Tuesday, October 6, 2020

Dr. Singkop Boas Boang Manalu: Sebuah Memoar Dosen Tercinta

Perawakannya yang keras, tanpa basa-basi, sehingga kadang dicap killer oleh mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia. Begitulah Pak Boas yang saya kenal, apa adanya. Awalnya stigma negatif itu membekas di benak saya, namun lama-kelamaan saya sadar kalau saya yang salah. Pak Boas yang berlatarbelakang etnis Batak memang sering sinis dengan etnis lain terutama Jawa. Namun pada akhirnya saya paham begitulah memang cara beliau membangun narasi dan analogi, sama halnya ketika beliau memberikan perspektif ala Rusia dan Indonesia melalui pendekatan politik, ideologi, hukum, dan ekonomi.

Entahlah mungkin sensivitas Pak Boas dengan etnis Jawa kabarnya berkaitan dengan kisah cintanya yang tidak kesampaian dengan sang profesor jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia, yang hingga kini masih menjadi misteri. Namun ada satu hal yang masih saya ingat soal beliau, ketika itu beliau sering minum obat karena sakit-sakitan. Bahkan beliau pernah pingsan di kelas dan digotong oleh mahasiswa. Sebuah dedikasi yang luar biasa bagi saya yang sangat berkesan dari Pak Boas. Bahkan dosen saya juga Pak Dr. Fadli Zon yang kini aktf di pemerintahan pernah berkisah soal Pak Boas baginya adalah dosen yang paling berkesan

Ada juga kenangan ketika saya diam-diam merekam Pak Boas ketika mengajar di kelas. Footage itu saya unggah di akun YouTube sebagai memoar terbaik yang pernah saya miliki. Ternyata unggahan itu direspon oleh salah seorang murid Pak Boas:

Dr. Singkop Boas Boang Manalu - In Memoriam

“Saya Drs. Muhammad Resky, MSi, mantan dosen FISIP Universitas Nasional adalah satu2nya asisten Pak Boas di UNAS. Beliaulah yang mengajari saya mengenai Sosialisme, Marxisme dan Komunisme secara mendalam sehingga saya dapat mengajar Sistem Politik Sosialis Komunis, Sistem Politik Indocina dan Birma, Pemikiran Politik Negara-Negara Baru di FISIP UNAS. dari tahun 1987 s/d 1996. Saya diberhentikan dari UNAS tahun 1998 karena saya masih aktif bekerja di PT AP II. Atas jasa-jasa beliau saya mengucapkan terima kasih yang sedalam2nya kepada beliau dan semoga beliau REST IN PEACE disana.

Alkisah suatu hari saya pernah tidak mengerjakan tugas yang diberikan Pak Boas, yaitu tugas terjemahan sejarah menggunakan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Walhasil Pak Boas ngamuk dan memaki saya. Saya masih ingat kalimatnya:

Saya paling benci dengan orang yang malas macam kau ini.

Lantas beliau sambung kalimatnya itu:

Kau tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama sekali nggak paham soal Bahasa Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap ketemu kata-kata yang tidak saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di dalam kamus. Saya paling benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih suka dan menghargai mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.

Itulah kalimat-kalimat yang saya simpan hingga sekarang. Kalimat yang mencambuk diri saya bahwa musuh terbesar diri saya adalah diri sendiri. Kesombongan, ego, merasa cepat puas adalah deretan kata yang paling Pak Boas benci. Pesan moral yang pada akhirnya butuh sekian tahun untuk saya temukan. Belum pernah saya temukan dosen seperti Pak Boas dalam totalitasnya menjadi guru dengan karakter gaya meledak-ledak yang nyentrik dan tidak popular bagi mahasiswa malas dan hanya berorientasi pada nilai semata. Saya akhirnya paham bahwa nilai hanyalah konsekuensi logis dari sebuah pemahaman logika bukan tujuan akhir.

Sesungguhnya Pak Boas hanya ingin agar mahasiswanya melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu sedangkan mahasiswa adalah masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau guru melainkan muridnya dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen atau guru yang paling utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan mengajar. Semua orang dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat mendidik. Mendidik adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan intelejensi emosi (emotional quotient) dan intelejensi akademik (intelligent quotient) secara bersamaan.Hal ini membutuhkan waktu panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.

Saya selalu berdoa yang terbaik untuk Pak Boas, terimakasih atas jasamu yang luar biasa di diri saya. Engkau mengajarkan bagaimana cara menjadi dosen atau guru sebagai pendidik dan pengajar dengan caramu sendiri, walau banyak orang lain menganggap sebelah mata. Sekarang dirimu telah tutup usia, biarlah warisanmu berupa ilmu agar saya wariskan sebagai amanat ilmiah dari seorang guru besar di hati saya kepada muridnya yang tak kunjung pandai. Tak lupa segenap takzim dan salam hormat saya teruntuk dosen dan guru tercinta, yang saya tulis bersamaan dengan air mata: Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Pak Boas, namamu abadi.

[]

No comments:

Post a Comment