Friday, July 10, 2026

Catatan Pinggir Warung: Pram Bukan Menulis, tapi Berak

Pram Bukan Menulis, tapi Berak

Catatan Pinggir Warung John Koplo

Saya membayangnkan hidup jadi seorang Pramoedya Ananta Toer, saya tidak sanggup. Betapa tidak, cobaan rintangan yang beliau hadapi sungguh di luar nalar akal waras manusia pada jamannya. bagaimana dia bisa menulis di saat dunia sekitarnya tidak menghendaki atau katakanlah mengharamkan dirinya untuk menulis setitik tanda pun. Tetralogi pulau buru termasuk buku yang saya beli waktu jaman kuliah dulu di kampus Universitas Indonesia, buku asli empat jilid masih segel utuh dan langsung saya bayar tanpa nego ini itu anu terlebih dahulu. Di sampul empat novel mahakarya sastra Indonesia tersebut tertulis: SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA. Ckckck saya berdecak kagum seraya mengumpat:

Gila! Saya bilang, kok ada manusia semacam Pram yang menulis tidak wajar, yaitu membagikan kisah dalam novelnya kepada teman-temannya sesama di penjara Pulau Buru. Belum ada tercatat dalam sejarah dunia manapun tentang progres penulisan buku dengan metode semacam ini, aneh bin ajaibnya Pram mampu bercerita semau dia soal dari A sampai Z tentang ideologi, bangsa, cinta, konflik sosial dan sebagainya dengan bahasa yang efektif dan tidak mubazir serta nyaris sempurna indah. Mungkin saja jika boleh berandai-andai, kalau kelakar saya hiperbola adalah soal cara menulis model Pram ini nyaris semacam periwayatan jalur hadis melalui orang-orang (riwayat dan dirayat) seperti dalam ilmu mustalah hadis, sebuah cabang ilmu adiluhur dalam agama Islam yang membahas periwayatan isi berita dan sekaligus siapa yang memberitakan.

Sebuah ironi yang paling mengiris hati: ia dikurung di sebuah pulau yang gersang, terisolasi dari peradaban, tanpa pena, tanpa kertas, bahkan di bawah ancaman laras senapan yang siap menyalak kapan saja jika ia ketahuan menorehkan sepatah kata. Logika awam kita akan berpikir, "Selesai sudah. Kreativitas mati di sini." Namun, Pram justru membuktikan bahwa ketika hak seorang penulis dirampas sampai ke titik nol, kepala dan suaranyalah yang mengambil alih menjadi mesin ketik paling tangguh di dunia.

Metode bertutur lisan kepada sesama tapol (tahanan politik) di Barak Commando Pulau Buru itu bukan sekadar cara menghabiskan waktu, melainkan sebuah strategi bertahan hidup—sebuah pembangkangan budaya yang paling sublim. Minke, Nyai Ontosoroh, dan seluruh pergolakan awal abad ke-20 itu ditiupkan Pram lewat udara malam yang dingin, dihafal secara kolektif oleh kepala-kepala yang lelah setelah seharian dipaksa kerja rodi. Pram menanamkan cerita itu di benak kawan-kawannya, menjadikan ingatan mereka sebagai "brankas hidup" agar jika esok hari ia mati dibunuh, kisah itu tidak ikut terkubur tanah Buru.

Dunia sastra global memang punya sejarah panjang tentang tulisan dari balik jeruji besi—mulai dari Don Quixote karya Cervantes hingga surat-surat Antonio Gramsci. Namun, menulis empat seri novel epik setebal ribuan halaman, yang lahir dari penuturan lisan tanpa catatan kaki, tanpa perpustakaan untuk riset, lalu diselundupkan lembar demi lembar keluar pulau terpencil dengan bantuan para penjaga yang bersimpati... itu sudah bukan lagi sekadar proses kreatif. Itu adalah mukjizat literasi.

Ketepatan bahasa Pram yang "tidak mubazir" itu justru lahir karena keterbatasan tersebut. Ketika setiap lembar kertas curian taruhannya adalah nyawa, Anda tidak akan menyia-nyiakan ruang untuk kalimat yang menye-menye atau deskripsi yang kosong. Setiap kata yang dipilih Pram harus bertenaga, harus menusuk langsung ke jantung persoalan: tentang bagaimana sebuah bangsa perlahan-lahan merangkak lahir dari rahim kolonialisme, tentang cinta yang tumbuh di tengah benturan kelas, dan tentang harga diri manusia yang menolak tunduk pada tirani.

Maka, tulisan "SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA" ditulis besar-besar di sampul buku yang saya beli di UI dulu itu sama sekali tidak hiperbolis. Itu adalah pernyataan fakta. Pram tidak sekadar menyumbang empat jilid novel fiksi; ia menyumbangkan sebuah bukti konkret kepada sejarah umat manusia bahwa ideologi dan kebebasan berpikir tidak akan pernah bisa dipenjara oleh jeruji besi sekokoh apa pun, atau oleh rezim sekejam apa pun. Ketika Anda memegang buku yang masih bersegel utuh itu, Anda sebenarnya sedang memegang sepotong kemenangan mutlak dari akal budi manusia atas kebebalan kekuasaan.

Bagi kritikus atau sastrawan sealiran Idrus, gaya menulis Pram pada masa-masa tertentu dianggap terlalu "kotor", mentah, agresif, dan blak-blakan dalam memotret realitas sosial yang kelam. Mereka yang mendewakan estetika bahasa yang rapi, puitis, dan borjuis melihat tulisan Pram seperti luapan emosi yang tidak disaring—makanya muncullah sinisme vulgar tersebut.

Tapi di situlah letak ironinya. Sesuatu yang dicap "kotoran" oleh para penentangnya justru menjadi pupuk paling subur bagi kesadaran berbangsa kita. Pram tidak tertarik menulis keindahan yang menipu. Dia menulis dengan amarah, keringat, dan darah. Kebalikan dari tuduhan Idrus, tulisan Pram justru sangat presisi dan terstruktur, seperti yang bisa kita buktikan sendiri lewat konstruksi epik Tetralogi Buru.

Saya masih ingat waktu jaman kuliah dulu pernah dikasih Film Memoar Pram selundupan teman saya yang konon dia nyolong dari laptop dosen saya waktu sang dosen ijin ke toilet, di sana saya semakin kenal siapa Pram yang kata gurunya yaitu Abdullah Idrus sang pujangga klasik sebuah kalimat tazkiah bahwa “Pram bukan menulis, tapi berak" yang menjadi salah satu friksi paling legendaris sekaligus kasar dalam sejarah sastra kita. Kalimat itu keluar saat tensi polemik kebudayaan di era 1950-an sampai 1960-an lagi panas-panasnya, terutama antara kubu Lekra (tempat Pram bernaung) dan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Saya sangat merasakan sekaligus menikmati atmosfer khas mahasiswa humaniora pada masanya. Menonton Pram saat itu—di era ketika karya-karyanya masih dilarang keras oleh Kejaksaan Agung—memang butuh nekat. Ada sensasi magis sekaligus menegangkan ketika menyaksikan sosok tua yang ringkih, dengan pendengaran yang sudah berkurang akibat siksaan sipir, tapi tatapan matanya masih sekeras baja saat bicara tentang kemanusiaan. Lewat dokumenter-dokumenter selundupan seperti itu, kita disadarkan bahwa Pram bukan cuma mitos sastra di atas kertas. Dia adalah manusia daging dan darah yang keras kepala, yang tetap merokok kretek dengan tenang sambil mengetik, bahkan setelah mesin ketik kesayangannya berkali-kali dihancurkan oleh sejarah.

Makanya saya agak meradang sekaligus kecewa ketika Bumi Manusia dipentaskan di layar lebar yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Tidak sepadan rasanya ketika sebuah mahakarya sastra yang lahir dari penderitaan berdarah-darah di Pulau Buru diterjemahkan ke dalam racikan sulap industri sinema pop, ada sesuatu yang terasa pincang, bahkan nyaris seperti "pembajakan" substansi.

Tetralogi Buru, khususnya Bumi Manusia, bukanlah sekadar cerita romansa remaja antara Minke dan Annelies. Itu adalah sebuah manifesto politik. Itu adalah catatan sosiologis tentang bagaimana kapitalisme global, hukum kolonial yang rasis, dan feodalisme Jawa bersekongkol menindas manusia. Annelies bukan sekadar pacar yang cantik; dia adalah simbol Hindia Belanda—tanah air yang molek, rapuh, dieksploitasi, dan akhirnya dirampas paksa oleh hukum Eropa.

Namun, apa yang saya lihat di layar lebar berdurasi 3 jam itu?

Hanung, dengan segala tuntutan pasar dan produser (Falcon Pictures), cenderung menggeser fokusnya menjadi drama romantis yang megah, glossy, dan terlalu rapi. Estetika visualnya sangat sinetronis. Rumah Nyai Ontosoroh yang di dalam buku digambarkan sebagai tempat pergolakan pemikiran yang tegang dan penuh martabat, di film berubah seperti set studio yang terlalu bersih, baru dicat, dan kehilangan atmosfer historisnya. Pemilihan aktor utama yang saat itu lekat dengan citra idola remaja (Iqbaal Ramadhan) semakin mempertegas bahwa film ini memang disasar untuk pasar penonton yang mungkin belum pernah menyentuh satu halaman pun buku Pram.

Kabar bahwa durasi aslinya mencapai 5 jam lalu dipotong menjadi 3 jam sebenarnya adalah pengakuan tidak langsung akan kegagalan format. Hanung terjebak dalam ambisi untuk memasukkan semua kejadian di buku agar pembaca setia tidak protes, tapi di saat yang sama harus menjaga ritme agar penonton bioskop tidak bosan. Hasilnya? Sebuah kompromi yang tanggung. Tiga jam yang melelahkan bagi penonton awam, namun terasa dangkal dan terburu-buru bagi orang yang mendalami bukunya. Dialog-dialog filosofis Minke dan Jean Marais tentang kemanusiaan dan seni terasa seperti hafalan teks yang dilempar cepat demi mengejar durasi. Menonton Bumi Manusia versi Hanung seperti melihat Pram yang garang dan penuh amarah itu dipakaikan baju jas modern yang rapi, diberi parfum, lalu disuruh duduk manis di mal. Ketajaman kritik Pram tentang "Modernitas" yang menindas justru dilunakkan menjadi sekadar komoditas tontonan yang estetik.

Bagi orang yang tahu bagaimana susahnya lembar-lembar naskah itu diselundupkan keluar dari Buru, melihat hasilnya dikemas menjadi drama romansa remaja komersial memang memicu rasa dongkol yang luar biasa. Pram menulis untuk mengguncang kesadaran bangsa, bukan untuk membuat penonton bioskop baper di malam minggu.

Sastra kita hari ini sering kali terjebak dalam dua kutub yang sama-sama berjarak dari realitas: kalau tidak terlalu sibuk mengurusi estetika linguistik yang rumit dan elitis di ruang-ruang diskusi akademis yang eksklusif, ya jatuh ke industri pasar komersial yang isinya tulisan-tulisan instan minim riset demi mengejar tren digital atau algoritma media sosial. Karya sastra yang lahir dari rahim jaman memerlukan taruhan. Pram bertaruh nyawa dan kebebasan; Rendra bertaruh cekal; Remy bertaruh kemapanan demi idealisme; Chairil bertaruh seluruh sisa umurnya. Ketika taruhan-taruhan personal seperti itu hilang dari dada para penulis hari ini, yang tersisa memang hanyalah deretan buku-buku rapi di toko modern yang gagal menangkap getaran zaman—buku-buku yang ditulis tanpa amarah, tanpa kegelisahan, dan tanpa risiko apa pun.

Kegelisahan saya semacam ini sempat saya keluhkan kepada rekan saya, Arief Darmawan lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia yang kerap saya panggil Arief D Kiwil mirip jagoan di film One Piece namun asal Cibubur Jakarta Timur yang doyan menikmati macet Jakarta. Panggilan "Arief D Kiwil" dengan inisial "D" khas klan penyandang takdir di One Piece itu benar-benar sarkasme yang jenius untuk seorang lulusan Sastra UI asal Cibubur. Di dunia Luffy, Will of D adalah tekad para pemberontak yang siap mengguncang tatanan dunia. Sementara bagi kawan Anda, tekad "D" itu diuji setiap hari lewat cara yang paling brutal: menjinakkan kemacetan menggila di jalur Transyogi hingga Cawang. Menikmati macet Jakarta dengan latar belakang ilmu sastra itu sudah masuk level stoikisme tingkat tinggi.

Naga-naganya keluhan saya kepada seorang lulusan Sastra UI adalah alamat yang sangat tepat. Anak-anak rumpun sastra—apalagi dari almamater tempat saya pernah membeli Tetralogi Buru dulu—pasti paham betul anatomi kegelisahan ini. Mereka dididik dengan membaca naskah-naskah kanon yang berdarah-darah, lalu ketika menengok realitas hari ini, mereka harus menyaksikan sastra yang kehilangan taringnya di hadapan industri pop dan algoritma digital. Saya meyakini dengan format haqqul yaqin bahwa Arief D Kiwil pasti mengamini saat saya meratapi nasib Bumi Manusia versi Hanung atau merindukan kegilaan mbeling ala Remy Sylado. Sebagai orang yang mempelajari teks dan konteks zaman, dia tahu bahwa kemacetan Jakarta yang dia nikmati setiap hari itu sebenarnya adalah metafora yang pas untuk kondisi kebudayaan kita sekarang: padat, bising, bergerak merayap tanpa arah yang jelas, dan melelahkan bagi siapa saja yang masih memelihara akal sehat.

Kehilangan ruh yang saya rasakan itu sebenarnya adalah dampak langsung dari runtuhnya dinding pembatas antara ruang kreatif dan mesin pasar. Sastra Indonesia hari ini tidak lagi dilahirkan oleh para martir yang gelisah memikirkan arah bangsa, melainkan diproduksi oleh individu-individu yang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar tulisan mereka bisa dikonsumsi dengan cepat dan mudah. Ketika Pramoedya menulis dengan taruhan nyawa, atau Chairil Anwar mengacak-acak tatanan bahasa demi kemerdekaan individu, mereka menempatkan sastra sebagai pemantik kesadaran politik dan sosial. Sementara sekarang, sastra kerap kali turun kasta menjadi sekadar komoditas hiburan atau instrumen kurasi estetik di media sosial yang sifatnya sangat fana dan berjarak dari realitas jalanan yang bising dan macet.

Ruh itu menguap karena para penulis masa kini cenderung bermain aman di dalam zona nyaman mereka. Alih-alih melakukan riset mendalam seperti yang dilakukan Remy Sylado atau menyuarakan protes sosial yang menggelegar layaknya WS Rendra, generasi baru ini lebih sering terjebak dalam sekat-sekat drama domestik yang picisan atau eksperimen bahasa yang elitis namun hampa makna. Kritik sastra yang dulunya tajam dan mematikan kini berubah menjadi ajang saling puji yang ewuh pakewuh di ruang-ruang diskusi akademis yang eksklusif. Kita merindukan tulisan yang memiliki bobot amarah dan risiko, namun industri justru menuntut keseragaman yang ramah bagi algoritma dan tidak menyinggung siapa pun.

Pada akhirnya, apa yang tersisa di toko-toko buku modern hanyalah deretan sampul yang estetik dengan isi yang gagal menangkap getaran zaman. Sastra Indonesia yang harusnya jadi identitas bangsa sedang mengalami krisis eksistensial yang akut karena kehilangan fungsi utamanya sebagai cermin retak yang memantulkan kebobrokan realitas. Ketika sebuah karya sastra tidak lagi memicu kegelisahan, tidak lagi menantang kekuasaan, dan tidak lagi berani bertaruh apa-apa, maka ia hanyalah tumpukan kertas mati yang menunggu untuk dilupakan. Cerita kegelisahan saya kepada kawan dari Cibubur itu itu adalah sinyal peringatan yang valid bahwa tanpa adanya keberanian untuk kembali ke jalanan dan bergesekan dengan kenyataan yang pahit, sastra Indonesia akan terus berjalan di tempat, terjebak dalam kemacetan gagasannya sendiri tanpa pernah tahu ke mana arah tujuan yang ingin dicapai.

 []

 

No comments:

Post a Comment