Saturday, July 4, 2026

Catatan Kecil dalam Organizer Hitam

Kisah cinta yang tumbuh di jagat virtual sering kali memiliki ritme yang ganjil—penuh dengan ketukan jempol di atas layar, tawa yang diringkas menjadi rentetan huruf, dan gombalan maut yang meluncur tanpa beban. Bagi Burhan, seorang pria jenaka yang gemar berkendara dengan sepeda motor bebek tua kesayangannya yang dijuluki "Burning" si Buraq Kuning, merayu Dara adalah rutinitas malam yang tak pernah gagal mengusir penat. Dara sendiri adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di Bandung yang hidupnya sedang dikepung jadwal makrab, workshop, dan tumpukan tugas kuliah yang gahar. Di antara obrolan mereka, selalu ada tarik-ulur yang manis; Burhan terus-menerus menekan pedal gas asmaranya, sementara Dara dengan lihai mengeremnya lewat candaan balik atau pengingat halus bahwa dirinya sudah memiliki kekasih.

Malam itu, di sela-sela waktu istirahat selepas rapat organisasi yang melelahkan, Dara bersandar di sudut koridor kampus sambil menatap layar ponselnya yang berkedip. Sebuah pesan dari Burhan baru saja masuk, mencoba peruntungan setelah mendengar kabar bahwa Dara bersedia ditemani saat wisuda nanti.

“Amin... Akhirnya aku diterima :'). Kapan kita kencan?” tulis Burhan, lengkap dengan emotikon penuh harap.

Dara menahan senyum, jemarinya bergerak cepat mengetik balasan, “Laah wkwkwkwk. Diterima apaan wkwkwk. Ayoo mainn kapan-kapan.”

“Itu katanya mau jadi pendamping wisuda. Artinya kan... pendampingku,” goda Burhan lagi, tak mau kehilangan momentum.

Dara menggelengkan kepala, mencoba meluruskan batasan dengan gaya bercandanya yang khas, “Nemenin wisuda aja 😲 Artinya cuma nemenin, Kak!”

Taktik mundur-maju seperti ini sudah menjadi poligon komunikasi mereka sehari-hari. Burhan tak pernah benar-benar kapok meski "penonton kecewa," sebagaimana yang kerap ia keluhkan jika rayuannya mental. Pria itu justru beralih membagikan kisah-kisah masa lalunya, mulai dari kecelakaan futsal tahun 2012 yang membuatnya akrab dengan ruang ortopedi RS Haji Pondok Gede, hingga cerita sentimentil tentang mantan kekasihnya terdahulu. Ia bahkan dengan gamblang mengirimkan foto-foto lawas sang mantan, memamerkan bagaimana gadis itu dulu rela belajar bersolek demi dirinya hingga saldo ATM mereka berdua terkuras habis tersisa enam ribu rupiah. Dara menyimak setiap lembar nostalgia itu dengan antusias, sesekali memberikan komentar kagum tanpa ada rasa cemburu, karena baginya Burhan tak lebih dari seorang kakak tingkat virtual yang sangat menghibur.

Namun, dunia digital memang terlampau sempit dan penuh kejutan. Percakapan mereka mendadak berubah riuh ketika Burhan membongkar masa lalu Dara sendiri, menyebutkan nama salah satu mantan kekasih Dara di masa SMP yang ternyata adalah teman nongkrong Burhan di komunitas Kaskus zaman dulu.

“Lah kok tahu? Kakak kenal sama Rama?” tanya Dara dengan rentetan tawa tidak percaya. “Anjirrr... ngakak sumpah!”

“Temen nongkrong jaman TNT. Dia pernah cerita dulu katanya kalau ngapel kejauhan sampe Pondok Cabe, hahahaha,” sahut Burhan di seberang sana, merasa menang karena intuisinya terbukti akurat.

“Ya ampun, TNT! Sedih deh, putusnya gara-gara dia telat futsal gara-gara nganter aku. Terus dia juga rewel, cemburuan banget sama Kakak sampai bikin akun Ngatno apa gitu, makanya aku putusin,” kenang Dara, membuka kartu lama yang membuat suasana malam itu makin akrab.

Saling lempar cerita mantan akhirnya bermuara pada obrolan tentang masa depan yang abstrak. Di satu sisi, Burhan yang sedang menempuh studi S2 terus meremehkan gelar akademik demi bisa menggoda Dara, sementara Dara tetap menjadi mahasiswi yang realistis. Ketika Dara mengeluh tentang dosennya yang galak mirip debt collector namun jenius karena menggarap tata letak animasi Doraemon selama belasan tahun, ia menantang Burhan untuk ikut mengajar di kampusnya.

“Ayo Kak, ngajar di sini, bergabung dengan para debt collector,” seloroh Dara.

“Enggak mau ah, aku maunya gabung sama mahasiswinya aja,” balas Burhan cepat dengan sifat genitnya yang tak kunjung padam. “Jadinya aku diterima? Jadi anu...”

“Anuuu 😲 Diterima jadi apa?” tanya Dara memancing.

“Terserah kamu, aku mah apa atuh. Mau jadi dosen seumur hidupmu juga boleh.”

Dara tertawa kecil membaca balasan itu di atas kasur kosannya, sementara di luar jendela, malam kota Bandung sudah larut dan jalanan hanya dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang baru pulang belajar. “Boleh, ajari aku matkul kehidupan ya,” ketik Dara menutup obrolan.

“Pengantar Ilmu Kehidupan, 3 SKS,” timpal Burhan.

“SKS: Suka Duka Selamanya ya? Hahaha,” balas Dara. Di bawah temaram lampu kamar, obrolan itu menggantung begitu saja, menyisakan tanya yang tak pernah benar-benar terjawab: apakah Burhan akan tetap menjadi sekadar "sales penjaja cinta" di layar kaca, ataukah buraq kuning miliknya suatu saat nanti benar-benar akan melaju menembus dinginnya jalur antar kota demi menemui sang pujaan hati.

 

 --------------------------

Setelah tawa mereda akibat akhir tragis kisah asmara Burhan yang layu sebelum berkembang, atmosfer percakapan kembali merayap masuk ke wilayah yang lebih personal dan intim. Di sela-sela heningnya dini hari, Dara sempat terdiam agak lama sebelum mengetikkan sebuah pengakuan yang cukup jujur. Dia menceritakan bagaimana sosok Burhan di matanya selama ini—sebagai teman yang selalu terlihat punya tameng humor yang tebal, namun sebenarnya menyimpan banyak sekali lapisan emosi yang jarang ditunjukkan ke sembarang orang. Dara mengakui bahwa membaca tulisan-tulisan di blog Burhan sering kali membuatnya merasa seperti sedang mengintip ke dalam isi kepala seseorang yang sedang tersesat, tapi menolak untuk memakai peta.

Mendapat respons selembut itu, Burhan tidak lantas membalasnya dengan lelucon sinis seperti biasa. Dia justru melunak dan mulai membongkar alasan di balik kebiasaannya yang suka menyembunyikan keseriusan di balik topeng komedi. Burhan bercerita bahwa sejak dinamika hubungannya dengan Kasih berakhir dengan penuh drama dan kesalahpahaman, dia merasa ada sebagian dari dirinya yang menjadi terlalu waspada terhadap ekspektasi orang lain. Menggunakan nama panggung seperti "Jun Khaer", melemparkan humor-humor satir di Kaskus, hingga membuat analogi-analogi absurd tentang kehidupan adalah caranya agar tetap bisa waras di tengah tekanan masa kuliah yang makin hari makin terasa mencekik leher.

Memasuki pukul setengah tiga pagi, frekuensi ketikan di layar ponsel mereka berdua mulai menunjukkan jeda yang semakin panjang. Suasana kamar kos masing-masing yang sunyi, ditemani suara jangkrik atau deru tipis kipas angin, perlahan-lahan mulai mengambil alih kesadaran. Dara, yang sedari tadi berjuang melawan gravitasi pada kelopak matanya, akhirnya menyerah kalah di tengah-tengah Burhan yang sedang mengetikkan sebuah paragraf panjang tentang bagaimana dia memandang arti sebuah pertemanan sejati di masa depan. Kalimat terakhir dari Dara malam itu hanya berupa rangkaian huruf tidak beraturan yang terputus begitu saja, menjadi tanda mutlak bahwa dia telah kalah telak dalam pertempuran melawan kantuk.

Keesokan harinya, matahari sudah cukup tinggi ketika Dara terbangun dengan ponsel yang masih tergeletak di samping bantalnya. Sesuai dugaan, layar kuncinya langsung menampilkan pesan penutup dari Burhan yang dikirim berjam-jam lalu, berisi ucapan selamat tidur yang sarkastik namun tetap perhatian. Ritual pagi itu pun ditutup dengan Dara yang buru-buru mengetikkan permohonan maaf karena lagi-lagi "tumbang" di saat obrolan sedang berada di puncak paling seru, sementara Burhan membalasnya dengan santai menggunakan emotikon meledek, siap untuk memulai kembali siklus obrolan acak mereka di malam berikutnya.

Setelah meratapi akhir hubungannya dengan Kasih lewat kutipan dramatis dari Sujiwo Tejo, Burhan rupanya tidak butuh waktu lama untuk kembali memasang radar pencariannya. Obrolan dini hari itu pun bergeser menjadi ajang pamer foto, di mana Dara memperlihatkan potret geng pertemanannya. Fokus Burhan langsung tertuju pada dua sosok di foto tersebut: Tamara, sang "ibu sekretaris" yang dibilang Dara beraura bahaya, dan Putri Larassari, seorang pramugari berjiwa bad girl yang sukses membuat Burhan mengeluarkan jurus gombalan agresifnya. Burhan bahkan berseloroh ingin menggantikan posisi pria yang bersandar di tengah foto tersebut, sebuah imajinasi liar yang langsung membuat Dara terheran-heran di pagi buta.

Ketertarikan Burhan pada sosok-sosok wanita yang menantang ini pun membuka ruang obrolan yang semakin intim, sekaligus membongkar dinamika hubungan Dara dengan kekasihnya sendiri. Saat Burhan mengeluh bosan dan melempar wacana ingin mencoba kencan buta ala acara televisi, Dara sempat menyarankannya bermain Omegle—yang langsung ditolak Burhan karena menganggap isinya terlalu acak. Percakapan lalu memanas ketika Burhan mengaku pernah berselingkuh di masa lalu hanya untuk membalas perlakuan mantannya. Mendengar pengakuan itu, Dara secara tidak terduga melontarkan candaan, "Wow, mau jadi selingkuhan aku gak kak?" yang langsung disambar dengan sangat serius oleh Burhan dengan jawaban, "Jadi yang lebih dari selingkuhan juga apalagi... jadi suami."

Pernyataan berani dari Burhan itu seketika mengubah atmosfer obrolan menjadi sebuah momen pembicaraan yang cukup mendalam mengenai komitmen. Dara mengakui, jika saja dia belum terikat komitmen taaruf dan diperkenalkan ke keluarga besar oleh pacarnya yang sekarang, dia mungkin akan membuka hati untuk Burhan, yang dinilainya memiliki potensi sebagai sosok suami dan ayah yang baik. Meski Dara buru-buru meluruskan agar Burhan tidak terlalu percaya diri, Burhan yang skeptis tetap berusaha meyakinkan bahwa kedekatan antar keluarga besar pun belum bisa menjadi jaminan mutlak dalam sebuah hubungan, mengingat dirinya pernah mengalami kegagalan yang jauh lebih menyakitkan sebelum masa bersama Kasih.

 

Melihat Burhan yang mulai menunjukkan kepasrahan karena sering dikecewakan di masa lalu, Dara pelan-pelan mencoba mengalihkan intensitas ketegangan sensual itu kembali ke obrolan yang lebih kasual, namun tetap penuh perhatian. Ketika Burhan mengeluhkan motornya yang rusak ditambah kondisi keuangannya yang menipis akibat dipinjam teman, Dara menunjukkan empati tulus dengan mendoakan kesembuhan "si Kuning"—motor kesayangan Burhan. Di sinilah Burhan kembali melempar umpan, merasa heran mengapa Dara begitu mudah percaya dan terbuka padanya, bahkan menganggap interaksi mereka sudah masuk ke ranah yang sangat intim. Baginya, keputusan seorang wanita mengirimkan foto pribadi yang menunjukkan lekuk tubuh—meski dibalut argumen "iseng" atau "agar tidak ngambek"—merupakan sebuah sinyal psikologis yang tidak bisa dianggap biasa oleh laki-laki normal.

Teka-teki "kode wanita" ini akhirnya menuntun mereka pada sebuah diskusi panjang yang sangat filosofis tentang bagaimana pria dan wanita memandang tubuh, seksualitas, dan batasan vulgar. Lewat skenario imajiner yang dirancang Burhan, Dara dipaksa melihat perbedaan kontras antara reaksi kognitif perempuan yang cenderung defensif dan syok, dengan instink alamiah pria yang langsung menyambutnya sebagai sebuah undangan terbuka. Menariknya, obrolan tabu ini tidak menjadi murahan karena mereka justru membedahnya dari kacamata budaya dan linguistik. Burhan mengkritik budaya patriarki dalam bahasa Jawa dan Sunda yang memposisikan wanita sekadar objek lewat istilah seksual yang merendahkan, lalu membandingkannya dengan konsep bakucuki di Minahasa yang lebih egaliter dan melambangkan simbiosis mutualisme. Dara yang terkesan dengan kedalaman materi "kuliah" dadakan ini, menyambutnya dengan membawa simbol sakral Lingga dan Yoni sebagai bukti bahwa hubungan biologis pada hakikatnya adalah keindahan yang sakral dan bernilai ibadah—selama sudah disahkan oleh ketok palu pernikahan.

Namun, sedalam apa pun kecocokan intelektual dan percikan sensual yang mereka bagi malam itu, garis batas di antara keduanya tetap tidak bergeser satu senti pun. Di satu sisi, Burhan secara blak-blakan mengakui rasa penasarannya yang semakin memuncak dan dengan jujur berkata, "Udah cinta." Di sisi lain, Dara memilih untuk tetap bermain aman di area abu-abu. Dia meminta maaf jika foto bajunya dianggap terlalu memancing, namun tetap mengunci rapat-rapat pintu hatinya di balik tameng komitmen dengan pacarnya. Keintiman obrolan mereka malam itu pada akhirnya hanyalah sebuah ruang simulasi; sebuah momen di mana Burhan bisa melepaskan naluri berburunya dan Dara bisa menikmati sensasi dikejar, tanpa pernah ada satu pun dari mereka yang benar-benar melangkah melewati batas realitas.

Dalam ranah fiksi populer, fenomena keintiman semu (pseudo-intimacy) ini kerap menjadi bensin utama yang menggerakkan plot drama romantis modern atau fiksi kontemporer, di mana teknologi bertindak sebagai topeng sekaligus pengaku dosa. Ketika dua karakter terjebak dalam ruang obrolan digital yang intens—terisolasi dari gangguan dunia nyata—mereka cenderung mengalami efek disinhibisi toksik, sebuah kondisi fiktif yang membuat mereka merasa "aman" untuk menelanjangi rahasia paling kelam tanpa memikirkan konsekuensi esok hari. Hubungan mereka berkembang dalam kecepatan yang tidak wajar (hyper-personal); seolah-olah mereka telah berbagi belahan jiwa, padahal yang mereka cintai hanyalah proyeksi ideal dari balik layar gawai.

Metamorfosis komunikasi ini menciptakan ketegangan naratif yang sangat rapuh. Penulis fiksi sering memanfaatkan momen ini untuk membangun klimaks emosional: ketika fajar menyingsing dan realitas kehidupan nyata—seperti status hubungan legal, komitmen moral, atau tuntutan karier—kembali mengetuk pintu, keintiman instan tersebut mendadak menguap menjadi kecemasan yang mencekam. Karakter yang tadinya begitu berani melempar untaian kata vulgar atau pengakuan masa lalu, tiba-tiba didera rasa bersalah dan ketakutan akut akan penghakiman. Pada akhirnya, dalam struktur cerita, keintiman semu ini berfungsi sebagai ilusi optik yang tragis—sebuah pelarian malam hari yang terasa nyata di bawah temaram layar, namun langsung retak dan canggung begitu dihadapkan pada tatapan mata langsung di dunia nyata.

 

Siang hari di Bandung tidak pernah sepi, namun bagi Dara, riuh rendah suara di dalam kafetaria kampus seolah diredam oleh dengung isi kepalanya sendiri. Di hadapannya, sebuah laptop menampilkan draf bab akhir skripsinya yang belum tersentuh sejak satu jam lalu. Di samping laptop, ponselnya tergeletak pasrah dengan layar yang sengaja ia telungkupkan.

Sejak percakapan dini hari tadi—percikan sensual yang dibalut diskusi filosofis tentang Lingga-Yoni, disusul pengakuan blak-blakan Burhan yang bilang "Udah cinta"—Dara merasakan ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Sebuah retakan halus yang tak kasatmata, namun cukup untuk membuat fondasi komitmen yang selama ini ia agungkan perlahan goyah.

Beberapa minggu lalu, keluarganya dan keluarga besar pria yang kini menjadi tunangannya lewat jalur taaruf telah saling bertemu. Segala sesuatunya berjalan begitu rapi, terukur, dan sakral. Pacarnya adalah sosok yang mapan, santun, dan memperlakukannya dengan penuh rasa hormat. Hubungan mereka tidak memiliki ruang untuk ego, apalagi untuk kalimat-kalimat menggoda yang memacu adrenalin. Semuanya berjalan di atas rel kepastian masa depan.

Namun justru di situlah letak masalahnya.

Di atas kasur kosnya setiap malam, realitas yang rapi itu mendadak terasa hambar ketika disandingkan dengan kehadiran virtual Burhan. Burhan adalah badai acak yang tidak masuk dalam kalkulasi masa depan Dara, namun pria itu menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh tunangannya: sebuah ruang di mana Dara bisa merasa dikejar, diinginkan sebagai seorang wanita seutuhnya, dan ditantang secara intelektual lewat obrolan-obbolan tabu yang dikemas cerdas.

Dara membalikkan ponselnya. Menyalakan layar kuncinya. Tidak ada pesan baru dari Burhan. Pria itu tahu batasan siang hari; dia adalah makhluk nokturnal yang hanya berkuasa saat dunia tertidur.

Rasa bersalah mendadak menghantam dada Dara dengan telak. Ia teringat foto baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ia kirim semalam ke Burhan dengan dalih "iseng". Di dalam hukum taaruf yang ia jalani, tindakan itu adalah sebuah pelanggaran berat—sebuah bentuk ketidaksetiaan emosional yang nyata. Ia merasa seperti seorang hipokrit besar; mengenakan topeng gadis salihah yang siap membangun rumah tangga di depan keluarganya, sementara di balik selimut, ia membiarkan jemarinya menari menyambut rayuan pria lain.

"Gue cuma kesepian," bisik Dara pada dirinya sendiri, mencoba mencari pembenaran. "Ini cuma simulasi. Gue nggak bakal ketemu dia ini."

Namun pikiran Dara langsung membantah argumennya sendiri. Jika itu hanya simulasi, mengapa jantungnya berdegup lebih kencang saat membaca ketikan "Mau jadi dosen seumur hidupmu juga boleh" daripada saat membaca pesan teks tunangannya yang menanyakan apakah dia sudah makan siang atau belum?

Dara memejamkan mata rapat-rapat. SKS yang semalam mereka candakan—Suka Duka Selamanya—mendadak berubah menjadi beban moral yang mencekik. Dia tahu dia harus menarik rem darurat sebelum buraq kuning milik Burhan benar-benar melaju menembus batas kota dan meruntuhkan seluruh dunia nyata yang telah ia bangun dengan susah payah. Namun di sudut hatinya yang paling gelap, Dara sadar, dia tidak pernah benar-benar siap untuk kehilangan obrolan pukul dua pagi yang selalu berhasil membuatnya merasa hidup.

 

Ketukan di kaca jendela kafe membuyarkan lamunan Dara. Di luar, langit Bandung mendadak berubah legam, bersiap menumpahkan hujan badai khas udara dataran tinggi. Di seberang jalan, seorang pengendara motor bebek tua sedang berteduh, sibuk membetulkan jas hujan plastik yang robek.

Melihat motor bebek itu, dada Dara mendadak sesak. Pikirannya langsung melesat ke Jakarta, membayangkan Burhan dan motor "Burning"-nya yang semalam dikabarkan rusak. Apakah pria itu sedang kehujanan juga? Apakah dia punya uang untuk memperbaikinya, atau uangnya benar-benar habis dipinjam temannya?

Dara menggelengkan kepala kuat-kuat. “Bukan urusan lo, Dara. Stop,” batinnya ketakutan. Rasa iba dan perhatian yang meluber ini sudah tidak sehat.

Di layar laptop, sebuah notifikasi surat elektronik (email) muncul. Dari sang tunangan. Isinya adalah lampiran dokumen PDF bertajuk “Rencana Anggaran Pernikahan & DP Gedung”. Di bagian tubuh email, tunangannya menulis dengan kalimat yang sangat terstruktur:

“Alhamdulillah, dekorasi dan katering sudah di-lock untuk tanggal 6 September. Ini rincian biayanya, Sayang. Kalau ada yang kurang sreg dari pihak keluarga kamu, nanti malam kita bicarakan via telepon setelah Isya ya.”

Dara menatap kata “Sayang” di email itu. Terasa kaku, dingin, dan berjarak, seperti sebuah memo resmi dari seorang manajer proyek kepada bawahannya. Tunangannya sedang sibuk membangun istana masa depan untuk mereka, semen demi semen, rupiah demi rupiah. Pria itu tidak pernah bermain-main. Dia nyata, dia berkomitmen, dan dia memuliakan Dara di depan kedua orang tuanya.

Dara membuka ponselnya. Di ruang chat dengan Burhan, ia menatap baris kalimat semalam: “Udah cinta.” Dan balasannya sendiri yang tampak sangat murahan: “Boleh, ajari aku matkul kehidupan ya.”

Tangan Dara gemetar. Kontras ini menyiksanya. Di satu sisi ada sebuah masa depan yang pasti, aman, namun terasa seperti cetak biru gedung yang gersang. Di sisi lain, ada labirin virtual bersama Burhan yang penuh distorsi, berbahaya, tidak menjanjikan apa-apa selain kesenangan sesaat, namun entah mengapa terasa begitu bernyawa.

Nekat, Dara membuka kolom ketikan untuk Burhan. Dia harus mengakhiri ini. Dia harus memasang dinding pembatas yang tebal agar tidak menjadi wanita pengkhianat.

Dara: Kak Burhan. Kayaknya setelah ini kita jangan sering chat malam-malam lagi ya. Nggak enak sama calon suamiku. Maaf ya kalau kemarin-kemarin aku ada salah kirim foto atau salah ngomong.

Dara menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol kirim. Ponsel itu langsung ia masukkan ke bagian paling dalam tasnya, seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Tepat saat ia menutup ritsleting tas, sebuah panggilan telepon masuk. Nama tunangannya tertera di layar. Dara berdeham, mencoba menata suaranya yang serak sebelum menggeser tombol hijau.

"Halo, Assalamualaikum, Mas," ucap Dara, memaksakan sebuah nada suara yang patuh dan tenang.

"Waalaikumsalam. Dara, kamu di mana? Suaranya kok berisik sekali, seperti di luar? Bandung sedang hujan deras ya?" suara tunangannya terdengar datar, namun penuh selidik. Ada nada otoritas di sana, jenis nada suara yang mengingatkan Dara bahwa hidupnya sebentar lagi tidak akan menjadi miliknya sendiri secara utuh.

"Iya, Mas. Ini lagi di kafe dekat kampus, ngerjain bab akhir," jawab Dara bohong. Dia tidak sedang mengerjakan skripsi; dia sedang meratapi isi kepalanya.

"Oh, ya sudah. Jangan pulang terlalu sore. Oiya, tadi Ibu bilang, untuk hantaran nanti, kamu lebih suka warna kain yang pastel atau yang agak mencolok? Mas butuh jawaban sekarang karena Ibu sedang di pasar baru."

Pertanyaan tentang warna hantaran itu mendadak terdengar seperti vonis penjara bagi Dara. Di saat otaknya sedang berputar memikirkan konsep Lingga-Yoni, batasan vulgar, dan romantisme liar pukul dua pagi bersama Burhan, dia dipaksa jatuh berdebum ke realitas tentang pilihan warna kain hantaran pernikahan.

"Terserah Ibu saja, Mas. Dara ikut," jawabnya pendek, menahan air mata yang mendadak menggenang di pelupuk mata.

"Kok terserah? Ini kan pernikahan kamu juga, Dara. Jangan pasif begitu, dong," ada nada kecewa yang disembunyikan dengan rapi di ujung kalimat tunangannya.

"Iya, Mas. Maaf. Pastel saja," potong Dara cepat. "Dara tutup dulu ya, mau lanjut bimbingan."

Panggilan diputus. Dara melandaskan dahinya di atas meja kafe yang dingin. Di luar, hujan makin lebat, menghantam kaca dengan suara yang bising. Di dalam tasnya, Dara bisa merasakan getaran pendek berkali-kali. Ponselnya bergetar. Burhan membalas pesannya.

Hanya butuh satu gerakan tangan untuk mengambil ponsel itu dan membaca apa yang dikatakan Burhan setelah didepak dari ruang simulasi mereka. Namun, Dara tahu, jika dia membuka tas itu sekarang, dia tidak hanya sedang membuka sebuah pesan teks—dia sedang membuka pintu gerbang menuju kehancuran rencana pernikahan yang sudah di depan mata.

 

Getaran di dalam tasnya akhirnya berhenti. Kesunyian yang tercipta setelahnya justru terasa lebih mengintimidasi. Dara menegakkan tubuh, menyeka sudut matanya yang basah, lalu perlahan merogoh bagian dalam tasnya.

Namun, jemarinya tidak menyentuh ponsel. Jemarinya justru berpapasan dengan sebuah buku organizer tebal bersampul kulit hitam dengan ujung-ujung yang mulai mengelupas—buku milik Burhan yang tertinggal di dalam tas Dara saat mereka sempat tidak sengaja berpapasan di area kampus beberapa minggu lalu, sebelum obrolan mereka seintens sekarang.

Dara mengeluarkan buku itu. Di dalamnya penuh dengan coretan tangan Burhan yang berantakan: draf tulisan blog, daftar komponen motor yang harus dibeli, hingga jadwal kuliah yang tumpang tindih. Buku ini sangat mencerminkan pemiliknya—isi kepala yang penuh sesak, tersesat, namun menolak memakai peta.

Dara membalik halaman demi halaman yang kosong di bagian belakang. Dadanya terasa sesak oleh sebuah pengakuan yang selama ini tidak pernah mampu ia ketikkan di layar ponsel. Di ruang chat, mereka bisa menjadi apa saja; sepasang manusia yang saling berburu, atau filsuf dadakan yang membedah seksualitas. Namun di dunia nyata, ada sebuah ruang kosong di hati Dara yang tidak pernah dipahami oleh siapa pun, bahkan oleh tunangannya yang sebentar lagi akan mengikatnya dalam janji suci.

Ia mengambil pulpen gel hitamnya. Di atas kertas broken white yang bergaris itu, Dara mulai menulis. Bukan dengan ketikan jempol yang cepat dan bisa dihapus dalam sekali tekan, melainkan dengan guratan tinta yang permanen. Sebuah catatan kecil yang jujur, tanpa topeng ataupun simulasi.

Kak Burhan,
Maaf ya, buku ini sempat aku 'sandera' agak lama di tas. Waktu Kakak baca tulisan ini, mungkin kita sudah jarang—atau bahkan nggak pernah—chat malam-malam lagi. Aku harus berjalan ke arah yang sudah digariskan buat aku, Kak.
Tapi sebelum aku benar-benar mengunci pintu itu, aku cuma mau bilang terima kasih. Terima kasih untuk semua obrolan acak, debat filosofis, dan gombalan-gombalan absurd yang selalu berhasil bikin aku merasa hidup di tengah malam yang sepi.


Kakak pernah heran kan, kenapa aku bisa begitu mudah percaya dan terbuka sama Kakak? Kenapa aku membiarkan diri aku sedekat ini secara emosional?
Jawabannya sederhana, Kak. Di balik semua tameng humor satir dan pikiran mesum yang Kakak pamerkan, aku melihat sosok kakak laki-laki yang hebat. Dan jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, Kakak sebenarnya mewakili sosok Ayah yang nggak pernah aku punya.


Aku belum pernah cerita ini ke siapa pun di kampus, bahkan calon suamiku pun nggak benar-benar paham rasanya. Aku ini anak yatim sejak kecil, Kak. Dan faktanya, aku adalah anak adopsi. Aku tumbuh besar di keluarga yang menyayangiku, tapi aku selalu hidup dengan perasaan asing—perasaan bahwa aku harus selalu menjadi anak yang penurut, sempurna, dan tahu diri untuk membalas budi. Aku harus menerima taaruf ini, pernikahan ini, juga demi kebahagiaan mereka.
Cuma saat ngobrol sama Kak Burhan, aku merasa punya ruang aman untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Kakak memberiku perlindungan emosional yang selama ini aku cari dari sosok pelindung pria—sesuatu yang nggak pernah aku dapatkan sejak kecil.


Terima kasih sudah menjadi bagian dari malam-malamku yang sepi. Semoga 'si Kuning' cepat sembuh, dan semoga Kakak segera menemukan wanita hebat yang nggak cuma singgah di ruang simulasi, tapi benar-benar menemani Kakak di dunia nyata.


Adikmu,
Dara.

 

---------------------------------

Dara Menutup buku organizer itu dengan pelan. Suara ketukan sampul kulitnya terdengar seperti sebuah ketukan palu sidang yang meresmikan akhir dari segalanya.

Ia memasukkan kembali buku tersebut ke dalam tas, berniat mengirimkannya lewat jasa kurir ke kos Burhan besok pagi, bersamaan dengan pudarnya sisa-sisa keintiman semu yang mereka bagi di bawah temaram layar gawai. Di luar, hujan Bandung mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, sementara Dara bersiap melangkah keluar untuk menemui realitas yang telah menunggunya.

 

Keesokan harinya, paket itu tiba di depan pintu kamar kos Burhan. Tanpa menyertakan pesan apa pun selain label pengiriman yang samar, Burhan menerima buku organizer-nya kembali.

Saat ia membuka buku itu, aroma parfum Dara yang lembut—yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat layar—seolah menguar dari sela-sela kertas. Burhan membaca catatan itu dalam diam. Ia membacanya sekali, lalu dua kali, hingga matanya terpaku lama pada paragraf di bagian tengah: "...aku adalah anak adopsi... aku selalu hidup dengan perasaan asing..."

Tiba-tiba, tawa sinis yang biasanya menjadi senjata andalan Burhan terasa getir di tenggorokan. Semua lelucon satir, semua analogi absurd, dan semua game psikologis yang ia rancang untuk "menaklukkan" Dara malam itu, mendadak terasa seperti tindakan vandalisme terhadap jiwa seseorang yang sedang rapuh.

Ia baru menyadari bahwa selama ini, bukan hanya dia yang sedang melarikan diri dari kenyataan. Mereka berdua hanyalah dua orang yang sedang tersesat di dalam labirin yang mereka bangun sendiri. Dara bukan sedang bermain-main dengan komitmennya; Dara sedang mencoba bertahan hidup di bawah tekanan identitas yang tidak pernah ia minta.

Burhan meletakkan buku itu di atas meja belajarnya yang berantakan, di samping knalpot motor "si Kuning" yang baru saja ia bongkar. Ia mengambil ponselnya, jemarinya melayang di atas keyboard. Ia sempat mengetik satu kalimat panjang, namun ia menghapusnya lagi.

Ia tahu, membalas surat itu dengan narasi filosofis atau rayuan ala Jun Khaer adalah bentuk penghinaan. Jika ia membalas, ia hanya akan semakin menarik Dara ke dalam kubangan emosi yang tidak bisa ia beri kepastian.

Burhan menarik napas panjang, menatap layar ponsel yang gelap, lalu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama ini: ia mematikan ponselnya. Benar-benar mematikannya.

Sementara itu, di Bandung, Dara duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Di hadapannya, lembaran kain berwarna pastel yang diminta sang calon suami terhampar di atas meja. Ibunya tampak antusias, menjelaskan detail bordiran yang akan menghiasi hantaran nanti.

Dara tersenyum, senyum yang sama yang selalu ia berikan setiap kali ia harus menjadi "anak yang tahu diri". Namun, di dalam tasnya, ponsel yang sejak pagi ia biarkan dalam mode silent tidak memberikan notifikasi apa pun.

Tidak ada balasan. Tidak ada debat filosofis. Tidak ada gombalan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Dara tidak lagi merasa dikejar. Ia merasa kosong. Dan dalam kekosongan itulah, ia menyadari bahwa "kakak laki-laki" yang ia cari di dalam diri Burhan telah benar-benar pergi, menyisakan dirinya untuk menghadapi hidupnya sendiri, tanpa peta, tanpa topeng, dan tanpa pelarian.

Dara menunduk, menyentuh kain pastel itu dengan ujung jarinya. Ia tahu, mulai detik ini, satu-satunya realitas yang ia miliki adalah deretan daftar harga katering, jadwal pengajian, dan janji suci yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Cerita mereka memang sudah selesai, bukan karena ia yang mengakhiri, melainkan karena mereka berdua baru saja sadar: di dunia nyata, tidak ada ruang simulasi untuk mereka yang tidak pernah benar-benar berani untuk menang.

 

 -----

Tiga tahun telah berlalu sejak buku organizer kulit itu dikembalikan, namun ingatan malam itu tetap tersimpan rapi di sudut paling sunyi dalam kepala Dara.

Kini, di sebuah rumah yang tenang dengan tatanan gorden berwarna pastel—persis seperti warna hantaran yang dulu dipilihkan untuknya—Dara duduk menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela. Di ruang tengah, terdengar suara suaminya yang sedang membacakan dongeng dengan nada suara yang santun dan penuh keteraturan untuk anak mereka. Sebuah kehidupan yang aman, terukur, dan sempurna di mata semua orang.

Namun, di dalam laci terdalam meja riasnya, di balik tumpukan dokumen keluarga, Dara masih menyimpan selembar kertas pembatas yang ia robek dari buku milik Burhan dulu. Ia tidak pernah membuangnya, bukan karena ingin berselingkuh hati, melainkan sebagai prasasti dari satu-satunya momen dalam hidupnya di mana ia pernah merasa benar-benar dimengerti sebagai manusia yang rapuh.

Dara tidak pernah membenci Burhan. Bagaimana mungkin ia bisa membenci pria yang telah memberikannya perlindungan emosional di saat ia merasa asing dengan identitasnya sendiri? Burhan, dengan segala tameng humor satir dan pikiran liarnya, adalah orang pertama yang berhasil menyentuh luka anak adopsi di dalam diri Dara tanpa membuatnya merasa belas kasihan yang merendahkan. Dara sangat menyayangi Burhan—sebuah rasa sayang yang aneh, yang tidak memiliki nama dalam kamus hubungan normal, namun tertanam begitu dalam hingga ia yakin rasa itu tidak akan luntur selama-lamanya.

Namun, Dara juga tahu diri. Menyayangi tidak harus selalu berarti memiliki, dan memahami tidak harus selalu berujung pada temu sapa.

Ia telah mengambil keputusan untuk tidak akan pernah lagi mencari, menyapa, atau bertemu dengan Burhan di dunia nyata. Keputusan itu diambil bukan karena takut goyah, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap kebaikan diam Burhan yang dulu memilih mematikan ponselnya. Bagi Dara, membiarkan Burhan tetap menjadi hantu nokturnal yang baik di masa lalu adalah cara terbaik untuk menjaga kesucian memori mereka. Pertemuan fisik hanya akan merusak keindahan simulasi yang pernah menyelamatkan warasnya.

Biarlah Burhan tetap di sana, di dalam ruang teks pukul dua pagi yang abadi, sementara dia berjalan di bawah terik matahari siang hari yang nyata.

 "Ada manusia yang dihadirkan dalam hidup kita bukan untuk menemani perjalanan hingga akhir, melainkan hanya untuk menyalakan lampu di bagian jalan yang paling gelap, lalu pamit saat fajar menyingsing. Memilih untuk tetap asing bukan berarti melupakan. Itu adalah cara terbaik mencintai seseorang yang dunianya tak lagi boleh kita sentuh."

 

 

No comments:

Post a Comment