Showing posts with label history. Show all posts
Showing posts with label history. Show all posts

Friday, September 19, 2014

Belajar Tidak Kenal Waktu

Menjadi mahasiswa itu enak. Mengutip Mas Prof. Nunung yang dosen gaul dari Jogja, tugas mahasiswa itu cuma satu: belajar. Kalau menurut saya sih tugas mahasiswa itu banyak, gak cuma itu, mas prof. Apa tuh? Belajar. Belajar. Belajar.

Hahaha.

Kalau menurut Ayah Pidibaiq, tujuan kuliah itu biar bisa reunian lagi. Betul itu soalnya kalau sudah lulus kuliah mah gak bakal ditanya “mas kuliah dimana?” atau “mas ijazahnya mana?”.

Ada yang tau gak fungsi ijazah buat apa? Hayo ngeceng eh ngacung. Haha.

Kalau yang saya tahu, sempat curi-curi dengar dari Pak Tung Desem Waringin yang motivator kondangan itu, beliau bilang guna ijazah itu salah satunya buat ngelamar calon manten (baca: pamer ke calon mertua). Hahaha.

Masuk akal sih itu kata Pak TDW (begitu beliau biasa dipanggil, katanya) *sambil ngomong DAHSYAT! Begitu ceritanya.

Saya ingat waktu lulus sarjana strata satu alias Es Satu. Teman saya yang kuliah di jurusan Filsyahwat eh Filsafat, sebut saja namanya Miko (inisial sebenarnya) nyeletuk dengan songongnya:

“Bro (panggilan gaul anak Jakarta, padahal mah bukan Jakarta doang), capek-capek kita kuliah 4 tahun lamanya, ujung-ujungnya cuma buat dapat ginian  doang”!! *sambil nyodorin selembar kertas berlaminating yang bernama IJAZAH

“….hahahahaha…” saya ngakak polos ketika itu. Artinya apa? Artinya saya mengiyakan setuju dengan pernyataan tanpa teori tersebut.

Kuliah memang bikin lelah. Betapa tidak, pagi-pagi mesti berangkat ke kampus, berjibaku dengan bau ketek orang-orang, berpeluh ria jenaka di dalam angkot, sampai kadang pakaian yang baru beli langsung lecek seketika, nungguin bang sopir pribadi (baca: sopir angkot), ngejar-ngejar dosen, eh ternyata dosen gak masuk. Kasihan gak tuh? Hahaha.

Tak cukup sampai di situ, di akhir semester harus dipaksa kerja rodi sama dosen ngerjain tugas akhir. Dan satu yang penting, last but not least kalau kata John Koplo, yaitu bayar uang semester. Jreng jreng jrenggg!!

Ya kalau menurut saya mah, benar itu di awal tadi. Kuliah itu tujuannya belajar. Apa saja pokoknya belajar. BELAJAR. Gak percaya?

Kuliah itu..

Belajar sabar nunggu dosen. Belajar pedekate sama mahasiswi baru. Belajar nungguin sopir angkot. Belajar sabar bayar uang spp. Belajar bergaul. Belajar di kelas. Belajar sok kenal en akrab sama penjaga kantin biar bisa ngutang. Belajar dan belajar dan belajar……(isi sendiri)….


Ngomong-ngomong soal kuliah dan belajar, sekilas menggugah kenangan saya pada sebuah linimasa yang telah lampau. Saya selalu ingat pesan dari dosen yang paling saya kagumi di dunia ini, namanya Ibu Sari Endahwarni, M. Hum, biasa disingkat dengan akronim SEW, kode inisial nama beliau di kampus. Suatu saat saya meminta kata-kata motivasi dari beliau, seraya saya menyodorkan gambar potret patung Pancoran Jakarta jaman dahulu kala. Lantas Ibu Sari, begitu beliau akrab disapa, membubuhkan kalimatnya yang hingga kini saya kenang selalu:



“Belajar tidak mengenal waktu!
Capailah cita-cita setinggi mungkin!”
                           [Sari Endahwarni]



Tuesday, August 12, 2014

Diskusi Repoeblik Berak Lantjar: in Memoriam Eko Prasetyo




Diskusi Repoeblik Berak Lantjar: in Memoriam Eko Prasetyo (25 Maret 1986 – 8 Agustus 2012).

Diskusi Repoeblik Berak Lantjar mengenang kepergian mendiang Eko Prasetyo bin Tumidjo. Dihadiri oleh Shubhi Abdillah, Hendaru Tri Hanggoro, M. Arief Dharmawan, Ospi Dharma, Jun Khaer. Dalam acara ini membahas rencana peluncuran buku antologi puisi Eko Prasetyo beserta beberapa karya seni miliknya. Kami memang merasa kehilangan sosok seniman langka yang setia pada kesederhanaan hingga akhir hayatnya. Saya ingat gelar “bedebah serampangan” yang disematkan Eko buat saya karena menyaksikan gaya saya yang nyeneleh bin ngawur dalam pergaulan, yang menurutnya saya itu tidak ikut mainstream. Ah terlalu indah kenangan kita, ko.
Saya ingat pesan Eko di status Facebook-nya waktu itu:

teringat dulu itu ada seorang teman yang kalo tiap ketemu sapaan hangatnya begini, "gemana, dul, berak lancar?" [Eko Prasetyo]
hehehe... hidup ternyata cuma seluas kamar kos [Eko Prasetyo]

Ada quotes menarik ketika itu dari Ospi pada waktu malam itu tentang alasan mengapa kami berserikat dan berkumpul untuk mengenang Eko, begini bunyinya:
“Agar lengkap pengabdian kita sebagai kawan” [Ospi Dharma]

Sekarang kau berbahagia kawan. Semoga tempatmu tidak seluas kamar kos durjana yg cuma ada di dunia. Selamat berak lancar di sana! [Jun Khaer]

Monday, June 16, 2014

Pak Boas



Pak Boas.
Begitulah beliau biasa disapa. Dosen tetap pengajar Jurusan Filsafat Program Studi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini merupakan sosok yang luar biasa. Beliau dosen pertama yang memarahi saya dan tak segan untuk memaki-maki mahasiswanya. Mungkin banyak pandangan miring mengenai beliau yang katanya dosen galak, kasar, dan lain sebagainya. Namun bagi saya Pak Boas justru telah mengajarkan banyak hal. Beliau sejatinya berasal dari Jurusan Sastra Slavia Program Studi Sastra Rusia, karena beliau pun alumnus dari jurusan itu. Namun karena sikap bebalnya yang anti mainstream sehingga kadang beliau dicap sebagai pemberontak hingga akhirnya beliau memutuskan untuk hengkang dari jurusan yang telah membesarkan namanya untuk menyeberang di jurusan sebelah yang masih satu fakultas.

Beruntung saya diajar Pak Boas. Masih ingat ketika beliau mengampu dua mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet dan Sejarah Federasi Rusia. Mata kuliah bertema sejarah merupakan spesialisasi beliau. Saya ingat ketika itu saya tidak sempat membaca tugas paper berbahasa Inggris yang diberikan beliau. Walhasil saya kena semprot beliau. Tak segan-segan beliau memaki mahasiswanya jika memang salah. Namun jangan salah jika si mahasiswa rajin belajar dan bertanya maka beliau pun tidak segan untuk memuji setinggi langit. Hal ini saya rasakan di dua mata kuliah tersebut dimana saya mendapat nilai A. Salah satunya pada mata kuliah Sejarah Pranata Uni Soviet, ketika itu bulan Ramadhan dan saya harus pulang pergi kuliah Bekasi-Depok yang jaraknya cukup jauh. Berhubung nilai saya tertinggi satu kelas pada ujian tengah semester maka saya mendapat mandat pertama untuk maju dalam persentasi mengenai tema Bolshevisme. Saya hanya diberi waktu dua hari dua malam untuk membaca sekian buku tebal yang diberi oleh Pak Boas dalam bahasa Inggris. Berat rasanya pada awalnya bagi saya ketika itu menerima buku yang diserahkan beliau. Betapa tidak saya harus mengerjakan tugas multitasking: membaca, sedikit menerjemahkan, membuat tulisan, ikhtisar, serta slide presentasi yang kala itu masih manual dengan kertas bening berbeda seperti sekarang ini yang sudah canggih.

Janji beliau pada waktu itu: “kalau kamu bisa presentasi dengan bagus, nilaimu saya kasih A tanpa prasyarat ujian akhir semester”.

Artinya apa? Yaitu saya kelak dapat nilai A jika presentasi saya baik dan memuaskan tanpa pengaruh dari nilai ujian akhir yang kelak saya tempuh di mata kuliah ini. Sungguh awalnya saya kira beliau hanya bergurau. Ternyata tidak.

Hari-H pun tiba.
Saya persentasi di depan kelas. Satu jam mata kuliah saya habiskan dengan presentasi dan diskusi tanya jawab. Di ujung presentasi saya mendapat aplaus yang meriah dari Pak Boas serta rekomendasi nilai A. Beliau bilang: “sesuai janji saya karena presentasimu bagus, kamu layak dapat nilai A”.

Ternyata omongan beliau bukan omong kosong. Saya dapat nilai A di penghujung semester. Sungguh luarbiasa. Beliau guru yang saya kagumi. Entah mengapa banyak cibiran dari mahasiswa yang menganggap beliau itu dosen killer, padahal sejatinya tidak. Beliau hanya ingin mahasiswanya lebih pintar dari beliau, ingin agar kita sebagai mahasiswanya tidak jadi mahasiswa dungu yang malas membaca dan bertanya. Baginya, jika seorang mahasiswa itu cepat puas maka layak untuk dapat cacian, kebalikannya jika seorang mahasiswa itu tidak cepat puas dan selalu haus akan ilmu pengetahuan, maka layak untuk dipuji setinggi langit. Itu kesan yang saya tangkap dari Pak Boas. Tegas, lugas, namun berisi. Beliau tidak hanya mengajar namun juga mendidik dengan memberikan nilai-nilai yang tidak ada di buku pelajaran. Sifat beliau yang amanah pada janji layak untuk ditiru mahasiswanya.

Ada pula yang saya ingat dari Pak Boas mengenai kisah cintanya dengan salah seorang professor di Jurusan Sastra Rusia. Kerap kali beliau menyebut sang profesor ketika beliau mengajar. Entah apa maksudnya mungkin beliau masih memendam cinta lama yang tak terlaksana, kasih tak sampai. Saya yakin Pak Boas ketika masih muda itu ganteng dan gaul namun beliau setia sehingga hanya tergila-gila pada seorang wanita yang kelak jadi profesor satu jurusan dengannya kala itu. Entahlah.

Sungguh pengabdian beliau sebagai dosen sangat luar biasa. Menjelang akhir hayatnya beliau tetap setia mengajar walau selalu sebelum mengajar terkadang beliau minum obat karena penyakit menahun yang dideritanya, entah itu apa karena saya tidak pernah bertanya soal itu. Bahkan kabarnya beliau pernah pingsan selagi mengajar sehingga harus digotong dari kelas. Sampai suatu ketika terdengar kabar pada Ahad 14 Desember 2008 di RS Cipto Mangunkusumo, saya mendengar kabar duka beliau berpulang. Sungguh saya sedih mendengarnya. Pak Boas, saya ucapkan terimakasih tak terhingga atas ilmu yang telah dirimu berikan. Semoga ilmu darimu selalu bermanfaat bagi siapapun. Engkau adalah guru yang tahu bagaimana menjadi guru yang baik, Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Selamat jalan Pak Boas. 




NB: Video ini saya dedikasikan untuk semua orang yang sayang Pak Boas, maaf Pak kalau saya tidak minta ijin terlebih dahulu untuk merekamnya. Kami selalu menyayangimu.

Wednesday, May 28, 2014

Ustadz Mubarak Bamualim, Seorang Alim Nan Halim



Banyak yang bilang kalau ustadz Mubarak Bamualim itu sosok yang angker. Kalau kata ustadz Chusnul Yaqin beliau itu “macannya sunnah”. Beliau memang dikenal “angker” oleh murid-muridnya, bahkan rekan saya yang bernama Fatkhun Mubin sampai-sampai bilang kalau beliau itu seperti punya julukan “ustadz kuburan”, mengapa? Ya karena setiap beliau masuk kelas untuk mengajar pastilah semua yang di kelas hening seperti di kuburan; begitu ibaratnya. Ada lagi rekan saya yang bernama Abdurrahman Yongki juga mengiyakan hal serupa, beliau diibaratkan “ustadz maqabir” semakna dengan ustadz kuburan tadi. Jangan harap kita bisa curi-curi waktu untuk sejenak tidur di dalam kelas, beliau seakan punya radar untuk mendeteksi hal tersebut. Beberapa kali saya jumpai rekan saya yang mengantuk tak ayal kena semprotan beliau. Ternyata tidak untuk saya. Saya orang yang pernah menyaksikan kelemahlembutan beliau, di samping keangkeran tersebut di awal.

 Hal yang saya ingat dari ustadz Mubarak yaitu beliau menulis dengan tangan kiri. Waktu itu beliau mengajar mata kuliah menulis Arab [khat], dengan cekatan tangan beliau menggoreskan kapur di papan tulis dari kanan ke kiri. Saya pernah merasakan hal yang tidak menyenangkan kala ditegur oleh beliau. Memang saya akui kesalahan saya sendiri ketika itu.

 Kisahnya ketika saya pulang ke Jakarta lebih dari seminggu masa aktif belajar di Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya. Ada urusan yang penting ketika itu dimana saya harus mengurus tetek bengek segala keperluan yang berhubungan dengan SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru] yang ketika itu saya diterima di Universitas Indonesia. Alhasil waktu saya di Jakarta harus molor sekitar seminggu untuk mengurus ini itunya. Ketika saya kembali ke Surabaya, saya shalat jamaah di masjid ma’had. Saya sedang mengambil air wudhu dan persis di sebelah saya ada beliau yang sempat berpapasan mata dengan saya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati saya waktu itu antara ingin menyapa beliau dengan salam, namun lidah saya malahan kelu dan tidak sedikitpun mengeluarkan huruf. Sungguh ketika itu saya malu dan saya menyesali kebodohan saya sendiri. Sampai selang beberapa hari ketika beliau mengajar saya dalam salah satu mata kuliah di situlah saya ditegur; lebih tepatnya dinasehati. Beliau bilang tidak hanya khusus untuk saya tapi bagi siapa saja yang bertemu dengan ustadz di ma’had atau di manapun berada hendaknya bertegur sapa dengan salam, karena yang demikian merupakan ciri-ciri akhlak muslim yang baik. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu; bermakna keselamatan, rahmat, dan berkah Allah semoga padamu. Sungguh sebuah kata singkat namun padat makna. Begitulah beliau mengajari saya, muridnya yang tak kunjung pandai hingga kini. Sampai detik ini saya masih ingat rekaman hal itu yang menjadikan saya tergugah untuk selalu mencontoh akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik suri teladan manusia.

Ada satu hari yang paling saya kenang hingga kini, dimana saya berpamitan dengan ustadz Mubarak. Kala itu ba’da ashar selepas saya dan beliau yang menjadi imam, baru saja menunaikan kewajiban shalat berjamaah di masjid ma’had. Sempat ada dilema yang berkecamuk di hati saya tentang apa yang saya ingin ungkapkan ke beliau. Artinya dengan bahasa apa saya mengutarakan keinginan saya berpamitan kepada beliau. Jujur waktu itu berat rasanya bagi lidah saya untuk berpisah dengan beliau. Namun apa daya takdir jualah yang berbicara. Singkatnya saya beranikan diri untuk menegur beliau:
| Assalamu’alaikum ya ustadz
|Wa’alaikumsalam ya Junaidi. Apa kabarnya? Gimana, gimana?....
Tanpa diduga beliau menjabat tangan saya dan memeluk saya hangat ibarat ayah yang telah lama tidak bertemu dengan anaknya. Subhanallah. Saya gemetar ketika itu, bukan karena takut namun saya merasakan getaran cinta dari beliau yang penuh rahim. Saya lanjutkan:
| Anu ustadz, begini, saya mau pamit. Mau pulang.
|Loh.. loh.. mau kemana? Kenapa? Heh cerita ya. Kalau mau kerja di sini ya ndak apa-apa nanti saya bilang ke yayasan. Biar kamu dapat beasiswa di sini.
| Bukan. Bukan soal itu ustadz, ada uzur lain jadi saya harus pamit.
|………….

Sempat jeda.
Saya tidak kuasa menahan emosi yang bergejolak ketika itu. Ustadz Mubarak memang luar biasa, beliau paham situasi kala itu. Langsung saja tanpa basa basi beliau mengajak saya sowan ke rumahnya yang berada tak jauh dari masjid ma’had.

Sesampainya saya di depan rumah beliau, saya menunggu di luar, beliau masuk. Tak lama kemudian beliau memanggil dari dalam:
|Hei, ayo masuk. Ngapain di situ? Sini.
|Labbaik [saya datang] ya ustadz. *seraya masuk rumah beliau*.
|Sini duduk. Mau minum apa, hah? Air putih campur madu mau? Enak itu. Mumpung saya lagi baik ini *canda beliau seraya tersenyum*
|Apa aja ustadz asal gak ngerepotkan.
Kemudian beliau menyuguhkan air dingin dicampur dengan madu asli. Beliau menyuruh saya agar segera meminum air tersebut. Setelah saya jelaskan maksud pamitan saya maka beliau dengan bijaksana memahami masalah saya dan mengijinkan saya untuk pulang menempuh cita-cita. Tak lupa beliau berpesan agar saya selalu menjaga agama Islam yang mulia ini dengan cara selalu belajar dan bertanya kepada ahli ilmu di tempat saya berada. Beliau pun ucapkan salam kepada kedua orangtua saya. Sungguh di kala itu rasanya saya ingin menangis tapi hanya sedikit airmata yang keluar untuk menutupi malu bertemu orang seperti beliau yang saya kagumi.

Luar biasa. Saya tidak menyangka di balik sosok beliau yang garang ternyata beliau memiliki akhlak yang mulia. Sungguh saya beruntung sempat menjadi murid beliau, diajarkan langsung akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam sopan santun guru dan murid. Beliau adalah sosok alim [berilmu] yang juga halim [lemah lembut]. Terimakasih wahai ustadz Mubarak, semoga Allah membalas kebaikanmu dan menjadikan ilmu dan amalmu bercahaya menerangi semua.

Ada pesan yang saya ingat dari beliau kala mengajar: “ijtahidu ya akhi” [bersungguh-sungguh wahai saudaraku], antum [kalian] datang dari jauh ke sini jangan main-main ya.




"Muhammad is the Messenger of Allah; and those with him are forceful against the disbelievers, merciful among themselves. You see them bowing and prostrating [in prayer], seeking bounty from Allah and [His] pleasure. Their mark is on their faces from the trace of prostration. That is their description in the Torah. And their description in the Gospel is as a plant which produces its offshoots and strengthens them so they grow firm and stand upon their stalks, delighting the sowers - so that Allah may enrage by them the disbelievers. Allah has promised those who believe and do righteous deeds among them forgiveness and a great reward." [48:29]