Kurban Ekologis Panti Asuhan Riyadhul Jannah, Tangerang: Membasuh Bumi di Hari Raya
oleh: Jun Khaer
Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada musim haji tahun ini tidak sekadar menjadi ritual keagamaan tahunan yang dipenuhi gempita takbir dan aroma panggangan daging di sudut-sudut gang. Di Panti Asuhan Riyadhul Jannah, momentum sakral ini ditransformasikan menjadi sebuah gerakan restorasi lingkungan yang mendalam dan disruptif. Di saat sebagian besar wilayah pemukiman bergelut dengan problem klasik pasca-kurban—seperti tumpukan kantong kresek hitam, ceceran limbah organik yang menimbulkan bau tak sedap, hingga saluran air yang mampet akibat sisa pakan ternak—panti asuhan ini justru menginisiasi sebuah aksi nyata yang memadukan kesalehan teologis dengan tanggung jawab ekologis.
Gerakan yang sarat akan nilai solidaritas ini diprakarsai secara visioner oleh Zulham Ibrohim selaku Kepala Panti Asuhan Riyadhul Jannah Tangerang. Zulham memandang bahwa esensi kurban sejati adalah menyembelih egoisme manusia, termasuk egoisme terhadap alam sekitar. Di bawah komandonya, panti asuhan tidak berjalan sendirian sebagai menara gading. Sejak pagi buta, para tetangga dan warga sekitar meluangkan waktu untuk membaur bersama anak-anak yatim piatu, menciptakan sebuah harmoni gotong royong yang organik. Kehadiran aktif warga ini meruntuhkan sekat-sekat sosial; mereka bahu-bahu membahu menyapu jalanan, mengeruk sedimen selokan yang tersumbat, dan melakukan sterilisasi area penyembelihan menggunakan disinfektan ramah lingkungan demi menjaga higienitas ruang hidup bersama.
Keterkaitan aksi ini dengan isu sosial-ekonomi masyarakat urban terasa begitu kental dan kontekstual. Pengelolaan lingkungan yang buruk pasca-hari besar sering kali memicu beban finansial laten bagi masyarakat kelas bawah, mulai dari biaya pengobatan akibat penurunan kualitas sanitasi hingga ongkos kebersihan lingkungan yang membengkak. Dengan dialihkannya seluruh kemasan daging menggunakan besek anyaman bambu lokal beralas daun, gerakan ini tidak hanya mengeliminasi potensi sampah plastik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga secara langsung menyuntikkan stimulus ekonomi bagi para pengrajin anyaman di tingkat mikro.
Lebih jauh lagi, sisa dedaunan pembungkus dan limbah organik kurban dikumpulkan secara terpisah untuk dialihkan ke bak pengomposan mandiri milik panti. Pupuk organik yang dihasilkan dalam beberapa bulan ke depan diproyeksikan menjadi motor penggerak bagi program *urban farming* (pertanian perkotaan) di lahan panti, yang hasilnya dapat menekan biaya belanja dapur panti sekaligus mewujudkan kemandirian pangan. Apa yang didekap hangat oleh Zulham Ibrohim, anak-anak panti, dan para tetangga pada Idul Adha tahun ini adalah sebuah pembuktian konkret: bahwa menjaga bumi adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga sesama, dan kemandirian ekologi adalah fondasi utama bagi ketahanan ekonomi komunitas di masa depan.
Menariknya, urgensi dari gerakan di Riyadhul Jannah ini merefleksikan sebuah ironi yang jauh lebih besar di luar pagar panti: kontradiksi ekstrem antara gempita pemenuhan gizi kurban dengan fakta mencengangkan tentang tingginya angka makanan yang terbuang sia-sia (*food waste*) di sekitar kita. Di satu sisi, kita menyaksikan perjuangan pemenuhan pangan bagi kelas sosial-ekonomi bawah; di sisi lain, piring-piring di rumah tangga, rumah makan, hingga pesta perayaan justru sering kali menyisakan tumpukan makanan yang berakhir mengenaskan di tempat sampah. Sampah makanan ini bukan sekadar hilangnya nominal uang atau kerja keras petani, melainkan bom waktu ekologis yang melepaskan gas metana—salah satu pemicu utama pemanasan global—ketika membusuk di TPA.
Sinergi pengomposan limbah yang digagas Zulham Ibrohim dan warga memang menjadi hilir solusi yang solutif, namun pembenahan sejati harus dimulai dari hulu, yaitu dari piring kita sendiri. Solusi paling radikal dan berdampak nyata untuk memutus rantai *food waste* ini sebenarnya sangat sederhana, tidak membutuhkan regulasi rumit, dan bisa dimulai detik ini juga: berkomitmen penuh untuk selalu menghabiskan makanan yang telah kita ambil.
Mengambil porsi secukupnya secara sadar (*mindful eating*) bukan lagi sekadar perkara etika kesopanan di meja makan, melainkan sebuah tindakan politis dan ekologis untuk menghargai seluruh sumber daya—air, tanah, energi, dan tenaga manusia—yang telah dikorbankan hingga makanan itu siap tersaji. Dengan memastikan tidak ada sebutir nasi atau secuil lauk pun yang terbuang dari piring kita, kita sedang melakukan aksi nyata mitigasi perubahan iklim sekaligus menghormati keadilan sosial bagi mereka yang masih kesulitan mengakses pangan. Pada akhirnya, lingkaran kebaikan yang dicontohkan oleh Panti Asuhan Riyadhul Jannah pada Idul Adha tahun ini mengajar kita sebuah refleksi mendalam: kesalehan ekologis tidak hanya diukur dari seberapa giat kita membersihkan lingkungan, tetapi dari seberapa bersih piring kita setelah makan.
No comments:
Post a Comment