Bagian I: Fragmen dari Layar Retak
Ada masanya ketika sebuah hubungan diukur dari derit kursi bus
kota dan sisa daya baterai gawai. Jakarta pada pertengahan Mei terasa begitu
riuh, namun di dalam ruang obrolan itu, dunia menyusut hanya menjadi sepasang
nama: Dea dan Darma. Kalau kamu hidup di jaman sebelum muncul program Makan
Bergizi Gratis (MBG) pasti familiar dengan yang namanya bus kota dengan
pelbagai jurusan di ibukota, salah satunya bus kota PPD 213 jurusan Grogol –
Kampung Melayu yang kesohor bukan karena nama daerah trayek jurusannya namun
karena di bus ini konon tapi fakta banyak copet dengan cosplay layaknya orang
kantoran berbaju rapi dan berdasi.
Semuanya dimulai dengan kepatuhan yang manis pada arah dan rute.
Darma Jaya—atau yang dipanggil Darma—mengeja peta Jakarta dengan ketelitian
seorang pemandu yang cemas. “PPD 213 Grogol-Kp. Melayu via
Slipi,” tulisnya. PPD, Perusahaan Pengangkutan Djakarta, bus
putih-dominan dengan logo Monas di badannya, menjadi jangkar pertama. Ada
kecemasan khas urban yang diselipkan di sana: “Hati-hati banyak copetnya itu
bus. Turun di Taman Suropati.”
Dea, dengan segala kepolosan manja anak kos yang belum seutuhnya
akrab dengan aspal ibu kota, membalas dengan gumaman ringkas. “Mmm.” Ia lebih memilih taksi, pulang ke kos untuk
mandi dan berdandan rapi. Di antara sela-sela waktu tunggu, mereka bertukar
afeksi yang renyah—kecupan virtual pada kening, candaan tentang kecemburuan,
hingga pesan protektif yang vulgar namun intim: “Jaga iman dan kemaluan! Kamu
jangan lupa ibadah ya.”
Dunia mereka saat itu terasa aman, dibentengi oleh rutinitas
harian: kelas kuliah pukul sembilan pagi, urusan buang air yang dilaporkan
tanpa canggung, titipan mengunduh anime Shingeki no Kyojin
versi terbaru di internet gratis kampus, hingga kejutan paket yang sampai ke
kamar kos dan memicu ucapan cinta yang meluap-luap. Mereka adalah sepasang
manusia yang saling mengunci perhatian di balik layar Blackberry dan telepon genggam kecil.
Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk menguji jarak, dan
teknologi sering kali menjadi saksi bisu bagaimana sebuah keretakan dimulai
secara perlahan.
Juli datang membawa gerah yang berbeda. Romantisme bus PPD dan
perhatian manis di Taman Suropati mendadak menguap, digantikan oleh jajaran
teks yang dingin, tajam, dan defensif. Jarak digital yang awalnya merekatkan,
kini justru mengekspos celah yang tak bisa dijembatani.
“Sampai detik ini kamu gak tahu salahmu apa, dan GAK MERASA
SALAH…”
Kalimat itu meluncur pada suatu pagi di pertengahan Juli,
memutus paksa sisa-sisa kehangatan Mei. Dea yang dulu manja telah berubah
menjadi sosok yang terluka dan getir. Layar gawai bukan lagi tempat bertukar
emoji ciuman, melainkan ruang sidang tempat bukti-bukti digital dibentangkan:
sebuah akun Twitter yang mengikuti Ava Victoria,
interaksi yang bertambah dengan Yumanissa, hingga
perhatian kecil kepada seorang wanita bernama Raisa.
Sejarah digital tidak pernah benar-benar menghapus jejak; ia
hanya menyimpannya sampai seseorang memutuskan untuk membongkarnya kembali.
Hubungan yang dulunya diikat oleh rasa percaya kini runtuh bersama tombol delete friend, unfollow, dan
penghapusan status hubungan di Facebook.
Di seberang sana, Darma Jaya kehilangan artikulasinya. Lelaki
yang dulu begitu fasih mengarahkan rute bus kota kini hanya bisa mengetik
patah-patah: “Tolong,” “Ak mw ngo,” “Dari semalam aku ngemis.” Ia
terjebak dalam kepanikan urban yang baru—bukan takut kecopetan di atas PPD 213,
melainkan takut kehilangan jangkar emosionalnya. Ia memohon sebuah panggilan
telepon, sebuah ruang untuk berbicara langsung, menganggap suara bisa membasuh
salah paham.
Namun, bagi Dea, segalanya sudah terlambat. Ia menganalogikan
dirinya dengan sangat liris:
“Aku kayak jari lembut yang belajar gitar. Kamu lukai dengan senar
bohongmu dan wanita yang gak bisa kamu tinggalkan. Sampai aku terluka. Sampai
luka itu tertutup. Dan kulit lembut itu mengeras.”
Melalui teks-teks terakhir, kita melihat sebuah tragedi
komunikasi modern. Seseorang memohon pengampunan agar hatinya sendiri tenang,
sementara yang lain menuntut pemahaman atas rasa sakit yang telanjur membatu.
Panggilan telepon yang diminta Darma tidak pernah dikabulkan. Dea memilih
menetap di dalam teks, menolak melunakkan diri untuk sebuah penjelasan yang
dianggapnya fiktif.
Esai fiksi ini tidak berakhir dengan pelukan di Taman Suropati
atau perjalanan pulang dengan bus putih-biru yang dominan putih. Ia berakhir
pada ketukan jempol di atas layar yang keras, sebuah kata "Gak" yang
dingin, dan sebuah titik yang mengakhiri semuanya sebelum jam dua belas malam.
Rasa sayang yang mendalam itu, pada akhirnya, menemui jalan buntu di jalur
Slipi Petamburan yang macet dan ego yang enggan mengalah.
Bagian II: Anatomi Dua
Ego
Pertengahan Juli tidak pernah benar-benar memaafkan mereka yang
bertaruh pada jarak. Di dalam kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat di
kawasan Slipi, Dea menatap layar gawai dengan mata yang terasa panas. Kipas
angin dinding berputar monoton, menghempaskan udara gerah Jakarta yang seolah
ikut mengendap di sela-sela lipatan sprei. Di tangannya, telepon genggam itu
bukan lagi sebuah alat komunikasi, melainkan sebuah pisau bedah.
Bagi Dea, mendapati nama Ava Victoria atau Yumanissa di daftar ikutan gawai Darma bukan sekadar
urusan cemburu buta. Ini adalah soal kompromi yang dikhianati. Selama
berbulan-bulan, ia telah menundukkan kepalanya pada ritme hidup Darma—menerima
instruksi rute bus seolah ia adalah anak kecil yang tak tahu arah, memaklumi
segala pesan protektif yang kerap kali berbatasan dengan kontrol, hingga
membiasakan diri mengirimkan detail "cek poin" harian dari
ruang-ruang kuliahnya. Dea telah melunakkan seluruh dunianya agar pas dengan
cetakan yang diinginkan Darma.
Maka, ketika ia menemukan bahwa di balik dinding protektif itu Darma
justru memelihara ruang interaksi yang longgar dengan wanita lain, sesuatu di
dalam dirinya patah. Itu adalah patah yang senyap, yang tidak menghasilkan
ledakan, melainkan pengerasan.
"Kamu merasa benar sendiri," gumam Dea pada malam
sebelum badai teks itu pecah, jarinya gemetar menghapus pertemanan mereka di
laman Facebook. Menghapus status
hubungan digital itu rasanya seperti mencabut paku berkarat dari daging: sakit,
meninggalkan lubang, tapi harus dilakukan.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, Darma Jaya sedang
dilingkupi kepanikan yang purba. Di hadapan Rizal—sahabatnya yang malam itu
hanya bisa terdiam memandangi puntung rokok yang meredup di asbak—Darma
mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Karakter Darma yang biasanya
dominan, penuh arahan, dan terstruktur sebagai seorang pelindung, mendadak
luluh lantak.
Lelaki itu terbiasa memegang kendali. Ia tahu nomor bus, ia tahu
letak copet, ia tahu kapan harus menyuruh Dea beribadah atau tidur. Namun,
malam ini, algoritma gawai dan dinginnya teks chat telah merenggut otoritas itu
darinya.
Ketika Darma mengetik, “Telp... Tlg... Ak mohon,”
ia tidak sekadar meminta maaf. Ia sedang mengemis kembalinya kendali yang
hilang. Bagi tipe penokohan seperti Darma, penyelesaian via teks adalah sebuah
labirin tanpa pintu keluar; ia membutuhkan suara, ia membutuhkan intonasi, ia
membutuhkan getaran pita suara yang biasanya mampu melunakkan Dea dalam
hitungan detik.
Namun gawai di seberang sana tetap membisu. Panggilan teleponnya
ditolak bertubi-tubi. Teks patah-patahnya yang dikirim dengan jempol yang
berkeringat hanya membentur dinding ketegasan baru dari Dea yang tak pernah ia
kenal sebelumnya.
“Kamu maksa mau ngomong supaya kamu bisa tenang... yang penting
salahmu sama aku udah kamu tebus dgn maaf dan penjelasan.”
Teks dari Dea subuh itu menelanjangi motif terdalam Darma. Dea,
dengan kedewasaan pahit yang mendadak muncul dari rasa sakit, menyadari bahwa
permintaan maaf Darma yang menggebu-gebu bukanlah untuk menyembuhkan lukanya,
melainkan untuk meredakan rasa bersalah di dada Darma sendiri. Darma ingin
buru-buru menuntaskan "masalah" ini agar ia bisa kembali tidur dengan
nyenyak, kembali menjadi sosok 'Darma' yang tak bercela.
Konflik malam itu berubah dari sekadar pembuktian perselingkuhan
digital menjadi benturan dua karakter yang mendasar:
·
Darma, sang pengatur yang
panik karena kehilangan kendali atas manusianya dan kini menggunakan
"permintaan maaf" sebagai senjata untuk memaksa keadaan kembali
normal.
·
Dea, sang pengikut yang
bertransformasi menjadi hakim dingin, yang menyadari bahwa satu-satunya cara
menyelamatkan harga dirinya adalah dengan menolak berkomunikasi lewat aturan
main yang dibuat Darma.
Saat jarum jam merangkak melewati pukul tujuh pagi, ultimatum
terakhir dikirimkan. Di bawah sorot lampu gawai yang mulai redup, Dea
menetapkan batas akhir. Tidak ada panggilan telepon. Tidak ada pertemuan di
Taman Suropati. Hubungan mereka, yang dulunya seramah tawa di atas bus PPD,
kini resmi dikubur di dalam sebuah ruang obrolan yang layarnya retak—menyisakan
Darma yang menatap nanar baris teks terakhir, dan Dea yang akhirnya membalikkan
badan untuk tidur, membiarkan kulit gitarnya yang mengeras menghadapi hari yang
baru.
Bagian III:
"Udahlah, Bang. Capek."
Kamar kos Dea di Slipi siang itu rasanya mirip oven. Kipas angin
kosan yang bunyinya ngik-ngok-ngik-ngok sama sekali gak
ngebantu ngusir gerah. Dea selonjoran di kasur busa tanpa sprei yang ujungnya
udah mrothol, matanya lengket ke layar Blackberry
yang lampunya kedap-kedip warna merah. Lowbat. Tapi dia asyik scroll lini masa Twitter-nya pakai
jempol yang mulai gemeteran.
"Gila ya," bisik Dea sendirian.
"Bisa-bisanya."
Dia baru aja nemu satu bukti lagi. Si Darma—cowoknya yang sok
paling bener sedunia itu—ternyata baru aja mem-follow balik akun
cewek namanya Yumanissa. Belum lagi urusan Ava Victoria yang
kemarin sempat bikin mereka berantem sampai subuh.
Drrt... drrt...
HP kecil Nokia jadulnya yang ditaruh di samping bantal getar.
Ada SMS masuk. Dari nomor Darma.
Darma Jaya: Dea, angkat tlp dong. Ak mohon. Jgn gini.
Dea cuma mendengus. Dia lempar itu HP kecil ke tumpukan baju
kotor di pojok kamar. "Ngemis terus, tapi kelakuan kagak berubah.
Najis," batirnya dalam hati. Rasa sedihnya udah lewat dari tadi malam;
sekarang yang tersisa cuma rasa enek yang numpuk di hulu hati.
Sementara itu, di sebuah warkop 24 jam dekat kampus daerah
Grogol, Darma lagi megangin kepalanya yang pusing tujuh keliling. Di depannya
ada segelas kopi hitam yang udah dingin dan mangkok mi instan yang kuahnya udah
mengental.
"Gimana, Darma? Dibales gak?" Rizal, temen sekampusnya
yang dari semalam setia nemenin begadang, nanya sambil nyedot rokok dalam-dalam.
"Kagak. Cuma di-R (read) doang di WA. SMS gua juga gak
dibales," suara Darma serak. Tampangnya kusut banget, rambutnya yang biasa
rapi pakai pomade sekarang acak-acakkan mirip anak ayam kehujanan. "Dia
beneran motong semua akses gua, Zal. Facebook di-deletefriend,
Twitter di-unfollow. Gila, gua kayak penjahat kelamin aja
diginiin."
"Ya lu lagian pake acara nge-follback mantan segala, pake
nanya-nanya Raisa udah bolong puasa berapa lagi. Cari mati lu," sahut
Rizal lempeng.
"Kan cuma nanya, Zal! Gak ada maksud apa-apa. Lagian si Dea
kenapa sih jadi keras kepala bener sekarang? Biasanya kalau gua tegasin dikit
langsung nurut, langsung 'iya Darma, maaf Darma'. Sekarang bener-bener kayak
batu!" Darma mukul meja warkop pelan, frustrasi. Dia terbiasa jadi komandan
di hubungan ini. Dia yang ngatur Dea naik bus PPD apa, dia yang nyuruh Dea
tidur jam berapa. Begitu kendalinya lepas kayak gini, Darma mendadak ngerasa
kerdil.
Darma buru-buru ngetik teks lagi dengan jempol berkeringat.
Darma Jaya: Tolong lah Dea. Kita tlp dlu. Gak bisa selesai
lewat teks gini. Lu kok tegaan bgt sih ama gua?
Ting.
Pesan itu masuk ke WA Dea. Dea membaca baris kalimat itu sambil
tersenyum sinis. Dia langsung bangkit, duduk bersila di kasur, dan mengetik
balesan dengan kecepatan penuh.
Dea: Lu nanya kenapa gue tega? Lu tuh yang gak ngaca, Bang. Dari
kemarin lu sibuk minta maaf, sibuk minta telepon biar hati LU tenang kan? Biar
salah lu ngerasa udah ditebus? Lu gak mikirin hati gue yang udah lu iris-iris
pakai kebohongan lu.
Dea: Gue tuh kayak jari lembut yang baru belajar main gitar, Bang.
Kulit gue kapalan, mengeras gara-gara senar bohong lu itu. Sekarang lu komplain
kenapa gue jadi keras? Ya lu yang bikin gue kayak gini!
Di warkop, Darma membaca balasan panjang itu dengan mata melotot.
"Zal, liat nih. Dia malah bawa-bawa filosofi gitar. Pusing gua!" Darma
makin panik. Dia langsung nekat mencet tombol panggil.
Calling Dea...
Di kamar kos, gawai Dea bergetar hebat menampilkan nama 'Darma Darma'.
Dea cuma ngeliatin layar itu datar. Gak ada niat sedikit pun buat mencet tombol
hijau. Begitu panggilannya mati sendiri, Dea langsung ngetik satu kalimat
terakhir yang paling dingin yang pernah dia tulis selama mereka pacaran.
Dea: Gak usah telepon. Gue capek. Usaha lu tuh basi, cuma muter-muter
nyari pembenaran. Mending kita sudahi aja semuanya di sini. Titik.
Dea naruh Blackberry-nya
di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. Dia narik
selimut tipisnya sampai ke dada, merem, dan mencoba melupakan bau gerah Jakarta
serta nama Darma Jaya yang perlahan mulai memudar dari hidupnya. Siang itu,
untuk pertama kalinya, Dea tidur tanpa perlu laporan "cek poin" ke
siapa-siapa.
Bagian IV: Sisa Asap
dan Kamar Kos yang Sepi
Matahari Jakarta bergeser ke barat, menyisakan semburat oranye
kusam yang menerobos lewat celah ventilasi kamar kos Dea. Bau aspal terbakar
dan polusi dari jalan raya Slipi lamat-lamat masuk, bercampur dengan wangi sisa
parfum kado dari Darma yang sengaja dicampakkan Dea di rak sepatu.
Dea terbangun pukul lima sore. Badannya lengket, tapi kepalanya
terasa jauh lebih ringan. Dia bangkit, berjalan ke arah cermin wastafel kecil
di sudut kamar. Diperhatikannya matanya yang agak sembab.
“Gue nangisin cowok kayak gitu? Rugi bandar,” gumamnya sambil
membasuh muka dengan air keran yang terasa hangat kuku karena sengatan matahari
siang tadi.
Dia mengambil gawai Blackberry-nya
yang sedari tadi mati total karena kehabisan daya. Begitu dicolok ke pengisi
daya, butuh waktu dua menit sampai logo provider muncul, dan
sedetik kemudian—ping, ping, ping, ping!
Layar gawai itu hampir nge-bleng. Belasan notifikasi WhatsApp
dan SMS masuk berebutan. Semuanya dari Darma.
Darma Jaya: Dea, plis. Jangan diputus gini.
Darma Jaya: Gua otw ke kosan lu ya. Kita omongin
baik-baik.
Darma Jaya: Gua udah di Slipi Petamburan, macet parah.
Tungguin gua.
Dea membaca pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Alih-alih panik atau
buru-buru dandan, dia malah berjalan ke dispenser, menyeduh segelas teh manis
hangat, lalu duduk santai di ambang pintu kosan yang menghadap ke lorong
sempit. Dia tahu betul kelakuan Darma. Cowok itu kalau panik pasti nekat, tapi
kenekatannya selalu basi karena ujung-ujungnya cuma mau menyelamatkan egonya
sendiri yang ogah kalah.
Sementara itu, Darma beneran lagi terjebak di atas motor
bebeknya di perempatan Slipi. Suara klakson bersahut-sahutan bikin kupingnya
mau pecah. Kemeja flanel yang dia pakai udah basah kuyup oleh keringat. Di saku
celananya, HP Nokia-nya gak berhenti bergetar. Rizal meneleponnya berkali-kali.
Darma menepi di dekat halte bus PPD, tempat yang dulu sering
jadi saksi dia dadah-dadah manis ke Dea kalau habis kencan. Dia angkat telepon
dari Rizal sambil menjepit HP-nya di antara kuping dan bahu, tangannya sibuk
merogoh kantong nyari korek.
"Halo, Zal! Kenapa lagi lu?" semprot Darma ketus.
"Lu di mana, Nyet? Lu beneran nyamperin dia? Jangan bego, Darma.
Cewek kalau lagi mode batu digituin makin ilfeel!" suara Rizal kedengaran
khawatir di seberang sana.
"Gak bisa, Zal. Gua harus ketemu. Gua gak terima diputusin
lewat teks kayak gini. Harga diri gua kayak diinjek-injek," kata Darma
sambil menyalakan rokoknya. Asap mengepul, kalah telak oleh polusi knalpot bus
kota yang lewat di depannya. "Gua selalu protek dia, gua jagain dia dari
copet, gua arahin hidupnya biar bener di Jakarta. Masa cuma gara-gara gua follback cewek lain, semuanya ilang gitu aja? Gak
adil!"
"Lu tuh yang gak paham, Darma," Rizal menghela napas
dari ujung telepon. "Lu ngerasa jadi pahlawan, tapi lu lupa nanya dia
butuh pahlawan model lu apa kagak. Udahlah, balik aja ke warkop. Dinginin dulu
otak lu."
"Kagak. Gua udah deket gang kosannya. Gua bakal jelasin
sampai dia mau denger." Darma langsung mematikan sambungan telepon
sepihak. Dia membuang puntung rokoknya yang baru diisap setengah, lalu
menggeber motornya membelah kemacetan sore.
Sepuluh menit kemudian, langkah kaki yang terburu-buru terdengar
menggema di lorong kosan Dea. Darma muncul di ujung gang dengan napas memburu
dan muka sekusut kain pel. Begitu melihat Dea lagi duduk santai sambil memegang
gelas teh, langkah Darma mendadak tertahan.
"Dea..." panggil Darma, suaranya parau.
Dea bahkan gak berdiri dari posisi duduknya. Dia cuma mendongak,
menatap Darma datar dari atas ke bawah. "Mau ngapain lagi, Bang? Kan udah
gue bilang, selesai."
"Dea, dengerin gua dulu," Darma melangkah mendekat,
mencoba memakai nada suara berat dan tegasnya yang biasa dia pakai kalau lagi
ngatur Dea. "Lu gak bisa egois gini. Hubungan kita tuh udah jalan jauh.
Cuma gara-gara masalah sosmed lu sampai tega blokir semua akses gua? Lu kayak
anak kecil tahu gak?"
Dea tersenyum tipis. Sangat tipis sampai-sampai kelihatan seram.
Dia menaruh gelas tehnya di lantai tegel.
"Gue yang anak kecil, atau lu yang gak tahu diri?" suara
Dea pelan, tapi tajamnya menembus sampai ke tulang. "Lu ke sini naik motor
macet-macetan, rela keringetan, itu buat siapa, Bang? Buat gue? Kagak. Lu ke
sini karena lu gak terima 'Darma Darma' yang hebat dan selalu bener ini
dicampakkan begitu aja. Lu butuh gue maafin biar lu bisa pulang dengan perasaan
menang."
Darma tertegun. Kalimat Dea barusan bener-bener menohok ulu
hatinya. Semua skenario penjelasan yang sudah dia susun rapi di kepala
sepanjang jalan Slipi mendadak ambyar.
"Gue udah capek jadi jari lembut yang lu paksa main gitar
sampai kapalan, Bang," Dea berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana
kulotnya. "Sekarang kulit gue udah keras. Dan lu gak bakal bisa bikin
kulit ini melunak lagi pakai janji-janji manis lu yang basi itu."
Dea melangkah mundur ke dalam kamarnya, tangannya memegang
gagang pintu kayu kosannya.
"Pulang deh, Bang. Mandi. Bau matahari," kata Dea
lirih, sebelum akhirnya menutup pintu kamar kosnya rapat-rapat dan memutar
kunci dari dalam—klik.
Darma berdiri mematung di lorong yang remang-remang itu. Suara
ketukan kunci tadi terdengar seperti vonis final yang gak bisa diganggu gugat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Darma Jaya si pengatur rute Jakarta
bener-bener kehilangan arah pulang.
Bagian V: Jalan Pulang
Masing-Masing
Tiga bulan setelah pintu kosan di Slipi itu dikunci dari dalam,
Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah peduli pada hati yang patah.
Rutinitas berjalan seperti biasa; kemacetan di Slipi Petamburan tidak berkurang
satu sentimeter pun, dan bus PPD 213 tetap berasap tebal membelah jalanan ibu
kota.
Dea duduk di dekat jendela sebuah kedai kopi kecil di daerah
seberang kampusnya. Di hadapannya, bukan lagi Blackberry tua yang kedap-kedip kehabisan daya, melainkan sebuah
gawai baru dengan layar sentuh yang mulus. Lini masa Twitter-nya bersih. Tidak
ada lagi pencarian berkala untuk nama Ava Victoria atau Yumanissa.
"Dea, dicariin tuh sama anak-anak anak BEM, katanya poster
buat acara minggu depan belum kelar," tegur sela seorang temannya sambil
menaruh segelas es kopi susu di meja.
Dea menoleh, lalu tersenyum lepas. "Aman, tinggal finishing dikit lagi. Bilang ke mereka, ntar malam gue
kirim lewat surel."
Tidak ada lagi laporan "cek poin" pukul sembilan pagi
atau sore hari. Kulit jarinya yang dulu sempat kapalan karena menahan sakit
hati, kini benar-benar telah mengeras menjadi sebuah kekuatan baru. Dea tidak
menjadi benci pada cinta; dia hanya menjadi lebih tahu kapan harus meletakkan
batas. Dia bukan lagi gadis kosan yang bisa disetir rute hidupnya lewat instruksi
teks chat selarut malam.
Sementara itu, di sudut Grogol, Darma Jaya baru saja
menyelesaikan kelas terakhirnya hari itu. Dia berjalan lambat ke parkiran
motor, memegang helmnya yang kacanya sudah agak buram.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan gawai yang kini terasa
jauh lebih sepi. Tidak ada lagi pesan “Mas sholat ya” atau
titipan mengunduh anime terbaru yang biasanya menghiasi sore harinya. Darma
sempat membuka aplikasi WhatsApp, memandangi foto profil Dea yang kini sudah
tidak bisa dia lihat lagi karena nomornya telah diblokir permanen.
Rizal menepuk pundak Darma dari belakang, mengejutkannya.
"Sore, Darma. Ke warkop biasa kagak?"
Darma terdiam sebentar, memandangi jalan raya di depan kampus
yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang pulang kantor. Semburat langit
oranye Jakarta sore itu persis sama dengan sore di mana dia diusir dari lorong
kosan Slipi.
"Kagak deh, Zal. Gua mau langsung balik aja," jawab Darma
pelan. Suaranya tidak lagi menggebu-gebu penuh komando seperti dulu. Ada nada
pasrah yang matang di sana.
"Tumben. Lu udah kagak mau nyari pelarian lagi?" goda
Rizal.
Darma tersenyum tipis, menggeleng. "Gua baru sadar, Zal.
Selama ini gua sibuk jadi pahlawan di hidup orang, sampai gua lupa belajar gimana
caranya jadi manusia yang tahu diri. Gua mau pulang, mau tidur cepat."
Darma menyalakan motor bebeknya, perlahan membelah jalanan
Grogol tanpa ambisi untuk membuktikan apa-apa lagi pada dunia. Dia menerima
kekalahannya dengan lapang dada. Kehilangan Dea adalah pukulan telak bagi
egonya, tetapi justru dari reruntuhan ego itulah Darma pertama kalinya belajar
untuk benar-benar mendengarkan orang lain, bukan sekadar mengatur.
Hubungan mereka tidak berakhir dengan keajaiban benci yang
berubah jadi cinta kembali, tidak juga dengan tangisan histeris di pinggir
jalan yang dramatis.
Mereka selesai dengan cara yang paling Jakarta: menjadi dua
orang asing yang pernah saling menghafal rute angkutan umum yang sama, yang
kini memilih menggunakan lajur jalan berbeda demi menyelamatkan kewarasan
masing-masing. Di atas aspal kota yang keras ini, baik Dea maupun Darma,
akhirnya menemukan jalan pulang mereka sendiri-sendiri—tanpa perlu ada lagi
yang terluka oleh senar kebohongan lama.
[]