrolan bahasa Padang di meja makan rumahnya, pikiran Irul justru
terbang menyeberangi Selat Bangka. Di sanalah, di tengah rasa sepi yang
mendadak riuh itu, Irul menyadari bahwa rasa kagumnya pada sang komentator blog
telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam: benih kangen itu mulai
bersemi.
Titik
baliknya terjadi di suatu pagi yang bising di Bandara Soekarno-Hatta. Ponsel
Irul bergetar hebat di atas kasur, menampilkan nama "Asri Si Blogger"
di layarnya. Saat tombol hijau ditekan, suara Asri langsung menyergap di antara
gemuruh pengumuman jadwal penerbangan. Ia menelepon untuk mengabarkan bahwa
pesawatnya akan segera berangkat. Namun, yang semula diniatkan hanya sebagai
panggilan pamit singkat, justru berubah menjadi obrolan magis yang menolak
usai. Mengabaikan tarif telepon interlokal yang mahal dan sisa pulsa yang terus
tergerus per detik, Asri tetap menempelkan ponsel daunnya di telinga,
menceritakan ketakutannya naik pesawat, sementara Irul mendengarkan dengan
napas tertahan dari balik bantal kosan. Panggilan itu bertahan hingga satu jam
penuh—sebuah durasi yang tidak masuk akal untuk ukuran dompet mahasiswa zaman itu.
Di detak menit ke-enam puluh, tepat sebelum pramugari memintanya mematikan
ponsel, Asri berbisik lirih, "Rul, pesawatnya mau
jalan. Jangan lupa isi Y!M ya, biar aku bisa liat kamu lewat status
Away-mu." Klik. Sambungan terputus, meninggalkan Irul yang
terpaku menatap layar ponselnya yang panas, menyadari bahwa obrolan satu jam
itu bukan lagi sekadar bumbu pertemanan, melainkan proklamasi tidak resmi dari
dua hati yang saling jatuh cinta.
Dua
minggu berlalu di Palembang, dan rutinitas Asri kini berputar di antara ruang
tengah rumahnya dan warnet terdekat dari kediamannya. Jarak Jakarta–Palembang
terasa begitu menyiksa, terutama ketika ponsel Nokia 7610 miliknya lebih sering
menampilkan tulisan “Memory Full” akibat ratusan SMS
dari Irul yang tidak tega ia hapus. Setiap baris teks dari Irul—yang kini
selalu menyelipkan panggilan "Sri"
dengan nada yang lebih empuk—selalu sukses membuat adik laki-lakinya curiga
karena melihat sang kakak senyam-senyum sendiri di depan layar monokrom.
Sore itu,
Asri rela berjalan kaki di bawah terik matahari Palembang menuju warnet
"Musinet". Begitu duduk di bilik dan menyalakan PC, ia langsung
melewati ritual wajib: membuka Yahoo! Messenger.
Pop!
Sebuah
jendela obrolan langsung terbuka otomatis. Di sana, status Irul tertulis Away, namun status message-nya
memasang potongan lirik lagu Ungu yang sedang merajai tangga lagu radio: “...sejauh mungkin aku melangkah, hatiku pantas di posisimu...”
Asri
menggigit bibir bawahnya, menahan debar di dada yang mendadak berpacu cepat.
Tanpa membuang waktu, ia mengirimkan satu karakter andalan anak Y!M untuk
menguji keberadaan seseorang.
asri_imut87: P
asri_imut87: Rul? Lagi di warnet juga ya?
Hanya
butuh tiga detik sampai status Irul berubah menjadi Available
hijau menyala.
irul_bukan_idola: SRIIII! Ya ampun, akhirnya kamu online. Aku udah nongkrong di Neo
Net dari jam 1 siang cuma buat nungguin kamu.
asri_imut87: Ih, gombal bgt sih! Emang gak kuliah?
irul_bukan_idola: Kan lagi libur semester, Sri. Di rumah juga sepi, Ibu sama Ayah
sibuk ngurusin toko di Pasar Tanah Abang. Di kosan apalagi, makin sepi gak ada
yang ngajakin ke Blok M.
Asri
tertawa kecil di depan monitor, jemarinya dengan cepat mengetik balasan di atas
keyboard yang agak berdebu.
asri_imut87: Bisa aja masnya ini. Oh ya, tagihan telepon rumahku bulan ini
kayaknya bakal bengkak deh gara-gara telepon 1 jam di bandara kemarin. Papaku
sampai nanya, itu nelpon siapa kok lama bgt kayak dengerin siaran radio,
heheu..
irul_bukan_idola: Waduh, bilangin ke Papa kamu, maafin Irul ya Nugraha (nama
belakang Irul). Tapi jujur, Sri... abis nelpon itu, pulsaku langsung sisa Rp150
perak. Tapi gak apa-apa, sepadan banget.
Ada jeda
yang cukup lama dari sisi Asri. Di luar bilik warnet, lamat-lamat terdengar
suara azan Magrib berkumandang dari masjid di tepi Sungai Musi. Asri tahu waktu
paket internetnya hampir habis, namun ada satu hal yang harus ia
sampaikan—sesuatu yang selama dua minggu ini mengganjal di sudut hatinya.
asri_imut87: Rul... kamu kangen gak sih sama Jakarta? Eh salah, maksudnya...
kangen gak sama suasana pas kita di Blok M?
irul_bukan_idola: Aku gak kangen Blok M-nya, Sri. Aku kangen orang yang duduk di
kursi sebelahku pas nonton film Jomblo.
Mata Asri
berbinar. Detak jantungnya terasa diketuk bertalu-talu. Di bilik warnet yang
remang itu, di bawah putaran kipas angin langit-langit yang bising, dua anak
manusia yang terpisahkan selat itu tahu bahwa jarak tidak lagi menjadi sekat.
Lewat perantara teks digital berwarna biru di aplikasi Y!M, sebuah komitmen
tanpa kata "pacaran" yang muluk-muluk telah resmi terbentuk.
asri_imut87: Aku juga, Rul. Dua minggu lagi aku balik ke Jakarta. Jemput di
Gambir ya? Pake kemeja kotak-kotak yang kemarin.
irul_bukan_idola: Pasti, Sri. Jangankan Gambir, nungguin kamu di peron stasiun dari
subuh pun bakal aku jabanin.
Asri
mengeklik Sign Out dengan senyum paling lebar yang ia miliki
sepanjang bulan Juli tahun 2006 itu. Saat melangkah keluar dari warnet, langit
Palembang yang mulai menggelap terasa begitu indah, seindah bayangan peron
Stasiun Gambir yang menunggunya di ujung liburan nanti.
Aroma
khas minyak pelumas kereta, desis rem angin, dan gemuruh riuh pedagang asongan
langsung menyambut Asri begitu ia menginjakkan kaki di peron Stasiun Gambir.
Setelah belasan jam menempuh perjalanan yang melelahkan, rasa kantuknya menguap
begitu saja saat matanya menangkap sosok laki-laki yang berdiri di dekat tiang
beton besar. Irul di sana, benar-benar memakai kemeja flanel kotak-kotak
andalannya, dengan rambut yang sedikit basah karena minyak rambut Gatsby yang wanginya langsung tercium begitu Asri
mendekat.
"Lama
ya nunggunya?" tanya Asri, menyembunyikan letup kegembiraan di balik suara
seraknya.
Irul
tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan keberanian yang entah datang dari
mana—mungkin efek rindu yang sudah menembus ubun-ubun selama sebulan penuh—ia
langsung mengambil alih tas jinjing di tangan Asri, lalu menarik pergelangan
tangan perempuan itu lembut, membawanya ke dalam sebuah pelukan singkat yang
hangat. Jantung Asri berdegup kencang, pipinya langsung merona merah di antara
lalu-lalang penumpang KRL. Di tahun 2006, berpelukan di depan umum seperti itu
sudah terasa sangat berani dan menegangkan untuk ukuran mereka.
"Kan
udah janji, dari subuh pun bakal aku tungguin," bisik Irul sambil melepas
pelukannya, tersenyum jahil melihat muka Asri yang mendadak matang.
Romantika
Jakarta segera merenggut mereka kembali ke dalam ritmenya yang panas dan
dinamis. Minggu-minggu berikutnya di ibu kota berubah menjadi rangkaian kencan
yang semakin intens. Mereka tidak lagi hanya duduk rapi di food court mal. Irul mulai sering membonceng Asri
membelah kemacetan Jakarta Selatan dengan motor bebek Supra-X miliknya. Lengan
Asri yang semula hanya berpegangan canggung pada jaket Irul, kini sudah
melingkar erat di pinggang cowok itu, dagunya bersandar nyaman di bahu Irul
sepanjang jalur layang miring menuju arah tempat kos.
Suatu
sore yang mendung, setelah lelah berburu kaset pita di lantai bawah Blok M Square,
hujan deras khas Jakarta tiba-tiba turun mengguyur kota. Irul buru-buru
mengarahkan motornya menembus genangan air menuju kosannya di daerah Pela
Mampang.
Dengan
pakaian yang setengah basah, mereka masuk ke dalam kamar kos Irul yang
berukuran ringkas itu. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng menciptakan
melodi alami yang meredam bisingnya jalanan di luar. Irul memberikan selembar
handuk kering dan sebuah kaos oblong miliknya yang kebesaran agar Asri bisa
mengganti bajunya yang lembap.
Saat Asri
keluar dari kamar mandi darurat dengan kaos Irul yang menenggelamkan tubuh
kecilnya, suasana di dalam kamar mendadak berubah lapang sekaligus sempit.
Hanya ada mereka berdua, ditemani pendar temaram dari lampu meja belajar dan
suara kipas angin yang berputar pelan.
"Dingin
ya, Rul," kata Asri sambil duduk di tepi kasur lantai, melipat kakinya ke
dada.
Irul
berjalan mendekat, membawa dua gelas teh manis hangat. Ia duduk di samping
Asri, menyerahkan salah satu gelas. Namun, alih-alih langsung meminumnya, pandangan
Irul justru terkunci pada leher Asri yang sedikit basah oleh sisa air, dengan
beberapa helai rambut yang menempel di tengkuknya.
"Sini,
aku keringin," ujar Irul serak. Ia mengambil ujung handuk yang menggantung
di bahu Asri, lalu dengan saksama mengusap rambut perempuan itu dengan gerakan
yang sangat pelan.
Sentuhan
itu membuat Asri terdiam. Jarak di antara mereka terkikis habis. Ketika Irul
menurunkan handuknya, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Irul
bisa melihat dengan jelas bulu mata Asri yang lentik, dan Asri bisa merasakan
deru napas Irul yang hangat di permukaan kulit wajahnya.
Tangan
Irul perlahan bergerak, menyelipkan sehelai rambut Asri ke belakang telinga.
Jemarinya tidak langsung menjauh, melainkan turun membelai rahang Asri dengan
lembut. Ada ketegangan yang manis, sebuah magnet remaja yang begitu kuat dan
nakal yang selama ini hanya tertahan dalam bentuk ketikan teks di bilik-bilik
warnet.
"Rul..."
bisik Asri lirih, tapi suaranya justru terdengar seperti sebuah undangan.
Irul
tidak lagi menahan diri. Ia mencondongkan badannya, memiringkan kepala, dan
sedetik kemudian bibirnya sudah mendarat di atas bibir Asri. Lembut pada
awalnya, seolah takut mengejutkan gadis Palembang itu. Namun, ketika tangan
Asri perlahan naik dan meremas pundak kemeja kotak-kotak Irul, ciuman itu
berubah menjadi lebih dalam, panas, dan penuh desakan rindu yang menuntut
penuntasan setelah sebulan penuh terpisah jarak selat.
Di dalam
kamar kos sederhana itu, di bawah kepungan hujan Jakarta tahun 2006, dua remaja
itu membiarkan diri mereka larut dalam getaran yang baru pertama kali mereka
rasakan—sebuah babak baru yang jauh lebih intim, meninggalkan dunia maya dan
sepenuhnya merayakan realitas cinta yang nyata.
Napas
mereka berdua memburu saat pautan bibir itu akhirnya terlepas. Jarak wajah
mereka masih begitu dekat, hingga Irul bisa melihat pantulan pendar lampu meja
belajar di bola mata Asri yang kecokelatan. Sudut bibir Asri basah, dan kaos
oblong Irul yang ia kenakan kini sedikit melorot di bagian bahu, menampilkan
garis tulang selangka yang halus.
Irul
menelan ludah, tangannya masih betah melingkar di pinggang ramping Asri,
merasakan hangat tubuh gadis itu menembus kain katun yang tipis. Ada debar liar
di dadanya yang seolah mau melompat keluar.
"Rul...
kamu... emang biasa ya kayak gini di kosan?" bisik Asri, suaranya agak
serak dengan nada menuduh yang manja. Jarinya yang lentik menjewer pelan ujung
kerah kemeja flanel Irul.
Irul
langsung melebarkan matanya, buru-buru menggeleng. "Ngawur! Demi Tuhan,
Sri, kamar ini biasanya cuma penuh sama bau mi instan sama tumpukan fotokopian
diktat kuliah. Kamu tuh tamu perempuan pertama yang duduk di kasur ini."
Asri
tersenyum puas mendengar jawaban itu. Sifat manjanya perlahan mengikis rasa
canggung yang sempat menggantung. Ia menyandarkan kepalanya di dada Irul,
mendengarkan detak jantung cowok itu yang masih berpacu mirip ketukan drum
lagu-lagu The Upstairs.
"Bohong
ah. Anak band Jakarta kan biasanya nakal," goda Asri lagi, sengaja
mendongakkan kepala agar hidungnya bersentuhan dengan dagu Irul yang mulai
ditumbuhi janggut tipis.
"Aku
kan bukan anak band, Sri. Aku cuma penikmat yang modalnya nongkrong di Aksara
atau nyari kaset seken di Blok M," balas Irul sambil terkekeh. Tangannya
bergerak mengusap punggung Asri, sesekali jemarinya bermain nakal di tengkuk
gadis itu, membuat Asri sedikit bergidik kegelian.
Di luar,
hujan Mampang perlahan mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang seng
yang ritmis. Bau tanah basah menguar masuk lewat celah ventilasi udara yang ditutupi
kawat nyamuk. Jam dinding berbentuk logo Nokia di atas lemari
menunjukkan pukul delapan malam.
Asri
melirik jam tersebut, lalu menghela napas berat. "Rul, udah jam segini.
Aku harus balik ke kosan. Anak-anak kos sebelah biasanya jam sembilan udah pada
nongkrong di ruang tengah, nanti aku digosipin kalau pulang kemalaman."
Irul
seolah enggan melepas lingkaran lengannya. "Bentar lagi, Sri. Lima menit
lagi ya? Jalur arteri masih macet banget pasti abis hujan begini."
Asri
tidak menolak. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam
aroma parfum murah mixed minyak rambut Gatsby milik Irul
yang kini sudah bercampur dengan aroma tubuh cowok itu. Di dalam kamar kos
sederhana berkipas angin patah-patah itu, mereka sadar bahwa hubungan mereka
sudah melompat jauh. Bukan lagi sekadar interaksi dua akun anonim di dunia blogging atau Yahoo! Messenger, melainkan ikatan nyata
dua remaja ibu kota yang sedang mabuk kepayang oleh manis dan nakalnya romansa
pertengahan tahun 2006.
"Ya
udah, yuk. Ambilin jaketku," bisik Asri akhirnya, sambil memberikan satu
kecupan kilat di pipi Irul sebelum buru-buru bangkit untuk ganti baju,
meninggalkan Irul yang terpaku di atas kasur lantai dengan senyum bodoh yang
tak kunjung hilang.
Suasana
kamar kos malam itu mendadak senyap setelah deru motor Supra-X Irul berlalu
mengantar Asri pulang. Irul berjalan masuk, masih menyisakan senyum di bibir
dan sisa kehangatan Asri yang seolah masih tertinggal di kamarnya. Ia bermaksud
membereskan kasur lantai dan mengembalikan kaos oblongnya ke dalam lemari
plastik.
Namun,
saat ia mengangkat handuk yang tadi dipakai Asri di sudut kasur, selembar kain
tipis berwarna merah muda dengan hiasan renda kecil terjatuh ke lantai.
Irul
terpaku. Jantungnya kembali berdegup dua kali lebih cepat daripada saat mereka
berciuman tadi. Itu celana dalam Asri. Rupanya dalam kepanikan dan
ketergesa-gesaannya ganti baju karena takut kemalaman, benda super personal itu
luput dari ingatan Asri dan tertinggal di balik lipatan handuk.
Aroma sabun
yang manis dan wangi khas Asri langsung menguar samar saat Irul memungutnya
dengan ujung jari yang agak gemetar. Ada sensasi panas, nakal, sekaligus kikuk
yang menyergap benak remaja lak-lakinya. Di tahun 2006, menyimpan benda seperti
ini di kamar kosan adalah puncak dari sebuah "rahasia besar" yang
bisa bikin dahi berkeringat dingin.
Belum
sempat Irul menaruh benda itu, ponsel Nokia 3310 di kantong celananya bergetar
hebat. Sebuah SMS masuk.
Rul,
udh nyampe kmr nih. Aman. Eh... km liat sesuatu gak di dkt kasur? Pls jgn
dibilang2, aku malu bgt!! Jgn diapa-apain y!! 🙈
Irul
tertawa tertahan di tengah kamarnya yang remang. Bayangan wajah Asri yang pasti
sedang merah padam menahan malu di kosannya langsung tergambar jelas. Jempol
Irul dengan cepat mengetik balasan dengan nada sejail mungkin.
Oh,
selembar kain pink kecil ini? Udah aman kok, Sri. Sekarang lagi aku pajang di
atas monitor tabungku biar jadi jimat penolak billing habis, heheu. Nakal ya,
sengaja ditinggal biar aku kangen terus ya?
Hanya
butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponselnya berdering lagi.
IRULLLL!!!
Ih mesum bgt sih!! Sumpah demi apa aku lupa bgt td pas buru2. Awas ya klo km
taro situ! Besok pas kuliah pokoknya balikin, musti dibungkus koran biar gak
keliatan orang! Awas klo ilang!
Irul
tersenyum lebar, memandangi benda kecil di tangannya sebelum melipatnya dengan
rapi dan menyimpannya di bagian paling dalam laci dompetnya. Malam itu, di
bawah putaran kipas angin yang lambat, hawa kamar kos Mampang terasa jauh lebih
gerah dari biasanya. Kisah cinta yang berawal dari ketikan teks di komputer
warnet itu kini telah menyimpan satu babak baru yang jauh lebih intim, nakal,
dan mengikat mereka berdua dalam rahasia remaja Jakarta yang takkan terlupakan.
Irul
memandangi benda kecil berwarna merah muda itu dengan napas yang tertahan di
tenggorokan. Detik itu juga, hawa hangat yang tersisa dari hujan Mampang
mendadak berubah menjadi hawa panas yang bikin tengkuknya berkeringat dingin.
Jantungnya berdentum kencang, jauh lebih bising daripada suara kipas angin
kosannya yang beritme putar patah-patah.
Ada
kepanikan instan yang aneh sekaligus mendebarkan. Sebagai cowok kuliahan tahun
2006 yang kamarnya biasanya cuma dipenuhi kertas fotokopian diktat, keberadaan
barang super personal milik Asri di atas kasurnya terasa seperti "bom
waktu".
Irul
menengok ke arah pintu kamar kosnya yang terbuat dari tripleks tipis. Pikiran
liarnya langsung melompat ke mana-mana. Bagaimana kalau tiba-tiba si penjaga
kos datang mengetuk pintu malam-malam untuk menagih uang kebersihan? Atau lebih
buruk lagi, bagaimana kalau teman-teman kampusnya mendadak melakukan ronda malam dan mendobrak kamarnya untuk numpang main Winning Eleven di PS2 sewaan? Kalau sampai benda ini
terlihat, habislah reputasinya. Dia bakal dicap sebagai cowok paling mesum
se-angkatan di Jurusan Komunikasi.
Dengan
tangan yang sedikit gemetar, Irul mengangkat kain tipis berenda itu. Aroma
wangi sabun mandi yang dipakai Asri berbaur dengan sisa kehangatan tubuh gadis
itu langsung menguar, memapar indra penciumannya. Sensasi itu menyengat sisi
maskulin remaja Irul, mengirimkan gelombang getaran nakal yang membuatnya harus
menelan ludah berkali-kali. Kamar kos berukuran 3x3 meter itu mendadak terasa
begitu sempit dan gerah.
Ia
berjalan jinjit ke arah jendela, memastikan gorden kainnya sudah tertutup rapat
tanpa celah sepersen pun. Irul merasa seperti seorang kriminal yang baru saja
menemukan barang bukti kejahatan paling rahasia di dunia.
“Gila...
ini beneran ketinggalan,” bisiknya pada diri sendiri, setengah tidak percaya dengan
keberanian—atau kecerobohan—situasi malam ini.
Setiap
kali matanya menatap lekukan kain itu, memori tentang ciuman panas mereka di
bawah pendar lampu meja beberapa jam lalu kembali berputar di kepalanya. Bahu
Asri yang melorot, deru napasnya yang memburu, dan cengkeraman tangan Asri di
kemeja flanelnya. Keberadaan barang ini seolah menjadi stempel absolut bahwa
hubungan mereka sudah melintasi batas polos anak kuliah yang cuma hobi blog-walking.
Tepat
saat Irul bingung harus menyembunyikannya di mana, Nokia 3310 di kantongnya
bergetar hebat. Irul sampai terlonjak kaget, seolah-olah polisi baru saja
membunyikan sirine di depan pintu kosnya.
Ia
membaca SMS dari Asri yang panik dan malu setengah mati. Irul tersenyum kecut
sambil menyeka keringat di dahinya. Ia mengetik balasan sok berani dan jahil
demi menutupi fakta bahwa dia sendiri sebenarnya sedang gemetaran menahan debar
dada.
Setelah
mengirim SMS, Irul buru-buru melipat kain pink itu menjadi sekecil mungkin. Ia
membuka laci meja belajar, menggeser tumpukan kaset pita Dewa 19 dan Sheila on
7, lalu menyisipkannya ke bagian paling dalam, di bawah dompet lamanya yang
sudah tidak terpakai.
Irul
kembali telentang di kasur lantai, menatap langit-langit kamar dengan jantung
yang masih berisik. Malam itu, paket begadang di warnet Neo Net yang biasanya
ia tunggu-tunggu mendadak kehilangan daya tariknya. Pikiran Irul sepenuhnya
terkunci di dalam laci mejanya, merayakan ketegangan manis dari sebuah rahasia
nakal remaja ibu kota yang harus ia simpan rapat-rapat sampai hari kuliah besok
tiba.
Keesokan
paginya, ketegangan itu belum juga menguap. Malah, intensitasnya naik dua kali
lipat begitu Irul menginjakkan kaki di koridor kampus. Di dalam tas ranselnya,
di antara diktat Pengantar Periklanan dan buku catatan, ada sebuah bungkusan
kecil berlapis koran bekas yang digulung rapi dengan karet gelang.
Irul
berjalan dengan gestur kaku, sesekali membetulkan posisi tali ranselnya
seolah-olah dia sedang membawa barang selundupan berharga miliaran rupiah.
Dari kejauhan,
di dekat tukang fotokopi kampus yang ramai oleh mahasiswa, Asri sudah berdiri
bersama dua teman perempuannya. Begitu mata mereka bertemu, wajah Asri yang
semula sedang tertawa langsung berubah kaku. Ada rona merah yang menjalar cepat
di leher hingga ke pipinya, meski dia berusaha bersikap kasual dengan
memandangi layar Nokia 7610 miliknya.
Irul
menarik napas panjang, mencoba memasang wajah "lempeng" andalannya.
Ia berjalan mendekat.
"Eh,
Rul. Baru dateng?" sapa salah satu teman Asri.
"Iya
nih, macet di Mampang," jawab Irul singkat. Matanya melirik Asri, yang
sekarang sengaja tidak mau menatap matanya langsung dan malah sibuk membetulkan
tali tas kanvasnya.
"Sri,
bisa ikut bentar gak? Ini... ada titipan bahan tugas kelompok dari anak kelas
sebelah yang kemarin ketinggalan di kosan gue," kata Irul dengan nada
suara yang sengaja dibuat seformal mungkin. Sebuah kebohongan publik yang
dirancang instan di kepala.
Asri
berdehem kecil, mencoba menetralkan suaranya. "Oh... iya, iya. Gue kesana
dulu ya, sekalian mau ke mading," pamit Asri pada teman-temannya.
Mereka
berdua berjalan beriringan menuju lorong sepi di dekat tangga gedung B, lantai
yang jarang dilewati mahasiswa kalau pagi hari. Begitu memastikan situasi
benar-benar aman dari pandangan anak-anak Komunikasi yang terkenal hobi
bergosip, Asri langsung berbalik dan berkacak pinggang.
"Mana?"
bisik Asri setengah mendesis, matanya melotot tajam tapi pipinya matang
kepanasan.
Irul
tidak bisa menahan senyum jahilnya lagi. Ia membuka ritsleting tasnya perlahan,
lalu mengeluarkan bungkusan koran seukuran kepalan tangan itu. "Nih.
Sumpah ya, semalaman gue gak bisa tidur gara-gara ini. Kamar gue rasanya kayak
mau meledak."
Asri
dengan gerakan kilat menyambar bungkusan itu dari tangan Irul, langsung
memasukkannya ke bagian paling dalam tas kanvasnya, lalu menarik ritsletingnya
sampai mentok. Ia menghela napas lega yang sangat panjang, seolah baru saja
lolos dari kejaran polisi pamong praja.
"Kamu
gak buka-buka kan di warnet?!" tuduh Asri dengan suara berbisik yang
galak, tapi matanya berbinar malu.
"Ya
enggaklah! Tapi kalau di kamar kosan... ya diliatin dikit, mastiin warnanya
beneran pink atau bukan," goda Irul, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah
Asri.
"IRULLL!
Ih, bener-bener ya!" Asri memukul lengan kemeja flanel Irul dengan buku
catatannya, cukup keras sampai menimbulkan suara pluk.
Namun, di
tengah kemarahan manjanya itu, Asri tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ketegangan yang mengikat mereka sejak semalam runtuh begitu saja, berubah
menjadi getaran romantis yang semakin intim. Rahasia kecil di dalam bungkusan
koran itu kini resmi menjadi milik mereka berdua, sebuah simbol nakal yang
menandai bahwa hubungan mereka sudah melangkah jauh melebihi batas dunia maya
di tahun 2006.
"Nanti
sore... ke kosan lagi gak?" bisik Irul perlahan, kali ini tanpa nada
bercanda.
Asri
terdiam sebentar, menatap mata Irul, lalu perlahan merapikan kerah kemeja
kotak-kotak cowok itu dengan jarinya. "Gak mau ah. Nanti ada yang
ketinggalan lagi." Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum sangat manis.
"Tapi kalau nonton ke Blok M lagi... aku mau."
Irul
sempat mematung selama beberapa detik di koridor lantai dua gedung B yang sepi
itu. Kalimat Asri barusan benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira gadis
Palembang itu akan buru-buru menyembunyikan bungkusan koran tersebut ke dasar
tas kanvasnya dan pura-pura lupa, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Kamu...
beneran nih?" bisik Irul, memastikan pendengarannya tidak salah di antara
lamat-lamat suara bising mesin fotokopi dari lantai bawah.
Asri
menunduk, merapatkan tas kanvas ke dadanya. Pipinya yang semula merona merah
kini makin matang, tapi ada binar berani sekaligus manja di matanya saat ia
mendongak menatap Irul.
"Iya,
simpen aja. Anggap aja... jimat biar kamu gak genit sama anak-anak Komunikasi
yang lain pas lagi paket begadang di warnet," sahut Asri dengan suara yang
hampir tenggelam, lalu buru-buru mencubit pelan pinggang Irul agar cowok itu
berhenti senyam-senyum. "Tapi awas ya, taronya di tempat paling dalem!
Jangan sampai temen kosanmu nemu pas lagi numpang main PS!"
Irul
merasakan desiran hangat yang aneh sekaligus mendebarkan kembali menyengat
dadanya. Tangan kanan yang memegang bungkusan koran itu mendadak terasa dingin.
Di tahun 2006, menyimpan barang se-personal itu bukan lagi sekadar bumbu
pacaran remaja biasa; itu adalah sebuah proklamasi kepemilikan terselubung,
sebuah rahasia nakal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua di tengah
bisingnya kota Jakarta.
"Ya
udah, kalau ini perintah langsung dari anak Palembang, gak bakal gue
bantah," goda Irul, sengaja merendahkan intonasi suaranya menjadi lebih
empuk. Ia memasukkan kembali bungkusan koran itu ke kompartemen paling rahasia
di dalam tas ranselnya, tepat di sebelah dompet usang tempat ia menyimpan pas
foto Asri ukuran 2x3.
Asri
menggigit bibir bawahnya, menahan tawa sekaligus rasa malu yang membuncah.
"Udah ah, yuk ke kelas. Sebentar lagi kuis Pengantar Periklanan dimulai.
Nanti kalau telat, Pak Bambang gak bakal kasih kita masuk."
Mereka
berjalan beriringan kembali menuju ruang kelas di ujung selasar. Sepanjang
jalan, meski tangan mereka tidak saling bertautan demi menjaga formalitas di
depan anak-anak angkatan, ada jarak yang terkikis habis di antara mereka.
Setiap kali lengan kemeja flanel Irul tidak sengaja bergesekan dengan lengan
kaos Asri, ada sengatan listrik romantis yang membuat keduanya diam-diam saling
melempar senyum penuh arti.
Bagi
Irul, tas ranselnya hari itu terasa jauh lebih berat dari biasanya—bukan karena
tebalnya diktat kuliah, melainkan karena sepotong kain merah muda di dalamnya
yang kini resmi menjadi saksi bisu bahwa petualangan mereka, yang berawal dari
kolom komentar sebuah blog, telah bermutasi menjadi romansa ibukota yang paling
manis, panas, dan takkan pernah bisa ia lupakan.
Beberapa
bulan berlalu, dan dinamika di antara mereka mengalami pergeseran yang tak
kasat mata namun terasa nyata. Angin malam Jakarta yang semula terasa panas
penuh letup romansa, perlahan berubah menjadi ketegangan yang ironis. Irul,
dengan segala kepolosan—atau mungkin ketidakpekaan—khas cowok kuliahan, sedang
gencar melakukan pendekatan pada seorang cewek satu jurusannya yang aktif di
senat mahasiswa.
Uniknya,
orang pertama yang menjadi tempat curhat Irul justru Asri.
Tempat
pertemuan mereka kini bergeser ke Stasiun Palmerah. Stasiun
itu menjadi titik temu paling logis karena di sanalah Asri biasa naik-turun
kereta untuk pulang-pergi dari kosannya ke rumah saudaranya di daerah
pinggiran. Di peron stasiun yang bising oleh suara peluit kondektur dan deru
KRL Rheostatik belakangan itu, mereka sering duduk bersama di bangku panjang,
menunggu kereta Asri tiba.
Sore itu,
aroma stasiun yang khas—perpaduan antara besi panas, bau asap rokok dari rel,
dan sisa hujan—menjadi saksi obrolan mereka. Irul duduk sambil memutar-mutar
ponsel Nokia 3310-nya, wajahnya tampak gusar sekaligus bersemangat.
"Sri,
asli gue bingung," kata Irul membuka obrolan, matanya menatap rel kereta
tanpa berani melirik Asri di sampingnya. "Gue kemarin udah ngajak dia
nemenin nyari kaset seken di Duta Suara, tapi responsnya kayak dingin gitu. Pas
gue SMS malamnya, cuma dibales 'oke thanks' doang. Menurut lo, cewek kayak gitu
emang jual mahal atau gimana, sih?"
Asri
terdiam. Ia merapatkan jaket rajutnya, jemarinya meremas tali tas kanvas dengan
lebih erat. Di dalam tas itu, rahasia-rahasia lama mereka, termasuk memori
bungkusan koran beberapa bulan lalu, seolah berteriak minta diperhatikan.
Namun, di depan Irul, Asri memasang topeng terbaiknya: seorang sahabat
perempuan yang suportif dan dewasa.
"Mungkin
dia lagi sibuk rapat senat, Rul," sahut Asri, suaranya terdengar datar
namun ada nada getir yang tertahan di tenggorokan. "Cewek senat kan emang
biasanya kegiatannya banyak. Gak kayak anak blogging yang
waktunya banyak buat nungguin orang di Y!M."
Irul
terkekeh, tidak menyadari sindiran halus yang barusan dilontarkan Asri.
"Iya juga sih, ya. Eh, tapi lo tahu gak? Dia tuh kalau senyum mirip-mirip
sama foto yang di sidebar blog lo itu, makanya gue
langsung tertarik pas pertama kali liat di selasar gedung B."
Mendengar
kalimat itu, dada Asri rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Dia menyukai cewek lain karena kemiripan dengan dirinya?
Ironi macam apa ini di tengah kota Jakarta. Romantika nakal yang mereka rajut
di kamar kos Mampang beberapa bulan lalu seolah mendadak dikaburkan oleh ambisi
baru Irul.
Namun, di
sinilah letak kedewasaan—atau mungkin kepasrahan—seorang Asri. Ia menoleh,
menatap garis rahang Irul yang masih mengenakan kemeja flanel yang sama saat
mereka berciuman pertama kali.
"Rul,"
panggil Asri pelan, memotong kalimat Irul yang bersiap menceritakan taktik SMS
berikutnya.
"Kenapa,
Sri?"
Asri
tersenyum manis, sebuah senyuman yang sengaja ia buat sekuat mungkin agar air
matanya tidak lancang turun di peron Stasiun Palmerah. "Barang merah muda
yang kemarin... masih kamu simpen kan di laci?"
Irul agak
terkejut, dahinya mengkerut sejenak sebelum mengangguk. "Masih lah, Sri.
Kan kata lo buat kenang-kenangan. Gak bakal gue buang."
"Bagus
deh," bisik Asri tepat saat suara gemuruh KRL ekonomi dari arah Tanah
Abang mulai terdengar mendekat, menggetarkan lantai peron tempat mereka
berpijak. Asri berdiri, merapikan tasnya. "Simpen terus ya. Biar kalau
suatu saat kamu gagal sama cewek senat itu, kamu inget kalau pernah ada anak
Palembang yang sekamar sama kamu pas hujan di Mampang."
Asri
melangkah mendekati pintu kereta yang mulai terbuka dan diserbu penumpang.
Sebelum naik, ia berbalik sekali lagi, menatap Irul yang masih terpaku di
bangku peron. Ada jarak baru yang membentang di antara mereka, sebuah bumbu
romantika remaja ibu kota yang kini rasanya mulai berubah hambar dan dingin,
meninggalkan Irul sendirian di bawah papan nama Stasiun Palmerah yang mulai
temaram.
Suara
peluit kondektur KRL yang cempreng sore itu beradu dengan denting garpu pada
piring kaca. Di bawah rindang pohon kersen, persis di seberang pintu keluar
Stasiun Palmerah, Irul dan Asri duduk berhadapan di atas bangku bakso yang agak
reyot. Di depan mereka, dua porsi siomay bumbu kacang yang masih mengepulkan
uap panas baru saja diantarkan oleh si abang gerobak keliling.
Tempat
ini, dengan aroma kol rebus yang khas dan bisingnya angkot yang ngetem, telah
menjelma menjadi saksi bisu babak baru hubungan mereka yang membingungkan.
Irul
memotong siomaynya menjadi dua bagian, lalu menuangkan kecap manis dalam jumlah
banyak—kebiasaan yang selalu diprotes Asri karena dianggap "merusak
estetika rasa bumbu kacang." Namun sore ini, Asri hanya diam. Ia sibuk
mengaduk-aduk tahu putihnya dengan tatapan kosong, mendengarkan Irul yang
kembali membuka "bab baru" tentang petualangan cintanya di kampus.
"Kemarin
gue akhirnya memberanikan diri, Sri," kata Irul penuh semangat, mulutnya
agak penuh. "Pas bubar rapat senat di Gedung C, gue samperin dia. Gue
pinjemin kaset pita The Adams yang baru. Dia seneng
banget! Katanya dia emang lagi nyari lagu Konservatif."
Asri
mengunyah siomaynya pelan. Rasanya mendadak hambar, meski bumbu kacangnya
terkenal paling gurih se-Palmerah. Ia menatap Irul, memperhatikan bagaimana
mata cowok itu berbinar—binar yang sama yang dulu ia lihat saat Irul
menunggunya di peron Gambir, atau saat mereka terjebak hujan di kamar kos
Mampang.
"Bagus
dong, Rul," sahut Asri, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak
bergetar. Ia mengambil selembar tisu murah dari kotak plastik di meja, menyeka
sudut bibirnya. "Taktik pinjam-meminjam kaset itu emang klasik, tapi
selalu berhasil buat anak kuliahan. Dulu kamu gak pakai taktik itu ke aku
karena kita ketemunya di blog, ya?"
Pertanyaan
Asri yang setengah bercanda namun sarat sindiran itu membuat kunyahan Irul
melambat. Irul menatap Asri, baru menyadari ada gurat kelelahan dan sesuatu
yang rapuh di balik sepasang mata gadis Palembang itu.
Suasana
di meja siomay itu mendadak hening selama beberapa detik, menyisakan suara
ulekan bumbu dari gerobak abang siomay di dekat mereka.
"Sri...
lo... lo gak keberatan kan gue cerita gini terus?" tanya Irul, mendadak
merasa bersalah. Sisi tidak pekanya sebagai cowok perlahan mulai terketuk oleh
atmosfer dingin yang barusan tercipta. "Gue cerita ke lo karena... ya
karena lo orang yang paling ngerti gue semenjak kita sering ngobrol di
Y!M."
Asri
tersenyum tipis, sebuah senyuman dewasa yang dipaksakan tumbuh sebelum waktunya
oleh kerasnya romansa ibu kota. Ia meraih segelas es teh manisnya, meminumnya
hingga menyisakan bunyi es batu yang berbenturan.
"Aku
gak keberatan, Rul. Kan kita temen," kata Asri, menekankan kata temen dengan intonasi yang seolah menyayat hatinya
sendiri. "Lagian, rahasia merah muda itu kan masih ada di kamu. Itu
artinya, sebagian dari aku bakal tetep tinggal di kosanmu, mau siapapun cewek
yang nantinya kamu ajak main ke sana."
Irul
tertegun. Kata-kata Asri barusan terdengar manis, tapi sekaligus seperti
tamparan telak. Ia teringat kembali pada bungkusan koran di laci paling dalam
mejanya. Benda yang menjadi simbol "sentuhan nakal" dan keintiman
mereka beberapa bulan lalu, kini justru terasa seperti jangkar yang menahan
Irul untuk tidak sepenuhnya bisa berlari mengejar cewek lain.
Tepat
saat kecanggungan itu memuncak, suara gemuruh KRL ekonomi arah Serpong
terdengar membelah Stasiun Palmerah. Klaksonnya yang nyaring seolah
membangunkan mereka dari hipnotis sesaat.
Asri
berdiri, merogoh kantong celana jinsnya dan meletakkan selembar uang lima
ribuan di atas meja untuk membayar porsinya sendiri—sebuah gestur pembatasan
jarak yang sangat jelas.
"Keretaku
udah dateng, Rul. Aku duluan ya," pamit Asri. Ia menyampirkan tas
kanvasnya, lalu berjalan cepat menyeberang jalan menuju gerbang stasiun tanpa
menunggu jawaban Irul.
Irul
hanya bisa duduk terpaku di bangku reyot itu, memandangi porsi siomay Asri yang
belum habis setengahnya. Di antara riuh rendah klakson angkot dan debu jalanan
Palmerah, Irul mendadak merasakan gelombang penyesalan yang aneh. Sore itu, di
tahun 2006 yang riuh, di depan gerobak siomay pinggir jalan, Irul baru
menyadari bahwa dalam usahanya mengejar yang baru, dia mungkin baru saja
melepaskan sesuatu yang paling berharga yang pernah singgah di hidupnya.
Malam
itu, setelah kepergian Asri yang terasa begitu mendadak di depan gerobak siomay
Palmerah, Jakarta terasa jauh lebih gerah dari biasanya. Irul pulang ke
kosannya di Mampang dengan perasaan yang berkecamuk. Kamar kos berukuran 3x3
meter itu menyambutnya dengan kesunyian yang ganjil. Bau mi instan dan tumpukan
kertas fotokopi yang biasanya terasa biasa saja, kini terasa asing dan dingin.
Irul
melempar tas ranselnya ke lantai. Ia merebahkan diri di kasur lantai, menatap
langit-langit tripleks sambil mendengarkan deru lambat kipas anginnya. Di
kepalanya, kalimat-kalimat Asri di stasiun tadi sore terus berputar seperti
kaset pita yang kusut.
“...sebagian
dari aku bakal tetep tinggal di kosanmu, mau siapapun cewek yang nantinya kamu
ajak main ke sana.”
Kata-kata
itu bukan sekadar obrolan kasual. Itu adalah jeritan hati seorang perempuan
yang selama ini menahan harap, sebuah pengakuan cinta yang tersamarkan oleh
gengsi dan jarak yang sengaja Irul ciptakan karena ketidakpekaannya. Irul
mendadak sadar, selama beberapa bulan ini dia begitu egois. Dia menjadikan Asri
tempat pelarian, kotak surat untuk segala cerita egonya, tanpa pernah peduli
bagaimana perasaan gadis Palembang itu saat mendengarnya.
Irul
bangkit dari kasurnya. Dipicu oleh rasa bersalah yang mendadak membuncah, ia
berjalan ke arah meja belajar. Tangannya membuka laci paling bawah, menggeser
tumpukan kaset pita, lalu merogoh ke bagian paling dalam hingga jemarinya
menyentuh bungkusan koran yang sudah agak lecek.
Ia
mengeluarkan benda itu. Dibukanya karet gelang yang mengikatnya, lalu lapisan
koran bekas itu ia singkap perlahan.
Di sana,
di bawah pendar temaram lampu meja, selembar kain merah muda berenda itu
kembali terlihat.
Dan di
sinilah titik baliknya.
Begitu
kain tipis itu berada di genggamannya, aroma wangi sabun mandi Asri yang samar
ternyata masih bertahan, langsung menyergap indra penciumannya. Detik itu juga,
seluruh memori tentang Asri menghantam benak Irul dengan kekuatan penuh. Bukan
bayangan cewek senat di kampus yang muncul, melainkan kilasan-kilasan magis
tentang Asri: tawanya yang renyah di sela bisingnya lesehan Blok M,
keberaniannya memeluk pinggang Irul di atas motor Supra-X, detak jantungnya
yang berpacu liar saat mereka berciuman di kamar ini ketika hujan deras, hingga
suara seraknya yang bertahan satu jam penuh di telepon bandara hanya untuk
mengucapkan selamat tinggal.
Irul
menelan ludah. Jantungnya berdegup sangat kencang, kali ini bukan karena panik
atau takut ketahuan orang, melainkan karena sebuah kesadaran besar yang baru
saja menembus kepalanya seperti sengatan listrik.
“Gila...
gue bener-bener bodoh,” umpat Irul pada diri sendiri. Tangannya meremas kain merah muda
itu erat-erat.
Dia baru
sadar bahwa perempuan yang selama ini dia cari, perempuan yang membaca isi
kepalanya lewat blog, perempuan yang mengerti selera musiknya, dan perempuan
yang telah menyerahkan seluruh ruang rahasianya adalah Asri. Barang merah muda
di tangannya ini bukan sekadar sandera atau jimat penolak billing habis; ini
adalah simbol penyerahan hati yang utuh, yang dengan bodohnya hampir ia
telantarkan demi mengejar ilusi baru di kampus.
Irul
menoleh ke arah jam dinding Nokia di atas lemari. Pukul sembilan malam lewat
lima belas menit. Kereta Asri mungkin baru saja sampai di stasiun tujuannya,
atau dia sedang berjalan kaki menuju rumah saudaranya dalam kegelapan malam.
Tanpa
membuang waktu semenit pun, Irul menyambar kunci motor Supra-X dan ponsel Nokia
3310-nya di atas kasur. Jempolnya dengan cepat membuka menu Create Message. Kali ini, dia tidak peduli lagi dengan
hemat karakter atau batasan halaman SMS. Dengan tangan yang sedikit gemetar
karena adrenalin yang berpacu, ia mengetik sebuah pesan yang jujur, langsung
dari hatinya yang baru saja terbangun.
Sri,
gue baru buka laci meja gue. Gue liat barang lo, dan gue baru sadar gue cowok
paling bodoh se-Jakarta. Jangan tidur dulu. Gue otw ke tempat lo sekarang. Gue
gak mau kita cuma jadi temen.
Tombol Send ditekan. Di bawah lampu jalanan Mampang yang
temaram, Irul memacu motor bebeknya membelah malam Jakarta. Kali ini, dia tidak
sedang melarikan diri ke warnet untuk mencari pelarian digital; dia sedang
menjemput realitas cintanya yang sesungguhnya, yang selama ini telah setia
menunggunya di balik selembar rahasia merah muda.
Hubungan
yang diresmikan di bawah lampu merkuri gang malam itu ternyata tidak otomatis
berjalan mulus. Memasuki tahun 2007, Jakarta semakin riuh, dan dunia blogging yang mempertemukan mereka justru menjadi
panggung konflik baru yang lebih tajam.
Sore itu, Blok M Plaza kembali menjadi saksi, tapi suasananya
jauh dari manis. Mereka duduk di salah satu sudut gerai donat yang baru buka.
Di atas meja, bukan lagi Nokia 3310 yang terletak, melainkan Nokia 6600 milik
Irul dan kertas print-out halaman blog yang sengaja dibawa Asri.
"Maksud tulisan ini apa, Rul?" Asri menghempaskan
kertas tersebut. Suaranya bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam ke
arah Irul yang sibuk mengaduk es kopinya.
Irul melirik kertas itu. Itu adalah cetakan postingan terbaru di
blognya berjudul: “Tentang Ruang yang Terlalu Sempit dan Kebebasan yang
Terbengkelai.” Di dalamnya, Irul menulis esai panjang yang
puitis—khas anak komunikasi—tentang bagaimana sebuah hubungan terkadang terasa
seperti bilik warnet yang pengap, membatasi ruang gerak untuk mengeksplorasi
dunia luar, termasuk lingkaran pertemanan di kampus.
"Itu cuma tulisan fiksi, Sri. Kan lo tahu gue emang suka
nulis eksperimental di blog," bela Irul, mencoba kasual meski dalam hati
ia tahu tulisan itu lahir setelah mereka bertengkar hebat soal waktu Irul yang
habis untuk nongkrong dengan anak-anak senat.
"Fiksi gundulmu!" Asri mendesis, logat Palembang-nya
keluar kalau sudah benar-benar kesal. "Kamu pikir aku gak baca kolom
komentarnya? Lihat ini, si cewek senat itu—si meta_permata—ngasih komentar apa
di bawahnya: 'Kadang bilik yang sempit memang perlu ditinggalkan untuk melihat
luasnya lapangan, Rul. Semangat rapaatnya ya.' Dan kamu balas pake
emotikon senyum! Kamu sadar gak sih, kalian berdua itu kayak lagi telanjang di
depan publik, pamer kedekatan lewat komedi blog?!"
Ketajaman konflik ini terasa begitu riuh karena di era itu, blog
bukan sekadar catatan harian, melainkan identitas sosial. Bagi Asri, tindakan
Irul yang membawa keresahan hubungan mereka ke ranah publik—dan membiarkan
cewek lain masuk ke sana—adalah bentuk pengkhianatan emosional yang paling
vulgar.
"Lo terlalu sensitif, Sri. Kita kan udah komitmen. Lagian
barang lo... 'jimat' lo itu, masih ada di laci gue. Itu bukti kalau gue gak
main-main!" Irul mulai terpancing, suaranya agak meninggi hingga memicu
lirikan dari pengunjung meja sebelah.
"Jangan bawa-bawa barang itu lagi, Rul!" potong Asri,
matanya mulai berkaca-kaca oleh kombinasi rasa marah dan terhina. "Barang
itu ditinggal karena aku percaya sama kamu. Tapi sekarang aku ngerasa bego.
Kamu jadikan itu alasan buat ngiket aku, sementara pikiran dan tulisanmu
kelayapan ke mana-mana di dunia maya!"
Asri bangkit dari kursinya, menyampirkan tas kanvasnya dengan
sentakan keras.
"Kita mulai dari blog, Rul. Dan sore ini, aku nyesel pernah
ngeklik tautan nama kamu di shoutbox-ku dulu," ucap Asri dingin.
Ia berbalik, melangkah cepat menuju eskalator turun, membelah
keramaian remaja Blok M yang sedang asyik berakhir pekan. Irul terpaku di
kursinya, memandangi kertas print-out yang ditinggalkan Asri. Pendar lampu mal
terasa menyengat kepalanya. Di tangannya, Nokia 6600 miliknya bergetar—sebuah
notifikasi e-mail masuk memberi tahu ada komentar baru di blognya. Namun sore
itu, di tengah bisingnya jantung Jakarta Selatan, Irul mendadak sadar bahwa
tulisan digital yang ia anggap keren telah menghancurkan satu-satunya realitas
berharga yang ia miliki.
Irul
menatap layar Nokia 6600 miliknya dengan pandangan kosong. Notifikasi komentar
baru itu berasal dari meta_permata: “Rul, jadi pinjem buku semiotikanya? Gue tunggu di selasar ya.”
Detik itu juga, Irul merasa mual. Komentar yang biasanya terasa
seperti validasi eksistensi anak muda gaul kampus, kini terasa hambar, murah,
dan menjijikkan. Ia melirik kertas print-out blognya yang tergeletak di atas meja gerai
donat, bersanding dengan cangkir kopi yang mulai mendingin. Di sekelilingnya,
musik pop melayu yang sedang naik daun di tahun 2007 berdentum dari pengeras
suara mal, kontras dengan kepalanya yang mendadak sunyi senyap.
“Gue bener-bener merusak semuanya,” bisiknya
jengkel pada diri sendiri.
Tanpa membalas komentar Meta, Irul menyambar tas ranselnya,
menyisipkan kertas print-out penuh amarah Asri ke dalamnya, dan berlari
mengejar ke arah eskalator. Langkahnya lebar-lebar membelah kerumunan anak muda
Blok M yang sedang nongkrong memakai celana cutbray dan kaos gombrang.
Ia sampai di pelataran luar Blok M Plaza. Udara Jakarta Selatan
jam lima sore itu pekat oleh asap knalpot metro mini dan debu jalanan. Matanya
bergerak liar ke segala arah, memindai di antara kerumunan orang yang berjalan
menuju Terminal Blok M. Di dekat tangga penyeberangan orang yang membelah
jalanan sibuk itu, ia melihatnya. Jaket rajut longgar dan tas kanvas Asri
bergerak cepat, menerobos antrean penyeberang jalan dengan kepala tertunduk.
"SRI! ASRI! TUNGGU, SRI!" teriak Irul, mengabaikan
tatapan heran orang-orang di sekitarnya.
Asri tidak menoleh. Ia justru mempercepat langkahnya, setengah
berlari menaiki anak tangga besi menuju peron Terminal Blok M. Irul terus
mengejar, melompati anak tangga dua-dua hingga napasnya memburu.
Tepat di koridor atas jalur bus AC 16 arah Ciledug, Irul
berhasil meraih pergelangan tangan Asri. Sentuhannya dingin, membuat Asri
terpaksa berbalik. Begitu wajah mereka berhadapan, pertahanan Irul runtuh
seketika. Sepasang mata Asri sudah basah sepenuhnya, maskara murah yang ia
pakai agak luntur di sudut mata, menciptakan garis hitam yang menyedihkan.
"Lepas, Rul! Mau apa lagi sih? Pulang aja sana, bales tuh
komentar cewek senatmu di blog! Cari kebebasan yang kamu tulis itu!"
tangis Asri pecah di antara deru mesin bus kota yang menderu di bawah mereka.
"Sri, dengerin gue dulu, plis..." Irul memohon, kedua
tangannya kini memegang pundak Asri, mengunci gerakan gadis itu di sudut pagar
pembatas terminal. "Gue khilaf. Gue akuin gue norak, gue kebawa suasana
dunia maya yang semu itu. Gue pikir nulis kayak gitu keren, gue pikir dapet
komen banyak itu hebat. Tapi pas lo jalan pergi tadi, gue sadar... semua
tulisan di blog gue gak ada gunanya kalau gak ada lo yang baca."
Asri menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung
tangan, napasnya tersengal. "Kamu egois, Rul. Kamu bawa-bawa urusan kamar
kosan kita ke ranah publik lewat kiasan-kiasan menjijikkan itu. Kamu biarkan
orang lain menertawakan 'ruang sempit' yang sebenarnya itu tempat kita saling
sayang!"
Irul terdiam, tertohok oleh kebenaran kalimat Asri. Ia merogoh
kantong celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu di depan mata Asri yang masih
berlinang, Irul membuka menu admin Blogspot lewat jaringan GPRS yang lambat dan
memakan pulsa mahal. Dengan beberapa kali pencetan tombol joystick Nokia 6600-nya, Irul mengeklik perintah: Delete Post.
"Udah, Sri. Tulisannya udah gak ada. Hapus. Hilang,"
kata Irul serak, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan status Post Deleted Successfully. "Gue gak butuh blog itu
lagi kalau bikin lo nangis kayak gini. Mulai malam ini, gue bakal tutup blog
itu."
Asri menatap layar ponsel Irul, lalu beralih menatap mata Irul
yang memancarkan penyesalan yang teramat dalam. Kemarahan yang tadi berkobar di
dadanya perlahan menyusut, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat.
Konflik tajam yang berakar dari dunia digital itu membawa mereka pada titik
nadir: bahwa cinta remaja mereka terlalu berharga untuk dijadikan konsumsi
publik.
"Barang merah muda itu..." Asri berbisik lirih,
suaranya hampir hilang ditelan klakson bus di bawah peron.
"Masih ada, Sri. Gak pernah berdebu. Dan gak bakal pernah
gue lepasin," potong Irul cepat, matanya menatap Asri dengan intensitas
yang sama seperti malam hujan di Mampang. "Gue mau kita balik kayak dulu.
Cuma ada gue, lo, dan realitas kita di Jakarta. Gak ada orang lain, gak ada
Meta, gak ada komentar blog."
Asri menghela napas panjang, kepalanya bersandar lemas di dada
kemeja flanel Irul yang mulai lembap oleh keringat sore. Tangan kanannya
bergerak lambat, memeluk pinggang Irul dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Konflik di Blok M hari itu memang tajam dan nyaris menghancurkan mereka, namun
di bawah langit Jakarta tahun 2007 yang mulai menggelap, mereka berhasil
menarik cinta mereka keluar dari fiksi dunia maya, membawanya kembali ke bumi
sebagai sepotong takdir yang nyata.
Tahun
2008 menjelang pertengahan, dan atmosfer Jakarta Selatan tidak lagi menyisakan
ruang untuk drama blog atau komentar semu di Yahoo! Messenger. Segala riuh
rendah romansa remaja itu mendadak ditarik paksa ke ranah kedewasaan yang
dingin ketika selembar surat keputusan dari dewan akademik keluar.
Hari itu, Jakarta sedang terik-teriknya. Namun di dalam Balai
Sidang Jakarta, hawanya terasa begitu formal dan agung. Musik gending Jawa
mengalun khidmat mengiringi prosesi wisuda kelulusan Jurusan Komunikasi.
Di antara ratusan toga yang berkumpul, Irul berdiri mematung
memegangi sebuah buket bunga mawar murah yang ia beli di dekat Stasiun Palmerah
tadi pagi. Matanya terkunci pada sosok Asri. Gadis Palembang itu terlihat luar
biasa cantik hari itu; rambut sebahunya disanggul rapi, kebaya kartini berwarna
merah marun membalut tubuhnya dengan anggun, dan selembar selendang songket
asli Palembang tersampir di pundaknya. Di atas kepalanya, topi toga hitam
dengan kuncir yang sudah dipindah ke kanan menandakan bahwa masa-masa kuliahnya
di Jakarta resmi berakhir.
Ketika Asri berhasil melepaskan diri dari kerumunan keluarganya
yang datang langsung dari Sumatra, ia berjalan menghampiri Irul di dekat pilar
gedung. Senyumnya mengembang, namun ada binar melankolis yang tidak bisa
disembunyikan dari sepasang matanya.
"Selamat ya, Sri. Lulusan terbaik, nih," kata Irul,
menyerahkan buket bunga dengan tangan yang agak kaku. Ia sendiri masih punya
tanggungan satu semester lagi karena sempat keteteran mengurus diktat kuliah
gara-gara sibuk nongkrong di warnet dulu.
"Makasih, Rul," bisik Asri. Ia menerima bunga itu,
lalu menatap Irul lekat-lekat. "Papa sama Mama... udah pesen tiket kapal
dan pesawat buat minggu depan, Rul. Barang-barang di kosan Bangka juga udah
mulai dicicil masuk kardus."
Kalimat itu seperti hantaman godam yang jauh lebih menyakitkan
daripada konflik mereka di Blok M setahun lalu. Perpisahan kali ini tidak
dipicu oleh cewek senat atau ego tulisan fiksi di blog, melainkan oleh
kenyataan hidup. Asri adalah anak pertama dari dua bersaudara; kewajibannya
untuk pulang ke Palembang, berbakti pada orang tua, dan memulai karier di tanah
kelahirannya adalah takdir yang tidak bisa ditawar oleh cinta anak kosan.
"Gak bisa extand sebulan lagi di Jakarta, Sri? Magang dulu
gitu di agensi periklanan daerah Sudirman?" tanya Irul, suaranya parau,
mencoba mencari celah di antara dinding kenyataan yang tebal.
Asri menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan
akhirnya runtuh, merusak riasan wisudanya. "Enggak bisa, Rul. Kontrak
kosanku habis akhir bulan ini. Papa juga udah dapet tawaran kerja buat aku di
sana. Jakarta udah selesai buat aku."
Satu minggu setelah ritual wisuda itu, Stasiun Gambir kembali
menjadi latar, namun kali ini dengan peran yang kejam. Bukan lagi tempat
penjemputan penuh rindu, melainkan gerbang pelepasan menuju perpisahan. Asri
dan keluarganya memilih naik kereta eksekutif menuju pelabuhan penyeberangan
sebelum menyeberang ke Sumatra.
Di peron stasiun yang bising, di tengah deru mesin kereta api
yang siap berangkat, Irul dan Asri berdiri berhadapan untuk terakhir kalinya.
Irul merogoh kantong jaket jinsnya, mengeluarkan selembar bungkusan koran kecil
yang sudah lusuh—barang merah muda berenda yang selama hampir dua tahun ini
mengendap di laci paling dalam mejanya.
"Ini... mau kamu bawa pulang ke Palembang?" tanya Irul
dengan tangan gemetar.
Asri menatap bungkusan itu, lalu mendorong tangan Irul kembali
ke dalam saku jaketnya. Ia menggenggam jemari Irul erat-erat untuk terakhir
kali.
"Gak usah, Rul. Simpen aja," bisik Asri di antara isak
tangisnya yang pecah. "Biar barang itu tetep tinggal di kamar kosanmu.
Biar jadi saksi, kalau di antara semua tulisan fiksi yang pernah kamu buat di
blog, pernah ada satu realitas paling nyata yang namanya Asri, yang pernah
sayang banget sama kamu di Mampang."
Klakson kereta eksekutif berbunyi nyaring, memekakkan telinga
dan memutus paksa sisa waktu mereka. Asri berbalik, melangkah naik ke gerbong
kereta tanpa berani menengok lagi ke belakang, takut pertahanannya runtuh
total.
Irul berdiri mematung di peron Gambir, memandangi rangkaian
gerbong kereta yang perlahan bergerak menjauh, membelah malam Jakarta, membawa
pergi gadis Palembang yang dulu ia kenal lewat kolom komentar shoutbox Blogspot. Di kantong jaketnya, tangannya
meremas erat sepotong kain merah muda yang kini resmi berubah dari sebuah jimat
nakal menjadi monumen kenangan manis dari romansa remaja ibu kota tahun 2000-an
yang harus kalah oleh jarak dan waktu.
…….
Tahun 2008 berjalan lambat setelah kereta itu membawa Asri
pergi. Kamar kos Irul di Mampang kembali ke setelan awalnya: sepi, berantakan,
dan dipenuhi aroma mi instan yang dingin. Bedanya, laci paling bawah meja
belajarnya kini terasa seperti sebuah makam kecil untuk sebuah cerita yang
belum benar-benar selesai.
Irul akhirnya menyelesaikan kuliahnya di pertengahan tahun 2009.
Kesibukan dunia kerja di sebuah agensi periklanan di daerah Jakarta Pusat
perlahan-lahan menyita waktunya. Ponsel Nokia 6600 miliknya digantikan oleh
Blackberry, dan alamat blog lamanya yang penuh drama itu sudah lama mati,
menyisakan status This blog has been deleted jika ada
yang iseng mencarinya di Google.
Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk memanggil kembali
ingatan lama.
Epilog: 2012, Suatu
Sore di Palmerah
Empat tahun kemudian. Jakarta sudah jauh berubah. KRL ekonomi
yang dulu bising dan pintunya selalu terbuka kini perlahan digantikan oleh
rangkaian Commuter Line yang lebih rapi dan ber-AC. Stasiun
Palmerah pun sudah bersolek, lebih modern dan bersih dari debu-debu jalanan
masa lalu.
Sore itu hujan deras kembali mengguyur Jakarta Selatan. Irul,
yang kini mengenakan kemeja kerja rapi dan menenteng tas laptop, terpaksa
menepi di area luar Stasiun Palmerah karena motornya mogok akibat genangan air.
Ia berdiri di bawah kanopi stasiun, menyeka tetesan air di kacamata dan melirik
jam di pergelangan tangannya. Pukul lima sore.
Aroma tanah basah dan desis rem kereta yang merapat di peron
mendadak mengirimkan gelombang nostalgia yang aneh ke kepalanya. Matanya secara
refleks melempar pandang ke seberang jalan, ke arah tempat abang siomay dulu
biasa mangkal. Gerobak itu sudah tidak ada, digantikan oleh deretan ojek motor
yang sedang berteduh memakai jas hujan plastik.
Irul tersenyum kecut. Ia merogoh kantong tas laptopnya,
memeriksa kompartemen paling dalam yang jarang ia buka. Di sana, di dalam
dompet kulit lamanya yang sudah usang dan mengelupas, sepotong kain merah muda
berenda itu masih ada. Sudah agak pudar warnanya, dan wangi sabun mandi Asri
sudah lama menguap digantikan bau kertas tua. Namun, benda itu tetap di sana,
keras kepala menolak dibuang.
"Irul?"
Sebuah suara memotong suara rintik hujan. Suara yang feminin,
dengan intonasi yang sangat akrab di telinga, meski sudah bertahun-tahun tidak
pernah ia dengar secara langsung.
Irul berbalik dengan cepat.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan payung lipat
berwarna biru yang basah oleh air hujan. Rambut sebahunya kini dipotong dengan
gaya bob yang rapi, mengenakan pakaian kerja formal khas wanita karier Jakarta.
Di jari manis tangan kanannya, tidak ada cincin. Matanya yang kecokelatan
menatap Irul dengan binar terkejut yang sama besarnya.
Itu Asri.
"Asri? Lo... lo di Jakarta?" Irul terbata-bata,
lidahnya mendadak sekaku saat kuis Pengantar Periklanan dulu.
Asri menurunkan sedikit payungnya, lalu sebuah senyuman
manis—senyuman yang sama yang dulu runtuh di Stasiun Gambir—perlahan terbit di
bibirnya. "Iya, Rul. Aku dapet pindahan kerja ke kantor cabang Jakarta
Pusat sejak sebulan lalu. Sengaja gak kasih tahu kamu, mau liat kamu masih suka
nongkrong di warnet apa enggak."
Irul tertawa lepas, sebuah tawa yang mencairkan seluruh kekakuan
tahun-tahun yang hilang di antara mereka. Hujan di Palmerah sore itu mendadak
tidak lagi terasa dingin dan menyebalkan.
"Gue udah gak main di warnet, Sri. Tapi..." Irul
menggantung kalimatnya, ia menepuk tas laptopnya perlahan sambil menatap lurus
ke dalam sepasang mata Asri. "...jimat penolak billing habis punya lo,
masih gue simpen di sini. Gak pernah berdebu."
Pipi Asri mendadak merona merah, persis seperti sore hari di
kamar kos Mampang tahun 2006 dulu. Ia melangkah maju, merapatkan payungnya agar
Irul bisa ikut berteduh di bawahnya.
"Dasar mesum," bisik Asri manja, dibarengi dengan
cubitan pelan di lengan kemeja kerja Irul. "Ya udah, berhubung motor kamu
mogok... temenin aku makan siomay di depan yuk? Aku tahu tempat baru yang
bumbunya mirip sama yang dulu."
Mereka berjalan beriringan menembus rintik hujan Jakarta yang
mulai mereda. Di bawah satu payung yang sama, di antara riuh rendah kota
metropolitan yang tidak pernah tidur, kisah yang berawal dari baris-baris teks
digital di layar monitor tabung itu akhirnya menemukan kembali jalannya pulang
ke dunia nyata. Rahasia merah muda itu tidak lagi menjadi kenangan yang
menangisi perpisahan, melainkan awal dari babak baru yang siap mereka tulis
bersama, kali ini tanpa batas jarak dan waktu.
[]
No comments:
Post a Comment