Fisha adalah seorang karyawati swasta di bidang edu tech kawasan Epicentrum Rasuna Said Jakarta, terlibat cinta lokasi kesengsem sama teman laki satu kantor asal Sumatera namanya Hendra, cuma perihal sepele yaitu bos mereka berdua ngasih voucher makan bistro, nah konflik terjadi ketika Hendra chat di room divisinya
@here
Ada yang mau nemenin gue candle light dinner malam ini di Bistro Cendawan dekat kantor? wajib hanya untuk cewek ori. Cheers
Fisha menatap layar monitornya dengan mata membulat, mengabaikan
draf silabus program data science baru yang sedang ia tinjau. Jantungnya
mendadak berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena beban kerja kuartal ketiga
yang menumpuk, melainkan karena baris teks di aplikasi Slack divisi Growth
& Marketing yang baru saja muncul. Mention @here
dari Hendra benar-benar memicu riak di kubikel lantai empat itu. Sudah
berbulan-bulan Fisha menyimpan rasa pada cowok berdarah Batak-Minang berkemeja
flanel gulung itu—perasaan yang tumbuh subur sejak mereka sering lembur bareng
demi mengejar target user acquisition. Baginya, voucher makan di Bistro
Cendawan dari Pak Satya sang Head of Division adalah semacam takdir yang
tertunda. Namun, kalimat penutup Hendra, "wajib
hanya untuk cewek ori," yang diniatkan sebagai candaan khas
bapak-bapak tongkrongan, justru menjadi sumbu pendek yang membakar seisi
ruangan.
Suasana kubikel yang tadinya sepi langsung berubah riuh oleh
kasak-kusuk tertahan. Fisha, dengan jempol yang sedikit gemetar, memberanikan
diri mengetik balasan di utas thread tersebut, mencoba terdengar santai padahal
hatinya sudah berantakan oleh harap.
"Gue kosong sih malam ini, Hen. Kebetulan draf silabus juga
dikit lagi kelar," tulis Fisha, menahan napas.
Tak butuh waktu lama bagi Hendra untuk membalas, namun jawaban
cowok itu langsung menjatuhkan mental Fisha ke titik nadir di depan puluhan
pasang mata digital rekan sekantor mereka.
"Wah, sorry banget, Fish! Lu kan bro gue, rekan
seperjuangan approved by Pak Satya," balas Hendra cepat, lengkap dengan
emoji tertawa sampai menangis. "Maksud gue cewek ori tuh yang... ya lu
tahu sendirilah, yang tipe-tipe anggun, bisa diajak dress up,
bukan yang tiap hari pusing mikirin conversion
rate bareng gue sampai rambut acak-acakan. Lu mah udah kayak
abang-abang buat gue, Fish. Hahaha!"
Kalimat itu rasanya lebih menyakitkan daripada penolakan
proposal anggaran dari tim Finance. Ruang divisi mendadak sunyi secara literal,
namun di balik layar, grup WhatsApp tanpa Hendra pasti sedang meledak. Cinta
Fisha yang selama ini ia rapihkan dalam bentuk perhatian-perhatian
kecil—seperti menyisakan kopi susu literan di kulkas kantor atau selalu
mengajukan diri jadi notulen setiap Hendra yang presentasi—ternyata gagal
total dimaknai oleh sang pujaan hati. Hendra memandangnya tak lebih dari
sekadar "kompatriot kubikel" berkemeja longgar yang asyik diajak adu
argumen soal strategi leads.
Merasa harga dirinya dipertaruhkan, Fisha langsung berdiri dari
kursinya, membawa cangkir kopinya yang sudah dingin menuju pantry
untuk menenangkan diri. Sialnya, Hendra justru sedang berdiri di sana, asyik
bersandar di dekat dispenser sambil memainkan ponselnya.
"Hen, maksud lu di Slack tadi apa ya?" tanya Fisha
langsung, berusaha menjaga suaranya tetap berada di nada profesional meski ada
getaran kecewa yang kentara.
Hendra menoleh, wajahnya tampak tanpa dosa, khas cowok yang
tidak sadar baru saja menjatuhkan bom atom di hati seseorang. "Eh, Fish.
Lah, kenapa? Tersinggung ya soal 'cewek ori'? Elah, canda itu mah, lu kayak
anak magang aja baperan."
"Bukan soal 'cewek ori'-nya, Hendra," potong Fisha,
melangkah lebih dekat dengan tatapan tajam yang membuat Hendra sedikit
menegakkan posisi berdirinya. "Lu sadar enggak sih, lu tuh baru aja
mempermalukan gue di grup divisi? Gue nawarin diri karena gue pikir... ya kita
bisa makan bareng, celebrate kelarnya projek kemarin. Tapi lu malah bikin
narasi seolah-olah gue ini enggak ada value-nya
sebagai cewek di mata lu."
Hendra mengerutkan dahi, tampak bingung sekaligus defensif.
"Lah, kok larinya ke sana? Fish, kita kan emang temen dekat. Gue tuh
respek sama lu karena lu pinter, kerjanya tak-tok. Makanya gue bercandain
begitu karena gue pikir kita udah se-level 'brotherhood'. Lagian, itu kan
voucher buat candle
light dinner, masa gue ajak lu? Nanti malah dikira orang kita ada
apa-apa lagi. Aneh banget."
"Oh, jadi kalau sama gue aneh? Tapi kalau sama 'cewek ori'
pilihan lu yang entah siapa itu enggak aneh?" suara Fisha naik satu oktav,
membuat Mbak Ratih dari tim HR yang baru mau masuk pantry
langsung putar balik dengan langkah seribu. "Lu bener-bener enggak peka
atau emang sengaja idiot sih, Hen? Lu pikir selama ini gue betah dengerin
cerita lu, nemenin lu stand-up meeting sampai malem, itu murni karena gue
suka sama metrik-metrik edu tech ini? Enggak, Hendra!"
Hendra terpaku, ponselnya kini benar-benar diturunkan. Matanya
mengerjap, mulai menangkap sesuatu yang selama ini luput dari radar logikanya
yang terlalu fokus pada angka-angka growth.
"Fish... lu... maksud lu, lu suka sama gue?"
Fisha menarik napas dalam-dalam, dadanya sesak, namun nasi sudah
menjadi bubur. "Enggak usah dipikirin. Anggap aja 'bro' lu ini lagi eror
karena kebanyakan screen time. Nikmatin aja candle
light dinner lu malam ini di Bistro Cendawan. Semoga lu ketemu cewek
yang cukup 'ori' buat standar lu."
Tanpa menunggu respons Hendra yang masih mematung dengan mulut
setengah terbuka di depan dispenser, Fisha berbalik dan melangkah lebar-lebar
meninggalkan pantry.
Langkah kakinya sengaja dihentakkan keras di atas karpet abu-abu koridor
Epicentrum, meninggalkan Hendra yang baru saja menyadari bahwa ia tidak hanya
terancam kehilangan teman makan malam, tetapi juga kehilangan sosok yang
diam-diam paling tulus mendukungnya di kantor itu.
Malam itu, Bistro Cendawan dipenuhi pendar cahaya temaram dari
lampu gantung kekuningan yang estetik. Di salah satu sudut meja dekat jendela
besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu jalanan Epicentrum Rasuna Said,
suasana canggung sempat membeku di antara Fisha dan Hendra. Di tengah meja, dua
piring hidangan utama dan dua gelas minuman segar sudah tersaji, lengkap dengan
lilin kecil yang apinya berdansa lembut—persis seperti definisi candle
light dinner yang tertulis di voucher dari bos mereka.
Hendra, yang sore tadi sempat mematung di pantry,
akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk mencegat Fisha di parkiran
motor basemen sebelum gadis itu memesan ojek daring. Dengan wajah memelas dan
nada bicara yang kehilangan seluruh keangkuhan "anak Growth",
ia memohon agar Fisha tetap mau ikut. Bukan demi mendalami rasa bersalah,
melainkan karena Hendra sadar, ia tidak ingin kehilangan Fisha.
"Gue minta maaf ya, Fish. Beneran, dari hati gue yang
paling dalam," buka Hendra, memecah kesunyian sambil memutar-mutar
garpunya di atas piring. "Gue baru sadar, komedian macam gue emang sering
kelepasan kalau ngomong. Kalimat di Slack tadi bener-bener bodoh, dan reaksi
gue di pantry
tadi makin bikin gue kelihatan kayak orang tolol."
Fisha, yang malam itu entah bagaimana ceritanya menyerah dan
bersedia ikut setelah dipaksa sedikit, hanya mengaduk minumannya dengan
sedotan. "Udah lah, Hen. Gue juga minta maaf karena tadi sempat ngegas di pantry.
Mungkin gue lagi burnout aja gara-gara draf silabus program baru."
"Enggak, Fish. Lu enggak salah," potong Hendra cepat,
tatapannya kini lurus menatap mata Fisha, tanpa ada rona bercanda sedikit pun.
"Gue yang terlalu bego sampai enggak bisa bedain mana rekan kerja yang
tulus, mana yang cuma sekadar formalitas profesional. Selama ini... gue nyaman
banget kerja bareng lu. Sampai gue lupa, kenyamanan itu tumbuh karena ada orang
yang rela ngalah dan ngertiin ego gue."
Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan Fisha perlahan runtuh.
Senyum tipis yang sejak tadi ia tahan akhirnya terbit juga. "Oh, jadi
sekarang lu baru sadar kalau lu egois?"
"Banget, Fish! Asli, kalau lu enggak ada di tim, mungkin
gue udah resign
dari bulan lalu pas metrik user retention kita anjlok," sahut Hendra, mulai
kembali ke gaya bicaranya yang ekspresif, membuat suasana yang tadinya tegang
berangsur-angsur mencair menjadi syahdu.
Dari topik permohonan maaf, obrolan mereka mulai menggelinding
bebas tanpa arah, alias ngalor ngidul khas dua orang yang sudah sangat mengenal
ritme satu sama lain. Mereka tertawa mengenang bagaimana pertama kali bertemu
di ruang onboarding
karyawan baru, membahas betapa ajaibnya kelakuan Pak Satya yang hobi memberikan
revisi tugas di hari Jumat jam lima sore, hingga curhat mendalam soal
ekspektasi keluarga masing-masing.
Hendra mulai bercerita tentang ekspektasi ibunya di Sumatra yang
sudah mulai menanyakan kapan ia akan membawa calon istri pulang kampung, sebuah
obrolan yang membuat jantung Fisha kembali berdesir halus.
"Nyokap gue itu tipikal orang tua yang pengen mantunya tuh
yang kalem, Fish. Makanya di Slack tadi gue bercandain soal 'cewek ori' karena
habis ditelepon nyokap pagi-pagi," ujar Hendra sambil terkekeh, menyuap
potongan terakhir makan malamnya. "Tapi setelah gue pikir-pikir lagi
sambil ngeliat lu malam ini... cewek yang bisa diajak dress up
dan anggun itu banyak. Tapi cewek yang bisa diajak berantem demi metrik produk,
yang tahu kapan gue lagi stres cuma dari cara gue ngetik di Slack, dan yang
tetep kelihatan manis bahkan pas rambutnya acak-acakan karena lembur... ya cuma
lu."
Fisha tersedak minumannya sendiri, pipinya mendadak terasa jauh
lebih panas daripada suhu sup yang baru ia makan. "Hen, lu jangan mulai
ya. Ini efek lilin atau lu lagi jualan copywriting
marketing ke gue?"
Hendra tertawa lepas, tawa renyah yang selalu Fisha sukai. Ia
memajukan sedikit posisi duduknya, menumpukan kedua tangannya di atas meja,
mendekat ke arah Fisha.
"Gue serius, Fisha. Voucher dari Pak Satya ini mungkin tujuannya
cuma buat apresiasi kerjaan. Tapi buat gue, ini kesempatan kedua yang dikasih
alam semesta supaya gue enggak kehilangan orang paling berharga di kantor ini.
Kita enggak usah buru-buru ubah status di HR system dari 'rekan kerja' jadi
'pacaran' malam ini juga. Tapi, boleh kan kalau mulai besok, gue chat lu di
ruang divisi bukan pakai @here lagi, tapi
langsung japri khusus buat nanya lu udah makan siang apa belum?"
Fisha menatap mata Hendra yang memantulkan cahaya lilin di meja
mereka. Rasa kesal, malu, dan sedih yang sempat berkecamuk sore tadi menguap
begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Bistro
Cendawan malam itu menjadi saksi bahwa cinta lokasi di kawasan Epicentrum tidak
selamanya berakhir menjadi gosip miring di pantry,
melainkan bisa bersemi dengan sangat syahdu di antara dua orang yang akhirnya
berani saling jujur.
"Boleh," jawab Fisha pelan, menunduk sambil
menyembunyikan senyum lebarnya. "Tapi awas ya, kalau lu masih berani
manggil gue 'bro' di depan tim Finance, voucher makan lu bulan depan gue sita!"
Hendra terbahak, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Siap,
Bos! Cheers
untuk metrik hubungan kita yang semoga growth-nya
meroket ke atas."
Malam semakin larut, dan Bistro Cendawan mulai sepi. Lilin di
tengah meja sudah meleleh hampir habis, menyisakan genangan lilin cair yang
menari-nari ditiup angin pendingin ruangan. Fisha pulang dengan perasaan
membumbung tinggi. Kalimat Hendra soal "cewek
yang tetap kelihatan manis pas rambutnya acak-acakan" dan
tawaran untuk "japri
nanya makan siang" terus berputar di kepalanya bagai melodi
lagu romantis yang enggan berhenti. Fisha merasa malam itu adalah sebuah
kemenangan besar. Ia yakin, benteng pertahanan Hendra sudah runtuh dan lampu
hijau kini menyala terang untuk hubungan mereka.
Namun, realitas dunia korporat kawasan Epicentrum kembali
menyapa keesokan harinya.
Pukul sepuluh pagi, Fisha sengaja lewat di depan kubikel tim Growth.
Ia sengaja memakai blouse terbaiknya, menyisir rambutnya rapi, dan
melempar senyum paling manis saat mata mereka berpapasan. Hendra mendongak,
membalas senyum itu dengan lambaian tangan yang kasual, lalu kembali sibuk
mengetik di MacBook-nya.
Fisha kembali ke mejanya, menunggu. Satu jam, dua jam, sampai
jam makan siang tiba, ponselnya tetap hening. Tidak ada tatapan penuh arti,
tidak ada gestur canggung dari cowok yang semalam begitu puitis di bawah pendar
lilin. Ketika notifikasi Slack-nya akhirnya berbunyi, jantung Fisha sempat
mencelos. Namun, saat dibuka, itu adalah pesan di grup divisi, bukan japri
seperti yang dijanjikan.
Hendra_Growth: @Fisha_Edu
Fish,
draf silabus data science yang kemarin udah di-approve Pak Satya belum ya? Tim
Marketing butuh bahannya buat bikin copy landing page nih. Thank you, Bro!
Kata "Bro" itu menghantam Fisha telak di wajah. Ia
terpaku menatap layar monitornya. Semalam rasanya begitu intim, begitu penuh
harap, namun siang ini Hendra kembali menjadi robot user
acquisition yang dingin dan profesional. Narasi indah yang Fisha
susun di kepalanya mendadak buyar. Hendra tidak memberinya lampu hijau; cowok
itu justru memasang lampu kuning berkedip-kedip—tanda hati-hati, jangan
melewati batas.
Merasa bingung dan mulai kesal, Fisha sengaja menunggu sampai jam
istirahat sore untuk memojokkan Hendra lagi. Saat melihat Hendra berjalan
sendirian ke arah mesin kopi otomatis di selasar lantai empat, Fisha langsung
membuntutinya.
"Hen," panggil Fisha datar, melipat kedua tangannya di
dada.
Hendra menoleh, wajahnya cerah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh, Fish! Kenapa? Silabusnya aman kan?"
"Gue enggak mau bahas silabus," potong Fisha, suaranya
pelan namun penuh penekanan. "Gue mau nanya soal semalam. Lu... lu inget
kan omongan lu di Bistro Cendawan? Soal japri, soal gue yang berharga?"
Ekspresi Hendra langsung berubah. Senyum lebarnya menyusut,
digantikan oleh tatapan serba salah yang sangat akrab di mata Fisha—tatapan
yang sama ketika Hendra harus menjelaskan kenapa target leads
bulan ini tidak tercapai kepada investor. Ia menggaruk belakang kepalanya yang
tidak gatal, berdehem beberapa kali.
"Aduh, Fish... iya, gue inget kok. Gue beneran tulus
ngomong gitu," kata Hendra, memelankan suaranya agar tidak terdengar
karyawan lain yang lewat. "Tapi... lu jangan salah tangkap dulu ya. Gue
emang sayang sama lu, tapi sebagai... ya sebagai sahabat terbaik gue di kantor
ini. Jujur, setelah pulang semalam, gue mikir keras. Kita ini satu divisi,
Fish. Tiap hari ketemu, kerjaan kita saling ketergantungan. Kalau kita... lu
tahu sendirilah, pacaran kantor atau semacamnya, terus nanti ada apa-apa,
performa kerjaan kita bisa berantakan. Pak Satya juga pasti bakal endus."
Fisha merasakan dadanya mendadak hampa. "Jadi... omongan lu
semalam itu cuma taktik biar gue enggak ngambek dan tim kita tetap solid?"
"Bukan gitu, Fisha! Sumpah, demi apa pun, gue enggak
semurah itu," Hendra panik, mencoba meraih pundak Fisha namun Fisha
langsung mundur selangkah. "Gue cuma... gue belum siap kalau harus merusak
dinamika yang udah asyik ini. Gue butuh lu di sini, sebagai partner kerja gue
yang paling tak-tok. Gue takut kalau kita melangkah lebih jauh, kita malah
bakal kehilangan semuanya pas ada konflik. Lu paham kan maksud gue?"
Fisha tersenyum, namun senyum itu penuh dengan rasa getir. Ia
akhirnya paham. Ekstase dan suasana syahdu semalam di Bistro Cendawan hanyalah
momen sesaat—sebuah oase emosional bagi Hendra yang sedang kesepian dan merasa
bersalah, tapi bukan sebuah komitmen. Hendra menyukainya, menikmati
perhatiannya, namun tidak pernah berniat memberi "lampu hijau" untuk
masuk ke dalam hidupnya sebagai seorang kekasih. Hendra ingin memilikinya, tapi
hanya sebatas rekan kubikel yang aman dan selalu ada untuk menopang
pekerjaannya.
"Gue paham, Hendra. Paham banget," kata Fisha, menahan
sekuat tenaga agar matanya tidak berkaca-kaca di koridor kantor itu. Ia menarik
napas dalam, mengembalikan topeng profesionalitasnya yang sempat lepas.
"Metrik kerjaan memang nomor satu kan? Tenang aja, profesionalitas gue
enggak bakal turun cuma karena ini. Draf silabus lu udah gue share
di Google Drive. Silakan dicek."
Fisha berbalik, berjalan tegap meninggalkan Hendra yang kembali
mematung di depan mesin kopi. Kali ini, Fisha tahu persis di mana ia harus
berdiri. Di area Epicentrum ini, cinta lokasi memang mudah bersemi karena
kedekatan intensitas, namun sering kali layu justru karena alasan yang paling
klise di dunia kerja: takut merusak profesionalitas.
Hari itu, langit di atas Rasuna Said tampak muram, sewarna
dengan hati Fisha yang masih dilingkupi kabut abu-abu. Meski Hendra sudah
memasang barikede bernama "profesionalitas," ego Fisha sebagai
perempuan belum sepenuhnya menyerah. Ia masih percaya pada sisa-sisa kehangatan
di Bistro Cendawan. Maka, dalam perjalanan kembali dari meeting
eksternal di daerah Karet, Fisha sengaja mampir ke gerai Starbucks. Mengingat
cuaca Jakarta yang mendadak mendingin karena rintik hujan, ia membelikan
secangkir Hot Caffè
Latte dengan extra shot espresso dan susu oat—kombinasi spesifik
yang selalu dipesan Hendra setiap kali mereka harus brainstorming
sampai larut malam.
Fisha berjalan koridor lantai empat dengan debar jantung penuh
harapan, membawa cup
panas itu layaknya sebuah draf proposal damai. Ia meletakkan kopi itu di meja
Hendra yang saat itu sedang kosong karena sang pemilik sedang ke toilet. Di
samping cup,
Fisha menempelkan selembar sticky note kecil bertuliskan: "Biar
metrik hari ini lancar jaya. Semangat, Hen!"
Namun, apa yang terjadi sepuluh menit kemudian menjadi hantaman
paling telak yang pernah diterima Fisha selama bekerja di industri edu tech
ini.
Hendra kembali ke kubikelnya, membaca catatan itu, lalu bukannya
tersenyum, wajahnya justru mengeras. Dengan langkah terburu-buru, ia membawa cup
Starbucks yang masih mengepul itu langsung ke kubikel Fisha. Tanpa memedulikan
beberapa pasang mata tim Content Creator yang mulai melirik, Hendra meletakkan
kopi itu kembali ke meja Fisha dengan ketukan yang agak keras.
"Fish, bisa ngomong sebentar? Ikut gue ke phone
booth ujung koridor," kata Hendra, suaranya rendah namun penuh
penekanan yang dingin.
Di dalam ruang phone booth yang sempit dan kedap suara itu, Hendra
langsung berbalik menghadap Fisha. "Fish, gue kan udah bilang kemarin.
Bisa enggak kita stop hal-hal yang kayak gini? Jangan bikin gue merasa bersalah
terus tiap hari."
Fisha terperangah, jemarinya meremas ujung kemejanya. "Hen,
gue cuma beliin kopi. Itu kopi favorit lu. Salahnya di mana?"
"Salah, Fish, karena lu ngelakuin ini pakai perasaan, bukan
profesionalitas!" sahut Hendra, frustrasi. "Lu tahu enggak, anak-anak
Marketing udah mulai bisik-bisik soal kita? Tadi pagi aja Pak Satya sempat
nyindir gue pas syncing,
nanya ada hubungan apa gue sama anak tim Silabus. Gue enggak mau karier
gue—atau karier lu—keganggu cuma karena drama kubikel. Tolong, bawa balik
kopinya, atau kalau lu enggak mau, buang aja. Gue enggak bakal minum. Kita
harus tegas sama batasan kita, Fish."
Kalimat "buang aja" itu bergaung berkali-kali di
kepala Fisha. Hendra berlalu begitu saja, meninggalkan Fisha di dalam kotak
kaca sempit yang mendadak terasa kehabisan oksigen. Kopi panas itu perlahan
mendingin di atas meja kerja Fisha, menguapkan seluruh sisa harapan yang sempat
ia gantungkan tinggi-tinggi. Sore itu, untuk pertama kalinya, Fisha mengajukan half-day
leave dengan alasan tidak enak badan, lalu pulang ke kosannya di
daerah Setiabudi dengan air mata yang tidak bisa lagi dibendung sepanjang jalan
di atas ojek daring.
Malamnya, pertahanan Fisha runtuh seutuhnya. Di dalam kamar kos
berukuran 3x4 meter yang sunyi, tangisnya pecah. Kamar itu mendadak terasa
pengap hingga ia memutuskan keluar dan mengetuk pintu kamar sebelah—kamar milik
Tyas, sahabat satu kosnya yang dulu merupakan mantan senior di divisi Growth
kantor yang sama sebelum akhirnya resign
tahun lalu.
Melihat Fisha datang dengan mata sembap dan hidung memerah, Tyas
langsung menariknya masuk, menyodorkan sekotak tisu, dan memeluknya erat tanpa
banyak tanya. Di atas kasur tipis itu, sambil sesenggukan, Fisha menumpahkan
seluruh beban dadanya—mulai dari kejadian di Bistro Cendawan, penolakan lampu
hijau, hingga penolakan kopi Starbucks sore tadi.
"Gue kurang apa coba, Yas? Gue tahu takaran kopinya, gue
tahu kapan dia stres, gue selalu ada buat dukung kerjaan dia," tangis
Fisha pecah, suaranya serak. "Kenapa dia harus sekejam itu? Bilang kopi
itu drama kubikel... dibilang bisa ngerusak karier... Gue cuma peduli sama dia,
Yas!"
Tyas mendengarkan dengan saksama, mengusap punggung Fisha dengan
tatapan mata seorang veteran yang sudah kenyang makan asam garam di lingkungan
kantor tersebut. Sebagai mantan anak Growth,
Tyas tahu betul tabiat Hendra.
"Fisha, dengerin gue," kata Tyas lembut namun tegas,
menatap langsung ke mata sahabatnya yang basah. "Gue kenal Hendra. Dia itu
tipe cowok yang ambisius dan egois di dunia kerja. Dia bukannya enggak tahu lu
suka sama dia. Dia tahu banget, Fish. Dan penolakan kopi tadi? Itu bukan karena
dia takut kariernya rusak karena Pak Satya. Itu cuma alasan tamengnya dia
aja."
Fisha mengerjap, menghapus air matanya dengan tisu. "Maksud
lu?"
"Hendra itu tipikal orang yang mau enaknya aja,"
lanjut Tyas dengan nada sarkas khasnya. "Dia suka dapet support
system gratisan dari lu. Dia suka ada cewek pinter yang bantuin
kerjanya, yang dengerin keluh kesahnya, yang bikin dia ngetop di depan investor
karena projeknya selalu beres dibantu silabus lu. Tapi, dia enggak mau bayar
'harga' dari kenyamanan itu. Harganya apa? Komitmen. Dia sengaja pakai alasan
'profesionalitas' dan 'takut hubungan kantor rusak' supaya dia punya jalan
keluar yang aman buat tetep nolak lu tanpa kelihatan kayak orang jahat."
Tyas menarik napas dalam, lalu memegang kedua tangan Fisha.
"Gue resign
dari sana tahun lalu salah satunya karena lingkungan kerja yang bikin kabur
batas personal dan profesional kayak gini. Cowok kayak Hendra itu bakal tetep
begitu, Fish. Dia bakal terus manfaatin kebaikan lu di kantor selama lu masih
mau ngasih. Penolakan kopi tadi, sepuruk apa pun perasaan lu sekarang,
sebenarnya adalah berkah. Hendra udah nunjukkin warna aslinya. Dia enggak layak
dapetin Hot Latte
buatan lu, bahkan enggak layak dapetin air mata lu malam ini."
Fisha terdiam. Curhatan malam itu bersama Tyas perlahan membuka
matanya yang selama ini buta oleh romantisasi cinta lokasi. Di bawah lampu
kamar kos yang temaram, tangis Fisha mulai mereda, digantikan oleh sebuah
kesadaran baru yang dingin namun menyelamatkan: di kawasan Epicentrum ini, ia
harus belajar memisahkan mana investasi hati yang menghasilkan return,
dan mana yang hanya menjadi kerugian emosional belaka.
Pagi itu, area lobby Menara Imperium di kawasan Epicentrum masih
tergolong sepi saat Tyas melangkah masuk. Sebagai mantan karyawan, Tyas sengaja
memanfaatkan akses kartu lamanya yang entah bagaimana belum diblokir
sekuriti—atau mungkin ia sekadar memanfaatkan momentum janji temu "ngopi
pagi" dengan mantan rekannya yang lain. Namun, target utama Tyas hari ini
bukan untuk bernostalgia, melainkan satu nama: Hendra.
Ia mencegat Hendra tepat di depan kedai kopi bawah, saat cowok
itu baru saja turun dari motornya dengan jaket riding
yang masih setengah tersampir di bahu.
"Hendra, ikut gue bentar. Ke taman samping, yang
sepi," sergap Tyas tanpa basa-basi, suaranya dingin menembus riuh suara
mesin fusi kopi.
Hendra tersentak, matanya membelalak melihat mantan seniornya di
divisi Growth
tiba-tiba berdiri di depannya dengan wajah sekaku kanebo kering. "Eh...
Mbak Tyas? Lah, tumben ke sini, Mbak? Ada projekan bareng Pak Satya lagi?"
"Enggak usah bawa-bawa Pak Satya. Ini soal Fisha,"
potong Tyas tegas, menuntun langkah kaki mereka ke arah sudut taman belakang
gedung yang tersembunyi dari lalulintas karyawan.
Begitu mereka sampai di area yang cukup aman dari kuping-kuping
usil anak agensi, Tyas langsung membalikkan badannya. Kedua matanya menatap
Hendra dengan sorot menghakimi yang membuat cowok Sumatra itu mendadak salah
tingkah.
"Lu keterlaluan ya, Hen. Lu pikir tindakan lu kemarin
balikin kopi Starbucks di depan anak-anak itu keren? Lu pikir lu pahlawan
profesionalitas kantor?" cecar Tyas, nadanya ditekan serendah mungkin
namun penuh amarah yang tertahan. "Fisha itu semalem nangis kejer di kamar
gue, Hen! Dia itu tulus banget sama lu. Dari zaman lu masih megap-megap dikejar
target user
acquisition tahun lalu, siapa yang selalu back-up data silabusnya
biar presentasi lu kelihatan pinter di depan investor? Fisha! Dia beli kopi itu
murni karena dia peduli sama lu yang kalau stres migrainnya kambuh, bukan mau
bikin drama kubikel!"
Hendra terdiam, mengembuskan napas panjang lalu menyisir
rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. Untuk beberapa detik, ada kilat
serba salah di wajahnya, namun ego dan keteguhan sikapnya dengan cepat
mengambil alih kendali. Ia menegakkan bahu, menatap Tyas balik dengan pandangan
yang tak kalah kokoh.
"Mbak Tyas, makasih udah peduli sama Fisha. Gue tahu Fisha
cewek baik, sangat baik malah. Dan gue juga tahu dia tulus," jawab Hendra,
suaranya berat dan stabil, tipikal suaranya saat sedang mempertahankan argumen
metrik di ruang rapat. "Tapi justru karena gue tahu dia tulus, gue harus
tegas, Mbak. Kalau gue terima kopi itu, gue bakal ngasih dia harapan palsu lagi
kayak malam di Bistro Cendawan. Gue akui gue blunder malam itu, gue bikin dia
salah paham karena keegoisan gue yang pengen ngerasa nyaman. Tapi setelah gue
pikir pakai logika, gue emang enggak bisa, Mbak."
"Enggak bisa karena ego lu yang kegedean, atau karena lu
cuma mau manfaatin dia gratisan?" kejar Tyas, menyipitkan mata.
"Bukan manfaatin, Mbak! Ini soal pilihan hidup," sahut
Hendra, kali ini nadanya sedikit meninggi namun tetap terkontrol. "Gue
punya timeline
sendiri buat hidup gue, buat karier gue di edu tech
ini, dan buat kriteria pasangan yang bakal gue bawa ke keluarga gue di Sumatra.
Fisha... dia partner kerja yang luar biasa, tapi dia bukan orang yang gue cari
buat masa depan gue. Kalau gue lembek sekarang cuma karena kasihan dia nangis,
gue malah bakal makin nyakitin dia ke depannya. Lebih baik dia benci gue
sekarang sebagai cowok tega yang sok profesional, daripada dia terus-terusan
buang waktu investasi perasaan ke orang yang dari awal emang enggak punya
tempat buat dia."
Tyas menatap Hendra, mencari celah keraguan atau kepura-puraan
di mata cowok itu. Namun, nihil. Hendra benar-benar tidak berubah pikiran sama
sekali. Keputusannya sudah bulat, sekeras batu hitam di sungai Sumatra,
terbungkus rapi dalam kalkulasi untung-rugi rasionalitasnya.
"Oke. Jadi ini keputusan akhir lu, Hen? Tetap enggak ada
lampu hijau buat dia?" tanya Tyas, memastikan untuk terakhir kali dengan
nada yang melunak, sadar bahwa argumen emosional tidak akan mempan pada orang
yang hatinya sudah terkunci rapat.
"Enggak ada, Mbak. Sinyal dari gue tetep merah buat
hubungan personal," ucap Hendra final, sambil merapikan tali tas
ranselnya. "Gue duluan ya, Mbak. Udah mau jam stand-up
meeting pagi. Tolong sampein ke Fisha... draf silabus data
science-nya bagus banget. Gue hargai profesionalitasnya."
Hendra berbalik, melangkah tegap menuju pintu kaca lobi,
meninggalkan Tyas yang hanya bisa menghela napas panjang dalam kekalahan. Pagi
itu, Tyas sadar, ada beberapa hati yang memang tidak ditakdirkan untuk melunak,
dan tugasnya sekarang bukan lagi mengubah pikiran Hendra, melainkan pulang ke
kosan untuk menuntun Fisha menyusun kembali serpihan harga dirinya yang baru
saja dihantam kenyataan pahit Epicentrum.
Fakta yang tersimpan rapat di balik dinding kaca Menara Imperium
itu akhirnya runtuh juga, menyisakan plot twist yang jauh lebih berliku
daripada sekadar drama kubikel biasa. Alasan sebenarnya mengapa Hendra begitu
keras memasang barikade profesionalitas kepada Fisha, dan mengapa ia menolak
mentah-mentah kopi Starbucks itu, bukan karena takut pada Pak Satya. Alasan sesungguhnya
berdiri tepat di depannya pagi itu di taman belakang lobi: Tyas.
Sudah sejak lama—bahkan sejak Tyas masih menjabat sebagai senior
di divisi Growth
sebelum memutuskan resign tahun lalu—Hendra telah menaruh hati pada
perempuan itu. Namun, situasi Hendra saat ini sudah terikat komitmen lain. Di
Sumatra, sebuah pesta pernikahan besar sedang dipersiapkan oleh keluarganya.
Hendra akan segera menikah dengan seorang wanita pilihan ibunya, sebuah
perjodohan keluarga yang sejak awal tidak pernah membuat hatinya sreg. Demi
menuruti tuntutan adat dan bakti pada orang tua, Hendra menerima pernikahan itu
dengan setengah hati, sementara setengah hatinya yang lain tertinggal
sepenuhnya pada Tyas.
Ironisnya, ketegasan Tyas saat melabrak Hendra pagi itu
sebenarnya hanyalah topeng rasa bersalah. Di balik punggung Fisha, Tyas dan
Hendra justru terlibat dalam pusaran cinta terlarang yang rumit.
Mereka sering jalan bareng secara sembunyi-sembunyi selepas jam
kantor, mencari sudut-sudut Jakarta yang jauh dari jangkauan anak-anak
Epicentrum. Dalam pelarian-pelarian rahasia itu, dinamika mereka berbalik
total. Hendra yang biasanya dominan dan penuh kalkulasi di kantor, berubah
menjadi sosok yang pasrah. Sering kali, Tyas-lah yang duduk di balik kemudi
mobil, menyusuri kemacetan Jalan Rasuna Said hingga Casablanka, sementara
Hendra bersandar di kursi penumpang, menatap Tyas dengan pandangan penuh beban
sekaligus kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari calon istrinya.
"Hen, sampai kapan kita mau main belakang kayak gini?"
tanya Tyas suatu malam, jemarinya mencengkeram setir mobil dengan erat saat
mereka tertahan macet di flyover Kuningan. "Bulan depan lu udah harus
pulang ke Sumatra buat urus berkas nikah."
Hendra menoleh, wajahnya tampak lelah di bawah temaram lampu
jalanan. "Gue enggak tahu, Yas. Setiap kali gue mikirin pernikahan itu,
rasanya sesak banget. Cuma pas bareng lu, disetirin lu kayak gini, gue merasa
bisa napas bebas. Gue enggak cinta sama dia, Yas. Gue maunya lu."
Tyas hanya bisa tersenyum getir, matanya menatap lurus ke depan
menembus rintik hujan di kaca mobil. Ia tahu ada getaran tulus dari ucapan
Hendra, namun Tyas juga seorang realis yang dipaksa tunduk pada garis takdir
yang berbeda. Ada satu tembok raksasa yang membuat cinta terlarang mereka tidak
akan pernah memiliki ujung tombak berupa pelaminan. Tembok itu adalah silsilah
keluarga Tyas sendiri.
Di depan nama lengkap Tyas, tertulis gelar kebangsawanan yang
sakral: R.A.
(Raden Ajeng).
Sebagai putri keturunan ningrat Jawa yang masih memegang teguh
pakem tradisi, Tyas tahu betul konsekuensi dari gelar tersebut. Keluarganya
tidak akan pernah merestui hubungan dengan pria dari suku lain yang sudah
memiliki ikatan perjodohan di tanah seberang, apalagi membiarkan putri mereka
menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Bobot nama Raden Ajeng di pundak
Tyas menuntutnya untuk menjaga kehormatan trah keluarga di atas kebahagiaan
pribadinya.
"Gak bisa, Hen. Lu tahu sendiri kan?" bisik Tyas
pelan, suaranya tercekat. "Gelar R.A. di depan nama gue itu bukan cuma
pajangan. Itu rantai yang ngiket gue ke keluarga. Bahkan kalau lu batalin
pernikahan lu di Sumatra sekalipun, jalan kita udah buntu dari awal. Kita ini
cuma dua orang yang telat ketemu, di waktu yang salah, dan di bawah aturan yang
enggak bisa kita lawan."
Hendra terdiam, menggenggam tangan kiri Tyas yang bebas dari
setir. Di dalam kabin mobil yang senyap itu, mereka berdua sama-sama tahu bahwa
mereka sedang menikmati waktu yang dipinjam.
Keesokan harinya, Tyas harus kembali ke kosan, menatap wajah
polos Fisha yang masih sembap, memeluk sahabatnya itu dengan rasa bersalah yang
menggerogoti jiwanya dari dalam. Sementara Hendra harus kembali ke kubikelnya,
berakting sebagai bos Growth yang dingin di depan Fisha, sembari menghitung
hari menuju pernikahan yang tidak ia inginkan, terjebak dalam lingkaran
kepalsuan korporat dan asmara yang berakhir tragis di kawasan Epicentrum.
Suasana pagi menjelang siang di daerah Jagakarsa terasa jauh
lebih tenang dibandingkan riuh pikuk Epicentrum yang biasa mereka hadapi. Di
salah satu kamar kos eksklusif yang asri, jauh dari bising jalur busway Rasuna
Said, waktu seolah berjalan melambat. Hendra, yang hari itu kebetulan
mendapatkan shift
siang untuk memantau rilis fitur baru sistem edu tech
mereka, sengaja memacu motornya memotong jalur lewat Pasar Minggu demi bisa
mampir ke tempat Tyas.
Pintu kamar diketuk pelan, dan begitu terbuka, pandangan Hendra
langsung terkunci. Identitas sebagai keturunan bangsawan Jawa-Cina bernama
Raden Ajeng Kusumaningtyas seolah menguap begitu saja, digantikan oleh
pemandangan domestik yang begitu intim dan memicu debar jantung. Tyas berdiri
di balik pintu dengan pakaian ala kadarnya yang sangat santai, jauh dari kesan
formal korporat atau keanggunan kebaya trah keraton. Ia hanya mengenakan
singlet putih ketat yang mengekspos lekuk tubuhnya dengan jelas, menyembulkan
bentuk dada yang penuh dan menantang pandangan. Sementara bawahannya adalah
celana pendek kain motif kotak-kotak merah-kotak—persis seperti kemeja ikonik
profil relawan Jokowi zaman pilgub DKI Jakarta dulu. Rambutnya dicepol
asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya yang putih
bersih.
"Eh, Hen... lu beneran mampir," sapa Tyas, suaranya
agak serak khas orang baru bangun tidur, sembari meringis kecil dan menumpukan
badannya pada daun pintu.
"Lu kenapa, Yas? Kok jalannya pincang begitu?" Hendra
langsung melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Bau harum
esensial lavender langsung menyambut penciumannya.
"Ndilalah... semalam kaki gue kram pas tidur, Hen. Sampai
sekarang masih kaku banget, kayaknya salah urat pas gue nyetir macet-macetan
kemarin," keluh Tyas sambil perlahan merosot duduk di tepi kasur busanya.
Ia meluruskan kaki kanannya yang tampak jenjang namun tegang. "Tolongin
gue dong... itu ada minyak urut urang-aring sama balsem di atas bufet. Pijitin
dikit, asli sakit banget."
Hendra menelan ludah. Angka-angka metrik conversion
rate dan draf silabus di kepalanya mendadak blank.
Ia mengambil botol minyak tersebut, lalu ikut duduk bersimpuh di lantai karpet,
tepat di hadapan kaki Tyas. Jemari tangan Hendra yang biasanya lincah mengetik
di MacBook kini terasa hangat saat pertama kali menyentuh kulit pergelangan
kaki Tyas yang halus. Ia mulai membalurkan minyak, memijat lembut otot betis
Tyas yang terasa mengeras.
"Aduh... pelan-pelan, Hen, sakit banget itu," rintih
Tyas spontan. Kedua tangannya bertumpu di belakang tubuhnya di atas kasur,
membuat posisi dadanya semakin membusung di balik singlet putih yang tipis itu.
Napasnya agak memburu, naik turun seiring dengan tekanan jari-jari Hendra di
kakinya.
Hendra mencoba sekuat tenaga menjaga fokus matanya tetap pada
betis Tyas, namun atmosfer kamar yang sepi dan kedekatan fisik yang begitu
intens membuat pertahanannya goyah. "Ini otot lu tegang banget, Yas. Lu
kebanyakan mikir kayaknya, bukan cuma gara-gara nyetir."
Tyas memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang menjalar dari
pijatan Hendra. "Gimana enggak banyak mikir, Hen? Hubungan kita ini makin
hari makin enggak masuk akal. Di satu sisi gue nyaman banget sama lu kayak
gini, tapi di sisi lain... nama Kusumaningtyas di dompet gue itu kayak alarm
yang terus-terusan bunyi."
Hendra menghentikan pijatannya sejenak, beralih menggenggam
jemari kaki Tyas dengan lembut. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik
mata perempuan Raden Ajeng yang kini juga sedang menatapnya layu.
"Kalau kita lupain sejenak soal Jakarta, soal Sumatra, dan
soal trah bangsawan itu... cuma ada gue dan lu di kamar ini, Yas. Salah ya
kalau gue pengen waktu berhenti di sini aja?" bisik Hendra, suaranya berat
penuh kepasrahan.
Tyas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengembuskan
napas panjang, membiarkan jemari tangannya bergerak mengusap rambut Hendra yang
berada di dekat lututnya. Di dalam kamar kos Jagakarsa siang itu, sebelum
mereka kembali mengenakan topeng profesionalitas dan tuntutan adat di dunia
luar, keduanya kembali larut dalam momen pelarian yang manis namun sekaligus
mengiris hati.
Di dalam kamar kos Jagakarsa yang mendingin oleh embusan AC,
gesekan jemari Hendra di kulit kakinya yang kram terasa semakin intens. Tyas bisa
merasakan deru napas Hendra yang memberat. Tatapan cowok Sumatra itu sudah
tidak lagi fokus pada otot betisnya, melainkan terkunci pada manik matanya
dengan binar nekat yang menakutkan. Hendra condong ke depan, berniat mengikis
jarak di antara mereka. Sinyal bahaya berbunyi nyaring di kepala Tyas.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Tyas menarik kakinya, memutus
kontak fisik itu sebelum semuanya terlambat. Ia membenarkan posisi duduknya di
tepi kasur, menarik singlet putihnya yang agak melorot.
"Hen, stop. Cukup," kata Tyas, suaranya bergetar namun
penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. "Gue nyaman sama lu, tapi gue
masih punya otak. Fisha itu teman sekamar gue, dia tidur cuma terhalang satu
dinding dari kamar ini tiap malam. Dia tulus banget sama lu, Hen. Gue enggak
mau jadi perempuan bajingan yang menikam temannya sendiri dari belakang di
bawah satu atap kosan."
"Tapi gue enggak bisa bohongin perasaan gue lagi, Yas! Gue
gila kalau harus terus pura-pura di kantor," sahut Hendra frustrasi,
meremas rambutnya sendiri. Kenebatan dan kegilaannya sore itu membentur dinding
realitas yang kokoh.
Tyas hanya tersenyum getir, mencoba mengalihkan ketegangan
dengan meraih draf tebal yang tergeletak di meja belajarnya. "Mending lu
bantuin gue cek draf ini. Otak gue udah mau pecah."
Di balik gaya santainya yang hanya mengenakan singlet dan celana
kotak-kotak mirip relawan Jokowi itu, RA Kusumaningtyas bukanlah perempuan
sembarangan. Di sela-sela waktu pelarian dan kerja serabutan pasca-resign, ia
sedang bertempur menyelesaikan tesis Magister Kenotariatan di Universitas
Indonesia. Tyas adalah paradoks berjalan: berdarah ningrat, berotak encer,
namun berjiwa pemberontak.
Beberapa bulan kemudian, pembuktian itu nyata. Tyas berhasil
lulus dengan predikat cum laude. Namun, dasar berjiwa slengean,
saat hari wisuda di Balairung UI Depok, ia membuat kehebohan kecil. Di saat
wisudawati lain tampil anggun menderita dengan kain kebaya ketat dan selop
berhak tinggi yang membuat jalan mereka berjingkat, Raden Ajeng satu ini dengan
santainya memadukan kebaya kutubaru klasiknya dengan sepatu kets Converse
hitam-putih yang sudah agak belewuk. Ia melangkah naik ke panggung dengan
senyum lebar, menerima ijazah magister hukumnya dengan gaya cuek yang
mengundang decak kagum sekaligus geleng-geleng kepala dari para dosen senior.
Malam harinya, di dalam mobil yang kembali disetiri oleh Tyas
membelah kemacetan Jakarta, ia merayakan kelulusannya bersama Hendra dengan
sebuah cerita masa lalu yang kelam. Cerita yang akhirnya menjelaskan dari mana
asal-usul jiwa pemberontak dan ketidaksukaannya pada komitmen pernikahan.
"Lu tahu kenapa gue enggak pernah percaya sama narasi
pernikahan ideal, Hen?" tanya Tyas, matanya menatap lurus ke aspal basah,
sementara tangan kirinya lincah memindah gigi mobil. "Ini soal bapak gue
di Blora."
Hendra menoleh, menyimak dengan saksama.
"Bapak gue itu orang terpandang di kampung. Ningrat, kaya,
dan sekarang jadi caleg dari salah satu partai besar. Di depan publik, wajahnya
terpampang di baliho-baliho besar dengan senyum religius dan jargon demi
rakyat. Tapi aslinya? Dia lelaki hidung belang kelas berat," ucap Tyas,
nadanya datar namun sarat akan kebencian yang dipendam bertahun-tahun.
Tyas terkekeh sinis, mengenang satu kejadian dramatis.
"Ndilalah, suatu hari pas gue pulang kampung bawa mobil, gue lagi nyetir
santai di jalanan lingkar Blora. Dari arah depan, gue ngelihat motor matic
melaju agak oleng. Pas jaraknya deket, gue syok. Itu bapak gue, pakai jaket
partai, lagi boncengan mesra banget sama perempuan muda yang jelas-jelas bukan
ibu gue. Selingkuhan barunya."
"Terus lu ngapain, Yas?" tanya Hendra, menahan napas.
"Gue emosi, Hen. Darah Jawa-Cina gue mendidih. Gue injek
gas, gue arahin moncong mobil gue langsung ke motor itu. Gue beneran nyaris
nabrak mereka berdua! Bapak gue sampai kagok, banting stang ke kiri, dan hampir
masuk ke parit sawah. Pas mobil gue lewat di sampingnya, gue buka kaca, gue
tatap matanya yang ketakutan. Dia tahu itu gue," Tyas menarik napas dalam,
mencengkeram kemudi lebih erat. "Sejak hari itu, gue sadar. Laki-laki
dengan jabatan, gelar, dan status sosial tinggi sekalipun, bisa jadi makhluk
paling palsu di dunia. Jadi, pas lu datang ke gue dengan cerita perjodohan di
Sumatra dan ketidakberdayaan lu buat nolak... gue ngelihat refleksi bapak gue di
dalam diri lu, Hen. Dan itu bikin gue takut."
Hendra terbungkam seribu bahasa di kursi penumpang. Cerita Tyas
malam itu menghantam egonya telak. Ia baru menyadari bahwa perempuan slengean
bergelar RA yang sedang menyetir di sampingnya ini memiliki luka masa lalu yang
begitu dalam—sebuah luka yang membuat cinta terlarang mereka di kawasan
Epicentrum ini terasa semakin rumit, gelap, dan seolah dikutuk untuk tidak akan
pernah menemukan jalan keluar.
Pusaran drama dan rahasia yang berputar di antara kubikel Epicentrum,
kamar kos Jagakarsa, hingga jalanan lingkar Blora itu akhirnya menemui titik
nadir. Realitas, dengan sifatnya yang dingin dan tidak kenal kompromi, datang
mengetuk pintu kehidupan mereka masing-masing, memaksa setiap orang untuk
tunduk pada garis takdir yang telah digariskan.
Hendra menjadi orang pertama yang mengambil langkah ekstrem.
Ketegangan batin antara rasa bersalah pada Fisha, cinta terlarangnya yang buntu
bersama Tyas, serta tuntutan besar keluarga di Sumatra membuatnya tidak lagi
mampu bertahan di bawah tekanan metrik user acquisition
kantor edu tech itu. Dua minggu setelah obrolan mendalam di
dalam mobil malam itu, Hendra resmi mengajukan surat pengunduran diri kepada
Pak Satya. Alasan yang tertulis di sistem HR sangat normatif: alasan keluarga. Tak lama setelah masa one-month notice-nya selesai, ia terbang kembali ke
kampung halamannya. Di sana, di bawah tenda pernikahan megah yang kental dengan
dekorasi adat, Hendra akhirnya bersanding dengan wanita pilihan ibunya. Ia
melangkah menuju pelaminan dengan senyum yang dipaksakan untuk kamera, mengubur
dalam-dalam ingatan tentang pendar lilin di Bistro Cendawan dan aroma minyak
urut di kamar Jagakarsa. Hendra memilih jalur aman, menjadi lelaki yang patuh
pada garis sosial, meski ia tahu sebagian dari jiwanya telah mati dan
tertinggal di Jakarta.
Sementara itu, Fisha memilih jalan sunyi untuk menyembuhkan
lukanya. Begitu Hendra resign, Fisha seperti mendapatkan
ruang untuk bernapas kembali. Namun, ia bukan lagi Fisha yang dulu mudah luluh
oleh perhatian kecil. Ia menarik diri sepenuhnya dari radar emosional yang
melibatkan Hendra maupun Tyas. Di kantor, ia menenggelamkan diri total dalam
draf-draf silabus baru, mengubah rasa sakit hatinya menjadi bahan bakar
profesionalitas yang sesungguhnya. Ketika Tyas mencoba mengajaknya mengobrol di
kosan, Fisha membalasnya dengan senyum ramah namun berjarak—sebuah pembatasan
teritori yang tegas. Fisha akhirnya paham bahwa dalam ekosistem korporat yang
bergerak cepat, menaruh hati pada rekan kerja tanpa kepastian adalah bentuk
kerugian emosional terbesar. Ia mundur, bukan karena kalah, melainkan karena ia
akhirnya tahu cara menghargai dirinya sendiri.
Dan Tyas, sang Raden Ajeng Kusumaningtyas, harus menelan pil
paling pahit dari semua ini. Predikat cum laude dari
Magister Kenotariatan Universitas Indonesia dan sepatu kets Converse-nya tidak
mampu melindunginya dari kehampaan yang datang menyergap. Setelah kepergian
Hendra, kamar kosnya di Jagakarsa mendadak terasa begitu luas dan sunyi. Setiap
kali ia melihat draf tesisnya atau lembar akta notaris yang mulai ia urus, ia
teringat bahwa hidupnya kini berjalan persis seperti apa yang selalu ia takuti:
sebuah keteraturan yang kaku, dingin, dan diatur oleh ekspektasi trah keluarga
bangsawan Jawa-Cina-nya. Ia harus menerima kenyataan bahwa pelarian manisnya
bersama Hendra telah usai, dan kini ia kembali menjadi putri terpandang yang
kesepian, berjalan di atas rel hidup yang jauh dari harapan indahnya tentang
kebebasan cinta.
Epilog: Di Balik
Jendela Jagakarsa
Satu tahun berlalu sejak badai emosional di kawasan Epicentrum
itu mereda. Malam itu, hujan deras kembali mengguyur daerah Jagakarsa,
menciptakan ketukan-ketukan ritmis di kaca jendela kamar Tyas. Di atas meja
belajarnya, kini terpajang papan nama kuningan kecil bertuliskan namanya
lengkap dengan gelar magisternya. Namun, tatapan Tyas kosong, menembus rintik
air di luar.
Ia membuka sebuah buku catatan tua, mengambil pena, dan
menuliskan bait-bait puisi—sebuah salam perpisahan terakhir untuk masa lalu,
untuk Hendra, dan untuk dirinya sendiri yang pernah berani melawan arus:
Di bawah pendar lampu Rasuna yang temaram,
Kita pernah mengira sanggup menantang malam.
Kau dengan debar metrik yang kau kejar,
Aku dengan rantai gelar yang mencengkeram tegar.
Secangkir kopi panas yang kau tolak hari itu,
Rupanya adalah awal dari akhir yang membatu.
Aku menyetirmu menembus labirin kota,
Membawa cinta terlarang yang berakhir dusta.
Kini Sumatra telah mengikat jemarimu,
Dan Blora kembali memanggil nalar budiku.
Gelar di depan namaku menjelma menjadi dinding,
Tempat rindu dan sesal beradu dengan bising.
Kita hanyalah dua angka yang gagal berpadu,
Di dalam silabus takdir yang tak pernah syahdu.
Pergilah, hiduplah dalam pelukan yang mereka restui,
Biar kets usangku ini, berjalan sendiri menyusuri sunyi.
Tyas menutup bukunya perlahan. Ia menarik napas dalam, merapikan
duduknya, dan kembali menatap berkas akta di depannya. Realitas telah menang,
namun ia tahu, ia telah selamat dari badai itu.
Pesan Moral:
Kisah di sudut Epicentrum ini mengajarkan kita bahwa kedekatan
intensitas di lingkungan kerja sering kali mengaburkan batas antara kenyamanan
sesaat dan komitmen yang tulus. Menggunakan alasan "profesionalitas"
untuk memanfaatkan ketulusan orang lain adalah bentuk keegoisan emosional. Pada
akhirnya, pelarian dari realitas—sekuat apa pun getarannya—akan selalu runtuh
ketika berhadapan dengan prinsip hidup, tanggung jawab moral, dan luka masa
lalu yang belum disembuhkan. Jujur pada diri sendiri dan menghargai batasan
orang lain adalah satu-satunya cara untuk menjaga martabat di tengah rumitnya
relasi manusia.
"Beberapa orang dihadirkan dalam hidup kita bukan untuk
menjadi bab utama dalam buku perjalanan kita, melainkan hanya sebagai catatan
kaki yang mengingatkan tentang mahalnya harga sebuah kejujuran dan batasan
diri."
No comments:
Post a Comment