Menakar Keserakahan Manusia: Analisis Moralitas dalam Novel Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? Karya Leo Tolstoy
Adikarya sastra tidak hanya lahir dari imajinasi yang indah,
melainkan dari ketajaman menangkap realitas sosial dan gejolak psikologis
manusia. Prinsip inilah yang melekat kuat pada diri Lev Nikolayevich Tolstoy,
atau yang lebih masyhur dikenal sebagai Leo Tolstoy. Lahir di Yasnaya Polyana
pada 9 September 1828, sastrawan besar Rusia ini kerap dijuluki sebagai
"Bapak Realisme Psikologis Rusia". Julukan tersebut disematkan berkat
kepiawaiannya dalam memotret kehidupan masyarakat sehari-hari yang sarat akan
kritik moral yang tajam. Meskipun terlahir dari kalangan bangsawan tinggi, anak
keempat dari lima bersaudara ini justru memilih untuk hidup bersahaja layaknya
rakyat jelata. Perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika, mulai dari masa muda
yang sarat utang akibat judi saat menempuh studi hukum dan bahasa oriental di
Universitas Kazan, hingga keputusannya bergabung dengan Tentara Rusia di
Kaukasus pada tahun 1851. Kehidupan pernikahannya yang dimulai pada tahun 1862
bersama Sofia Andreevna Bers—yang berusia enam belas tahun lebih muda—turut
mewarnai produktivitasnya. Didukung penuh oleh sang istri yang bertindak
sebagai sekretaris pribadi, Tolstoy melahirkan deretan karya monumental seperti
Perang dan Damai serta Anna Karenina.
Hingga akhir hayatnya pada 20 November 1910 di Stasiun Astapovo akibat
pneumonia, Tolstoy konsisten menyuarakan pandangan pasifisme dan anarkisme
Kristen. Salah satu manifesto moralnya yang paling jernih tertuang dalam sebuah
novel pendek yang ditulis pada tahun 1886 dengan judul asli Много Ли Человеку Земли Нужно? atau dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan sebagai Berapa Luaskah Tanah yang
Dibutuhkan oleh Seseorang?.
Novel pendek ini menempati posisi yang sangat terhormat dalam
khazanah sastra dunia, bahkan sastrawan besar James Joyce menyebutnya sebagai
cerita pendek terbaik yang pernah ditulis. Di Indonesia, teks ini dapat
dinikmati melalui kumpulan cerita Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia
Menunggu terbitan Jalasutra tahun 2006, yang bersumber dari
kompilasi Everyman’s Library. Narasi utuh novel ini terbagi ke
dalam sembilan bagian yang tersusun secara kronologis menggunakan alur maju
yang solid. Tolstoy sengaja mengemas struktur cerita dari pengenalan hingga
antiklimaks secara linear tanpa kilas balik untuk mempertegas konsekuensi logis
dari setiap tindakan tokohnya. Bagian awal cerita digunakan untuk mengenalkan
tokoh utama dan figuran, diikuti oleh pengenalan awal konflik kepemilikan tanah
antara sang tokoh utama bernama Pahom, seorang tuan tanah wanita bernama
Barina, dan pengawas tanahnya yang kejam. Konflik kemudian bereskalasi ketika
hewan ternak milik tetangganya, Semka, merusak lahan Pahom, namun Pahom justru
kalah di pengadilan akibat kurangnya bukti. Kekecewaan ini mendorong Pahom
untuk terus mencari tanah baru yang lebih luas, mulai dari perpindahannya ke
Samara hingga pertemuannya dengan seorang pedagang yang membocorkan keberadaan
tanah murah di wilayah kaum Bashkir. Bagian akhir novel berfokus pada klimaks
usaha Pahom yang mengerahkan seluruh tenaganya demi meraih tanah
seluas-luasnya, yang justru berujung pada akhir yang tragis dan ironis.
Melalui struktur alur tersebut, Tolstoy secara jeli membangun
kritik moral yang tajam terhadap paham materialistik, sebuah ideologi yang
mengukur kebahagiaan dan martabat manusia melulu berdasarkan kuantitas harta
benda. Judul novel ini sendiri merupakan sebuah formula retoris yang brilian.
Dalam kaidah bahasa Rusia, penekanan kalimat lazimnya berada di awal kata,
sehingga penempatan kata "Berapa" di awal judul berfungsi memaku
perhatian pembaca pada aspek kuantitas yang digugat oleh Tolstoy. Jawaban atas
pertanyaan besar pada judul tersebut secara ironis terjawab di akhir cerita, di
mana tanah yang sejatinya dibutuhkan manusia pada akhirnya hanyalah sebatas
liang lahat untuk membungkus jasadnya sendiri. Menanggapi esensi cerita ini,
Anton Chekhov, rekan sejawat Tolstoy, memberikan catatan filosofis yang
mendalam. Chekhov meluruskan anggapan bahwa manusia hanya membutuhkan tanah
sepanjang enam kaki atau tiga elo. Menurutnya, ukuran sempit itu hanyalah
volume yang dibutuhkan oleh sesosok mayat, bukan manusia yang hidup. Manusia
yang utuh sejatinya membutuhkan seluruh alam semesta agar jiwa merdekanya dapat
mengekspresikan diri tanpa batas, namun ironisnya, nafsu keserakahan sering
kali mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri hingga akhirnya mereka
terjebak dalam tanah kuburannya yang sempit.
Eksplorasi terhadap watak manusia ini termanifestasikan dengan
sangat baik melalui penokohan yang kontras dan dinamis. Cerita diawali oleh
perdebatan antara dua bersaudara perempuan; sang kakak yang merupakan istri
pedagang kota yang sombong memamerkan kemewahan kotanya, sementara sang adik
yang merupakan istri petani desa membalas dengan meninggikan kesederhanaan
hidup di desa. Perdebatan inilah yang memicu ambisi suaminya, Pahom. Sebagai
tokoh utama, Pahom digambarkan sebagai sosok petani yang awalnya bersahaja
namun perlahan menjelma menjadi manusia yang congkak dan dikuasai nafsu setelah
mencicipi kepemilikan tanah. Kesombongannya memuncak saat ia sesumbar tidak
takut pada apa pun, bahkan kepada iblis sekalipun, seandainya ia memiliki tanah
yang luas. Pernyataan angkuh inilah yang memancing kehadiran Iblis, sebuah
entitas metafisika dalam cerita yang digambarkan bertanduk dan bertelapak kaki
kuda. Iblis memanfaatkan keserakahan Pahom sebagai instrumen untuk
menghancurkannya, menjelma dalam mimpi-mimpinya, dan menyamar sebagai sosok-sosok
yang menawarkan kemudahan materi, termasuk sebagai Starshina, sang pemuka kaum
Bashkir. Kaum Bashkir sendiri digambarkan sebagai sekelompok masyarakat nomaden
yang hidup damai dan tidak serakah di padang rumput yang luas. Mereka dipimpin
oleh Starshina yang mengenakan kopiah kulit serigala dan bersedia menerima suap
berupa jubah panjang (khalat), permadani, teh, dan vodka
dari Pahom untuk kemudian memberikan sebuah tantangan yang mustahil ditolak
oleh hati yang serakah.
Melalui latar tempat yang berpindah dari desa asal Pahom, lalu
ke Samara, hingga berakhir di padang rumput Bashkir yang luas, Tolstoy
memperlihatkan bagaimana ruang geografis berkorelasi dengan luasnya ambisi
manusia. Puncak dari segala tragedi kemanusiaan ini terjadi ketika Pahom
menyetujui syarat pembelian tanah unik yang diajukan oleh kaum Bashkir.
Persyaratannya sangat sederhana namun menjebak: Pahom diperbolehkan memiliki
tanah seluas apa pun yang sanggup ia kelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu
satu hari penuh, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari,
dengan syarat ia harus kembali ke titik semula tepat waktu atau uang seribu
rubel miliknya akan hangus. Didorong oleh nafsu yang membabi buta, Pahom
berjalan terlalu jauh dari titik awal. Ketika matahari mulai condong ke barat,
ia menyadari posisinya terlalu jauh untuk kembali. Dalam kepanikan, Pahom
berlari sekencang-kencangnya di bawah terik panas, menanggalkan sepatunya
hingga kakinya terluka dan berdarah, demi mengejar batas waktu yang kian
menipis. Ketakutan akan kehilangan tanah impian membuatnya lupa akan
keterbatasan fisiknya sendiri. Tepat ketika matahari tenggelam dan ia berhasil
menyentuh kembali bukit tempat Starshina berdiri tertawa, tubuh Pahom yang
kehabisan oksigen dan tenaga ambruk seketika. Ia tewas di tempat akibat
kelelahan yang luar biasa. Pelayannya yang setia kemudian mengambil sekop dan
menggali tanah untuk menguburkan jasad Pahom yang terbujur kaku. Pada akhirnya,
seluruh ambisi, keringat, dan darah yang dikorbankan Pahom hanya membuahkan
sebidang tanah sepanjang tiga elo—sebuah ukuran standar liang lahat yang cukup
untuk menampung tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.
Melalui gaya bahasa yang lugas, realistis, dan menggunakan diksi
yang mudah dipahami, Tolstoy berhasil menyampaikan amanat moral yang mendalam
tanpa terjebak dalam ambiguitas bahasa. Kisah tragis Pahom menjadi refleksi
universal bahwa pada fitrahnya manusia kerap digoda oleh ketidakpuasan yang
nisbi. Tolstoy mengajak pembacanya merenung bahwa harta benda bersifat
sementara dan sama sekali tidak akan dibawa mati ke dalam liang lahat.
Kesilauan akan dunia sering kali membuat manusia melupakan hakikat
eksistensinya, berlari mengejar sesuatu yang semu hingga melampaui batas
kemampuan tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, novel ini menegaskan sebuah
kebenaran yang mutlak: tidak peduli seberapa luas tanah yang berhasil dikuasai
manusia semasa hidupnya, seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, dan
seberapa tinggi kesombongan yang dipelihara di hadapan sesama, ruang akhir yang
akan dimiliki oleh setiap orang hanyalah sebuah kotak tanah sempit yang sama
rata bagi semua jasad.
Secara tekstual dan kontekstual, dimensi kritis novel pendek ini
didukung oleh fakta sejarah serta struktur sosiologis Rusia pada abad ke-19.
Leo Tolstoy menulis kisah ini tepat beberapa dekade setelah reformasi
emansipasi pada tahun 1861, sebuah momentum sejarah ketika Tsar Alexander II
menghapuskan sistem perbudakan petani (serfdom)
di Kekaisaran Rusia. Kebijakan ini secara legal memberikan hak kepada jutaan
petani untuk memiliki tanah sendiri, namun dalam realitasnya justru menjebak
mereka dalam sistem utang penebusan (redemption
payments) yang sangat berat kepada para bangsawan. Satuan pengukuran
luas yang digunakan Tolstoy dalam narasinya, seperti dessiatin
(setara dengan sekitar 1,09 hektare atau 2,7 hektar per unit), mencerminkan
dengan akurat bagaimana kalkulasi agraria saat itu menjadi obsesi baru bagi
kelas petani seperti Pahom yang ingin menaikkan status sosial mereka.
Ironisnya, angka nominal seribu rubel yang diserahkan Pahom kepada kaum Bashkir
untuk membeli tanah "sejauh mata memandang" justru setara dengan
modal besar yang diimpikan oleh rata-rata petani Rusia untuk bisa keluar dari
jerat kemiskinan sistemik di pedesaan pada akhir era 1880-an.
Dari sudut pandang resepsi sastra global, daya hidup novel ini
terbukti melintasi sekat budaya melalui berbagai adaptasi dan apresiasi dari
para pemikir dunia. Lebih dari sekadar komentar James Joyce, filsuf Ludwig
Wittgenstein juga tercatat sebagai salah satu pengagum berat karya ini, di mana
ia merekomendasikannya kepada murid-muridnya sebagai bentuk terapi filosofis
untuk mengatasi keserakahan intelektual manusia. Pengaruh kultural novel ini
juga terekam kuat di Asia; pada tahun 1953, sutradara legendaris Jepang, Akira
Kurosawa, menggunakan basis moralitas dan kritik agraria Tolstoy dalam
karya-karyanya, sementara penulis India, Premchand, menerjemahkan kisah ini ke
dalam bahasa Urdu dengan judul Zamin untuk mengkritik sistem tuan tanah (zamindari)
yang menindas petani di Asia Selatan. Data bibliografi menunjukkan bahwa teks
asli berbahasa Rusia ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di
dunia sejak pertama kali diterbitkan oleh penerbit Posrednik
di St. Petersburg. Melalui penyebaran global tersebut, fakta kematian Pahom
yang secara matematis hanya menyisakan tanah sepanjang tiga elo
(satuan kuno Rusia arshin, di mana satu arshin
setara dengan 71 sentimeter, sehingga total tiga elo
adalah sekitar 2,1 meter) tetap menjadi standar ukuran universal yang diakui
dunia untuk menggambarkan batas akhir dari komodifikasi alam oleh keserakahan
manusia.
Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam
fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi
antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di
kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami
wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan
eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah
Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang
dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang
melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap
geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang
eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di
wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus
berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi
mengejar ilusi kepemilikan.
Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian
bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab
berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang
berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari
memiliki 20 dessiatin
di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin
di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara
matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan.
Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme
agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan
darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang
petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana
modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang,
meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah
bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa
batas.
Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam
fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi
antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di
kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami
wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan
eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah
Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang
dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang
melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap
geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang
eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di
wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan
tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar
ilusi kepemilikan.
Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian
bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab
berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang
berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari
memiliki 20 dessiatin
di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin
di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara
matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan.
Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme
agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia
memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan
kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai
bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan
seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika
dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital
yang tanpa batas.
Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam
fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi
antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di
kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami
wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan
eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah
Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang
dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan
kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis
padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen
psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum
Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa
kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi
kepemilikan.
Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian
bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab
berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang
berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari
memiliki 20 dessiatin
di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin
di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara
matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan.
Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme
agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia
memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan
kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai
bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan
seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika
dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital
yang tanpa batas.
Pada akhirnya, eksperimen sastra dan moral yang dilakukan Leo Tolstoy dalam novel ini berhasil menelanjangi paradoks terbesar dalam eksistensi manusia. Melalui perpaduan yang solid antara potret sosiologis Rusia abad ke-19, kritik tajam terhadap materialisme global, dan kedalaman teologis pasca-krisis spiritualnya, Tolstoy tidak sekadar menyajikan sebuah cerita tragis tentang seorang petani yang serakah. Ia sedang menyodorkan sebuah cermin besar bagi setiap generasi untuk merefleksikan batas antara kecukupan dan keserakahan. Kisah Pahom yang berakhir tragis di bawah bayang-bayang tawa Iblis menegaskan bahwa ambisi yang tidak terkendali pada akhirnya akan mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri. Ketika seluruh pencarian keduniawian yang melelahkan itu mengerucut pada sebidang tanah sempit sepanjang tiga elo, novel ini menutup narasinya dengan sebuah kesimpulan tegas yang abadi: kebutuhan sejati manusia di dunia ini sangatlah bersahaja, dan esensi sejati dari kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak yang mampu kita kuasai dari bumi, melainkan tentang bagaimana kita menjaga martabat jiwa sebelum akhirnya kembali bersatu dengan tanah.