Elegi Kampus Kuning: Bagian Satu - Perjumpaan
============
Duh, aku harus buru-buru. Sudah terlambat. Jam di
ponselku menunjukkan pukul 13.07. Berarti aku telah terlambat tujuh menit dari
jadwal. Walaupun toleransi waktu terlambat adalah lima belas menit.
Tergesa-gesa aku setengah berlari dari kantin sastra. Hari ini memang hari
Senin, biasa saja. Namun yang membuat spesial pake telor hari ini ujian akhir.
Terang saja aku tak ingin main-main. Ini perang hidup mati istilahnya dan juga
ada pemeo yang berkembang di kalangan kampus: posisi menentukan prestasi.
Aku berlari lurus dan kemudian belok kiri di
perpustakaan sastra. Namun ketika aku berbelok, tiba-tiba,
Brukk!
Ndilalah aku menabrak seseorang hingga membuatku
sedikit mengurangi kecepatan. Orang itu ternyata mahasiswi. Dan ternyata lagi
ia itu gadis yang selama ini ku kagumi. Ia membawa beberapa buah buku dan kamus
Jerman-Indonesia yang kontan saja berantakan akibat ku tabrak.
Naam, betul. Dialah Ayas, mahasiswi S1 Sastra Jerman
yang selama ini aku naksir padanya walau ia tak tahu.
Aku berhenti dan terhenti sejenak. Jantungku
deg-degan. Napasku agak terengah ditambah lagi bertemu sang gadis pujaanku ini.
Jeda.
Terjadi dilema batin. Di satu sisi niatku ingin
membantunya untuk membereskan buku dan kamusnya yang pating-tlethek. Namun di
sisi lain aku terpesona pada pandangan pertama. Mirip lagunya Mas Glen Fredly.
Matanya menuju ke arah mataku. Tajam namun indah.
Ia terus menatapku. Terjadi saling tatap-menatap.
Namun di sini ada perbedaan rumangsa. Aku menatapnya takjub, kagum. Ia
menatapku ditambah dengan sedikit kerutan di wajahnya, agak kesal nampaknya.
Mungkin di benaknya berkata: “ini orang udah nabrak bukannya bantuin beresin
buku gue”. Begitulah kira-kira menurutku.
Terus ku tatap parasnya. Semakin cantik walau ada rasa
kesal di raut wajahnya. Sementara itu ia membereskan buku dan kamusnya yang
berserakan tersebut. Dan aku masih saja melihatnya. Hanya jadi penonton.
Tak ada dialog. Hanya monolog batin masing-masing.
Namun tiba-tiba aku tersentak.Aku ingat, ujian akhir
telah dimulai. Aku harus buru-buru pamit dari hadapannya. Eh, aku jadi hampir
lupa membantunya membereskan perabotannya yang jatuh gara-gara ulahku. Baru aku
mau membantunya, eh ia malah sudah hampir selesai membereskan buku yang
terakhir. Aku sempat meraih ujungnya dan ia pun memegang ujung yang satu lagi.
Barulah terjadi dialog.
“Maaf ya, nggak sengaja. Gue buru-buru” ujarku sambil
menyatukan kedua telapak tangan seraya undur diri untuk kemudian kembali
setengah berlari. Mataku sempat kembali menatap wajahnya. Ia hanya mengeluarkan
ekspresi agak kesal. Namun matanya sempat menatapku untuk yang terakhir kalinya
sebelum aku pamit.
Kemudian aku berlari menuju ruangan ujian. Hatiku
berbunga-bunga karena sedikit tak percaya campur tegang karena ujian belum ku
lalui. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ku pikir lain kali aku harus bertemu
untuk minta maaf padanya. Mungkin suatu saat nanti. Entah kapan
Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua - Pasca Insiden
Semenjak insiden tabrakan yang tak terduga itu, entah
mengapa wajahnya selalu terbayang di otakku. Sebenarnya ada keinginan untuk
minta maaf, syukur-syukur sekalian berkenalan. Ya, betul, syukur. Bagiku
berkenalan dengannya kurasa itu sudah cukup.
Sebenarnya aku mengalami sebuah dilema. Bah. Macam apa
itu.
Aku sebelumnya telah terlebih dahulu menyukai seorang
gadis yang kusingkat namanya menjadi inisial GG. Ia tak ubahnya dengan Ayas,
cantik. Namun ada sisi yang berbeda antara keduanya sebagaimana yang dikatakan
oleh kawanku Mare. Maklum, namanya selera orang berbeda-beda. Tapi entah
mengapa sebenarnya aku mempunyai jiwa playboy di satu sisi namun mempunyai jiwa
setia plus pecundang di sisi satunya. Keduanya saling tarik-menarik, namun yang
menang nampaknya jiwa yang disebut kedua.
GG. Ia adalah sosok gadis yang selama ini kuimpikan di
kampus ini. Tidak terlalu cantik, namun memancarkan aura yang kuat di wajahnya.
Terutama mata dan senyumnya yang tidak bisa kulupakan. Berperawakan tidak
terlalu tinggi namun agak padat merayap. Nilai lebihnya dalam cerita ini, aku
telah berkenalan dengannya. Berbeda dengan Ayas yang belum kukenal secara
formalitas. Gilanya lagi, aku pernah bicara dengan GG terus terang mengaku
kalau aku penggemarnya. Hal ini menimbulkan banyak tanggapan dan dukungan dari
kawan-kawanku. Ada yang bilang aku hebat, pemberani dan sebagainya. Bagiku itu
biasa saja. Karena menurutku jika suatu perasaan kagum hanya disimpan dalam
hati saja kurang baik. Lebih baik jika diungkapkan pada yang bersangkutan. Dan
inilah yang kusukai dari GG, ia tidak marah. Ia hanya tersenyum.
Setelah itu aku uring-uringan. Merasa kurang enak pada
GG. Betapa tidak? Ia rela meluangkan waktunya hanya untuk berbicara dengan
orang macam aku ini. Itu adalah suatu anugrah bagiku dan mungkin juga musibah
baginya. Namun ia hanya tersenyum. Aku sempat menatap matanya. Beberapa saat
jeda. Kemudian ia merasa agak sedikit malu karena kupandang matanya yang indah
itu.
Apalagi si Mare, yang selalu bilang padaku:
“Udah lah, cuy”. Sembari mengebas-ngebaskan tangannya
pertanda bahwa ia menyuruhku untuk “menembak” gadis pujaan hatiku. Atau dengan
kalimatnya yang lain. “Sigapi lah!”. Sembari tersenyum ala penjahat.
Memangnya semudah itu, pikirku. Entah mengapa bukannya
sok jual mahal, namun aku bukan tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta
layaknya lagu dari band Matta yang berbau Don Juan yang mencintai setiap
wanita. Bukan seperti itu diriku. Namun ketika aku melihat dua sosok mahasiswi
dari jurusan yang berbeda ini, ada perasaan lain sekaligus reaksi kimia dalam
tubuhku jika bertemu atau minimal melihat salah seorang atau keduanya.
Jika aku melihat Ayas, maka reaksi berikutnya yang
terjadi adalah jantungku berdegup tak menentu atau bahasa kerennya sport
jantung.
Lain halnya jika aku melihat GG, maka reaksi
berikutnya yang terjadi adalah perutku terasa seperti orang terkena diare alias
ingin ibuang air besar. Kontraksi perut bak orang hamil.
Kedengarannya ada selentingan isu bahwa si GG sudah
punya gandengan beda jenis. Sial, pikirku jika benar. Tapi aku belum percaya
sampai aku buktikan sendiri Mungkin jika benar berarti aku belum beruntung.
Namun satu hal yang mengganjal di hatiku yakni mengenai surat misterius itu.
Pertanyaan yang muncul banyak, namun mungkin yang paling penting serta mewakili
adalah kata tanya: siapa?
Selama ini aku tak pernah berusaha mendekati
perempuan. Bukannya takut. Hanya sedang tidak berminat karena beberapa
pertimbangan. Ditambah dengan trauma masa lalu walaupun sejatinya aku orang
yang tak pernah merasa trauma terhadap sesuatu.
Bahkan sampai pada suatu malam, aku pernah bermimpi
dan si situ lagi-lagi aku bertemu orang yang selama ini bersipongang di rongga
otak serta hatiku sejak insiden tabrakan yang tak disengaja itu. Betul,
lagi-lagi Ayas menjadi peran utama protagonis dalam buah tidurku ini. Dalam
mimpiku itu aku nampak bahagia, bertolak belakang dengan realita.
Hingga menjelang subuh dan akupun terbangun oleh suara
azan. Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Syahdan ketika itu
aku teringat rentetan peristiwa ketika aku secara tidak sengaja menabrak Ayas.
Lagi-lagi yang terbayang di otakku adalah wajahnya yang selaras namanya. Aku
tersenyum sungging. Dalam lirih aku berdoa semoga saja mimpiku tadi menjadi
kenyataan. Terjadi pula monolog dalam batinku, kira-kira begini:
kau bagai candu
bersipongang dalam batinku
namamu selaras dirimu
yang buatku terpaku
butakan matahatiku
walaupun ada suatu
ku eling siapa diriku
Setelah itu aku langsung bangkit dan beranjak bangun
dari tempat tidurku. Melalui kembali kehidupan di dunia nyata. Terbersit keinginan
untuk sekedar minta maaf kepada Ayas namun ada rasa malu yang entah tiba-tiba
datang. Mungkinkah aku minta maaf? Entahlah.
Mungkin ya.
Mungkin tidak.
Namun tak mungkin ya atau tidak.
Elegi Kampus Kuning:Bagian Tiga - Surat
Hari ini Kamis. Hari ini juga aku suntuk. Jeleh.
Judeg. Banyak masalah yang kualami hari ini. Tak ada kebahagiaan. Semua terasa
hampa. Tak ada yang dapat dijadikan kegembiraan. Yang ada hanya kemuraman dan
semakin muram terasa.
Cuaca panas. Kurang bersahabat dengan suasana hatiku.
Angin bertiup lemah namun panas. Sepanas hati yang memendam emosi. Awan
beriringan lewat bersama angin. Menambah panasnya hari.
Aku berjalan perlahan. Langkahku gontai bak
penari balet pasca mabuk. Bingung mau kemana. Tak ada tujuan pasti. Aku sedang
melewati gedung perpustakaan sastra. Ingin rasanya memutar langkah untuk
kemudian masuk ke tempat ini. Namun hatiku berkata lain.
Suara azan zuhur berkumandang.
Rumangsaku ingin salat. Kupikir ini lebih baik
daripada membuang waktu. Mensucikan diri walau aku bukan orang suci. Masa bodoh
orang mau bilang aku sok suci dan sebagainya. Bagiku, dalam hidup cuma ada dua
pilihan: baik atau buruk. Tak ada diantaranya. Toh kalau aku beribadah untung
dan ruginya bukan buat mereka.
Aku berjalan menuju musalla. Melaksanakan ritual
agama. Terasa sejuk.
Selesai.
Aku menuju kantin sastra Perutku lapar. Bagiku
tercantum sebuah sikap: makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang.
Selesai. Alhamdulillah.
Masalahku belum selesai.
Dengan begitu aku percaya bahwasanya manusia hidup
pastilah memiliki masalah yang tidak akan dialami manusia hidup yang sudah tak
hidup lagi. Atau bahasa mudahnya telah wafat.
Tiba-tiba aku teringat perkataan tetanggaku, beliau
sering mengantarku berangkat ke SMA-ku dulu dengan menggunakan mobil
pribadinya. Suatu ketika jalanan macet dan anak beliau yang juga temanku
mencak-mencak gara-gara macet. Namun beliau dengan tenangnya berkata : “Hidup
itu harus disyukuri apa adanya. Kalau kita kena macet, ya disyukuri macetnya”.
Ada benarnya.
Namun masalahku selesai sampai disini.
Jeda.
Aku diam. Termenung.
Tak ada lawan bicara.
Jeda lagi
Kemudian jeda.
Tiba tiba ada yang menyentakkan lamunan sesaatku.
“Hai” sapa sebuah suara di sebelah sana.
Aku kaget. Hanya sebuah vokal yang mampu keluar dari
mulutku. “O”. Namun cepat kusambung. “Ada apa?”.
“Oh maaf”. Ternyata yang menyapaku ini perempuan.
Cepat dia menyambungnya dengan kalimat “Ganggu ya?”.”Maaf ya” gayanya sowan.
“Oh nggak”. Jawabku singkat. “Ada yang bisa
dibantu?”ujarku .
“Ah, iya. Tapi sebelumnya”. Kemudian dia mengulurkan
tangan kanannya seraya berkata. “Nama gue Dewi”.
Kusambut dengan sedikit jeda.
“Gue..,. Apa kita pernah kenalan sebelumnya?”
“Nama loe Jim kan. gue udah tau kok” potongnya.
“Tapi kita belum kenalan aja”
“Lalu?”tanyaku dengan penuh tandatanya di hati.
“Ini”
“Apa ini?”. Dia menyerahkan secarik amplop warna
putih.
“Dari temen gue. Pesannya: baca aja. Buat lo kok”.
“?!?”.
Jeda sejenak.
“Buat gue?”Aku agak kurang percaya.
“Beneran buat lo” tangkisnya.
“Ya udah. Makasih ya, bilang buat temenmu itu. Dari
siapa ini?” tanyaku dengan nada penasaran
“Kata temen gue itu, pesannya: baca aja”. “Gue cuma
nyampein doang”.
.”Oh ya udah. Makasih”. Jawabku.
“Kemudian dia pergi seraya berkata “Gue cabut dulu ya,
dah. Selamat menikmati” serunya.
Muncul tandatanya lagi di benakku.
?
Siapa gerangan yang mengirim surat di dalam amplop
putih ini. Polos. Tak ada goresan di sampulnya.
Perlahan kubuka. Apa isinya, pikirku.
Kubaca kata demi kata. Sederhana. Isinya:
Hai
Boleh nggak kenalan sama lw?.
Gue cewe yang sering liat lo
di meja biru Kansas.
Salam.
aku
Hah?!
Aku terkinjat. Teringat peristiwa waktu itu di depan
perpustakaan. Pikiranku menerawang kesana kemari. Sejurus aku coba bertanya,
apa yang akan terjadi kemudian?. Entahlah.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Empat - Efek Surat
Selang beberapa hari, selintas terngiang di telingaku
ada dua orang mahasiswi bercakap-cakap mengenai surat cinta kepada seorang
mahasiwa yang dikagumi salah seorang dari mereka. Ternyata salah seorang dari
mereka itu GG. “Lho?”. Hatiku mulai curiga baik sangka sekaligus doa penuh
harap. Semoga yang mengirim surat yang waktu itu dialah orangnya alias GG. Dan
juga semoga ketika aku berdoa ini, doaku diamini oleh para malaikat.
Kemudian hari-hari berikutnya kejadian tersebut bersipongang
terus di otakku. Apa iya, GG-lah orangnya yang merupakan jawaban dari
pertanyaan yang masih berkecamuk di otakku mengenai surat misterius itu yakni:
siapa?. Hal yang kulakukan semadyanya kemudian yakni berusaha menyelidiki siapa
gerangan penulis surat misterius atau lebih tepatnya adalah memverifikasi
antara selentingan yang telah kudengar dengan dugaanku. Ibarat Sherlock Holmes
yang selalu berhasil memecahkan kasus misteri ala detektif dengan mengumpulkan
fakta dan dugaan.
Alih-alih hal yang kulakukan untuk mengujinya adalah
mengadakan sedikit pendekatan pada GG dengan mengajaknya makan bersama di
sebuah tempat yang telah kutentukan, sebutlah di Warung TRSNO Jl. Margonda .
Masalah waktu, biar ia yang menentukan. .
Kuhubungi ia. Ia mengamini. Ditambah dengan ekspresi
antusiasnya yang membuatku semakin merasa suka padanya.
Pada hari H
Aku telah tiba lebih awal darinya. Kemudian ia datang.
Namun tunggu dulu, ada suatu hal yang mengganjal hatiku. Ternyata ada seorang
yang tak kuharapkan datang mengantarnya ke Warung TRSNO. Memang orang itu
yang adalah laki-laki tidak ikut makan bersama, hanya mengantar. Namun hal yang
kubenci adalah kulihat dengan mata kepalaku sendiri orang tak kukenal itu
memegang lengan GG untuk kemudian minta diri padanya.
Sial, pikirku. Siapa pula itu orang. Huh.
Ternyata aku tahu bahwa GG memang sudah punya
gandengan. Betul-lah isu yang beredar mengenai hal itu. Tak apalah, pikirku
kemudian.
Arkian saat ini, kata tanya berikutnya yang muncul
akibat surat misterius yakni: apakah?. Apakah benar GG yang mengirimku surat
misterius itu. Aku harus temukan jawabannya kali ini. Kemudian deretan
pertanyaan berikutnya yang telah kusiapkan adalah: mengapa? dan bagaimana?. Aku
akan memberondonginya dengan pertanyaan tersebut, itu intinya dari acara
makan-makan ini.
Ketika ia datang di hadapanku, ia melambai sambil
berkata.
“Hai. Udah lama nunggu? Maaf ya, agak telat. Tadi ada
urusan sebentar”
“Oh, gak apa-apa kok. Mari, silakan duduk”. Jawabku.
“Capek ya?” sambungku lagi.
“Lumayan. Panas banget di luar sana” serunya sambil
mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat.
“Langsung aja deh” sahutku kemudian. “Mau pesan apa?”
seraya memberikan daftar menu padanya.
“Apa aja” jawabnya sangat Melayu.
“Lho. Pilih lah. Tenang aja, gue yang bayar”. Jawabku
sangat Eropa
“Hmm..” ia menggumam. “Mi Goreng Spesial Pake
Telor Cinta” jawabnya sambil tersenyum kemudian berkata lagi,
“Kok namanya pake cinta-cintaan segala sih? tanyanya
penasaran.
“Sesuai dengan nama tempat ini, Warung TRSNO yang
berarti warung cinta dalam bahasa Jawa, gitu loh. Mbacanya bukan Te Er Es En Ow
tapi Tresno” ujarku menjawab pertanyaannya macam ilmuwan.
“O, gitu toh”. ujarnya sembari tertawa renyah
Selanjutnya percakapan terjadi dengan lancar. Terjadi
ala Melayu dengan bumbu basa-basi walau hanya sedikit berhubung makanan yang
dipesan belum kunjung datang. Karena kupikir jika aku langsung pada tujuanku
yakni menanyakan perihal surat misterius tersebut maka mungkin akan merusak
suasana nafsu makan. Jadi aku bersabar dan memilih untuk bersikap Melayu. Tak
apalah.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Lima - Ketahuan
Di tempat yang lain.
Ternyata si penulis surat misterius mengalami konflik
batin yang serupa denganku. Ia merasa uring-uringan karena belum ada sedikitpun
jua reaksi dari surat yang dibuat olehnya sebagaimana teori aksi-reaksi Newton
yang terkenal itu yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. Ia agak
berharap si penerima yang tak lain adalah diriku minimal memberikan komentar
atau apalah mengenai surat tersebut. Bahasa gampangnya ia merasa bete.
Selanjunya sebut saja si penulis misterius ini dengan
si X.
Wabakdu, ndilalah punya cerita, si X ternyata menaruh
rasa kagum terhadap diriku. Semenjak ia uring-uringan itu, tanpa setahuku ia
juga berusaha mencari tahu jatidiriku yang juga masih misterius baginya. Mulai
dari nama, asal-usul sekolah, rumah, latarbelakang dan seterusnya macam
wartawan infotainmen.
Suatu hari yakni beberapa setelah ujian akhir selesai,
aku pergi ke kampus untuk melihat nilaiku sekaligus bertemu kawan-kawanku. Hari
itu aku bertemu Mare. Ia banyak bercerita tentang hal-hal yang terjadi beberapa
waktu yang lalu. Pun ia bercerita tentang Ayas yang membuatku jadi bersemangat
nimbrung.
Mare bercerita tentang khayalan-khayalan utopis antara
aku dan Ayas. Mare bercerita andai-andai begini:
Suatu hari ia dan aku pergi ke kampus menuju
Perpustakaan Pusat atau disingkat UPT untuk mengecek nilai IP. Ternyata di saat
yang hampir bersamaan Ayas juga melakukan hal yang sama, namun kami tiba
terlebih dahulu.
Kemudian di saat kami sedang berselancar di dunia maya
untuk mengecek nilai, tiba-tiba Mare mencetuskan ide main-main untuk mencari
gambar Ayas via internet. Aku menanggapi dengan positif. Lalu kami cari-lah
gambar itu, dan ketemu. Ada banyak gambar di situ. Semuanya bagus. Langsung
saja kami klik gambar tersebut satu per satu. Kami berdua-pun terperangah
takjub.
Amboi!
Tak dinyana, tanpa diduga ada yang nyeletuk di
belakang sana. Kami konangan basah.
“Eh, itu kaya foto gue deh?” serunya.
Tiada lain yang berujar seperti adalah orang yang kami
tonton foto-fotonya, Ayas. Ia lah tokoh sentral pemandangan kami kala ini.
Kontan saja kami saling berpandangan lalu sejurus
menengok ke belakang.
??????
Jeda.
Kami kembali menatap layar komputer untuk kemudian
grusa-grusu kesusu menutup gambar tersebut. Mirip seperti lagu Ketahuan yang
populer oleh grup band Matta.
Begitulah ceritanya.
Kami berdua tertawa lepas menertawai cerita utopis
karangan Mare tersebut.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Enam - Siapa Si X?
============
Acara makan-makan di Warung TRSNO sore itu berakhir antiklimaks.
Pertanyaan mengapa dan bagaimana yang sudah kususun rapi di kepala mendadak
menguap begitu saja. Sepanjang jalan pulang menumpak angkot dari Margonda,
kepalaku justru dipenuhi oleh kontradiksi yang baru kusadari.
Aku merogoh saku jaket, mengeluarkan secarik kertas dari amplop
putih polos yang kini sudah agak lecek. Kubaca lagi baris kalimatnya yang
singkat.
Boleh nggak kenalan sama lw?
Gue cewe yang sering liat lo di meja biru Kansas.
"Bodohnya gue," rutukku dalam hati sembari
menyandarkan kepala ke kaca angkot yang bergetar.
Bagaimana mungkin surat ini dari GG? Aku dan GG kan sudah saling
kenal. Bahkan satu kampus sudah tahu kalau aku ini deklarator resmi sebagai
penggemar rahasianya—yang sekarang sudah tidak rahasia lagi. Kalau GG yang
mengirim ini, tidak mungkin dia memakai kalimat 'Boleh nggak kenalan sama lw?'. Itu logikanya mentok,
tidak ketemu jalurnya.
Berarti, dugaanku selama ini meleset total. Pengirim surat ini
adalah orang yang benar-benar belum mengenalku secara formal.
Otakku langsung berputar mencari kemungkinan lain. Meja biru
Kansas. Itu tempat nongkrong favoritku bersama Mare dan anak-anak lain kalau
sedang bolos kuliah atau sekadar menunggu jam masuk kelas. Siapa saja perempuan
yang sering duduk di radius pandang meja itu?
Ndilalah, bayangan insiden di depan perpustakaan sastra itu
kembali muncul. Ayas.
Apakah mungkin Ayas? Gadis sastra Jerman yang kamusnya
berantakan gara-gara kutabrak? Tapi kalau diingat-ingat, wajahnya waktu itu
ketus sekali. Mana mungkin orang yang kesal setengah mati malah mengirim surat
ajakan kenalan? Tapi, bagaimana kalau rasa kesalnya itu justru karena dia salting alias salah tingkah? Ah, jiwa pecundangku
langsung mendebat: Jangan kegeeran, Jim. Muka lo pas-pasan, jangan mimpi ketinggian.
Besoknya, hari Jumat. Aku sengaja datang ke kampus agak siang,
sengaja mengambil rute memutar melewati meja biru Kansas. Suasana agak sepi
karena sebagian besar mahasiswa sedang bersiap salat Jumat.
Dari kejauhan, aku melihat Dewi—si kurir surat misterius
itu—sedang berjalan sendirian ke arah gedung perkuliahan. Ini dia kesempatan
emas. Sambil mempercepat langkah, aku mencoba memanggilnya.
"Dewi!"
Dia menoleh, sempat mengernyitkan dahi sebelum akhirnya
mengenali mukaku. "Oh, Jim. Kenapa? Udah dibaca suratnya?" tanyanya
sambil tersenyum simpul.
"Udah," jawabku agak ngos-ngosan. "Gue cuma mau
nanya satu hal. Dan tolong jujur ya, Wi. Ini soalnya menyangkut ketenangan
batin gue menjelang akhir semester."
Dewi tertawa kecil, "Lebay lo. Nanya apa?"
"Temen lo yang titip surat itu... anak Sastra Jerman
bukan?" tanyaku langsung to the point, menembak satu nama yang paling
bersipongang di otakku.
Dewi menghentikan langkahnya. Matanya membulat, menatapku dengan
tatapan kombinasi antara kaget dan tidak percaya. Dia tidak langsung menjawab,
melainkan menengok ke kanan dan ke kiri seolah-olah takut ada agen rahasia yang
sedang menguping pembicaraan kami.
"Kok... lo bisa tahu?" bisik Dewi pelan.
Jantungku langsung sport jantung. Reaksi kimianya persis seperti
saat aku menatap mata indah gadis itu di depan perpus. Ndilalah, tebakanku benar.
"Jadi bener... dia?" tanyaku memastikan, tenggorokanku
mendadak kering.
Dewi tersenyum lebar, kali ini dengan tatapan penuh arti.
"Gue nggak boleh sebut nama. Tapi karena lo udah bisa nebak jurusannya,
gue cuma mau bilang: dia sebenernya nyesel banget waktu hari Senin itu
kelihatan judes pas lo tabrak. Dia cuma gengsi, Jim. Sisanya... lo cari tahu
sendiri ya. Gue cabut dulu!"
Dewi melenggang pergi, meninggalkan aku yang terpaku sendirian
di koridor kampus yang mulai sepi. Hatiku yang tadinya hampa berhari-hari,
mendadak rasanya seperti disiram bensin lalu disulut kembang api.
Meledak-ledak.
Ternyata si X adalah dia. Orang yang namanya selaras dengan
parasnya. Ayas.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Tujuh - Strategi Kamus Jerman
============
Malamnya, kosanku yang biasanya senyap mendadak jadi mirip
markas besar penyusunan strategi perang. Bedanya, peta yang digelar di atas
kasur lantai bukan peta wilayah, melainkan jadwal kuliah anak Sastra Jerman
semester empat yang berhasil didapatkan Mare dari "orang dalam" di
sekretariat jurusan.
"Nih, Jim," kata Mare sambil mengetuk-ngetuk kertas
fotokopian itu dengan puntung rokoknya yang mati. "Hari Senin jam sepuluh
pagi, kelas Ayas ada matkul Deutsche Literatur (Sastra Jerman) di Gedung VI. Kelar
jam dua belas. Logikanya, habis itu dia pasti laper dan bakal ke Kansas."
Aku memperhatikan kertas itu dengan dahi berkerut, persis
seperti profesor yang sedang memecahkan rumus relativitas. Reaksi kimia dalam
perutku—yang biasanya cuma muncul kalau melihat GG—malam ini mendadak ikut
aktif bersanding dengan debaran sport jantung khas Ayas. Campur aduk.
"Terus, gue harus gimana reka adegannya? Masa tiba-tiba gue
nongol di depan kelasnya sambil bawa bunga? Yang ada gue dikira sales
panci," ujarku ragu.
Mare mendengkus, menatapku dengan pandangan meremehkan.
"Makanya otak lo itu dipake buat mikir taktik, jangan cuma buat ngapalin
teori komunikasi doang. Inget insiden tabrakan kemarin? Dia bawa kamus
Jerman-Indonesia kan? Nah, itu senjata lo!"
"Maksud lo?"
"Besok Senin pagi, lo pergi ke perpustakaan pusat. Pinjam
kamus Jerman-Indonesia yang paling tebel. Pas dia keluar kelas, lo pura-pura
lewat sambil baca itu kamus, atau minimal lo bawa di tentengan tangan lo.
Begitu berpapasan, lo pasang muka bego yang ramah, terus bilang: 'Eh, sori... gara-gara tabrakan kemarin, gue jadi penasaran sama
bahasa Jerman. Ternyata susah ya?'. Boom! Obrolan mengalir, lo dapet
nomor telepon, selesai!" Mare memaparkan strateginya dengan mata
berbinar-binar ala penjahat kelas kakap.
Teorinya Mare ini terdengar sangat utopis, mirip cerita
karangannya waktu di UPT perpus kemarin. Tapi entah kenapa, logika pecundangku
kali ini kalah telak oleh rasa penasaran. Aku butuh kepastian. Aku ingin
melihat langsung mata tajam namun indah itu sekali lagi, kali ini tanpa rasa
kesal di raut wajahnya.
Senin pagi tiba dengan cuaca Depok yang seperti biasa: gerah dan
bikin keringat dingin makin bercucuran.
Sesuai rencana, sebuah kamus Jerman-Indonesia bersampul tebal
warna hijau tua sudah sukses berpindah dari rak perpustakaan ke dalam
dekapanku. Beratnya hampir dua kilo, rasanya lebih mirip bawa batu bata
dibanding alat bantu kenalan.
Pukul 11.55, aku sudah bersandar di tiang selasar Gedung VI,
pura-pura sibuk membolak-balik halaman kamus yang isinya sama sekali tidak
masuk ke otakku. Affe artinya kera, Liebe artinya cinta... ah, persetan dengan kosakatanya,
jantungku sudah mau copot duluan.
Krieeet...
Pintu kelas terbuka. Rombongan mahasiswi mulai berhamburan
keluar. Mataku menyipit, memindai satu per satu paras yang lewat. Dan di sana,
di antara kerumunan itu, dia berjalan.
Ayas. Hari ini dia menguncir rambutnya, menyisakan beberapa
helai yang jatuh di pelipisnya. Dia sedang tertawa kecil mendengarkan celotehan
temannya—yang ndilalah ternyata adalah Dewi. Begitu melihatku berdiri di dekat
tiang, langkah Dewi mendadak melambat. Dia menyenggol siku Ayas sambil
memberikan kode lirik mata ke arahku.
Ayas menoleh. Pandangan kami bertemu.
Langkah kakinya melambat, lalu benar-benar berhenti tepat dua
meter di depanku. Teman-temannya yang lain terus berjalan menjauh, termasuk
Dewi yang sempat menoleh sambil memberikan jempol tersembunyi di balik
badannya.
Jeda.
Atmosfer di selasar Gedung VI mendadak terasa senyap, menyisakan
suara deru angin siang yang panas. Ayas menatapku, matanya beralih ke kamus
tebal hijau yang kupegang, lalu kembali menatap mataku. Kali ini, tidak ada
kerutan kesal di wajahnya. Yang ada hanya semburat merah tipis yang mendadak
muncul di kedua pipinya.
"Hai," sapa sebuah suara lembut yang selama ini hanya
bersipongang dalam batinku. Dia yang menyapa duluan.
"O... eh, hai," jawabku gagap, sukses menjatuhkan
martabat taktik keren yang sudah kususun bersama Mare semalaman.
Ayas tersenyum tipis, matanya melirik kamus di tanganku.
"Nyari kata apa di kamus itu? Sampai segitunya nungguin di depan kelas
gue?"
Skakmat. Ternyata dia tahu. Dan di detik itu juga, aku sadar,
permainan petak umpet surat misterius ini sudah resmi berakhir.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Delapan - Obrolan di Kansas dan
Kejelasan GG
============
Mukaku rasanya langsung panas. Strategi "Kamus Jerman"
yang digadang-gadang Mare bakal bikin gue kelihatan keren layaknya intelektual
muda, malah bikin gue mati kutu dalam satu detik. Ayas tipe cewek yang langsung
to the point, beda 180 derajat sama bayangan gue yang
mengira dia bakal malu-malu kucing.
"Eh... ini," gue mengangkat kamus hijau tebal itu
dengan kikuk. "Gue cuma lagi nyari arti kata 'verzeihen'."
Ayas mengangkat sebelah alisnya. "Artinya memaafkan.
Kenapa? Masih merasa bersalah soal insiden hari Senin kemarin?"
"Salah satunya itu," jawab gue, mencoba mengumpulkan
sisa-sisa keberanian yang tercecer di lantai selasar. "Tapi alasan
utamanya... gue mau ngajakin lo makan di Kansas. Sebagai tanda permohonan maaf
resmi, sekaligus balesan buat... surat di meja biru."
Mendengar kata "surat", semburat merah di pipi Ayas
makin jelas kelihatan. Dia mengalihkan pandangannya sebentar ke arah lapangan,
lalu kembali menatap gue sambil tersenyum tipis. "Ya udah, yuk. Keburu
penuh meja birunya."
Kansas siang itu ramai seperti biasa. Aroma soto, bakso, dan
gorengan bercampur jadi satu dengan riuh rendah obrolan mahasiswa dari berbagai
jurusan. Beruntung, meja biru favorit gue di sudut kantin masih kosong.
Gue memesan dua es teh manis dan siomay. Setelah makanan datang,
jeda canggung sempat mampir di antara kami. Ayas sibuk mengaduk es tehnya
dengan sedotan, sementara gue mendadak amnesia dengan semua teori komunikasi
yang pernah gue pelajari di kelas.
"Jadi," Ayas membuka suara duluan, memecah kesunyian.
"Gimana lo bisa tahu kalau gue yang kirim surat itu? Perasaan Dewi janji
nggak bakal bocor."
"Dewi emang nggak sebut nama," kata gue sambil
terkekeh. "Tapi lo nulis di surat kalau lo sering lihat gue di meja biru
Kansas. Satu-satunya insiden terbesar gue akhir-akhir ini ya pas nabrak lo di
depan perpus sastra. Logika gue jalan aja, ditambah sedikit tebakan berhadiah
waktu nanya Dewi tempo hari."
Ayas tertawa renyah. Suaranya renyah banget, kontras dengan
wajah judesnya pas pertama kali ketemu. "Gue sebenernya ngerasa bersalah, Jim.
Waktu lo tabrak itu, gue lagi pusing banget gara-gara ujian bahasa Jerman yang
susahnya minta ampun. Makanya muka gue ketus. Begitu lo pergi, gue baru sadar
kalau lo itu... cowok yang sering diceritain anak-anak Kansas."
"Diceritain gimana? Yang jelek-jelek pasti ya?"
"Nggak juga," Ayas menopang dagunya dengan tangan,
menatap gue dalam-dalam. "Katanya ada cowok komunikasi yang hobi nongkrong
di meja biru, yang katanya berani banget ngaku jadi penggemar rahasianya GG di
depan umum."
Deg.
Nama GG disebut. Reaksi kimia di perut gue mendadak bereaksi.
Ini dia, ganjalan terbesar di hati gue yang harus diselesaikan siang ini juga.
"Soal GG..." gue menarik napas dalam-dalam, mencoba
menata kata-kata. "Gue emang pernah kagum banget sama dia. Dan bener, gue
pernah bilang langsung ke dia kalau gue penggemarnya. Tapi..."
"Tapi kemarin lo habis jalan sama dia kan di Warung TRSNO
Margonda?" potong Ayas santai, tapi matanya menatap gue tajam. Informannya
Ayas ternyata tidak main-main.
"Iya, bener," gue memilih jujur. "Gue ngajak dia
makan karena awalnya gue pikir surat misterius itu dari dia. Gue mau
verifikasi. Tapi di sana, gue malah dapet jawaban lain."
Gue memajukan posisi duduk gue. "Gue lihat sendiri dia
diantar sama cowok lain. Dan dari cara mereka... ya, isu yang beredar itu
bener. GG udah punya gandengan. Lagian, pas gue baca ulang surat dari lo, ada
kalimat 'Boleh nggak kenalan sama lw?'. Di situ gue sadar,
nggak mungkin itu GG, karena gue dan GG udah saling kenal. Surat itu... dari
orang yang bener-bener baru buat gue."
Ayas terdiam sebentar, mendengarkan penjelasan gue dengan
saksama. Kerutan di dahi yang sempat muncul kini hilang, digantikan oleh
senyuman tipis yang sangat menenangkan.
"Terus, sekarang gimana?" tanya Ayas pelan.
"Pecinta GG udah patah hati?"
Gue menatap mata indah di depan gue ini. Rasa kagum gue ke GG
itu nyata, tapi itu seperti mengagumi bintang di langit—indah, tapi jauh dan
sudah ada yang punya. Sementara di depan gue sekarang, ada gadis yang nyata,
yang bersedia meluangkan waktu, bahkan mengirimkan surat polos demi bisa duduk
di meja biru ini sama gue.
"Patah hati sih nggak," jawab gue mantap, sambil balik
tersenyum sungging. "Gue cuma baru sadar kalau posisi menentukan prestasi
itu beneran ada. Dan siang ini, posisi gue udah bener. Di depan lo."
Ayas tertawa kecil, wajahnya merona lagi. Dia menjulurkan tangan
kanannya di atas meja biru yang saksi bisu itu.
"Kalau gitu, kita mulai dari awal. Kenalin, nama gue
Ayas."
Kusambut tangannya yang halus dengan debaran jantung yang kali
ini terasa sangat menyenangkan. "Gue Jim. Salam kenal, Yas."
Elegi Kampus Kuning: Bagian Sembilan - Reaksi Mare dan Babak
Baru
============
"Demi apa lo, Jim?! Demi jajan soto sebulan penuh di
Kansas?!"
Suara Mare menggelegar di pojokan koridor Gedung III, membuat
beberapa mahasiswa yang sedang duduk khusyuk membaca diktat kuliah langsung
menoleh dengan pandangan terganggu. Gue buru-buru membekap mulut anak itu pake
telapak tangan gue.
"Berisik, Re! Gak usah pake toa masjid juga kali,"
bisik gue sengit seraya melepaskan bekapan.
Mare masih menatap gue dengan mata membelalak, mirip orang yang
baru saja melihat penampakan UFO jatuh di lapangan bola kampus. Dia memegangi
kedua pundak gue, menggoyang-goyangakannya seolah-olah pengen memastikan kalau
roh gue nggak lagi kerasukan jin penunggu perpus pusat.
"Jadi... taktik Kamus Jerman bin Utopis karangan gue itu
berhasil? Lo beneran jabat tangan sama Ayas? Di meja biru? Terus soal si GG
gimana?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Mare layaknya senapan
mesin.
Gue menyadarkan punggung ke tembok, mencoba menahan senyum
sungging yang dari tadi pagi ogah lepas dari bibir gue. "Sukses total, Re.
Malah Ayas yang buka obrolan duluan. Soal GG, semuanya udah clear. Dia emang udah ada yang punya, dan gue udah
legawa. Lagian, hati gue sekarang udah resmi pindah haluan."
Mare terdiam sejenak. Perlahan, raut muka kagetnya berubah
menjadi senyuman licik ala penjahat kelas kakap—senyum khas yang biasa dia
pajang kalau otaknya lagi merencanakan sesuatu. Dia menepuk pundak gue
keras-keras sampai gue agak tersedak.
"Gila lo, Jim! Dari pecundang sejati, sekarang lo naik
kasta jadi pujangga kampus. Sigapi terus, Cuy! Jangan kasih kendor. Berarti
ramalan mimpi lo waktu subuh itu beneran tembus!" Mare terkekeh-kekeh,
kelihatan jauh lebih bahagia dibanding gue yang ngalamin sendiri.
Semenjak hari Senin yang bersejarah di meja biru Kansas itu,
hari-hari gue di Kampus Kuning rasanya berubah total. Cuaca Depok yang biasanya
panas menyengat dan bikin suntuk, entah kenapa akhir-akhir ini rasanya agak
adem, seolah-olah angin muson barat sengaja berembun khusus di sekitaran jalan
setapak yang gue lewati.
Babak baru pun dimulai.
Gue dan Ayas jadi makin sering ketemu. Awalnya modus pinjam
diktat kuliah, lama-lama berlanjut jadi rutinitas nongkrong sore di selasar
perpus sambil mendengarkan lagu-lagu lewat earphone yang dibagi dua. Ndilalah, selera musik kami
nggak beda jauh. Waktu gue iseng muter lagu progresif rock kesukaan gue, dia
malah ikut bersenandung kecil. Reaksi kimia di jantung gue tiap dekat dia masih
sama—tetap bikin sport jantung—tapi anehnya, kali ini rasa deg-degan itu bikin
gue candu.
Sampai pada suatu sore di penghujung minggu. Kami berdua sedang
berjalan santai menuju stasiun kampus setelah kelas terakhir selesai. Sinar
matahari senja berwarna jingga keemasan menerobos di antara celah-celah pohon
karet, menerangi paras Ayas dari samping. Cantik. Sungguh, namamu selaras
dirimu, Yas.
"Jim," panggil Ayas pelan, memecah keheningan langkah
kaki kami di atas kerikil.
"Ya? Kenapa, Yas?"
Dia berhenti melangkah, membalikkan badannya menghadap gue.
Angin sore menerbangkan beberapa helai rambutnya yang lepas dari kunciran. Matanya
yang tajam namun indah itu menatap lurus ke dalam mata gue.
"Minggu depan kan udah libur panjang pasca-ujian,"
kata Ayas, nadanya agak ragu tapi ada binar harap di matanya. "Temen-temen
kelas gue mau ngadakan acara makan-makan santai di daerah Puncak. Tapi... kita
boleh bawa orang luar. Lo... mau nggak ikut nemenin gue?"
Gue terpaku sejenak. Otak komunikasi gue langsung menangkap
sinyal ini sebagai sebuah kode besar. Ini bukan lagi sekadar urusan surat
misterius di meja biru atau permohonan maaf soal kamus yang jatuh. Ini adalah
undangan resmi masuk ke dalam dunianya.
Gue tersenyum, kali ini tanpa rasa ragu atau jiwa pecundang yang
biasanya suka membisikkan kata minder di kuping gue.
"Asal lo yang jadi penunjuk jalannya, ke ujung dunia pun
gue jabanin, Yas. Apalagi cuma ke Puncak," jawab gue mantap.
Ayas tertawa renyah, senyumnya mengembang sempurna menyaingi
indahnya langit senja Kampus Kuning sore itu. Dan dalam hati, gue berbisik
lirih: Terima kasih, semesta. Posisi kali ini benar-benar telah menentukan
prestasi terbaik dalam hidup gue.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Sepuluh - Jalan Berliku Menuju
Puncak
============
Dua buah bus sewaan berukuran sedang sudah terparkir rapi di
pelataran parkir Kampus Kuning sabtu pagi itu. Suasana riuh rendah khas anak
kuliahan yang mau pergi berlibur langsung menyambut telingaku begitu aku turun
dari angkot. Anak-anak Sastra Jerman semester empat nampak kompak memakai jaket
angkatan berwarna abu-abu.
Sementara aku? Aku berdiri kikuk di dekat tiang listrik dengan
jaket jins belel andalanku, merasa seperti intel yang salah masuk ke markas
musuh.
"Jim! Sini!"
Sebuah lambaian tangan dari dekat pintu bus membuatku menoleh.
Ayas berdiri di sana, melambaikan tangannya dengan ceria. Rambutnya hari ini
dibiarkan terurai, memakai kaus putih kasual yang dibalut kemeja flanel
kotak-kotak. Reaksi sport jantung di dadaku langsung bekerja tanpa ampun.
Begitu aku mendekat, Dewi yang berdiri di samping Ayas langsung
menyenggol lengan sahabatnya itu sambil berbisik kencang, "Ciyee... yang
bawa bodyguard pribadi dari Anak Komunikasi. Aman deh Puncak
kalau begini."
Ayas melotot ke arah Dewi, tapi pipinya tak bisa menyembunyikan
semburat merah. "Berisik lo, Wi. Sana masuk bus duluan, taruh tas
gue."
Setelah Dewi masuk sambil cekikikan, Ayas menatapku dengan
tatapan bersalah. "Sori ya, Jim. Anak-anak emang suka ngeledek begitu. Lo
nggak apa-apa kan gabung sama anak-anak Jerman?"
"Nggak apa-apa, Yas," jawabku sambil tersenyum
menenangkan. "Lagian kan ada lo. Jadi gue nggak bakal kesasar di antara kosakata
Ich liebe dich yang bakal diomongin anak-anak di dalam
bus nanti."
Ayas tertawa renyah, tawa khas yang selalu sukses meruntuhkan
tembok pertahanan jiwaku. "Ya udah, yuk naik. Kita duduk di barisan
tengah."
Perjalanan menuju Puncak hari itu diwarnai dengan kemacetan khas
akhir pekan di jalur Bogor. Bus bergerak merayap bak siput tua. Di dalam bus,
anak-anak sastra mulai bernyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar akustik dari
bangku belakang. Suasana hangat itu perlahan mencairkan kecanggunganku.
Di baris tengah, aku dan Ayas duduk bersebelahan. Jarak kami
begitu dekat hingga beberapa kali pundak kami bersentuhan setiap kali bus
mengerem mendadak.
Awalnya kami mengobrol banyak hal, mulai dari kelakuan Mare yang
sempat menitipkan salam "utopis" untuk Ayas, hingga rencana judul
skripsi yang mulai membayangi otak semester tua kami. Namun lambat laun,
seiring dengan hawa dingin yang mulai menerobos masuk lewat celah ventilasi bus
saat kami memasuki daerah Cisarua, obrolan kami mulai menyusut menjadi
keheningan yang nyaman.
Ayas nampak mengantuk. Kepalanya beberapa kali bergoyang
mengikuti ritme bus yang berguncang.
Deg.
Ndilalah, pada satu tikungan tajam, kepala Ayas perlahan jatuh
dan mendarat tepat di bahu kananku. Nafasnya yang teratur mulai terasa di
leherku. Jantungku langsung berdegup tak menentu, rasanya seperti mau melompat
keluar dari rongga dada. Aku kaku seketika, takut bergerak sedikit saja karena
tidak ingin merusak momen berharga ini atau membangunkan gadis yang sedang
bersipongang di dalam otakku berbulan-bulan ini.
Kulihat parasnya yang tertidur dari samping. Begitu damai. Surat
misterius di meja biru Kansas itu benar-benar telah membawa hidupku ke sebuah
jalur komunikasi baru yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Hingga tiga jam berlalu, bus akhirnya berbelok memasuki halaman
sebuah vila besar berarsitektur kayu di daerah Watulawang.
"Yas... Yas, udah sampai," bisikku pelan sambil
menggoyangkan bahuku sedikit.
Ayas mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tersentak kaget begitu
sadar dia tertidur di bahuku sepanjang sisa perjalanan. Wajahnya langsung merah
padam sampai ke telinga. "Eh... ya ampun, Jim! Maaf banget ya, pundak lo
pasti pegal banget."
"Santai aja, Yas. Malah kalau bisa macetnya ditambah dua
jam lagi juga gue rela kok," godaku sambil terkekeh sungging.
"Ih, apa sih!" Ayas mencubit lenganku pelan, tapi
senyumnya tak bisa bohong.
Malam harinya, acara puncaknya dimulai. Anak-anak membuat api
unggun besar di halaman vila yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota
di bawah sana. Dinginnya angin malam Puncak menusuk hingga ke tulang, membuat
semua orang merapatkan jaket masing-masing.
Gue sedang duduk sendirian di dekat pembakaran jagung,
memandangi api yang menjilat-jilat kayu bakar, ketika tiba-tiba seseorang duduk
di sebelah gue.
Bukan Ayas. Tapi Dewi.
Dia membawa dua gelas wedang jahe hangat, memberikan salah
satunya ke gue. "Nih, Jim. Biar anget."
"Makasih, Wi," jawab gue sambil menerima gelas plastik
itu.
Dewi memandangi api unggun, lalu menoleh ke arah gue dengan
tatapan yang mendadak serius. "Jim, gue cuma mau bilang makasih ya udah
mau ikut ke sini."
"Gue yang harusnya makasih, Wi. Udah diajakin."
"Gue serius, Jim," potong Dewi pelan. "Ayas itu
sebenernya cewek yang tertutup kalau soal perasaan. Waktu dia nulis surat di
Kansas itu, itu adalah hal paling nekat yang pernah dia lakukan seumur
hidupnya. Dia kagum sama keberanian lo waktu lo blak-blakan soal GG dulu. Dia
ngerasa lo itu cowok yang jujur sama perasaan sendiri."
Dewi meminum jahenya sedikit sebelum melanjutkan, "Jadi,
tolong jangan bikin dia kecewa ya. Jiwa 'pecinta GG' lo itu udah harus lo kubur
dalam-dalam."
Gue terdiam, merenungi perkataan Dewi. Mataku beralih memandangi
Ayas yang berada di seberang api unggun, sedang tertawa bersama teman-temannya
yang lain. Di bawah temaram cahaya api, dia kelihatan begitu bersinar.
"Wi," kata gue mantap, "Soal GG, itu udah jadi
arsip lama di perpustakaan hidup gue. Sekarang, fokus gue cuma satu. Nulis
cerita baru sama orang yang namanya selaras sama parasnya itu."
Dewi tersenyum puas mendengarnya. Dia menepuk pundak gue lalu
berdiri. "Bagus deh. Tuh, orangnya lagi sendirian di dekat pagar pembatas
vila. Samperin sana. Udah gue buka jalan gedenya, posisi menentukan prestasi
kan?"
Gue terkekeh, langsung bangkit dari duduk gue dengan segelas
wedang jahe di tangan dan debaran sport jantung yang siap menghadapi babak
penentuan malam ini.
Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua Belas - Epilog dan Kembali ke
Meja Biru
============
Libur panjang pasca-ujian akhir semester akhirnya usai. Kampus
Kuning kembali menggeliat dengan kesibukan barunya. Mahasiswa-mahasiswa
berwajah segar—dan sebagian lagi berwajah kusut karena bayang-bayang nilai
IPK—tampak mulai memadati selasar gedung perkuliahan.
Hari ini Senin, persis seperti hari di mana insiden tabrakan
konyol itu terjadi beberapa bulan lalu. Cuaca Depok siang ini masih konsisten:
panas, gerah, dan bikin baju gampang lepek. Tapi sumpah, rumangsaku hari ini
rasanya jauh lebih bersahabat.
Aku berjalan santai melewati perpustakaan sastra, tempat di mana
kamus Jerman-Indonesia berserakan pating-tlethek waktu itu. Aku tersenyum
sungging sendirian mengingatnya. Kalau waktu itu aku tidak terlambat tujuh
menit, kalau waktu itu aku tidak berlari grusa-grusu, mungkin jalan takdirku
akan tertulis beda. Memang betul pemeo kuno itu: selalu ada berkah di balik
sebuah musibah.
Langkah kakiku kubawa menuju Kansas. Dari kejauhan, netraku
menangkap siluet sebuah meja yang sangat familier. Meja biru.
Di sana, Mare sudah duduk manis sambil mengunyah tahu gejrot
dengan khusyuk. Begitu melihat kedatanganku, dia langsung mengangkat sendoknya
tinggi-tinggi, memberikan gestur hormat ala komandan militer.
"Woi, sang pujangga! Sini lo!" teriak Mare berisik
seperti biasa.
Aku duduk di hadapannya, langsung menyambar es teh manis milik
Mare yang masih utuh tanpa permisi. "Gimana liburan lo, Re? Aman?"
"Aman matamu! Gue gabut maksimal di rumah. Lah lo sendiri,
gimana kelanjutan proyek 'Watulawang' kemarin? Gak ada kabar, tahu-tahu mukanya
udah cerah kayak abis dapet beasiswa supersemar aja," seloroh Mare sambil
menyipitkan mata menyelidik.
Belum sempat aku menjawab rentetan interogasi dari Mare, sebuah
langkah kaki terdengar mendekat ke arah meja kami. Aroma wangi sampo apel yang
sangat kukenal mendadak menyeruak di antara bau asap penggorengan kantin.
"Hai, Jim. Hai, Mare," sapa sebuah suara lembut.
Ayas berdiri di samping meja biru kami. Hari ini dia memakai
kemeja putih kasual dengan rambut yang dikuncir rapi. Di dekapannya, ada
beberapa buku teks kuliah dan—ndilalah—kamus Jerman-Indonesia bersampul hijau
tebal yang dulu sempat jadi senjata taktik kenalanku.
"Eh, Ayas! Silakan duduk, Yas. Ini si Jim dari tadi ditanya
soal Puncak malah senyum-senyum dewek kayak orang kurang sajen," ujar Mare
langsung menggeser posisi duduknya demi memberikan ruang.
Ayas tertawa renyah, tawa yang selalu sukses membuat jantungku
sport jantung seketika. Dia duduk tepat di sebelahku, meletakkan kamus tebalnya
di atas meja biru. Secara refleks, tangannya bergerak di bawah meja, menyentuh
jemariku dan menggenggamnya erat secara sembunyi-sembunyi dari pandangan Mare.
Hangat. Sama persis seperti malam itu di pagar pembatas Watulawang.
Di saat yang bersamaan, pandanganku mendadak terlempar ke arah
selasar seberang Kansas. Di sana, tampak GG sedang berjalan anggun bersama
seorang cowok yang waktu itu mengantarnya ke Warung TRSNO Margonda. Mereka
kelihatan tertawa bahagia.
Aku menatap pemandangan itu selama beberapa detik. Anehnya,
perutku yang biasanya langsung mules bak gejala diare tiap kali melihat GG,
kali ini benar-benar tenang. Tidak ada kontraksi, tidak ada rasa sesak. Rasa
kagum itu masih ada, tapi murni sebagai arsip cerita lama yang indah untuk
dikenang, tanpa perlu dibuka kembali halamannya.
Ayas yang menyadari arah pandanganku ikut menoleh sebentar, lalu
dia kembali menatapku. Tatapannya tajam namun indah, seolah bertanya tanpa
suara: 'Gimana, Jim?'
Aku menoleh ke arah Ayas, menatap matanya dalam-dalam, lalu
membalas genggaman tangannya di bawah meja dengan lebih erat. Aku melempar
senyum terbaikku padanya, sebuah jawaban mutlak bahwa seluruh rongga otak dan
hatiku kini sudah penuh terisi oleh namanya.
"Nih, Jim, titipan dari Dewi," kata Ayas kemudian,
merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan secarik amplop putih polos tanpa
tulisan apa pun di sampulnya. Dia meletakkannya di atas meja.
"Lho? Surat lagi?" tanyaku heran bercampur panik. Masa ada misteri baru lagi?
Mare yang melihat amplop itu langsung keselek tahu gejrot.
"Wah, parah! Belum juga kelar satu babak, udah ada surat misterius babak
baru! Siapa lagi ini, Jim?!"
Ayas terkekeh melihat ekspresi panik kami berdua. "Bukan
dari cewek lain, Jim. Buka aja sendiri."
Dengan tangan agak gemetar, kubuka amplop putih itu perlahan. Di
dalamnya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan rapi yang sangat
kukenal. Isinya singkat:
Hai.
Makasih ya udah mau kenalan sama gue.
Sekarang, meja biru Kansas ini bukan cuma tempat lo nongkrong,
tapi udah jadi tempat kita nemuin prestasi terbaik.
Dari:
Aku (yang sekarang jadi Kamumu).
Aku terkinjat, lalu tawa lepasku pecah seketika di sudut kantin
sastra itu. Mare melongo kebingungan sambil merutuk karena tidak paham
situasinya, sementara Ayas hanya tersenyum manis dengan pipi yang kembali
merona merah, menatapku dengan binar kebahagiaan yang seutuhnya.
Kisah penantian, dilema batin, dan surat misterius di Kampus
Kuning ini mungkin berliku dan penuh dengan salah asumsi. Tapi siang ini, di
atas meja biru Kansas yang menjadi saksi bisu, aku tahu satu hal dengan pasti:
langkahku tidak akan gontai lagi. Elegiku telah resmi selesai, berganti menjadi
sebaris puisi cinta yang selaras dengan namanya.
--- Selesai ---
No comments:
Post a Comment