Wednesday, July 8, 2026

Rahmayanti: Langit dari Gugusan Awan

 Rahmayanti: Langit dari Gugusan Awan

(Sebuah Memoar Novelit Masa SMA)
oleh RM Kencrot

Matahari sore di gerbang SMA Negeri 4 Bekasi perlahan meredup, menyisakan bayangan panjang di atas aspal yang mulai mendingin. Miko, dengan jaket jeans yang sengaja ia biarkan terbuka lebar—menampilkan kaus oblong bertuliskan band rock favoritnya—kini hanya bisa menatap nanar ke arah tustel Kodak Pocket di tangannya. Benda tua itu seperti sengaja mengerjai semangatnya; tuas penggulung filmnya macet total, persis saat Dwi melintas di hadapannya tadi dengan gaya anggun yang khas.

"Sialan memang benda antik ini," gumam Miko kesal, mencoba menepuk-nepuk badan kamera itu dengan telapak tangannya.

Rama Hardjanto, pemilik tustel itu yang baru saja menyusul, hanya bisa meringis melihat ulah temannya. "Sudah kubilang, Mik, itu barang sensitif. Jangan cuma bisa narik tuas doang, harus pakai perasaan."

Miko tidak menggubris. Pikirannya sudah melayang jauh. Ia kembali terbayang bagaimana Dwi berjalan keluar kelas tadi. Baginya, setiap gerak-gerik Dwi adalah puisi. Ia teringat kembali analogi yang sering ia jadikan bahan obrolan dengan teman-teman tongkrongannya: tentang betis Dwi yang baginya memiliki estetika tersendiri—subur, berisi, menyerupai talas Bogor yang tampak kokoh namun manis.

"Kau tahu, Ram," Miko tiba-tiba angkat bicara dengan nada sok filosofis, meski napasnya masih terengah karena mengejar Dwi tadi. "Dulu Julius Caesar itu jatuh hati pada Cleopatra bukan karena dia ingin berpolitik. Konon, ada tarikan magis dari proporsi kaki dan betis sang ratu yang membuat sang kaisar bertekuk lutut. Itu adalah seni apresiasi, bukan sekadar syahwat."

Rama hanya bisa memutar bola mata, sudah terlalu sering mendengar teori aneh Miko. "Itu mah otakmu saja yang geser, Mik. Caesar itu pusing mikirin Mesir, lah kamu pusing mikirin anak orang yang mungkin bahkan tidak tahu kamu ada di dunia ini."

Miko tersenyum kecut. Ia tahu betul reputasinya sebagai anggota Rohis yang "gaul" sering kali membuat orang bingung. Baginya, agama adalah landasan, namun kekaguman pada keindahan—seperti wajah Dwi yang lembut atau cara gadis itu merapikan kerudungnya—adalah bentuk syukur atas ciptaan Tuhan yang paling estetis.

Tiba-tiba, dari arah parkiran sekolah, Dwi muncul kembali. Ia berjalan santai sambil menggendong tas sekolahnya, menyapa beberapa teman sejawatnya. Miko yang tadinya ingin membuang tustel macet itu ke tempat sampah, mendadak kaku. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti drum bass dalam lagu metal yang sering ia dengarkan.

"Ini kesempatan kedua," bisik Miko pada dirinya sendiri. Kali ini ia tidak butuh kamera. Ia hanya perlu keberanian untuk menyapa, meski ia tahu, mendekati Dwi yang merupakan kembang sekolah bukanlah perkara mudah seperti memutar tuas kamera Kodak yang macet itu.

Ia melangkah maju, membenahi posisi tasnya, dan dengan sisa kepercayaan diri yang ia miliki, ia mulai menyusun kalimat pembuka. Namun, sebuah mobil jemputan berhenti tepat di depan Dwi, memutus jarak yang sedari tadi Miko jaga dengan susah payah.

 Miko terdiam mematung di dekat area parkir motor, menyaksikan pintu mobil Avanza berwarna silver itu tertutup rapat. Dwi masuk ke dalamnya, meninggalkan aroma wangi sabun mandi yang samar tersapu angin sore di Jalan Kemang Pratama. Harapannya untuk sekadar menyapa pupus sudah. Ia hanya bisa menatap mobil itu perlahan menjauh, membelah keramaian lalu lintas yang mulai padat di kawasan tersebut menuju arah gerbang perumahan.

"Sudahlah, Mik. Besok masih ada waktu. Mending kita cari gorengan dulu di depan BCP, perutku sudah konser dari tadi," ajak Rama sambil menepuk bahu Miko, mencoba mengalihkan perhatian sahabatnya dari kekecewaan yang kentara.

Miko menghela napas panjang, memasukkan tustel Kodak yang tak berguna itu ke dalam tas selempangnya. Mereka kemudian menaiki motor Yamaha RX-King milik Miko, suaranya menderu memecah kesunyian sore di sekitar SMAN 4 Bekasi. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Bekasi, pikiran Miko masih saja tertuju pada sosok Dwi. Ia membayangkan seandainya ia bisa mengajak gadis itu mampir sejenak sekadar menikmati suasana sore di Alun-alun Kota Bekasi, atau mungkin duduk santai di salah satu kedai kopi di bilangan Summarecon yang sedang hits di kalangan anak muda.

Namun, realitas sering kali tak seindah rencana. Di atas jok motor yang bergetar hebat, Miko hanya bisa merenung. Menjadi remaja yang terjebak di antara idealisme Rohis dan hasrat masa muda yang meledak-ledak memang bukan perkara mudah. Ia sadar, untuk menaklukkan hati Dwi, ia tidak bisa hanya mengandalkan teori sejarah tentang Cleopatra atau sekadar keberuntungan kamera tua. Perlu strategi yang lebih matang, mungkin dimulai dari memperbaiki penampilan saat pengajian mingguan nanti, agar Dwi—yang sering ia lihat ikut kegiatan serupa—bisa melihat sisi lain dari dirinya yang tak hanya sekadar lelaki gaul penggemar musik cadas.

Miko sebenarnya sudah lama menyimpan informasi itu di balik memori otaknya. Ia tahu betul, setiap Selasa dan Kamis sore, Dwi tidak langsung pulang, melainkan berganti seragam putih-putih dengan sabuk yang melilit pinggangnya di aula serbaguna sekolah. Itulah mengapa Miko begitu terobsesi dengan postur kaki Dwi; ia sering mencuri pandang saat gadis itu melakukan gerakan ap chagi atau tendangan depan yang terlihat begitu kokoh sekaligus luwes.

"Pantas saja, Ram," gumam Miko tiba-tiba saat mereka sedang melintas di depan gerbang Summarecon Mal Bekasi. "Dwi itu anak Taekwondo. Logika betis talas Bogor-ku benar-benar terbukti secara anatomis. Itu bukan sekadar kaki, itu hasil tempaan latihan fisik ribuan kali. Makanya ototnya terbentuk dengan proporsi yang sempurna, seperti definisi atletis yang sesungguhnya."

Rama hanya bisa menggelengkan kepala sembari membonceng di belakang. "Sudah, Mik, stop bahas betis. Kamu itu anggota Rohis, bukannya malah jadi atlet pengintai. Kalau anak-anak Rohis tahu kamu mengamati detail kaki siswi lain sampai sedetail itu, bisa-bisa kamu disuruh mimpin kultum tujuh hari tujuh malam sebagai hukuman."

Miko tergelak, tawanya tertutup deru knalpot motornya. Baginya, ketertarikan ini justru membuatnya lebih semangat untuk mendalami Taekwondo—atau setidaknya, lebih sering lewat di depan aula saat latihan berlangsung. Ia mulai membayangkan sebuah skenario klasik: suatu hari Dwi akan mengalami cidera ringan setelah latihan, dan Miko—sebagai sosok yang sigap dan religius—akan datang menawarkan bantuan dengan kotak P3K yang selalu ia siapkan di dalam tasnya.

Tentu saja, itu hanyalah fantasi remaja yang sedang dimabuk asmara. Namun, di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Bekasi malam itu, Miko merasa punya tujuan baru. Ia tidak akan lagi mengandalkan tustel Kodak yang macet. Mulai besok, ia akan lebih memperhatikan jadwal latihan Taekwondo Dwi, mungkin dengan alasan ingin mendaftar sebagai anggota baru—atau setidaknya, menjadi penonton yang paling setia di pinggir lapangan, sambil membawa botol air mineral dingin yang ia beli di minimarket dekat sekolah.

Kabar tentang tragedi tustel Kodak milik Rama yang macet saat ingin membidik Dwi akhirnya menjadi bumbu obrolan di studio musik sewaan di daerah Rawalumbu. Di sana, Miko berkumpul dengan sahabat-sahabat karibnya: Albert yang memegang posisi gitar, Andi pada bas, dan Dika yang akrab dipanggil Kodik, sang penabuh drum.

"Gila, itu kamera beneran shutter-nya nggak mau ngebuka sama sekali, Mik?" tanya Kodik sambil memutar stik drumnya dengan gaya yang berlebihan.

"Sumpah, Dik. Momennya pas banget, golden hour di depan gerbang, Dwi baru keluar, dan tiba-tiba tuasnya lock," jawab Miko sambil mendesah panjang, menyandarkan gitar listriknya ke amp.

Albert, yang sedari tadi sibuk menyetem gitar, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Ya sudah, anggap saja itu takdir. Kita nggak jadi dapat foto Dwi, tapi kita dapat nama band yang ngena banget sama nasib kita."

"Betul!" timpal Andi yang duduk di lantai sambil melilit kabel jack. "Nama band kita: Snapshot. Filosofinya dalam banget: menangkap momen yang gagal ditangkap. Sesuai dengan tustel Rama yang macet itu, momennya keburu lewat sebelum kita bisa mengabadikannya."

Miko yang tadinya masih merasa kesal, perlahan tersenyum tipis. Nama "Snapshot" terasa pas di telinganya. Bagi mereka yang mengusung genre progressive rock dengan sentuhan distorsi cadas, nama itu terdengar cukup filosofis.

"Tapi ingat, ya," Miko menatap teman-temannya serius meski nadanya bercanda. "Nama Snapshot ini lahir dari pengorbanan harga diri gue yang gagal memotret pujaan hati. Jadi, kalau nanti kita benar-benar manggung di pensi SMA 4, gue mau kita bawain lagu yang mood-nya mewakili perjuangan seorang pria yang gagal nge-shoot targetnya."

"Siap, Bos! Asal jangan lagu ballad cinta-cintaan yang cengeng," sahut Kodik sambil memukul simbalnya sekali—cring!—sebagai tanda setuju.

Di dalam studio yang pengap dan berbau keringat itu, Miko merasakan semangatnya kembali membara. Meski tustel Kodak Rama gagal menjalankan tugasnya, setidaknya ia memiliki Snapshot. Dan siapa tahu, lewat dentuman musik mereka nanti, Dwi—yang juga atlet Taekwondo dengan betis atletis impiannya itu—akan melirik ke panggung dan menyadari bahwa di balik jaket jeans dan status anggota Rohis yang "gaul", ada seorang Miko yang punya dedikasi sebesar teknik tendangan dwi chagi-nya.

Rasa gandrung yang menyesakkan dada itu akhirnya bermuara pada satu komposisi megah di studio Rawalumbu. Miko, dengan jemari yang lincah menari di atas fretboard gitar listriknya, berusaha menerjemahkan perasaan yang tak tersampaikan itu ke dalam melodi. Ia terobsesi dengan teknik shredding John Petrucci yang rumit namun melankolis, sebuah gaya yang sangat kental dengan pengaruh Dream Theater.

"Dengerin ini, riff pembukanya gue bikin agak ganjil, 7/8 time signature, biar kerasa kayak langkah kaki yang ragu-ragu mau nyapa," ujar Miko pada teman-teman bandnya.

Albert, Andi, dan Kodik terdiam menyimak. Komposisi itu diberi judul "I am Cloud, You are Sky". Sebuah metafora tentang jarak yang mustahil ditembus; awan yang hanya bisa melayang rendah di bawah luasnya langit yang tak terjangkau. Bagi Miko, Dwi adalah langit—luas, tinggi, dan memiliki keanggunan yang kokoh seperti sikap atlet Taekwondo-nya—sementara dirinya hanyalah awan yang sering kali tidak menentu bentuknya.

"Gila, Mik. Bridge-nya kerasa banget pengaruh Images and Words-nya. Ambient tapi tetep beringas di bagian chorus," puji Andi setelah mereka selesai memainkan take pertama.

Miko tidak membalas pujian itu dengan kata-kata. Ia justru memejamkan mata, membayangkan melodi gitar itu mengalun di udara, mencapai telinga Dwi saat gadis itu sedang melepas penat sepulang latihan fisik. Ia tidak peduli jika anak-anak lain menganggap seleranya aneh atau terlalu rumit untuk ukuran anak SMA di Bekasi tahun itu.

"Kodik, pas bagian interlude, gue mau drum lo mainin polyrhythm. Gue pengen suasananya kayak detak jantung yang makin kenceng pas gue ngeliat dia di kantin sekolah," instruksi Miko dengan mata berbinar.

Di sudut studio yang dindingnya dilapisi peredam suara dari bekas karton telur itu, "I am Cloud, You are Sky" menjadi manifestasi Miko yang paling jujur. Ia tidak butuh kamera Kodak yang macet untuk mengabadikan Dwi. Melalui komposisi berdurasi delapan menit yang sarat dengan keyboard atmosferik dan distorsi gitar yang membelah ruang, ia sudah mengukir citra sang pujaan hati ke dalam sejarah Snapshot.

"Besok di sekolah," ucap Miko sambil meletakkan gitarnya di stand, "gue bakal muterin lagu ini pakai walkman gue pas lagi istirahat di dekat ruang latihan Taekwondo. Gue harap, lewat dentuman instrumen ini, Dwi bisa ngerasa kalau ada 'awan' yang lagi berusaha jadi bagian dari 'langit'-nya."

Kodik tertawa sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk kumal. "Lo itu bukan cuma anggota Rohis, Mik. Lo itu pujangga kesepian yang lagi nyasar di jalur progresif rock."

Miko hanya tersenyum tipis. Di pikirannya, lagu itu adalah surat cinta terpanjang dan terumit yang pernah ia tulis, sebuah tribut untuk gadis dengan betis talas Bogor yang kini telah menjadi muse utama bagi band Snapshot.

Suasana studio di Rawalumbu mendadak berubah drastis dari yang tadinya penuh nuansa teknikal progresif rock ala Dream Theater, kini menjadi arena latihan yang cukup mengocok perut. Target mereka sudah bulat: panggung Pentas Seni (Pensi) SMAN 4 Bekasi tahun 2005. Miko sadar, membawakan "I am Cloud, You are Sky" di depan massa yang lebih suka musik populer mungkin terlalu berisiko, jadi mereka sepakat menyisipkan lagu The Beatles, "I Want to Hold Your Hand", sebagai senjata pembuka.

"Oeban, lo masuk di chorus kedua ya, suaranya harus melengking kayak John Lennon pas lagi semangat-semangatnya," seru Miko kepada Maradhika, vokalis cabutan yang baru saja bergabung. Oeban, dengan rambut gondrong yang dibelah tengah, mengangguk antusias sambil memegang mikrofon yang kabelnya sering tersangkut di kaki kursi.

Latihan berjalan intensif. Mereka bukan hanya melatih chord gitar dan ketukan drum, tetapi juga koreografi. Miko sangat perfeksionis soal satu hal: salam penutup ala Fab Four.

"Ingat, pas ketukan terakhir cymbals Kodik, kita semua harus nunduk barengan. Symmetrical bow! Harus kompak, jangan ada yang duluan atau telat," perintah Miko.

Mereka pun berlatih berkali-kali. Kodik memukul snare dengan semangat, Albert memetik gitar dengan gaya ala George Harrison, dan Oeban mencoba meniru cengkok vokal khas era 60-an. Setelah beberapa kali percobaan yang berantakan—di mana Miko malah menabrak bahu Andi karena terlalu semangat menunduk—akhirnya mereka berhasil menciptakan ritme yang pas.

"Nah, gitu dong!" seru Oeban sambil menyeka keringat di dahinya. "Kalau kayak gini caranya, gue yakin Dwi bakal merhatiin panggung. Lagian, lagu ini 'kan to the point banget. I want to hold your hand, Mik. Cocok banget buat lo yang dari kemarin cuma bisa merhatiin betisnya dari kejauhan."

Miko tersenyum lebar. Ia merasa persiapan ini jauh lebih menjanjikan daripada insiden tustel yang macet. Di sudut pikirannya, ia sudah membayangkan hari audisi nanti: ia berdiri di tengah lapangan, mengenakan kemeja rapi yang dipadukan dengan jaket denim, lalu di akhir lagu, ia akan memberikan tatapan sedikit melirik ke arah sudut lapangan tempat Dwi biasa nongkrong, sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam bersama teman-temannya di Snapshot.

"Oke, sekali lagi. Dari bridge," ujar Miko sambil memasang strap gitarnya kembali.

Studio itu kembali bergemuruh dengan suara jangle-pop yang ceria. Di tahun 2005 itu, Snapshot bukan sekadar band remaja tanggung; mereka adalah sekumpulan anak muda yang sedang mencoba memadukan idealisme musik cadas dengan romantika masa SMA yang lugu, berharap dentuman musik mereka bisa meruntuhkan tembok dingin di antara Miko dan sang atlet Taekwondo pujaan hatinya. Miko menghentikan petikan gitarnya secara tiba-tiba, menciptakan bunyi dissonant yang memekakkan telinga di studio. Ia menatap teman-temannya satu per satu dengan wajah yang mendadak serius, nyaris pucat.

"Eh, tunggu dulu," gumam Miko sambil meletakkan gitarnya di atas stand dengan gerakan ragu. "Kita ini mau audisi Pensi, bukan mau latihan di garasi rumah Kodik. Ingat, juri audisinya nanti bukan cuma guru kesenian, tapi ada perwakilan OSIS dan beberapa senior yang perfeksionis."

Oeban, yang baru saja selesai membenahi setting-an mikrofonnya, mengerutkan kening. "Kenapa, Mik? Tiba-tiba jadi down gini?"

"Bukan down, tapi sadar diri," sahut Miko sambil menyambar botol air mineral. "Lo tahu sendiri siapa yang biasanya mondar-mandir di koridor SMA kita belakangan ini? Bang Ali Zaenal. Itu tuh, model majalah Aneka yang lagi naik daun. Dia kan sering main ke sekolah kita karena ada urusan proyek iklan atau apa lah. Kalau kita tampil asal-asalan, terus dia lagi duduk di bangku juri sambil pegang majalahnya sendiri, bisa-bisa kita jadi bahan ketawaan satu sekolah."

Nama Ali Zaenal di tahun 2005 adalah kutukan sekaligus berkah bagi remaja laki-laki di Bekasi. Ia adalah standar ketampanan mutlak, wajah yang menghiasi sampul majalah remaja di hampir setiap kios koran, dan memiliki gaya yang sangat cool. Bagi Miko, yang merasa dirinya cuma anak Rohis "gaul" dengan selera musik prog-rock yang rumit, eksistensi Ali Zaenal adalah ancaman nyata bagi harga dirinya di depan Dwi.

"Gila lo, Mik," potong Andi sambil tertawa kecil. "Lo mau battle musik sama Ali Zaenal? Dia itu model, bukan gitaris. Lagian, dia di sini cuma tamu. Nggak mungkin dia ikut nilai audisi kita."

"Justru itu masalahnya!" balas Miko dengan nada frustrasi. "Justru karena dia tamu kehormatan, dia bakal jadi pusat perhatian semua siswi. Bayangin kalau pas kita lagi bow ala The Beatles, eh di barisan depan malah ada sosok Ali Zaenal yang lagi senyum tipis—bisa-bisa perhatian Dwi langsung teralih. Gue nggak mau Snapshot cuma jadi latar belakang pas Dwi lagi ngeliatin pesona Bang Ali."

Kodik, yang biasanya santai, kali ini ikut mengangguk setuju. "Ada benernya juga. Kita harus tampil all-out. Oeban, lo harus lebih ekspresif pas nyanyi. Jangan cuma berdiri kayak tiang listrik. Kasih feel Beatles yang charming itu."

Oeban mendengus, lalu mulai berpose ala boyband tahun 60-an. "Gini maksud lo? Yeah, yeah, yeah!"

Miko menatap teman-temannya, lalu menghela napas panjang. Ia mengambil gitarnya lagi, memastikan tuner-nya akurat. Persaingan di SMA Negeri 4 Bekasi tahun 2005 ini ternyata lebih berat dari yang ia bayangkan. Bukan hanya soal menaklukkan hati gadis atletis dengan teknik Taekwondo-nya, tapi juga bertahan dari bayang-bayang pesona pria-pria sampul majalah.

"Oke, sekali lagi dari awal," perintah Miko dengan tatapan tajam. "Kali ini bayangin juri itu bukan guru, tapi Bang Ali Zaenal sendiri. Kalau kita bisa memukau dia, otomatis kita bisa memukau seluruh SMAN 4 Bekasi. Snapshot, one, two, three, four!"

Studio kembali bergetar, namun kali ini dengan intensitas yang lebih tinggi. Miko menekan chord lagu The Beatles itu dengan tenaga ekstra, berharap irama I Want to Hold Your Hand bisa menjadi mantra yang cukup kuat untuk mengalahkan pesona model majalah Aneka dan menarik perhatian Dwi di antara kerumunan penonton nanti.

Hari audisi itu akhirnya tiba. Halaman SMA Negeri 4 Bekasi sudah disulap menjadi area yang riuh rendah. Panggung kayu yang berdiri di lapangan basket tampak kokoh, meski catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Di meja juri, duduk beberapa guru senior dan—betul saja—Ali Zaenal duduk dengan santai mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung, membuat siswi-siswi yang berlalu lalang sesekali berhenti hanya untuk mencuri pandang.

Miko, di balik panggung, sibuk mengusap keringat dingin di telapak tangannya. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak yang dipadukan dengan rompi—sedikit memaksa agar terlihat retro ala The Beatles.

"Mik, tenang, tarik napas," bisik Kodik sambil menyesuaikan posisi drumnya.

"Gue nggak tenang, Kod. Lo lihat itu? Bang Ali lagi baca skrip di meja juri, auranya kebawa banget. Gue ngerasa kita kayak remah-remah rengginang dibanding dia," bisik Miko gusar.

Oeban maju ke depan, membetulkan letak rambutnya yang ia sisir belah tengah dengan minyak rambut yang agak berlebihan. "Dwi ada di pojok kiri, lagi ngobrol sama temen Taekwondo-nya. Dia nggak liat ke arah meja juri, Mik. Dia ngelihat ke arah panggung."

Mendengar itu, jantung Miko berdegup dua kali lebih kencang. Ia segera memasang gitar Gibson-nya, memberikan kode kepada Albert, Andi, dan Oeban. Saat mereka naik ke atas panggung, suasana mendadak senyap. Miko menatap ke arah kerumunan, dan matanya terkunci pada Dwi yang berdiri dengan kaki yang kokoh—posisi berdirinya masih menyisakan kebiasaan atlet Taekwondo yang disiplin.

"Satu, dua, tiga, empat!" teriak Miko.

Jreng!

Petikan gitar I Want to Hold Your Hand mengalun ceria. Oeban melompat kecil ke mikrofon, suaranya melengking pas di nada tinggi. Miko memainkan bagian rhythm-nya dengan penuh penghayatan, menatap ke arah Dwi setiap kali ia mendapat bagian vokal latar. Ali Zaenal, yang awalnya tampak bosan, mulai mengetukkan jarinya ke meja, terkesan dengan ketepatan tempo Snapshot.

Tiba di bagian akhir lagu, saat tempo dipercepat menuju crescendo penutup, Miko memberikan kode dengan kedipan mata yang tajam. “I want to hold your haaaaaandddd”

Duar!

Kodik memukul crash cymbal dengan keras sebagai tanda lagu usai. Tanpa aba-aba, Miko, Oeban, Albert, Andi, dan Kodik serempak membungkuk dalam-dalam, membentuk sudut sempurna 90 derajat ke arah penonton. Itu adalah momen yang dramatis; rambut mereka jatuh menutupi wajah, dan studio kecil di Rawalumbu tadi seolah pindah ke tengah lapangan SMAN 4 Bekasi.

Setelah bangkit dari bungkukan, Miko langsung mencari sosok Dwi. Ia melihat gadis itu sedikit tertegun, lalu bibirnya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jauh lebih berharga daripada semua majalah Aneka yang ada di seluruh Indonesia. Ali Zaenal pun bertepuk tangan, meski tipis, itu sudah cukup bagi Miko untuk merasa bahwa hari ini, Snapshot benar-benar telah memotret momen yang tepat.

Rencana besar tinggal rencana, manusia hanya bisa menakar, tetapi Tuhan yang memegang kendali atas jalan cerita. Seminggu setelah euforia audisi pensi yang sukses besar itu, Miko justru tumbang. Tubuhnya yang digempur habis-habisan oleh jadwal latihan band Snapshot yang spartan, rapat-rapat Rohis yang padat, plus hobi begadang memikirkan strategi mendekati Dwi, akhirnya menyerah. Vonis dokter di RSUD Bekasi sangat jelas: Miko terkena tifus dan harus menjalani rawat inap total.

Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, dengan selang infus yang menusuk pergelangan tangannya, Miko hanya bisa menatap langit-langit kamar bangsal. Kamar itu berbau karbol yang menyengat. Miko sempat merenung dan berdoa dalam hati, meminta agar diberikan satu saja kesempatan untuk bisa mengobrol santai dengan Dwi, tanpa gangguan kamera macet atau bayang-bayang pesona Bang Ali Zaenal. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau Tuhan akan mengabulkan doanya lewat jalur sekujur tubuh lemas dan separuh kesadaran yang melayang.

Gong dari segala kejutan itu terjadi pada Sabtu sore. Pintu kamar bangsal RSUD Bekasi perlahan terketuk.

Miko yang sedang setengah tertidur perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Pandangannya yang semula kabur mendadak langsung jernih seketika saat melihat rombongan yang masuk. Di barisan depan ada Albert, Andi, Kodik dengan tampang cengengesan mereka, dan Oeban yang membawa satu sisir pisang ambon. Namun, tepat di belakang mereka, berdiri seorang gadis dengan jaket olahraga Taekwondo-nya yang khas, memegang bungkusan buah. Itu Dwi.

Jantung Miko yang tadinya berdegup lemah karena efek obat, mendadak berpacu seperti ketukan drum 7/8 time signature lagu instrumentalnya. Ia mendadak panik dengan penampilannya yang kucel dan hanya mengenakan kaus oblong putih tipis.

Namun, alih-alih langsung menghampiri ranjang Miko, rombongan itu tertahan di dekat sofa kecil di sudut kamar. Di sana, Mama Miko yang sedang merapikan tas pakaian langsung berdiri menyambut mereka dengan ramah.

"Eh, teman-temannya Miko ya? Silakan masuk, masuk," ujar Mama Miko hangat.

Kodik dan yang lain segera menyalami Mama Miko dengan sopan. Saat giliran Dwi maju untuk mencium tangan, Mama Miko tampak terpaku sejenak, memperhatikan paras cantik dan pembawaan santun gadis itu.

"Ini... temannya Miko juga?" tanya Mama Miko, matanya berbinar penuh selidik ke arah Dwi.

Dwi tersenyum manis, senyuman yang biasanya Miko intip dari jauh di lapangan sekolah. "Iya, Tante. Saya Dwi, temannya Miko di sekolah."

"Oh, Dwi..." Mama Miko manggut-manggut dengan senyum yang semakin lebar. "Miko sering cerita soal anak Taekwondo yang pintar... eh," Mama Miko langsung memotong kalimatnya sendiri sambil melirik ke arah Miko yang di atas kasur sudah menepuk dahinya sendiri dengan tangan yang bebas infus, pasrah karena rahasianya agak bocor.

"Miko itu kalau di rumah aslinya jarang sakit, Tante. Cuma kemarin pas latihan band Snapshot buat pensi emang dia yang paling ngoyo sendiri," timpal Albert, mencoba menyelamatkan situasi sambil menyenggol lengan Kodik.

Dwi mendengarkan dengan saksama, lalu menatap Mama Miko dengan pandangan tulus. "Iya Tante, kemarin pas audisi pensi, penampilan Miko sama Snapshot bagus banget kok. Sayang banget kalau Miko sampai nggak bisa ikut tampil di acara utamanya nanti. Makanya kami semua ke sini mau doain supaya Miko cepat sembuh."

Mendengar ucapan Dwi yang begitu perhatian dan obrolan hangatnya dengan sang Mama, Miko yang terbaring kaku di kasur merasa hatinya mendadak hangat, mengalahkan rasa ngilu akibat jarum infus. Tuhan ternyata punya selera humor yang luar biasa; Miko harus dibuat tidak berdaya terlebih dahulu di RSUD Bekasi, hanya agar ia bisa melihat pemandangan paling indah dalam hidupnya: gadis pujaan hatinya sedang mengobrol akrab dengan ibunya sendiri, tepat di depan matanya.

Setelah teman-temannya yang lain sibuk menaruh buah-buahan di meja nakas dan bercanda dengan suara agak berisik, Dwi perlahan melangkah mendekati ranjang Miko. Mama Miko, yang seolah mengerti situasi, memberikan isyarat dengan senyum penuh arti sebelum mengajak Albert dan Kodik keluar sebentar ke kantin untuk mencari minum.

Kini, hanya tersisa mereka berdua. Miko merasa lidahnya kelu, seperti gitar yang senarnya putus saat hendak mencapai crescendo.

"Ternyata kalau lagi sakit, galaknya hilang ya, Mik?" Dwi membuka percakapan dengan kekehan kecil. Ia menarik kursi kayu di samping ranjang, lalu duduk dengan posisi punggung yang tegak—refleks seorang atlet yang selalu menjaga postur.

Miko tersenyum kecut, mencoba membenahi posisi bantalnya agar tidak terlihat terlalu menyedihkan. "Gue nggak galak, cuma... perfeksionis. Lo tahu sendirilah, Snapshot nggak bakal bisa tampil oke kalau latihannya nggak disiplin."

"Iya, gue perhatiin kok," sahut Dwi. Ia kemudian menunduk sebentar, memainkan ujung jaket Taekwondo-nya. "Pas kalian latihan I Want to Hold Your Hand, gue sering lewat depan studio. Suara gitar lo... beda. Kerasa banget ambisinya."

Miko terkesiap. "Lo denger?"

Dwi mengangguk mantap. "Termasuk lagu instrumental yang judulnya aneh itu. I am Cloud, You are Sky, kan?"

Wajah Miko memerah, bukan karena demam tifusnya, melainkan karena malu yang luar biasa. "Lo denger itu? Duh, itu cuma... ya, cuma pelampiasan kreatif aja."

"Gue suka melodi bridge-nya," sela Dwi tenang. "Rasanya kayak... orang yang lagi berusaha keras buat menjangkau sesuatu yang tinggi, tapi dia tahu dia harus pelan-pelan supaya nggak jatuh."

Dwi kemudian menatap lurus ke arah kaki Miko yang tertutup selimut rumah sakit. "Mama lo cerita, lo sampai kurang tidur gara-gara mikirin pensi. Lain kali, kalau mau latihan fisik atau mau belajar teknik baru, mending bareng-bareng. Gue bisa ajarin beberapa teknik stretching biar otot nggak gampang kaku dan stamina lo lebih stabil. Biar nggak gampang tumbang kayak gini."

Miko terdiam. Kalimat itu bukan sekadar tawaran basa-basi bagi Miko; itu adalah kunci jawaban dari semua doa yang ia langitkan. Ia baru menyadari bahwa untuk mendapatkan perhatian seorang "langit", ia tidak perlu menjadi awan yang terbang terlalu tinggi sampai terbakar matahari. Ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri, berani jujur pada kelemahannya, dan ternyata, sang "langit" pun punya caranya sendiri untuk turun menjemput.

"Gue bakal pegang omongan lo itu," kata Miko pelan, mencoba memberanikan diri menatap mata Dwi. "Begitu gue sembuh dan keluar dari sini, lo harus beneran jadi pelatih stretching gue. Tapi, jangan kasih latihan Taekwondo yang bikin gue pingsan lagi ya?"

Dwi tertawa renyah, suara yang jauh lebih merdu daripada distorsi gitar mana pun yang pernah dimainkan Miko. "Deal. Sekarang, istirahatlah. Supaya betis lo—maksud gue, supaya stamina lo—cepet balik lagi buat latihan show pensi."

Dwi menyebut kata "betis" dengan nada menggoda, seolah ia tahu betul selama ini Miko sering curi pandang. Miko hanya bisa terkekeh, menyadari bahwa di ruang RSUD Bekasi ini, dengan infus yang masih setia menetes, ia telah mendapatkan "snapshot" paling indah yang tak akan pernah bisa macet oleh kerusakan teknis apa pun.

Sore itu di bangsal rumah sakit menjadi puncak dari segala rasa yang selama ini Miko pendam. Obrolan intim di antara aroma obat-obatan dan suara mesin detak jantung itu ternyata adalah pertemuan paling nyata yang pernah ia miliki dengan Dwi. Setelah hari itu, meski mereka sempat beberapa kali bertegur sapa di koridor sekolah, tak ada lagi momen sedekat sore itu. Waktu seolah memacu langkahnya dengan kejam, membawa mereka lulus dari SMA Negeri 4 Bekasi di tahun 2004.

Pada lembar terakhir buku album kenangan sekolah, Miko mendapati tulisan tangan Dwi yang rapi. Di bawah foto kelulusan yang menampilkan senyum terbaiknya, Dwi menuliskan kalimat sederhana namun menusuk hati: "Aku sayang kalian semua." Sebuah kalimat yang merangkul semua orang, namun tak menyisakan ruang khusus untuk Miko sendiri.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Snapshot bubar karena kesibukan masing-masing, namun persahabatan Miko, Albert, Andi, dan Kodik tetap awet. Hingga suatu hari, sebuah undangan fisik berwarna krem sampai ke tangan Miko. Dwi akan menikah.

Miko terdiam di teras rumahnya, memegang undangan itu dengan tangan yang gemetar. Ia membayangkan Dwi yang dulu lincah melakukan tendangan ap chagi, kini akan melangkah menuju jenjang kehidupan yang baru dengan pria lain. Rasa sesak itu kembali, sama persis seperti saat ia gagal memotret Dwi dengan tustel Kodak-nya belasan tahun lalu.

Malam itu, di sebuah warung kopi di daerah Bekasi, teman-teman lama berkumpul. Kodik yang kini sudah jauh lebih dewasa menepuk bahu Miko yang tampak murung.

"Mik, lo harus terima kenyataan," ujar Kodik lirih. "Dulu lo sering bilang, I am Cloud, You are Sky. Awan itu memang ditakdirkan untuk bergerak, dan langit... langit akan selalu ada di sana, menunggu siapapun yang datang untuk menaunginya. Mungkin Dwi bukan nggak tahu perasaan lo, mungkin dia sudah menunggu saat itu, tapi waktu kita yang salah."

Albert menambahkan, "Kadang, cinta itu bukan tentang memiliki. Dwi itu langit, Mik. Dia terlalu luas untuk dimiliki hanya oleh satu awan. Tugas awan itu bukan untuk menangkap langit, tapi untuk melengkapi keindahannya sesaat sebelum ia berarak pergi."

Miko terdiam lama, menyesap kopinya yang sudah dingin. Ia sadar, takdir memang tidak selalu sesuai dengan narasi yang ia susun di dalam lagu-lagunya. Dwi akan menjadi milik orang lain, sebuah "Snapshot" permanen yang tak bisa ia miliki, namun akan selalu ia simpan di memori paling dalam.

Ia menghela napas panjang, menatap langit malam Bekasi yang cerah. Langit itu tetap ada, luas dan agung, sementara dirinya—seperti awan yang perlahan memudar—akhirnya menemukan ketenangan. Miko tersenyum tipis. Ia akhirnya paham, bahwa menjadi awan yang sempat memayungi langit meski hanya sekejap, sudah lebih dari cukup untuk sebuah perjalanan hidup yang penuh dengan drama, distorsi, dan kenangan indah.

 

Kabar duka itu datang seperti petir di siang bolong, hanya berselang beberapa bulan setelah pernikahan Dwi. Rama, sang pemilik tustel Kodak yang menjadi saksi bisu awal mula kegilaan Miko, akhirnya berpulang setelah sekian lama berjuang melawan penyakitnya.

Bagi Miko, kepergian Rama terasa seperti hilangnya satu bab penting dalam buku sejarah masa mudanya. Ia teringat bagaimana Rama dulu begitu bangga dengan ekskul "Biru"—singkatan dari Berinisiatif dan Berusaha—yang menjadi wadah bagi para jurnalis sekolah. Rama adalah jiwa dari ekskul itu; ia yang selalu membawa tustel ke mana-mana, mencatat setiap detak kejadian di SMAN 4 Bekasi dengan ketajaman insting seorang jurnalis sejati.

Di hari pemakaman, Miko berdiri di depan pusara Rama. Ia membawa sesuatu yang sudah lama ia simpan: kamera Kodak Pocket yang dulu sempat macet itu. Kamera yang menjadi penyebab nama band mereka, Snapshot, terbentuk.

"Ram," bisik Miko di tengah heningnya pemakaman. "Kamera lo ini akhirnya bisa dipakai lagi. Gue udah servis, meski hasilnya nggak pernah sebagus mata lo pas motret berita sekolah."

Kodik, Albert, dan Andi berdiri di belakang Miko dengan wajah sembab. Mereka semua mengenang betapa Rama adalah sosok yang selalu berinisiatif, persis dengan nama ekskul yang ia cintai. Rama-lah yang dulu sering meyakinkan Miko bahwa setiap momen, entah itu kegagalan memotret pujaan hati atau sekadar nongkrong di depan BCP, adalah berita yang layak diabadikan.

Kepergian Rama seolah menjadi titik akhir dari masa remaja mereka. Pernikahan Dwi adalah penutup kisah cinta pertama, dan kematian Rama adalah penutup kisah persahabatan masa sekolah yang lugu.

Saat mereka berjalan meninggalkan area pemakaman, Miko menatap langit Bekasi yang sore itu berwarna senja—paduan warna jingga dan biru. Ia teringat kembali pada lagu gubahannya, I am Cloud, You are Sky. Awan itu kini telah berarak jauh, meninggalkan langit yang tetap tenang dan tak terjangkau.

"Dunia berubah cepat banget, ya," gumam Albert sambil menepuk pundak Miko.

Miko mengangguk. "Tapi setidaknya, berkat Rama dan 'Biru', kita punya arsip memori yang nggak bakal macet. Kita punya cerita yang selalu bisa diputar ulang kapan saja, meski hanya lewat ingatan."

Kini, di usia dewasa, Miko tak lagi mengejar "langit" maupun berusaha memotretnya dengan tustel tua. Ia belajar satu hal dari Rama: hidup bukan tentang seberapa banyak momen yang berhasil kita tangkap, melainkan seberapa dalam kita berani berinisiatif untuk menjalani setiap detik yang diberikan, sebelum semuanya benar-benar menjadi sejarah. Snapshot memang sudah bubar, namun setiap kali Miko mendengar distorsi gitar progressive rock di kejauhan, ia selalu ingat: ada seorang teman jurnalis yang mungkin sedang mencatat perjalanannya dari tempat yang jauh, dan seorang gadis yang kini telah bahagia di bawah langitnya sendiri.

Belasan tahun setelah hari di pemakaman itu, waktu membawa Miko pada babak yang sama sekali berbeda. Keriuhan koridor SMA dan bau karbol rumah sakit telah berganti dengan suasana ruang kelas universitas. Miko kini berdiri di depan mimbar, menatap puluhan mahasiswa kelas Produksi Media dan Komunikasi. Di tangannya, bukan lagi gitar Gibson yang berat atau lembaran partitur lagu progressive rock yang rumit, melainkan tustel Kodak Pocket usang peninggalan Rama. Kamera itu selalu ia bawa sebagai alat peraga wajib di awal semester.

"Kalian tahu kenapa alat sekecil ini dulu sangat berharga bagi seorang jurnalis, bahkan untuk jurnalis sekolah menengah?" tanya Miko, suaranya menggema di ruang kelas yang hening. "Karena dia membatasi kita. Tustel ini memaksa kita untuk berpikir, berinisiatif, dan berusaha sebelum memencet shutter. Sesuatu yang sangat mahal di era media digital yang serba instan ini."

Miko terdiam sejenak, lalu tersenyum jahil, membiarkan sisi santainya keluar. "Makanya, anak muda zaman sekarang itu gampang banget move on kalau salah jepret foto, tinggal delete. Tapi anehnya, susah move on dari kenangannya. Beda sama bapak-bapak kayak saya. Tustelnya yang macet, tapi kenangannya yang awet."

Beberapa mahasiswa tertawa, sebagian lagi hanya tersenyum canggung mendengar humor bapak-bapak yang tiba-tiba dilemparkan sang dosen. Miko terkekeh pelan. Baginya, melihat bagaimana mahasiswanya merespons lelucon garing itu selalu menjadi observasi etnografi yang menarik tentang interaksi dan negosiasi identitas antargenerasi.

Kelas sore itu pun usai. Sambil memasukkan kembali tustel Rama ke dalam tas kerjanya, ponsel di saku Miko bergetar pelan. Ada pesan masuk dari Dhita.

Membaca nama itu di layar ponselnya, senyum Miko mengembang jauh lebih lebar. Jika Dwi Rahmayanti dulu adalah langit yang jauh dan tak tergapai, maka Dhita Priyanti adalah bumi tempatnya membumi dengan nyata. Dhita adalah pelabuhan akhirnya, perempuan yang menyadarkannya bahwa ia tidak perlu selamanya menjadi awan yang merana. Bersama Dhita, ia membangun keluarga, berbagi cerita, dan menemukan ritme hidup yang jauh lebih menenangkan daripada melodi kompleks Dream Theater sekalipun.

"Mas, jangan lupa nanti sore jemput anak kita di tempat les ya. Sekalian beliin martabak susu keju manis kesukaannya," tulis Dhita dalam pesan tersebut.

Miko mengetik balasan dengan cepat, menyisipkan emotikon hati di akhir kalimat. Ia menyandang tasnya, melangkah keluar ruangan menyusuri lorong kampus. Sesekali ia meraba tustel di dalam tasnya dari luar bahan kain. Masa lalu tentang Dwi, gagalnya audisi sempurna karena tifus, dan kepergian Rama kini telah tersusun rapi bagai klise film tua di sudut memorinya.

Semua cerita itu adalah sebuah snapshot yang sempurna pada masanya, sebuah pondasi yang mendewasakannya untuk menyambut kebahagiaan yang sangat nyata, di sini, dan hari ini.  Miko berjalan menuju parkiran kampusnya. Di tengah deretan motor dosen yang berjejer rapi, matanya tertuju pada sebuah motor sport klasik yang terparkir di pojok. Tiba-tiba, ingatannya melompat jauh ke masa lalu, ke deru knalpot Yamaha RX-King yang pernah ia tunggangi bersama Rama dan anggota band Snapshot lainnya.

Ia mengeluarkan kunci mobil, namun langkahnya terhenti sejenak di samping motor itu. Angin sore di Jakarta Timur berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah setelah hujan—aroma yang selalu mengingatkannya pada hari-hari di SMA Negeri 4 Bekasi.

Ia mengeluarkan tustel Kodak Pocket dari dalam tasnya. Kali ini, ia tidak membidik subjek yang rumit. Ia hanya membidik deretan motor di depannya dengan fokus yang sengaja ia atur agar sedikit blur, menangkap esensi dari keremangan sore yang syahdu. Klik. Bunyi mekanis kamera itu terdengar begitu memuaskan. Tidak ada yang macet hari ini.

"Ram, lo pasti bangga kalau tahu gue akhirnya bisa pakai kamera ini dengan tenang," bisiknya pelan, seolah berbicara pada udara kosong.

Perjalanan menjemput putrinya di tempat les adalah rutinitas yang ia nikmati. Di dalam mobil, ia memutar lagu-lagu progressive rock lawas, tapi kali ini ia tidak lagi berusaha menganalisis polyrhythm atau teknik shredding-nya. Ia hanya menikmatinya sebagai pengiring perjalanan.

Begitu sampai di depan tempat les, ia melihat seorang gadis kecil dengan tas yang ukurannya hampir sebesar punggungnya, melambai dengan semangat ke arah mobil. Itu anaknya. Senyum sang anak yang mirip sekali dengan senyum Dhita—namun dengan matanya yang jenaka—membuat Miko sadar betapa waktu telah memberikan ganti yang jauh lebih indah dari sekadar mimpi remaja.

"Yah! Tadi di sekolah ada yang nanya, Papa kerjanya apa?" tanya sang anak sesaat setelah masuk ke dalam mobil.

Miko terkekeh sambil menyalakan mesin. "Papa itu dosen, Nak. Kerjaannya ngajarin orang tentang cara berkomunikasi yang baik, dan kenapa dad jokes itu sebenarnya adalah bentuk seni komunikasi yang paling tinggi."

Anaknya tertawa geli, sudah hafal dengan selera humor bapaknya. "Papa aneh deh."

"Aneh itu perlu, supaya hidup nggak datar," jawab Miko sambil membelokkan setir ke arah pedagang martabak manis favorit mereka.

Saat menunggu martabak dipanggang, Miko menatap jalanan yang mulai gelap. Ia ingat Dwi, ingat betis talas Bogor-nya, ingat masa-masa Rohis dan masa-masa menjadi pujangga kesepian. Ia tidak menyesal. Semua kepingan itu, baik yang menyakitkan maupun yang manis, telah membentuk Miko yang sekarang: seorang dosen, seorang ayah, dan seorang suami yang sudah selesai dengan pencarian jati dirinya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Langit Jakarta malam ini tertutup awan mendung, namun bagi Miko, itu bukan lagi tanda jarak yang mustahil. Itu hanyalah bagian dari semesta yang sedang berproses. Ia sudah tidak perlu menjadi awan yang mengejar langit, karena sekarang ia sudah memiliki dunianya sendiri yang sangat ia cintai.

Miko tersenyum, menutup pintu mobil saat martabak manis sudah di tangan, dan melaju pulang menuju rumah. Di sana, Dhita sudah menunggu, dan itu adalah snapshot terakhir yang paling ia syukuri dalam hidupnya.

Miko membuka pintu rumahnya dengan perasaan yang masih dibalut sisa kenangan di jalan tadi. Di ruang tengah, Dhita sudah menyambutnya dengan senyum teduh yang selalu berhasil meredakan lelah Miko setelah seharian berkutat dengan teori komunikasi di kampus. Sambil meletakkan bungkusan martabak di atas meja, Miko memperhatikan Dhita lebih saksama. Ada sesuatu pada cara Dhita berdiri—tegak, disiplin, dan anggun—yang tiba-tiba memicu memori yang sudah terkunci rapat di sudut otaknya.

Dhita berbalik, menyibakkan sedikit rambutnya, dan menoleh ke arah Miko. Gerakan itu, cara dia memiringkan kepala, dan ketegasan pada garis wajahnya saat tersenyum, tiba-tiba membuat Miko tertegun. Ia teringat kembali pada postur Dwi di lapangan Taekwondo belasan tahun lalu.

"Mas, kenapa ngeliatinnya gitu banget? Martabaknya gosong ya?" tanya Dhita dengan nada bercanda yang sangat familiar.

Miko mengerjapkan mata, berusaha mengusir bayang-bayang masa lalu. "Nggak, cuma... akhir-akhir ini aku sering kepikiran soal masa muda. Soal gimana takdir itu lucu banget mainin skenario."

Dhita duduk di sampingnya, lalu menaruh tangannya di atas tangan Miko. "Kamu masih kepikiran soal band Snapshot? Atau soal teman-temanmu yang sudah nggak ada?"

Miko terdiam. Ia baru sadar, selama bertahun-tahun ia membangun hidup bersama Dhita, ia mungkin tidak pernah benar-benar menceritakan detail obsesi masa remajanya terhadap sosok gadis atletis di SMAN 4 Bekasi itu. Atau mungkin, secara alam bawah sadar, ia sudah menceritakannya, dan Dhita—dengan caranya yang luar biasa—telah hadir untuk menggenapi apa yang dulu gagal ia dapatkan.

"Dulu aku pernah punya obsesi yang aneh sama seseorang," bisik Miko jujur, suaranya pelan. "Aku sampai bikin lagu instrumental karena saking bingungnya cara ngungkapin perasaan ke dia. Aku kira dia adalah langit yang nggak bakal bisa aku jangkau."

Dhita tersenyum, matanya memancarkan ketenangan yang dalam. "Lalu?"

"Lalu aku sadar, langit itu nggak perlu dikejar. Mungkin, dia memang harus tetap jadi langit, supaya orang lain bisa punya tempat untuk berharap. Tapi ternyata, aku malah dikasih bumi tempat aku berpijak. Tempat aku bisa tumbuh, menua, dan menemukan rumah yang sebenarnya."

Dhita tertawa kecil, sebuah tawa yang lagi-lagi terdengar sangat tidak asing. "Mungkin langit itu nggak ke mana-mana, Mas. Dia cuma berubah bentuk supaya bisa lebih mudah dipeluk. Kamu aja yang dulu terlalu sibuk pakai lensa kamera sampai nggak sadar kalau yang kamu cari sudah ada di depan mata."

Miko terperangah. Kalimat itu terasa seperti kutipan langsung dari buku kenangan yang pernah ia tulis di dalam hatinya sendiri. Ia menatap Dhita lekat-lekat. Apakah mungkin takdir telah melakukan twist yang paling jenius dalam hidupnya? Bahwa sosok yang selama ini ia agungkan sebagai "langit" masa muda, ternyata telah berevolusi, tumbuh dewasa, dan memilih untuk menetap di sisinya sebagai "bumi" yang menopangnya hingga saat ini?

Mungkin takdir tidak pernah benar-benar melepaskan apa yang pernah kita kejar. Ia hanya menyembunyikannya di balik kedewasaan, menunggu sampai kita siap untuk melihatnya dengan cara yang berbeda.

Miko menggenggam tangan Dhita lebih erat. Di luar, hujan mulai turun, membasahi Jakarta dengan irama yang tenang. Ia tidak butuh kamera, tidak butuh tustel yang macet, dan tidak butuh lagi teori progressive rock untuk menjelaskan hidupnya. Semuanya sudah lengkap. Akhir cerita ini ternyata bukan tentang kehilangan, melainkan tentang bagaimana langit akhirnya memutuskan untuk turun dan menetap selamanya di rumahnya.

Malam itu, di ruang tamu yang hangat, Miko menarik napas panjang. Ia mengambil album foto lama yang terselip di rak buku—album yang berisi kumpulan klise-klise foto yang ia cetak sendiri di masa kuliah. Di satu lembar, terselip foto buram hasil jepretan kamera Kodak pocket yang sudah ia perbaiki. Itu foto Dwi, yang diambil dari kejauhan, saat gadis itu sedang melipat sarung tangan Taekwondo-nya di pinggir lapangan.

Miko menunjukkan foto itu pada Dhita.

Dhita terdiam sejenak. Ia mengambil foto itu, mengusap permukaannya yang mulai menguning dengan ujung jarinya. Lalu, sebuah senyum simpul muncul di bibir Dhita, senyum yang membawa Miko kembali ke sore-sore di koridor sekolah.

"Mas," bisik Dhita lembut. "Kamu ingat nggak, ada anak Taekwondo yang dulu sering sengaja naruh botol minumnya di dekat meja piket supaya bisa curi pandang ke anak Rohis yang sok sibuk baca buku di dekat jendela?"

Miko tersentak. Ingatannya berputar balik. Ia memang sering membaca buku di dekat jendela kelas, dan ya, ia ingat ada seorang gadis—anak Taekwondo—yang sering mondar-mandir di sana dengan dalih mengambil air minum. Selama ini, Miko merasa ia adalah satu-satunya pengamat, padahal mungkin selama ini ia juga sedang diamati.

"Itu... itu kamu?" tanya Miko dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Dhita mengangguk pelan. "Dulu kita sama-sama takut. Kamu dengan tustel yang macet, aku dengan sabuk hitam yang bikin aku merasa harus tampil tangguh. Kita sama-sama jadi awan dan langit buat satu sama lain, cuma kita terlalu pengecut untuk mengakui bahwa awan dan langit itu sebenarnya punya cakrawala yang sama."

Miko tertegun. Segala narasi tentang penyesalan, tentang "langit yang tak terjangkau", dan tentang "awan yang merana", seketika runtuh. Ternyata, takdir tidak sedang mempermainkannya. Takdir sedang menuntun mereka melalui jalan yang berliku, membiarkan mereka tumbuh di jalan yang berbeda, hanya untuk kemudian bertemu kembali di titik yang paling tepat: sebagai pasangan yang sudah saling mengenal jiwa satu sama lain jauh sebelum mereka mengucap janji setia.

Dhita menyandarkan kepalanya di bahu Miko. "Langit itu memang luas, Mas. Tapi dia akhirnya tahu ke mana harus berlabuh saat awan sudah berhenti berlari."

Di luar, hujan semakin deras, namun di dalam rumah itu, suasana terasa begitu tenang. Miko mematikan lampu ruang tengah, menyisakan cahaya temaram dari lampu meja. Ia tidak lagi mencari jawaban atas misteri masa lalu. Ia tidak lagi membutuhkan tustel untuk membekukan waktu. Karena baginya, saat ini, dengan Dhita di sampingnya dan suara napas sang buah hati yang teratur dari kamar sebelah, ia telah menemukan snapshot yang paling abadi—bukan dalam bentuk klise foto, melainkan dalam bentuk kehidupan yang nyata dan utuh.

Miko memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang betis talas Bogor, suara distorsi gitar di studio Rawalumbu, hingga senyum Rama yang kini sudah tiada, berbaur menjadi satu melodi damai di kepalanya. Semuanya indah pada tempatnya. Dan bagi Miko, inilah bab terakhir dari lagu yang selama ini ia tulis: sebuah akhir yang tidak lagi menuntut, melainkan hanya mensyukuri.

Tahun-tahun terus bergulir, dan rumah Miko kini selalu dipenuhi dengan tawa renyah sang putri yang mulai beranjak remaja. Suatu siang, saat Miko sedang membereskan gudang, ia menemukan kotak kayu tua berisi barang-barang peninggalan masa SMA-nya. Di sana, di antara gulungan kabel jack yang sudah berkarat dan buku catatan lagu yang halamannya mulai menguning, ia menemukan kembali tustel Kodak Pocket milik Rama.

Ia mengambilnya, membersihkan debu yang menempel, dan mencoba mengintip ke dalam viewfinder. Rasanya aneh. Miko merasa seperti sedang melihat kembali ke masa lalu—ke masa di mana segalanya terasa begitu besar, begitu dramatis, dan begitu membingungkan.

Dhita masuk ke gudang, membawakan segelas teh hangat. Ia melihat Miko yang sedang terdiam memandangi kamera itu.

"Masih inget lagu itu?" tanya Dhita tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh arti.

Miko tersenyum. Ia menaruh tustel itu di atas meja kayu. "I am Cloud, You are Sky? Masih. Kenapa?"

Dhita mendekat, mengambil gitar akustik Miko yang bersandar di pojok gudang, lalu menyerahkannya kepada sang suami. "Mainin sekali lagi. Buat aku, buat masa lalu kita, dan buat kenangan Rama yang mungkin lagi dengerin dari atas sana."

Miko menerima gitar itu. Jemarinya yang kini lebih lamban namun jauh lebih mantap, mulai menyentuh senar. Ia tidak lagi memainkan riff ganjil 7/8 yang rumit seperti dulu di studio Rawalumbu. Ia memainkan versi akustik yang lebih lembut, lebih melodius, dan jauh lebih jujur.

Setiap petikan senar membawa kembali memori-memori itu: bau keringat di studio, kebisingan koridor SMAN 4 Bekasi, dinginnya bangsal RSUD, hingga tawa Rama yang penuh semangat. Namun, kali ini tidak ada lagi rasa sesak. Yang ada hanyalah rasa syukur.

Saat Miko mencapai bagian chorus terakhir, pintu gudang terbuka lebar. Sang putri masuk dengan membawa buku sekolahnya, lalu duduk di lantai, mendengarkan ayahnya bermain musik. Ia tidak tahu apa arti lagu itu, ia tidak tahu tentang cinta monyet di lapangan Taekwondo atau tentang obsesi ayahnya terhadap betis talas Bogor, namun ia bisa merasakan satu hal: ayahnya sedang menceritakan sebuah kisah yang sangat indah.

"Lagu itu bagus, Yah," ujar sang putri saat Miko mengakhiri petikannya dengan satu denting gitar yang menggema. "Kayak cerita tentang perjalanan."

Miko menatap Dhita, lalu menatap putrinya. Ia sadar bahwa hidup adalah sebuah rangkaian snapshot—potongan-potongan momen yang mungkin terlihat macet atau gagal di saat itu, namun ketika disusun dalam album yang panjang, ternyata membentuk sebuah mahakarya.

Ia meletakkan gitarnya, lalu menarik napas panjang. Kamera Kodak itu akan tetap di sana, menjadi saksi bisu dari perjalanan seorang anak muda bernama Miko yang dulu mengira dunia berakhir saat tuas kamera macet, padahal di saat itulah, perjalanan sebenarnya baru saja dimulai.

"Ya," jawab Miko sambil merangkul istri dan anaknya. "Ini adalah cerita tentang perjalanan, Nak. Dan yang paling penting dari sebuah perjalanan, bukanlah kamera apa yang kita pakai untuk memotretnya, tapi dengan siapa kita berbagi pemandangan di akhir hari."

Malam itu, di rumah mereka yang hangat, Miko tidak lagi mencari langit. Karena baginya, langit, bumi, awan, dan segala keajaibannya, kini sudah ada di dalam dekapan tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu lagi mengabadikan apa pun dengan kamera. Karena ia tahu, momen ini sudah terukir permanen di hatinya, lebih tajam dan lebih nyata daripada foto apa pun yang pernah ia ambil seumur hidupnya.

Tahun-tahun berlalu seperti lembaran buku yang dibalik dengan lembut. Miko tidak lagi mencari drama dalam hidupnya. Ia justru menemukan keindahan dalam rutinitas: mengajar, mengantar jemput anak, dan menikmati secangkir kopi di sore hari bersama Dhita di teras rumah.

Suatu hari, saat sedang merapikan rak buku di ruang kerjanya, Miko menemukan sebuah amplop tua. Di dalamnya terselip sebuah kliping koran lokal Bekasi yang meliput acara Pensi SMAN 4 tahun 2002. Di foto hitam putih yang agak buram itu, ia melihat sosok dirinya, Albert, Andi, Oeban, dan Kodik yang sedang membungkuk dalam-dalam—*the symmetrical bow*—persis seperti The Beatles yang dulu ia latih dengan begitu keras.

Di sudut foto, tampak kerumunan siswa-siswi yang bersorak. Miko menyipitkan mata, mencoba mengenali wajah-wajah di barisan depan. Di sana, di antara teman-teman Taekwondo-nya, ada wajah seorang gadis yang menatap ke arah panggung dengan senyum yang sulit diartikan. Itu Dwi.

Miko tersenyum. Foto itu bukan lagi sekadar potret masa lalu yang menyakitkan. Itu adalah bukti bahwa setiap upaya yang ia lakukan—betapa pun kekanak-kanakan atau canggungnya—telah menjadi bagian dari sejarah yang membentuk jati dirinya.

Ia menempelkan kliping itu di dinding ruang kerjanya, tepat di samping foto pernikahan mereka dan foto wisuda putrinya.

"Sedang apa, Mas?" Dhita muncul dari balik pintu, membawa nampan berisi teh hangat dan singkong goreng.

Miko menunjuk kliping itu. "Melihat masa lalu. Ternyata, si 'awan' dan 'langit' itu sudah lama sekali saling mengamati, ya?"

Dhita mendekat, menatap foto itu cukup lama sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Miko. "Dulu aku memang nggak berani bilang apa-apa, Mas. Bagiku, kamu terlalu sibuk dengan dunia prog-rock dan kamera tua itu. Aku cuma bisa berharap suatu hari kamu sadar bahwa ada yang selalu menunggumu di pinggir lapangan setiap latihan."

"Dan aku," timpal Miko, "terlalu sibuk mencari keindahan di tempat yang jauh, sampai nggak sadar kalau rumahku sebenarnya sedang melatih tendangan *ap chagi* tepat di depan mataku."

Mereka berdua tertawa, tawa yang tenang dan dewasa. Di luar, suara klakson kendaraan di jalanan Jakarta mulai mereda, berganti dengan suara jangkrik yang sayup-sayup terdengar dari taman kecil di belakang rumah. Miko tidak lagi membutuhkan tustel Kodak untuk mengabadikan momen ini. Ia tidak perlu mengatur fokus, *shutter speed*, atau bukaan lensa. Baginya, setiap detik yang ia habiskan bersama Dhita adalah sebuah *snapshot* hidup yang tersimpan selamanya dalam memori yang tidak akan pernah macet, tidak akan pernah pudar, dan tidak akan pernah perlu dicuci cetak.

Ia mengambil secangkir teh, menyesapnya perlahan, dan menatap istrinya. Bagi Miko, cerita tentang Miko, Dwi, dan Snapshot di SMAN 4 Bekasi memang sudah lama berakhir. Namun, cerita tentang Miko dan Dhita, tentang bagaimana dua orang yang sempat terpisah oleh cakrawala akhirnya menemukan jalan pulang, baru saja memasuki bab yang paling indah.

Dan di dalam keheningan malam itu, Miko menyadari satu hal terakhir: hidup ini memang penuh dengan kegagalan teknis, salah langkah, dan rencana yang meleset. Tapi di balik semua itu, selalu ada skenario yang jauh lebih agung—skenario yang ditulis oleh takdir, yang memastikan bahwa setiap orang pada akhirnya akan menemukan "langit" mereka sendiri, tepat di pelukan orang yang paling mereka cintai.

Miko mematikan lampu ruang kerja, membiarkan kenangan itu tersimpan rapi dalam gelap yang damai. Esok pagi, ia akan kembali menjadi dosen, menjadi ayah, dan menjadi suami—peran terbaik yang pernah ia mainkan sepanjang hidupnya. Selesai.

 

 

 

 

Epilog: Cakrawala yang Kembali Pulang

Belasan tahun telah berlalu sejak deru RX-King membelah sore di Bekasi dan dentuman progresif rock memenuhi studio pengap di Rawalumbu. Kamera Kodak Pocket milik Rama kini telah menemukan tempat peristirahatannya yang layak di dalam kotak kenangan, bukan lagi sebagai alat untuk menangkap subjek yang tak terjangkau, melainkan sebagai artefak bisu yang menceritakan sebuah perjalanan panjang.

Miko akhirnya menyadari bahwa kehidupan tidak pernah menuntut kita untuk menjadi fotografer yang sempurna. Kita tidak perlu menangkap setiap momen dengan tajam dan jernih untuk bisa menikmatinya. Terkadang, momen yang paling indah justru adalah momen yang "macet"—momen yang tidak berjalan sesuai rencana, yang membuat kita terpaksa berhenti sejenak, merenung, dan menyadari bahwa di balik kegagalan teknis tersebut, ada skenario besar yang sedang disusun oleh waktu.

Dwi, sang "langit" masa muda, kini telah menjadi bagian dari sejarah yang utuh, dan Dhita, sang "bumi" masa kini, adalah pelabuhan yang menjadikannya nyata. Miko tidak lagi mengejar cakrawala; ia telah menjadi cakrawala itu sendiri, tempat di mana awan dan langit akhirnya bersatu dalam kesahajaan sebuah keluarga. Dia terngiang bait-bait legendaris darii pentolan The Panasdalam Band sekaligus Imam Besar Front Pembela Islam Kristen Hindu Budha yaitu Al Mukarram KH Pidi Baiq:

 

Terra Erau – Pidi Baiq

Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan mendengarmu, dengan siapa kamu dapat bicara tentang hampir segalanya. Dia, menjadi orang yang memahami dirimu ketika engkau butuh. Mendengar perasaanmu bahkan tanpa perlu kau ungkapkan melalui kata-kata. Ketika dia membuat dirimu tenang, kau mengerti untuk apa bersamanya, bahwa bersama orang yang kau cintai, tak akan pernah peduli oleh apapun yang engkau takutkan. Kemudian dengannya engkau tersenyum, engkau ketawa. Dan hal lainnya lagi yang lebih menyenangkan dari itu.

 

Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, menjadi sumber kebahagiaan dari semua yang engkau miliki. Orang khusus itu adalah dirinya, yang akan merisuakan dirimu di hari yang buruk, oleh hujan, dan penuh petir. Ketika jauh, kau rindu, oleh pikiran bahwa engkau yakin sesuatu yang indah akan terjadi ketika bersamanya. Dia datang, bukan melulu bicara soal cinta, tetapi untuk menghadirkan dirinya yang pandai membuat dirimu merasa istimewa. Kamu hanya memiliki dirinya, yang memiliki tanggungjawab sebagai seorang kekasih, dan kau tahu yang melibatkan dirimu dialah ahlinya.

 

Tera Errau, Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, bahkan jika dia cemburu, kau senyum, karena bukan api yang menghanguskan.

Tera Errau, Asmara itu menggelora, dan kamu ingin bersamanya, karena kamu tahu dengan siapa kamu tenang.

Tera Errau, Pikiran atas kasih sayang yang dia berikan kepadamu, menjadi dasar di atas semua sikap dan perilakunya kepadamu.

Kau senyum untuk apa yang dikatakannya: "Jika aku sudah sayang, tak kan pernah berakhir, bahkan ketika kau ingin berhenti". Katanya: "Aku mencintaimu, sebagai benar-benar mencintaimu, sesibuk apapun diriku, akan selalu berusaha meluangkan waktu untukmu". Bahkan jika dia harus mengatakan: "Aku mencintai dirimu", kamu merasa tidak perlu lagi untuk memeriksa kesungguhannya. Adakalanya kamu marah, tetapi dia berkata: "Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu"

 

Tera Errau, Maka itulah yang akan kau rasakan bersama dengannya, jika benar dia ada. Mengatakannya dalam gelombang kekuasaan logika, dan perasaan. Pelajaran hikmah dan kasih sayang datang darinya, dan engkau tidak usah mencarinya, karena dia selalu ada waktu untuk bersama dengan dirimu. Kamu hanya memiliki keyakinanmu sendiri, bahwa kamu mencintainya, dan itu serius. Dia tersenyum, dan katanya: Berterimakasihlah kepadamu, yang sudah bisa membuat aku bahagia menyayangimu.

 

Tera Errau.... Tera Errau

 

 

Bandung, 11 November 2011

 

 

 

Pesan Moral

·         Kejar dengan Hati, Bukan Hanya Obsesi: Keinginan masa muda sering kali berwujud obsesi yang membabi buta. Namun, kedewasaan mengajarkan bahwa apa yang memang ditakdirkan untuk kita tidak perlu dikejar dengan cara yang memaksakan. Fokuslah pada pertumbuhan diri, maka semesta akan menarik hal-hal baik kepada kita pada waktu yang tepat.

·         Hargai Kegagalan sebagai Bagian dari Cerita: Kegagalan, seperti tustel yang macet atau band yang bubar, bukanlah akhir dari segalanya. Itu hanyalah jeda yang memberi ruang bagi babak baru yang lebih bermakna. Tanpa tragedi-tragedi kecil di masa lalu, kita tidak akan menjadi pribadi yang menghargai kebahagiaan sederhana hari ini.

·         Jangan Terlalu Sibuk Mencari, Sampai Lupa Menghargai: Terkadang, kita terlalu sibuk memandang ke langit untuk mencari keajaiban, hingga kita tidak menyadari bahwa keajaiban itu sebenarnya sedang berdiri tepat di depan mata, menanti untuk disapa.

·         Kenangan adalah Bahan Bakar, Bukan Beban: Gunakan kenangan masa lalu untuk mendewasakan diri, bukan untuk meratapi apa yang tidak bisa dimiliki. Hormatilah orang-orang yang telah menjadi bagian dari sejarah kita, karena mereka adalah guru-guru terbaik dalam perjalanan hidup.

Quotes Pilihan

"Kita sering membuang waktu berusaha mengabadikan momen dengan kamera, padahal beberapa hal paling indah dalam hidup memang diciptakan hanya untuk dirasakan, bukan untuk difoto."

"Langit tidak pernah menjauh; kitalah yang sering kali lupa cara untuk melihat ke atas. Dan ketika kita akhirnya sadar, mungkin dia sudah turun menjadi bumi yang siap kau pijak setiap hari."

"Hidup adalah rangkaian 'snapshot' yang acak. Jangan terlalu menyesali jika ada klise yang kabur, karena justru di situlah letak keindahan yang membuat album kehidupanmu menjadi unik."

"Menjadi dewasa berarti belajar menerima bahwa tidak semua lagu berakhir dengan solo gitar yang megah. Kadang, akhir yang paling manis hanyalah sebuah melodi tenang di teras rumah bersama seseorang yang memahami sunyimu."

[]