Rahmayanti: Langit
dari Gugusan Awan
(Sebuah Memoar Novelit Masa SMA)
oleh RM Kencrot
------------
Hidayah adalah anugerah terindah. Tidak ada
kesuksesan duniawi yang bisa menyamai manisnya hidayah. Sejauh apa pun
seseorang melangkah, jika akhirnya ia kembali ke jalan yang lurus, maka itulah
kemenangan yang sesungguhnya.
Matahari sore di gerbang SMA Negeri 4 Bekasi perlahan meredup,
menyisakan bayangan panjang di atas aspal yang mulai mendingin. Miko, dengan
jaket jeans yang sengaja ia biarkan terbuka lebar—menampilkan kaus oblong
bertuliskan band rock favoritnya—kini hanya bisa menatap nanar ke arah tustel
Kodak Pocket di tangannya. Benda tua itu seperti sengaja mengerjai semangatnya;
tuas penggulung filmnya macet total, persis saat Dwi melintas di hadapannya
tadi dengan gaya anggun yang khas.
"Sialan memang benda antik ini," gumam Miko kesal,
mencoba menepuk-nepuk badan kamera itu dengan telapak tangannya.
Rama Hardjanto, pemilik tustel itu yang baru saja menyusul,
hanya bisa meringis melihat ulah temannya. "Sudah kubilang, Mik, itu
barang sensitif. Jangan cuma bisa narik tuas doang, harus pakai perasaan."
Miko tidak menggubris. Pikirannya sudah melayang jauh. Ia
kembali terbayang bagaimana Dwi berjalan keluar kelas tadi. Baginya, setiap
gerak-gerik Dwi adalah puisi. Ia teringat kembali analogi yang sering ia
jadikan bahan obrolan dengan teman-teman tongkrongannya: tentang betis Dwi yang
baginya memiliki estetika tersendiri—subur, berisi, menyerupai talas Bogor yang
tampak kokoh namun manis.
"Kau tahu, Ram," Miko tiba-tiba angkat bicara dengan
nada sok filosofis, meski napasnya masih terengah karena mengejar Dwi tadi.
"Dulu Julius Caesar itu jatuh hati pada Cleopatra bukan karena dia ingin
berpolitik. Konon, ada tarikan magis dari proporsi kaki dan betis sang ratu
yang membuat sang kaisar bertekuk lutut. Itu adalah seni apresiasi, bukan
sekadar syahwat."
Rama hanya bisa memutar bola mata, sudah terlalu sering
mendengar teori aneh Miko. "Itu mah otakmu saja yang geser, Mik. Caesar
itu pusing mikirin Mesir, lah kamu pusing mikirin anak orang yang mungkin
bahkan tidak tahu kamu ada di dunia ini."
Miko tersenyum kecut. Ia tahu betul reputasinya sebagai anggota
Rohis yang "gaul" sering kali membuat orang bingung. Baginya, agama
adalah landasan, namun kekaguman pada keindahan—seperti wajah Dwi yang lembut
atau cara gadis itu merapikan kerudungnya—adalah bentuk syukur atas ciptaan
Tuhan yang paling estetis.
Tiba-tiba, dari arah parkiran sekolah, Dwi muncul kembali. Ia
berjalan santai sambil menggendong tas sekolahnya, menyapa beberapa teman
sejawatnya. Miko yang tadinya ingin membuang tustel macet itu ke tempat sampah,
mendadak kaku. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti drum bass dalam lagu
metal yang sering ia dengarkan.
"Ini kesempatan kedua," bisik Miko pada dirinya
sendiri. Kali ini ia tidak butuh kamera. Ia hanya perlu keberanian untuk
menyapa, meski ia tahu, mendekati Dwi yang merupakan kembang sekolah bukanlah
perkara mudah seperti memutar tuas kamera Kodak yang macet itu.
Ia melangkah maju, membenahi posisi tasnya, dan dengan sisa
kepercayaan diri yang ia miliki, ia mulai menyusun kalimat pembuka. Namun,
sebuah mobil jemputan berhenti tepat di depan Dwi, memutus jarak yang sedari
tadi Miko jaga dengan susah payah. Miko terdiam mematung di dekat area parkir
motor, menyaksikan pintu mobil Avanza berwarna silver itu tertutup rapat. Dwi
masuk ke dalamnya, meninggalkan aroma wangi sabun mandi yang samar tersapu
angin sore di Jalan Cemara Permai. Harapannya untuk sekadar menyapa pupus
sudah. Ia hanya bisa menatap mobil itu perlahan menjauh, membelah keramaian
lalu lintas yang mulai padat di kawasan tersebut menuju arah gerbang perumahan.
"Sudahlah, Mik. Besok masih ada waktu. Mending kita cari
gorengan dulu di depan BCP, perutku sudah konser dari tadi," ajak Rama
sambil menepuk bahu Miko, mencoba mengalihkan perhatian sahabatnya dari
kekecewaan yang kentara.
Miko menghela napas panjang, memasukkan tustel Kodak yang tak
berguna itu ke dalam tas selempangnya. Mereka kemudian menaiki motor Yamaha
RX-King milik Miko, suaranya menderu memecah kesunyian sore di sekitar SMAN 4
Bekasi. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Bekasi, pikiran Miko masih saja
tertuju pada sosok Dwi. Ia membayangkan seandainya ia bisa mengajak gadis itu
mampir sejenak sekadar menikmati suasana sore di Alun-alun Kota Bekasi, atau
mungkin duduk santai di salah satu kedai kopi di bilangan Summarecon yang
sedang hits di kalangan anak muda.
Namun, realitas sering kali tak seindah rencana. Di atas jok
motor yang bergetar hebat, Miko hanya bisa merenung. Menjadi remaja yang
terjebak di antara idealisme Rohis dan hasrat masa muda yang meledak-ledak
memang bukan perkara mudah. Ia sadar, untuk menaklukkan hati Dwi, ia tidak bisa
hanya mengandalkan teori sejarah tentang Cleopatra atau sekadar keberuntungan
kamera tua. Perlu strategi yang lebih matang, mungkin dimulai dari memperbaiki
penampilan saat pengajian mingguan nanti, agar Dwi—yang sering ia lihat ikut
kegiatan serupa—bisa melihat sisi lain dari dirinya yang tak hanya sekadar lelaki
gaul penggemar musik cadas.
Miko sebenarnya sudah lama menyimpan informasi itu di balik
memori otaknya. Ia tahu betul, setiap Selasa dan Kamis sore, Dwi tidak langsung
pulang, melainkan berganti seragam putih-putih dengan sabuk yang melilit
pinggangnya di aula serbaguna sekolah. Itulah mengapa Miko begitu terobsesi
dengan postur kaki Dwi; ia sering mencuri pandang saat gadis itu melakukan
gerakan ap chagi atau tendangan depan yang terlihat begitu
kokoh sekaligus luwes.
"Pantas saja, Ram," gumam Miko tiba-tiba saat mereka
sedang melintas di depan gerbang Summarecon Mal Bekasi. "Dwi itu anak
Taekwondo. Logika betis talas Bogor-ku benar-benar terbukti secara anatomis.
Itu bukan sekadar kaki, itu hasil tempaan latihan fisik ribuan kali. Makanya
ototnya terbentuk dengan proporsi yang sempurna, seperti definisi atletis yang
sesungguhnya."
Rama hanya bisa menggelengkan kepala sembari membonceng di
belakang. "Sudah, Mik, stop bahas betis. Kamu itu anggota Rohis, bukannya
malah jadi atlet pengintai. Kalau anak-anak Rohis tahu kamu mengamati detail
kaki siswi lain sampai sedetail itu, bisa-bisa kamu disuruh mimpin kultum tujuh
hari tujuh malam sebagai hukuman."
Miko tergelak, tawanya tertutup deru knalpot motornya. Baginya,
ketertarikan ini justru membuatnya lebih semangat untuk mendalami
Taekwondo—atau setidaknya, lebih sering lewat di depan aula saat latihan
berlangsung. Ia mulai membayangkan sebuah skenario klasik: suatu hari Dwi akan
mengalami cidera ringan setelah latihan, dan Miko—sebagai sosok yang sigap dan religius—akan
datang menawarkan bantuan dengan kotak P3K yang selalu ia siapkan di dalam
tasnya.
Tentu saja, itu hanyalah fantasi remaja yang sedang dimabuk
asmara. Namun, di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Bekasi malam itu, Miko merasa
punya tujuan baru. Ia tidak akan lagi mengandalkan tustel Kodak yang macet.
Mulai besok, ia akan lebih memperhatikan jadwal latihan Taekwondo Dwi, mungkin
dengan alasan ingin mendaftar sebagai anggota baru—atau setidaknya, menjadi
penonton yang paling setia di pinggir lapangan, sambil membawa botol air
mineral dingin yang ia beli di minimarket dekat sekolah. Kabar tentang tragedi
tustel Kodak milik Rama yang macet saat ingin membidik Dwi akhirnya menjadi
bumbu obrolan di studio musik sewaan di daerah Rawalumbu. Di sana, Miko berkumpul
dengan sahabat-sahabat karibnya: Albert yang memegang posisi gitar, Andi pada
bas, dan Dika yang akrab dipanggil Kodik, sang penabuh drum.
"Gila, itu kamera beneran shutter-nya nggak
mau ngebuka sama sekali, Mik?" tanya Kodik sambil memutar stik drumnya
dengan gaya yang berlebihan.
"Sumpah, Dik. Momennya pas banget, golden hour di depan gerbang, Dwi baru keluar, dan
tiba-tiba tuasnya lock," jawab Miko sambil
mendesah panjang, menyandarkan gitar listriknya ke amp.
Albert, yang sedari tadi sibuk menyetem gitar, tiba-tiba tertawa
terbahak-bahak. "Ya sudah, anggap saja itu takdir. Kita nggak jadi dapat
foto Dwi, tapi kita dapat nama band yang ngena banget sama
nasib kita."
"Betul!" timpal Andi yang duduk di lantai sambil
melilit kabel jack. "Nama band kita: Snapshot.
Filosofinya dalam banget: menangkap momen yang gagal ditangkap. Sesuai dengan
tustel Rama yang macet itu, momennya keburu lewat sebelum kita bisa
mengabadikannya."
Miko yang tadinya masih merasa kesal, perlahan tersenyum tipis.
Nama "Snapshot" terasa pas di telinganya. Bagi mereka yang mengusung
genre progressive rock dengan sentuhan distorsi cadas, nama
itu terdengar cukup filosofis.
"Tapi ingat, ya," Miko menatap teman-temannya serius
meski nadanya bercanda. "Nama Snapshot ini lahir dari pengorbanan harga
diri gue yang gagal memotret pujaan hati. Jadi, kalau nanti kita benar-benar
manggung di pensi SMA 4, gue mau kita bawain lagu yang mood-nya mewakili perjuangan seorang pria yang gagal nge-shoot targetnya."
"Siap, Bos! Asal jangan lagu ballad cinta-cintaan
yang cengeng," sahut Kodik sambil memukul simbalnya sekali—cring!—sebagai tanda setuju.
Di dalam studio yang pengap dan berbau keringat itu, Miko
merasakan semangatnya kembali membara. Meski tustel Kodak Rama gagal
menjalankan tugasnya, setidaknya ia memiliki Snapshot. Dan siapa tahu, lewat
dentuman musik mereka nanti, Dwi—yang juga atlet Taekwondo dengan betis atletis
impiannya itu—akan melirik ke panggung dan menyadari bahwa di balik jaket jeans
dan status anggota Rohis yang "gaul", ada seorang Miko yang punya
dedikasi sebesar teknik tendangan dwi chagi-nya.
Rasa gandrung yang menyesakkan dada itu akhirnya bermuara pada
satu komposisi megah di studio Rawalumbu. Miko, dengan jemari yang lincah
menari di atas fretboard gitar listriknya, berusaha
menerjemahkan perasaan yang tak tersampaikan itu ke dalam melodi. Ia terobsesi
dengan teknik shredding John Petrucci yang rumit namun melankolis,
sebuah gaya yang sangat kental dengan pengaruh Dream Theater.
"Dengerin ini, riff pembukanya gue
bikin agak ganjil, 7/8 time signature, biar kerasa
kayak langkah kaki yang ragu-ragu mau nyapa," ujar Miko pada teman-teman
bandnya.
Albert, Andi, dan Kodik terdiam menyimak. Komposisi itu diberi
judul "I am Cloud, You are Sky". Sebuah metafora
tentang jarak yang mustahil ditembus; awan yang hanya bisa melayang rendah di
bawah luasnya langit yang tak terjangkau. Bagi Miko, Dwi adalah langit—luas,
tinggi, dan memiliki keanggunan yang kokoh seperti sikap atlet
Taekwondo-nya—sementara dirinya hanyalah awan yang sering kali tidak menentu
bentuknya.
"Gila, Mik. Bridge-nya kerasa
banget pengaruh Images and Words-nya. Ambient tapi tetep beringas di bagian chorus," puji Andi setelah mereka selesai
memainkan take pertama.
Miko tidak membalas pujian itu dengan kata-kata. Ia justru
memejamkan mata, membayangkan melodi gitar itu mengalun di udara, mencapai
telinga Dwi saat gadis itu sedang melepas penat sepulang latihan fisik. Ia
tidak peduli jika anak-anak lain menganggap seleranya aneh atau terlalu rumit
untuk ukuran anak SMA di Bekasi tahun itu.
"Kodik, pas bagian interlude, gue mau
drum lo mainin polyrhythm. Gue pengen suasananya
kayak detak jantung yang makin kenceng pas gue ngeliat dia di kantin
sekolah," instruksi Miko dengan mata berbinar.
Di sudut studio yang dindingnya dilapisi peredam suara dari
bekas karton telur itu, "I am Cloud, You are Sky" menjadi manifestasi
Miko yang paling jujur. Ia tidak butuh kamera Kodak yang macet untuk
mengabadikan Dwi. Melalui komposisi berdurasi delapan menit yang sarat dengan keyboard atmosferik dan distorsi gitar yang membelah
ruang, ia sudah mengukir citra sang pujaan hati ke dalam sejarah Snapshot.
"Besok di sekolah," ucap Miko sambil meletakkan
gitarnya di stand, "gue bakal muterin lagu ini pakai walkman gue pas lagi istirahat di dekat ruang latihan
Taekwondo. Gue harap, lewat dentuman instrumen ini, Dwi bisa ngerasa kalau ada
'awan' yang lagi berusaha jadi bagian dari 'langit'-nya."
Kodik tertawa sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk
kumal. "Lo itu bukan cuma anggota Rohis, Mik. Lo itu pujangga kesepian
yang lagi nyasar di jalur progresif rock."
Miko hanya tersenyum tipis. Di pikirannya, lagu itu adalah surat
cinta terpanjang dan terumit yang pernah ia tulis, sebuah tribut untuk gadis
dengan betis talas Bogor yang kini telah menjadi muse utama bagi band Snapshot.
Suasana studio di Rawalumbu mendadak berubah drastis dari yang
tadinya penuh nuansa teknikal progresif rock ala
Dream Theater, kini menjadi arena latihan yang cukup mengocok perut. Target
mereka sudah bulat: panggung Pentas Seni (Pensi) SMAN 4 Bekasi tahun 2004. Miko
sadar, membawakan "I am Cloud, You are Sky" di depan massa yang lebih
suka musik populer mungkin terlalu berisiko, jadi mereka sepakat menyisipkan
lagu The Beatles, "I Want to Hold Your Hand",
sebagai senjata pembuka.
"Oeban, lo masuk di chorus kedua ya,
suaranya harus melengking kayak John Lennon pas lagi
semangat-semangatnya," seru Miko kepada Maradhika, vokalis cabutan yang
baru saja bergabung. Oeban, dengan rambut gondrong yang dibelah tengah, mengangguk
antusias sambil memegang mikrofon yang kabelnya sering tersangkut di kaki
kursi.
Latihan berjalan intensif. Mereka bukan hanya melatih chord gitar dan ketukan drum, tetapi juga koreografi.
Miko sangat perfeksionis soal satu hal: salam penutup ala Fab Four.
"Ingat, pas ketukan terakhir cymbals Kodik, kita
semua harus nunduk barengan. Symmetrical bow!
Harus kompak, jangan ada yang duluan atau telat," perintah Miko.
Mereka pun berlatih berkali-kali. Kodik memukul snare dengan semangat, Albert memetik gitar dengan gaya
ala George Harrison, dan Oeban mencoba meniru cengkok vokal khas era 60-an.
Setelah beberapa kali percobaan yang berantakan—di mana Miko malah menabrak
bahu Andi karena terlalu semangat menunduk—akhirnya mereka berhasil menciptakan
ritme yang pas.
"Nah, gitu dong!" seru Oeban sambil menyeka keringat
di dahinya. "Kalau kayak gini caranya, gue yakin Dwi bakal merhatiin
panggung. Lagian, lagu ini 'kan to the point banget.
I want to hold your hand, Mik. Cocok banget buat lo
yang dari kemarin cuma bisa merhatiin betisnya dari kejauhan."
Miko tersenyum lebar. Ia merasa persiapan ini jauh lebih
menjanjikan daripada insiden tustel yang macet. Di sudut pikirannya, ia sudah
membayangkan hari audisi nanti: ia berdiri di tengah lapangan, mengenakan kemeja
rapi yang dipadukan dengan jaket denim, lalu di akhir lagu, ia akan memberikan
tatapan sedikit melirik ke arah sudut lapangan tempat Dwi biasa nongkrong,
sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam bersama teman-temannya di Snapshot.
"Oke, sekali lagi. Dari bridge," ujar
Miko sambil memasang strap gitarnya kembali.
Studio itu kembali bergemuruh dengan suara jangle-pop yang ceria. Di tahun 2004 itu, Snapshot
bukan sekadar band remaja tanggung; mereka adalah sekumpulan anak muda yang
sedang mencoba memadukan idealisme musik cadas dengan romantika masa SMA yang
lugu, berharap dentuman musik mereka bisa meruntuhkan tembok dingin di antara
Miko dan sang atlet Taekwondo pujaan hatinya. Miko menghentikan petikan
gitarnya secara tiba-tiba, menciptakan bunyi dissonant yang
memekakkan telinga di studio. Ia menatap teman-temannya satu per satu dengan
wajah yang mendadak serius, nyaris pucat.
"Eh, tunggu dulu," gumam Miko sambil meletakkan
gitarnya di atas stand dengan gerakan ragu.
"Kita ini mau audisi Pensi, bukan mau latihan di garasi rumah Kodik.
Ingat, juri audisinya nanti bukan cuma guru kesenian, tapi ada perwakilan OSIS
dan beberapa senior yang perfeksionis."
Oeban, yang baru saja selesai membenahi setting-an mikrofonnya, mengerutkan kening.
"Kenapa, Mik? Tiba-tiba jadi down gini?"
"Bukan down, tapi sadar
diri," sahut Miko sambil menyambar botol air mineral. "Lo tahu
sendiri siapa yang biasanya mondar-mandir di koridor SMA kita belakangan ini?
Bang Ali Zaenal. Itu tuh, model majalah Aneka yang lagi naik
daun. Dia kan sering main ke sekolah kita karena ada urusan proyek iklan atau
apa lah. Kalau kita tampil asal-asalan, terus dia lagi duduk di bangku juri
sambil pegang majalahnya sendiri, bisa-bisa kita jadi bahan ketawaan satu
sekolah."
Nama Ali Zaenal di tahun 2004 adalah kutukan sekaligus berkah
bagi remaja laki-laki di Bekasi. Ia adalah standar ketampanan mutlak, wajah
yang menghiasi sampul majalah remaja di hampir setiap kios koran, dan memiliki
gaya yang sangat cool. Bagi Miko, yang merasa
dirinya cuma anak Rohis "gaul" dengan selera musik prog-rock yang
rumit, eksistensi Ali Zaenal adalah ancaman nyata bagi harga dirinya di depan
Dwi.
"Gila lo, Mik," potong Andi sambil tertawa kecil.
"Lo mau battle musik sama Ali Zaenal? Dia itu model, bukan
gitaris. Lagian, dia di sini cuma tamu. Nggak mungkin dia ikut nilai audisi
kita."
"Justru itu masalahnya!" balas Miko dengan nada
frustrasi. "Justru karena dia tamu kehormatan, dia bakal jadi pusat
perhatian semua siswi. Bayangin kalau pas kita lagi bow
ala The Beatles, eh di barisan depan malah ada sosok Ali Zaenal yang lagi
senyum tipis—bisa-bisa perhatian Dwi langsung teralih. Gue nggak mau Snapshot
cuma jadi latar belakang pas Dwi lagi ngeliatin pesona Bang Ali."
Kodik, yang biasanya santai, kali ini ikut mengangguk setuju.
"Ada benernya juga. Kita harus tampil all-out. Oeban, lo
harus lebih ekspresif pas nyanyi. Jangan cuma berdiri kayak tiang listrik.
Kasih feel Beatles yang charming itu."
Oeban mendengus, lalu mulai berpose ala boyband tahun 60-an. "Gini maksud lo? Yeah, yeah, yeah!"
Miko menatap teman-temannya, lalu menghela napas panjang. Ia
mengambil gitarnya lagi, memastikan tuner-nya akurat.
Persaingan di SMA Negeri 4 Bekasi tahun 2004 ini ternyata lebih berat dari yang
ia bayangkan. Bukan hanya soal menaklukkan hati gadis atletis dengan teknik Taekwondo-nya, tapi juga bertahan dari bayang-bayang
pesona pria-pria sampul majalah.
"Oke, sekali lagi dari awal," perintah Miko dengan
tatapan tajam. "Kali ini bayangin juri itu bukan guru, tapi Bang Ali
Zaenal sendiri. Kalau kita bisa memukau dia, otomatis kita bisa memukau seluruh
SMAN 4 Bekasi. Snapshot, one, two, three, four!"
Studio kembali bergetar, namun kali ini dengan intensitas yang
lebih tinggi. Miko menekan chord lagu The
Beatles itu dengan tenaga ekstra, berharap irama I Want to Hold Your Hand
bisa menjadi mantra yang cukup kuat untuk mengalahkan pesona model majalah Aneka dan menarik perhatian Dwi di antara kerumunan
penonton nanti.
Hari audisi itu akhirnya tiba. Halaman SMA Negeri 4 Bekasi sudah
disulap menjadi area yang riuh rendah. Panggung kayu yang berdiri di lapangan
basket tampak kokoh, meski catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Di meja
juri, duduk beberapa guru senior dan—betul saja—Ali Zaenal duduk dengan santai
mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung, membuat siswi-siswi yang
berlalu lalang sesekali berhenti hanya untuk mencuri pandang.
Miko, di balik panggung, sibuk mengusap keringat dingin di
telapak tangannya. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak yang dipadukan dengan
rompi—sedikit memaksa agar terlihat retro ala The Beatles.
"Mik, tenang, tarik napas," bisik Kodik sambil
menyesuaikan posisi drumnya.
"Gue nggak tenang, Kod. Lo lihat itu? Bang Ali lagi baca
skrip di meja juri, auranya kebawa banget. Gue ngerasa kita kayak remah-remah
rengginang dibanding dia," bisik Miko gusar.
Oeban maju ke depan, membetulkan letak rambutnya yang ia sisir
belah tengah dengan minyak rambut yang agak berlebihan. "Dwi ada di pojok
kiri, lagi ngobrol sama temen Taekwondo-nya. Dia nggak liat ke arah meja juri,
Mik. Dia ngelihat ke arah panggung."
Mendengar itu, jantung Miko berdegup dua kali lebih kencang. Ia
segera memasang gitar Gibson-nya, memberikan kode kepada Albert, Andi, dan
Oeban. Saat mereka naik ke atas panggung, suasana mendadak senyap. Miko menatap
ke arah kerumunan, dan matanya terkunci pada Dwi yang berdiri dengan kaki yang
kokoh—posisi berdirinya masih menyisakan kebiasaan atlet Taekwondo yang
disiplin.
"Satu, dua, tiga, empat!" teriak Miko.
Jreng!
Petikan gitar I Want to Hold Your Hand
mengalun ceria. Oeban melompat kecil ke mikrofon, suaranya melengking pas di
nada tinggi. Miko memainkan bagian rhythm-nya dengan
penuh penghayatan, menatap ke arah Dwi setiap kali ia mendapat bagian vokal
latar. Ali Zaenal, yang awalnya tampak bosan, mulai mengetukkan jarinya ke
meja, terkesan dengan ketepatan tempo Snapshot.
Tiba di bagian akhir lagu, saat tempo dipercepat menuju crescendo penutup, Miko memberikan kode dengan kedipan
mata yang tajam. “I want to hold your haaaaaandddd”
Duar!
Kodik memukul crash cymbal dengan
keras sebagai tanda lagu usai. Tanpa aba-aba, Miko, Oeban, Albert, Andi, dan
Kodik serempak membungkuk dalam-dalam, membentuk sudut sempurna 90 derajat ke
arah penonton. Itu adalah momen yang dramatis; rambut mereka jatuh menutupi
wajah, dan studio kecil di Rawalumbu tadi seolah pindah ke tengah lapangan SMAN
4 Bekasi.
Setelah bangkit dari bungkukan, Miko langsung mencari sosok Dwi.
Ia melihat gadis itu sedikit tertegun, lalu bibirnya tersenyum tipis—sebuah
senyuman yang jauh lebih berharga daripada semua majalah Aneka yang ada di seluruh Indonesia. Ali Zaenal pun
bertepuk tangan, meski tipis, itu sudah cukup bagi Miko untuk merasa bahwa hari
ini, Snapshot benar-benar telah memotret momen yang tepat.
Rencana besar tinggal rencana, manusia hanya bisa menakar,
tetapi Tuhan yang memegang kendali atas jalan cerita. Seminggu setelah euforia
audisi pensi yang sukses besar itu, Miko justru tumbang. Tubuhnya yang digempur
habis-habisan oleh jadwal latihan band Snapshot yang spartan, rapat-rapat Rohis
yang padat, plus hobi begadang memikirkan strategi mendekati Dwi, akhirnya
menyerah. Vonis dokter di RSUD Bekasi sangat jelas: Miko terkena tifus dan
harus menjalani rawat inap total.
Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, dengan selang infus
yang menusuk pergelangan tangannya, Miko hanya bisa menatap langit-langit kamar
bangsal. Kamar itu berbau karbol yang menyengat. Miko sempat merenung dan
berdoa dalam hati, meminta agar diberikan satu saja kesempatan untuk bisa
mengobrol santai dengan Dwi, tanpa gangguan kamera macet atau bayang-bayang
pesona Bang Ali Zaenal. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau Tuhan akan mengabulkan
doanya lewat jalur sekujur tubuh lemas dan separuh kesadaran yang melayang.
Gong dari segala kejutan itu terjadi pada Sabtu sore. Pintu
kamar bangsal RSUD Bekasi perlahan terketuk.
Miko yang sedang setengah tertidur perlahan membuka mata yang
masih terasa berat. Pandangannya yang semula kabur mendadak langsung jernih
seketika saat melihat rombongan yang masuk. Di barisan depan ada Albert, Andi,
Kodik dengan tampang cengengesan mereka, dan Oeban yang membawa satu sisir
pisang ambon. Namun, tepat di belakang mereka, berdiri seorang gadis dengan
jaket olahraga Taekwondo-nya yang khas, memegang bungkusan buah. Itu Dwi.
Jantung Miko yang tadinya berdegup lemah karena efek obat,
mendadak berpacu seperti ketukan drum 7/8 time signature
lagu instrumentalnya. Ia mendadak panik dengan penampilannya yang kucel dan
hanya mengenakan kaus oblong putih tipis.
Namun, alih-alih langsung menghampiri ranjang Miko, rombongan
itu tertahan di dekat sofa kecil di sudut kamar. Di sana, Mama Miko yang sedang
merapikan tas pakaian langsung berdiri menyambut mereka dengan ramah.
"Eh, teman-temannya Miko ya? Silakan masuk, masuk,"
ujar Mama Miko hangat.
Kodik dan yang lain segera menyalami Mama Miko dengan sopan.
Saat giliran Dwi maju untuk mencium tangan, Mama Miko tampak terpaku sejenak,
memperhatikan paras cantik dan pembawaan santun gadis itu.
"Ini... temannya Miko juga?" tanya Mama Miko, matanya
berbinar penuh selidik ke arah Dwi.
Dwi tersenyum manis, senyuman yang biasanya Miko intip dari jauh
di lapangan sekolah. "Iya, Tante. Saya Dwi, temannya Miko di
sekolah."
"Oh, Dwi..." Mama Miko manggut-manggut dengan senyum
yang semakin lebar. "Miko sering cerita soal anak Taekwondo yang pintar...
eh," Mama Miko langsung memotong kalimatnya sendiri sambil melirik ke arah
Miko yang di atas kasur sudah menepuk dahinya sendiri dengan tangan yang bebas
infus, pasrah karena rahasianya agak bocor.
"Miko itu kalau di rumah aslinya jarang sakit, Tante. Cuma
kemarin pas latihan band Snapshot buat pensi emang dia yang paling ngoyo
sendiri," timpal Albert, mencoba menyelamatkan situasi sambil menyenggol
lengan Kodik.
Dwi mendengarkan dengan saksama, lalu menatap Mama Miko dengan
pandangan tulus. "Iya Tante, kemarin pas audisi pensi, penampilan Miko
sama Snapshot bagus banget kok. Sayang banget kalau Miko sampai nggak bisa ikut
tampil di acara utamanya nanti. Makanya kami semua ke sini mau doain supaya
Miko cepat sembuh."
Mendengar ucapan Dwi yang begitu perhatian dan obrolan hangatnya
dengan sang Mama, Miko yang terbaring kaku di kasur merasa hatinya mendadak
hangat, mengalahkan rasa ngilu akibat jarum infus. Tuhan ternyata punya selera
humor yang luar biasa; Miko harus dibuat tidak berdaya terlebih dahulu di RSUD
Bekasi, hanya agar ia bisa melihat pemandangan paling indah dalam hidupnya:
gadis pujaan hatinya sedang mengobrol akrab dengan ibunya sendiri, tepat di
depan matanya. Setelah teman-temannya yang lain sibuk menaruh buah-buahan di
meja nakas dan bercanda dengan suara agak berisik, Dwi perlahan melangkah
mendekati ranjang Miko. Mama Miko, yang seolah mengerti situasi, memberikan
isyarat dengan senyum penuh arti sebelum mengajak Albert dan Kodik keluar
sebentar ke kantin untuk mencari minum.
Kini, hanya tersisa mereka berdua. Miko merasa lidahnya kelu,
seperti gitar yang senarnya putus saat hendak mencapai crescendo.
"Ternyata kalau lagi sakit, galaknya hilang ya, Mik?"
Dwi membuka percakapan dengan kekehan kecil. Ia menarik kursi kayu di samping
ranjang, lalu duduk dengan posisi punggung yang tegak—refleks seorang atlet
yang selalu menjaga postur.
Miko tersenyum kecut, mencoba membenahi posisi bantalnya agar
tidak terlihat terlalu menyedihkan. "Gue nggak galak, cuma...
perfeksionis. Lo tahu sendirilah, Snapshot nggak bakal bisa tampil oke kalau
latihannya nggak disiplin."
"Iya, gue perhatiin kok," sahut Dwi. Ia kemudian
menunduk sebentar, memainkan ujung jaket Taekwondo-nya. "Pas kalian
latihan I Want to Hold Your Hand, gue sering lewat depan
studio. Suara gitar lo... beda. Kerasa banget ambisinya."
Miko terkesiap. "Lo denger?"
Dwi mengangguk mantap. "Termasuk lagu instrumental yang
judulnya aneh itu. I am Cloud, You are Sky, kan?"
Wajah Miko memerah, bukan karena demam tifusnya, melainkan
karena malu yang luar biasa. "Lo denger itu? Duh, itu cuma... ya, cuma
pelampiasan kreatif aja."
"Gue suka melodi bridge-nya,"
sela Dwi tenang. "Rasanya kayak... orang yang lagi berusaha keras buat
menjangkau sesuatu yang tinggi, tapi dia tahu dia harus pelan-pelan supaya
nggak jatuh."
Dwi kemudian menatap lurus ke arah kaki Miko yang tertutup
selimut rumah sakit. "Mama lo cerita, lo sampai kurang tidur gara-gara
mikirin pensi. Lain kali, kalau mau latihan fisik atau mau belajar teknik baru,
mending bareng-bareng. Gue bisa ajarin beberapa teknik stretching biar otot nggak gampang kaku dan stamina lo
lebih stabil. Biar nggak gampang tumbang kayak gini."
Miko terdiam. Kalimat itu bukan sekadar tawaran basa-basi bagi
Miko; itu adalah kunci jawaban dari semua doa yang ia langitkan. Ia baru
menyadari bahwa untuk mendapatkan perhatian seorang "langit", ia
tidak perlu menjadi awan yang terbang terlalu tinggi sampai terbakar matahari.
Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, berani jujur pada kelemahannya, dan
ternyata, sang "langit" pun punya caranya sendiri untuk turun
menjemput.
"Gue bakal pegang omongan lo itu," kata Miko pelan,
mencoba memberanikan diri menatap mata Dwi. "Begitu gue sembuh dan keluar
dari sini, lo harus beneran jadi pelatih stretching gue.
Tapi, jangan kasih latihan Taekwondo yang bikin gue pingsan lagi ya?"
Dwi tertawa renyah, suara yang jauh lebih merdu daripada
distorsi gitar mana pun yang pernah dimainkan Miko. "Deal. Sekarang,
istirahatlah. Supaya betis lo—maksud gue, supaya stamina lo—cepet balik lagi
buat latihan show pensi."
Dwi menyebut kata "betis" dengan nada menggoda, seolah
ia tahu betul selama ini Miko sering curi pandang. Miko hanya bisa terkekeh,
menyadari bahwa di ruang RSUD Bekasi ini, dengan infus yang masih setia
menetes, ia telah mendapatkan "snapshot" paling indah yang tak akan
pernah bisa macet oleh kerusakan teknis apa pun.
Sore itu di bangsal rumah sakit menjadi puncak dari segala rasa
yang selama ini Miko pendam. Obrolan intim di antara aroma obat-obatan dan
suara mesin detak jantung itu ternyata adalah pertemuan paling nyata yang
pernah ia miliki dengan Dwi. Setelah hari itu, meski mereka sempat beberapa
kali bertegur sapa di koridor sekolah, tak ada lagi momen sedekat sore itu.
Waktu seolah memacu langkahnya dengan kejam, membawa mereka lulus dari SMA
Negeri 4 Bekasi di tahun 2004.
Pada lembar terakhir buku album kenangan sekolah, Miko mendapati
tulisan tangan Dwi yang rapi. Di bawah foto kelulusan yang menampilkan senyum
terbaiknya, Dwi menuliskan kalimat sederhana namun menusuk hati: "Aku sayang kalian semua." Sebuah kalimat
yang merangkul semua orang, namun tak menyisakan ruang khusus untuk Miko
sendiri.
Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Snapshot bubar karena
kesibukan masing-masing, namun persahabatan Miko, Albert, Andi, dan Kodik tetap
awet. Hingga suatu hari, sebuah undangan fisik berwarna krem sampai ke tangan
Miko. Dwi akan menikah.
Miko terdiam di teras rumahnya, memegang undangan itu dengan
tangan yang gemetar. Ia membayangkan Dwi yang dulu lincah melakukan tendangan ap chagi, kini akan melangkah menuju jenjang kehidupan
yang baru dengan pria lain. Rasa sesak itu kembali, sama persis seperti saat ia
gagal memotret Dwi dengan tustel Kodak-nya belasan tahun lalu.
Malam itu, di sebuah warung kopi di daerah Bekasi, teman-teman
lama berkumpul. Kodik yang kini sudah jauh lebih dewasa menepuk bahu Miko yang
tampak murung.
"Mik, lo harus terima kenyataan," ujar Kodik lirih.
"Dulu lo sering bilang, I am Cloud, You are Sky.
Awan itu memang ditakdirkan untuk bergerak, dan langit... langit akan selalu
ada di sana, menunggu siapapun yang datang untuk menaunginya. Mungkin Dwi bukan
nggak tahu perasaan lo, mungkin dia sudah menunggu saat itu, tapi waktu kita
yang salah."
Albert menambahkan, "Kadang, cinta itu bukan tentang
memiliki. Dwi itu langit, Mik. Dia terlalu luas untuk dimiliki hanya oleh satu
awan. Tugas awan itu bukan untuk menangkap langit, tapi untuk melengkapi
keindahannya sesaat sebelum ia berarak pergi."
Miko terdiam lama, menyesap kopinya yang sudah dingin. Ia sadar,
takdir memang tidak selalu sesuai dengan narasi yang ia susun di dalam
lagu-lagunya. Dwi akan menjadi milik orang lain, sebuah "Snapshot"
permanen yang tak bisa ia miliki, namun akan selalu ia simpan di memori paling
dalam.
Ia menghela napas panjang, menatap langit malam Bekasi yang
cerah. Langit itu tetap ada, luas dan agung, sementara dirinya—seperti awan
yang perlahan memudar—akhirnya menemukan ketenangan. Miko tersenyum tipis. Ia
akhirnya paham, bahwa menjadi awan yang sempat memayungi langit meski hanya
sekejap, sudah lebih dari cukup untuk sebuah perjalanan hidup yang penuh dengan
drama, distorsi, dan kenangan indah.
Kabar duka itu datang seperti petir di siang bolong, hanya
berselang beberapa bulan setelah pernikahan Dwi. Rama, sang pemilik tustel
Kodak yang menjadi saksi bisu awal mula kegilaan Miko, akhirnya berpulang
setelah sekian lama berjuang melawan penyakitnya. Bagi Miko, kepergian Rama
terasa seperti hilangnya satu bab penting dalam buku sejarah masa mudanya. Ia
teringat bagaimana Rama dulu begitu bangga dengan ekskul
"Biru"—singkatan dari Berinisiatif dan Berusaha—yang menjadi wadah
bagi para jurnalis sekolah. Rama adalah jiwa dari ekskul itu; ia yang selalu
membawa tustel ke mana-mana, mencatat setiap detak kejadian di SMAN 4 Bekasi
dengan ketajaman insting seorang jurnalis sejati.
Di hari pemakaman, Miko berdiri di depan pusara Rama. Ia membawa
sesuatu yang sudah lama ia simpan: kamera Kodak Pocket yang dulu sempat macet
itu. Kamera yang menjadi penyebab nama band mereka, Snapshot,
terbentuk.
"Ram," bisik Miko di tengah heningnya pemakaman.
"Kamera lo ini akhirnya bisa dipakai lagi. Gue udah servis, meski hasilnya
nggak pernah sebagus mata lo pas motret berita sekolah."
Kodik, Albert, dan Andi berdiri di belakang Miko dengan wajah
sembab. Mereka semua mengenang betapa Rama adalah sosok yang selalu
berinisiatif, persis dengan nama ekskul yang ia cintai. Rama-lah yang dulu
sering meyakinkan Miko bahwa setiap momen, entah itu kegagalan memotret pujaan
hati atau sekadar nongkrong di depan BCP, adalah berita yang layak diabadikan.
Kepergian Rama seolah menjadi titik akhir dari masa remaja
mereka. Pernikahan Dwi adalah penutup kisah cinta pertama, dan kematian Rama
adalah penutup kisah persahabatan masa sekolah yang lugu.
Saat mereka berjalan meninggalkan area pemakaman, Miko menatap
langit Bekasi yang sore itu berwarna senja—paduan warna jingga dan biru. Ia
teringat kembali pada lagu gubahannya, I am Cloud, You are Sky.
Awan itu kini telah berarak jauh, meninggalkan langit yang tetap tenang dan tak
terjangkau.
"Dunia berubah cepat banget, ya," gumam Albert sambil
menepuk pundak Miko.
Miko mengangguk. "Tapi setidaknya, berkat Rama dan 'Biru',
kita punya arsip memori yang nggak bakal macet. Kita punya cerita yang selalu
bisa diputar ulang kapan saja, meski hanya lewat ingatan."
Kini, di usia dewasa, Miko tak lagi mengejar "langit"
maupun berusaha memotretnya dengan tustel tua. Ia belajar satu hal dari Rama:
hidup bukan tentang seberapa banyak momen yang berhasil kita tangkap, melainkan
seberapa dalam kita berani berinisiatif untuk menjalani setiap detik yang
diberikan, sebelum semuanya benar-benar menjadi sejarah. Snapshot memang sudah bubar, namun setiap kali Miko mendengar
distorsi gitar progressive rock di kejauhan, ia
selalu ingat: ada seorang teman jurnalis yang mungkin sedang mencatat
perjalanannya dari tempat yang jauh, dan seorang gadis yang kini telah bahagia
di bawah langitnya sendiri.
Belasan tahun setelah hari di pemakaman itu, waktu membawa Miko
pada babak yang sama sekali berbeda. Keriuhan koridor SMA dan bau karbol rumah
sakit telah berganti dengan suasana ruang kelas universitas. Miko kini berdiri
di depan mimbar, menatap puluhan mahasiswa kelas Produksi Media dan Komunikasi.
Di tangannya, bukan lagi gitar Gibson yang berat atau lembaran partitur lagu progressive rock yang rumit, melainkan tustel Kodak
Pocket usang peninggalan Rama. Kamera itu selalu ia bawa sebagai alat peraga
wajib di awal semester.
"Kalian tahu kenapa alat sekecil ini dulu sangat berharga
bagi seorang jurnalis, bahkan untuk jurnalis sekolah menengah?" tanya
Miko, suaranya menggema di ruang kelas yang hening. "Karena dia membatasi
kita. Tustel ini memaksa kita untuk berpikir, berinisiatif, dan berusaha
sebelum memencet shutter. Sesuatu yang sangat mahal
di era media digital yang serba instan ini."
Miko terdiam sejenak, lalu tersenyum jahil, membiarkan sisi
santainya keluar. "Makanya, anak muda zaman sekarang itu gampang banget move on kalau salah jepret foto, tinggal delete. Tapi anehnya, susah move on
dari kenangannya. Beda sama bapak-bapak kayak saya. Tustelnya yang macet, tapi
kenangannya yang awet."
Beberapa mahasiswa tertawa, sebagian lagi hanya tersenyum
canggung mendengar humor bapak-bapak yang tiba-tiba
dilemparkan sang dosen. Miko terkekeh pelan. Baginya, melihat bagaimana
mahasiswanya merespons lelucon garing itu selalu menjadi observasi etnografi
yang menarik tentang interaksi dan negosiasi identitas antargenerasi.
Kelas sore itu pun usai. Sambil memasukkan kembali tustel Rama
ke dalam tas kerjanya, ponsel di saku Miko bergetar pelan. Ada pesan masuk dari
Dhita.
Membaca nama itu di layar ponselnya, senyum Miko mengembang jauh
lebih lebar. Jika Dwi Rahmayanti dulu adalah langit yang jauh dan tak tergapai,
maka Dhita Priyanti adalah bumi tempatnya membumi dengan nyata. Dhita adalah
pelabuhan akhirnya, perempuan yang menyadarkannya bahwa ia tidak perlu
selamanya menjadi awan yang merana. Bersama Dhita, ia membangun keluarga,
berbagi cerita, dan menemukan ritme hidup yang jauh lebih menenangkan daripada
melodi kompleks Dream Theater sekalipun.
"Mas, jangan lupa nanti sore jemput anak kita di tempat les
ya. Sekalian beliin martabak susu keju manis kesukaannya," tulis Dhita dalam pesan tersebut.
Miko mengetik balasan dengan cepat, menyisipkan emotikon hati di
akhir kalimat. Ia menyandang tasnya, melangkah keluar ruangan menyusuri lorong
kampus. Sesekali ia meraba tustel di dalam tasnya dari luar bahan kain. Masa
lalu tentang Dwi, gagalnya audisi sempurna karena tifus, dan kepergian Rama
kini telah tersusun rapi bagai klise film tua di sudut memorinya. Semua cerita
itu adalah sebuah snapshot yang sempurna pada
masanya, sebuah pondasi yang mendewasakannya untuk menyambut kebahagiaan yang
sangat nyata, di sini, dan hari ini. Miko
berjalan menuju parkiran kampusnya. Di tengah deretan motor dosen yang berjejer
rapi, matanya tertuju pada sebuah motor sport klasik yang terparkir di pojok.
Tiba-tiba, ingatannya melompat jauh ke masa lalu, ke deru knalpot Yamaha
RX-King yang pernah ia tunggangi bersama Rama dan anggota band Snapshot lainnya,
sontak ia mengeluarkan kunci mobil, namun langkahnya terhenti sejenak di
samping motor itu. Angin sore di Jakarta Timur berhembus cukup kencang, membawa
aroma tanah basah setelah hujan—aroma yang selalu mengingatkannya pada
hari-hari di SMA Negeri 4 Bekasi. Kemudian tak lama berselang ia mengeluarkan
tustel Kodak Pocket dari dalam tasnya. Kali ini, ia tidak membidik subjek yang
rumit. Ia hanya membidik deretan motor di depannya dengan fokus yang sengaja ia
atur agar sedikit blur, menangkap esensi dari
keremangan sore yang syahdu. Klik. Bunyi mekanis
kamera itu terdengar begitu memuaskan. Tidak ada yang macet hari ini.
"Ram, lo pasti bangga kalau tahu gue akhirnya bisa pakai
kamera ini dengan tenang," bisiknya pelan, seolah berbicara pada udara
kosong.
Perjalanan menjemput putrinya di tempat les adalah rutinitas
yang ia nikmati. Di dalam mobil, ia memutar lagu-lagu progressive rock lawas, tapi kali ini ia tidak lagi
berusaha menganalisis polyrhythm atau teknik shredding-nya. Ia hanya menikmatinya sebagai pengiring perjalanan.
Begitu sampai di depan tempat les, ia melihat seorang gadis
kecil dengan tas yang ukurannya hampir sebesar punggungnya, melambai dengan
semangat ke arah mobil. Itu anaknya. Senyum sang anak yang mirip sekali dengan
senyum Dhita—namun dengan matanya yang jenaka—membuat Miko sadar betapa waktu
telah memberikan ganti yang jauh lebih indah dari sekadar mimpi remaja.
"Yah! Tadi di sekolah ada yang nanya, Papa kerjanya
apa?" tanya sang anak sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
Miko terkekeh sambil menyalakan mesin. "Papa itu dosen,
Nak. Kerjaannya ngajarin orang tentang cara berkomunikasi yang baik, dan kenapa
dad jokes itu sebenarnya adalah bentuk seni komunikasi
yang paling tinggi."
Anaknya tertawa geli, sudah hafal dengan selera humor bapaknya.
"Papa aneh deh."
"Aneh itu perlu, supaya hidup nggak datar," jawab Miko
sambil membelokkan setir ke arah pedagang martabak manis favorit mereka.
Saat menunggu martabak dipanggang, Miko menatap jalanan yang
mulai gelap. Ia ingat Dwi, ingat betis talas Bogor-nya, ingat masa-masa Rohis
dan masa-masa menjadi pujangga kesepian. Ia tidak menyesal. Semua kepingan itu,
baik yang menyakitkan maupun yang manis, telah membentuk Miko yang sekarang:
seorang dosen, seorang ayah, dan seorang suami yang sudah selesai dengan
pencarian jati dirinya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Langit Jakarta malam ini tertutup
awan mendung, namun bagi Miko, itu bukan lagi tanda jarak yang mustahil. Itu
hanyalah bagian dari semesta yang sedang berproses. Ia sudah tidak perlu
menjadi awan yang mengejar langit, karena sekarang ia sudah memiliki dunianya
sendiri yang sangat ia cintai.
Miko tersenyum, menutup pintu mobil saat martabak manis sudah di
tangan, dan melaju pulang menuju rumah. Di sana, Dhita sudah menunggu, dan itu
adalah snapshot terakhir yang paling ia syukuri dalam
hidupnya.
Miko membuka pintu rumahnya dengan perasaan yang masih dibalut
sisa kenangan di jalan tadi. Di ruang tengah, Dhita sudah menyambutnya dengan
senyum teduh yang selalu berhasil meredakan lelah Miko setelah seharian
berkutat dengan teori komunikasi di kampus. Sambil meletakkan bungkusan
martabak di atas meja, Miko memperhatikan Dhita lebih saksama. Ada sesuatu pada
cara Dhita berdiri—tegak, disiplin, dan anggun—yang tiba-tiba memicu memori
yang sudah terkunci rapat di sudut otaknya.
Dhita berbalik, menyibakkan sedikit rambutnya, dan menoleh ke
arah Miko. Gerakan itu, cara dia memiringkan kepala, dan ketegasan pada garis
wajahnya saat tersenyum, tiba-tiba membuat Miko tertegun. Ia teringat kembali
pada postur Dwi di lapangan Taekwondo belasan tahun lalu.
"Mas, kenapa ngeliatinnya gitu banget? Martabaknya gosong
ya?" tanya Dhita dengan nada bercanda yang sangat familiar.
Miko mengerjapkan mata, berusaha mengusir bayang-bayang masa
lalu. "Nggak, cuma... akhir-akhir ini aku sering kepikiran soal masa muda.
Soal gimana takdir itu lucu banget mainin skenario."
Dhita duduk di sampingnya, lalu menaruh tangannya di atas tangan
Miko. "Kamu masih kepikiran soal band Snapshot? Atau soal teman-temanmu
yang sudah nggak ada?"
Miko terdiam. Ia baru sadar, selama bertahun-tahun ia membangun
hidup bersama Dhita, ia mungkin tidak pernah benar-benar menceritakan detail
obsesi masa remajanya terhadap sosok gadis atletis di SMAN 4 Bekasi itu. Atau
mungkin, secara alam bawah sadar, ia sudah menceritakannya, dan Dhita—dengan
caranya yang luar biasa—telah hadir untuk menggenapi apa yang dulu gagal ia
dapatkan.
"Dulu aku pernah punya obsesi yang aneh sama
seseorang," bisik Miko jujur, suaranya pelan. "Aku sampai bikin lagu
instrumental karena saking bingungnya cara ngungkapin perasaan ke dia. Aku kira
dia adalah langit yang nggak bakal bisa aku jangkau."
Dhita tersenyum, matanya memancarkan ketenangan yang dalam.
"Lalu?"
"Lalu aku sadar, langit itu nggak perlu dikejar. Mungkin,
dia memang harus tetap jadi langit, supaya orang lain bisa punya tempat untuk
berharap. Tapi ternyata, aku malah dikasih bumi tempat aku berpijak. Tempat aku
bisa tumbuh, menua, dan menemukan rumah yang sebenarnya."
Dhita tertawa kecil, sebuah tawa yang lagi-lagi terdengar sangat
tidak asing. "Mungkin langit itu nggak ke mana-mana, Mas. Dia cuma berubah
bentuk supaya bisa lebih mudah dipeluk. Kamu aja yang dulu terlalu sibuk pakai
lensa kamera sampai nggak sadar kalau yang kamu cari sudah ada di depan
mata."
Miko terperangah. Kalimat itu terasa seperti kutipan langsung
dari buku kenangan yang pernah ia tulis di dalam hatinya sendiri. Ia menatap
Dhita lekat-lekat. Apakah mungkin takdir telah melakukan twist yang paling jenius dalam hidupnya? Bahwa sosok
yang selama ini ia agungkan sebagai "langit" masa muda, ternyata
telah berevolusi, tumbuh dewasa, dan memilih untuk menetap di sisinya sebagai
"bumi" yang menopangnya hingga saat ini?
Mungkin takdir tidak pernah benar-benar melepaskan apa yang pernah
kita kejar. Ia hanya menyembunyikannya di balik kedewasaan, menunggu sampai
kita siap untuk melihatnya dengan cara yang berbeda.
Miko menggenggam tangan Dhita lebih erat. Di luar, hujan mulai
turun, membasahi Jakarta dengan irama yang tenang. Ia tidak butuh kamera, tidak
butuh tustel yang macet, dan tidak butuh lagi teori progressive
rock untuk menjelaskan hidupnya. Semuanya sudah lengkap. Akhir
cerita ini ternyata bukan tentang kehilangan, melainkan tentang bagaimana
langit akhirnya memutuskan untuk turun dan menetap selamanya di rumahnya.
Malam itu, di ruang tamu yang hangat, Miko menarik napas
panjang. Ia mengambil album foto lama yang terselip di rak buku—album yang
berisi kumpulan klise-klise foto yang ia cetak sendiri di masa kuliah. Di satu
lembar, terselip foto buram hasil jepretan kamera Kodak pocket yang sudah ia
perbaiki. Itu foto Dwi, yang diambil dari kejauhan, saat gadis itu sedang
melipat sarung tangan Taekwondo-nya di pinggir lapangan.
Miko menunjukkan foto itu pada Dhita.
Dhita terdiam sejenak. Ia mengambil foto itu, mengusap
permukaannya yang mulai menguning dengan ujung jarinya. Lalu, sebuah senyum
simpul muncul di bibir Dhita, senyum yang membawa Miko kembali ke sore-sore di
koridor sekolah.
"Mas," bisik Dhita lembut. "Kamu ingat nggak, ada
anak Taekwondo yang dulu sering sengaja naruh botol minumnya di dekat meja
piket supaya bisa curi pandang ke anak Rohis yang sok sibuk baca buku di dekat
jendela?"
Miko tersentak. Ingatannya berputar balik. Ia memang sering
membaca buku di dekat jendela kelas, dan ya, ia ingat ada seorang gadis—anak
Taekwondo—yang sering mondar-mandir di sana dengan dalih mengambil air minum.
Selama ini, Miko merasa ia adalah satu-satunya pengamat, padahal mungkin selama
ini ia juga sedang diamati.
"Itu... itu kamu?" tanya Miko dengan suara yang hampir
tidak terdengar.
Dhita mengangguk pelan. "Dulu kita sama-sama takut. Kamu
dengan tustel yang macet, aku dengan sabuk hitam yang bikin aku merasa harus
tampil tangguh. Kita sama-sama jadi awan dan langit buat satu sama lain, cuma
kita terlalu pengecut untuk mengakui bahwa awan dan langit itu sebenarnya punya
cakrawala yang sama."
Miko tertegun. Segala narasi tentang penyesalan, tentang
"langit yang tak terjangkau", dan tentang "awan yang
merana", seketika runtuh. Ternyata, takdir tidak sedang mempermainkannya.
Takdir sedang menuntun mereka melalui jalan yang berliku, membiarkan mereka
tumbuh di jalan yang berbeda, hanya untuk kemudian bertemu kembali di titik
yang paling tepat: sebagai pasangan yang sudah saling mengenal jiwa satu sama
lain jauh sebelum mereka mengucap janji setia.
Dhita menyandarkan kepalanya di bahu Miko. "Langit itu
memang luas, Mas. Tapi dia akhirnya tahu ke mana harus berlabuh saat awan sudah
berhenti berlari."
Di luar, hujan semakin deras, namun di dalam rumah itu, suasana
terasa begitu tenang. Miko mematikan lampu ruang tengah, menyisakan cahaya
temaram dari lampu meja. Ia tidak lagi mencari jawaban atas misteri masa lalu.
Ia tidak lagi membutuhkan tustel untuk membekukan waktu. Karena baginya, saat ini,
dengan Dhita di sampingnya dan suara napas sang buah hati yang teratur dari
kamar sebelah, ia telah menemukan snapshot yang paling
abadi—bukan dalam bentuk klise foto, melainkan dalam bentuk kehidupan yang
nyata dan utuh. Miko memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang betis talas
Bogor, suara distorsi gitar di studio Rawalumbu, hingga senyum Rama yang kini
sudah tiada, berbaur menjadi satu melodi damai di kepalanya. Semuanya indah
pada tempatnya. Dan bagi Miko, inilah bab terakhir dari lagu yang selama ini ia
tulis: sebuah akhir yang tidak lagi menuntut, melainkan hanya mensyukuri.
Tahun-tahun terus bergulir, dan rumah Miko kini selalu dipenuhi
dengan tawa renyah sang putri yang mulai beranjak remaja. Suatu siang, saat
Miko sedang membereskan gudang, ia menemukan kotak kayu tua berisi
barang-barang peninggalan masa SMA-nya. Di sana, di antara gulungan kabel jack yang sudah berkarat dan buku catatan lagu yang
halamannya mulai menguning, ia menemukan kembali tustel Kodak Pocket milik
Rama.
Ia mengambilnya, membersihkan debu yang menempel, dan mencoba
mengintip ke dalam viewfinder. Rasanya aneh. Miko
merasa seperti sedang melihat kembali ke masa lalu—ke masa di mana segalanya
terasa begitu besar, begitu dramatis, dan begitu membingungkan. Dhita masuk ke
gudang, membawakan segelas teh hangat. Ia melihat Miko yang sedang terdiam
memandangi kamera itu. Miko menatap Dhita, lalu menatap putrinya. Ia sadar
bahwa hidup adalah sebuah rangkaian snapshot—potongan-potongan
momen yang mungkin terlihat macet atau gagal di saat itu, namun ketika disusun
dalam album yang panjang, ternyata membentuk sebuah mahakarya. Kemudian ia menarik
napas panjang. Kamera Kodak itu akan tetap di sana, menjadi saksi bisu dari
perjalanan seorang anak muda bernama Miko yang dulu mengira dunia berakhir saat
tuas kamera macet, padahal di saat itulah, perjalanan sebenarnya baru saja
dimulai.
"Ya," jawab Miko sambil merangkul istri dan anaknya.
"Ini adalah cerita tentang perjalanan, Nak. Dan yang paling penting dari
sebuah perjalanan, bukanlah kamera apa yang kita pakai untuk memotretnya, tapi
dengan siapa kita berbagi pemandangan di akhir hari."
Malam itu, di ruang kerja yang tenang, Miko menatap kliping
koran itu—foto dirinya yang sedang membungkuk di panggung Pensi SMAN 4 Bekasi
tahun 2004. Foto itu kini terasa seperti sisa-sisa kehidupan dari orang lain.
Ia menempelkan kliping itu bukan lagi sebagai pemujaan masa lalu, melainkan
sebagai pengingat akan perjalanan panjangnya mencari makna. Dhita masuk membawa
teh hangat. Saat melihat foto itu, ia tersenyum tipis, senyum yang kini jauh
lebih teduh, tertutup rapi oleh hijab yang ia kenakan dengan syar'i.
"Dulu kita begitu gandrung dengan dunia, Mas," ucap
Dhita lembut, suaranya sarat dengan rasa syukur yang mendalam.
Miko meletakkan kliping tersebut ke dalam kotak penyimpanan,
lalu menutupnya rapat. "Iya, Dhit. Dulu aku pikir dunia ini cuma soal
pencarian pengakuan, musik yang cadas, dan cinta yang romantis. Aku merasa jadi
'awan' yang mengejar 'langit', padahal aku cuma sedang tersesat jauh dari jalan
yang lurus."
Miko beranjak dari kursinya, berdiri di samping Dhita. Mereka
kini telah sama-sama menapaki jalan hijrah, berkomitmen untuk mendekap erat
pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah yang mereka pelajari dengan
penuh kesungguhan. Kehidupan mereka tidak lagi berputar pada validasi manusia
atau distorsi gitar yang melengking, melainkan pada ketenangan mencari rida
Allah.
"Ternyata," lanjut Miko sambil menatap istrinya,
"hidayah itu adalah puncak dari segala snapshot yang pernah
kita ambil. Allah memutar skenario hidup kita melalui berbagai fase—dari
kegagalan, kehilangan, hingga rasa sakit—hanya agar kita berhenti berlari dan
menyadari bahwa tempat kembali yang paling hakiki bukanlah pelukan manusia,
melainkan ketundukan kepada Rabb semesta alam."
Dhita mengangguk, matanya berkaca-kaca mengingat masa-masa
mereka berdua masing-masing mencari jati diri sebelum akhirnya dipertemukan
dalam ikatan yang kini mereka jaga dengan koridor syariat. "Allah benar-benar
punya cara yang indah, Mas. Menjadikan masa lalu sebagai cermin agar kita tidak
lagi silau oleh dunia."
Miko merangkul bahu istrinya. "Dulu aku merasa Dwi—atau
siapapun yang kukejar—adalah tujuan hidupku. Sekarang aku mengerti, semua itu
hanyalah ujian agar aku belajar melepaskan apa yang tidak layak bagi agamaku,
dan menjaga apa yang telah dihalalkan bagiku."
Di luar, suara jangkrik dan embusan angin malam terasa lebih
syahdu. Miko mematikan lampu ruang kerjanya, bukan untuk menyimpan kenangan
kelam, melainkan untuk memulai malam dengan dzikir dan tadabur. Ia tidak lagi
membutuhkan lensa kamera untuk mengabadikan apa pun, karena ia tahu, setiap
detik yang ia lalui bersama Dhita kini adalah ibadah yang sedang ia bangun
untuk mencapai tujuan yang jauh lebih agung: keabadian di negeri yang
sebenarnya.
Miko menuntun Dhita keluar dari ruangan, meninggalkan dinding
yang kini bersih dari atribut masa lalu. Ia telah menemukan "langit"
yang sesungguhnya—langit yang selalu ada, yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu,
dan yang telah memberikan mereka ketenangan di atas manhaj yang hak.
Epilog: Jalan Pulang
yang Sesungguhnya
Perjalanan Miko tidak berakhir pada sebuah panggung Pensi
sekolah atau pelukan asmara remaja. Perjalanannya berakhir pada sebuah titik
balik: hidayah. Ia memahami bahwa segala ambisi masa mudanya—kamera yang macet,
lagu progressive rock, hingga obsesi terhadap sosok pujaan
hati—adalah kerikil yang justru mendewasakannya untuk mengenal Rabb-nya. Di
atas manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, Miko dan Dhita menemukan
kedamaian yang tak pernah mereka temukan dalam distorsi dunia.
Dwi Rahmayanti sang "langit" masa muda, kini telah
menjadi bagian dari sejarah yang utuh, dan Dhita, sang "bumi" masa
kini, adalah pelabuhan yang menjadikannya nyata. Miko tidak lagi mengejar
cakrawala; ia telah menjadi cakrawala itu sendiri, tempat di mana awan dan
langit akhirnya bersatu dalam kesahajaan sebuah keluarga. Dia terngiang bait-bait
legendaris darii pentolan The Panasdalam Band sekaligus Imam Besar Front
Pembela Islam Kristen Hindu Budha yaitu Al Mukarram KH Pidi Baiq:
------------------------------
Terra
Erau – Pidi Baiq
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan mendengarmu,
dengan siapa kamu dapat bicara tentang hampir segalanya. Dia, menjadi orang
yang memahami dirimu ketika engkau butuh. Mendengar perasaanmu bahkan tanpa
perlu kau ungkapkan melalui kata-kata. Ketika dia membuat dirimu tenang, kau
mengerti untuk apa bersamanya, bahwa bersama orang yang kau cintai, tak akan
pernah peduli oleh apapun yang engkau takutkan. Kemudian dengannya engkau
tersenyum, engkau ketawa. Dan hal lainnya lagi yang lebih menyenangkan dari
itu.
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu,
menjadi sumber kebahagiaan dari semua yang engkau miliki. Orang khusus itu
adalah dirinya, yang akan merisuakan dirimu di hari yang buruk, oleh hujan, dan
penuh petir. Ketika jauh, kau rindu, oleh pikiran bahwa engkau yakin sesuatu
yang indah akan terjadi ketika bersamanya. Dia datang, bukan melulu bicara soal
cinta, tetapi untuk menghadirkan dirinya yang pandai membuat dirimu merasa
istimewa. Kamu hanya memiliki dirinya, yang memiliki tanggungjawab sebagai
seorang kekasih, dan kau tahu yang melibatkan dirimu dialah ahlinya.
Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu,
bahkan jika dia cemburu, kau senyum, karena bukan api yang menghanguskan.
Tera Errau, Asmara itu menggelora, dan kamu ingin bersamanya,
karena kamu tahu dengan siapa kamu tenang.
Tera Errau, Pikiran atas kasih sayang yang dia berikan kepadamu,
menjadi dasar di atas semua sikap dan perilakunya kepadamu.
Kau senyum untuk apa yang dikatakannya: "Jika aku sudah sayang,
tak kan pernah berakhir, bahkan ketika kau ingin berhenti". Katanya:
"Aku mencintaimu, sebagai benar-benar mencintaimu, sesibuk apapun diriku,
akan selalu berusaha meluangkan waktu untukmu". Bahkan jika dia harus
mengatakan: "Aku mencintai dirimu", kamu merasa tidak perlu lagi
untuk memeriksa kesungguhannya. Adakalanya kamu marah, tetapi dia berkata:
"Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kamu kepadaku,
terserah, itu urusanmu"
Tera Errau, Maka itulah yang akan kau rasakan bersama dengannya,
jika benar dia ada. Mengatakannya dalam gelombang kekuasaan logika, dan perasaan.
Pelajaran hikmah dan kasih sayang datang darinya, dan engkau tidak usah
mencarinya, karena dia selalu ada waktu untuk bersama dengan dirimu. Kamu hanya
memiliki keyakinanmu sendiri, bahwa kamu mencintainya, dan itu serius. Dia tersenyum,
dan katanya: Berterimakasihlah kepadamu, yang sudah bisa membuat aku bahagia
menyayangimu.
Tera Errau.... Tera Errau
Bandung, 11 November 2011
"Kita sering membuang waktu berusaha mengabadikan momen
dengan kamera, padahal beberapa hal paling indah dalam hidup memang diciptakan
hanya untuk dirasakan, bukan untuk difoto."
"Langit tidak pernah menjauh; kitalah yang sering kali lupa
cara untuk melihat ke atas. Dan ketika kita akhirnya sadar, mungkin dia sudah
turun menjadi bumi yang siap kau pijak setiap hari."
"Dunia ini hanyalah bayangan yang kita kejar di bawah terik
matahari. Namun ketika kita berhenti berlari dan menunduk dalam sujud, barulah
kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar jauh dari-Nya."
"Hijrah bukan tentang melupakan masa lalu, tapi tentang
bagaimana masa lalu itu menjadi pengingat agar kita tidak lagi mengulangi
kesalahan yang sama di hadapan Sang Pencipta."
"Langit yang paling tinggi bukanlah yang kita lihat dengan
mata, melainkan keagungan Allah yang menaungi setiap langkah kita kembali
kepada-Nya."
[]
No comments:
Post a Comment