Saturday, July 4, 2026

Elegi Kampus Kuning. Remake

Elegi Kampus Kuning: Bagian Satu - Perjumpaan

============

Duh, aku harus buru-buru. Sudah terlambat. Jam di ponselku menunjukkan pukul 13.07. Berarti aku telah terlambat tujuh menit dari jadwal. Walaupun toleransi waktu terlambat adalah lima belas menit. Tergesa-gesa aku setengah berlari dari kantin sastra. Hari ini memang hari Senin, biasa saja. Namun yang membuat spesial pake telor hari ini ujian akhir. Terang saja aku tak ingin main-main. Ini perang hidup mati istilahnya dan juga ada pemeo yang berkembang di kalangan kampus: posisi menentukan prestasi.

Aku berlari lurus dan kemudian belok kiri di perpustakaan sastra. Namun ketika aku berbelok, tiba-tiba,

Brukk!

Ndilalah aku menabrak seseorang hingga membuatku sedikit mengurangi kecepatan. Orang itu ternyata mahasiswi. Dan ternyata lagi ia itu gadis yang selama ini ku kagumi. Ia membawa beberapa buah buku dan kamus Jerman-Indonesia yang kontan saja berantakan akibat ku tabrak.

Naam, betul. Dialah Ayas, mahasiswi S1 Sastra Jerman yang selama ini aku naksir padanya walau ia tak tahu.

Aku berhenti dan terhenti sejenak. Jantungku deg-degan. Napasku agak terengah ditambah lagi bertemu sang gadis pujaanku ini.

Jeda.

Terjadi dilema batin. Di satu sisi niatku ingin membantunya untuk membereskan buku dan kamusnya yang pating-tlethek. Namun di sisi lain aku terpesona pada pandangan pertama. Mirip lagunya Mas Glen Fredly. Matanya menuju ke arah mataku. Tajam namun indah.

Ia terus menatapku. Terjadi saling tatap-menatap. Namun di sini ada perbedaan rumangsa. Aku menatapnya takjub, kagum. Ia menatapku ditambah dengan sedikit kerutan di wajahnya, agak kesal nampaknya. Mungkin di benaknya berkata: “ini orang udah nabrak bukannya bantuin beresin buku gue”. Begitulah kira-kira menurutku.

Terus ku tatap parasnya. Semakin cantik walau ada rasa kesal di raut wajahnya. Sementara itu ia membereskan buku dan kamusnya yang berserakan tersebut. Dan aku masih saja melihatnya. Hanya jadi penonton.

Tak ada dialog. Hanya monolog batin masing-masing.

Namun tiba-tiba aku tersentak.Aku ingat, ujian akhir telah dimulai. Aku harus buru-buru pamit dari hadapannya. Eh, aku jadi hampir lupa membantunya membereskan perabotannya yang jatuh gara-gara ulahku. Baru aku mau membantunya, eh ia malah sudah hampir selesai membereskan buku yang terakhir. Aku sempat meraih ujungnya dan ia pun memegang ujung yang satu lagi.

Barulah terjadi dialog.

“Maaf ya, nggak sengaja. Gue buru-buru” ujarku sambil menyatukan kedua telapak tangan seraya undur diri untuk kemudian kembali setengah berlari. Mataku sempat kembali menatap wajahnya. Ia hanya mengeluarkan ekspresi agak kesal. Namun matanya sempat menatapku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pamit.

Kemudian aku berlari menuju ruangan ujian. Hatiku berbunga-bunga karena sedikit tak percaya campur tegang karena ujian belum ku lalui. Aku jadi merasa tak enak padanya. Ku pikir lain kali aku harus bertemu untuk minta maaf padanya. Mungkin suatu saat nanti. Entah kapan

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua - Pasca Insiden

Semenjak insiden tabrakan yang tak terduga itu, entah mengapa wajahnya selalu terbayang di otakku. Sebenarnya ada keinginan untuk minta maaf, syukur-syukur sekalian berkenalan. Ya, betul, syukur. Bagiku berkenalan dengannya kurasa itu sudah cukup.

Sebenarnya aku mengalami sebuah dilema. Bah. Macam apa itu.

Aku sebelumnya telah terlebih dahulu menyukai seorang gadis yang kusingkat namanya menjadi inisial GG. Ia tak ubahnya dengan Ayas, cantik. Namun ada sisi yang berbeda antara keduanya sebagaimana yang dikatakan oleh kawanku Mare. Maklum, namanya selera orang berbeda-beda. Tapi entah mengapa sebenarnya aku mempunyai jiwa playboy di satu sisi namun mempunyai jiwa setia plus pecundang di sisi satunya. Keduanya saling tarik-menarik, namun yang menang nampaknya jiwa yang disebut kedua.

GG. Ia adalah sosok gadis yang selama ini kuimpikan di kampus ini. Tidak terlalu cantik, namun memancarkan aura yang kuat di wajahnya. Terutama mata dan senyumnya yang tidak bisa kulupakan. Berperawakan tidak terlalu tinggi namun agak padat merayap. Nilai lebihnya dalam cerita ini, aku telah berkenalan dengannya. Berbeda dengan Ayas yang belum kukenal secara formalitas. Gilanya lagi, aku pernah bicara dengan GG terus terang mengaku kalau aku penggemarnya. Hal ini menimbulkan banyak tanggapan dan dukungan dari kawan-kawanku. Ada yang bilang aku hebat, pemberani dan sebagainya. Bagiku itu biasa saja. Karena menurutku jika suatu perasaan kagum hanya disimpan dalam hati saja kurang baik. Lebih baik jika diungkapkan pada yang bersangkutan. Dan inilah yang kusukai dari GG, ia tidak marah. Ia hanya tersenyum.

Setelah itu aku uring-uringan. Merasa kurang enak pada GG. Betapa tidak? Ia rela meluangkan waktunya hanya untuk berbicara dengan orang macam aku ini. Itu adalah suatu anugrah bagiku dan mungkin juga musibah baginya. Namun ia hanya tersenyum. Aku sempat menatap matanya. Beberapa saat jeda. Kemudian ia merasa agak sedikit malu karena kupandang matanya yang indah itu.

Apalagi si Mare, yang selalu bilang padaku:

“Udah lah, cuy”. Sembari mengebas-ngebaskan tangannya pertanda bahwa ia menyuruhku untuk “menembak” gadis pujaan hatiku. Atau dengan kalimatnya yang lain. “Sigapi lah!”. Sembari tersenyum ala penjahat.

Memangnya semudah itu, pikirku. Entah mengapa bukannya sok jual mahal, namun aku bukan tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta layaknya lagu dari band Matta yang berbau Don Juan yang mencintai setiap wanita. Bukan seperti itu diriku. Namun ketika aku melihat dua sosok mahasiswi dari jurusan yang berbeda ini, ada perasaan lain sekaligus reaksi kimia dalam tubuhku jika bertemu atau minimal melihat salah seorang atau keduanya.

Jika aku melihat Ayas, maka reaksi berikutnya yang terjadi adalah jantungku berdegup tak menentu atau bahasa kerennya sport jantung.

Lain halnya jika aku melihat GG, maka reaksi berikutnya yang terjadi adalah perutku terasa seperti orang terkena diare alias ingin ibuang air besar. Kontraksi perut bak orang hamil.

Kedengarannya ada selentingan isu bahwa si GG sudah punya gandengan beda jenis. Sial, pikirku jika benar. Tapi aku belum percaya sampai aku buktikan sendiri Mungkin jika benar berarti aku belum beruntung. Namun satu hal yang mengganjal di hatiku yakni mengenai surat misterius itu. Pertanyaan yang muncul banyak, namun mungkin yang paling penting serta mewakili adalah kata tanya: siapa?

Selama ini aku tak pernah berusaha mendekati perempuan. Bukannya takut. Hanya sedang tidak berminat karena beberapa pertimbangan. Ditambah dengan trauma masa lalu walaupun sejatinya aku orang yang tak pernah merasa trauma terhadap sesuatu.

Bahkan sampai pada suatu malam, aku pernah bermimpi dan si situ lagi-lagi aku bertemu orang yang selama ini bersipongang di rongga otak serta hatiku sejak insiden tabrakan yang tak disengaja itu. Betul, lagi-lagi Ayas menjadi peran utama protagonis dalam buah tidurku ini. Dalam mimpiku itu aku nampak bahagia, bertolak belakang dengan realita.

Hingga menjelang subuh dan akupun terbangun oleh suara azan. Aku baru sadar kalau itu hanya mimpi. Lagi-lagi mimpi. Syahdan ketika itu aku teringat rentetan peristiwa ketika aku secara tidak sengaja menabrak Ayas. Lagi-lagi yang terbayang di otakku adalah wajahnya yang selaras namanya. Aku tersenyum sungging. Dalam lirih aku berdoa semoga saja mimpiku tadi menjadi kenyataan. Terjadi pula monolog dalam batinku, kira-kira begini:

kau bagai candu

bersipongang dalam batinku

namamu selaras dirimu

yang buatku terpaku

butakan matahatiku

walaupun ada suatu

ku eling siapa diriku

Setelah itu aku langsung bangkit dan beranjak bangun dari tempat tidurku. Melalui kembali kehidupan di dunia nyata. Terbersit keinginan untuk sekedar minta maaf kepada Ayas namun ada rasa malu yang entah tiba-tiba datang. Mungkinkah aku minta maaf? Entahlah.

Mungkin ya.

Mungkin tidak.

Namun tak mungkin ya atau tidak.

 

Elegi Kampus Kuning:Bagian Tiga - Surat

 

 

 

Hari ini Kamis. Hari ini juga aku suntuk. Jeleh. Judeg. Banyak masalah yang kualami hari ini. Tak ada kebahagiaan. Semua terasa hampa. Tak ada yang dapat dijadikan kegembiraan. Yang ada hanya kemuraman dan semakin muram terasa.

Cuaca panas. Kurang bersahabat dengan suasana hatiku. Angin bertiup lemah namun panas. Sepanas hati yang memendam emosi. Awan beriringan lewat bersama angin. Menambah panasnya hari.

 Aku berjalan perlahan. Langkahku gontai bak penari balet pasca mabuk. Bingung mau kemana. Tak ada tujuan pasti. Aku sedang melewati gedung perpustakaan sastra. Ingin rasanya memutar langkah untuk kemudian masuk ke tempat ini. Namun hatiku berkata lain.

Suara azan zuhur berkumandang.

Rumangsaku ingin salat. Kupikir ini lebih baik daripada membuang waktu. Mensucikan diri walau aku bukan orang suci. Masa bodoh orang mau bilang aku sok suci dan sebagainya. Bagiku, dalam hidup cuma ada dua pilihan: baik atau buruk. Tak ada diantaranya. Toh kalau aku beribadah untung dan ruginya bukan buat mereka.

Aku berjalan menuju musalla. Melaksanakan ritual agama. Terasa sejuk.

Selesai.

Aku menuju kantin sastra Perutku lapar. Bagiku tercantum sebuah sikap: makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang. Selesai. Alhamdulillah.

Masalahku belum selesai.

Dengan begitu aku percaya bahwasanya manusia hidup pastilah memiliki masalah yang tidak akan dialami manusia hidup yang sudah tak hidup lagi. Atau bahasa mudahnya telah wafat.

Tiba-tiba aku teringat perkataan tetanggaku, beliau sering mengantarku berangkat ke SMA-ku dulu dengan menggunakan mobil pribadinya. Suatu ketika jalanan macet dan anak beliau yang juga temanku mencak-mencak gara-gara macet. Namun beliau dengan tenangnya berkata : “Hidup itu harus disyukuri apa adanya. Kalau kita kena macet, ya disyukuri macetnya”.

Ada benarnya.

Namun masalahku selesai sampai disini.

Jeda.

Aku diam. Termenung.

Tak ada lawan bicara.

Jeda lagi

Kemudian jeda.

Tiba tiba ada yang menyentakkan lamunan sesaatku.

“Hai” sapa sebuah suara di sebelah sana.

Aku kaget. Hanya sebuah vokal yang mampu keluar dari mulutku. “O”. Namun cepat kusambung. “Ada apa?”.

“Oh maaf”. Ternyata yang menyapaku ini perempuan. Cepat dia menyambungnya dengan kalimat “Ganggu ya?”.”Maaf ya” gayanya sowan.

“Oh nggak”. Jawabku singkat. “Ada yang bisa dibantu?”ujarku .

“Ah, iya. Tapi sebelumnya”. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya seraya berkata. “Nama gue Dewi”.

Kusambut dengan sedikit jeda.

“Gue..,. Apa kita pernah kenalan sebelumnya?”

“Nama loe Jim kan. gue udah tau kok” potongnya.

“Tapi kita belum kenalan aja”

“Lalu?”tanyaku dengan penuh tandatanya di hati.

“Ini”

“Apa ini?”.  Dia menyerahkan secarik amplop warna putih.

“Dari temen gue. Pesannya: baca aja. Buat lo kok”.

“?!?”.

Jeda sejenak.

“Buat gue?”Aku agak kurang percaya.

“Beneran buat lo” tangkisnya.

“Ya udah. Makasih ya, bilang buat temenmu itu. Dari siapa ini?” tanyaku dengan nada penasaran

“Kata temen gue itu, pesannya: baca aja”. “Gue cuma nyampein doang”.

.”Oh ya udah. Makasih”. Jawabku.

“Kemudian dia pergi seraya berkata “Gue cabut dulu ya, dah. Selamat menikmati” serunya.

Muncul tandatanya lagi di benakku.

?

Siapa gerangan yang mengirim surat di dalam amplop putih ini. Polos. Tak ada goresan di sampulnya.

Perlahan kubuka. Apa isinya, pikirku.

Kubaca kata demi kata. Sederhana. Isinya:

 

 

Hai

Boleh nggak kenalan sama lw?.

Gue cewe yang sering liat lo

di meja biru Kansas.

 

Salam.

 

 

aku

 

 

 

Hah?!

Aku terkinjat. Teringat peristiwa waktu itu di depan perpustakaan. Pikiranku menerawang kesana kemari. Sejurus aku coba bertanya, apa yang akan terjadi kemudian?. Entahlah.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Empat - Efek Surat

Selang beberapa hari, selintas terngiang di telingaku ada dua orang mahasiswi bercakap-cakap mengenai surat cinta kepada seorang mahasiwa yang dikagumi salah seorang dari mereka. Ternyata salah seorang dari mereka itu GG. “Lho?”. Hatiku mulai curiga baik sangka sekaligus doa penuh harap. Semoga yang mengirim surat yang waktu itu dialah orangnya alias GG. Dan juga semoga ketika aku berdoa ini, doaku diamini oleh para malaikat.

Kemudian hari-hari berikutnya kejadian tersebut bersipongang terus di otakku. Apa iya, GG-lah orangnya yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang masih berkecamuk di otakku mengenai surat misterius itu yakni: siapa?. Hal yang kulakukan semadyanya kemudian yakni berusaha menyelidiki siapa gerangan penulis surat misterius atau lebih tepatnya adalah memverifikasi antara selentingan yang telah kudengar dengan dugaanku. Ibarat Sherlock Holmes yang selalu berhasil memecahkan kasus misteri ala detektif dengan mengumpulkan fakta dan dugaan.

Alih-alih hal yang kulakukan untuk mengujinya adalah mengadakan sedikit pendekatan pada GG dengan mengajaknya makan bersama di sebuah tempat yang telah kutentukan, sebutlah di Warung TRSNO Jl. Margonda . Masalah waktu, biar ia yang menentukan. .

Kuhubungi ia. Ia mengamini. Ditambah dengan ekspresi antusiasnya yang membuatku semakin merasa suka padanya.

Pada hari H

Aku telah tiba lebih awal darinya. Kemudian ia datang. Namun tunggu dulu, ada suatu hal yang mengganjal hatiku. Ternyata ada seorang yang tak kuharapkan datang mengantarnya ke  Warung TRSNO. Memang orang itu yang adalah laki-laki tidak ikut makan bersama, hanya mengantar. Namun hal yang kubenci adalah kulihat dengan mata kepalaku sendiri orang tak kukenal itu memegang lengan GG untuk kemudian minta diri padanya.

Sial, pikirku. Siapa pula itu orang. Huh.

Ternyata aku tahu bahwa GG memang sudah punya gandengan. Betul-lah isu yang beredar mengenai hal itu. Tak apalah, pikirku kemudian.

Arkian saat ini, kata tanya berikutnya yang muncul akibat surat misterius yakni: apakah?. Apakah benar GG yang mengirimku surat misterius itu. Aku harus temukan jawabannya kali ini. Kemudian deretan pertanyaan berikutnya yang telah kusiapkan adalah: mengapa? dan bagaimana?. Aku akan memberondonginya dengan pertanyaan tersebut, itu intinya dari acara makan-makan ini.

Ketika ia datang di hadapanku, ia melambai sambil berkata.

“Hai. Udah lama nunggu? Maaf ya, agak telat. Tadi ada urusan sebentar”

“Oh, gak apa-apa kok. Mari, silakan duduk”. Jawabku.

“Capek ya?” sambungku lagi.

“Lumayan. Panas banget di luar sana” serunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat.

“Langsung aja deh” sahutku kemudian. “Mau pesan apa?” seraya memberikan daftar menu padanya.

“Apa aja” jawabnya sangat Melayu.

“Lho. Pilih lah. Tenang aja, gue yang bayar”. Jawabku sangat Eropa

 “Hmm..” ia menggumam. “Mi Goreng Spesial Pake Telor Cinta” jawabnya sambil tersenyum kemudian berkata lagi,

“Kok namanya pake cinta-cintaan segala sih? tanyanya penasaran.

“Sesuai dengan nama tempat ini, Warung TRSNO yang berarti warung cinta dalam bahasa Jawa, gitu loh. Mbacanya bukan Te Er Es En Ow tapi Tresno” ujarku menjawab pertanyaannya macam ilmuwan.

“O, gitu toh”. ujarnya sembari tertawa renyah

Selanjutnya percakapan terjadi dengan lancar. Terjadi ala Melayu dengan bumbu basa-basi walau hanya sedikit berhubung makanan yang dipesan belum kunjung datang. Karena kupikir jika aku langsung pada tujuanku yakni menanyakan perihal surat misterius tersebut maka mungkin akan merusak suasana nafsu makan. Jadi aku bersabar dan memilih untuk bersikap Melayu. Tak apalah.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Lima - Ketahuan

Di tempat yang lain.

 

Ternyata si penulis surat misterius mengalami konflik batin yang serupa denganku. Ia merasa uring-uringan karena belum ada sedikitpun jua reaksi dari surat yang dibuat olehnya sebagaimana teori aksi-reaksi Newton yang terkenal itu yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. Ia agak berharap si penerima yang tak lain adalah diriku minimal memberikan komentar atau apalah mengenai surat tersebut. Bahasa gampangnya ia merasa bete.

 

Selanjunya sebut saja si penulis misterius ini dengan si X.

 

Wabakdu, ndilalah punya cerita, si X ternyata menaruh rasa kagum terhadap diriku. Semenjak ia uring-uringan itu, tanpa setahuku ia juga berusaha mencari tahu jatidiriku yang juga masih misterius baginya. Mulai dari nama, asal-usul sekolah, rumah, latarbelakang dan seterusnya macam wartawan infotainmen.

 

Suatu hari yakni beberapa setelah ujian akhir selesai, aku pergi ke kampus untuk melihat nilaiku sekaligus bertemu kawan-kawanku. Hari itu aku bertemu Mare. Ia banyak bercerita tentang hal-hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pun ia bercerita tentang Ayas yang membuatku jadi bersemangat nimbrung.

 

Mare bercerita tentang khayalan-khayalan utopis antara aku dan Ayas. Mare bercerita andai-andai begini:

 

Suatu hari ia dan aku pergi ke kampus menuju Perpustakaan Pusat atau disingkat UPT untuk mengecek nilai IP. Ternyata di saat yang hampir bersamaan Ayas juga melakukan hal yang sama, namun kami tiba terlebih dahulu.

 

Kemudian di saat kami sedang berselancar di dunia maya untuk mengecek nilai, tiba-tiba Mare mencetuskan ide main-main untuk mencari gambar Ayas via internet. Aku menanggapi dengan positif. Lalu kami cari-lah gambar itu, dan ketemu. Ada banyak gambar di situ. Semuanya bagus. Langsung saja kami klik gambar tersebut satu per satu. Kami berdua-pun terperangah takjub.

 

Amboi!

 

Tak dinyana, tanpa diduga ada yang nyeletuk di belakang sana. Kami konangan basah.

 

“Eh, itu kaya foto gue deh?”  serunya.

 

Tiada lain yang berujar seperti adalah orang yang kami tonton foto-fotonya, Ayas. Ia lah tokoh sentral pemandangan kami kala ini.

 

Kontan saja kami saling berpandangan lalu sejurus menengok ke belakang.

 

??????

 

Jeda.

 

Kami kembali menatap layar komputer untuk kemudian grusa-grusu kesusu menutup gambar tersebut. Mirip seperti lagu Ketahuan yang populer oleh grup band Matta.

 

Begitulah ceritanya.

 

Kami berdua tertawa lepas menertawai cerita utopis karangan Mare tersebut.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Enam - Siapa Si X?

============

Acara makan-makan di Warung TRSNO sore itu berakhir antiklimaks. Pertanyaan mengapa dan bagaimana yang sudah kususun rapi di kepala mendadak menguap begitu saja. Sepanjang jalan pulang menumpak angkot dari Margonda, kepalaku justru dipenuhi oleh kontradiksi yang baru kusadari.

Aku merogoh saku jaket, mengeluarkan secarik kertas dari amplop putih polos yang kini sudah agak lecek. Kubaca lagi baris kalimatnya yang singkat.

Boleh nggak kenalan sama lw?

Gue cewe yang sering liat lo di meja biru Kansas.

"Bodohnya gue," rutukku dalam hati sembari menyandarkan kepala ke kaca angkot yang bergetar.

Bagaimana mungkin surat ini dari GG? Aku dan GG kan sudah saling kenal. Bahkan satu kampus sudah tahu kalau aku ini deklarator resmi sebagai penggemar rahasianya—yang sekarang sudah tidak rahasia lagi. Kalau GG yang mengirim ini, tidak mungkin dia memakai kalimat 'Boleh nggak kenalan sama lw?'. Itu logikanya mentok, tidak ketemu jalurnya.

Berarti, dugaanku selama ini meleset total. Pengirim surat ini adalah orang yang benar-benar belum mengenalku secara formal.

Otakku langsung berputar mencari kemungkinan lain. Meja biru Kansas. Itu tempat nongkrong favoritku bersama Mare dan anak-anak lain kalau sedang bolos kuliah atau sekadar menunggu jam masuk kelas. Siapa saja perempuan yang sering duduk di radius pandang meja itu?

Ndilalah, bayangan insiden di depan perpustakaan sastra itu kembali muncul. Ayas.

Apakah mungkin Ayas? Gadis sastra Jerman yang kamusnya berantakan gara-gara kutabrak? Tapi kalau diingat-ingat, wajahnya waktu itu ketus sekali. Mana mungkin orang yang kesal setengah mati malah mengirim surat ajakan kenalan? Tapi, bagaimana kalau rasa kesalnya itu justru karena dia salting alias salah tingkah? Ah, jiwa pecundangku langsung mendebat: Jangan kegeeran, Jim. Muka lo pas-pasan, jangan mimpi ketinggian.

Besoknya, hari Jumat. Aku sengaja datang ke kampus agak siang, sengaja mengambil rute memutar melewati meja biru Kansas. Suasana agak sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang bersiap salat Jumat.

Dari kejauhan, aku melihat Dewi—si kurir surat misterius itu—sedang berjalan sendirian ke arah gedung perkuliahan. Ini dia kesempatan emas. Sambil mempercepat langkah, aku mencoba memanggilnya.

"Dewi!"

Dia menoleh, sempat mengernyitkan dahi sebelum akhirnya mengenali mukaku. "Oh, Jim. Kenapa? Udah dibaca suratnya?" tanyanya sambil tersenyum simpul.

"Udah," jawabku agak ngos-ngosan. "Gue cuma mau nanya satu hal. Dan tolong jujur ya, Wi. Ini soalnya menyangkut ketenangan batin gue menjelang akhir semester."

Dewi tertawa kecil, "Lebay lo. Nanya apa?"

"Temen lo yang titip surat itu... anak Sastra Jerman bukan?" tanyaku langsung to the point, menembak satu nama yang paling bersipongang di otakku.

Dewi menghentikan langkahnya. Matanya membulat, menatapku dengan tatapan kombinasi antara kaget dan tidak percaya. Dia tidak langsung menjawab, melainkan menengok ke kanan dan ke kiri seolah-olah takut ada agen rahasia yang sedang menguping pembicaraan kami.

"Kok... lo bisa tahu?" bisik Dewi pelan.

Jantungku langsung sport jantung. Reaksi kimianya persis seperti saat aku menatap mata indah gadis itu di depan perpus. Ndilalah, tebakanku benar.

"Jadi bener... dia?" tanyaku memastikan, tenggorokanku mendadak kering.

Dewi tersenyum lebar, kali ini dengan tatapan penuh arti. "Gue nggak boleh sebut nama. Tapi karena lo udah bisa nebak jurusannya, gue cuma mau bilang: dia sebenernya nyesel banget waktu hari Senin itu kelihatan judes pas lo tabrak. Dia cuma gengsi, Jim. Sisanya... lo cari tahu sendiri ya. Gue cabut dulu!"

Dewi melenggang pergi, meninggalkan aku yang terpaku sendirian di koridor kampus yang mulai sepi. Hatiku yang tadinya hampa berhari-hari, mendadak rasanya seperti disiram bensin lalu disulut kembang api. Meledak-ledak.

Ternyata si X adalah dia. Orang yang namanya selaras dengan parasnya. Ayas.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Tujuh - Strategi Kamus Jerman

============

Malamnya, kosanku yang biasanya senyap mendadak jadi mirip markas besar penyusunan strategi perang. Bedanya, peta yang digelar di atas kasur lantai bukan peta wilayah, melainkan jadwal kuliah anak Sastra Jerman semester empat yang berhasil didapatkan Mare dari "orang dalam" di sekretariat jurusan.

"Nih, Jim," kata Mare sambil mengetuk-ngetuk kertas fotokopian itu dengan puntung rokoknya yang mati. "Hari Senin jam sepuluh pagi, kelas Ayas ada matkul Deutsche Literatur (Sastra Jerman) di Gedung VI. Kelar jam dua belas. Logikanya, habis itu dia pasti laper dan bakal ke Kansas."

Aku memperhatikan kertas itu dengan dahi berkerut, persis seperti profesor yang sedang memecahkan rumus relativitas. Reaksi kimia dalam perutku—yang biasanya cuma muncul kalau melihat GG—malam ini mendadak ikut aktif bersanding dengan debaran sport jantung khas Ayas. Campur aduk.

"Terus, gue harus gimana reka adegannya? Masa tiba-tiba gue nongol di depan kelasnya sambil bawa bunga? Yang ada gue dikira sales panci," ujarku ragu.

Mare mendengkus, menatapku dengan pandangan meremehkan. "Makanya otak lo itu dipake buat mikir taktik, jangan cuma buat ngapalin teori komunikasi doang. Inget insiden tabrakan kemarin? Dia bawa kamus Jerman-Indonesia kan? Nah, itu senjata lo!"

"Maksud lo?"

"Besok Senin pagi, lo pergi ke perpustakaan pusat. Pinjam kamus Jerman-Indonesia yang paling tebel. Pas dia keluar kelas, lo pura-pura lewat sambil baca itu kamus, atau minimal lo bawa di tentengan tangan lo. Begitu berpapasan, lo pasang muka bego yang ramah, terus bilang: 'Eh, sori... gara-gara tabrakan kemarin, gue jadi penasaran sama bahasa Jerman. Ternyata susah ya?'. Boom! Obrolan mengalir, lo dapet nomor telepon, selesai!" Mare memaparkan strateginya dengan mata berbinar-binar ala penjahat kelas kakap.

Teorinya Mare ini terdengar sangat utopis, mirip cerita karangannya waktu di UPT perpus kemarin. Tapi entah kenapa, logika pecundangku kali ini kalah telak oleh rasa penasaran. Aku butuh kepastian. Aku ingin melihat langsung mata tajam namun indah itu sekali lagi, kali ini tanpa rasa kesal di raut wajahnya.

Senin pagi tiba dengan cuaca Depok yang seperti biasa: gerah dan bikin keringat dingin makin bercucuran.

Sesuai rencana, sebuah kamus Jerman-Indonesia bersampul tebal warna hijau tua sudah sukses berpindah dari rak perpustakaan ke dalam dekapanku. Beratnya hampir dua kilo, rasanya lebih mirip bawa batu bata dibanding alat bantu kenalan.

Pukul 11.55, aku sudah bersandar di tiang selasar Gedung VI, pura-pura sibuk membolak-balik halaman kamus yang isinya sama sekali tidak masuk ke otakku. Affe artinya kera, Liebe artinya cinta... ah, persetan dengan kosakatanya, jantungku sudah mau copot duluan.

Krieeet...

Pintu kelas terbuka. Rombongan mahasiswi mulai berhamburan keluar. Mataku menyipit, memindai satu per satu paras yang lewat. Dan di sana, di antara kerumunan itu, dia berjalan.

Ayas. Hari ini dia menguncir rambutnya, menyisakan beberapa helai yang jatuh di pelipisnya. Dia sedang tertawa kecil mendengarkan celotehan temannya—yang ndilalah ternyata adalah Dewi. Begitu melihatku berdiri di dekat tiang, langkah Dewi mendadak melambat. Dia menyenggol siku Ayas sambil memberikan kode lirik mata ke arahku.

Ayas menoleh. Pandangan kami bertemu.

Langkah kakinya melambat, lalu benar-benar berhenti tepat dua meter di depanku. Teman-temannya yang lain terus berjalan menjauh, termasuk Dewi yang sempat menoleh sambil memberikan jempol tersembunyi di balik badannya.

Jeda.

Atmosfer di selasar Gedung VI mendadak terasa senyap, menyisakan suara deru angin siang yang panas. Ayas menatapku, matanya beralih ke kamus tebal hijau yang kupegang, lalu kembali menatap mataku. Kali ini, tidak ada kerutan kesal di wajahnya. Yang ada hanya semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya.

"Hai," sapa sebuah suara lembut yang selama ini hanya bersipongang dalam batinku. Dia yang menyapa duluan.

"O... eh, hai," jawabku gagap, sukses menjatuhkan martabat taktik keren yang sudah kususun bersama Mare semalaman.

Ayas tersenyum tipis, matanya melirik kamus di tanganku. "Nyari kata apa di kamus itu? Sampai segitunya nungguin di depan kelas gue?"

Skakmat. Ternyata dia tahu. Dan di detik itu juga, aku sadar, permainan petak umpet surat misterius ini sudah resmi berakhir.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Delapan - Obrolan di Kansas dan Kejelasan GG

============

Mukaku rasanya langsung panas. Strategi "Kamus Jerman" yang digadang-gadang Mare bakal bikin gue kelihatan keren layaknya intelektual muda, malah bikin gue mati kutu dalam satu detik. Ayas tipe cewek yang langsung to the point, beda 180 derajat sama bayangan gue yang mengira dia bakal malu-malu kucing.

"Eh... ini," gue mengangkat kamus hijau tebal itu dengan kikuk. "Gue cuma lagi nyari arti kata 'verzeihen'."

Ayas mengangkat sebelah alisnya. "Artinya memaafkan. Kenapa? Masih merasa bersalah soal insiden hari Senin kemarin?"

"Salah satunya itu," jawab gue, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di lantai selasar. "Tapi alasan utamanya... gue mau ngajakin lo makan di Kansas. Sebagai tanda permohonan maaf resmi, sekaligus balesan buat... surat di meja biru."

Mendengar kata "surat", semburat merah di pipi Ayas makin jelas kelihatan. Dia mengalihkan pandangannya sebentar ke arah lapangan, lalu kembali menatap gue sambil tersenyum tipis. "Ya udah, yuk. Keburu penuh meja birunya."

Kansas siang itu ramai seperti biasa. Aroma soto, bakso, dan gorengan bercampur jadi satu dengan riuh rendah obrolan mahasiswa dari berbagai jurusan. Beruntung, meja biru favorit gue di sudut kantin masih kosong.

Gue memesan dua es teh manis dan siomay. Setelah makanan datang, jeda canggung sempat mampir di antara kami. Ayas sibuk mengaduk es tehnya dengan sedotan, sementara gue mendadak amnesia dengan semua teori komunikasi yang pernah gue pelajari di kelas.

"Jadi," Ayas membuka suara duluan, memecah kesunyian. "Gimana lo bisa tahu kalau gue yang kirim surat itu? Perasaan Dewi janji nggak bakal bocor."

"Dewi emang nggak sebut nama," kata gue sambil terkekeh. "Tapi lo nulis di surat kalau lo sering lihat gue di meja biru Kansas. Satu-satunya insiden terbesar gue akhir-akhir ini ya pas nabrak lo di depan perpus sastra. Logika gue jalan aja, ditambah sedikit tebakan berhadiah waktu nanya Dewi tempo hari."

Ayas tertawa renyah. Suaranya renyah banget, kontras dengan wajah judesnya pas pertama kali ketemu. "Gue sebenernya ngerasa bersalah, Jim. Waktu lo tabrak itu, gue lagi pusing banget gara-gara ujian bahasa Jerman yang susahnya minta ampun. Makanya muka gue ketus. Begitu lo pergi, gue baru sadar kalau lo itu... cowok yang sering diceritain anak-anak Kansas."

"Diceritain gimana? Yang jelek-jelek pasti ya?"

"Nggak juga," Ayas menopang dagunya dengan tangan, menatap gue dalam-dalam. "Katanya ada cowok komunikasi yang hobi nongkrong di meja biru, yang katanya berani banget ngaku jadi penggemar rahasianya GG di depan umum."

Deg.

Nama GG disebut. Reaksi kimia di perut gue mendadak bereaksi. Ini dia, ganjalan terbesar di hati gue yang harus diselesaikan siang ini juga.

"Soal GG..." gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kata-kata. "Gue emang pernah kagum banget sama dia. Dan bener, gue pernah bilang langsung ke dia kalau gue penggemarnya. Tapi..."

"Tapi kemarin lo habis jalan sama dia kan di Warung TRSNO Margonda?" potong Ayas santai, tapi matanya menatap gue tajam. Informannya Ayas ternyata tidak main-main.

"Iya, bener," gue memilih jujur. "Gue ngajak dia makan karena awalnya gue pikir surat misterius itu dari dia. Gue mau verifikasi. Tapi di sana, gue malah dapet jawaban lain."

Gue memajukan posisi duduk gue. "Gue lihat sendiri dia diantar sama cowok lain. Dan dari cara mereka... ya, isu yang beredar itu bener. GG udah punya gandengan. Lagian, pas gue baca ulang surat dari lo, ada kalimat 'Boleh nggak kenalan sama lw?'. Di situ gue sadar, nggak mungkin itu GG, karena gue dan GG udah saling kenal. Surat itu... dari orang yang bener-bener baru buat gue."

Ayas terdiam sebentar, mendengarkan penjelasan gue dengan saksama. Kerutan di dahi yang sempat muncul kini hilang, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat menenangkan.

"Terus, sekarang gimana?" tanya Ayas pelan. "Pecinta GG udah patah hati?"

Gue menatap mata indah di depan gue ini. Rasa kagum gue ke GG itu nyata, tapi itu seperti mengagumi bintang di langit—indah, tapi jauh dan sudah ada yang punya. Sementara di depan gue sekarang, ada gadis yang nyata, yang bersedia meluangkan waktu, bahkan mengirimkan surat polos demi bisa duduk di meja biru ini sama gue.

"Patah hati sih nggak," jawab gue mantap, sambil balik tersenyum sungging. "Gue cuma baru sadar kalau posisi menentukan prestasi itu beneran ada. Dan siang ini, posisi gue udah bener. Di depan lo."

Ayas tertawa kecil, wajahnya merona lagi. Dia menjulurkan tangan kanannya di atas meja biru yang saksi bisu itu.

"Kalau gitu, kita mulai dari awal. Kenalin, nama gue Ayas."

Kusambut tangannya yang halus dengan debaran jantung yang kali ini terasa sangat menyenangkan. "Gue Jim. Salam kenal, Yas."

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Sembilan - Reaksi Mare dan Babak Baru

============

"Demi apa lo, Jim?! Demi jajan soto sebulan penuh di Kansas?!"

Suara Mare menggelegar di pojokan koridor Gedung III, membuat beberapa mahasiswa yang sedang duduk khusyuk membaca diktat kuliah langsung menoleh dengan pandangan terganggu. Gue buru-buru membekap mulut anak itu pake telapak tangan gue.

"Berisik, Re! Gak usah pake toa masjid juga kali," bisik gue sengit seraya melepaskan bekapan.

Mare masih menatap gue dengan mata membelalak, mirip orang yang baru saja melihat penampakan UFO jatuh di lapangan bola kampus. Dia memegangi kedua pundak gue, menggoyang-goyangakannya seolah-olah pengen memastikan kalau roh gue nggak lagi kerasukan jin penunggu perpus pusat.

"Jadi... taktik Kamus Jerman bin Utopis karangan gue itu berhasil? Lo beneran jabat tangan sama Ayas? Di meja biru? Terus soal si GG gimana?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Mare layaknya senapan mesin.

Gue menyadarkan punggung ke tembok, mencoba menahan senyum sungging yang dari tadi pagi ogah lepas dari bibir gue. "Sukses total, Re. Malah Ayas yang buka obrolan duluan. Soal GG, semuanya udah clear. Dia emang udah ada yang punya, dan gue udah legawa. Lagian, hati gue sekarang udah resmi pindah haluan."

Mare terdiam sejenak. Perlahan, raut muka kagetnya berubah menjadi senyuman licik ala penjahat kelas kakap—senyum khas yang biasa dia pajang kalau otaknya lagi merencanakan sesuatu. Dia menepuk pundak gue keras-keras sampai gue agak tersedak.

"Gila lo, Jim! Dari pecundang sejati, sekarang lo naik kasta jadi pujangga kampus. Sigapi terus, Cuy! Jangan kasih kendor. Berarti ramalan mimpi lo waktu subuh itu beneran tembus!" Mare terkekeh-kekeh, kelihatan jauh lebih bahagia dibanding gue yang ngalamin sendiri.

Semenjak hari Senin yang bersejarah di meja biru Kansas itu, hari-hari gue di Kampus Kuning rasanya berubah total. Cuaca Depok yang biasanya panas menyengat dan bikin suntuk, entah kenapa akhir-akhir ini rasanya agak adem, seolah-olah angin muson barat sengaja berembun khusus di sekitaran jalan setapak yang gue lewati.

Babak baru pun dimulai.

Gue dan Ayas jadi makin sering ketemu. Awalnya modus pinjam diktat kuliah, lama-lama berlanjut jadi rutinitas nongkrong sore di selasar perpus sambil mendengarkan lagu-lagu lewat earphone yang dibagi dua. Ndilalah, selera musik kami nggak beda jauh. Waktu gue iseng muter lagu progresif rock kesukaan gue, dia malah ikut bersenandung kecil. Reaksi kimia di jantung gue tiap dekat dia masih sama—tetap bikin sport jantung—tapi anehnya, kali ini rasa deg-degan itu bikin gue candu.

Sampai pada suatu sore di penghujung minggu. Kami berdua sedang berjalan santai menuju stasiun kampus setelah kelas terakhir selesai. Sinar matahari senja berwarna jingga keemasan menerobos di antara celah-celah pohon karet, menerangi paras Ayas dari samping. Cantik. Sungguh, namamu selaras dirimu, Yas.

"Jim," panggil Ayas pelan, memecah keheningan langkah kaki kami di atas kerikil.

"Ya? Kenapa, Yas?"

Dia berhenti melangkah, membalikkan badannya menghadap gue. Angin sore menerbangkan beberapa helai rambutnya yang lepas dari kunciran. Matanya yang tajam namun indah itu menatap lurus ke dalam mata gue.

"Minggu depan kan udah libur panjang pasca-ujian," kata Ayas, nadanya agak ragu tapi ada binar harap di matanya. "Temen-temen kelas gue mau ngadakan acara makan-makan santai di daerah Puncak. Tapi... kita boleh bawa orang luar. Lo... mau nggak ikut nemenin gue?"

Gue terpaku sejenak. Otak komunikasi gue langsung menangkap sinyal ini sebagai sebuah kode besar. Ini bukan lagi sekadar urusan surat misterius di meja biru atau permohonan maaf soal kamus yang jatuh. Ini adalah undangan resmi masuk ke dalam dunianya.

Gue tersenyum, kali ini tanpa rasa ragu atau jiwa pecundang yang biasanya suka membisikkan kata minder di kuping gue.

"Asal lo yang jadi penunjuk jalannya, ke ujung dunia pun gue jabanin, Yas. Apalagi cuma ke Puncak," jawab gue mantap.

Ayas tertawa renyah, senyumnya mengembang sempurna menyaingi indahnya langit senja Kampus Kuning sore itu. Dan dalam hati, gue berbisik lirih: Terima kasih, semesta. Posisi kali ini benar-benar telah menentukan prestasi terbaik dalam hidup gue.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Sepuluh - Jalan Berliku Menuju Puncak

============

Dua buah bus sewaan berukuran sedang sudah terparkir rapi di pelataran parkir Kampus Kuning sabtu pagi itu. Suasana riuh rendah khas anak kuliahan yang mau pergi berlibur langsung menyambut telingaku begitu aku turun dari angkot. Anak-anak Sastra Jerman semester empat nampak kompak memakai jaket angkatan berwarna abu-abu.

Sementara aku? Aku berdiri kikuk di dekat tiang listrik dengan jaket jins belel andalanku, merasa seperti intel yang salah masuk ke markas musuh.

"Jim! Sini!"

Sebuah lambaian tangan dari dekat pintu bus membuatku menoleh. Ayas berdiri di sana, melambaikan tangannya dengan ceria. Rambutnya hari ini dibiarkan terurai, memakai kaus putih kasual yang dibalut kemeja flanel kotak-kotak. Reaksi sport jantung di dadaku langsung bekerja tanpa ampun.

Begitu aku mendekat, Dewi yang berdiri di samping Ayas langsung menyenggol lengan sahabatnya itu sambil berbisik kencang, "Ciyee... yang bawa bodyguard pribadi dari Anak Komunikasi. Aman deh Puncak kalau begini."

Ayas melotot ke arah Dewi, tapi pipinya tak bisa menyembunyikan semburat merah. "Berisik lo, Wi. Sana masuk bus duluan, taruh tas gue."

Setelah Dewi masuk sambil cekikikan, Ayas menatapku dengan tatapan bersalah. "Sori ya, Jim. Anak-anak emang suka ngeledek begitu. Lo nggak apa-apa kan gabung sama anak-anak Jerman?"

"Nggak apa-apa, Yas," jawabku sambil tersenyum menenangkan. "Lagian kan ada lo. Jadi gue nggak bakal kesasar di antara kosakata Ich liebe dich yang bakal diomongin anak-anak di dalam bus nanti."

Ayas tertawa renyah, tawa khas yang selalu sukses meruntuhkan tembok pertahanan jiwaku. "Ya udah, yuk naik. Kita duduk di barisan tengah."

Perjalanan menuju Puncak hari itu diwarnai dengan kemacetan khas akhir pekan di jalur Bogor. Bus bergerak merayap bak siput tua. Di dalam bus, anak-anak sastra mulai bernyanyi-nyanyi diiringi petikan gitar akustik dari bangku belakang. Suasana hangat itu perlahan mencairkan kecanggunganku.

Di baris tengah, aku dan Ayas duduk bersebelahan. Jarak kami begitu dekat hingga beberapa kali pundak kami bersentuhan setiap kali bus mengerem mendadak.

Awalnya kami mengobrol banyak hal, mulai dari kelakuan Mare yang sempat menitipkan salam "utopis" untuk Ayas, hingga rencana judul skripsi yang mulai membayangi otak semester tua kami. Namun lambat laun, seiring dengan hawa dingin yang mulai menerobos masuk lewat celah ventilasi bus saat kami memasuki daerah Cisarua, obrolan kami mulai menyusut menjadi keheningan yang nyaman.

Ayas nampak mengantuk. Kepalanya beberapa kali bergoyang mengikuti ritme bus yang berguncang.

Deg.

Ndilalah, pada satu tikungan tajam, kepala Ayas perlahan jatuh dan mendarat tepat di bahu kananku. Nafasnya yang teratur mulai terasa di leherku. Jantungku langsung berdegup tak menentu, rasanya seperti mau melompat keluar dari rongga dada. Aku kaku seketika, takut bergerak sedikit saja karena tidak ingin merusak momen berharga ini atau membangunkan gadis yang sedang bersipongang di dalam otakku berbulan-bulan ini.

Kulihat parasnya yang tertidur dari samping. Begitu damai. Surat misterius di meja biru Kansas itu benar-benar telah membawa hidupku ke sebuah jalur komunikasi baru yang tidak pernah kuduga sebelumnya.

Hingga tiga jam berlalu, bus akhirnya berbelok memasuki halaman sebuah vila besar berarsitektur kayu di daerah Watulawang.

"Yas... Yas, udah sampai," bisikku pelan sambil menggoyangkan bahuku sedikit.

Ayas mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tersentak kaget begitu sadar dia tertidur di bahuku sepanjang sisa perjalanan. Wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga. "Eh... ya ampun, Jim! Maaf banget ya, pundak lo pasti pegal banget."

"Santai aja, Yas. Malah kalau bisa macetnya ditambah dua jam lagi juga gue rela kok," godaku sambil terkekeh sungging.

"Ih, apa sih!" Ayas mencubit lenganku pelan, tapi senyumnya tak bisa bohong.

Malam harinya, acara puncaknya dimulai. Anak-anak membuat api unggun besar di halaman vila yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota di bawah sana. Dinginnya angin malam Puncak menusuk hingga ke tulang, membuat semua orang merapatkan jaket masing-masing.

Gue sedang duduk sendirian di dekat pembakaran jagung, memandangi api yang menjilat-jilat kayu bakar, ketika tiba-tiba seseorang duduk di sebelah gue.

Bukan Ayas. Tapi Dewi.

Dia membawa dua gelas wedang jahe hangat, memberikan salah satunya ke gue. "Nih, Jim. Biar anget."

"Makasih, Wi," jawab gue sambil menerima gelas plastik itu.

Dewi memandangi api unggun, lalu menoleh ke arah gue dengan tatapan yang mendadak serius. "Jim, gue cuma mau bilang makasih ya udah mau ikut ke sini."

"Gue yang harusnya makasih, Wi. Udah diajakin."

"Gue serius, Jim," potong Dewi pelan. "Ayas itu sebenernya cewek yang tertutup kalau soal perasaan. Waktu dia nulis surat di Kansas itu, itu adalah hal paling nekat yang pernah dia lakukan seumur hidupnya. Dia kagum sama keberanian lo waktu lo blak-blakan soal GG dulu. Dia ngerasa lo itu cowok yang jujur sama perasaan sendiri."

Dewi meminum jahenya sedikit sebelum melanjutkan, "Jadi, tolong jangan bikin dia kecewa ya. Jiwa 'pecinta GG' lo itu udah harus lo kubur dalam-dalam."

Gue terdiam, merenungi perkataan Dewi. Mataku beralih memandangi Ayas yang berada di seberang api unggun, sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Di bawah temaram cahaya api, dia kelihatan begitu bersinar.

"Wi," kata gue mantap, "Soal GG, itu udah jadi arsip lama di perpustakaan hidup gue. Sekarang, fokus gue cuma satu. Nulis cerita baru sama orang yang namanya selaras sama parasnya itu."

Dewi tersenyum puas mendengarnya. Dia menepuk pundak gue lalu berdiri. "Bagus deh. Tuh, orangnya lagi sendirian di dekat pagar pembatas vila. Samperin sana. Udah gue buka jalan gedenya, posisi menentukan prestasi kan?"

Gue terkekeh, langsung bangkit dari duduk gue dengan segelas wedang jahe di tangan dan debaran sport jantung yang siap menghadapi babak penentuan malam ini.

 

Elegi Kampus Kuning: Bagian Dua Belas - Epilog dan Kembali ke Meja Biru

============

Libur panjang pasca-ujian akhir semester akhirnya usai. Kampus Kuning kembali menggeliat dengan kesibukan barunya. Mahasiswa-mahasiswa berwajah segar—dan sebagian lagi berwajah kusut karena bayang-bayang nilai IPK—tampak mulai memadati selasar gedung perkuliahan.

Hari ini Senin, persis seperti hari di mana insiden tabrakan konyol itu terjadi beberapa bulan lalu. Cuaca Depok siang ini masih konsisten: panas, gerah, dan bikin baju gampang lepek. Tapi sumpah, rumangsaku hari ini rasanya jauh lebih bersahabat.

Aku berjalan santai melewati perpustakaan sastra, tempat di mana kamus Jerman-Indonesia berserakan pating-tlethek waktu itu. Aku tersenyum sungging sendirian mengingatnya. Kalau waktu itu aku tidak terlambat tujuh menit, kalau waktu itu aku tidak berlari grusa-grusu, mungkin jalan takdirku akan tertulis beda. Memang betul pemeo kuno itu: selalu ada berkah di balik sebuah musibah.

Langkah kakiku kubawa menuju Kansas. Dari kejauhan, netraku menangkap siluet sebuah meja yang sangat familier. Meja biru.

Di sana, Mare sudah duduk manis sambil mengunyah tahu gejrot dengan khusyuk. Begitu melihat kedatanganku, dia langsung mengangkat sendoknya tinggi-tinggi, memberikan gestur hormat ala komandan militer.

"Woi, sang pujangga! Sini lo!" teriak Mare berisik seperti biasa.

Aku duduk di hadapannya, langsung menyambar es teh manis milik Mare yang masih utuh tanpa permisi. "Gimana liburan lo, Re? Aman?"

"Aman matamu! Gue gabut maksimal di rumah. Lah lo sendiri, gimana kelanjutan proyek 'Watulawang' kemarin? Gak ada kabar, tahu-tahu mukanya udah cerah kayak abis dapet beasiswa supersemar aja," seloroh Mare sambil menyipitkan mata menyelidik.

Belum sempat aku menjawab rentetan interogasi dari Mare, sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arah meja kami. Aroma wangi sampo apel yang sangat kukenal mendadak menyeruak di antara bau asap penggorengan kantin.

"Hai, Jim. Hai, Mare," sapa sebuah suara lembut.

Ayas berdiri di samping meja biru kami. Hari ini dia memakai kemeja putih kasual dengan rambut yang dikuncir rapi. Di dekapannya, ada beberapa buku teks kuliah dan—ndilalah—kamus Jerman-Indonesia bersampul hijau tebal yang dulu sempat jadi senjata taktik kenalanku.

"Eh, Ayas! Silakan duduk, Yas. Ini si Jim dari tadi ditanya soal Puncak malah senyum-senyum dewek kayak orang kurang sajen," ujar Mare langsung menggeser posisi duduknya demi memberikan ruang.

Ayas tertawa renyah, tawa yang selalu sukses membuat jantungku sport jantung seketika. Dia duduk tepat di sebelahku, meletakkan kamus tebalnya di atas meja biru. Secara refleks, tangannya bergerak di bawah meja, menyentuh jemariku dan menggenggamnya erat secara sembunyi-sembunyi dari pandangan Mare. Hangat. Sama persis seperti malam itu di pagar pembatas Watulawang.

Di saat yang bersamaan, pandanganku mendadak terlempar ke arah selasar seberang Kansas. Di sana, tampak GG sedang berjalan anggun bersama seorang cowok yang waktu itu mengantarnya ke Warung TRSNO Margonda. Mereka kelihatan tertawa bahagia.

Aku menatap pemandangan itu selama beberapa detik. Anehnya, perutku yang biasanya langsung mules bak gejala diare tiap kali melihat GG, kali ini benar-benar tenang. Tidak ada kontraksi, tidak ada rasa sesak. Rasa kagum itu masih ada, tapi murni sebagai arsip cerita lama yang indah untuk dikenang, tanpa perlu dibuka kembali halamannya.

Ayas yang menyadari arah pandanganku ikut menoleh sebentar, lalu dia kembali menatapku. Tatapannya tajam namun indah, seolah bertanya tanpa suara: 'Gimana, Jim?'

Aku menoleh ke arah Ayas, menatap matanya dalam-dalam, lalu membalas genggaman tangannya di bawah meja dengan lebih erat. Aku melempar senyum terbaikku padanya, sebuah jawaban mutlak bahwa seluruh rongga otak dan hatiku kini sudah penuh terisi oleh namanya.

"Nih, Jim, titipan dari Dewi," kata Ayas kemudian, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan secarik amplop putih polos tanpa tulisan apa pun di sampulnya. Dia meletakkannya di atas meja.

"Lho? Surat lagi?" tanyaku heran bercampur panik. Masa ada misteri baru lagi?

Mare yang melihat amplop itu langsung keselek tahu gejrot. "Wah, parah! Belum juga kelar satu babak, udah ada surat misterius babak baru! Siapa lagi ini, Jim?!"

Ayas terkekeh melihat ekspresi panik kami berdua. "Bukan dari cewek lain, Jim. Buka aja sendiri."

Dengan tangan agak gemetar, kubuka amplop putih itu perlahan. Di dalamnya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan rapi yang sangat kukenal. Isinya singkat:

Hai.

Makasih ya udah mau kenalan sama gue.

Sekarang, meja biru Kansas ini bukan cuma tempat lo nongkrong,

tapi udah jadi tempat kita nemuin prestasi terbaik.

Dari:

Aku (yang sekarang jadi Kamumu).

Aku terkinjat, lalu tawa lepasku pecah seketika di sudut kantin sastra itu. Mare melongo kebingungan sambil merutuk karena tidak paham situasinya, sementara Ayas hanya tersenyum manis dengan pipi yang kembali merona merah, menatapku dengan binar kebahagiaan yang seutuhnya.

Kisah penantian, dilema batin, dan surat misterius di Kampus Kuning ini mungkin berliku dan penuh dengan salah asumsi. Tapi siang ini, di atas meja biru Kansas yang menjadi saksi bisu, aku tahu satu hal dengan pasti: langkahku tidak akan gontai lagi. Elegiku telah resmi selesai, berganti menjadi sebaris puisi cinta yang selaras dengan namanya.

--- Selesai ---

 

No comments:

Post a Comment