Saturday, July 11, 2026

Analisis Moralitas dalam Novel Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? Karya Leo Tolstoy

 Menakar Keserakahan Manusia: Analisis Moralitas dalam Novel Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang? Karya Leo Tolstoy

Adikarya sastra tidak hanya lahir dari imajinasi yang indah, melainkan dari ketajaman menangkap realitas sosial dan gejolak psikologis manusia. Prinsip inilah yang melekat kuat pada diri Lev Nikolayevich Tolstoy, atau yang lebih masyhur dikenal sebagai Leo Tolstoy. Lahir di Yasnaya Polyana pada 9 September 1828, sastrawan besar Rusia ini kerap dijuluki sebagai "Bapak Realisme Psikologis Rusia". Julukan tersebut disematkan berkat kepiawaiannya dalam memotret kehidupan masyarakat sehari-hari yang sarat akan kritik moral yang tajam. Meskipun terlahir dari kalangan bangsawan tinggi, anak keempat dari lima bersaudara ini justru memilih untuk hidup bersahaja layaknya rakyat jelata. Perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika, mulai dari masa muda yang sarat utang akibat judi saat menempuh studi hukum dan bahasa oriental di Universitas Kazan, hingga keputusannya bergabung dengan Tentara Rusia di Kaukasus pada tahun 1851. Kehidupan pernikahannya yang dimulai pada tahun 1862 bersama Sofia Andreevna Bers—yang berusia enam belas tahun lebih muda—turut mewarnai produktivitasnya. Didukung penuh oleh sang istri yang bertindak sebagai sekretaris pribadi, Tolstoy melahirkan deretan karya monumental seperti Perang dan Damai serta Anna Karenina. Hingga akhir hayatnya pada 20 November 1910 di Stasiun Astapovo akibat pneumonia, Tolstoy konsisten menyuarakan pandangan pasifisme dan anarkisme Kristen. Salah satu manifesto moralnya yang paling jernih tertuang dalam sebuah novel pendek yang ditulis pada tahun 1886 dengan judul asli Много Ли Человеку Земли Нужно? atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Berapa Luaskah Tanah yang Dibutuhkan oleh Seseorang?.

Novel pendek ini menempati posisi yang sangat terhormat dalam khazanah sastra dunia, bahkan sastrawan besar James Joyce menyebutnya sebagai cerita pendek terbaik yang pernah ditulis. Di Indonesia, teks ini dapat dinikmati melalui kumpulan cerita Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu terbitan Jalasutra tahun 2006, yang bersumber dari kompilasi Everyman’s Library. Narasi utuh novel ini terbagi ke dalam sembilan bagian yang tersusun secara kronologis menggunakan alur maju yang solid. Tolstoy sengaja mengemas struktur cerita dari pengenalan hingga antiklimaks secara linear tanpa kilas balik untuk mempertegas konsekuensi logis dari setiap tindakan tokohnya. Bagian awal cerita digunakan untuk mengenalkan tokoh utama dan figuran, diikuti oleh pengenalan awal konflik kepemilikan tanah antara sang tokoh utama bernama Pahom, seorang tuan tanah wanita bernama Barina, dan pengawas tanahnya yang kejam. Konflik kemudian bereskalasi ketika hewan ternak milik tetangganya, Semka, merusak lahan Pahom, namun Pahom justru kalah di pengadilan akibat kurangnya bukti. Kekecewaan ini mendorong Pahom untuk terus mencari tanah baru yang lebih luas, mulai dari perpindahannya ke Samara hingga pertemuannya dengan seorang pedagang yang membocorkan keberadaan tanah murah di wilayah kaum Bashkir. Bagian akhir novel berfokus pada klimaks usaha Pahom yang mengerahkan seluruh tenaganya demi meraih tanah seluas-luasnya, yang justru berujung pada akhir yang tragis dan ironis.

Melalui struktur alur tersebut, Tolstoy secara jeli membangun kritik moral yang tajam terhadap paham materialistik, sebuah ideologi yang mengukur kebahagiaan dan martabat manusia melulu berdasarkan kuantitas harta benda. Judul novel ini sendiri merupakan sebuah formula retoris yang brilian. Dalam kaidah bahasa Rusia, penekanan kalimat lazimnya berada di awal kata, sehingga penempatan kata "Berapa" di awal judul berfungsi memaku perhatian pembaca pada aspek kuantitas yang digugat oleh Tolstoy. Jawaban atas pertanyaan besar pada judul tersebut secara ironis terjawab di akhir cerita, di mana tanah yang sejatinya dibutuhkan manusia pada akhirnya hanyalah sebatas liang lahat untuk membungkus jasadnya sendiri. Menanggapi esensi cerita ini, Anton Chekhov, rekan sejawat Tolstoy, memberikan catatan filosofis yang mendalam. Chekhov meluruskan anggapan bahwa manusia hanya membutuhkan tanah sepanjang enam kaki atau tiga elo. Menurutnya, ukuran sempit itu hanyalah volume yang dibutuhkan oleh sesosok mayat, bukan manusia yang hidup. Manusia yang utuh sejatinya membutuhkan seluruh alam semesta agar jiwa merdekanya dapat mengekspresikan diri tanpa batas, namun ironisnya, nafsu keserakahan sering kali mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri hingga akhirnya mereka terjebak dalam tanah kuburannya yang sempit.

Eksplorasi terhadap watak manusia ini termanifestasikan dengan sangat baik melalui penokohan yang kontras dan dinamis. Cerita diawali oleh perdebatan antara dua bersaudara perempuan; sang kakak yang merupakan istri pedagang kota yang sombong memamerkan kemewahan kotanya, sementara sang adik yang merupakan istri petani desa membalas dengan meninggikan kesederhanaan hidup di desa. Perdebatan inilah yang memicu ambisi suaminya, Pahom. Sebagai tokoh utama, Pahom digambarkan sebagai sosok petani yang awalnya bersahaja namun perlahan menjelma menjadi manusia yang congkak dan dikuasai nafsu setelah mencicipi kepemilikan tanah. Kesombongannya memuncak saat ia sesumbar tidak takut pada apa pun, bahkan kepada iblis sekalipun, seandainya ia memiliki tanah yang luas. Pernyataan angkuh inilah yang memancing kehadiran Iblis, sebuah entitas metafisika dalam cerita yang digambarkan bertanduk dan bertelapak kaki kuda. Iblis memanfaatkan keserakahan Pahom sebagai instrumen untuk menghancurkannya, menjelma dalam mimpi-mimpinya, dan menyamar sebagai sosok-sosok yang menawarkan kemudahan materi, termasuk sebagai Starshina, sang pemuka kaum Bashkir. Kaum Bashkir sendiri digambarkan sebagai sekelompok masyarakat nomaden yang hidup damai dan tidak serakah di padang rumput yang luas. Mereka dipimpin oleh Starshina yang mengenakan kopiah kulit serigala dan bersedia menerima suap berupa jubah panjang (khalat), permadani, teh, dan vodka dari Pahom untuk kemudian memberikan sebuah tantangan yang mustahil ditolak oleh hati yang serakah.

Melalui latar tempat yang berpindah dari desa asal Pahom, lalu ke Samara, hingga berakhir di padang rumput Bashkir yang luas, Tolstoy memperlihatkan bagaimana ruang geografis berkorelasi dengan luasnya ambisi manusia. Puncak dari segala tragedi kemanusiaan ini terjadi ketika Pahom menyetujui syarat pembelian tanah unik yang diajukan oleh kaum Bashkir. Persyaratannya sangat sederhana namun menjebak: Pahom diperbolehkan memiliki tanah seluas apa pun yang sanggup ia kelilingi dengan berjalan kaki dalam waktu satu hari penuh, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan syarat ia harus kembali ke titik semula tepat waktu atau uang seribu rubel miliknya akan hangus. Didorong oleh nafsu yang membabi buta, Pahom berjalan terlalu jauh dari titik awal. Ketika matahari mulai condong ke barat, ia menyadari posisinya terlalu jauh untuk kembali. Dalam kepanikan, Pahom berlari sekencang-kencangnya di bawah terik panas, menanggalkan sepatunya hingga kakinya terluka dan berdarah, demi mengejar batas waktu yang kian menipis. Ketakutan akan kehilangan tanah impian membuatnya lupa akan keterbatasan fisiknya sendiri. Tepat ketika matahari tenggelam dan ia berhasil menyentuh kembali bukit tempat Starshina berdiri tertawa, tubuh Pahom yang kehabisan oksigen dan tenaga ambruk seketika. Ia tewas di tempat akibat kelelahan yang luar biasa. Pelayannya yang setia kemudian mengambil sekop dan menggali tanah untuk menguburkan jasad Pahom yang terbujur kaku. Pada akhirnya, seluruh ambisi, keringat, dan darah yang dikorbankan Pahom hanya membuahkan sebidang tanah sepanjang tiga elo—sebuah ukuran standar liang lahat yang cukup untuk menampung tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.

Melalui gaya bahasa yang lugas, realistis, dan menggunakan diksi yang mudah dipahami, Tolstoy berhasil menyampaikan amanat moral yang mendalam tanpa terjebak dalam ambiguitas bahasa. Kisah tragis Pahom menjadi refleksi universal bahwa pada fitrahnya manusia kerap digoda oleh ketidakpuasan yang nisbi. Tolstoy mengajak pembacanya merenung bahwa harta benda bersifat sementara dan sama sekali tidak akan dibawa mati ke dalam liang lahat. Kesilauan akan dunia sering kali membuat manusia melupakan hakikat eksistensinya, berlari mengejar sesuatu yang semu hingga melampaui batas kemampuan tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, novel ini menegaskan sebuah kebenaran yang mutlak: tidak peduli seberapa luas tanah yang berhasil dikuasai manusia semasa hidupnya, seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, dan seberapa tinggi kesombongan yang dipelihara di hadapan sesama, ruang akhir yang akan dimiliki oleh setiap orang hanyalah sebuah kotak tanah sempit yang sama rata bagi semua jasad.

Secara tekstual dan kontekstual, dimensi kritis novel pendek ini didukung oleh fakta sejarah serta struktur sosiologis Rusia pada abad ke-19. Leo Tolstoy menulis kisah ini tepat beberapa dekade setelah reformasi emansipasi pada tahun 1861, sebuah momentum sejarah ketika Tsar Alexander II menghapuskan sistem perbudakan petani (serfdom) di Kekaisaran Rusia. Kebijakan ini secara legal memberikan hak kepada jutaan petani untuk memiliki tanah sendiri, namun dalam realitasnya justru menjebak mereka dalam sistem utang penebusan (redemption payments) yang sangat berat kepada para bangsawan. Satuan pengukuran luas yang digunakan Tolstoy dalam narasinya, seperti dessiatin (setara dengan sekitar 1,09 hektare atau 2,7 hektar per unit), mencerminkan dengan akurat bagaimana kalkulasi agraria saat itu menjadi obsesi baru bagi kelas petani seperti Pahom yang ingin menaikkan status sosial mereka. Ironisnya, angka nominal seribu rubel yang diserahkan Pahom kepada kaum Bashkir untuk membeli tanah "sejauh mata memandang" justru setara dengan modal besar yang diimpikan oleh rata-rata petani Rusia untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan sistemik di pedesaan pada akhir era 1880-an.

Dari sudut pandang resepsi sastra global, daya hidup novel ini terbukti melintasi sekat budaya melalui berbagai adaptasi dan apresiasi dari para pemikir dunia. Lebih dari sekadar komentar James Joyce, filsuf Ludwig Wittgenstein juga tercatat sebagai salah satu pengagum berat karya ini, di mana ia merekomendasikannya kepada murid-muridnya sebagai bentuk terapi filosofis untuk mengatasi keserakahan intelektual manusia. Pengaruh kultural novel ini juga terekam kuat di Asia; pada tahun 1953, sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa, menggunakan basis moralitas dan kritik agraria Tolstoy dalam karya-karyanya, sementara penulis India, Premchand, menerjemahkan kisah ini ke dalam bahasa Urdu dengan judul Zamin untuk mengkritik sistem tuan tanah (zamindari) yang menindas petani di Asia Selatan. Data bibliografi menunjukkan bahwa teks asli berbahasa Rusia ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di dunia sejak pertama kali diterbitkan oleh penerbit Posrednik di St. Petersburg. Melalui penyebaran global tersebut, fakta kematian Pahom yang secara matematis hanya menyisakan tanah sepanjang tiga elo (satuan kuno Rusia arshin, di mana satu arshin setara dengan 71 sentimeter, sehingga total tiga elo adalah sekitar 2,1 meter) tetap menjadi standar ukuran universal yang diakui dunia untuk menggambarkan batas akhir dari komodifikasi alam oleh keserakahan manusia.

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

 

Keberhasilan Tolstoy dalam merajut fakta sosiologis ke dalam fiksi psikologis ini juga tercermin dari bagaimana ia memotret interaksi antaretnis antara masyarakat Slavia (Rusia) dan kelompok minoritas di kekaisaran. Penggambaran kaum Bashkir—suku nomaden Muslim Turkik yang mendiami wilayah sekitar Pegunungan Ural dan Sungai Volga—bukanlah sekadar rekaan eksotis. Data historis menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Bashkiria memang menjadi sasaran empuk para spekulan tanah dan petani pendatang dari Rusia Tengah karena pemberlakuan undang-undang agraria baru yang melonggarkan kepemilikan tanah komunal suku asli. Tolstoy memanfaatkan lanskap geografis padang rumput Ural yang datar tanpa batas alami ini sebagai ruang eksperimen psikologis yang sempurna: ketiadaan pagar atau batas fisik di wilayah kaum Bashkir secara visual memancing keserakahan Pahom untuk terus berjalan tanpa kompas moral, hingga mengaburkan rasionalitasnya sendiri demi mengejar ilusi kepemilikan.

Secara struktural, angka sembilan yang menjadi jumlah pembagian bab dalam novel ini mengikuti pola naratif alegori moralitas klasik. Setiap bab berfungsi sebagai eskalasi kuantitatif dari kepemilikan tanah Pahom yang berbanding lurus dengan kemerosotan kualitas jiwanya. Perjalanan Pahom dari memiliki 20 dessiatin di desa asalnya, naik menjadi 50 dessiatin di Samara, hingga impian menguasai ribuan dessiatin di wilayah Bashkir, merupakan sebuah deret ukur keserakahan yang secara matematis dirancang Tolstoy untuk berakhir pada angka nol di bab kesembilan. Melalui kontras angka-angka inilah Tolstoy menelanjangi ironi kapitalisme agraria awal di Rusia. Ketika Pahom berlari hingga paru-parunya pecah dan ia memuntahkan darah di titik akhir, Tolstoy tidak hanya sedang menceritakan kematian seorang petani fiktif, melainkan sedang mencatat data klinis mengenai bagaimana modernitas dan nafsu akumulasi kapital dapat membunuh kemanusiaan seseorang, meninggalkan sebuah traktat moral yang tetap valid bahkan ketika dunia telah bergeser dari perebutan tanah fisik menuju perebutan aset digital yang tanpa batas.

 Pada akhirnya, eksperimen sastra dan moral yang dilakukan Leo Tolstoy dalam novel ini berhasil menelanjangi paradoks terbesar dalam eksistensi manusia. Melalui perpaduan yang solid antara potret sosiologis Rusia abad ke-19, kritik tajam terhadap materialisme global, dan kedalaman teologis pasca-krisis spiritualnya, Tolstoy tidak sekadar menyajikan sebuah cerita tragis tentang seorang petani yang serakah. Ia sedang menyodorkan sebuah cermin besar bagi setiap generasi untuk merefleksikan batas antara kecukupan dan keserakahan. Kisah Pahom yang berakhir tragis di bawah bayang-bayang tawa Iblis menegaskan bahwa ambisi yang tidak terkendali pada akhirnya akan mempersempit ruang hidup manusia itu sendiri. Ketika seluruh pencarian keduniawian yang melelahkan itu mengerucut pada sebidang tanah sempit sepanjang tiga elo, novel ini menutup narasinya dengan sebuah kesimpulan tegas yang abadi: kebutuhan sejati manusia di dunia ini sangatlah bersahaja, dan esensi sejati dari kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak yang mampu kita kuasai dari bumi, melainkan tentang bagaimana kita menjaga martabat jiwa sebelum akhirnya kembali bersatu dengan tanah.

 

Friday, July 10, 2026

Catatan Pinggir Warung: Pram Bukan Menulis, tapi Berak

Pram Bukan Menulis, tapi Berak

Catatan Pinggir Warung John Koplo

Saya membayangnkan hidup jadi seorang Pramoedya Ananta Toer, saya tidak sanggup. Betapa tidak, cobaan rintangan yang beliau hadapi sungguh di luar nalar akal waras manusia pada jamannya. bagaimana dia bisa menulis di saat dunia sekitarnya tidak menghendaki atau katakanlah mengharamkan dirinya untuk menulis setitik tanda pun. Tetralogi pulau buru termasuk buku yang saya beli waktu jaman kuliah dulu di kampus Universitas Indonesia, buku asli empat jilid masih segel utuh dan langsung saya bayar tanpa nego ini itu anu terlebih dahulu. Di sampul empat novel mahakarya sastra Indonesia tersebut tertulis: SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA. Ckckck saya berdecak kagum seraya mengumpat:

Gila! Saya bilang, kok ada manusia semacam Pram yang menulis tidak wajar, yaitu membagikan kisah dalam novelnya kepada teman-temannya sesama di penjara Pulau Buru. Belum ada tercatat dalam sejarah dunia manapun tentang progres penulisan buku dengan metode semacam ini, aneh bin ajaibnya Pram mampu bercerita semau dia soal dari A sampai Z tentang ideologi, bangsa, cinta, konflik sosial dan sebagainya dengan bahasa yang efektif dan tidak mubazir serta nyaris sempurna indah. Mungkin saja jika boleh berandai-andai, kalau kelakar saya hiperbola adalah soal cara menulis model Pram ini nyaris semacam periwayatan jalur hadis melalui orang-orang (riwayat dan dirayat) seperti dalam ilmu mustalah hadis, sebuah cabang ilmu adiluhur dalam agama Islam yang membahas periwayatan isi berita dan sekaligus siapa yang memberitakan.

Sebuah ironi yang paling mengiris hati: ia dikurung di sebuah pulau yang gersang, terisolasi dari peradaban, tanpa pena, tanpa kertas, bahkan di bawah ancaman laras senapan yang siap menyalak kapan saja jika ia ketahuan menorehkan sepatah kata. Logika awam kita akan berpikir, "Selesai sudah. Kreativitas mati di sini." Namun, Pram justru membuktikan bahwa ketika hak seorang penulis dirampas sampai ke titik nol, kepala dan suaranyalah yang mengambil alih menjadi mesin ketik paling tangguh di dunia.

Metode bertutur lisan kepada sesama tapol (tahanan politik) di Barak Commando Pulau Buru itu bukan sekadar cara menghabiskan waktu, melainkan sebuah strategi bertahan hidup—sebuah pembangkangan budaya yang paling sublim. Minke, Nyai Ontosoroh, dan seluruh pergolakan awal abad ke-20 itu ditiupkan Pram lewat udara malam yang dingin, dihafal secara kolektif oleh kepala-kepala yang lelah setelah seharian dipaksa kerja rodi. Pram menanamkan cerita itu di benak kawan-kawannya, menjadikan ingatan mereka sebagai "brankas hidup" agar jika esok hari ia mati dibunuh, kisah itu tidak ikut terkubur tanah Buru.

Dunia sastra global memang punya sejarah panjang tentang tulisan dari balik jeruji besi—mulai dari Don Quixote karya Cervantes hingga surat-surat Antonio Gramsci. Namun, menulis empat seri novel epik setebal ribuan halaman, yang lahir dari penuturan lisan tanpa catatan kaki, tanpa perpustakaan untuk riset, lalu diselundupkan lembar demi lembar keluar pulau terpencil dengan bantuan para penjaga yang bersimpati... itu sudah bukan lagi sekadar proses kreatif. Itu adalah mukjizat literasi.

Ketepatan bahasa Pram yang "tidak mubazir" itu justru lahir karena keterbatasan tersebut. Ketika setiap lembar kertas curian taruhannya adalah nyawa, Anda tidak akan menyia-nyiakan ruang untuk kalimat yang menye-menye atau deskripsi yang kosong. Setiap kata yang dipilih Pram harus bertenaga, harus menusuk langsung ke jantung persoalan: tentang bagaimana sebuah bangsa perlahan-lahan merangkak lahir dari rahim kolonialisme, tentang cinta yang tumbuh di tengah benturan kelas, dan tentang harga diri manusia yang menolak tunduk pada tirani.

Maka, tulisan "SUMBANGAN PRAM UNTUK DUNIA" ditulis besar-besar di sampul buku yang saya beli di UI dulu itu sama sekali tidak hiperbolis. Itu adalah pernyataan fakta. Pram tidak sekadar menyumbang empat jilid novel fiksi; ia menyumbangkan sebuah bukti konkret kepada sejarah umat manusia bahwa ideologi dan kebebasan berpikir tidak akan pernah bisa dipenjara oleh jeruji besi sekokoh apa pun, atau oleh rezim sekejam apa pun. Ketika Anda memegang buku yang masih bersegel utuh itu, Anda sebenarnya sedang memegang sepotong kemenangan mutlak dari akal budi manusia atas kebebalan kekuasaan.

Bagi kritikus atau sastrawan sealiran Idrus, gaya menulis Pram pada masa-masa tertentu dianggap terlalu "kotor", mentah, agresif, dan blak-blakan dalam memotret realitas sosial yang kelam. Mereka yang mendewakan estetika bahasa yang rapi, puitis, dan borjuis melihat tulisan Pram seperti luapan emosi yang tidak disaring—makanya muncullah sinisme vulgar tersebut.

Tapi di situlah letak ironinya. Sesuatu yang dicap "kotoran" oleh para penentangnya justru menjadi pupuk paling subur bagi kesadaran berbangsa kita. Pram tidak tertarik menulis keindahan yang menipu. Dia menulis dengan amarah, keringat, dan darah. Kebalikan dari tuduhan Idrus, tulisan Pram justru sangat presisi dan terstruktur, seperti yang bisa kita buktikan sendiri lewat konstruksi epik Tetralogi Buru.

Saya masih ingat waktu jaman kuliah dulu pernah dikasih Film Memoar Pram selundupan teman saya yang konon dia nyolong dari laptop dosen saya waktu sang dosen ijin ke toilet, di sana saya semakin kenal siapa Pram yang kata gurunya yaitu Abdullah Idrus sang pujangga klasik sebuah kalimat tazkiah bahwa “Pram bukan menulis, tapi berak" yang menjadi salah satu friksi paling legendaris sekaligus kasar dalam sejarah sastra kita. Kalimat itu keluar saat tensi polemik kebudayaan di era 1950-an sampai 1960-an lagi panas-panasnya, terutama antara kubu Lekra (tempat Pram bernaung) dan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Saya sangat merasakan sekaligus menikmati atmosfer khas mahasiswa humaniora pada masanya. Menonton Pram saat itu—di era ketika karya-karyanya masih dilarang keras oleh Kejaksaan Agung—memang butuh nekat. Ada sensasi magis sekaligus menegangkan ketika menyaksikan sosok tua yang ringkih, dengan pendengaran yang sudah berkurang akibat siksaan sipir, tapi tatapan matanya masih sekeras baja saat bicara tentang kemanusiaan. Lewat dokumenter-dokumenter selundupan seperti itu, kita disadarkan bahwa Pram bukan cuma mitos sastra di atas kertas. Dia adalah manusia daging dan darah yang keras kepala, yang tetap merokok kretek dengan tenang sambil mengetik, bahkan setelah mesin ketik kesayangannya berkali-kali dihancurkan oleh sejarah.

Makanya saya agak meradang sekaligus kecewa ketika Bumi Manusia dipentaskan di layar lebar yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Tidak sepadan rasanya ketika sebuah mahakarya sastra yang lahir dari penderitaan berdarah-darah di Pulau Buru diterjemahkan ke dalam racikan sulap industri sinema pop, ada sesuatu yang terasa pincang, bahkan nyaris seperti "pembajakan" substansi.

Tetralogi Buru, khususnya Bumi Manusia, bukanlah sekadar cerita romansa remaja antara Minke dan Annelies. Itu adalah sebuah manifesto politik. Itu adalah catatan sosiologis tentang bagaimana kapitalisme global, hukum kolonial yang rasis, dan feodalisme Jawa bersekongkol menindas manusia. Annelies bukan sekadar pacar yang cantik; dia adalah simbol Hindia Belanda—tanah air yang molek, rapuh, dieksploitasi, dan akhirnya dirampas paksa oleh hukum Eropa.

Namun, apa yang saya lihat di layar lebar berdurasi 3 jam itu?

Hanung, dengan segala tuntutan pasar dan produser (Falcon Pictures), cenderung menggeser fokusnya menjadi drama romantis yang megah, glossy, dan terlalu rapi. Estetika visualnya sangat sinetronis. Rumah Nyai Ontosoroh yang di dalam buku digambarkan sebagai tempat pergolakan pemikiran yang tegang dan penuh martabat, di film berubah seperti set studio yang terlalu bersih, baru dicat, dan kehilangan atmosfer historisnya. Pemilihan aktor utama yang saat itu lekat dengan citra idola remaja (Iqbaal Ramadhan) semakin mempertegas bahwa film ini memang disasar untuk pasar penonton yang mungkin belum pernah menyentuh satu halaman pun buku Pram.

Kabar bahwa durasi aslinya mencapai 5 jam lalu dipotong menjadi 3 jam sebenarnya adalah pengakuan tidak langsung akan kegagalan format. Hanung terjebak dalam ambisi untuk memasukkan semua kejadian di buku agar pembaca setia tidak protes, tapi di saat yang sama harus menjaga ritme agar penonton bioskop tidak bosan. Hasilnya? Sebuah kompromi yang tanggung. Tiga jam yang melelahkan bagi penonton awam, namun terasa dangkal dan terburu-buru bagi orang yang mendalami bukunya. Dialog-dialog filosofis Minke dan Jean Marais tentang kemanusiaan dan seni terasa seperti hafalan teks yang dilempar cepat demi mengejar durasi. Menonton Bumi Manusia versi Hanung seperti melihat Pram yang garang dan penuh amarah itu dipakaikan baju jas modern yang rapi, diberi parfum, lalu disuruh duduk manis di mal. Ketajaman kritik Pram tentang "Modernitas" yang menindas justru dilunakkan menjadi sekadar komoditas tontonan yang estetik.

Bagi orang yang tahu bagaimana susahnya lembar-lembar naskah itu diselundupkan keluar dari Buru, melihat hasilnya dikemas menjadi drama romansa remaja komersial memang memicu rasa dongkol yang luar biasa. Pram menulis untuk mengguncang kesadaran bangsa, bukan untuk membuat penonton bioskop baper di malam minggu.

Sastra kita hari ini sering kali terjebak dalam dua kutub yang sama-sama berjarak dari realitas: kalau tidak terlalu sibuk mengurusi estetika linguistik yang rumit dan elitis di ruang-ruang diskusi akademis yang eksklusif, ya jatuh ke industri pasar komersial yang isinya tulisan-tulisan instan minim riset demi mengejar tren digital atau algoritma media sosial. Karya sastra yang lahir dari rahim jaman memerlukan taruhan. Pram bertaruh nyawa dan kebebasan; Rendra bertaruh cekal; Remy bertaruh kemapanan demi idealisme; Chairil bertaruh seluruh sisa umurnya. Ketika taruhan-taruhan personal seperti itu hilang dari dada para penulis hari ini, yang tersisa memang hanyalah deretan buku-buku rapi di toko modern yang gagal menangkap getaran zaman—buku-buku yang ditulis tanpa amarah, tanpa kegelisahan, dan tanpa risiko apa pun.

Kegelisahan saya semacam ini sempat saya keluhkan kepada rekan saya, Arief Darmawan lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia yang kerap saya panggil Arief D Kiwil mirip jagoan di film One Piece namun asal Cibubur Jakarta Timur yang doyan menikmati macet Jakarta. Panggilan "Arief D Kiwil" dengan inisial "D" khas klan penyandang takdir di One Piece itu benar-benar sarkasme yang jenius untuk seorang lulusan Sastra UI asal Cibubur. Di dunia Luffy, Will of D adalah tekad para pemberontak yang siap mengguncang tatanan dunia. Sementara bagi kawan Anda, tekad "D" itu diuji setiap hari lewat cara yang paling brutal: menjinakkan kemacetan menggila di jalur Transyogi hingga Cawang. Menikmati macet Jakarta dengan latar belakang ilmu sastra itu sudah masuk level stoikisme tingkat tinggi.

Naga-naganya keluhan saya kepada seorang lulusan Sastra UI adalah alamat yang sangat tepat. Anak-anak rumpun sastra—apalagi dari almamater tempat saya pernah membeli Tetralogi Buru dulu—pasti paham betul anatomi kegelisahan ini. Mereka dididik dengan membaca naskah-naskah kanon yang berdarah-darah, lalu ketika menengok realitas hari ini, mereka harus menyaksikan sastra yang kehilangan taringnya di hadapan industri pop dan algoritma digital. Saya meyakini dengan format haqqul yaqin bahwa Arief D Kiwil pasti mengamini saat saya meratapi nasib Bumi Manusia versi Hanung atau merindukan kegilaan mbeling ala Remy Sylado. Sebagai orang yang mempelajari teks dan konteks zaman, dia tahu bahwa kemacetan Jakarta yang dia nikmati setiap hari itu sebenarnya adalah metafora yang pas untuk kondisi kebudayaan kita sekarang: padat, bising, bergerak merayap tanpa arah yang jelas, dan melelahkan bagi siapa saja yang masih memelihara akal sehat.

Kehilangan ruh yang saya rasakan itu sebenarnya adalah dampak langsung dari runtuhnya dinding pembatas antara ruang kreatif dan mesin pasar. Sastra Indonesia hari ini tidak lagi dilahirkan oleh para martir yang gelisah memikirkan arah bangsa, melainkan diproduksi oleh individu-individu yang sibuk memikirkan bagaimana caranya agar tulisan mereka bisa dikonsumsi dengan cepat dan mudah. Ketika Pramoedya menulis dengan taruhan nyawa, atau Chairil Anwar mengacak-acak tatanan bahasa demi kemerdekaan individu, mereka menempatkan sastra sebagai pemantik kesadaran politik dan sosial. Sementara sekarang, sastra kerap kali turun kasta menjadi sekadar komoditas hiburan atau instrumen kurasi estetik di media sosial yang sifatnya sangat fana dan berjarak dari realitas jalanan yang bising dan macet.

Ruh itu menguap karena para penulis masa kini cenderung bermain aman di dalam zona nyaman mereka. Alih-alih melakukan riset mendalam seperti yang dilakukan Remy Sylado atau menyuarakan protes sosial yang menggelegar layaknya WS Rendra, generasi baru ini lebih sering terjebak dalam sekat-sekat drama domestik yang picisan atau eksperimen bahasa yang elitis namun hampa makna. Kritik sastra yang dulunya tajam dan mematikan kini berubah menjadi ajang saling puji yang ewuh pakewuh di ruang-ruang diskusi akademis yang eksklusif. Kita merindukan tulisan yang memiliki bobot amarah dan risiko, namun industri justru menuntut keseragaman yang ramah bagi algoritma dan tidak menyinggung siapa pun.

Pada akhirnya, apa yang tersisa di toko-toko buku modern hanyalah deretan sampul yang estetik dengan isi yang gagal menangkap getaran zaman. Sastra Indonesia yang harusnya jadi identitas bangsa sedang mengalami krisis eksistensial yang akut karena kehilangan fungsi utamanya sebagai cermin retak yang memantulkan kebobrokan realitas. Ketika sebuah karya sastra tidak lagi memicu kegelisahan, tidak lagi menantang kekuasaan, dan tidak lagi berani bertaruh apa-apa, maka ia hanyalah tumpukan kertas mati yang menunggu untuk dilupakan. Cerita kegelisahan saya kepada kawan dari Cibubur itu itu adalah sinyal peringatan yang valid bahwa tanpa adanya keberanian untuk kembali ke jalanan dan bergesekan dengan kenyataan yang pahit, sastra Indonesia akan terus berjalan di tempat, terjebak dalam kemacetan gagasannya sendiri tanpa pernah tahu ke mana arah tujuan yang ingin dicapai.

 []

 

Thursday, July 9, 2026

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib (Revisi)

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib

RM Kencrot

Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

 

Yang dimaksud dengan ayat ini disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 278), “Jika kalian tidak mampu menghitungnya, lebih-lebih untuk mensyukuri semuanya. Namun kekurangan dan kedurhakaan kalian masih Allah maafkan (bagi yang mau bertaubat, -pen), Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan dalam kitab tafsirnya (4: 675), “Allah benar-benar memaafkan kalian. Jika kalian dituntut unutk mensyukuri semua nikmat yang Allah beri, tentu kalian tidak mampu mensyukurinya. Jika kalian diperintah untuk mensyukuri seluruh nikmat tersebut, tentu kalian tidak mampu dan bahkan enggan untuk bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah itu zholim. Akan tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”

Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Sesungguhnya Allah memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali taat dan ingin menggapai ridho Allah, Dia sungguh menyayangi kalian dengan ia tidak akan menyiksa kalian setelah kalian betul-betul bertaubat.” Demikian beliau sebutkan dalam Jami’ul Bayan fii Ta’wil Ayyil Qur’an, 8: 119.

Muhammad Al Amin Asy Syinqithi menjelaskan, “Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak mampu menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu setelahnya Allah sebutkan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan atas kekurangan manusia dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Namun Allah masih mengampuni siapa saja yang bertaubat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat. Hal ini diisyaratkan pula dalam ayat,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34). Setiap nikmat memang dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya dari surat An Nahl,

 

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl : 53). (Lihat Adhwaul Bayan, 3: 231).

 

Dalam ayat ini pula, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi memberikan pelajaran kaedah bahasa Arab bahwa isim mufrod jika disandarkan pada isim ma’rifah, maka menunjukkan makna umum. Semisal dalam ayat ini kata “ni’mat Allah”. Nikmat itu mufrod (tunggal), lafazh jalalah “Allah” adalah isim ma’rifah. Jadi yang dimaksud adalah seluruh nikmat, bukan hanya satu nikmat saja.

Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?

Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.

Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.

Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia.  Imaji yang diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.

Maka dari itu Allah Ar Rahman Ar Rahim utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.

Kisah keteladanan Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar bahan bacaan atau kekaguman historis, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk diikuti (ittiba'). Generasi terbaik umat ini, para Salafus Shalih, mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak tegak di atas filsafat atau logika yang mengawang-awang, melainkan di atas kepatuhan yang tunduk dan berserah diri secara penuh (taslim).

Imam Asy-Syafi'i pernah berkata bahwa fondasi agama ini adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik. Ketika akal kita yang terbatas ini menyadari betapa lemahnya diri kita—bahkan hanya untuk urusan mengeluarkan kotoran dari perut—maka di situlah kesombongan harus runtuh.

Para ulama salaf terdahulu, ketika melihat nikmat yang tampak sepele, mereka akan menangis karena takut tidak mampu mensyukurinya. Dikisahkan dalam Hilyatul Auliya', Ibnu Sammak pernah masuk menemui Khalifah Harun Ar-Rasyid yang saat itu sedang memegang segelas air untuk minum. Ibnu Sammak bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, jika Anda dihalangi dari meminum air ini, dengan apa Anda akan menebusnya?" Khalifah menjawab, "Dengan setengah kerajaanku." Setelah minum, Ibnu Sammak bertanya lagi, "Jika air itu tertahan di dalam perutmu (tidak bisa keluar), dengan apa Anda akan menebusnya?" Beliau menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku." Ibnu Sammak lalu berkata, "Sungguh, kerajaan yang harganya tidak lebih dari segelas air dan buang air tidak layak untuk diperebutkan."

Perenungan salaf murni mengarahkan akal untuk tunduk pada wahyu, bukan menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu. Terhadap perkara gaib yang Anda sebutkan tadi—tentang sifat Allah, surga, dan neraka—kaidah Salafus Shalih sangat tegas: kita mengimaninya sebagaimana teks itu datang, tanpa menyerupakannya dengan makhluk (tasybih), tanpa menolak maknanya (ta'thil), dan tanpa membagaimanakan bentuknya (takyif).

Sebagaimana perkataan Imam Malik yang sangat masyhur ketika ditanya tentang bagaimana Allah bersemayam (istiwas):

"Istiwa itu maknanya telah diketahui, bagaimananya tidak dapat dijangkau akal, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakannya (secara mendalam/menggugat) adalah bid'ah."

Maka, setelah azan Maghrib berkumandang dan hidangan berbuka telah menyegarkan tenggorokan, akhir dari perenungan lima menit sebelum berbuka tadi adalah sebuah kesadaran iman. Bahwa setiap tarikan napas, setiap detak jantung, dan setiap suapan makanan adalah utang syukurnya seorang hamba yang tak akan pernah lunas. Jalan satu-satunya untuk selamat dari kekufuran adalah dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah, serta berjalan di atas syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dengan pemahaman para sahabat beliau. Karena sungguh, beragama dengan akal tanpa bimbingan wahyu dan manhaj yang lurus hanya akan membawa manusia pada kesesatan.

Melanjutkan estafet perenungan tersebut, para ulama Salafus Shalih senantiasa memandang bahwa kesadaran akan kelemahan fisik manusia adalah pintu gerbang menuju ketundukan batin yang paling dalam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahkan secara spesifik mengulas adab dan hikmah di balik urusan buang hajat ini, di mana beliau menjelaskan bahwa ketika seorang hamba mengeluarkan kotoran dari perutnya, ia seharusnya merenungkan betapa hinanya dunia dan makanan yang tadinya lezat namun akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan, sekaligus menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah memisahkan sari makanan yang bermanfaat bagi tubuh dan membuang ampas yang berbahaya. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasa takut (khauf) yang proporsional di dalam hati mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam banyak risalahnya menegaskan bahwa ibadah yang agung senantiasa tegak di atas dua pilar utama, yaitu cinta yang sempurna (kamalul hubb) kepada Allah dan ketundukan yang mutlak (kamaluz dzull) di hadapan-Nya, yang mana kedua pilar ini tidak akan pernah tercapai jika seorang manusia masih memelihara kesombongan intelektual atau merasa bisa hidup mandiri tanpa ketergantungan penuh kepada Sang Pencipta.

Lebih jauh lagi, para ulama salaf mengajarkan agar setiap nikmat yang dirasakan, sekecil apa pun itu, langsung dikembalikan kepada tauhid dan rasa syukur, bukan sekadar dipikirkan secara logika spekulatif. Imam Hasan Al-Bashri sering kali mengingatkan murid-muridnya bahwa banyak manusia yang binasa justru karena mereka tenggelam dalam limpahan nikmat dari Allah, namun akal mereka lalai untuk menyukuri dan menganggap semua itu terjadi hanya karena hukum alam atau usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa setelah keluar dari kamar mandi yang berbunyi "Ghufronaka" (Aku memohon ampunan-Mu), para ulama menjelaskan hikmah mendalam di balik doa singkat tersebut; salah satunya adalah karena seorang hamba menyadari bahwa sekencang apa pun ia berusaha, ia tidak akan pernah mampu membayar tunai hak syukur atas nikmat pencernaan yang lancar dan kesehatan yang ia terima selama berada di dalam toilet tadi. Pada akhirnya, manhaj salaf menuntun kita semua untuk menutup setiap perenungan akal dengan aksi nyata: memperbanyak istighfar atas kelalaian kita, mempertebal ketakwaan, dan menyandarkan seluruh urusan hidup—mulai dari perkara perut hingga perkara akhirat—hanya kepada syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Adapun mengenai hakikat nikmat yang melekat pada tubuh, manhaj Salafus Shalih mengajarkan sebuah konsep radikal mengenai apa yang sebenarnya "benar-benar milik kita" di dunia ini. Sering kali manusia merasa bahwa rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau tabungan yang menumpuk di bank adalah mutlak miliknya. Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan cara pandang keliru ini lewat sebuah hadis yang sangat menyentuh hati, yang membatasi hakikat nikmat duniawi yang kita miliki hanya pada tiga perkara: pakaian yang usang, makanan yang habis, dan harta yang disedekahkan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Asy-Syikhkhir radiallahu 'anhu, beliau berkata:

"Aku mendatangi Nabi ﷺ dan beliau sedang membaca ayat 'Al-haakumut-takaatsur' (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu). Kemudian beliau ﷺ bersabda: 'Manusia berkata: Hartaku! Hartaku! Padahal tidak ada bagian dari hartamu wahai manusia, kecuali apa yang kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kamu pakai lalu kamu usangkan, atau apa yang kamu sedekahkan lalu kamu kekalkan (di akhirat).'

Para ulama salaf ketika menjabarkan hadis ini memberikan catatan kaki yang sangat mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini adalah tamparan keras bagi manusia yang hobi menumpuk harta tanpa tujuan akhirat. Beliau memaparkan bahwa dari seluruh nikmat materi yang kita kejar setengah mati di dunia ini, yang menjadi hak milik sejati kita dan mendatangkan manfaat hanyalah tiga hal tersebut. Dua di antaranya (makanan dan pakaian) bersifat fana dan akan lenyap di dunia, sedangkan hal ketiga—yaitu harta yang disedekahkan—adalah satu-satunya investasi yang abadi, yang nilainya akan terus berlipat ganda dan menyambut kita di alam kubur serta mahsyar nanti.

Sejalan dengan itu, Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wal Hikam mengingatkan bahwa seorang mukmin yang cerdas tidak akan tertipu oleh angka-angka di atas kertas atau aset yang tidak dibawanya mati. Beliau menekankan bahwa makanan yang kita nikmati saat berbuka puasa dan pakaian yang menempel di badan kita saat ini, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban (hisab) dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan. Sebaliknya, apa yang kita keluarkan untuk sedekah justru telah terbebas dari beban hisab duniawi dan berubah menjadi naungan yang sejuk di hari kiamat. Melalui pemahaman para ulama salaf ini, kita diajak untuk menata kembali prioritas hati kita: menikmati makanan dan pakaian secukupnya sebagai sarana ibadah, dan mengalirkan sisa rezeki ke jalur sedekah agar nikmat tersebut sifatnya abadi dan tidak selesai begitu saja di liang lahat.

Melanjutkan jejak spiritual generasi terbaik ini, sejarah mencatat betapa para ulama Salafus Shalih memiliki tingkat sensitivitas yang luar biasa tinggi terhadap nikmat yang sering dianggap sepele oleh manusia modern. Di mata mereka, tidak ada nikmat yang "kecil", karena setiap nikmat bersumber dari Dzat Yang Maha Besar. Kesadaran ini tercermin erat dalam perilaku keseharian mereka, mulai dari cara mereka memandang seteguk air, sebutir kurma, hingga hembusan napas yang lancar.

Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah perilaku Al-Fudhail bin 'Iyadh, seorang ulama besar yang dikenal dengan zuhudnya. Suatu ketika, beliau memegang sebuah roti kecil, lalu beliau menangis tersedu-sedu hingga janggutnya basah. Ketika murid-muridnya bertanya apa yang membuat beliau menangis, beliau menjawab bahwa beliau takut tidak mampu menunaikan hak syukur atas sepotong roti tersebut, karena di dalam sepotong roti itu terdapat jerih payah banyak makhluk Allah—mulai dari petani yang menanam gandum, awan yang membawa hujan, matahari yang menyinarinya, hingga tukang roti yang membakarnya. Bagi Al-Fudhail, sepotong roti adalah orkestrasi besar dari alam semesta yang digerakkan Allah hanya untuk mengenyangkan perutnya yang kecil.

Contoh kelembutan hati lainnya ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan oleh para perawi sejarah, ketika beliau mencium bau wangi dari minyak kasturi milik kas negara (Baitul Mal), beliau segera menutup hidungnya dengan pakaian beliau. Ketika orang-orang di sekitarnya heran dan bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, sang khalifah yang zahid ini menjawab, "Sesungguhnya manfaat dari minyak kasturi ini hanyalah aromanya, dan aku khawatir aku telah memakan hak kaum muslimin (menikmati fasilitas negara) melalui indra penciumanku secara batil." Bagi Umar bin Abdul Aziz, bisa menikmati aroma wangi adalah sebuah nikmat, dan beliau sangat berhati-hati agar nikmat indra tersebut tidak menjadi beban hisab yang berat di hadapan Allah kelak.

Begitu pula dengan sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari radiallahu 'anhu. Beliau pernah ditanya oleh seseorang mengapa beliau terlihat sangat bahagia padahal di rumahnya hampir tidak ada perabot berharga atau makanan yang mewah. Beliau kemudian mengambil segelas air putih dan sepotong roti kering, lalu bersabda, "Bagaimana aku tidak bahagia, sedangkan setiap hari aku bangun dalam keadaan aman di rumahku, tubuhku sehat, dan aku memiliki makanan untuk hari ini? Sungguh, demi Allah, dunia dan seluruh isinya telah dikumpulkan untukku." Pandangan ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dianugerahkan kepadanya. Melalui contoh-contoh nyata dari para salaf ini, kita diajak untuk melatih mata dan hati kita agar selalu mampu melihat kebesaran Allah di balik hal-hal yang sederhana, sehingga setiap aktivitas sepele—termasuk kelancaran buang hajat yang Anda renungkan di toilet tadi—selalu berbuah sujud syukur yang tulus.

Sebaliknya, para ulama Salafus Shalih juga memberikan peringatan keras melalui lisan dan catatan sejarah mereka tentang bahaya laten dari kekufuran—terutama sikap meremehkan dosa atau mengabaikan nikmat yang dianggap kecil. Di mata mereka, tidak ada kekufuran yang sepele. Menganggap remeh sebuah nikmat, sekecil apa pun itu, adalah langkah awal menuju hilangnya keberkahan dan datangnya murka Allah.

Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitabnya, Asy-Syukr, meriwayatkan sebuah nasihat yang sangat menggetarkan dari salah seorang ulama tabi'in terkemuka, Bilal bin Sa'id. Beliau pernah mengingatkan murid-muridnya dengan perkataan yang masyhur:

"Janganlah kamu melihat pada kecilnya suatu kemaksiatan (atau kekufuran), tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat."

Bagi generasi salaf, ketika seorang hamba meremehkan satu suap makanan yang terbuang, atau mengeluh karena rasa makanan yang kurang sesuai selera, ia tidak sedang sekadar berhadapan dengan makanan tersebut, melainkan sedang menunjukkan sikap kurang beradab kepada Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Contoh nyata mengenai dampak buruk dari kekufuran yang dianggap kecil ini dikisahkan dalam riwayat tentang penduduk sebuah negeri yang awalnya hidup dalam kelimpahan. Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat mengulas surat An-Nahl ayat 112—tentang negeri yang aman dan tenteram lalu kufur terhadap nikmat Allah—menyebutkan bahwa bentuk awal kekufuran mereka sering kali dimulai dari hal-hal yang dianggap lumrah dalam keseharian: yaitu menyia-nyiakan makanan karena merasa pasokan selalu ada. Mereka mulai membuang sisa makanan ke tempat kotoran, membiarkan roti membusuk karena bosan, hingga akhirnya Allah mencabut rasa aman dan menimpakan bencana kelaparan. Di tingkat personal, para ulama salaf seperti Sufyan Ats-Tsauri bahkan merasa takut jika suatu hari beliau telat menghadiri salat berjamaah atau mengalami kebuntuan dalam memahami satu ayat Al-Qur'an; beliau akan langsung bermasabah diri dan berkata, "Aku tahu, ini pasti akibat dari satu tawa yang berlebihan atau satu suap makanan syubhat (yang tidak disyukuri dengan benar) yang aku lakukan beberapa waktu lalu."

Sikap berhati-hati ini juga tercermin dari bagaimana para sahabat memandang pergeseran perilaku generasi setelah mereka. Sahabat Anas bin Malik radiallahu 'anhu pernah berkata kepada para tabi'in pada masanya:

"Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang di mata kalian hal itu lebih tipis dari sehelai rambut (dianggap remeh/kecil), padahal kami di zaman Rasulullah ﷺ menganggap amalan tersebut sebagai hal yang membinasakan." (HR. Bukhari).

Dari contoh kebalikannya ini, pemahaman salaf menuntun kita pada satu kesimpulan yang tegas: kekufuran kecil berupa keluhan, sifat manja terhadap fasilitas hidup, serta meremehkan sisa makanan atau nikmat sehat, adalah racun yang perlahan namun pasti akan mengeraskan hati. Jika kelancaran buang hajat dan seteguk air di waktu Maghrib tadi gagal memicu rasa syukur, maka di situlah letak titik awal kekufuran yang harus segera kita obati dengan istighfar dan taubat yang sungguh-sungguh.

Melanjutkan untaian perenungan ini, manhaj Salafus Shalih juga memberikan rambu-rambu yang sangat ketat mengenai perkara syubhat (perkara yang samar-samar atau tidak jelas halal-haramnya) dalam memandang dan memperlakukan nikmat. Di era modern, manusia sering kali berpikir bahwa selama suatu nikmat materi atau fasilitas hidup sudah berada di tangan mereka, maka mereka bebas menikmatinya tanpa perlu memikirkan asal-usul atau dampak spiritualnya. Namun, bagi para ulama salaf, nikmat yang tercampur dengan syubhat adalah ujian keimanan yang sangat berat, karena ia bisa menjadi hijab (penghalang) antara seorang hamba dengan kekhusyukan ibadah dan terkabulnya doa.

Rasulullah ﷺ telah meletakkan kaidah emas dalam masalah ini melalui hadis riwayat Nu’man bin Basyir radiallahu 'anhu yang sangat masyhur:

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatannya..." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks nikmat sehari-hari, para ulama salaf menerapkan hadis ini dengan tingkat kewaspadaan (wara') yang sangat tinggi. Mereka memahami bahwa nikmat makanan yang masuk ke dalam perut, atau pakaian yang melekat di badan, jika bersumber dari sesuatu yang syubhat, akan merusak orientasi akal sehat dan melahirkan kemalasan dalam beribadah.

Imam Ahmad bin Hanbal—yang dikenal sebagai salah satu imam ahlul hadis dan teladan dalam sifat wara’—pernah ditanya oleh seseorang tentang apa yang bisa melunakkan hati. Beliau tidak menjawab dengan menganjurkan banyak membaca buku filsafat atau retorika, melainkan menjawab singkat: "Dengan memakan makanan yang halal." Bagi Imam Ahmad, kemurnian nikmat yang dikonsumsi berbanding lurus dengan kelembutan hati manusia. Jika makanan yang dimakan saat berbuka puasa di RM Kencrot atau di rumah kita bersumber dari harta yang syubhat, maka energi yang dihasilkan dari makanan tersebut cenderung akan mendorong tubuh untuk melakukan kemaksiatan atau minimal melahirkan kelalaian.

Kisah yang paling menggetarkan tentang menjaga diri dari syubhatnya nikmat ini datang dari Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radiallahu 'anhu. Suatu hari, pelayan beliau membawakan makanan, dan Abu Bakar pun memakannya satu suapan. Setelah itu, sang pelayan bertanya, "Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?" Abu Bakar balik bertanya, "Dari mana?" Pelayan itu menjawab bahwa di masa jahiliyah dulu, ia pernah meramal nasib seseorang dengan cara menipu, dan hari ini orang tersebut memberinya upah berupa makanan itu. Mendengar hal tersebut, Abu Bakar tidak berpikir, "Ah, ini kan sudah terlanjur tertelan," atau "Kan saya tidak tahu, jadi tidak apa-apa." Sebaliknya, beliau langsung memasukkan jarinya ke dalam kerongkongan dan berusaha sekuat tenaga memuntahkan kembali satu suapan makanan tersebut sampai perutnya kosong. Beliau lalu berdoa, "Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu atas apa yang terbawa oleh urat darahku dan apa yang bercampur dengan ususku dari makanan ini."

Dari pemahaman salaf yang lurus ini, kita diajak untuk menguji kembali setiap nikmat yang kita rasakan. Ketika kita duduk merenung—baik di bilik toilet maupun di meja makan—kita harus sadar bahwa nikmat pencernaan yang lancar, seteguk air yang segar, dan pakaian yang nyaman, baru akan bernilai ibadah yang murni jika jalurnya bersih dari syubhat. Menjaga diri dari yang syubhat adalah bentuk konkret dari rasa syukur yang hakiki, agar akal kita tetap sehat, pemahaman agama kita tetap lurus, dan setiap butir makanan yang masuk ke tubuh kita benar-benar berkah serta menjadi bahan bakar untuk sujud mengagungkan kuasa-Nya.

Sebagai muara akhir dari seluruh untaian perenungan ini, mari kita kembalikan ingatan kita pada momen lima menit yang krusial sebelum azan Maghrib berkumandang dimanapun di belahan bumi manapun di semesta ini. Ruang toilet yang sempit dan segelas air di meja makan sesungguhnya adalah madrasah iman yang nyata. Melalui perkara buang hajat yang lancar, seteguk air yang membasahi tenggorokan, pakaian usang yang menutup aurat, hingga benteng kokoh dalam menjauhi perkara syubhat, Allah ﷻ sedang meruntuhkan ego dan kesombongan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang fakir, yang keberlangsungan hidupnya bergantung penuh pada belas kasih-Nya dalam setiap tarikan napas dan detak jantung.

Manhaj Salafus Shalih telah memberikan kompas yang terang benderang bagi akal kita yang terbatas. Mereka mengajarkan bahwa puncak tertinggi dari pemahaman agama yang lurus bukan terletak pada kepiawaian berteori atau berfilsafat, melainkan pada ketundukan mutlak (taslim) kepada wahyu, pemurnian tauhid, serta keteladanan yang utuh (ittiba') kepada Nabi Muhammad ﷺ dari A sampai Z. Ketika seorang hamba mampu melihat kebesaran Allah di balik nikmat-nikmat yang dianggap sepele oleh dunia, maka hatinya akan senantiasa dipenuhi oleh rasa takut (khauf) akan hilangnya nikmat dan rasa harap (raja') akan kekalnya pahala di akhirat.

Maka sudah sepatutnya selayaknyalah setiap kali kita selesai menuntaskan hajat dan melangkah keluar, lisan kita tidak sekadar mengucap doa secara lisan, melainkan hati kita ikut bersujud sembari membisikkan rasa syukur yang mendalam. Kita memohon ampunan (Ghufronaka) atas segala kelalaian dalam mensyukuri nikmat-Nya yang tak terbilang. Semoga Allah ﷻ senantiasa mengaruniakan kepada kita akal yang sehat untuk mengambil pelajaran dari generasi terdahulu, menjaga jasad kita dari makanan yang syubhat, dan mengumpulkan kita bersama sebaik-baik contoh manusia, Rasulullah ﷺ, di dalam surga-Nya yang tak pernah terlihat oleh mata dan tak pernah terlintas di hati manusia. Wallahu a'lam bish-shawab.

 

Referensi Kitab:

·         Sahih Muslim, Kitab Azh-Zuhd war Raqa'iq (Kitab Zuhud dan Kelembutan Hati), nomor hadis 2958.

·         Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, nomor hadis 3354 (Imam At-Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan sahih).

·         Sunan An-Nasa'i, Kitab Al-Washaya (Wasiat), nomor hadis 3613.

·         Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 24.

·         Adhwa' al-Bayan fi Idhah al-Qur'an bi al-Qur'an

·         https://rumaysho.com/3347-tak-sanggup-menghitung-nikmat-allah.html