Thursday, July 9, 2026

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib (Revisi)

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib

RM Kencrot

Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

 

Yang dimaksud dengan ayat ini disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 278), “Jika kalian tidak mampu menghitungnya, lebih-lebih untuk mensyukuri semuanya. Namun kekurangan dan kedurhakaan kalian masih Allah maafkan (bagi yang mau bertaubat, -pen), Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan dalam kitab tafsirnya (4: 675), “Allah benar-benar memaafkan kalian. Jika kalian dituntut unutk mensyukuri semua nikmat yang Allah beri, tentu kalian tidak mampu mensyukurinya. Jika kalian diperintah untuk mensyukuri seluruh nikmat tersebut, tentu kalian tidak mampu dan bahkan enggan untuk bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah itu zholim. Akan tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”

Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Sesungguhnya Allah memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali taat dan ingin menggapai ridho Allah, Dia sungguh menyayangi kalian dengan ia tidak akan menyiksa kalian setelah kalian betul-betul bertaubat.” Demikian beliau sebutkan dalam Jami’ul Bayan fii Ta’wil Ayyil Qur’an, 8: 119.

Muhammad Al Amin Asy Syinqithi menjelaskan, “Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak mampu menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu setelahnya Allah sebutkan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan atas kekurangan manusia dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Namun Allah masih mengampuni siapa saja yang bertaubat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat. Hal ini diisyaratkan pula dalam ayat,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34). Setiap nikmat memang dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya dari surat An Nahl,

 

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl : 53). (Lihat Adhwaul Bayan, 3: 231).

 

Dalam ayat ini pula, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi memberikan pelajaran kaedah bahasa Arab bahwa isim mufrod jika disandarkan pada isim ma’rifah, maka menunjukkan makna umum. Semisal dalam ayat ini kata “ni’mat Allah”. Nikmat itu mufrod (tunggal), lafazh jalalah “Allah” adalah isim ma’rifah. Jadi yang dimaksud adalah seluruh nikmat, bukan hanya satu nikmat saja.

Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?

Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.

Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.

Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia.  Imaji yang diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.

Maka dari itu Allah Ar Rahman Ar Rahim utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.

Kisah keteladanan Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar bahan bacaan atau kekaguman historis, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk diikuti (ittiba'). Generasi terbaik umat ini, para Salafus Shalih, mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak tegak di atas filsafat atau logika yang mengawang-awang, melainkan di atas kepatuhan yang tunduk dan berserah diri secara penuh (taslim).

Imam Asy-Syafi'i pernah berkata bahwa fondasi agama ini adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik. Ketika akal kita yang terbatas ini menyadari betapa lemahnya diri kita—bahkan hanya untuk urusan mengeluarkan kotoran dari perut—maka di situlah kesombongan harus runtuh.

Para ulama salaf terdahulu, ketika melihat nikmat yang tampak sepele, mereka akan menangis karena takut tidak mampu mensyukurinya. Dikisahkan dalam Hilyatul Auliya', Ibnu Sammak pernah masuk menemui Khalifah Harun Ar-Rasyid yang saat itu sedang memegang segelas air untuk minum. Ibnu Sammak bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, jika Anda dihalangi dari meminum air ini, dengan apa Anda akan menebusnya?" Khalifah menjawab, "Dengan setengah kerajaanku." Setelah minum, Ibnu Sammak bertanya lagi, "Jika air itu tertahan di dalam perutmu (tidak bisa keluar), dengan apa Anda akan menebusnya?" Beliau menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku." Ibnu Sammak lalu berkata, "Sungguh, kerajaan yang harganya tidak lebih dari segelas air dan buang air tidak layak untuk diperebutkan."

Perenungan salaf murni mengarahkan akal untuk tunduk pada wahyu, bukan menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu. Terhadap perkara gaib yang Anda sebutkan tadi—tentang sifat Allah, surga, dan neraka—kaidah Salafus Shalih sangat tegas: kita mengimaninya sebagaimana teks itu datang, tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tasybih), tanpa menolak maknanya (ta'thil), dan tanpa membagaimanakan bentuknya (takyif).

Sebagaimana perkataan Imam Malik yang sangat masyhur ketika ditanya tentang bagaimana Allah bersemayam (istiwas):

"Istiwa itu maknanya telah diketahui, bagaimananya tidak dapat dijangkau akal, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakannya (secara mendalam/menggugat) adalah bid'ah."

Maka, setelah azan Maghrib berkumandang dan hidangan berbuka telah menyegarkan tenggorokan, akhir dari perenungan lima menit sebelum berbuka tadi adalah sebuah kesadaran iman. Bahwa setiap tarikan napas, setiap detak jantung, dan setiap suapan makanan adalah utang syukurnya seorang hamba yang tak akan pernah lunas. Jalan satu-satunya untuk selamat dari kekufuran adalah dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah, serta berjalan di atas syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dengan pemahaman para sahabat beliau. Karena sungguh, beragama dengan akal tanpa bimbingan wahyu dan manhaj yang lurus hanya akan membawa manusia pada kesesatan.

Melanjutkan estafet perenungan tersebut, para ulama Salafus Shalih senantiasa memandang bahwa kesadaran akan kelemahan fisik manusia adalah pintu gerbang menuju ketundukan batin yang paling dalam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahkan secara spesifik mengulas adab dan hikmah di balik urusan buang hajat ini, di mana beliau menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mengeluarkan kotoran dari perutnya, ia seharusnya merenungkan betapa hinanya dunia dan makanan yang tadinya lezat namun akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan, sekaligus menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah memisahkan sari makanan yang bermanfaat bagi tubuh dan membuang ampas yang berbahaya. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasa takut (khauf) yang proporsional di dalam hati mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam banyak risalahnya menegaskan bahwa ibadah yang agung senantiasa tegak di atas dua pilar utama, yaitu cinta yang sempurna (kamalul hubb) kepada Allah dan ketundukan yang mutlak (kamaluz dzull) di hadapan-Nya, yang mana kedua pilar ini tidak akan pernah tercapai jika seorang manusia masih memelihara kesombongan intelektual atau merasa bisa hidup mandiri tanpa ketergantungan penuh kepada Sang Pencipta.

Lebih jauh lagi, para ulama salaf mengajarkan agar setiap nikmat yang dirasakan, sekecil apa pun itu, langsung dikembalikan kepada tauhid dan rasa syukur, bukan sekadar dipikirkan secara logika spekulatif. Imam Hasan Al-Bashri sering kali mengingatkan murid-muridnya bahwa banyak manusia yang binasa justru karena mereka tenggelam dalam limpahan nikmat dari Allah, namun akal mereka lalai untuk menyukuri dan menganggap semua itu terjadi hanya karena hukum alam atau usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa setelah keluar dari kamar mandi yang berbunyi "Ghufronaka" (Aku memohon ampunan-Mu), para ulama menjelaskan hikmah mendalam di balik doa singkat tersebut; salah satunya adalah karena seorang hamba menyadari bahwa sekencang apa pun ia berusaha, ia tidak akan pernah mampu membayar tunai hak syukur atas nikmat pencernaan yang lancar dan kesehatan yang ia terima selama berada di dalam toilet tadi. Pada akhirnya, manhaj salaf menuntun kita semua untuk menutup setiap perenungan akal dengan aksi nyata: memperbanyak istighfar atas kelalaian kita, mempertebal ketakwaan, dan menyandarkan seluruh urusan hidup—mulai dari perkara perut hingga perkara akhirat—hanya kepada syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Adapun mengenai hakikat nikmat yang melekat pada tubuh, manhaj Salafus Shalih mengajarkan sebuah konsep radikal mengenai apa yang sebenarnya "benar-benar milik kita" di dunia ini. Sering kali manusia merasa bahwa rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau tabungan yang menumpuk di bank adalah mutlak miliknya. Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan cara pandang keliru ini lewat sebuah hadis yang sangat menyentuh hati, yang membatasi hakikat nikmat duniawi yang kita miliki hanya pada tiga perkara: pakaian yang usang, makanan yang habis, dan harta yang disedekahkan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Asy-Syikhkhir radiallahu 'anhu, beliau berkata:

"Aku mendatangi Nabi ﷺ dan beliau sedang membaca ayat 'Al-haakumut-takaatsur' (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu). Kemudian beliau ﷺ bersabda: 'Manusia berkata: Hartaku! Hartaku! Padahal tidak ada bagian dari hartamu wahai manusia, kecuali apa yang kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu kamu usangkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu kekalkan (di akhirat).'

Para ulama salaf ketika menjabarkan hadis ini memberikan catatan kaki yang sangat mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini adalah tamparan keras bagi manusia yang hobi menumpuk harta tanpa tujuan akhirat. Beliau memaparkan bahwa dari seluruh nikmat materi yang kita kejar setengah mati di dunia ini, yang menjadi hak milik sejati kita dan mendatangkan manfaat hanyalah tiga hal tersebut. Dua di antaranya (makanan dan pakaian) bersifat fana dan akan lenyap di dunia, sedangkan hal ketiga—yaitu harta yang disedekahkan—adalah satu-satunya investasi yang abadi, yang nilainya akan terus berlipat ganda dan menyambut kita di alam kubur serta mahsyar nanti.

Sejalan dengan itu, Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wal Hikam mengingatkan bahwa seorang mukmin yang cerdas tidak akan tertipu oleh angka-angka di atas kertas atau aset yang tidak dibawanya mati. Beliau menekankan bahwa makanan yang kita nikmati saat berbuka puasa dan pakaian yang menempel di badan kita saat ini, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban (hisab) dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan. Sebaliknya, apa yang kita keluarkan untuk sedekah justru telah terbebas dari beban hisab duniawi dan berubah menjadi naungan yang sejuk di hari kiamat. Melalui pemahaman para ulama salaf ini, kita diajak untuk menata kembali prioritas hati kita: menikmati makanan dan pakaian secukupnya sebagai sarana ibadah, dan mengalirkan sisa rezeki ke jalur sedekah agar nikmat tersebut sifatnya abadi dan tidak selesai begitu saja di liang lahat.

Melanjutkan jejak spiritual generasi terbaik ini, sejarah mencatat betapa para ulama Salafus Shalih memiliki tingkat sensitivitas yang luar biasa tinggi terhadap nikmat yang sering dianggap sepele oleh manusia modern. Di mata mereka, tidak ada nikmat yang "kecil", karena setiap nikmat bersumber dari Dzat Yang Maha Besar. Kesadaran ini tercermin erat dalam perilaku keseharian mereka, mulai dari cara mereka memandang seteguk air, sebutir kurma, hingga hembusan napas yang lancar.

Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah perilaku Al-Fudhail bin 'Iyadh, seorang ulama besar yang dikenal dengan zuhudnya. Suatu ketika, beliau memegang sebuah roti kecil, lalu beliau menangis tersedu-sedu hingga janggutnya basah. Ketika murid-muridnya bertanya apa yang membuat beliau menangis, beliau menjawab bahwa beliau takut tidak mampu menunaikan hak syukur atas sepotong roti tersebut, karena di dalam sepotong roti itu terdapat jerih payah banyak makhluk Allah—mulai dari petani yang menanam gandum, awan yang membawa hujan, matahari yang menyinarinya, hingga tukang roti yang membakarnya. Bagi Al-Fudhail, sepotong roti adalah orkestrasi besar dari alam semesta yang digerakkan Allah hanya untuk mengenyangkan perutnya yang kecil.

Contoh kelembutan hati lainnya ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan oleh para perawi sejarah, ketika beliau mencium bau wangi dari minyak kasturi milik kas negara (Baitul Mal), beliau segera menutup hidungnya dengan pakaian beliau. Ketika orang-orang di sekitarnya heran dan bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, sang khalifah yang zahid ini menjawab, "Sesungguhnya manfaat dari minyak kasturi ini hanyalah aromanya, dan aku khawatir aku telah memakan hak kaum muslimin (menikmati fasilitas negara) melalui indra penciumanku secara batil." Bagi Umar bin Abdul Aziz, bisa menikmati aroma wangi adalah sebuah nikmat, dan beliau sangat berhati-hati agar nikmat indra tersebut tidak menjadi beban hisab yang berat di hadapan Allah kelak.

Begitu pula dengan sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari radiallahu 'anhu. Beliau pernah ditanya oleh seseorang mengapa beliau terlihat sangat bahagia padahal di rumahnya hampir tidak ada perabot berharga atau makanan yang mewah. Beliau kemudian mengambil segelas air putih dan sepotong roti kering, lalu bersabda, "Bagaimana aku tidak bahagia, sedangkan setiap hari aku bangun dalam keadaan aman di rumahku, tubuhku sehat, dan aku memiliki makanan untuk hari ini? Sungguh, demi Allah, dunia dan seluruh isinya telah dikumpulkan untukku." Pandangan ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dianugerahkan kepadanya. Melalui contoh-contoh nyata dari para salaf ini, kita diajak untuk melatih mata dan hati kita agar selalu mampu melihat kebesaran Allah di balik hal-hal yang sederhana, sehingga setiap aktivitas sepele—termasuk kelancaran buang hajat yang Anda renungkan di toilet tadi—selalu berbuah sujud syukur yang tulus.

Sebaliknya, para ulama Salafus Shalih juga memberikan peringatan keras melalui lisan dan catatan sejarah mereka tentang bahaya laten dari kekufuran—terutama sikap meremehkan dosa atau mengabaikan nikmat yang dianggap kecil. Di mata mereka, tidak ada kekufuran yang sepele. Menganggap remeh sebuah nikmat, sekecil apa pun itu, adalah langkah awal menuju hilangnya keberkahan dan datangnya murka Allah.

Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitabnya, Asy-Syukr, meriwayatkan sebuah nasihat yang sangat menggetarkan dari salah seorang ulama tabi'in terkemuka, Bilal bin Sa'id. Beliau pernah mengingatkan murid-muridnya dengan perkataan yang masyhur:

"Janganlah kamu melihat pada kecilnya suatu kemaksiatan (atau kekufuran), tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat."

Bagi generasi salaf, ketika seorang hamba meremehkan satu suap makanan yang terbuang, atau mengeluh karena rasa makanan yang kurang sesuai selera, ia tidak sedang sekadar berhadapan dengan makanan tersebut, melainkan sedang menunjukkan sikap kurang beradab kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Contoh nyata mengenai dampak buruk dari kekufuran yang dianggap kecil ini dikisahkan dalam riwayat tentang penduduk sebuah negeri yang awalnya hidup dalam kelimpahan. Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat mengulas surat An-Nahl ayat 112—tentang negeri yang aman dan tenteram lalu kufur terhadap nikmat Allah—menyebutkan bahwa bentuk awal kekufuran mereka sering kali dimulai dari hal-hal yang dianggap lumrah dalam keseharian: yaitu menyia-nyiakan makanan karena merasa pasokan selalu ada. Mereka mulai membuang sisa makanan ke tempat kotoran, membiarkan roti membusuk karena bosan, hingga akhirnya Allah mencabut rasa aman dan menimpakan bencana kelaparan. Di tingkat personal, para ulama salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri bahkan merasa takut jika suatu hari beliau telat menghadiri salat berjamaah atau mengalami kebuntuan dalam memahami satu ayat Al-Qur'an; beliau akan langsung bermasabah diri dan berkata, "Aku tahu, ini pasti akibat dari satu tawa yang berlebihan atau satu suap makanan syubhat (yang tidak disyukuri dengan benar) yang aku lakukan beberapa waktu lalu."

Sikap berhati-hati ini juga tercermin dari bagaimana para sahabat memandang pergeseran perilaku generasi setelah mereka. Sahabat Anas bin Malik radiallahu 'anhu pernah berkata kepada para tabi'in pada masanya:

"Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang di mata kalian hal itu lebih tipis dari sehelai rambut (dianggap remeh/kecil), padahal kami di zaman Rasulullah ﷺ menganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan." (HR. Bukhari).

Dari contoh kebalikannya ini, pemahaman salaf menuntun kita pada satu kesimpulan yang tegas: kekufuran kecil berupa keluhan, sifat manja terhadap fasilitas hidup, serta meremehkan sisa makanan atau nikmat sehat, adalah racun yang perlahan namun pasti akan mengeraskan hati. Jika kelancaran buang hajat dan seteguk air di waktu Maghrib tadi gagal memicu rasa syukur, maka di situlah letak titik awal kekufuran yang harus segera kita obati dengan istighfar dan taubat yang sungguh-sungguh.

Melanjutkan untaian perenungan ini, manhaj Salafus Shalih juga memberikan rambu-rambu yang sangat ketat mengenai perkara syubhat (perkara yang samar-samar atau tidak jelas halal-haramnya) dalam memandang dan memperlakukan nikmat. Di era modern, manusia sering kali berpikir bahwa selama suatu nikmat materi atau fasilitas hidup sudah berada di tangan mereka, maka mereka bebas menikmatinya tanpa perlu memikirkan asal-usul atau dampak spiritualnya. Namun, bagi para ulama salaf, nikmat yang tercampur dengan syubhat adalah ujian keimanan yang sangat berat, karena ia bisa menjadi hijab (penghalang) antara seorang hamba dengan kekhusyukan ibadah dan terkabulnya doa.

Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah emas dalam masalah ini melalui hadis riwayat Nu’man bin Basyir radiallahu 'anhu yang sangat masyhur:

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatannya..." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks nikmat sehari-hari, para ulama salaf menerapkan hadis ini dengan tingkat kewaspadaan (wara') yang sangat tinggi. Mereka memahami bahwa nikmat makanan yang masuk ke dalam perut, atau pakaian yang melekat di badan, jika bersumber dari sesuatu yang syubhat, akan merusak orientasi akal sehat dan melahirkan kemalasan dalam beribadah.

Imam Ahmad bin Hanbal—yang dikenal sebagai salah satu imam ahlul hadis dan teladan dalam sifat wara’—pernah ditanya oleh seseorang tentang apa yang bisa melunakkan hati. Beliau tidak menjawab dengan menganjurkan banyak membaca buku filsafat atau retorika, melainkan menjawab singkat: "Dengan memakan makanan yang halal." Bagi Imam Ahmad, kemurnian nikmat yang dikonsumsi berbanding lurus dengan kelembutan hati manusia. Jika makanan yang dimakan saat berbuka puasa di RM Kencrot atau di rumah kita bersumber dari harta yang syubhat, maka energi yang dihasilkan dari makanan tersebut cenderung akan mendorong tubuh untuk melakukan kemaksiatan atau minimal melahirkan kelalaian.

Kisah yang paling menggetarkan tentang menjaga diri dari syubhatnya nikmat ini datang dari Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahu 'anhu. Suatu hari, pelayan beliau membawakan makanan, dan Abu Bakar pun memakannya satu suapan. Setelah itu, sang pelayan bertanya, "Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?" Abu Bakar balik bertanya, "Dari mana?" Pelayan itu menjawab bahwa di masa jahiliyah dulu, ia pernah meramal nasib seseorang dengan cara menipu, dan hari ini orang tersebut memberinya upah berupa makanan itu. Mendengar hal tersebut, Abu Bakar tidak berpikir, "Ah, ini kan sudah terlanjur tertelan," atau "Kan saya tidak tahu, jadi tidak apa-apa." Sebaliknya, beliau langsung memasukkan jarinya ke dalam kerongkongan dan berusaha sekuat tenaga memuntahkan kembali satu suapan makanan tersebut sampai perutnya kosong. Beliau lalu berdoa, "Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas apa yang terbawa oleh urat darahku dan apa yang bercampur dengan ususku dari makanan ini."

Dari pemahaman salaf yang lurus ini, kita diajak untuk menguji kembali setiap nikmat yang kita rasakan. Ketika kita duduk merenung—baik di bilik toilet maupun di meja makan—kita harus sadar bahwa nikmat pencernaan yang lancar, seteguk air yang segar, dan pakaian yang nyaman, baru akan bernilai ibadah yang murni jika jalurnya bersih dari syubhat. Menjaga diri dari yang syubhat adalah bentuk konkret dari rasa syukur yang hakiki, agar akal kita tetap sehat, pemahaman agama kita tetap lurus, dan setiap butir makanan yang masuk ke tubuh kita benar-benar berkah serta menjadi bahan bakar untuk sujud mengagungkan kuasa-Nya.

Sebagai muara akhir dari seluruh untaian perenungan ini, mari kita kembalikan ingatan kita pada momen lima menit yang krusial sebelum azan Maghrib berkumandang dimanapun di belahan bumi manapun di semesta ini. Ruang toilet yang sempit dan segelas air di meja makan sesungguhnya adalah madrasah iman yang nyata. Melalui perkara buang hajat yang lancar, seteguk air yang membasahi tenggorokan, pakaian usang yang menutup aurat, hingga benteng kokoh dalam menjauhi perkara syubhat, Allah ﷻ sedang meruntuhkan ego dan kesombongan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang fakir, yang keberlangsungan hidupnya bergantung penuh pada belas kasih-Nya dalam setiap tarikan napas dan detak jantung.

Manhaj Salafus Shalih telah memberikan kompas yang terang benderang bagi akal kita yang terbatas. Mereka mengajarkan bahwa puncak tertinggi dari pemahaman agama yang lurus bukan terletak pada kepiawaian berteori atau berfilsafat, melainkan pada ketundukan mutlak (taslim) kepada wahyu, pemurnian tauhid, serta keteladanan yang utuh (ittiba') kepada Nabi Muhammad ﷺ dari A sampai Z. Ketika seorang hamba mampu melihat kebesaran Allah di balik nikmat-nikmat yang dianggap sepele oleh dunia, maka hatinya akan senantiasa dipenuhi oleh rasa takut (khauf) akan hilangnya nikmat dan rasa harap (raja') akan kekalnya pahala di akhirat.

Maka sudah sepatutnya selayaknyalah setiap kali kita selesai menuntaskan hajat dan melangkah keluar, lisan kita tidak sekadar mengucap doa secara lisan, melainkan hati kita ikut bersujud sembari membisikkan rasa syukur yang mendalam. Kita memohon ampunan (Ghufronaka) atas segala kelalaian dalam mensyukuri nikmat-Nya yang tak terbilang. Semoga Allah ﷻ senantiasa mengaruniakan kepada kita akal yang sehat untuk mengambil pelajaran dari generasi terdahulu, menjaga jasad kita dari makanan yang syubhat, dan mengumpulkan kita bersama sebaik-baik contoh manusia, Rasulullah ﷺ, di dalam surga-Nya yang tak pernah terlihat oleh mata dan tak pernah terlintas di hati manusia. Wallahu a'lam bish-shawab.

 

Referensi Kitab:

·         Sahih Muslim, Kitab Azh-Zuhd war Raqa'iq (Kitab Zuhud dan Kelembutan Hati), nomor hadis 2958.

·         Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, nomor hadis 3354 (Imam At-Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan sahih).

·         Sunan An-Nasa'i, Kitab Al-Washaya (Wasiat), nomor hadis 3613.

·         Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 24.

·         Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bi al-Qur'an

·         https://rumaysho.com/3347-tak-sanggup-menghitung-nikmat-allah.html

No comments:

Post a Comment