Prolog: Sunyi di Balik Layar
Bagi Khia, jam dinding di ruang guru adalah penanda ritme
hidupnya yang monoton namun pasti. Sebagai seorang guru sosiologi di salah satu
SMA Negeri di Jakarta, harinya dihabiskan di antara keriuhan remaja, tumpukan
kertas ujian, dan debu kapur yang sesekali masih menempel di jemari. Khia
adalah tipe wanita yang lurus, sabar, dan penuh pengabdian. Namun, setiap kali
bel pulang sekolah berbunyi dan riuh koridor mereda, ada setitik sunyi yang
selalu menunggunya di rumah.
Lima tahun sudah ia menikah dengan Nat. Di usia pernikahan yang
harusnya mulai ramai oleh suara tawa anak kecil, rumah minimalis mereka di
pinggiran Jakarta Timur justru terasa terlampau senyap. Mereka belum dikaruniai
anak. Khia sering kali menghibur diri bahwa pernikahan mereka baik-baik saja,
toh Nat adalah suami yang tenang dan tidak macem-macem.
Nat bekerja sebagai freelance graphic designer.
Dunianya adalah kamar kerja ber-AC, segelas kopi hitam, dan monitor beresolusi
tinggi. Di saat suami orang lain bertaruh nyawa menembus macetnya
Sudirman-Thamrin setiap sore, Nat sudah ada di rumah. Keberadaan Nat yang
selalu "ada" di rumah awalnya membuat Khia tenang. Namun perlahan,
Khia menyadari bahwa fisik Nat memang ada di sana, tapi jiwanya sering kali
bermigrasi ke tempat lain.
Tempat lain itu adalah sebuah dunia virtual.
Awalnya, Nat hanya mencari pelarian dari kejenuhan tenggat waktu
desain yang melelahkan. Ia mengunduh sebuah game Action RPG yang
sedang tren. Game itu menawarkan dunia fantasi yang luas, di mana Nat bisa
menjadi pahlawan kuat, jauh dari realita Jakarta yang pengap dan pernikahan
yang mulai terasa datar. Khia tidak keberatan. Bagi Khia, selama Nat di rumah
dan hobinya tidak aneh-aneh, itu bukan masalah. Khia bahkan sering meletakkan camilan
di samping keyboard Nat saat suaminya itu sedang asyik mabar (main bareng).
Khia tidak pernah tahu bahwa game modern saat ini bukan lagi
sekadar menekan tombol. Di dalamnya ada fitur voice chat yang
jernih, ruang obrolan privat yang tidak terlacak oleh WhatsApp, dan sistem
komunitas yang erat. Di dalam game itu, Nat tidak sendirian.
Masuklah Ani ke dalam radar kehidupan mereka.
Ani adalah adik kandung Khia, seorang gadis berusia 24 tahun
yang bekerja sebagai marketing online untuk sebuah
produk kecantikan di Jakarta Barat. Berbeda dengan Khia yang tenang dan penuh
penyerahan diri, Ani adalah seorang oportunis sejati. Di kepalanya, hidup
adalah tentang bagaimana memanfaatkan peluang sekecil apa pun demi kenyamanan
dirinya sendiri. Ia tahu cara bicara yang persuasif, tahu cara membaca
kelemahan orang, dan sangat adaptif dengan tren digital—termasuk game yang
sedang dimainkan oleh kakak iparnya.
Awalnya, Ani hanya sering berkunjung ke rumah Khia dengan alasan
"kemalaman pulang ke kosan setelah event kantor".
Di ruang tamu itulah, Ani sering melihat Nat yang sedang fokus di depan
monitor. Sebagai sesama anak muda yang melek digital, Ani dengan cepat
menemukan kesamaan hobi dengan Nat.
"Eh, Mas Nat main game itu juga? Wah, akun aku udah level
tinggi lho. Kapan-kapan mabar dong, Mas, nanti aku support
karakternya," ujar Ani suatu sore, sambil bersandar di ambang pintu ruang
kerja Nat, melempar senyum manis yang penuh arti.
Nat yang selama ini terbiasa dengan Khia yang tidak paham dunia
game, tiba-tiba merasa menemukan oase. Dari sekadar obrolan di ruang tamu saat
Khia sedang sibuk memasak di dapur, interaksi itu pun berpindah. Bukan ke
WhatsApp yang rawan terlihat oleh Khia, melainkan masuk ke dalam fitur chat privat di dalam game, di bawah samaran nama akun
virtual yang tak pernah dicurigai oleh sang kakak.
Prolog ini menjadi tirai pembuka, di mana sebuah celah kecil di
dalam rumah tangga yang sunyi, siap dimasuki oleh kelincahan seorang adik yang
oportunis.
Kedekatan
virtual itu tumbuh dengan sangat rapi, tersembunyi di balik riuh rendah efek
suara tebasan pedang dan mantra sihir dari peleras komputer Nat. Di duni
virtual itu, Nat menggunakan nama akun Shadow_Nat, seorang prajurit garis depan yang tangguh.
Sementara Ani menggunakan nama ArchAngel_Ani, seorang healer yang tugasnya memulihkan energi karakter Nat
setiap kali terluka.
Awalnya, mereka hanya bermain saat Khia sudah terlelap setelah
seharian mengajar di sekolah. Namun, insting oportunis Ani bergerak cepat.
Sebagai marketing online, Ani paham betul cara membuat
targetnya merasa ketergantungan. Ia mulai mengatur waktu bermainnya agar selalu
pas dengan jam-jam di mana Nat merasa jenuh dengan revisi desain grafisnya.
Setiap kali Nat menghela napas lelah di depan monitornya pada
jam 2 siang, sebuah notifikasi di pojok kanan bawah layarnya akan berkedip.
ArchAngel_Ani: Mas, bosan ya? Ayo push dungeon bentar. Aku temenin, gak pake lama
kok.
Di sinilah fitur chat main bareng (mabar) itu mengambil peran utama.
Game tersebut memiliki fitur voice chat yang sangat jernih. Untuk menghindari
kecurigaan Khia yang sesekali melintas di ruang kerja, Nat selalu menggunakan headset nirkabel. Khia mengira suaminya hanya sedang
mendengarkan musik atau audio instruksi dari klien desainnya. Khia tidak tahu,
di balik busa hitam headset itu, Nat sedang mendengarkan tawa renyah adik
iparnya sendiri.
"Mas Nat kalau lagi panik lucu banget deh suaranya,"
goda Ani suatu sore lewat voice chat. Suaranya terdengar begitu dekat di telinga
Nat, mengalahkan suara bising knalpot kendaraan dari jalanan Jakarta di luar
rumah.
"Iya nih, musuhnya susah banget. Untung kamu cepat nge-heal aku, An," jawab Nat setengah berbisik,
matanya sesekali melirik ke arah pintu, memastikan Khia masih sibuk mandi.
"Kan aku emang selalu ada buat jagain Mas Nat. Di game...
atau di luar game," sahut Ani pelan, penuh tekanan yang disengaja.
Kalimat-kalimat semi-flirting seperti itu menjadi makanan
sehari-hari bagi Nat. Lima tahun menikah dengan Khia yang polos, lurus, dan
jarang memuji, membuat ego Nat sebagai laki-laki membubung tinggi setiap kali
mendengar apresiasi dari Ani. Ani terasa begitu segar, penuh tantangan, dan
mengerti dunianya.
Memasuki bulan kedua, obrolan mereka di fitur chat game tidak lagi membahas taktik mengalahkan bos
monster. Fokus mereka bergeser ke hal-hal pribadi. Ani mulai sering mengeluhkan
betapa lelahnya dia menghadapi macetnya daerah Jakarta Barat setelah pulang event marketing, atau betapa sepinya kamar kosannya.
Sementara Nat, mulai berani menumpahkan kejenuhannya tentang rumah tangganya yang
terasa hambar tanpa kehadiran anak.
Ani melihat ini sebagai peluang emas. Baginya, Nat adalah pria
matang yang mapan, tipe yang tidak akan ia temukan pada cowok-cowok seumurannya
di Jakarta yang masih merintis karier.
Puncaknya terjadi pada suatu Kamis malam. Khia sedang menghadiri
rapat kerja guru se-kecamatan dan mengabarkan akan pulang larut malam karena
mampir ke rumah orang tua mereka terlebih dahulu.
Di dalam game, karakter Shadow_Nat dan ArchAngel_Ani sedang berdiri berdampingan di sebuah
bukit virtual yang sepi, menghadap pemandangan matahari terbenam digital.
ArchAngel_Ani: Mas, capek ya main game terus. Pengen deh sesekali ngobrol
langsung, tapi yang bener-bener berdua aja. Gak ada Kak Khia, gak ada
siapa-siapa.
Shadow_Nat: Iya ya... tapi di mana? Kalau kamu ke rumah pas Khia ada kan gak
enak.
ArchAngel_Ani: Kan kita bisa atur jadwal lewat sini, Mas. Kak Khia kan sibuk
banget minggu depan, ada koreksian ujian akhir semester katanya.
Jemari Nat tertahan di atas keyboard. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah
wilayah abu-abu yang berbahaya, namun adrenalinnya terlanjur terpompa.
Shadow_Nat: Kamu ada ide di mana?
ArchAngel_Ani: Aku tahu tempat yang tenang di daerah Jakarta Pusat. Dekat
stasiun, jadi aku bisa langsung jalan dari kantor. Ada hotel butik yang privat
banget. Mas tinggal download aplikasi booking-nya, nanti aku yang pilihin
kamarnya. Kita mabar langsung di sana, gimana?
Nat menelan ludah. Alasan "mabar langsung" hanyalah
kedok tipis yang mereka berdua sama-sama tahu apa makna sebenarnya. Sifat
oportunis Ani telah berhasil menuntun Nat hingga ke tepi jurang. Dan Nat,
dengan sadar, memilih untuk melangkah maju.
Shadow_Nat: Oke. Pilihin kamarnya sekarang. Kirim kodenya lewat chat game ini
aja, jangan lewat WA.
ArchAngel_Ani: Siap, Mas Nat sayang. See you next week ya.
Rencana itu telah matang, terkunci rapat di dalam server game
yang tak pernah tersentuh oleh radar seorang ibu guru bernama Khia.
Hari yang
direncanakan pun tiba. Jakarta Pusat sore itu disergap mendung tebal,
menyisakan hawa gerah yang membungkus kemacetan di sepanjang jalan menuju
kawasan Cikini. Di sebuah hotel butik bernuansa remang dan privat yang
tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, Ani sudah melangkah masuk ke dalam lobby.
Sebagai seorang marketing online, penampilannya sore itu sangat
diperhitungkan. Ia tidak lagi memakai kemeja kantor yang kaku, melainkan gaun
kasual belahan rendah yang ia beli khusus untuk hari ini. Sifat oportunisnya
bergolak penuh kemenangan saat ia duduk di sofa lobby, jemarinya langsung membuka aplikasi game di
ponselnya.
ArchAngel_Ani: Mas, aku udah sampai. Kamar 314 ya. Aku langsung naik ke atas
lewat lift samping biar gak kelihatan dari resepsionis depan.
Shadow_Nat: Oke, aku baru parkir mobil. Ini langsung naik.
Di dalam lift yang bergerak naik, Nat merapikan kerah bajunya.
Jantungnya berdegup begitu kencang—campuran antara rasa bersalah yang hebat
pada Khia dan letupan adrenalin terlarang yang sudah lama tidak ia rasakan.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tiga, langkahnya bergegas menyusuri lorong
berkarpet tebal hingga berhenti di depan pintu nomor 314.
Ia mengetuk pelan. Pintu terbuka, menampilkan sosok Ani yang
langsung menyambutnya dengan senyuman manja.
"Lama banget sih, Mas. Macet ya?" bisik Ani, langsung
menarik lengan Nat masuk dan mengunci pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar ber-AC dingin itu, aroma parfum manis milik Ani
memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa bayangan Khia dari kepala Nat. Di atas
kasur, dua ponsel mereka tergeletak berdampingan, masih menampilkan layar utama
game yang mempertemukan mereka. Namun sore itu, fungsi game tersebut telah
selesai. Fitur chat mabar yang selama ini menjadi jembatan rahasia
kini berganti menjadi sentuhan nyata yang mengkhianati janji suci pernikahan.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di sebuah SMA
Negeri di Jakarta Timur, Khia baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya. Langit
Jakarta akhirnya tumpah, hujan deras mengguyur bumi disertai petir yang
menggelegar. Khia berjalan ke ruang guru dengan langkah lelah, bersiap untuk
lembur memeriksa tumpukan esai murid-muridnya hingga jam 9 malam sesuai jadwal.
Namun, baru saja ia duduk di mejanya, Wakil Kepala Sekolah
bidang Kurikulum masuk dengan tergesa-gesa.
"Bapak, Ibu Guru, mohon perhatiannya. Karena cuaca ekstrem
dan adanya gangguan gardu listrik yang membuat sebagian fasilitas sekolah
padam, agenda lembur dan rapat koordinasi malam ini kita tunda besok pagi.
Silakan langsung pulang ke rumah masing-masing demi keselamatan,"
pengumuman itu disambut helaan napas lega dari para guru.
Khia tersenyum kecil. Pikiran pertamanya langsung tertuju pada
Nat. Ia membayangkan suaminya pasti sedang kelaparan di rumah atau bosan
sendirian menatap layar monitor. Khia memutuskan untuk tidak memberi tahu Nat
melalui pesan teks; ia ingin memberikan kejutan dengan pulang lebih awal
membawa martabak manis kesukaan suaminya yang biasa dijual di dekat stasiun.
Dengan payung yang basah kuyup, Khia menerobos hujan menuju taksi
daring yang sudah dipesannya. Sepanjang perjalanan menembus banjir fungsional
jalanan Jakarta, hati Khia menghangat, sama sekali tidak menyadari bahwa di
belahan kota yang lain, suaminya sedang membagi kehangatan yang sama dengan
adik kandungnya sendiri.
Sekitar pukul 19.30 WIB, taksi Khia berhenti di depan pagar
rumah mereka. Rumah itu tampak gelap dari luar. Hanya lampu teras yang menyala
otomatis.
"Lho, Mas Nat ke mana? Mobilnya kok gak ada?" gumam
Khia heran setelah membuka pintu depan.
Khia melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi. Ia meletakkan
bungkusan martabak di meja makan, lalu berjalan menuju ruang kerja Nat.
Komputer utama suaminya mati total. Namun, pandangan Khia terbentur pada sebuah
tablet milik Nat yang tergeletak di pojok meja dalam keadaan tercolok pengisi
daya. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan lingkaran hijau tanda ada pesan
masuk yang belum terbaca.
Biasanya, Khia tidak pernah menyentuh barang-barang privasi Nat.
Namun, rasa penasaran karena rumah yang kosong dan ponsel Nat yang mendadak
tidak bisa dihubungi membuatnya mengulurkan tangan.
Begitu layar tablet itu tersentuh, Khia menyadari bahwa Nat lupa
menutup aplikasi game yang biasa ia mainkan. Di sana, sebuah jendela obrolan
privat (private room chat) masih terbuka lebar, menyisakan
jejak digital yang tidak sempat dihapus oleh suaminya karena terburu-buru
keluar rumah.
Mata Khia terpaku pada deretan kalimat terakhir yang dikirimkan
beberapa jam lalu. Dunia seolah berhenti berputar saat ia membaca nama akun
yang sangat ia kenal.
ArchAngel_Ani: Mas, jangan lupa bawa daster aku yang ketinggalan di rumah kamu
kemarin ya. Taruh di mobil aja dulu. Ketemu di kamar 314 Hotel Cikini jam 6
sore. Aku sengaja gak out dari game biar kalau Kak Khia lihat, dikira kita cuma
lagi mabar biasa.
Shadow_Nat: Aman, sayang. Ini aku udah jalan. Kamu hati-hati ya menuju ke
sananya.
Khia membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat hingga
tablet di tangannya hampir terjatuh. Air matanya luruh seketika, mengalir deras
membasahi pipinya yang mendadak pias.
Nama akun itu adalah Ani. Adik perempuan yang selama ini ia
rawat, ia bantu biaya kuliahnya, dan ia tampung di rumah ini saat kesusahan.
Dan pria yang dipanggil "sayang" itu adalah Nat, suaminya yang ia
kira adalah pria paling setia di dunia.
Di luar, petir menyambar Jakarta dengan dentuman keras, sekeras
kenyataan pahit yang baru saja meremukkan seluruh fondasi hidup Khia malam itu.
Rasa
hancur di dada Khia perlahan berganti menjadi kobaran amarah yang dingin.
Sebagai seorang guru yang terbiasa menghadapi murid-murid bermasalah, Khia tahu
ia tidak boleh kehilangan kendali dan menangis meraung-raung di rumah kosong
ini. Dengan tangan yang masih bergetar, ia memotret layar tablet itu
menggunakan ponselnya sebagai bukti yang tak terbantahkan.
Ia menyambar tasnya, keluar menembus hujan Jakarta yang masih
menyisakan gerimis, lalu memesan taksi daring dengan satu tujuan pasti: Hotel
butik di kawasan Cikini.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam karena
macetnya jalur Salemba, Khia hanya menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya
berputar pada kilasan masa lalu—bagaimana Ani selalu bermanja pada Nat,
bagaimana Nat selalu membela Ani jika Khia menegur adiknya itu karena malas,
dan bagaimana mereka berdua begitu rapi bersandiwara di depannya. Sifat
oportunis Ani yang selalu ingin memiliki apa yang dipunyai orang lain kini
mencapai batas paling menjijikkan: merebut suami kakaknya sendiri.
Pukul 21.00 WIB, taksi berhenti di depan hotel yang dimaksud.
Hotel itu memang tipe hotel butik yang privat, dengan pencahayaan temaram yang
sengaja didesain untuk kenyamanan—atau mungkin, penyembunyian.
Khia melangkah masuk ke lobby. Petugas resepsionis menyapanya ramah, namun Khia
langsung memasang wajah tegas.
"Selamat malam. Suami saya ada di kamar 314, dia meninggalkan
dompet dan obatnya di rumah. Saya harus mengantarkannya sekarang," bohong
Khia dengan suara yang dibuat sefokus mungkin.
Petugas itu tampak ragu karena Khia datang dengan pakaian yang
agak basah karena sisa hujan, namun pembawaan Khia yang dewasa dan tenang
seperti seorang guru membuat petugas itu luluh. "Baik, Ibu. Silakan
gunakan lift di sebelah kiri untuk menuju lantai tiga."
Setiap detik di dalam lift terasa seperti siksaan bagi Khia.
Begitu pintu berdenting terbuka di lantai tiga, lorong berkarpet merah itu
terasa begitu sunyi, hanya ada suara dengung AC sentral. Khia berjalan
perlahan, mencari nomor kamar yang telah mengoyak hidupnya.
312... 313... 314.
Khia berdiri tepat di depan pintu kayu kokoh itu. Ia mengambil
napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu mengetuk pintu
dengan ketukan yang keras dan beruntun.
Di dalam kamar, Nat dan Ani yang sedang bersantai di atas tempat
tidur langsung terperanjat. Nat mengira itu adalah petugas hotel yang
mengantarkan makanan yang mereka pesan.
"Biar aku yang buka, Mas," ujar Ani manja sambil
membetulkan tali gaun tidurnya. Ia melangkah tanpa beban dan membuka slot kunci
pintu.
Cklek.
Pintu terbuka setengah. Senyum manis di wajah Ani langsung
membeku seketika saat matanya bertumpu pada sosok wanita yang berdiri di
depannya. Wajah Ani mendadak pias, pucat pasi seperti mayat.
"Kak... Kak Khia? Kok..." suara Ani tercekat di
tenggorokan.
Khia tidak menjawab. Dengan satu dorongan kuat, ia mendorong
pintu hingga terbuka lebar, melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa
remang-remang itu. Di atas kasur, Nat yang hanya mengenakan kaos oblong
langsung melompat berdiri. Matanya membelalak, jantungnya serasa copot melihat
istrinya berdiri di sana.
"Khia?! Kamu... kenapa bisa di sini?" tanya Nat gagap,
suaranya bergetar hebat. Di atas meja nakas, dua ponsel mereka masih menyala,
menampilkan lobi game Action RPG tempat mereka biasa bersembunyi.
Khia memandang suaminya, lalu beralih menatap adik kandungnya
sendiri. Tidak ada teriakan histeris. Khia justru tersenyum, sebuah senyuman
paling menyakitkan yang pernah Nat lihat.
"Kenapa aku di sini? Karena mabar kalian di game ternyata
bocor sampai ke rumah, Nat," kata Khia, suaranya bergetar namun terdengar
sangat tajam di dalam kamar yang mendadak sedingin es itu.
"Kak, ini gak seperti yang Kakak pikirin... Aku dan Mas Nat
cuma..." Ani mencoba mendekat, sifat oportunisnya langsung memikirkan
seribu satu alasan untuk membela diri.
"Cuma apa, Ani?!" potong Khia, kali ini suaranya
meninggi, matanya berkaca-kaca menahan bendungan air mata. "Cuma mabar? Di
atas kasur hotel? Dengan baju seperti itu? Aku ini guru sosiologi, Ani! Aku
tahu mana manusia yang punya moral, dan mana manusia yang lebih rendah dari
binatang!"
Nat melangkah maju, mencoba memegang tangan Khia. "Khia,
maafin aku. Aku khilaf... ini semua cuma pelarian karena aku jenuh, Khia.
Tolong dengar penjelasan aku dulu..."
Khia langsung menepis tangan Nat dengan kasar. "Jenuh
karena kita belum punya anak, Nat? Jadi kamu melarikan diri ke adikku sendiri?
Dan kamu, Ani..." Khia menatap adiknya dengan tatapan muak yang mendalam.
"Aku yang biayai kuliahmu di Jakarta, aku yang kasih kamu tumpangan tempat
tinggal saat kamu merintis kerja. Ini balasanmu?"
Ani, yang melihat posisinya sudah tersudut total dan tidak bisa
mengelak lagi, perlahan mengubah raut wajahnya. Sifat aslinya yang egois
keluar. "Lagian Kak Khia terlalu sibuk sama urusan sekolah! Mas Nat itu
kesepian di rumah! Kakak gak pernah bisa kasih apa yang Mas Nat mau, termasuk
anak! Aku cuma ngisi kekosongan itu!" ucap Ani sengit, mencoba menyerang
balik demi menutupi rasa malunya.
PLAK!
Satu tamparan keras dari tangan Khia mendarat di pipi Ani hingga
adiknya itu terjerembab ke arah kasur. Nat terkejut dan langsung menahan tubuh
Khia.
"Cukup, Nat! Jangan sentuh aku lagi dengan tangan
kotormu!" bentak Khia. Air matanya akhirnya tumpah, namun tatapannya tetap
menghunjam lurus.
Khia mundur dua langkah menuju pintu keluar. Ia menarik napas
panjang, mencoba menguasai kembali akal sehatnya yang sempat hilang.
"Permainan kalian selesai malam ini. Nat, besok urus surat
cerai kita. Dan kamu, Ani... mulai malam ini, kamu bukan lagi adikku. Jangan
pernah injakkan kakimu di rumahku, dan aku akan memastikan ayah dan ibu di
kampung tahu kelakuan menjijikkan kalian berdua."
Tanpa menunggu jawaban, Khia membalikkan badan dan melangkah
keluar dari kamar 314 dengan kepala tegak. Ia meninggalkan Nat yang terduduk
lemas di lantai dengan penyesalan yang terlambat, serta Ani yang menangis
ketakutan meratapi hancurnya reputasi dan nama baiknya. Di bawah lampu jalanan
Cikini yang temaram, Khia tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi, namun ia
lega telah keluar dari lingkaran kebohongan itu.
Malam
itu, setelah Khia melangkah keluar dari kamar 314, badai yang sebenarnya baru
saja dimulai di dalam ruangan remang-remang tersebut.
Begitu pintu berdentum tertutup, keheningan yang mencekam
menyergap Nat dan Ani. Sifat oportunis Ani yang tadi sempat menyalak defensif
kini runtuh, berganti kepanikan yang luar biasa. Ia tahu betul arti ancaman
Khia: jika ayah dan ibu mereka di kampung tahu, habislah sudah nasibnya. Ia
akan didepak dari keluarga besar dan nama baiknya sebagai marketing online yang sedang naik daun di Jakarta akan
hancur lebur jika Khia nekat memviralkannya ke kantor.
"Mas... Mas Nat, gimana ini? Gimana kalau Kak Khia beneran
nelpon Ibu?" Ani menarik-narik kaos Nat, air matanya mulai menghapus
riasan wajahnya. "Kamu harus tanggung jawab, Mas! Kamu yang ajak aku
duluan di game!"
Nat menepis tangan Ani dengan kasar. Wajah pria itu kusut,
penyesalan yang teramat sangat menghantam dadanya. "Ajak kamu duluan? Kamu
yang selalu mancing-mancing aku lewat voice chat, An! Kamu yang milihin hotel ini!" Nat
berteriak frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. Pandangannya tertuju pada dua
ponsel di nakas yang masih menampilkan lobi game Action RPG—dunia fantasi yang kini terasa seperti
jebakan maut yang menghancurkan hidup nyatanya. "Gila... aku kehilangan
Khia. Aku kehilangan istriku."
Tanpa memedulikan Ani yang menangis sesenggukan, Nat menyambar
kunci mobil dan ponselnya, lalu berlari keluar kamar mengejar Khia. Namun, lobby hotel sudah sepi. Khia sudah pergi menembus malam
Jakarta yang dingin menggunakan taksi.
Keesokan harinya, suasana di SMA tempat Khia mengajar terasa berjalan
seperti biasa bagi orang lain, namun tidak bagi Khia. Ia berdiri di depan kelas
X, menjelaskan materi tentang "Penyimpangan Sosial" dengan suara yang
tetap stabil, meski batinnya terkoyak. Sebagai guru profesional, ia menolak
memperlihatkan kerapuhannya di depan para murid. Namun, di dalam tasnya, sebuah
map berisi dokumen draf perceraian sudah rapi tercetak. Khia tidak menunda
waktu.
Saat jam istirahat, ponsel Khia bergetar tanpa henti. Puluhan
panggilan dari Nat sengaja ia abaikan. Hingga akhirnya, sebuah pesan masuk dari
nomor ibunya di kampung halaman.
Ibu: Khia... ini beneran? Ani nelpon Ibu sambil nangis-nangis katanya
kamu nampar dia karena salah paham soal suamimu. Ada apa sebenarnya, Nduk?
Khia menghela napas panjang. Sifat oportunis Ani benar-benar
bekerja cepat; adiknya itu mencoba memutarbalikkan fakta sebelum Khia sempat
melapor. Khia tidak membalas dengan kata-kata yang panjang. Ia hanya
mengirimkan satu folder berisi tangkapan layar (screenshot) obrolan mesum di fitur chat game antara Shadow_Nat dan ArchAngel_Ani, lengkap dengan foto daster Ani yang
tertinggal, serta foto pintu kamar 314 hotel di Cikini yang ia ambil semalam.
Hanya butuh waktu tiga menit sampai ponsel Khia berdering
kembali. Kali ini telepon dari Ibunya. Saat Khia mengangkatnya, terdengar suara
isak tangis ibunya yang syok, disusul suara tegas ayahnya yang merebut ponsel.
"Khia... Ayah sudah lihat semuanya. Pulang sekolah nanti,
kamu tidak usah pulang ke rumah itu lagi. Ayah dan Mas-mu besok subuh naik
travel dari kampung ke Jakarta. Kita selesaikan ini. Dan anak haram jadah itu
(Ani)... jangan harap bisa menginjakkan kaki di rumah Ayah lagi!"
Mendengar dukungan penuh dari keluarganya, pertahanan Khia
runtuh. Di pojok ruang guru yang sepi, air mata Khia tumpah untuk pertama kalinya
sejak semalam. Ia menangis bukan karena kehilangan Nat, melainkan karena
perihnya dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Sore harinya, Nat duduk meringkuk di sofa rumahnya yang gelap.
Komputer desainnya mati, pesanan kliennya terbengkalai. Pintu depan mendadak
terbuka. Nat langsung tegak, berharap itu Khia.
Memang Khia yang datang, namun ia tidak sendiri. Khia datang
bersama dua orang petugas kepolisian sektor setempat dan seorang kuasa hukum.
"Khia..." Nat berdiri dengan bibir gemetar.
Kuasa hukum Khia melangkah maju, meletakkan surat gugatan cerai
dan surat somasi di atas meja. "Selamat sore, Saudara Nat. Saya adalah
kuasa hukum Ibu Khia. Hari ini kami datang untuk mengambil barang-barang
pribadi klien saya. Selain gugatan cerai atas dasar perzinaan yang buktinya
sudah lengkap, klien kami juga mengajukan tuntutan pembagian aset rumah ini,
karena rumah ini dicicil menggunakan gaji bersama, termasuk potongan dari
tunjangan profesi guru milik Ibu Khia."
Nat memandang Khia yang berdiri di ambang pintu dengan kacamata
hitam, tanpa ekspresi. "Khia, tolong... apa gak ada kesempatan kedua? Aku
khilaf, Khia. Game itu... game sialan itu yang bikin aku buta!" ratap Nat.
Khia perlahan membuka kacamata hitamnya, menatap Nat untuk
terakhir kalinya.
"Bukan gamenya yang salah, Nat. Tapi moralmu yang cacat.
Kamu punya banyak waktu luang di rumah ini, dan kamu memilih menggunakannya
untuk menghancurkan pernikahan kita dengan adikku sendiri," ujar Khia
dingin. "Nikmati sisa hidupmu di rumah kosong ini sebelum pengadilan
menyitanya."
Sementara itu, di tempat lain di Jakarta Barat, Ani baru saja
tiba di kantor marketingnya dengan mata sembab. Sifat oportunisnya runtuh total
saat ia menerima surat pemutusan hubungan kerja (PHK) dari manajernya sore itu
juga. Seseorang telah mengirimkan bukti skandal perselingkuhannya ke email
resmi perusahaan dengan subjek 'Pelanggaran Etika Moral Karyawan'. Brand kecantikan
tempatnya bekerja tidak ingin citra mereka rusak karena mempekerjakan seorang
perusak rumah tangga tangga orang lain—terlebih kakak kandungnya sendiri.
Kini, baik Nat maupun Ani harus membayar mahal untuk setiap
ketukan keyboard dan pesan manja yang mereka kirimkan di balik fitur obrolan
game tersebut. Dunia virtual yang mereka kira aman, telah menjelma menjadi bom
waktu yang menghancurkan masa depan mereka di dunia nyata.
Tiga
bulan berlalu sejak malam jahanam di kamar 314. Jakarta sedang berada di puncak
musim kemarau, menyisakan udara gerah yang membakar aspal jalanan ring luar
Jakarta Timur. Bagi Khia, tiga bulan ini adalah masa-masa detoksifikasi emosi
paling berat sekaligus paling melegakan dalam hidupnya.
Sidang perceraian berjalan jauh lebih cepat dari dugaan
orang-orang. Dengan bukti-bukti digital dari fitur chat game yang sangat lengkap dan tidak bisa disanggah,
hakim Pengadilan Agama Jakarta Timur langsung mengabulkan gugatan cerai Khia
dalam tiga kali persidangan. Tak ada drama perebutan hak asuh karena mereka
memang belum dikaruniai anak—sebuah hal yang kini amat disyukuri Khia. Rumah
kluster mereka akhirnya diputuskan untuk dijual, dan uangnya dibagi dua sesuai
porsi hukum.
Sore itu, Khia baru saja keluar dari ruang sidang dengan langkah
ringan. Ia mengenakan tunik berwarna cerah, kontras dengan mendung yang dulu
selalu bergelayut di wajahnya. Di koridor pengadilan, ia berpapasan dengan Nat.
Kondisi mantan suaminya itu mengenaskan. Nat terlihat kurus,
rambutnya agak gondrong tak terawat, dan kantung matanya hitam pekat. Efek
domino dari skandal itu menghancurkan karier freelance-nya; konsentrasinya hancur, beberapa proyek
besar dari klien agensi di Jakarta gagal diselesaikan tepat waktu, dan
reputasinya ambruk.
"Khia..." panggil Nat, suaranya parau saat mereka
berdiri di dekat tangga keluar. "Rumah sudah laku. Uang bagianmu sudah
ditransfer pengacara tadi siang."
"Ya, terima kasih, Nat," jawab Khia tenang, bahkan
tanpa nada benci. Baginya, Nat sudah menjadi orang asing, seperti salah satu
tokoh di buku teks sosiologi yang ia ajarkan di sekolah.
"Khia, aku... aku masih sering buka game itu," ucap
Nat tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. "Setiap kali aku lihat karakter
kita... aku sadar aku bodoh banget. Aku kecanduan fantasi sampai ngerusak yang
nyata. Aku gak pernah berhubungan lagi sama Ani sejak malam itu, Khia. Aku
benci dia. Aku benci diriku sendiri."
Khia menatap Nat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang
murni penuh rasa kasihan, bukan lagi amarah. "Penyesalan itu bagian dari
sanksi sosial, Nat. Kamu tidak benci Ani, kamu hanya benci karena kamu
ketahuan. Nikmati saja proses belajarmu," ujar Khia runtut, lalu melangkah
pergi meninggalkan Nat yang terpaku di koridor sepi.
Sementara itu, nasib Ani jauh lebih tragis di sudut lain
Jakarta. Sifat oportunis yang selama ini menjadi motor hidupnya justru berbalik
menjadi senjata makan tuan. Setelah di-PHK secara tidak hormat dari kantor marketing online-nya, Ani mencoba bertahan hidup di
sebuah kamar kos sempit di daerah slipi, Jakarta Barat.
Keluarga besar di kampung benar-benar memutus hubungan
dengannya. Ayahnya memblokir nomor teleponnya, dan ibunya jatuh sakit karena
syok. Tak ada lagi kiriman uang dari Khia, tak ada lagi fasilitas menumpang
gratis di rumah kluster yang nyaman.
Sore itu, Ani duduk di tepi kasur busanya yang tipis. Di
depannya ada sebungkus mie instan yang sudah dingin. Ia membuka ponselnya,
menatap aplikasi game Action RPG yang dulu menjadi tempatnya merajut dosa bersama
Nat. Berbulan-bulan ia tidak login. Dengan tangan bergetar, ia mencoba masuk ke
dalam game, berharap menemukan hiburan atau mungkin sisa-sisa pelarian.
Namun, begitu akun ArchAngel_Ani miliknya terbuka, sebuah pesan sistem
otomatis muncul di layarnya:
[Sistem]: Akun Anda telah dilaporkan oleh pengguna lain atas pelanggaran
panduan komunitas (Pelecehan/Perilaku Tidak Pantas di Fitur Chat). Akun Anda
ditangguhkan selama 9999 hari.
Rupanya, Khia melalui kuasa hukumnya sempat melaporkan riwayat chat mesum yang ada di tablet Nat ke pihak developer game sebagai penguat bukti hukum, yang
berujung pada pemblokiran permanen akun Ani.
Ani melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menutup wajahnya
dengan kedua tangan. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar kos yang pengap.
Sifat oportunisnya kali ini tidak bisa menyelamatkannya. Di Jakarta yang keras
ini, ia kehilangan segalanya: pekerjaan, kakak yang menyayanginya, keluarga
yang menghormatinya, dan bahkan identitas virtual yang ia gunakan untuk
menghancurkan kebahagiaan orang lain.
Satu bulan kemudian, tahun ajaran baru di SMA tempat Khia
mengajar dimulai.
Khia berdiri di depan papan tulis, menuliskan satu kalimat besar
dengan spidol hitam: "Konformitas dan Struktur Sosial." Di
hadapannya, wajah-wajah segar murid kelas X mendengarkan dengan takzim.
Setelah kelas usai, Khia berjalan menyusuri koridor sekolah
menuju ruang guru. Langkah kakinya terdengar mantap. Di tangannya, sebuah
brosur program beasiswa S2 Pendidikan dari Kementerian Luar Negeri tergenggam
erat. Ia sudah lolos seleksi berkas.
Jakarta sore itu macet seperti biasanya, namun dari balik
jendela ruang guru, Khia melihat langit senja yang berwarna jingga cerah. Ia
telah melewati badai terbesar dalam hidupnya, bukan sebagai korban yang
meratap, melainkan sebagai seorang pemenang yang siap menulis lembaran baru di
duniaya yang nyata.
Pernikahan dibangun di atas
dunia nyata dengan komitmen nyata, dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh
indahnya ilusi di balik layar kaca.
No comments:
Post a Comment