Bab 1: Jeda dan Batas yang Baru
Malam itu, di penghujung Februari 2015, kamar Jan hanya
diterangi lampu meja yang temaram. Di luar, gerimis tipis membuat udara Jakarta
terasa lebih dingin dari biasanya. Tangannya menggenggam ponsel, menatap ruang
obrolan yang sudah berhari-hari sepi.
“ak gak ada mksd nyingkirin km. ak gak prnh bisa :)” ketiknya malam itu.
Kosong. Tidak ada balasan.
Baru keesokan malamnya, setelah tumpukan pesan seolah menguap
begitu saja, Jan menyerah pada egonya sendiri. Ia mengetikkan kalimat pamit.
Sebuah lambaian tangan virtual, tanda bahwa ia sadar posisinya telah bergeser.
Namun, tepat saat jarum jam menunjuk angka tiga pagi di hari
berikutnya, ponselnya bergetar beruntun. Layarnya berkedip menyala. Nama
perempuan itu muncul di sana, membawa serta aroma masa lalu yang akrab
sekaligus menyakitkan.
+62 822-xxxx: "Aku masih sayang kamu. Tp aku ga bisa ngungkapin itu
sebebas dlu. Dari kmrn aku ga bisa bebas bales pesan. Maaf ya. Semoga kamu
ngerti."
Perempuan itu—yang biasa dipanggilnya Jen—mengetik dengan ritme
yang tergesa-gesa di seberang sana, ribuan kilometer jauhnya di Palembang. Nada
bicaranya menyimpan rahasia yang tak terucapkan, sebuah sekat tak kasatmata
yang kini membatasi jemarinya. Ada orang lain di dekatnya, atau mungkin ada
komitmen baru yang membuatnya tak lagi memiliki kemerdekaan penuh atas layarnya
sendiri.
+62 822-xxxx: "Mungkin masa depan bakal beda sama yang kita rencanain...
Tapi ternyata kadang kenyataan ga selalu jadi kayak yg kita pengen. Yang jelas
semoga kamu selalu bahagia dan inget aku sebagai orang yg pernah dampingin km
selama dua tahun lebih.."
Jan membaca pesan itu berulang kali. Dua tahun lebih yang mereka
lalui bukan waktu yang singkat. Itu adalah waktu yang cukup untuk menghafal
aroma parfum, memahami lekuk tawa, dan menyusun rencana masa depan yang kini
runtuh perlahan, berserakan seperti mainan balok yang tersenggol waktu.
Sambil tersenyum getir, Jan membalasnya dengan kutipan. Baginya,
sastra selalu menjadi tameng paling aman saat hati terlalu rapuh untuk
merangkai katanya sendiri.
“aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu,” tulis Jan, mengutip Sapardi Djoko Damono. Dan entah karena
dorongan apa, Jen menyalin kalimat yang sama, mengirimkannya kembali, seolah
mereka sedang mengikrarkan sebuah janji suci yang terakhir.
Bab 2: Sisa Gema yang
Belum Usai
Hari-hari berikutnya bergulir dengan canggung. Mereka mencoba
menurunkan status dari "sepasang kekasih yang terluka" menjadi
"dua teman lama yang saling tahu". Namun, ingatan tubuh dan rasa
tidak bisa berbohong dengan cepat.
Saat engsel kaki Jan kembali cedera, Jen masih menunjukkan
perhatian yang sama hangatnya. Dan ketika Jen bercerita sedang membongkar kamar
kos lamanya dan menemukan sekotak perkakas milik Jan, obrolan mereka kembali
ditarik ke pusaran kenyamanan yang lama.
"Jen, ingat parfum yang waktu itu kubeliin? Masih kamu
pakai kah?" tanya Jun suatu malam. "Ah, aku jadi kangen wangi kamu
pakai itu, sekalian campur bau badanmu."
"Masih ada. Yang ijo kan?" balas Jen, cepat.
Ingatan tentang wangi itu begitu riil, melompati sinyal seluler,
menembus jarak Jakarta-Palembang. Di saat-saat seperti itu, batas-batas yang
mereka sepakati di awal Maret seolah memudar. Mereka kembali bercanda intim,
tertawa lepas tentang hal-hal konyol—tentang hadiah apa yang paling intim,
tentang celana yoga, hingga gosip-gosip internet yang sedang hangat kala itu.
Bagi Jan, tawa Jen di seberang telepon atau lewat deretan huruf “Hahahha” adalah candu yang membuatnya menolak bangun
dari mimpi.
Bab 3: Katastrofe dan
Realitas
Namun, kenyataan selalu punya cara yang kejam untuk membangunkan
manusia.
Suatu siang di akhir Maret, Jan mencoba melangkah maju. Ia
mencoba memenuhi tuntutan keadaan—dan mungkin juga tuntutan dari perempuan lain
yang sedang mendekatinya. Namun, sebuah hubungan baru tidak bisa dibangun di
atas fondasi yang belum selesai.
“Kalo emg gitu gak apa2. Jgn maksain diri utk mikirin aku,” tulis Jen saat Jan
curhat bahwa ia masih sering memimpikannya, bahkan saat mencoba mengenal orang
baru. “Aku baca ini agak sedih gitu sih tp aku sadar ga boleh egois krn
aku ga bs kasih km apa2 lagi skrg. Cepet cari calon istri. :')”
"Kemarin aku udah coba cari istri, mentok," balas Jan
jujur, ada nada lelah yang teramat sangat dalam ketikannya. "Dia gak fair
mau nerima kamu sebagai masa laluku. Aku jenuh."
Jan mengingat kembali bagaimana ia harus menangis di depan
perempuan baru itu, menceritakan betapa dalamnya perasaannya pada Jen di masa
lalu. Hubungan baru itu hancur berantakan sebelum sempat dimulai. Sebuah
katastrofe kecil.
"Yaudah jangan bawa-bawa aku ah.. nanti kamu ga
dapet-dapet. Rahasiain aja gak apa-apa," jawab Jen dengan ikon tawa yang
terasa dipaksakan.
Di titik itu, keduanya tahu. Mereka sedang bermain-main di zona
abu-abu. Jen meminta Jun mencari kebahagiaan baru, namun di sisi lain, saat Jan
meminta Jen untuk tidak pergi, Jen hanya bisa membalas dengan, "Aku gatau mau ngomong apah.. :')".
Bab 4: Musnah Dimakan
Sejarah
Bulan Mei datang membawa kabut emosi yang lebih pekat bagi Jan.
Rasa sakit di fisiknya, kejenuhan di rumah yang ia umpamakan seperti rumah
hantu, bersenyawa dengan rasa kehilangan yang semakin nyata. Jeda antar-pesan
mereka semakin lebar. Frekuensi getaran itu mulai kehabisan daya.
Setelah sebuah mimpi di mana Jen hanya berdiri diam tanpa suara,
Jun duduk di tepi tempat tidurnya, mengetik sebuah paragraf panjang. Itu bukan
lagi sekadar pesan teks; itu adalah sebuah eulogi bagi cinta mereka.
“...Kita cuma jadi lakon sentral Rahvayana menculik kamu yang
Sinta, yang bukan milikku sejatinya. Entahlah, mungkin cinta yang pernah
bertengger kokoh megah itu kini musnah dimakan genderuwo bernama sejarah.
Kenangannya tersimpan di gulungan roll film yang kini hancur dimakan rayap...”
Jan menutupnya dengan kalimat dari Sujiwo Tejo, sebuah
kepasrahan yang teramat dalam: “Jika dengan 'jancuk' pun tak
sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat ku ketuk pintu
hatimu?”
Epilog: Kabut Asap di
Akhir Tahun
Waktu melompat jauh ke bulan Oktober 2015.
Teks puitis dan tangisan bulan Mei telah mengendap. Ketika layar
ponsel mereka kembali menyala setelah berbulan-bulan sunyi, topiknya bukan lagi
tentang cinta, parfum, atau masa lalu. Topiknya adalah tentang kabut asap hebat
yang sedang mengepung Palembang kala itu.
"Kamu nggak apa-apa kan di sana? Kabarnya asap makin
menggila," tanya Jun, kali ini dengan nada yang jauh lebih tenang,
layaknya seorang kawan lama yang tulus peduli.
"Iyaaa. Kalo pagi jarak pandang cuma berapa meter
doang," balas Jen.
Tidak ada lagi panggilan 'Babang' atau 'Jen' yang intens. Tidak
ada lagi candaan intim tentang celana dalam atau masa lalu. Yang tersisa di
antara mereka hari itu adalah jarak pandang yang terbatas oleh kabut
asap—sebagaimana masa depan mereka yang kini telah sepenuhnya buram dan
melepaskan diri satu sama lain.
Mereka tidak saling membenci. Mereka hanya membiarkan garis
linier waktu membawa mereka ke tempat yang seharusnya, menyimpan sisa-sisa
kisah dua tahun lebih itu di sudut laci ingatan yang paling aman, terbungkus
rapi bersama kenangan tiket kereta jadul dan wangi parfum yang perlahan
memudar.
"Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya."
No comments:
Post a Comment