Lima
Menit Sebelum Azan Maghrib
RM
Kencrot
Lima menit
sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut
saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air
besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang
kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk
menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah
menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan
hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu
dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y,
begitupun sebaliknya.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan
jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An Nahl: 18).
Yang dimaksud dengan ayat ini disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain (hal.
278), “Jika kalian tidak mampu menghitungnya, lebih-lebih untuk mensyukuri
semuanya. Namun kekurangan dan kedurhakaan kalian masih Allah maafkan (bagi
yang mau bertaubat, -pen), Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ibnu Katsir juga
menjelaskan dalam kitab tafsirnya (4: 675), “Allah benar-benar memaafkan
kalian. Jika kalian dituntut unutk mensyukuri semua nikmat yang Allah beri,
tentu kalian tidak mampu mensyukurinya. Jika kalian diperintah untuk mensyukuri
seluruh nikmat tersebut, tentu kalian tidak mampu dan bahkan enggan untuk
bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah itu
zholim. Akan tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah
mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”
Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Sesungguhnya Allah
memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali
taat dan ingin menggapai ridho Allah, Dia sungguh menyayangi kalian dengan ia
tidak akan menyiksa kalian setelah kalian betul-betul bertaubat.” Demikian
beliau sebutkan dalam Jami’ul
Bayan fii Ta’wil Ayyil Qur’an, 8: 119.
Muhammad Al Amin
Asy Syinqithi menjelaskan, “Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak mampu
menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu setelahnya Allah sebutkan
bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan atas kekurangan
manusia dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Namun Allah masih
mengampuni siapa saja yang bertaubat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang
yang memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat. Hal ini diisyaratkan
pula dalam ayat,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ
الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan
jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 34). Setiap nikmat memang dari Allah sebagaimana disebutkan dalam
ayat lainnya dari surat An Nahl,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan
apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”
(QS. An Nahl : 53). (Lihat Adhwaul
Bayan, 3: 231).
Dalam ayat ini
pula, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi memberikan pelajaran kaedah bahasa
Arab bahwa isim mufrod jika disandarkan pada isim ma’rifah, maka menunjukkan
makna umum. Semisal dalam ayat ini kata “ni’mat Allah”. Nikmat itu mufrod
(tunggal), lafazh jalalah “Allah” adalah isim ma’rifah. Jadi yang dimaksud
adalah seluruh nikmat, bukan hanya satu nikmat saja.
Lantas
muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?
Jika manusia
tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak
tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan
kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut.
Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan
rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang
tidak enak bagi manusia.
Selesai
berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang
Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia
makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa
air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak
manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang
lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan
kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga
tidak terulang di masa depan.
Hal yang saya
pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya
oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya
kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki
energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa
ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia. Imaji yang
diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang
mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib
dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka
sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja,
bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya
tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak
pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang
Allah.
Maka dari itu
Allah Ar Rahman Ar Rahim utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui
malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan
bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini
yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas
sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia
yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ,
sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri
beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala
sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik
contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.
Kisah
keteladanan Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar bahan bacaan atau kekaguman historis,
melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk diikuti (ittiba'). Generasi
terbaik umat ini, para Salafus Shalih, mengajarkan kepada
kita bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak tegak di atas filsafat atau
logika yang mengawang-awang, melainkan di atas kepatuhan yang tunduk dan
berserah diri secara penuh (taslim).
Imam Asy-Syafi'i pernah berkata bahwa fondasi agama ini adalah
berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan,
dan berlepas diri dari syirik. Ketika akal kita yang terbatas ini menyadari
betapa lemahnya diri kita—bahkan hanya untuk urusan mengeluarkan kotoran dari
perut—maka di situlah kesombongan harus runtuh.
Para ulama salaf terdahulu, ketika melihat nikmat yang tampak
sepele, mereka akan menangis karena takut tidak mampu mensyukurinya. Dikisahkan
dalam Hilyatul Auliya', Ibnu Sammak pernah masuk menemui
Khalifah Harun Ar-Rasyid yang saat itu sedang memegang segelas air untuk minum.
Ibnu Sammak bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, jika Anda
dihalangi dari meminum air ini, dengan apa Anda akan menebusnya?"
Khalifah menjawab, "Dengan setengah kerajaanku."
Setelah minum, Ibnu Sammak bertanya lagi, "Jika air itu tertahan di
dalam perutmu (tidak bisa keluar), dengan apa Anda akan menebusnya?"
Beliau menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku."
Ibnu Sammak lalu berkata, "Sungguh, kerajaan yang
harganya tidak lebih dari segelas air dan buang air tidak layak untuk
diperebutkan."
Perenungan salaf murni mengarahkan akal untuk tunduk pada wahyu,
bukan menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu. Terhadap perkara gaib yang Anda
sebutkan tadi—tentang sifat Allah, surga, dan neraka—kaidah Salafus Shalih sangat tegas: kita mengimaninya
sebagaimana teks itu datang, tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tasybih), tanpa menolak maknanya (ta'thil), dan tanpa membagaimanakan bentuknya (takyif).
Sebagaimana perkataan Imam Malik yang sangat masyhur ketika
ditanya tentang bagaimana Allah bersemayam (istiwas):
"Istiwa itu maknanya telah diketahui, bagaimananya tidak
dapat dijangkau akal, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakannya (secara
mendalam/menggugat) adalah bid'ah."
Maka, setelah azan Maghrib berkumandang dan hidangan berbuka
telah menyegarkan tenggorokan, akhir dari perenungan lima menit sebelum berbuka
tadi adalah sebuah kesadaran iman. Bahwa setiap tarikan napas, setiap detak
jantung, dan setiap suapan makanan adalah utang syukurnya seorang hamba yang
tak akan pernah lunas. Jalan satu-satunya untuk selamat dari kekufuran adalah
dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah, serta berjalan di atas syariat
yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dengan pemahaman para sahabat beliau. Karena
sungguh, beragama dengan akal tanpa bimbingan wahyu dan manhaj yang lurus hanya
akan membawa manusia pada kesesatan.
Melanjutkan estafet perenungan tersebut, para ulama Salafus Shalih senantiasa memandang bahwa kesadaran
akan kelemahan fisik manusia adalah pintu gerbang menuju ketundukan batin yang
paling dalam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin
bahkan secara spesifik mengulas adab dan hikmah di balik urusan buang hajat
ini, di mana beliau menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mengeluarkan kotoran
dari perutnya, ia seharusnya merenungkan betapa hinanya dunia dan makanan yang
tadinya lezat namun akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan, sekaligus
menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah memisahkan sari makanan
yang bermanfaat bagi tubuh dan membuang ampas yang berbahaya. Kesadaran inilah
yang kemudian melahirkan rasa takut (khauf) yang
proporsional di dalam hati mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam banyak
risalahnya menegaskan bahwa ibadah yang agung senantiasa tegak di atas dua
pilar utama, yaitu cinta yang sempurna (kamalul hubb) kepada
Allah dan ketundukan yang mutlak (kamaluz dzull) di
hadapan-Nya, yang mana kedua pilar ini tidak akan pernah tercapai jika seorang
manusia masih memelihara kesombongan intelektual atau merasa bisa hidup mandiri
tanpa ketergantungan penuh kepada Sang Pencipta.
Lebih jauh lagi, para ulama salaf mengajarkan agar setiap nikmat
yang dirasakan, sekecil apa pun itu, langsung dikembalikan kepada tauhid dan
rasa syukur, bukan sekadar dipikirkan secara logika spekulatif. Imam Hasan
Al-Bashri sering kali mengingatkan murid-muridnya bahwa banyak manusia yang
binasa justru karena mereka tenggelam dalam limpahan nikmat dari Allah, namun
akal mereka lalai untuk menyukuri dan menganggap semua itu terjadi hanya karena
hukum alam atau usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad ﷺ
mengajarkan doa setelah keluar dari kamar mandi yang berbunyi "Ghufronaka" (Aku memohon ampunan-Mu), para
ulama menjelaskan hikmah mendalam di balik doa singkat tersebut; salah satunya
adalah karena seorang hamba menyadari bahwa sekencang apa pun ia berusaha, ia
tidak akan pernah mampu membayar tunai hak syukur atas nikmat pencernaan yang
lancar dan kesehatan yang ia terima selama berada di dalam toilet tadi. Pada
akhirnya, manhaj salaf menuntun kita semua untuk menutup setiap perenungan akal
dengan aksi nyata: memperbanyak istighfar atas kelalaian kita, mempertebal
ketakwaan, dan menyandarkan seluruh urusan hidup—mulai dari perkara perut
hingga perkara akhirat—hanya kepada syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah
ﷺ.
Adapun mengenai hakikat nikmat yang melekat pada tubuh, manhaj Salafus Shalih mengajarkan sebuah konsep radikal
mengenai apa yang sebenarnya "benar-benar milik kita" di dunia ini.
Sering kali manusia merasa bahwa rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau
tabungan yang menumpuk di bank adalah mutlak miliknya. Namun, Rasulullah ﷺ
meluruskan cara pandang keliru ini lewat sebuah hadis yang sangat menyentuh
hati, yang membatasi hakikat nikmat duniawi yang kita miliki hanya pada tiga
perkara: pakaian yang usang, makanan yang habis, dan harta yang disedekahkan.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin
Asy-Syikhkhir radiallahu 'anhu, beliau berkata:
"Aku mendatangi Nabi ﷺ dan beliau sedang membaca ayat
'Al-haakumut-takaatsur' (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu). Kemudian
beliau ﷺ bersabda: 'Manusia berkata: Hartaku! Hartaku! Padahal tidak ada bagian
dari hartamu wahai manusia, kecuali apa yang kamu makan lalu kamu habiskan,
atau apa yang kamu pakai lalu kamu usangkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu
kamu kekalkan (di akhirat).'
Para ulama salaf ketika menjabarkan hadis ini memberikan catatan
kaki yang sangat mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari. Imam An-Nawawi dalam
kitab Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini adalah
tamparan keras bagi manusia yang hobi menumpuk harta tanpa tujuan akhirat.
Beliau memaparkan bahwa dari seluruh nikmat materi yang kita kejar setengah
mati di dunia ini, yang menjadi hak milik sejati kita dan mendatangkan manfaat
hanyalah tiga hal tersebut. Dua di antaranya (makanan dan pakaian) bersifat
fana dan akan lenyap di dunia, sedangkan hal ketiga—yaitu harta yang
disedekahkan—adalah satu-satunya investasi yang abadi, yang nilainya akan terus
berlipat ganda dan menyambut kita di alam kubur serta mahsyar nanti.
Sejalan dengan itu, Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wal Hikam mengingatkan bahwa seorang
mukmin yang cerdas tidak akan tertipu oleh angka-angka di atas kertas atau aset
yang tidak dibawanya mati. Beliau menekankan bahwa makanan yang kita nikmati
saat berbuka puasa dan pakaian yang menempel di badan kita saat ini, semuanya
akan dimintai pertanggungjawaban (hisab) dari mana
didapatkan dan untuk apa digunakan. Sebaliknya, apa yang kita keluarkan untuk
sedekah justru telah terbebas dari beban hisab duniawi dan
berubah menjadi naungan yang sejuk di hari kiamat. Melalui pemahaman para ulama
salaf ini, kita diajak untuk menata kembali prioritas hati kita: menikmati
makanan dan pakaian secukupnya sebagai sarana ibadah, dan mengalirkan sisa
rezeki ke jalur sedekah agar nikmat tersebut sifatnya abadi dan tidak selesai
begitu saja di liang lahat.
Melanjutkan jejak spiritual generasi terbaik ini, sejarah
mencatat betapa para ulama Salafus Shalih
memiliki tingkat sensitivitas yang luar biasa tinggi terhadap nikmat yang
sering dianggap sepele oleh manusia modern. Di mata mereka, tidak ada nikmat
yang "kecil", karena setiap nikmat bersumber dari Dzat Yang Maha
Besar. Kesadaran ini tercermin erat dalam perilaku keseharian mereka, mulai
dari cara mereka memandang seteguk air, sebutir kurma, hingga hembusan napas
yang lancar.
Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah perilaku Al-Fudhail
bin 'Iyadh, seorang ulama besar yang dikenal dengan zuhudnya. Suatu ketika,
beliau memegang sebuah roti kecil, lalu beliau menangis tersedu-sedu hingga
janggutnya basah. Ketika murid-muridnya bertanya apa yang membuat beliau
menangis, beliau menjawab bahwa beliau takut tidak mampu menunaikan hak syukur
atas sepotong roti tersebut, karena di dalam sepotong roti itu terdapat jerih
payah banyak makhluk Allah—mulai dari petani yang menanam gandum, awan yang
membawa hujan, matahari yang menyinarinya, hingga tukang roti yang membakarnya.
Bagi Al-Fudhail, sepotong roti adalah orkestrasi besar dari alam semesta yang
digerakkan Allah hanya untuk mengenyangkan perutnya yang kecil.
Contoh kelembutan hati lainnya ditunjukkan oleh Khalifah Umar
bin Abdul Aziz. Dikisahkan oleh para perawi sejarah, ketika beliau mencium bau
wangi dari minyak kasturi milik kas negara (Baitul Mal), beliau segera menutup
hidungnya dengan pakaian beliau. Ketika orang-orang di sekitarnya heran dan
bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, sang khalifah yang zahid ini
menjawab, "Sesungguhnya manfaat dari minyak kasturi ini hanyalah
aromanya, dan aku khawatir aku telah memakan hak kaum muslimin (menikmati
fasilitas negara) melalui indra penciumanku secara batil." Bagi
Umar bin Abdul Aziz, bisa menikmati aroma wangi adalah sebuah nikmat, dan
beliau sangat berhati-hati agar nikmat indra tersebut tidak menjadi beban hisab yang berat di hadapan Allah kelak.
Begitu pula dengan sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari radiallahu 'anhu. Beliau pernah ditanya oleh seseorang
mengapa beliau terlihat sangat bahagia padahal di rumahnya hampir tidak ada
perabot berharga atau makanan yang mewah. Beliau kemudian mengambil segelas air
putih dan sepotong roti kering, lalu bersabda, "Bagaimana aku tidak
bahagia, sedangkan setiap hari aku bangun dalam keadaan aman di rumahku,
tubuhku sehat, dan aku memiliki makanan untuk hari ini? Sungguh, demi Allah,
dunia dan seluruh isinya telah dikumpulkan untukku." Pandangan
ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa yang bangun di pagi hari
dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan
untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dianugerahkan kepadanya. Melalui
contoh-contoh nyata dari para salaf ini, kita diajak untuk melatih mata dan
hati kita agar selalu mampu melihat kebesaran Allah di balik hal-hal yang
sederhana, sehingga setiap aktivitas sepele—termasuk kelancaran buang hajat
yang Anda renungkan di toilet tadi—selalu berbuah sujud syukur yang tulus.
Sebaliknya, para ulama Salafus Shalih juga
memberikan peringatan keras melalui lisan dan catatan sejarah mereka tentang
bahaya laten dari kekufuran—terutama sikap meremehkan dosa atau mengabaikan
nikmat yang dianggap kecil. Di mata mereka, tidak ada kekufuran yang sepele.
Menganggap remeh sebuah nikmat, sekecil apa pun itu, adalah langkah awal menuju
hilangnya keberkahan dan datangnya murka Allah.
Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitabnya, Asy-Syukr,
meriwayatkan sebuah nasihat yang sangat menggetarkan dari salah seorang ulama
tabi'in terkemuka, Bilal bin Sa'id. Beliau pernah mengingatkan murid-muridnya
dengan perkataan yang masyhur:
"Janganlah kamu melihat pada kecilnya suatu kemaksiatan (atau
kekufuran), tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat."
Bagi generasi salaf, ketika seorang hamba meremehkan satu suap
makanan yang terbuang, atau mengeluh karena rasa makanan yang kurang sesuai
selera, ia tidak sedang sekadar berhadapan dengan makanan tersebut, melainkan
sedang menunjukkan sikap kurang beradab kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Contoh
nyata mengenai dampak buruk dari kekufuran yang dianggap kecil ini dikisahkan
dalam riwayat tentang penduduk sebuah negeri yang awalnya hidup dalam
kelimpahan. Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat mengulas surat An-Nahl
ayat 112—tentang negeri yang aman dan tenteram lalu kufur terhadap nikmat
Allah—menyebutkan bahwa bentuk awal kekufuran mereka sering kali dimulai dari
hal-hal yang dianggap lumrah dalam keseharian: yaitu menyia-nyiakan makanan
karena merasa pasokan selalu ada. Mereka mulai membuang sisa makanan ke tempat
kotoran, membiarkan roti membusuk karena bosan, hingga akhirnya Allah mencabut
rasa aman dan menimpakan bencana kelaparan. Di tingkat personal, para ulama
salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri bahkan merasa takut jika suatu hari beliau
telat menghadiri salat berjamaah atau mengalami kebuntuan dalam memahami satu
ayat Al-Qur'an; beliau akan langsung bermasabah diri dan berkata, "Aku tahu, ini pasti akibat dari satu tawa yang berlebihan
atau satu suap makanan syubhat (yang tidak disyukuri dengan benar) yang aku
lakukan beberapa waktu lalu."
Sikap berhati-hati ini juga tercermin dari bagaimana para
sahabat memandang pergeseran perilaku generasi setelah mereka. Sahabat Anas bin
Malik radiallahu 'anhu pernah berkata kepada para tabi'in
pada masanya:
"Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang di mata
kalian hal itu lebih tipis dari sehelai rambut (dianggap remeh/kecil), padahal
kami di zaman Rasulullah ﷺ menganggap amalan tersebut sebagai hal yang
membinasakan." (HR. Bukhari).
Dari contoh kebalikannya ini, pemahaman salaf menuntun kita pada
satu kesimpulan yang tegas: kekufuran kecil berupa keluhan, sifat manja
terhadap fasilitas hidup, serta meremehkan sisa makanan atau nikmat sehat,
adalah racun yang perlahan namun pasti akan mengeraskan hati. Jika kelancaran
buang hajat dan seteguk air di waktu Maghrib tadi gagal memicu rasa syukur,
maka di situlah letak titik awal kekufuran yang harus segera kita obati dengan
istighfar dan taubat yang sungguh-sungguh.
Melanjutkan untaian perenungan ini, manhaj Salafus Shalih juga memberikan rambu-rambu yang sangat
ketat mengenai perkara syubhat (perkara yang samar-samar atau tidak
jelas halal-haramnya) dalam memandang dan memperlakukan nikmat. Di
era modern, manusia sering kali berpikir bahwa selama suatu nikmat materi atau
fasilitas hidup sudah berada di tangan mereka, maka mereka bebas menikmatinya
tanpa perlu memikirkan asal-usul atau dampak spiritualnya. Namun, bagi para
ulama salaf, nikmat yang tercampur dengan syubhat adalah ujian keimanan yang
sangat berat, karena ia bisa menjadi hijab (penghalang) antara seorang hamba
dengan kekhusyukan ibadah dan terkabulnya doa.
Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah emas dalam masalah ini
melalui hadis riwayat Nu’man bin Basyir radiallahu 'anhu
yang sangat masyhur:
"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.
Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh
banyak manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, ia
telah membersihkan agama dan kehormatannya..." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks nikmat sehari-hari, para ulama salaf menerapkan
hadis ini dengan tingkat kewaspadaan (wara') yang sangat
tinggi. Mereka memahami bahwa nikmat makanan yang masuk ke dalam perut, atau
pakaian yang melekat di badan, jika bersumber dari sesuatu yang syubhat, akan
merusak orientasi akal sehat dan melahirkan kemalasan dalam beribadah.
Imam Ahmad bin Hanbal—yang dikenal sebagai salah satu imam ahlul
hadis dan teladan dalam sifat wara’—pernah ditanya
oleh seseorang tentang apa yang bisa melunakkan hati. Beliau tidak menjawab
dengan menganjurkan banyak membaca buku filsafat atau retorika, melainkan
menjawab singkat: "Dengan memakan makanan yang halal."
Bagi Imam Ahmad, kemurnian nikmat yang dikonsumsi berbanding lurus dengan
kelembutan hati manusia. Jika makanan yang dimakan saat berbuka puasa di RM
Kencrot atau di rumah kita bersumber dari harta yang syubhat, maka energi yang
dihasilkan dari makanan tersebut cenderung akan mendorong tubuh untuk melakukan
kemaksiatan atau minimal melahirkan kelalaian.
Kisah yang paling menggetarkan tentang menjaga diri dari
syubhatnya nikmat ini datang dari Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahu 'anhu. Suatu hari, pelayan beliau membawakan
makanan, dan Abu Bakar pun memakannya satu suapan. Setelah itu, sang pelayan
bertanya, "Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?" Abu
Bakar balik bertanya, "Dari mana?" Pelayan itu
menjawab bahwa di masa jahiliyah dulu, ia pernah meramal nasib seseorang dengan
cara menipu, dan hari ini orang tersebut memberinya upah berupa makanan itu.
Mendengar hal tersebut, Abu Bakar tidak berpikir, "Ah, ini kan sudah
terlanjur tertelan," atau "Kan saya tidak tahu, jadi
tidak apa-apa." Sebaliknya, beliau langsung memasukkan jarinya
ke dalam kerongkongan dan berusaha sekuat tenaga memuntahkan kembali satu
suapan makanan tersebut sampai perutnya kosong. Beliau lalu berdoa, "Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas apa yang terbawa oleh
urat darahku dan apa yang bercampur dengan ususku dari makanan ini."
Dari pemahaman salaf yang lurus ini, kita diajak untuk menguji
kembali setiap nikmat yang kita rasakan. Ketika kita duduk merenung—baik di
bilik toilet maupun di meja makan—kita harus sadar bahwa nikmat pencernaan yang
lancar, seteguk air yang segar, dan pakaian yang nyaman, baru akan bernilai
ibadah yang murni jika jalurnya bersih dari syubhat. Menjaga diri dari yang
syubhat adalah bentuk konkret dari rasa syukur yang hakiki, agar akal kita
tetap sehat, pemahaman agama kita tetap lurus, dan setiap butir makanan yang
masuk ke tubuh kita benar-benar berkah serta menjadi bahan bakar untuk sujud
mengagungkan kuasa-Nya.
Sebagai muara akhir dari seluruh untaian perenungan ini, mari
kita kembalikan ingatan kita pada momen lima menit yang krusial sebelum azan
Maghrib berkumandang dimanapun di belahan bumi manapun di semesta ini. Ruang
toilet yang sempit dan segelas air di meja makan sesungguhnya adalah madrasah
iman yang nyata. Melalui perkara buang hajat yang lancar, seteguk air yang
membasahi tenggorokan, pakaian usang yang menutup aurat, hingga benteng kokoh
dalam menjauhi perkara syubhat, Allah ﷻ sedang meruntuhkan ego dan kesombongan
kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang fakir, yang keberlangsungan
hidupnya bergantung penuh pada belas kasih-Nya dalam setiap tarikan napas dan
detak jantung.
Manhaj Salafus Shalih telah memberikan
kompas yang terang benderang bagi akal kita yang terbatas. Mereka mengajarkan
bahwa puncak tertinggi dari pemahaman agama yang lurus bukan terletak pada
kepiawaian berteori atau berfilsafat, melainkan pada ketundukan mutlak (taslim) kepada wahyu, pemurnian tauhid, serta
keteladanan yang utuh (ittiba') kepada Nabi Muhammad ﷺ
dari A sampai Z. Ketika seorang hamba mampu melihat kebesaran Allah di balik
nikmat-nikmat yang dianggap sepele oleh dunia, maka hatinya akan senantiasa
dipenuhi oleh rasa takut (khauf) akan
hilangnya nikmat dan rasa harap (raja') akan kekalnya
pahala di akhirat.
Maka sudah sepatutnya selayaknyalah setiap kali kita selesai menuntaskan
hajat dan melangkah keluar, lisan kita tidak sekadar mengucap doa secara lisan,
melainkan hati kita ikut bersujud sembari membisikkan rasa syukur yang
mendalam. Kita memohon ampunan (Ghufronaka) atas
segala kelalaian dalam mensyukuri nikmat-Nya yang tak terbilang. Semoga Allah ﷻ
senantiasa mengaruniakan kepada kita akal yang sehat untuk mengambil pelajaran
dari generasi terdahulu, menjaga jasad kita dari makanan yang syubhat, dan
mengumpulkan kita bersama sebaik-baik contoh manusia, Rasulullah ﷺ, di dalam
surga-Nya yang tak pernah terlihat oleh mata dan tak pernah terlintas di hati
manusia. Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi Kitab:
·
Sahih Muslim, Kitab Azh-Zuhd war Raqa'iq (Kitab Zuhud
dan Kelembutan Hati), nomor hadis 2958.
·
Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, nomor hadis 3354
(Imam At-Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan sahih).
·
Sunan An-Nasa'i, Kitab Al-Washaya (Wasiat), nomor hadis
3613.
·
Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 24.
·
Adhwa' al-Bayan fi Idhah
al-Qur'an bi al-Qur'an
·
https://rumaysho.com/3347-tak-sanggup-menghitung-nikmat-allah.html
No comments:
Post a Comment