Pram Bukan Menulis, tapi Berak
Catatan
Pinggir Warung John Koplo
Saya membayangnkan hidup jadi seorang Pramoedya Ananta Toer, saya tidak sanggup. Betapa tidak, cobaan rintangan yang beliau hadapi sungguh di luar nalar akal waras manusia pada jamannya. bagaimana dia bisa menulis di saat dunia sekitarnya tidak menghendaki atau katakanlah mengharamkan dirinya untuk menulis setitik tanda pun. Tetralogi pulau buru termasuk buku yang saya beli waktu jaman kuliah dulu di kampus Universitas Indonesia, buku asli empat jilid masih segel utuh dan langsung saya bayar tanpa nego ini itu anu terlebih dahulu. Di sampul empat novel mahakarya sastra Indonesia tersebut tertulis: SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA. Ckckck saya berdecak kagum seraya mengumpat:
Gila! Saya bilang, kok ada manusia semacam Pram yang menulis tidak wajar, yaitu membagikan kisah dalam novelnya kepada teman-temannya sesama di penjara Pulau Buru. Belum ada tercatat dalam sejarah dunia manapun tentang progres penulisan buku dengan metode semacam ini, aneh bin ajaibnya Pram mampu bercerita semau dia soal dari A sampai Z tentang ideologi, bangsa, cinta, konflik sosial dan sebagainya dengan bahasa yang efektif dan tidak mubazir serta nyaris sempurna indah. Mungkin saja jika boleh berandai-andai, kalau kelakar saya hiperbola adalah soal cara menulis model Pram ini nyaris semacam periwayatan jalur hadis melalui orang-orang (riwayat dan dirayat) seperti dalam ilmu mustalah hadis, sebuah cabang ilmu adiluhur dalam agama Islam yang membahas periwayatan isi berita dan sekaligus siapa yang memberitakan.
Sebuah ironi yang paling mengiris hati: ia dikurung di sebuah
pulau yang gersang, terisolasi dari peradaban, tanpa pena, tanpa kertas, bahkan
di bawah ancaman laras senapan yang siap menyalak kapan saja jika ia ketahuan
menorehkan sepatah kata. Logika awam kita akan berpikir, "Selesai sudah. Kreativitas mati di sini."
Namun, Pram justru membuktikan bahwa ketika hak seorang penulis dirampas sampai
ke titik nol, kepala dan suaranyalah yang mengambil alih menjadi mesin ketik
paling tangguh di dunia.
Metode bertutur lisan kepada sesama tapol (tahanan politik) di
Barak Commando Pulau Buru itu bukan sekadar cara menghabiskan waktu, melainkan
sebuah strategi bertahan hidup—sebuah pembangkangan budaya yang paling sublim.
Minke, Nyai Ontosoroh, dan seluruh pergolakan awal abad ke-20 itu ditiupkan
Pram lewat udara malam yang dingin, dihafal secara kolektif oleh kepala-kepala
yang lelah setelah seharian dipaksa kerja rodi. Pram menanamkan cerita itu di
benak kawan-kawannya, menjadikan ingatan mereka sebagai "brankas
hidup" agar jika esok hari ia mati dibunuh, kisah itu tidak ikut terkubur
tanah Buru.
Dunia sastra global memang punya sejarah panjang tentang tulisan
dari balik jeruji besi—mulai dari Don Quixote karya
Cervantes hingga surat-surat Antonio Gramsci. Namun, menulis empat seri novel
epik setebal ribuan halaman, yang lahir dari penuturan lisan tanpa catatan
kaki, tanpa perpustakaan untuk riset, lalu diselundupkan lembar demi lembar
keluar pulau terpencil dengan bantuan para penjaga yang bersimpati... itu sudah
bukan lagi sekadar proses kreatif. Itu adalah mukjizat literasi.
Ketepatan bahasa Pram yang "tidak mubazir" itu justru
lahir karena keterbatasan tersebut. Ketika setiap lembar kertas curian
taruhannya adalah nyawa, Anda tidak akan menyia-nyiakan ruang untuk kalimat
yang menye-menye atau deskripsi yang kosong. Setiap kata yang dipilih Pram
harus bertenaga, harus menusuk langsung ke jantung persoalan: tentang bagaimana
sebuah bangsa perlahan-lahan merangkak lahir dari rahim kolonialisme, tentang
cinta yang tumbuh di tengah benturan kelas, dan tentang harga diri manusia yang
menolak tunduk pada tirani.
Maka, tulisan "SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA" ditulis
besar-besar di sampul buku yang saya beli di UI dulu itu sama sekali tidak
hiperbolis. Itu adalah pernyataan fakta. Pram tidak sekadar menyumbang empat
jilid novel fiksi; ia menyumbangkan sebuah bukti konkret kepada sejarah umat
manusia bahwa ideologi dan kebebasan berpikir tidak akan pernah bisa dipenjara
oleh jeruji besi sekokoh apa pun, atau oleh rezim sekejam apa pun. Ketika Anda
memegang buku yang masih bersegel utuh itu, Anda sebenarnya sedang memegang
sepotong kemenangan mutlak dari akal budi manusia atas kebebalan kekuasaan.
Bagi kritikus atau sastrawan sealiran Idrus, gaya menulis Pram
pada masa-masa tertentu dianggap terlalu "kotor", mentah, agresif,
dan blak-blakan dalam memotret realitas sosial yang kelam. Mereka yang
mendewakan estetika bahasa yang rapi, puitis, dan borjuis melihat tulisan Pram
seperti luapan emosi yang tidak disaring—makanya muncullah sinisme vulgar tersebut.
Tapi di situlah letak ironinya. Sesuatu yang dicap
"kotoran" oleh para penentangnya justru menjadi pupuk paling subur
bagi kesadaran berbangsa kita. Pram tidak tertarik menulis keindahan yang
menipu. Dia menulis dengan amarah, keringat, dan darah. Kebalikan dari tuduhan
Idrus, tulisan Pram justru sangat presisi dan terstruktur, seperti yang bisa
kita buktikan sendiri lewat konstruksi epik Tetralogi Buru.
Saya
masih ingat waktu jaman kuliah dulu pernah dikasih Film Memoar Pram selundupan
teman saya yang konon dia nyolong dari laptop dosen saya waktu sang dosen ijin
ke toilet, di sana saya semakin kenal siapa Pram yang kata gurunya yaitu
Abdullah Idrus sang pujangga klasik sebuah kalimat tazkiah bahwa “Pram bukan menulis, tapi berak" yang menjadi salah
satu friksi paling legendaris sekaligus kasar dalam sejarah sastra kita.
Kalimat itu keluar saat tensi polemik kebudayaan di era 1950-an sampai 1960-an
lagi panas-panasnya, terutama antara kubu Lekra (tempat Pram bernaung) dan kubu
Manifes Kebudayaan (Manikebu).
Saya sangat merasakan sekaligus menikmati atmosfer khas
mahasiswa humaniora pada masanya. Menonton Pram saat itu—di era ketika
karya-karyanya masih dilarang keras oleh Kejaksaan Agung—memang butuh nekat.
Ada sensasi magis sekaligus menegangkan ketika menyaksikan sosok tua yang
ringkih, dengan pendengaran yang sudah berkurang akibat siksaan sipir, tapi
tatapan matanya masih sekeras baja saat bicara tentang kemanusiaan. Lewat
dokumenter-dokumenter selundupan seperti itu, kita disadarkan bahwa Pram bukan
cuma mitos sastra di atas kertas. Dia adalah manusia daging dan darah yang
keras kepala, yang tetap merokok kretek dengan tenang sambil mengetik, bahkan
setelah mesin ketik kesayangannya berkali-kali dihancurkan oleh sejarah.
Makanya saya agak meradang sekaligus kecewa ketika Bumi Manusia
dipentaskan di layar lebar yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Tidak sepadan
rasanya ketika sebuah mahakarya sastra yang lahir dari penderitaan
berdarah-darah di Pulau Buru diterjemahkan ke dalam racikan sulap industri
sinema pop, ada sesuatu yang terasa pincang, bahkan nyaris seperti
"pembajakan" substansi.
Tetralogi Buru, khususnya Bumi
Manusia, bukanlah sekadar cerita romansa remaja antara Minke dan
Annelies. Itu adalah sebuah manifesto politik. Itu adalah catatan sosiologis
tentang bagaimana kapitalisme global, hukum kolonial yang rasis, dan feodalisme
Jawa bersekongkol menindas manusia. Annelies bukan sekadar pacar yang cantik;
dia adalah simbol Hindia Belanda—tanah air yang molek, rapuh, dieksploitasi,
dan akhirnya dirampas paksa oleh hukum Eropa.
Namun, apa yang saya lihat di layar lebar berdurasi 3 jam itu?
Hanung, dengan segala tuntutan pasar dan produser (Falcon Pictures), cenderung menggeser
fokusnya menjadi drama romantis yang megah, glossy,
dan terlalu rapi. Estetika visualnya sangat sinetronis. Rumah Nyai Ontosoroh
yang di dalam buku digambarkan sebagai tempat pergolakan pemikiran yang tegang
dan penuh martabat, di film berubah seperti set studio yang terlalu bersih,
baru dicat, dan kehilangan atmosfer historisnya. Pemilihan aktor utama yang
saat itu lekat dengan citra idola remaja (Iqbaal Ramadhan) semakin mempertegas
bahwa film ini memang disasar untuk pasar penonton yang mungkin belum pernah
menyentuh satu halaman pun buku Pram.
Kabar bahwa durasi aslinya mencapai 5 jam lalu dipotong menjadi
3 jam sebenarnya adalah pengakuan tidak langsung akan kegagalan format. Hanung
terjebak dalam ambisi untuk memasukkan semua
kejadian di buku agar pembaca setia tidak protes, tapi di saat yang sama harus
menjaga ritme agar penonton bioskop tidak bosan. Hasilnya? Sebuah kompromi yang
tanggung. Tiga jam yang melelahkan bagi penonton awam, namun terasa dangkal dan
terburu-buru bagi orang yang mendalami bukunya. Dialog-dialog filosofis Minke
dan Jean Marais tentang kemanusiaan dan seni terasa seperti hafalan teks yang
dilempar cepat demi mengejar durasi. Menonton Bumi
Manusia versi Hanung seperti melihat Pram yang garang dan penuh
amarah itu dipakaikan baju jas modern yang rapi, diberi parfum, lalu disuruh
duduk manis di mal. Ketajaman kritik Pram tentang "Modernitas" yang
menindas justru dilunakkan menjadi sekadar komoditas tontonan yang estetik.
Bagi orang yang tahu bagaimana susahnya lembar-lembar naskah itu
diselundupkan keluar dari Buru, melihat hasilnya dikemas menjadi drama romansa
remaja komersial memang memicu rasa dongkol yang luar biasa. Pram menulis untuk
mengguncang kesadaran bangsa, bukan untuk membuat penonton bioskop baper di
malam minggu.
Sastra
kita hari ini sering kali terjebak dalam dua kutub yang sama-sama berjarak dari
realitas: kalau tidak terlalu sibuk mengurusi estetika linguistik yang rumit
dan elitis di ruang-ruang diskusi akademis yang eksklusif, ya jatuh ke industri
pasar komersial yang isinya tulisan-tulisan instan minim riset demi mengejar
tren digital atau algoritma media sosial. Karya sastra yang lahir dari rahim
jaman memerlukan taruhan. Pram bertaruh nyawa dan kebebasan; Rendra bertaruh
cekal; Remy bertaruh kemapanan demi idealisme; Chairil bertaruh seluruh sisa
umurnya. Ketika taruhan-taruhan personal seperti itu hilang dari dada para
penulis hari ini, yang tersisa memang hanyalah deretan buku-buku rapi di toko
modern yang gagal menangkap getaran zaman—buku-buku yang ditulis tanpa amarah,
tanpa kegelisahan, dan tanpa risiko apa pun.
Kegelisahan
saya semacam ini sempat saya keluhkan kepada rekan saya, Arief Darmawan lulusan
Sastra Indonesia Universitas Indonesia yang kerap saya panggil Arief D Kiwil
mirip jagoan di film One Piece namun asal Cibubur Jakarta Timur yang doyan
menikmati macet Jakarta. Panggilan "Arief D
Kiwil" dengan inisial "D" khas klan penyandang takdir di One Piece
itu benar-benar sarkasme yang jenius untuk seorang lulusan Sastra UI asal
Cibubur. Di dunia Luffy, Will of D adalah tekad para pemberontak yang siap
mengguncang tatanan dunia. Sementara bagi kawan Anda, tekad "D" itu
diuji setiap hari lewat cara yang paling brutal: menjinakkan kemacetan menggila
di jalur Transyogi hingga Cawang. Menikmati macet Jakarta dengan latar belakang
ilmu sastra itu sudah masuk level stoikisme tingkat tinggi.
Naga-naganya keluhan saya kepada seorang lulusan Sastra UI
adalah alamat yang sangat tepat. Anak-anak rumpun sastra—apalagi dari almamater
tempat saya pernah membeli Tetralogi Buru dulu—pasti paham betul anatomi kegelisahan
ini. Mereka dididik dengan membaca naskah-naskah kanon yang berdarah-darah,
lalu ketika menengok realitas hari ini, mereka harus menyaksikan sastra yang
kehilangan taringnya di hadapan industri pop dan algoritma digital. Saya
meyakini dengan format haqqul yaqin bahwa Arief D Kiwil pasti mengamini saat saya
meratapi nasib Bumi
Manusia versi Hanung atau merindukan kegilaan mbeling ala Remy Sylado. Sebagai orang yang mempelajari teks dan
konteks zaman, dia tahu bahwa kemacetan Jakarta yang dia nikmati setiap hari
itu sebenarnya adalah metafora yang pas untuk kondisi kebudayaan kita sekarang:
padat, bising, bergerak merayap tanpa arah yang jelas, dan melelahkan bagi
siapa saja yang masih memelihara akal sehat.
Kehilangan ruh yang saya rasakan itu sebenarnya adalah dampak
langsung dari runtuhnya dinding pembatas antara ruang kreatif dan mesin pasar.
Sastra Indonesia hari ini tidak lagi dilahirkan oleh para martir yang gelisah
memikirkan arah bangsa, melainkan diproduksi oleh individu-individu yang sibuk
memikirkan bagaimana caranya agar tulisan mereka bisa dikonsumsi dengan cepat
dan mudah. Ketika Pramoedya menulis dengan taruhan nyawa, atau Chairil Anwar
mengacak-acak tatanan bahasa demi kemerdekaan individu, mereka menempatkan
sastra sebagai pemantik kesadaran politik dan sosial. Sementara sekarang,
sastra kerap kali turun kasta menjadi sekadar komoditas hiburan atau instrumen
kurasi estetik di media sosial yang sifatnya sangat fana dan berjarak dari
realitas jalanan yang bising dan macet.
Ruh itu menguap karena para penulis masa kini cenderung bermain
aman di dalam zona nyaman mereka. Alih-alih melakukan riset mendalam seperti
yang dilakukan Remy Sylado atau menyuarakan protes sosial yang menggelegar
layaknya WS Rendra, generasi baru ini lebih sering terjebak dalam sekat-sekat
drama domestik yang picisan atau eksperimen bahasa yang elitis namun hampa
makna. Kritik sastra yang dulunya tajam dan mematikan kini berubah menjadi
ajang saling puji yang ewuh pakewuh di ruang-ruang diskusi akademis yang
eksklusif. Kita merindukan tulisan yang memiliki bobot amarah dan risiko, namun
industri justru menuntut keseragaman yang ramah bagi algoritma dan tidak
menyinggung siapa pun.
Pada akhirnya, apa yang tersisa di toko-toko buku modern
hanyalah deretan sampul yang estetik dengan isi yang gagal menangkap getaran
zaman. Sastra Indonesia yang harusnya jadi identitas bangsa sedang mengalami
krisis eksistensial yang akut karena kehilangan fungsi utamanya sebagai cermin
retak yang memantulkan kebobrokan realitas. Ketika sebuah karya sastra tidak
lagi memicu kegelisahan, tidak lagi menantang kekuasaan, dan tidak lagi berani
bertaruh apa-apa, maka ia hanyalah tumpukan kertas mati yang menunggu untuk
dilupakan. Cerita kegelisahan saya kepada kawan dari Cibubur itu itu adalah
sinyal peringatan yang valid bahwa tanpa adanya keberanian untuk kembali ke
jalanan dan bergesekan dengan kenyataan yang pahit, sastra Indonesia akan terus
berjalan di tempat, terjebak dalam kemacetan gagasannya sendiri tanpa pernah
tahu ke mana arah tujuan yang ingin dicapai.
[]
No comments:
Post a Comment