Friday, July 3, 2026

Bus PPD 213 dan Sepotong Bohong di Slipi

 

Bagian I: Fragmen dari Layar Retak

Ada masanya ketika sebuah hubungan diukur dari derit kursi bus kota dan sisa daya baterai gawai. Jakarta pada pertengahan Mei terasa begitu riuh, namun di dalam ruang obrolan itu, dunia menyusut hanya menjadi sepasang nama: Dea dan Darma. Kalau kamu hidup di jaman sebelum muncul program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasti familiar dengan yang namanya bus kota dengan pelbagai jurusan di ibukota, salah satunya bus kota PPD 213 jurusan Grogol – Kampung Melayu yang kesohor bukan karena nama daerah trayek jurusannya namun karena di bus ini konon tapi fakta banyak copet dengan cosplay layaknya orang kantoran berbaju rapi dan berdasi.

Semuanya dimulai dengan kepatuhan yang manis pada arah dan rute. Darma Jaya—atau yang dipanggil Darma—mengeja peta Jakarta dengan ketelitian seorang pemandu yang cemas. “PPD 213 Grogol-Kp. Melayu via Slipi,” tulisnya. PPD, Perusahaan Pengangkutan Djakarta, bus putih-dominan dengan logo Monas di badannya, menjadi jangkar pertama. Ada kecemasan khas urban yang diselipkan di sana: “Hati-hati banyak copetnya itu bus. Turun di Taman Suropati.”

Dea, dengan segala kepolosan manja anak kos yang belum seutuhnya akrab dengan aspal ibu kota, membalas dengan gumaman ringkas. “Mmm.” Ia lebih memilih taksi, pulang ke kos untuk mandi dan berdandan rapi. Di antara sela-sela waktu tunggu, mereka bertukar afeksi yang renyah—kecupan virtual pada kening, candaan tentang kecemburuan, hingga pesan protektif yang vulgar namun intim: “Jaga iman dan kemaluan! Kamu jangan lupa ibadah ya.”

Dunia mereka saat itu terasa aman, dibentengi oleh rutinitas harian: kelas kuliah pukul sembilan pagi, urusan buang air yang dilaporkan tanpa canggung, titipan mengunduh anime Shingeki no Kyojin versi terbaru di internet gratis kampus, hingga kejutan paket yang sampai ke kamar kos dan memicu ucapan cinta yang meluap-luap. Mereka adalah sepasang manusia yang saling mengunci perhatian di balik layar Blackberry dan telepon genggam kecil.

Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk menguji jarak, dan teknologi sering kali menjadi saksi bisu bagaimana sebuah keretakan dimulai secara perlahan.

Juli datang membawa gerah yang berbeda. Romantisme bus PPD dan perhatian manis di Taman Suropati mendadak menguap, digantikan oleh jajaran teks yang dingin, tajam, dan defensif. Jarak digital yang awalnya merekatkan, kini justru mengekspos celah yang tak bisa dijembatani.

“Sampai detik ini kamu gak tahu salahmu apa, dan GAK MERASA SALAH…”

Kalimat itu meluncur pada suatu pagi di pertengahan Juli, memutus paksa sisa-sisa kehangatan Mei. Dea yang dulu manja telah berubah menjadi sosok yang terluka dan getir. Layar gawai bukan lagi tempat bertukar emoji ciuman, melainkan ruang sidang tempat bukti-bukti digital dibentangkan: sebuah akun Twitter yang mengikuti Ava Victoria, interaksi yang bertambah dengan Yumanissa, hingga perhatian kecil kepada seorang wanita bernama Raisa.

Sejarah digital tidak pernah benar-benar menghapus jejak; ia hanya menyimpannya sampai seseorang memutuskan untuk membongkarnya kembali. Hubungan yang dulunya diikat oleh rasa percaya kini runtuh bersama tombol delete friend, unfollow, dan penghapusan status hubungan di Facebook.

Di seberang sana, Darma Jaya kehilangan artikulasinya. Lelaki yang dulu begitu fasih mengarahkan rute bus kota kini hanya bisa mengetik patah-patah: “Tolong,” “Ak mw ngo,” “Dari semalam aku ngemis.” Ia terjebak dalam kepanikan urban yang baru—bukan takut kecopetan di atas PPD 213, melainkan takut kehilangan jangkar emosionalnya. Ia memohon sebuah panggilan telepon, sebuah ruang untuk berbicara langsung, menganggap suara bisa membasuh salah paham.

Namun, bagi Dea, segalanya sudah terlambat. Ia menganalogikan dirinya dengan sangat liris:

“Aku kayak jari lembut yang belajar gitar. Kamu lukai dengan senar bohongmu dan wanita yang gak bisa kamu tinggalkan. Sampai aku terluka. Sampai luka itu tertutup. Dan kulit lembut itu mengeras.”

Melalui teks-teks terakhir, kita melihat sebuah tragedi komunikasi modern. Seseorang memohon pengampunan agar hatinya sendiri tenang, sementara yang lain menuntut pemahaman atas rasa sakit yang telanjur membatu. Panggilan telepon yang diminta Darma tidak pernah dikabulkan. Dea memilih menetap di dalam teks, menolak melunakkan diri untuk sebuah penjelasan yang dianggapnya fiktif.

Esai fiksi ini tidak berakhir dengan pelukan di Taman Suropati atau perjalanan pulang dengan bus putih-biru yang dominan putih. Ia berakhir pada ketukan jempol di atas layar yang keras, sebuah kata "Gak" yang dingin, dan sebuah titik yang mengakhiri semuanya sebelum jam dua belas malam. Rasa sayang yang mendalam itu, pada akhirnya, menemui jalan buntu di jalur Slipi Petamburan yang macet dan ego yang enggan mengalah.

Bagian II: Anatomi Dua Ego

Pertengahan Juli tidak pernah benar-benar memaafkan mereka yang bertaruh pada jarak. Di dalam kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat di kawasan Slipi, Dea menatap layar gawai dengan mata yang terasa panas. Kipas angin dinding berputar monoton, menghempaskan udara gerah Jakarta yang seolah ikut mengendap di sela-sela lipatan sprei. Di tangannya, telepon genggam itu bukan lagi sebuah alat komunikasi, melainkan sebuah pisau bedah.

Bagi Dea, mendapati nama Ava Victoria atau Yumanissa di daftar ikutan gawai Darma bukan sekadar urusan cemburu buta. Ini adalah soal kompromi yang dikhianati. Selama berbulan-bulan, ia telah menundukkan kepalanya pada ritme hidup Darma—menerima instruksi rute bus seolah ia adalah anak kecil yang tak tahu arah, memaklumi segala pesan protektif yang kerap kali berbatasan dengan kontrol, hingga membiasakan diri mengirimkan detail "cek poin" harian dari ruang-ruang kuliahnya. Dea telah melunakkan seluruh dunianya agar pas dengan cetakan yang diinginkan Darma.

Maka, ketika ia menemukan bahwa di balik dinding protektif itu Darma justru memelihara ruang interaksi yang longgar dengan wanita lain, sesuatu di dalam dirinya patah. Itu adalah patah yang senyap, yang tidak menghasilkan ledakan, melainkan pengerasan.

"Kamu merasa benar sendiri," gumam Dea pada malam sebelum badai teks itu pecah, jarinya gemetar menghapus pertemanan mereka di laman Facebook. Menghapus status hubungan digital itu rasanya seperti mencabut paku berkarat dari daging: sakit, meninggalkan lubang, tapi harus dilakukan.

Sementara itu, di sudut kota yang lain, Darma Jaya sedang dilingkupi kepanikan yang purba. Di hadapan Rizal—sahabatnya yang malam itu hanya bisa terdiam memandangi puntung rokok yang meredup di asbak—Darma mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Karakter Darma yang biasanya dominan, penuh arahan, dan terstruktur sebagai seorang pelindung, mendadak luluh lantak.

Lelaki itu terbiasa memegang kendali. Ia tahu nomor bus, ia tahu letak copet, ia tahu kapan harus menyuruh Dea beribadah atau tidur. Namun, malam ini, algoritma gawai dan dinginnya teks chat telah merenggut otoritas itu darinya.

Ketika Darma mengetik, “Telp... Tlg... Ak mohon,” ia tidak sekadar meminta maaf. Ia sedang mengemis kembalinya kendali yang hilang. Bagi tipe penokohan seperti Darma, penyelesaian via teks adalah sebuah labirin tanpa pintu keluar; ia membutuhkan suara, ia membutuhkan intonasi, ia membutuhkan getaran pita suara yang biasanya mampu melunakkan Dea dalam hitungan detik.

Namun gawai di seberang sana tetap membisu. Panggilan teleponnya ditolak bertubi-tubi. Teks patah-patahnya yang dikirim dengan jempol yang berkeringat hanya membentur dinding ketegasan baru dari Dea yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“Kamu maksa mau ngomong supaya kamu bisa tenang... yang penting salahmu sama aku udah kamu tebus dgn maaf dan penjelasan.”

Teks dari Dea subuh itu menelanjangi motif terdalam Darma. Dea, dengan kedewasaan pahit yang mendadak muncul dari rasa sakit, menyadari bahwa permintaan maaf Darma yang menggebu-gebu bukanlah untuk menyembuhkan lukanya, melainkan untuk meredakan rasa bersalah di dada Darma sendiri. Darma ingin buru-buru menuntaskan "masalah" ini agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak, kembali menjadi sosok 'Darma' yang tak bercela.

Konflik malam itu berubah dari sekadar pembuktian perselingkuhan digital menjadi benturan dua karakter yang mendasar:

·         Darma, sang pengatur yang panik karena kehilangan kendali atas manusianya dan kini menggunakan "permintaan maaf" sebagai senjata untuk memaksa keadaan kembali normal.

·         Dea, sang pengikut yang bertransformasi menjadi hakim dingin, yang menyadari bahwa satu-satunya cara menyelamatkan harga dirinya adalah dengan menolak berkomunikasi lewat aturan main yang dibuat Darma.

Saat jarum jam merangkak melewati pukul tujuh pagi, ultimatum terakhir dikirimkan. Di bawah sorot lampu gawai yang mulai redup, Dea menetapkan batas akhir. Tidak ada panggilan telepon. Tidak ada pertemuan di Taman Suropati. Hubungan mereka, yang dulunya seramah tawa di atas bus PPD, kini resmi dikubur di dalam sebuah ruang obrolan yang layarnya retak—menyisakan Darma yang menatap nanar baris teks terakhir, dan Dea yang akhirnya membalikkan badan untuk tidur, membiarkan kulit gitarnya yang mengeras menghadapi hari yang baru.

Bagian III: "Udahlah, Bang. Capek."

Kamar kos Dea di Slipi siang itu rasanya mirip oven. Kipas angin kosan yang bunyinya ngik-ngok-ngik-ngok sama sekali gak ngebantu ngusir gerah. Dea selonjoran di kasur busa tanpa sprei yang ujungnya udah mrothol, matanya lengket ke layar Blackberry yang lampunya kedap-kedip warna merah. Lowbat. Tapi dia asyik scroll lini masa Twitter-nya pakai jempol yang mulai gemeteran.

"Gila ya," bisik Dea sendirian. "Bisa-bisanya."

Dia baru aja nemu satu bukti lagi. Si Darma—cowoknya yang sok paling bener sedunia itu—ternyata baru aja mem-follow balik akun cewek namanya Yumanissa. Belum lagi urusan Ava Victoria yang kemarin sempat bikin mereka berantem sampai subuh.

Drrt... drrt...

HP kecil Nokia jadulnya yang ditaruh di samping bantal getar. Ada SMS masuk. Dari nomor Darma.

Darma Jaya: Dea, angkat tlp dong. Ak mohon. Jgn gini.

Dea cuma mendengus. Dia lempar itu HP kecil ke tumpukan baju kotor di pojok kamar. "Ngemis terus, tapi kelakuan kagak berubah. Najis," batirnya dalam hati. Rasa sedihnya udah lewat dari tadi malam; sekarang yang tersisa cuma rasa enek yang numpuk di hulu hati.

Sementara itu, di sebuah warkop 24 jam dekat kampus daerah Grogol, Darma lagi megangin kepalanya yang pusing tujuh keliling. Di depannya ada segelas kopi hitam yang udah dingin dan mangkok mi instan yang kuahnya udah mengental.

"Gimana, Darma? Dibales gak?" Rizal, temen sekampusnya yang dari semalam setia nemenin begadang, nanya sambil nyedot rokok dalam-dalam.

"Kagak. Cuma di-R (read) doang di WA. SMS gua juga gak dibales," suara Darma serak. Tampangnya kusut banget, rambutnya yang biasa rapi pakai pomade sekarang acak-acakkan mirip anak ayam kehujanan. "Dia beneran motong semua akses gua, Zal. Facebook di-deletefriend, Twitter di-unfollow. Gila, gua kayak penjahat kelamin aja diginiin."

"Ya lu lagian pake acara nge-follback mantan segala, pake nanya-nanya Raisa udah bolong puasa berapa lagi. Cari mati lu," sahut Rizal lempeng.

"Kan cuma nanya, Zal! Gak ada maksud apa-apa. Lagian si Dea kenapa sih jadi keras kepala bener sekarang? Biasanya kalau gua tegasin dikit langsung nurut, langsung 'iya Darma, maaf Darma'. Sekarang bener-bener kayak batu!" Darma mukul meja warkop pelan, frustrasi. Dia terbiasa jadi komandan di hubungan ini. Dia yang ngatur Dea naik bus PPD apa, dia yang nyuruh Dea tidur jam berapa. Begitu kendalinya lepas kayak gini, Darma mendadak ngerasa kerdil.

Darma buru-buru ngetik teks lagi dengan jempol berkeringat.

Darma Jaya: Tolong lah Dea. Kita tlp dlu. Gak bisa selesai lewat teks gini. Lu kok tegaan bgt sih ama gua?

Ting.

Pesan itu masuk ke WA Dea. Dea membaca baris kalimat itu sambil tersenyum sinis. Dia langsung bangkit, duduk bersila di kasur, dan mengetik balesan dengan kecepatan penuh.

Dea: Lu nanya kenapa gue tega? Lu tuh yang gak ngaca, Bang. Dari kemarin lu sibuk minta maaf, sibuk minta telepon biar hati LU tenang kan? Biar salah lu ngerasa udah ditebus? Lu gak mikirin hati gue yang udah lu iris-iris pakai kebohongan lu.

Dea: Gue tuh kayak jari lembut yang baru belajar main gitar, Bang. Kulit gue kapalan, mengeras gara-gara senar bohong lu itu. Sekarang lu komplain kenapa gue jadi keras? Ya lu yang bikin gue kayak gini!

Di warkop, Darma membaca balasan panjang itu dengan mata melotot. "Zal, liat nih. Dia malah bawa-bawa filosofi gitar. Pusing gua!" Darma makin panik. Dia langsung nekat mencet tombol panggil.

Calling Dea...

Di kamar kos, gawai Dea bergetar hebat menampilkan nama 'Darma Darma'. Dea cuma ngeliatin layar itu datar. Gak ada niat sedikit pun buat mencet tombol hijau. Begitu panggilannya mati sendiri, Dea langsung ngetik satu kalimat terakhir yang paling dingin yang pernah dia tulis selama mereka pacaran.

Dea: Gak usah telepon. Gue capek. Usaha lu tuh basi, cuma muter-muter nyari pembenaran. Mending kita sudahi aja semuanya di sini. Titik.

Dea naruh Blackberry-nya di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. Dia narik selimut tipisnya sampai ke dada, merem, dan mencoba melupakan bau gerah Jakarta serta nama Darma Jaya yang perlahan mulai memudar dari hidupnya. Siang itu, untuk pertama kalinya, Dea tidur tanpa perlu laporan "cek poin" ke siapa-siapa.

Bagian IV: Sisa Asap dan Kamar Kos yang Sepi

Matahari Jakarta bergeser ke barat, menyisakan semburat oranye kusam yang menerobos lewat celah ventilasi kamar kos Dea. Bau aspal terbakar dan polusi dari jalan raya Slipi lamat-lamat masuk, bercampur dengan wangi sisa parfum kado dari Darma yang sengaja dicampakkan Dea di rak sepatu.

Dea terbangun pukul lima sore. Badannya lengket, tapi kepalanya terasa jauh lebih ringan. Dia bangkit, berjalan ke arah cermin wastafel kecil di sudut kamar. Diperhatikannya matanya yang agak sembab.

“Gue nangisin cowok kayak gitu? Rugi bandar,” gumamnya sambil membasuh muka dengan air keran yang terasa hangat kuku karena sengatan matahari siang tadi.

Dia mengambil gawai Blackberry-nya yang sedari tadi mati total karena kehabisan daya. Begitu dicolok ke pengisi daya, butuh waktu dua menit sampai logo provider muncul, dan sedetik kemudian—ping, ping, ping, ping!

Layar gawai itu hampir nge-bleng. Belasan notifikasi WhatsApp dan SMS masuk berebutan. Semuanya dari Darma.

Darma Jaya: Dea, plis. Jangan diputus gini.

Darma Jaya: Gua otw ke kosan lu ya. Kita omongin baik-baik.

Darma Jaya: Gua udah di Slipi Petamburan, macet parah. Tungguin gua.

Dea membaca pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Alih-alih panik atau buru-buru dandan, dia malah berjalan ke dispenser, menyeduh segelas teh manis hangat, lalu duduk santai di ambang pintu kosan yang menghadap ke lorong sempit. Dia tahu betul kelakuan Darma. Cowok itu kalau panik pasti nekat, tapi kenekatannya selalu basi karena ujung-ujungnya cuma mau menyelamatkan egonya sendiri yang ogah kalah.

Sementara itu, Darma beneran lagi terjebak di atas motor bebeknya di perempatan Slipi. Suara klakson bersahut-sahutan bikin kupingnya mau pecah. Kemeja flanel yang dia pakai udah basah kuyup oleh keringat. Di saku celananya, HP Nokia-nya gak berhenti bergetar. Rizal meneleponnya berkali-kali.

Darma menepi di dekat halte bus PPD, tempat yang dulu sering jadi saksi dia dadah-dadah manis ke Dea kalau habis kencan. Dia angkat telepon dari Rizal sambil menjepit HP-nya di antara kuping dan bahu, tangannya sibuk merogoh kantong nyari korek.

"Halo, Zal! Kenapa lagi lu?" semprot Darma ketus.

"Lu di mana, Nyet? Lu beneran nyamperin dia? Jangan bego, Darma. Cewek kalau lagi mode batu digituin makin ilfeel!" suara Rizal kedengaran khawatir di seberang sana.

"Gak bisa, Zal. Gua harus ketemu. Gua gak terima diputusin lewat teks kayak gini. Harga diri gua kayak diinjek-injek," kata Darma sambil menyalakan rokoknya. Asap mengepul, kalah telak oleh polusi knalpot bus kota yang lewat di depannya. "Gua selalu protek dia, gua jagain dia dari copet, gua arahin hidupnya biar bener di Jakarta. Masa cuma gara-gara gua follback cewek lain, semuanya ilang gitu aja? Gak adil!"

"Lu tuh yang gak paham, Darma," Rizal menghela napas dari ujung telepon. "Lu ngerasa jadi pahlawan, tapi lu lupa nanya dia butuh pahlawan model lu apa kagak. Udahlah, balik aja ke warkop. Dinginin dulu otak lu."

"Kagak. Gua udah deket gang kosannya. Gua bakal jelasin sampai dia mau denger." Darma langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia membuang puntung rokoknya yang baru diisap setengah, lalu menggeber motornya membelah kemacetan sore.

Sepuluh menit kemudian, langkah kaki yang terburu-buru terdengar menggema di lorong kosan Dea. Darma muncul di ujung gang dengan napas memburu dan muka sekusut kain pel. Begitu melihat Dea lagi duduk santai sambil memegang gelas teh, langkah Darma mendadak tertahan.

"Dea..." panggil Darma, suaranya parau.

Dea bahkan gak berdiri dari posisi duduknya. Dia cuma mendongak, menatap Darma datar dari atas ke bawah. "Mau ngapain lagi, Bang? Kan udah gue bilang, selesai."

"Dea, dengerin gua dulu," Darma melangkah mendekat, mencoba memakai nada suara berat dan tegasnya yang biasa dia pakai kalau lagi ngatur Dea. "Lu gak bisa egois gini. Hubungan kita tuh udah jalan jauh. Cuma gara-gara masalah sosmed lu sampai tega blokir semua akses gua? Lu kayak anak kecil tahu gak?"

Dea tersenyum tipis. Sangat tipis sampai-sampai kelihatan seram. Dia menaruh gelas tehnya di lantai tegel.

"Gue yang anak kecil, atau lu yang gak tahu diri?" suara Dea pelan, tapi tajamnya menembus sampai ke tulang. "Lu ke sini naik motor macet-macetan, rela keringetan, itu buat siapa, Bang? Buat gue? Kagak. Lu ke sini karena lu gak terima 'Darma Darma' yang hebat dan selalu bener ini dicampakkan begitu aja. Lu butuh gue maafin biar lu bisa pulang dengan perasaan menang."

Darma tertegun. Kalimat Dea barusan bener-bener menohok ulu hatinya. Semua skenario penjelasan yang sudah dia susun rapi di kepala sepanjang jalan Slipi mendadak ambyar.

"Gue udah capek jadi jari lembut yang lu paksa main gitar sampai kapalan, Bang," Dea berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana kulotnya. "Sekarang kulit gue udah keras. Dan lu gak bakal bisa bikin kulit ini melunak lagi pakai janji-janji manis lu yang basi itu."

Dea melangkah mundur ke dalam kamarnya, tangannya memegang gagang pintu kayu kosannya.

"Pulang deh, Bang. Mandi. Bau matahari," kata Dea lirih, sebelum akhirnya menutup pintu kamar kosnya rapat-rapat dan memutar kunci dari dalam—klik.

Darma berdiri mematung di lorong yang remang-remang itu. Suara ketukan kunci tadi terdengar seperti vonis final yang gak bisa diganggu gugat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Darma Jaya si pengatur rute Jakarta bener-bener kehilangan arah pulang.

 

Bagian V: Jalan Pulang Masing-Masing

Tiga bulan setelah pintu kosan di Slipi itu dikunci dari dalam, Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah peduli pada hati yang patah. Rutinitas berjalan seperti biasa; kemacetan di Slipi Petamburan tidak berkurang satu sentimeter pun, dan bus PPD 213 tetap berasap tebal membelah jalanan ibu kota.

Dea duduk di dekat jendela sebuah kedai kopi kecil di daerah seberang kampusnya. Di hadapannya, bukan lagi Blackberry tua yang kedap-kedip kehabisan daya, melainkan sebuah gawai baru dengan layar sentuh yang mulus. Lini masa Twitter-nya bersih. Tidak ada lagi pencarian berkala untuk nama Ava Victoria atau Yumanissa.

"Dea, dicariin tuh sama anak-anak anak BEM, katanya poster buat acara minggu depan belum kelar," tegur sela seorang temannya sambil menaruh segelas es kopi susu di meja.

Dea menoleh, lalu tersenyum lepas. "Aman, tinggal finishing dikit lagi. Bilang ke mereka, ntar malam gue kirim lewat surel."

Tidak ada lagi laporan "cek poin" pukul sembilan pagi atau sore hari. Kulit jarinya yang dulu sempat kapalan karena menahan sakit hati, kini benar-benar telah mengeras menjadi sebuah kekuatan baru. Dea tidak menjadi benci pada cinta; dia hanya menjadi lebih tahu kapan harus meletakkan batas. Dia bukan lagi gadis kosan yang bisa disetir rute hidupnya lewat instruksi teks chat selarut malam.

Sementara itu, di sudut Grogol, Darma Jaya baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya hari itu. Dia berjalan lambat ke parkiran motor, memegang helmnya yang kacanya sudah agak buram.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan gawai yang kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada lagi pesan “Mas sholat ya” atau titipan mengunduh anime terbaru yang biasanya menghiasi sore harinya. Darma sempat membuka aplikasi WhatsApp, memandangi foto profil Dea yang kini sudah tidak bisa dia lihat lagi karena nomornya telah diblokir permanen.

Rizal menepuk pundak Darma dari belakang, mengejutkannya. "Sore, Darma. Ke warkop biasa kagak?"

Darma terdiam sebentar, memandangi jalan raya di depan kampus yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang pulang kantor. Semburat langit oranye Jakarta sore itu persis sama dengan sore di mana dia diusir dari lorong kosan Slipi.

"Kagak deh, Zal. Gua mau langsung balik aja," jawab Darma pelan. Suaranya tidak lagi menggebu-gebu penuh komando seperti dulu. Ada nada pasrah yang matang di sana.

"Tumben. Lu udah kagak mau nyari pelarian lagi?" goda Rizal.

Darma tersenyum tipis, menggeleng. "Gua baru sadar, Zal. Selama ini gua sibuk jadi pahlawan di hidup orang, sampai gua lupa belajar gimana caranya jadi manusia yang tahu diri. Gua mau pulang, mau tidur cepat."

Darma menyalakan motor bebeknya, perlahan membelah jalanan Grogol tanpa ambisi untuk membuktikan apa-apa lagi pada dunia. Dia menerima kekalahannya dengan lapang dada. Kehilangan Dea adalah pukulan telak bagi egonya, tetapi justru dari reruntuhan ego itulah Darma pertama kalinya belajar untuk benar-benar mendengarkan orang lain, bukan sekadar mengatur.

Hubungan mereka tidak berakhir dengan keajaiban benci yang berubah jadi cinta kembali, tidak juga dengan tangisan histeris di pinggir jalan yang dramatis.

Mereka selesai dengan cara yang paling Jakarta: menjadi dua orang asing yang pernah saling menghafal rute angkutan umum yang sama, yang kini memilih menggunakan lajur jalan berbeda demi menyelamatkan kewarasan masing-masing. Di atas aspal kota yang keras ini, baik Dea maupun Darma, akhirnya menemukan jalan pulang mereka sendiri-sendiri—tanpa perlu ada lagi yang terluka oleh senar kebohongan lama.

 

 []

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment