Saturday, July 4, 2026

Jejak yang Tertinggal di Gulungan Roll Film

Bab 1: Jeda dan Batas yang Baru

Malam itu, di penghujung Februari 2015, kamar Jan hanya diterangi lampu meja yang temaram. Di luar, gerimis tipis membuat udara Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Tangannya menggenggam ponsel, menatap ruang obrolan yang sudah berhari-hari sepi.

“ak gak ada mksd nyingkirin km. ak gak prnh bisa :)” ketiknya malam itu. Kosong. Tidak ada balasan.

Baru keesokan malamnya, setelah tumpukan pesan seolah menguap begitu saja, Jan menyerah pada egonya sendiri. Ia mengetikkan kalimat pamit. Sebuah lambaian tangan virtual, tanda bahwa ia sadar posisinya telah bergeser.

Namun, tepat saat jarum jam menunjuk angka tiga pagi di hari berikutnya, ponselnya bergetar beruntun. Layarnya berkedip menyala. Nama perempuan itu muncul di sana, membawa serta aroma masa lalu yang akrab sekaligus menyakitkan.

+62 822-xxxx: "Aku masih sayang kamu. Tp aku ga bisa ngungkapin itu sebebas dlu. Dari kmrn aku ga bisa bebas bales pesan. Maaf ya. Semoga kamu ngerti."

Perempuan itu—yang biasa dipanggilnya Jen—mengetik dengan ritme yang tergesa-gesa di seberang sana, ribuan kilometer jauhnya di Palembang. Nada bicaranya menyimpan rahasia yang tak terucapkan, sebuah sekat tak kasatmata yang kini membatasi jemarinya. Ada orang lain di dekatnya, atau mungkin ada komitmen baru yang membuatnya tak lagi memiliki kemerdekaan penuh atas layarnya sendiri.

+62 822-xxxx: "Mungkin masa depan bakal beda sama yang kita rencanain... Tapi ternyata kadang kenyataan ga selalu jadi kayak yg kita pengen. Yang jelas semoga kamu selalu bahagia dan inget aku sebagai orang yg pernah dampingin km selama dua tahun lebih.."

Jan membaca pesan itu berulang kali. Dua tahun lebih yang mereka lalui bukan waktu yang singkat. Itu adalah waktu yang cukup untuk menghafal aroma parfum, memahami lekuk tawa, dan menyusun rencana masa depan yang kini runtuh perlahan, berserakan seperti mainan balok yang tersenggol waktu.

Sambil tersenyum getir, Jan membalasnya dengan kutipan. Baginya, sastra selalu menjadi tameng paling aman saat hati terlalu rapuh untuk merangkai katanya sendiri.

“aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu,” tulis Jan, mengutip Sapardi Djoko Damono. Dan entah karena dorongan apa, Jen menyalin kalimat yang sama, mengirimkannya kembali, seolah mereka sedang mengikrarkan sebuah janji suci yang terakhir.

Bab 2: Sisa Gema yang Belum Usai

Hari-hari berikutnya bergulir dengan canggung. Mereka mencoba menurunkan status dari "sepasang kekasih yang terluka" menjadi "dua teman lama yang saling tahu". Namun, ingatan tubuh dan rasa tidak bisa berbohong dengan cepat.

Saat engsel kaki Jan kembali cedera, Jen masih menunjukkan perhatian yang sama hangatnya. Dan ketika Jen bercerita sedang membongkar kamar kos lamanya dan menemukan sekotak perkakas milik Jan, obrolan mereka kembali ditarik ke pusaran kenyamanan yang lama.

"Jen, ingat parfum yang waktu itu kubeliin? Masih kamu pakai kah?" tanya Jun suatu malam. "Ah, aku jadi kangen wangi kamu pakai itu, sekalian campur bau badanmu."

"Masih ada. Yang ijo kan?" balas Jen, cepat.

Ingatan tentang wangi itu begitu riil, melompati sinyal seluler, menembus jarak Jakarta-Palembang. Di saat-saat seperti itu, batas-batas yang mereka sepakati di awal Maret seolah memudar. Mereka kembali bercanda intim, tertawa lepas tentang hal-hal konyol—tentang hadiah apa yang paling intim, tentang celana yoga, hingga gosip-gosip internet yang sedang hangat kala itu.

Bagi Jan, tawa Jen di seberang telepon atau lewat deretan huruf “Hahahha” adalah candu yang membuatnya menolak bangun dari mimpi.

Bab 3: Katastrofe dan Realitas

Namun, kenyataan selalu punya cara yang kejam untuk membangunkan manusia.

Suatu siang di akhir Maret, Jan mencoba melangkah maju. Ia mencoba memenuhi tuntutan keadaan—dan mungkin juga tuntutan dari perempuan lain yang sedang mendekatinya. Namun, sebuah hubungan baru tidak bisa dibangun di atas fondasi yang belum selesai.

“Kalo emg gitu gak apa2. Jgn maksain diri utk mikirin aku,” tulis Jen saat Jan curhat bahwa ia masih sering memimpikannya, bahkan saat mencoba mengenal orang baru. “Aku baca ini agak sedih gitu sih tp aku sadar ga boleh egois krn aku ga bs kasih km apa2 lagi skrg. Cepet cari calon istri. :')”

"Kemarin aku udah coba cari istri, mentok," balas Jan jujur, ada nada lelah yang teramat sangat dalam ketikannya. "Dia gak fair mau nerima kamu sebagai masa laluku. Aku jenuh."

Jan mengingat kembali bagaimana ia harus menangis di depan perempuan baru itu, menceritakan betapa dalamnya perasaannya pada Jen di masa lalu. Hubungan baru itu hancur berantakan sebelum sempat dimulai. Sebuah katastrofe kecil.

"Yaudah jangan bawa-bawa aku ah.. nanti kamu ga dapet-dapet. Rahasiain aja gak apa-apa," jawab Jen dengan ikon tawa yang terasa dipaksakan.

Di titik itu, keduanya tahu. Mereka sedang bermain-main di zona abu-abu. Jen meminta Jun mencari kebahagiaan baru, namun di sisi lain, saat Jan meminta Jen untuk tidak pergi, Jen hanya bisa membalas dengan, "Aku gatau mau ngomong apah.. :')".

Bab 4: Musnah Dimakan Sejarah

Bulan Mei datang membawa kabut emosi yang lebih pekat bagi Jan. Rasa sakit di fisiknya, kejenuhan di rumah yang ia umpamakan seperti rumah hantu, bersenyawa dengan rasa kehilangan yang semakin nyata. Jeda antar-pesan mereka semakin lebar. Frekuensi getaran itu mulai kehabisan daya.

Setelah sebuah mimpi di mana Jen hanya berdiri diam tanpa suara, Jun duduk di tepi tempat tidurnya, mengetik sebuah paragraf panjang. Itu bukan lagi sekadar pesan teks; itu adalah sebuah eulogi bagi cinta mereka.

“...Kita cuma jadi lakon sentral Rahvayana menculik kamu yang Sinta, yang bukan milikku sejatinya. Entahlah, mungkin cinta yang pernah bertengger kokoh megah itu kini musnah dimakan genderuwo bernama sejarah. Kenangannya tersimpan di gulungan roll film yang kini hancur dimakan rayap...”

Jan menutupnya dengan kalimat dari Sujiwo Tejo, sebuah kepasrahan yang teramat dalam: “Jika dengan 'jancuk' pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan air mata mana lagi dapat ku ketuk pintu hatimu?”

Epilog: Kabut Asap di Akhir Tahun

Waktu melompat jauh ke bulan Oktober 2015.

Teks puitis dan tangisan bulan Mei telah mengendap. Ketika layar ponsel mereka kembali menyala setelah berbulan-bulan sunyi, topiknya bukan lagi tentang cinta, parfum, atau masa lalu. Topiknya adalah tentang kabut asap hebat yang sedang mengepung Palembang kala itu.

"Kamu nggak apa-apa kan di sana? Kabarnya asap makin menggila," tanya Jun, kali ini dengan nada yang jauh lebih tenang, layaknya seorang kawan lama yang tulus peduli.

"Iyaaa. Kalo pagi jarak pandang cuma berapa meter doang," balas Jen.

Tidak ada lagi panggilan 'Babang' atau 'Jen' yang intens. Tidak ada lagi candaan intim tentang celana dalam atau masa lalu. Yang tersisa di antara mereka hari itu adalah jarak pandang yang terbatas oleh kabut asap—sebagaimana masa depan mereka yang kini telah sepenuhnya buram dan melepaskan diri satu sama lain.

Mereka tidak saling membenci. Mereka hanya membiarkan garis linier waktu membawa mereka ke tempat yang seharusnya, menyimpan sisa-sisa kisah dua tahun lebih itu di sudut laci ingatan yang paling aman, terbungkus rapi bersama kenangan tiket kereta jadul dan wangi parfum yang perlahan memudar.

 

"Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya."

No comments:

Post a Comment