Perawakannya yang keras, tanpa basa-basi, sehingga kadang dicap killer oleh mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia. Begitulah Pak Boas yang saya kenal, apa adanya. Awalnya stigma negatif itu membekas di benak saya, namun lama-kelamaan saya sadar kalau saya yang salah. Pak Boas yang berlatarbelakang etnis Batak memang sering sinis dengan etnis lain terutama Jawa. Namun pada akhirnya saya paham begitulah memang cara beliau membangun narasi dan analogi, sama halnya ketika beliau memberikan perspektif ala Rusia dan Indonesia melalui pendekatan politik, ideologi, hukum, dan ekonomi.
Entahlah mungkin sensivitas Pak Boas dengan etnis Jawa
kabarnya berkaitan dengan kisah cintanya yang tidak kesampaian dengan sang profesor
jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia, yang hingga kini masih menjadi misteri. Namun ada satu
hal yang masih saya ingat soal beliau, ketika itu beliau sering minum obat
karena sakit-sakitan. Bahkan beliau pernah pingsan di kelas dan digotong oleh
mahasiswa. Sebuah dedikasi yang luar biasa bagi saya yang sangat berkesan dari
Pak Boas. Bahkan dosen saya juga Pak Dr. Fadli Zon yang kini aktf di
pemerintahan pernah berkisah soal Pak Boas baginya adalah dosen yang paling
berkesan
Ada juga kenangan ketika saya diam-diam merekam Pak
Boas ketika mengajar di kelas. Footage itu saya unggah di akun YouTube sebagai memoar
terbaik yang pernah saya miliki. Ternyata unggahan itu direspon oleh salah
seorang murid Pak Boas:
Dr. Singkop Boas Boang Manalu - In Memoriam
“Saya Drs.
Muhammad Resky, MSi, mantan dosen FISIP Universitas Nasional adalah satu2nya
asisten Pak Boas di UNAS. Beliaulah yang mengajari saya mengenai Sosialisme,
Marxisme dan Komunisme secara mendalam sehingga saya dapat mengajar Sistem
Politik Sosialis Komunis, Sistem Politik Indocina dan Birma, Pemikiran Politik
Negara-Negara Baru di FISIP UNAS. dari tahun 1987 s/d 1996. Saya diberhentikan
dari UNAS tahun 1998 karena saya masih aktif bekerja di PT AP II. Atas
jasa-jasa beliau saya mengucapkan terima kasih yang sedalam2nya kepada beliau
dan semoga beliau REST IN PEACE disana.
Alkisah suatu hari saya pernah tidak mengerjakan tugas
yang diberikan Pak Boas, yaitu tugas terjemahan sejarah menggunakan teks bahasa
Inggris ke bahasa Indonesia. Walhasil Pak Boas ngamuk dan memaki saya. Saya
masih ingat kalimatnya:
“Saya paling
benci dengan orang yang malas macam kau ini.”
Lantas beliau sambung
kalimatnya itu:
Kau
tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama sekali nggak paham soal Bahasa
Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap ketemu kata-kata yang tidak
saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di dalam kamus. Saya paling
benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih suka dan menghargai
mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.
Itulah kalimat-kalimat yang saya simpan hingga
sekarang. Kalimat yang mencambuk diri saya bahwa musuh terbesar diri saya
adalah diri sendiri. Kesombongan, ego, merasa cepat puas adalah deretan kata
yang paling Pak Boas benci. Pesan moral yang pada akhirnya butuh sekian tahun
untuk saya temukan. Belum pernah saya temukan dosen seperti Pak Boas dalam
totalitasnya menjadi guru dengan karakter gaya meledak-ledak yang nyentrik dan
tidak popular bagi mahasiswa malas dan hanya berorientasi pada nilai semata.
Saya akhirnya paham bahwa nilai hanyalah konsekuensi logis dari sebuah
pemahaman logika bukan tujuan akhir.
Sesungguhnya Pak Boas hanya
ingin agar mahasiswanya melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu
sedangkan mahasiswa adalah masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau
guru melainkan muridnya dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen
atau guru yang paling utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan
mengajar. Semua orang dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat
mendidik. Mendidik adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan
intelejensi emosi (emotional quotient) dan intelejensi akademik (intelligent quotient) secara bersamaan.Hal ini membutuhkan waktu panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.
Saya selalu berdoa yang terbaik
untuk Pak Boas, terimakasih atas jasamu yang luar biasa di diri saya. Engkau
mengajarkan bagaimana cara menjadi dosen atau guru sebagai pendidik dan
pengajar dengan caramu sendiri, walau banyak orang lain menganggap sebelah mata.
Sekarang dirimu telah tutup usia, biarlah warisanmu berupa ilmu agar saya
wariskan sebagai amanat ilmiah dari seorang guru besar di hati saya kepada
muridnya yang tak kunjung pandai. Tak lupa segenap takzim dan salam hormat saya
teruntuk dosen dan guru tercinta, yang saya tulis bersamaan dengan air mata: Dr.
Singkop Boas Boang Manalu. Pak Boas, namamu abadi.
[]
No comments:
Post a Comment