Cinta, pada akhirnya, sering kali hanyalah isapan jempol
berselimut tahi kucing belaka—sebuah lelucon absurd yang nyatanya menghunjam
tepat di dada anak manusia.
"Maaf Uda, aku gak bisa. Terima kasih udah sayang aku, tapi
aku gak sayang Uda :)"
"Uda sama si ANU itu aja. Dia masih mengharapkan Uda kok, dia
sayang banget sama Uda makanya dia begitu."
Dua larik pesan surat listrik—surel sialan—itu mendarat di layar
gawai. Singkat, padat, dan mematikan. Kalimat-kalimat itu tidak sekadar
menolak; mereka meremukkan. Mengapa rasanya bisa se-jahanam ini? Karena di
balik untaian kata dingin itu, ada sebuah pertaruhan maskulin yang digilas
tanpa ampun.
Semua bermula dari aspal, debu, dan sebuah perjalanan wisata.
Pertemuan itu klise, macam bait pertama lagu-lagu melankolis di radio. Dia
awalnya tampak biasa saja. Namun, saya bukanlah tipe lelaki pengecut yang hobi
bersembunyi di balik sandiwara kode-kodean. Saya penganut paham blak-blakan,
tanpa tedeng aling-aling jika sudah urusan hati.
Puncaknya terjadi usai sebuah ritual penaklukan jalanan. Saya
baru saja tuntas menggeber mesin sepeda motor, menempuh rute panjang touring dari Pelabuhan Ratu bersama kawan-kawan lama
semasa kuliah. Dengan jaket yang masih berbau matahari, sisa peluh petualangan,
dan adrenalin yang belum sepenuhnya surut, saya langsung memutar setang menuju
kediaman si gadis. Tidak ada basa-basi, tidak ada sandiwara. Di hadapannya,
saya tegakkan punggung dan langsung menyalak keras: "AKU CINTA KAMU!"
Hening seketika mencekik udara. Gadis itu membeku, kehilangan
vokal, tak berani meluncurkan sepatah kata pun. Dan di sanalah komedi tragis
ini dimulai. Saya menunggu. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Entah berapa ribu kali
saya harus mengulang lema berawalan 'me-' yang melelahkan ini dalam hidup.
Sebuah siklus penantian panjang yang sialnya selalu saya sertai dengan munajat
khusyuk kepada Sang Khalik. Dalam rapalan doa malam, saya sebut namanya; saya
minta dia menjadi istri, menjadi garwa—sigaraning nyawa—belahan jiwa yang kelak melepas napas
terakhirnya di samping jasad saya. Namun takdir punya selera humor yang gelap.
Hari berganti bulan, bulan melesat menjadi tahun. Esok demi esok
terjungkal menjadi lusa, tulat, hingga tubin. Saya terjebak dalam limbo
penantian yang konyol. Apa yang saya tunggu? Sepele. Cuma satu dari dua opsi
mutlak: YA atau TIDAK. Persis seperti kontestan kuis picisan di televisi yang
menahan napas di depan pembawa acara.
Medio selang beberapa tahun kemudian, di bawah langit
Jogjakarta, ketukan palu hakim itu akhirnya terdengar. Sepintas terdengar basi,
namun bubur telah hancur total, persis seperti kondisi hati saya yang lebur
jadi abu. Tak ada raungan, tak ada caci maki yang keluar dari mulut saat pesan
itu terbaca. Hanya air mata—hangat dan khianat—yang merembes jatuh tanpa mampu
saya kekang. Kesimpulannya mutlak: TIDAK. Syabas! Sungguh akhir yang megah.
Ribuan kilometer aspal telah saya gilas, berlembar-lembar uang,
waktu yang tak mungkin kembali, peluh keringat, bahkan darah dan air mata telah
saya gadaikan demi mengejar apa yang saya kira cinta. Nyatanya? Itu cuma
fatamorgana brengsek di tengah padang pasir gersang nan tandus. Kecewa ini
teramat masif. Naif memang, menyadari diri ini telah berlari kesetanan mengejar
angan-angan semu.
Seluruh reputasi dan nama baik saya pertaruhkan di judi
kehidupan ini. Teman-teman sejawat, karib kerabat, semua melempar respons
positif, memberi restu penuh seolah-olah pernikahan megah sudah di depan mata.
Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saya terpaksa menelan
takdir sialan ini dengan sikap yang dualistik: hati dipaksa menerima dengan
(tidak) ikhlas, sementara lisan saya mengamuk, memaki, dan mengumpat keras. "Jancuk!" Hanya satu kata itu yang sanggup
mewakili ledakan emosi di dalam dada.
Jawaban terkutuk yang rasanya dirancang langsung oleh iblis.
Penderitaan itu bahkan mendapat puncaknya ketika beberapa tahun kemudian,
sebuah undangan pernikahan dengan namanya tertera di sana tiba di depan meja.
Saya tidak menangis lagi. Saya cuma tertawa terbahak-bahak sembari mengirim
sumpah serapah terbaik ke udara. Biarlah. Semoga Dia yang Maha Adil dan Maha
Mengetahui setiap jengkal luka hamba-Nya selalu melindungi langkah saya ke
depan. Amin. Kisah ini tamat, tapi perjalanan belum usai.
------------------------------------------------------------------------
Undangan pernikahan berhias tinta emas itu akhirnya berakhir di
tempat sampah. Lembaran kertas tebal yang semula terasa seperti ejekan paling
jahanam dari masa lalu, kini resmi menjadi sejarah. Di luar jendela, langit
Jogjakarta sore itu melukis warna jingga yang tenang, kontras dengan gemuruh
knalpot motor besar yang baru saja dimatikan di halaman rumah.
Gian turun dari atas jok motor dual-sport miliknya. Jaket
turingnya yang berdebu dilepas pelan, menyisakan kaus hitam polos dan sisa
peluh perjalanan jauh yang masih menempel di dahi. Lelaki itu menghela napas
panjang, mencoba mengusir sisa-sisa sesak dari cerita lama yang baru saja dia
makamkan di dalam kepala.
Langkah kakinya membawa Gian masuk ke dalam rumah, langsung
menuju ruang tengah di mana sebuah laptop masih menyala, menampilkan draf
Semester Pembelajaran yang belum rampung. Dan di sana, duduk seorang wanita
yang sedang serius menatap layar gawai sembari mencatat sesuatu.
Sasa.
Perempuan itu menoleh saat mendengar langkah sepatu boot Gian.
Rambutnya diikat asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang membingkai
wajahnya yang tenang. Sasa tidak bertanya Gian dari mana, atau mengapa suaminya
itu pergi menggeber motor seharian penuh tanpa arah yang jelas. Dia tahu persis
hari ini hari apa. Hari di mana "surat listrik" dari masa lalu itu
genap berusia beberapa tahun, dan hari di mana si pengirimnya sah menjadi milik
orang lain.
Sasa menutup gawainya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Gian.
"Udah puas misuh-misuh di jalanan?" tanya Sasa,
suaranya renyah, tanpa nada menghakimi. Ada senyum tipis di sudut
bibirnya—jenis senyuman yang selalu berhasil menurunkan tensi darah Gian dalam
sekian detik.
Gian terkekeh hambar, menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Hati udah ikhlas, Sa. Tapi kalau lisan, ya tetep aja ada jancuk-jancuknya
dikit pas lewat ring road tadi."
Sasa tertawa kecil. Dia melangkah ke dapur, mengambilkan segelas
air putih dingin dan menyerahkannya pada Gian. "Lagian, lagakmu itu lho,
Gian. Dulu maju tanpa tedeng aling-aling, giliran digantung bertahun-tahun
malah dinikmati kayak kontestan kuis. Kamu itu pinter kalau ngomongin teori
komunikasi di depan mahasiswa, tapi urusan hati sendiri malah zonk."
Gian meminum airnya sampai tandas, lalu menatap Sasa
dalam-dalam. "Namanya juga anak muda naif waktu itu, Sa. Bayangannya
terlalu muluk-muluk soal garwa, sigaraning nyawa. Nggak tahunya malah dapet
fatamorgana."
"Terus sekarang?" Sasa melipat tangan di dada,
bersandar pada meja kerja Gian, menatap suaminya itu dengan tatapan menantang
namun penuh kehangatan.
Gian meraih tangan Sasa, menggenggam jemari perempuan yang kini
benar-benar menjadi takdirnya yang nyata. Bukan hasil dari penantian konyol
berawalan 'me-', bukan pula dari ketidakpastian yang mengemis jawaban YA atau
TIDAK. Sasa adalah jawaban yang datang tanpa perlu dia kejar sampai
berdarah-darah di aspal ribuan kilometer.
"Sekarang ya dapet yang nyata," ujar Gian, suaranya
melunak, kehilangan semua nada sarkasme dan amarah yang tadi dia bawa dari
jalanan. "Ngapain juga meratapi bubur yang udah hancur, kalau di depan
mata udah ada hidangan yang jauh lebih mewah?"
Sasa tersenyum, kali ini lebih lebar. Dia menepuk pundak Gian
pelan. "Pinter ngomongnya. Ya udah, sekarang mandi, ganti baju. Habis itu
bantu aku nyusun materi kuliah buat minggu depan. Jangan sampai dosennya malah
sibuk turing gara-gara gagal move on."
Gian tertawa lepas. Sisa rasa sakit dari cerita "Manusia
Kerdil" itu menguap sepenuhnya ke udara Jogjakarta, digantikan oleh realitas
baru yang jauh lebih digdaya. Perjalanan lamanya memang tamat dengan tragis,
tetapi bersama Sasa, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bab 3: Logika dan Rasa
Malam makin larut di Jogjakarta. Angin malam membawa aroma tanah
basah sisa hujan sore tadi, menyelinap masuk lewat celah jendela ruang kerja
Gian. Di atas meja, dua cangkir kopi hitam yang mulai mendingin menemani
tumpukan kertas silabus dan draf penelitian yang berserakan.
Gian duduk menyandar, memutar-mutar pena di jarinya sembari
menatap baris demi baris teks di layar laptop. Fokusnya pecah. Pikirannya
melompat dari materi kuliah "Strategi Pesan Kreatif" ke draf riset
etnografinya tentang humor bapak-bapak yang sedang ia susun. Lucu memang,
dia sedang meneliti bagaimana bapak-bapak menggunakan humor untuk
menegosiasikan identitas dan membangun solidaritas sosial, sementara dia
sendiri baru saja lolos dari jurang komedi tragis masa lalunya.
Sasa masuk kembali ke ruangan membawa sepiring pisang goreng
hangat. Dia melirik layar laptop Gian, lalu mendengus geli.
"Riset joke bapak-bapaknya sampai mana, Pak Dosen?" ledek
Sasa sembari meletakkan piring di samping kopi. "Jangan bilang kamu mau
masukin istilah 'isapan jempol tahi kucing' ke dalam jurnal ilmiahmu."
Gian terkekeh, meletakkan penanya. "Ya kalau secara
semiotika masuk, kenapa enggak? Itu metafora tingkat tinggi untuk menggambarkan
disonansi kognitif dalam hubungan romantis, Sa."
Sasa mengambil tempat duduk di kursi sebelah Gian, melipat
kakinya dengan santai. "Teori mulu. Tapi serius, Gian. Kadang aku mikir,
kamu yang tiap hari ngajar mahasiswa tentang cara menyampaikan pesan yang
efektif, kok bisa-bisanya dulu terjebak dalam komunikasi yang se-absurd itu
sama si masa lalu?"
Gian menghela napas, tatapannya menerawang ke langit-langit
ruangan. "Itulah bedanya teori dan praktik lapangan, Sa. Di kelas, aku
bisa dengan gagah bilang kalau komunikasi itu harus dua arah, harus ada feedback yang jelas agar tidak terjadi noise. Tapi waktu itu? Aku cuma laki-laki yang egois
dengan perasaanku sendiri. Aku pikir dengan langsung datang setelah touring dan bilang 'aku cinta kamu', itu adalah bentuk
keberanian. Ternyata itu cuma pemboman pesan sepihak."
Sasa mendengarkan dengan saksama. Sebagai sesama akademisi, dia
paham ke mana arah pemikiran suaminya. Namun sebagai seorang wanita, dia juga
melihat sisi kemanusiaan Gian yang rapuh di balik jubah intelektualnya.
"Kamu gak salah sepenuhnya," ujar Sasa pelan, nadanya
melembut. "Kamu cuma terlalu jujur di dunia yang penuh sandiwara. Yang
salah adalah durasi menunggunya. Bertahun-tahun untuk sebuah jawaban yang
sebenarnya sudah jelas dari hari pertama dia diam? Itu bukan konsistensi, Gian.
Itu penolakan untuk melihat realitas."
"Persis," potong Gian cepat, menoleh ke arah Sasa.
"Dia memilih diam karena diam adalah pesan paling aman baginya. Dan aku
menafsirkan diam itu sebagai harapan. Bodoh, kan? Sampai akhirnya surat listrik
itu datang dan meremukkan semua ilusi yang kubangun sendiri."
Sasa meraih satu pisang goreng, menggigitnya pelan sebelum
kembali berbicara. "Tapi kalau kamu gak patah se-hancur itu di Jogja waktu
itu, kamu gak bakal ketemu aku di ruang sidang fakultas dua tahun lalu. Kamu
gak bakal sadar kalau cinta itu gak butuh ribuan kilometer aspal dan peluh
darah buat pembuktian. Cinta itu... ya komunikasi yang selaras. Kayak kita
sekarang. Capek kerja, ada yang buatin kopi. Bingung materi kuliah, ada yang
bisa diajak debat."
Gian menatap istrinya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya,
jauh lebih nyata dan menenangkan ketimbang obsesi liarnya di masa lalu. Sasa
benar. Hubungan mereka tidak dimulai dengan ledakan adrenalin atau deklarasi
dramatis di depan pintu rumah. Hubungan mereka tumbuh dari diskusi-diskusi panjang
di koridor kampus, dari saling koreksi draf materi kuliah, hingga akhirnya
bermuara pada komitmen yang tenang namun kokoh.
Gian meraih cangkir kopinya, menyesapnya sedikit yang tersisa.
"Kamu tahu, Sa? Kadang aku bersyukur pernah jadi 'manusia kerdil' yang
memaki-maki takdir di jalanan ring road. Tanpa rasa sakit yang jancuk itu, aku
gak akan pernah bisa menghargai dewasanya caramu mencinta."
Sasa tersenyum, matanya menyipit membentuk bulan sabit. Dia
mengulurkan tangan, mengacak-acak rambut Gian pelan. "Baguslah kalau sudah
sadar. Sekarang, simpan dulu puitisnya. Tolong bantu aku koreksi bab indikator
penilaian tugas Consumer Behavior ini. Mahasiswa minggu depan sudah mau
presentasi."
Gian tertawa lepas, rasa penatnya menguap. "Siap, Ibu
Dosen. Mari kita selesaikan ini sebelum subuh."
Malam itu, di sudut Jogjakarta, komputer jinjing terus berkedip
menampilkan angka-angka dan teori komunikasi. Namun di antara baris-baris
akademik tersebut, ada sebuah cerita yang sudah selesai ditulis dengan damai,
dan sebuah lembaran baru yang sedang dirajut bersama.
Suara kokok ayam jantan dari kejauhan memecah keheningan subuh
di sudut Sleman. Gian meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. Layar laptop
akhirnya ditutup dengan suara klik yang memuaskan. Silabus Consumer Behavior milik Sasa dan draf riset etnografi
miliknya akhirnya rampung disinkronkan.
Sasa sudah lebih dulu menyerah dua jam lalu. Dia kini tertidur
pulas di sofa ruang kerja dengan posisi meringkuk, masih mengenakan kaus
kedodoran milik Gian. Gian tersenyum tipis. Ditatapnya wajah sang istri yang
tampak begitu damai dalam lelapnya. Tak ada drama, tak ada teka-teki yang harus
dipecahkan seperti masa lalunya. Bersama Sasa, semua hal terasa presisi dan
menenangkan.
Gian berjalan mendekat, berniat membangunkan Sasa dengan lembut
agar pindah ke kamar tidur. Namun baru saja tangannya hendak menyentuh bahu
Sasa, gawai di atas meja bergetar hebat. Ada panggilan masuk.
Gian mengernyitkan dahi melihat nama yang tertera di layar. Andra, teman kuliahnya dulu yang ikut dalam touring berdarah ke Pelabuhan Ratu bertahun-tahun lalu.
Gian menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai ke telinganya
sembari melangkah keluar ke area teras rumah agar tidak berisik.
"Halo, Ndra? Subuh-subuh amat. Ada apa?" tanya Gian
setengah berbisik.
"Gian! Jancuk, kowe wes tangi to? (Kamu sudah bangun kan?)" Suara Andra di seberang telepon
terdengar panik campur antusias. "Gian, kowe wes moco grup alumni urung? (Kamu
sudah baca grup alumni belum?)"
"Belum. Baru banget kelar kerjaan kampus. Emang ada apaan
sih?"
"Si gadis Pelabuhan Ratu-mu itu, Gian... dia cerai. Baru
seminggu yang lalu ketuk palu di pengadilan agama. Beritanya rame di grup
angkatan karena mantan suaminya selingkuh."
Kata-kata Andra seperti pukulan godam yang tiba-tiba datang dari
masa lalu. Gian tertegun di teras rumahnya. Angin subuh Jogja yang dingin
mendadak terasa membekukan lidahnya. Ingatannya mendadak berputar mundur secara
otomatis: bau matahari di jaketnya, motor yang menderu, pintu rumah yang
tertutup rapat, dan penantian jahanam berawalan 'me-' yang menguras warasnya.
Wanita yang dulu dipujanya setengah mati, yang membuatnya memaki
takdir dengan kata jancuk paling kasar, kini sedang mengalami kehancuran
yang sama seperti yang pernah ia rasakan dulu.
"Gian? Halo? Kowe jek neng kono to? (Kamu masih di sana kan?) Gimana tanggapanmu, Bro? Karma is real?" cecar
Andra dari seberang telepon.
Gian menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan ke
udara pagi. Anehnya, tidak ada rasa puas. Tidak ada tawa makian seperti saat
dia menerima undangan pernikahan beberapa tahun lalu. Yang ada hanyalah rasa
hambar yang teramat sangat.
"Kasihan ya, Ndra," jawab Gian lirih, suaranya datar
tanpa intonasi emosi. "Tapi ya udah. Itu jalan hidupnya dia. Bukan
urusanku lagi."
"Lho, gak pengen nyapa atau sekadar ngucapin duka cita
formalitas gitu? Siapa tahu rombongan 'Manusia Kerdil' mau reuni?" goda Andra, mencoba memancing reaksi Gian yang dulu terkenal
meledak-ledak.
Gian terkekeh, kali ini benar-benar lepas tanpa beban.
"Reuni pala lu peyang. Aku udah punya garwa yang nyata di dalam rumah, Ndra. Gak ada waktu
buat ngurusin fatamorgana lama yang udah pudar."
Setelah menutup telepon dari Andra, Gian membalikkan badan. Di
ambang pintu teras, rupanya Sasa sudah berdiri di sana. Matanya masih setengah
terpejam karena kantuk, tangannya bersendekel di dada menahan dinginnya angin
subuh.
"Siapa yang telepon subuh-subuh begini?" tanya Sasa,
suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur.
Gian berjalan mendekati istrinya, lalu tanpa ragu merangkul
pundak Sasa dengan erat, menyalurkan kehangatan dari tubuhnya.
"Andra. Biasa, anak-anak motor nawarin touring akhir pekan besok," bohong Gian. Bukan
karena dia takut, tetapi karena dia tahu ada beberapa informasi dari masa lalu
yang memang sudah selayaknya membusuk di tempat sampah tanpa perlu mengotori
ruang hidupnya yang sekarang bersama Sasa.
Sasa menengadah, menatap mata Gian dengan tatapan menyelidik
khas seorang dosen komunikasi yang tahu kapan mahasiswanya sedang berbohong.
Namun, alih-alih menginterogasi, Sasa justru tersenyum manis dan menyandarkan
kepalanya di dada Gian.
"Boleh ikut gak? Aku mau ikut bonceng di belakang. Udah
lama gak ngerasain angin jalanan bareng kamu," bisik Sasa.
Gian mengecup puncak kepala Sasa dengan lembut. "Boleh
banget, Sayang. Kita geber motornya sampai ujung aspal."
Di bawah langit subuh Jogjakarta yang mulai terang, Gian
menyadari satu hal yang mutlak: cerita tentang "Manusia Kerdil" telah
sepenuhnya mati dan terkubur. Di pelukannya sekarang, ada realitas yang jauh
lebih digdaya daripada jutaan angan-angan semu di masa lalu.
Perjalanan akhir pekan ke lereng Gunung Merapi yang awalnya
dirancang sebagai ajang refreshing, mendadak berubah atmosfer sejak gawai Gian
tergeletak di dasbor motor saat mereka berhenti di sebuah kedai kopi di daerah
Pakem.
Sasa awalnya hanya berniat mengambil gawai tersebut untuk
mengabadikan momen kabut yang turun menyelimuti perbukitan. Namun, sebuah
notifikasi pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar kunci. Sebuah pesan
singkat, namun menggunakan lema yang sangat spesifik.
"Uda Gian… apa kabar? Maaf mengganggu subuh kemarin lewat
Andra. Aku cuma mau bilang, maaf untuk tahun-tahun yang lalu. Sekarang aku baru
paham rasanya digantung dan dibuang."
Sasa mematung di samping motor. Angin lereng Merapi yang dingin
mendadak terasa menusuk. Sebagai dosen Komunikasi yang mendalami psikologi
pesan, dia tidak perlu menjadi detektif untuk tahu siapa pengirimnya. Kosakata 'Uda' dan referensi 'subuh kemarin lewat Andra' langsung menyatukan
potongan teka-teki yang sengaja Gian sembunyikan subuh itu.
Gian keluar dari kedai membawa dua cangkir kopi panas. Begitu
melihat gelagat Sasa yang kaku dengan gawai di tangan, langkah kaki Gian
melambat. Detak jantungnya memburu.
"Ada pesan masuk," ujar Sasa datar, menyerahkan gawai
itu tanpa ekspresi sembari menatap lurus ke arah Gian. Matanya yang biasa
hangat kini sedingin es di puncak gunung.
Gian membaca pesan itu. Sial. Jantungnya serasa copot. Bukan
karena dia masih punya rasa pada wanita dari masa lalunya, melainkan karena dia
tahu dia telah melakukan kesalahan fatal dalam hukum komunikasi pernikahan:
berbohong.
"Sa, aku bisa jelasin. Kemarin Andra emang telepon soal
dia, tapi aku gak ngerespons sama sekali. Aku sengaja gak cerita karena aku
pikir ini sampah masa lalu yang gak penting buat kita bahas," kata Gian
cepat, berusaha menahan kepanikan. Suaranya yang biasa lantang di depan kelas
kini terdengar agak bergetar.
Sasa tersenyum hambar, jenis senyuman yang paling ditakuti Gian
karena menandakan emosi yang sudah mencapai level puncak.
"Yang jadi masalah bukan si masa lalu itu, Gian,"
potong Sasa, suaranya tenang namun tajam menghunjam. "Masalahnya adalah
kamu bohong. Kamu bilang Andra telepon soal agenda touring. Kamu sengaja bikin noise dalam komunikasi kita. Kamu pikir aku ini
kekanak-kanakan sampai harus disembunyikan fakta kayak gini?"
"Gak gitu, Sa. Aku cuma gak mau suasana subuh kita rusak
gara-gara denger nama orang yang udah bikin aku misuh-misuh bertahun-tahun
lalu. Aku mau melindungi perasaanmu," bela Gian, mencoba meraih tangan
Sasa.
Namun Sasa menarik tangannya mundur. Dia menggeleng pelan.
"Melindungi perasaanku atau melindungi egomu sendiri? Kamu bilang kamu
udah ikhlas, udah dapet yang nyata. Tapi begitu dia muncul lagi sebagai janda
yang menderita, kamu mendadak jadi pahlawan yang sok merahasiakan sesuatu. Kamu
kasihan sama dia?"
Pertanyaan Sasa telak menghantam ego maskulin Gian.
Di dalam ruang kelas, Gian
selalu mengajarkan bahwa barriers (hambatan) terbesar dalam komunikasi adalah
hilangnya kepercayaan akibat distorsi informasi. Kini, dia sedang menguji
teorinya sendiri di dunia nyata.
"Aku gak kasihan sama dia, Sasa! Demi Allah," suara
Gian agak meninggi, memancing tatapan dari satu-dua pengunjung kedai lain. Dia
segera menurunkan intonasinya. "Aku cuma ngerasa itu bukan urusanku lagi.
Kalau aku cerita, aku takut kamu mikir aku masih peduli."
"Justru karena kamu menyembunyikannya, aku jadi punya
alasan buat mikir kayak gitu, Gian," sahut Sasa, matanya mulai
berkaca-kaca, namun dia menolak untuk menumpahkan air mata di tempat umum.
"Kamu selalu bilang kalau hubungan kita ini dewasa, selaras, tanpa
teka-teki kayak kuis televisi yang dulu kamu mainin. Tapi hari ini, kamu
sendiri yang bikin teka-teki itu."
Sasa berbalik, berjalan menuju tepi area parkir, meninggalkan
kopi panas yang mulai mengembun di atas meja kayu. Dia menatap hamparan
vegetasi hijau Merapi yang tertutup kabut tebal—persis seperti kondisi
pikirannya saat ini.
Gian berdiri terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya sejak
mereka menikah, ada jarak yang membentang di antara mereka. Jarak yang bukan
diciptakan oleh ribuan kilometer aspal Pelabuhan Ratu-Jogja, melainkan oleh
beberapa baris kalimat bohong yang dia ucapkan demi menghindari konflik, yang
justru kini membakar rumahnya sendiri.
Kabut di lereng Merapi makin tebal, menghapus jarak pandang,
persis seperti ego dan kesalahpahaman yang mulai mengaburkan frekuensi selaras
di antara Gian dan Sasa.
Gian menatap cangkir kopi yang kini mendingin sepenuhnya. Di
seberang meja kayu kedai Pakem, Sasa masih bergeming. Dia tidak meledak-ledak
seperti karakter wanita di sinetron, tetapi diamnya Sasa jauh lebih mengerikan
bagi Gian daripada makian jancuk yang biasa dia umpatkan di jalanan. Sasa sedang
melakukan silent treatment—sebuah bentuk pemutusan sirkuit
komunikasi yang disengaja.
Gian menghela napas panjang. Dia sadar, membiarkan ego
maskulinnya menguasai keadaan hanya akan memperlebar hambatan psikologis di
antara mereka. Sebagai pengajar komunikasi, dia tahu betul: jika noise sudah merusak sinyal, satu-satunya cara adalah
kalibrasi ulang dari awal.
Lelaki itu menggeser duduknya, mendekat ke arah Sasa.
Diletakkannya gawai yang masih menampilkan pesan terkutuk itu di tengah meja,
dalam posisi terbuka. Telanjang, tanpa ada lagi yang disembunyikan.
"Sa," panggil Gian, suaranya melunak, kehilangan
sisa-sisa nada defensif yang tadi sempat meninggi. "Aku salah. Aku minta
maaf."
Sasa tidak menoleh, tetapi Gian tahu istrinya mendengarkan.
"Aku terjebak dalam bias kognitifku sendiri," lanjut
Gian, menggunakan istilah akademik yang biasa mereka pakai untuk mencairkan
suasana, walau kali ini nadanya sepenuhnya serius. "Aku pikir, dengan
memotong informasi tentang dia, aku sedang melakukan penyaringan pesan demi
kebaikan kita. Aku naif. Aku lupa kalau fondasi kita itu transparansi. Aku
minta maaf karena sudah berbohong subuh itu."
Sasa menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan memutar tubuhnya
menghadap Gian. Matanya tidak lagi berkaca-kaca, melainkan menatap Gian dengan
ketegasan seorang perempuan yang tahu betul harga dirinya.
"Kamu tahu apa yang paling bikin aku kecewa, Gian?"
suara Sasa terdengar lirih namun berbobot. "Bukan karena perempuan dari
masa lalumu itu mengirim pesan. Tapi karena kamu seolah-olah menganggap
pernikahan kita ini serapuh itu. Kamu takut aku cemburu? Kamu takut aku marah?
Gian, aku memilih kamu karena aku tahu kamu adalah laki-laki yang sudah selesai
dengan masa lalunya. Tapi tindakanmu subuh kemarin menunjukkan seolah-olah kamu
masih punya beban yang belum tuntas."
"Nggak, Sa. Demi Allah, semua sudah tuntas," potong
Gian cepat, kali ini dengan tatapan mata yang mengunci pandangan Sasa.
"Waktu Andra telepon, rasanya hambar. Sama sekali gak ada sisa rasa.
Penantian bertahun-tahun di Jogja dulu itu murni kebodohan masa muda yang udah
aku kubur. Pesan dia hari ini... itu cuma interupsi sialan yang gak akan
mengubah apa pun."
Sasa terdiam beberapa saat, menatap gawai di atas meja, lalu
beralih menatap suaminya. Dia bisa melihat ketulusan—dan ketakutan yang
nyata—di mata Gian. Ketakutan akan kehilangan frekuensi selaras yang selama ini
mereka bangun.
Sasa menghela napas panjang, ketegangan di bahunya perlahan
melonggar. Dia meraih gawai Gian, lalu dengan gerakan tenang jari jemarinya
mengetik sesuatu di layar.
Gian menahan napas. Apa yang sedang ditulis Sasa?
Sasa membalikkan layar gawai itu ke hadapan Gian. Di kolom
balasan untuk nomor tak dikenal tersebut, Sasa telah mengetik sebuah pesan
pendek yang sangat taktis:
"Halo. Ini Sasa, istri Gian. Terima kasih atas pesannya.
Semoga proses pemulihan hatimu berjalan lancar, dan kamu segera menemukan
kebahagiaanmu sendiri. Salam hangat dari kami berdua di Jogja."
Sasa menatap Gian, menanti persetujuan. "Kirim?" tanya
Sasa dengan satu alis terangkat.
Gian terpaku seketika, sebelum akhirnya sebuah senyum kekaguman
terbit di wajahnya. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi strategis tingkat
tinggi. Tidak memaki, tidak memusuhi, tetapi secara mutlak menegaskan batas
wilayah dan kepemilikan. Pesan itu meruntuhkan sisa-sisa ilusi apa pun yang mungkin
dibawa si pengirim dari masa lalu.
"Kirim, Bu Dosen," jawab Gian sembari tersenyum lega. Klik. Sasa menekan tombol kirim, lalu langsung
memblokir nomor tersebut tanpa ragu.
Sasa menggeser gawai itu menjauh, lalu meraih pisang gorengnya
yang sudah mendingin. "Urusan masa lalu selesai. Sekarang, urusan kita.
Karena kamu udah bohong, hukumanmu adalah traktir aku makan sate klathak di
Jejeran nanti malam. Gak ada penolakan."
Gian tertawa lepas, beban berat yang sempat menghimpit dadanya
sejak subuh runtuh seketika. "Siap. Jangankan sate klathak, sama warungnya
sekalian aku bayarin kalau dompetnya cukup."
Kabut di lereng Merapi perlahan mulai terangkat, membiarkan
sinar matahari sore menerobos celah-celah pepohonan. Hambatan komunikasi itu
berhasil dilewati, bukan dengan drama yang menguras air mata, melainkan dengan
kedewasaan logika dan rasa yang saling menggenapi. Gian meraih tangan Sasa,
menggenggamnya erat di atas meja, bersiap untuk kembali menggeber motornya
pulang ke rumah mereka yang nyata.
Matahari sore mulai condong ke barat saat Gian kembali
menghidupkan mesin motor dual-sport-nya. Raungan knalpotnya memecah udara Pakem
yang mulai temaram. Sasa naik ke jok belakang, melingkarkan kedua tangannya di
pinggang Gian dengan erat, menyandarkan dagunya di bahu lebar sang suami yang
masih dilapisi jaket turing berdebu.
Jalanan menurun dari arah Kaliurang menuju sirkuit Ring Road Utara Jogjakarta terasa jauh lebih bersahabat
ketimbang saat mereka berangkat tadi siang. Hambatan psikologis—atau noise yang sempat mengganggu frekuensi mereka—telah
luruh, digantikan oleh pemahaman baru yang jauh lebih solid.
"Gian," setengah berteriak Sasa memanggil di sela deru
angin helm mereka.
"Ya, Sa?" Gian sedikit menolehkan kepalanya.
"Nanti lewat Jalan Kaliurang bawah aja ya, mau mampir
fotokopi draf modul materi kuliah bentar sebelum ke Jejeran!"
"Siap, Bu Dosen!"
Motor melaju konstan membelah kemacetan sore Jogja. Di bawah
lampu-lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu, Gian merasakan kedamaian
yang mutlak. Inilah esensi dari komunikasi interpersonal yang sesungguhnya:
tidak selalu tentang tanpa masalah, melainkan tentang bagaimana sebuah hambatan
bisa didekode dan diselesaikan tanpa harus merusak sistem pertahanan yang ada.
Sesampainya di daerah Jejeran, Bantul, aroma khas bakaran daging
kambing di atas jeruji besi sepeda langsung menyambut indra penciuman mereka.
Warung sate klathak yang dituju sudah dipadati pengunjung. Beruntung, mereka
masih kebagian satu meja kosong di sudut area lesehan.
Sembari menunggu pesanan sate klathak dan gulai panas datang,
Sasa membuka draf penelitian etnografi Gian tentang humor bapak-bapak di gawainya.
"Gian, aku kepikiran sesuatu buat draf risetmu ini,"
ujar Sasa serius, beralih ke mode akademisnya yang tajam. "Kamu kan
meneliti bagaimana humor bapak-bapak berfungsi sebagai katarsis sosial dan
pembangun solidaritas. Gimana kalau kamu tambahkan bab mengenai penggunaan
satire atau umpatan lokal seperti kata 'jancuk' yang tadi kamu sebut, sebagai
bentuk pelepasan beban emosional?"
Gian menatap istrinya dengan binar mata kagum. "Menarik,
Sa. Memang, dalam teori dramaturgi, umpatan atau humor absurd itu sering jadi
topeng backstage (panggung belakang) saat seseorang gak mampu
menampilkan performa ideal di front stage (panggung depan). Persis kayak aku dulu. Di
depan orang-orang aku kelihatan tangguh turing ribuan kilometer, tapi di
belakang... memaki takdir karena kerdil di hadapan cinta semu."
Sasa tersenyum manis, lalu menepuk punggung tangan Gian.
"Dan sekarang, panggung depan dan panggung belakangmu sudah selaras. Kamu
gak perlu topeng lagi buat kelihatan hebat di depanku."
Pesanan mereka akhirnya tiba. Potongan daging kambing muda yang
empuk dengan bumbu garam yang minimalis namun gurih guratan bumbu khas klathak
langsung memanjakan lidah. Di sela-sela suapan, tawa mereka kembali renyah,
mendiskusikan banyak hal mulai dari perilaku konsumen angkatan mahasiswa baru
hingga rencana akhir pekan berikutnya.
Malam makin larut saat mereka bersiap pulang menuju kediaman
mereka di Sleman. Perjalanan masa lalu Gian memang pernah berliku, penuh dengan
fatamorgana gersang dan penantian jahanam yang melelahkan. Namun, semua babak
pilu itu kini telah resmi beralih fungsi menjadi catatan kaki yang memperkaya
kisah hidupnya.
Bersama Sasa, Gian tidak lagi perlu menunggu kuis dengan jawaban
YA atau TIDAK. Dia telah menemukan konsonansi—sebuah keselarasan frekuensi yang
nyata, digdaya, dan sepenuhnya abadi di bawah langit Jogjakarta. Kertas cerita
"Manusia Kerdil" telah ditutup, dan lembaran baru kehidupan mereka
sedang ditulis dengan tinta kebahagiaan yang sejati.