Friday, July 3, 2026

Bus PPD 213 dan Sepotong Bohong di Slipi

 

Bagian I: Fragmen dari Layar Retak

Ada masanya ketika sebuah hubungan diukur dari derit kursi bus kota dan sisa daya baterai gawai. Jakarta pada pertengahan Mei terasa begitu riuh, namun di dalam ruang obrolan itu, dunia menyusut hanya menjadi sepasang nama: Dea dan Darma. Kalau kamu hidup di jaman sebelum muncul program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasti familiar dengan yang namanya bus kota dengan pelbagai jurusan di ibukota, salah satunya bus kota PPD 213 jurusan Grogol – Kampung Melayu yang kesohor bukan karena nama daerah trayek jurusannya namun karena di bus ini konon tapi fakta banyak copet dengan cosplay layaknya orang kantoran berbaju rapi dan berdasi.

Semuanya dimulai dengan kepatuhan yang manis pada arah dan rute. Darma Jaya—atau yang dipanggil Darma—mengeja peta Jakarta dengan ketelitian seorang pemandu yang cemas. “PPD 213 Grogol-Kp. Melayu via Slipi,” tulisnya. PPD, Perusahaan Pengangkutan Djakarta, bus putih-dominan dengan logo Monas di badannya, menjadi jangkar pertama. Ada kecemasan khas urban yang diselipkan di sana: “Hati-hati banyak copetnya itu bus. Turun di Taman Suropati.”

Dea, dengan segala kepolosan manja anak kos yang belum seutuhnya akrab dengan aspal ibu kota, membalas dengan gumaman ringkas. “Mmm.” Ia lebih memilih taksi, pulang ke kos untuk mandi dan berdandan rapi. Di antara sela-sela waktu tunggu, mereka bertukar afeksi yang renyah—kecupan virtual pada kening, candaan tentang kecemburuan, hingga pesan protektif yang vulgar namun intim: “Jaga iman dan kemaluan! Kamu jangan lupa ibadah ya.”

Dunia mereka saat itu terasa aman, dibentengi oleh rutinitas harian: kelas kuliah pukul sembilan pagi, urusan buang air yang dilaporkan tanpa canggung, titipan mengunduh anime Shingeki no Kyojin versi terbaru di internet gratis kampus, hingga kejutan paket yang sampai ke kamar kos dan memicu ucapan cinta yang meluap-luap. Mereka adalah sepasang manusia yang saling mengunci perhatian di balik layar Blackberry dan telepon genggam kecil.

Namun, Jakarta punya cara sendiri untuk menguji jarak, dan teknologi sering kali menjadi saksi bisu bagaimana sebuah keretakan dimulai secara perlahan.

Juli datang membawa gerah yang berbeda. Romantisme bus PPD dan perhatian manis di Taman Suropati mendadak menguap, digantikan oleh jajaran teks yang dingin, tajam, dan defensif. Jarak digital yang awalnya merekatkan, kini justru mengekspos celah yang tak bisa dijembatani.

“Sampai detik ini kamu gak tahu salahmu apa, dan GAK MERASA SALAH…”

Kalimat itu meluncur pada suatu pagi di pertengahan Juli, memutus paksa sisa-sisa kehangatan Mei. Dea yang dulu manja telah berubah menjadi sosok yang terluka dan getir. Layar gawai bukan lagi tempat bertukar emoji ciuman, melainkan ruang sidang tempat bukti-bukti digital dibentangkan: sebuah akun Twitter yang mengikuti Ava Victoria, interaksi yang bertambah dengan Yumanissa, hingga perhatian kecil kepada seorang wanita bernama Raisa.

Sejarah digital tidak pernah benar-benar menghapus jejak; ia hanya menyimpannya sampai seseorang memutuskan untuk membongkarnya kembali. Hubungan yang dulunya diikat oleh rasa percaya kini runtuh bersama tombol delete friend, unfollow, dan penghapusan status hubungan di Facebook.

Di seberang sana, Darma Jaya kehilangan artikulasinya. Lelaki yang dulu begitu fasih mengarahkan rute bus kota kini hanya bisa mengetik patah-patah: “Tolong,” “Ak mw ngo,” “Dari semalam aku ngemis.” Ia terjebak dalam kepanikan urban yang baru—bukan takut kecopetan di atas PPD 213, melainkan takut kehilangan jangkar emosionalnya. Ia memohon sebuah panggilan telepon, sebuah ruang untuk berbicara langsung, menganggap suara bisa membasuh salah paham.

Namun, bagi Dea, segalanya sudah terlambat. Ia menganalogikan dirinya dengan sangat liris:

“Aku kayak jari lembut yang belajar gitar. Kamu lukai dengan senar bohongmu dan wanita yang gak bisa kamu tinggalkan. Sampai aku terluka. Sampai luka itu tertutup. Dan kulit lembut itu mengeras.”

Melalui teks-teks terakhir, kita melihat sebuah tragedi komunikasi modern. Seseorang memohon pengampunan agar hatinya sendiri tenang, sementara yang lain menuntut pemahaman atas rasa sakit yang telanjur membatu. Panggilan telepon yang diminta Darma tidak pernah dikabulkan. Dea memilih menetap di dalam teks, menolak melunakkan diri untuk sebuah penjelasan yang dianggapnya fiktif.

Esai fiksi ini tidak berakhir dengan pelukan di Taman Suropati atau perjalanan pulang dengan bus putih-biru yang dominan putih. Ia berakhir pada ketukan jempol di atas layar yang keras, sebuah kata "Gak" yang dingin, dan sebuah titik yang mengakhiri semuanya sebelum jam dua belas malam. Rasa sayang yang mendalam itu, pada akhirnya, menemui jalan buntu di jalur Slipi Petamburan yang macet dan ego yang enggan mengalah.

Bagian II: Anatomi Dua Ego

Pertengahan Juli tidak pernah benar-benar memaafkan mereka yang bertaruh pada jarak. Di dalam kamar kosnya yang berukuran tiga kali empat di kawasan Slipi, Dea menatap layar gawai dengan mata yang terasa panas. Kipas angin dinding berputar monoton, menghempaskan udara gerah Jakarta yang seolah ikut mengendap di sela-sela lipatan sprei. Di tangannya, telepon genggam itu bukan lagi sebuah alat komunikasi, melainkan sebuah pisau bedah.

Bagi Dea, mendapati nama Ava Victoria atau Yumanissa di daftar ikutan gawai Darma bukan sekadar urusan cemburu buta. Ini adalah soal kompromi yang dikhianati. Selama berbulan-bulan, ia telah menundukkan kepalanya pada ritme hidup Darma—menerima instruksi rute bus seolah ia adalah anak kecil yang tak tahu arah, memaklumi segala pesan protektif yang kerap kali berbatasan dengan kontrol, hingga membiasakan diri mengirimkan detail "cek poin" harian dari ruang-ruang kuliahnya. Dea telah melunakkan seluruh dunianya agar pas dengan cetakan yang diinginkan Darma.

Maka, ketika ia menemukan bahwa di balik dinding protektif itu Darma justru memelihara ruang interaksi yang longgar dengan wanita lain, sesuatu di dalam dirinya patah. Itu adalah patah yang senyap, yang tidak menghasilkan ledakan, melainkan pengerasan.

"Kamu merasa benar sendiri," gumam Dea pada malam sebelum badai teks itu pecah, jarinya gemetar menghapus pertemanan mereka di laman Facebook. Menghapus status hubungan digital itu rasanya seperti mencabut paku berkarat dari daging: sakit, meninggalkan lubang, tapi harus dilakukan.

Sementara itu, di sudut kota yang lain, Darma Jaya sedang dilingkupi kepanikan yang purba. Di hadapan Rizal—sahabatnya yang malam itu hanya bisa terdiam memandangi puntung rokok yang meredup di asbak—Darma mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Karakter Darma yang biasanya dominan, penuh arahan, dan terstruktur sebagai seorang pelindung, mendadak luluh lantak.

Lelaki itu terbiasa memegang kendali. Ia tahu nomor bus, ia tahu letak copet, ia tahu kapan harus menyuruh Dea beribadah atau tidur. Namun, malam ini, algoritma gawai dan dinginnya teks chat telah merenggut otoritas itu darinya.

Ketika Darma mengetik, “Telp... Tlg... Ak mohon,” ia tidak sekadar meminta maaf. Ia sedang mengemis kembalinya kendali yang hilang. Bagi tipe penokohan seperti Darma, penyelesaian via teks adalah sebuah labirin tanpa pintu keluar; ia membutuhkan suara, ia membutuhkan intonasi, ia membutuhkan getaran pita suara yang biasanya mampu melunakkan Dea dalam hitungan detik.

Namun gawai di seberang sana tetap membisu. Panggilan teleponnya ditolak bertubi-tubi. Teks patah-patahnya yang dikirim dengan jempol yang berkeringat hanya membentur dinding ketegasan baru dari Dea yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“Kamu maksa mau ngomong supaya kamu bisa tenang... yang penting salahmu sama aku udah kamu tebus dgn maaf dan penjelasan.”

Teks dari Dea subuh itu menelanjangi motif terdalam Darma. Dea, dengan kedewasaan pahit yang mendadak muncul dari rasa sakit, menyadari bahwa permintaan maaf Darma yang menggebu-gebu bukanlah untuk menyembuhkan lukanya, melainkan untuk meredakan rasa bersalah di dada Darma sendiri. Darma ingin buru-buru menuntaskan "masalah" ini agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak, kembali menjadi sosok 'Darma' yang tak bercela.

Konflik malam itu berubah dari sekadar pembuktian perselingkuhan digital menjadi benturan dua karakter yang mendasar:

·         Darma, sang pengatur yang panik karena kehilangan kendali atas manusianya dan kini menggunakan "permintaan maaf" sebagai senjata untuk memaksa keadaan kembali normal.

·         Dea, sang pengikut yang bertransformasi menjadi hakim dingin, yang menyadari bahwa satu-satunya cara menyelamatkan harga dirinya adalah dengan menolak berkomunikasi lewat aturan main yang dibuat Darma.

Saat jarum jam merangkak melewati pukul tujuh pagi, ultimatum terakhir dikirimkan. Di bawah sorot lampu gawai yang mulai redup, Dea menetapkan batas akhir. Tidak ada panggilan telepon. Tidak ada pertemuan di Taman Suropati. Hubungan mereka, yang dulunya seramah tawa di atas bus PPD, kini resmi dikubur di dalam sebuah ruang obrolan yang layarnya retak—menyisakan Darma yang menatap nanar baris teks terakhir, dan Dea yang akhirnya membalikkan badan untuk tidur, membiarkan kulit gitarnya yang mengeras menghadapi hari yang baru.

Bagian III: "Udahlah, Bang. Capek."

Kamar kos Dea di Slipi siang itu rasanya mirip oven. Kipas angin kosan yang bunyinya ngik-ngok-ngik-ngok sama sekali gak ngebantu ngusir gerah. Dea selonjoran di kasur busa tanpa sprei yang ujungnya udah mrothol, matanya lengket ke layar Blackberry yang lampunya kedap-kedip warna merah. Lowbat. Tapi dia asyik scroll lini masa Twitter-nya pakai jempol yang mulai gemeteran.

"Gila ya," bisik Dea sendirian. "Bisa-bisanya."

Dia baru aja nemu satu bukti lagi. Si Darma—cowoknya yang sok paling bener sedunia itu—ternyata baru aja mem-follow balik akun cewek namanya Yumanissa. Belum lagi urusan Ava Victoria yang kemarin sempat bikin mereka berantem sampai subuh.

Drrt... drrt...

HP kecil Nokia jadulnya yang ditaruh di samping bantal getar. Ada SMS masuk. Dari nomor Darma.

Darma Jaya: Dea, angkat tlp dong. Ak mohon. Jgn gini.

Dea cuma mendengus. Dia lempar itu HP kecil ke tumpukan baju kotor di pojok kamar. "Ngemis terus, tapi kelakuan kagak berubah. Najis," batirnya dalam hati. Rasa sedihnya udah lewat dari tadi malam; sekarang yang tersisa cuma rasa enek yang numpuk di hulu hati.

Sementara itu, di sebuah warkop 24 jam dekat kampus daerah Grogol, Darma lagi megangin kepalanya yang pusing tujuh keliling. Di depannya ada segelas kopi hitam yang udah dingin dan mangkok mi instan yang kuahnya udah mengental.

"Gimana, Darma? Dibales gak?" Rizal, temen sekampusnya yang dari semalam setia nemenin begadang, nanya sambil nyedot rokok dalam-dalam.

"Kagak. Cuma di-R (read) doang di WA. SMS gua juga gak dibales," suara Darma serak. Tampangnya kusut banget, rambutnya yang biasa rapi pakai pomade sekarang acak-acakkan mirip anak ayam kehujanan. "Dia beneran motong semua akses gua, Zal. Facebook di-deletefriend, Twitter di-unfollow. Gila, gua kayak penjahat kelamin aja diginiin."

"Ya lu lagian pake acara nge-follback mantan segala, pake nanya-nanya Raisa udah bolong puasa berapa lagi. Cari mati lu," sahut Rizal lempeng.

"Kan cuma nanya, Zal! Gak ada maksud apa-apa. Lagian si Dea kenapa sih jadi keras kepala bener sekarang? Biasanya kalau gua tegasin dikit langsung nurut, langsung 'iya Darma, maaf Darma'. Sekarang bener-bener kayak batu!" Darma mukul meja warkop pelan, frustrasi. Dia terbiasa jadi komandan di hubungan ini. Dia yang ngatur Dea naik bus PPD apa, dia yang nyuruh Dea tidur jam berapa. Begitu kendalinya lepas kayak gini, Darma mendadak ngerasa kerdil.

Darma buru-buru ngetik teks lagi dengan jempol berkeringat.

Darma Jaya: Tolong lah Dea. Kita tlp dlu. Gak bisa selesai lewat teks gini. Lu kok tegaan bgt sih ama gua?

Ting.

Pesan itu masuk ke WA Dea. Dea membaca baris kalimat itu sambil tersenyum sinis. Dia langsung bangkit, duduk bersila di kasur, dan mengetik balesan dengan kecepatan penuh.

Dea: Lu nanya kenapa gue tega? Lu tuh yang gak ngaca, Bang. Dari kemarin lu sibuk minta maaf, sibuk minta telepon biar hati LU tenang kan? Biar salah lu ngerasa udah ditebus? Lu gak mikirin hati gue yang udah lu iris-iris pakai kebohongan lu.

Dea: Gue tuh kayak jari lembut yang baru belajar main gitar, Bang. Kulit gue kapalan, mengeras gara-gara senar bohong lu itu. Sekarang lu komplain kenapa gue jadi keras? Ya lu yang bikin gue kayak gini!

Di warkop, Darma membaca balasan panjang itu dengan mata melotot. "Zal, liat nih. Dia malah bawa-bawa filosofi gitar. Pusing gua!" Darma makin panik. Dia langsung nekat mencet tombol panggil.

Calling Dea...

Di kamar kos, gawai Dea bergetar hebat menampilkan nama 'Darma Darma'. Dea cuma ngeliatin layar itu datar. Gak ada niat sedikit pun buat mencet tombol hijau. Begitu panggilannya mati sendiri, Dea langsung ngetik satu kalimat terakhir yang paling dingin yang pernah dia tulis selama mereka pacaran.

Dea: Gak usah telepon. Gue capek. Usaha lu tuh basi, cuma muter-muter nyari pembenaran. Mending kita sudahi aja semuanya di sini. Titik.

Dea naruh Blackberry-nya di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke kasur. Dia narik selimut tipisnya sampai ke dada, merem, dan mencoba melupakan bau gerah Jakarta serta nama Darma Jaya yang perlahan mulai memudar dari hidupnya. Siang itu, untuk pertama kalinya, Dea tidur tanpa perlu laporan "cek poin" ke siapa-siapa.

Bagian IV: Sisa Asap dan Kamar Kos yang Sepi

Matahari Jakarta bergeser ke barat, menyisakan semburat oranye kusam yang menerobos lewat celah ventilasi kamar kos Dea. Bau aspal terbakar dan polusi dari jalan raya Slipi lamat-lamat masuk, bercampur dengan wangi sisa parfum kado dari Darma yang sengaja dicampakkan Dea di rak sepatu.

Dea terbangun pukul lima sore. Badannya lengket, tapi kepalanya terasa jauh lebih ringan. Dia bangkit, berjalan ke arah cermin wastafel kecil di sudut kamar. Diperhatikannya matanya yang agak sembab.

“Gue nangisin cowok kayak gitu? Rugi bandar,” gumamnya sambil membasuh muka dengan air keran yang terasa hangat kuku karena sengatan matahari siang tadi.

Dia mengambil gawai Blackberry-nya yang sedari tadi mati total karena kehabisan daya. Begitu dicolok ke pengisi daya, butuh waktu dua menit sampai logo provider muncul, dan sedetik kemudian—ping, ping, ping, ping!

Layar gawai itu hampir nge-bleng. Belasan notifikasi WhatsApp dan SMS masuk berebutan. Semuanya dari Darma.

Darma Jaya: Dea, plis. Jangan diputus gini.

Darma Jaya: Gua otw ke kosan lu ya. Kita omongin baik-baik.

Darma Jaya: Gua udah di Slipi Petamburan, macet parah. Tungguin gua.

Dea membaca pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Alih-alih panik atau buru-buru dandan, dia malah berjalan ke dispenser, menyeduh segelas teh manis hangat, lalu duduk santai di ambang pintu kosan yang menghadap ke lorong sempit. Dia tahu betul kelakuan Darma. Cowok itu kalau panik pasti nekat, tapi kenekatannya selalu basi karena ujung-ujungnya cuma mau menyelamatkan egonya sendiri yang ogah kalah.

Sementara itu, Darma beneran lagi terjebak di atas motor bebeknya di perempatan Slipi. Suara klakson bersahut-sahutan bikin kupingnya mau pecah. Kemeja flanel yang dia pakai udah basah kuyup oleh keringat. Di saku celananya, HP Nokia-nya gak berhenti bergetar. Rizal meneleponnya berkali-kali.

Darma menepi di dekat halte bus PPD, tempat yang dulu sering jadi saksi dia dadah-dadah manis ke Dea kalau habis kencan. Dia angkat telepon dari Rizal sambil menjepit HP-nya di antara kuping dan bahu, tangannya sibuk merogoh kantong nyari korek.

"Halo, Zal! Kenapa lagi lu?" semprot Darma ketus.

"Lu di mana, Nyet? Lu beneran nyamperin dia? Jangan bego, Darma. Cewek kalau lagi mode batu digituin makin ilfeel!" suara Rizal kedengaran khawatir di seberang sana.

"Gak bisa, Zal. Gua harus ketemu. Gua gak terima diputusin lewat teks kayak gini. Harga diri gua kayak diinjek-injek," kata Darma sambil menyalakan rokoknya. Asap mengepul, kalah telak oleh polusi knalpot bus kota yang lewat di depannya. "Gua selalu protek dia, gua jagain dia dari copet, gua arahin hidupnya biar bener di Jakarta. Masa cuma gara-gara gua follback cewek lain, semuanya ilang gitu aja? Gak adil!"

"Lu tuh yang gak paham, Darma," Rizal menghela napas dari ujung telepon. "Lu ngerasa jadi pahlawan, tapi lu lupa nanya dia butuh pahlawan model lu apa kagak. Udahlah, balik aja ke warkop. Dinginin dulu otak lu."

"Kagak. Gua udah deket gang kosannya. Gua bakal jelasin sampai dia mau denger." Darma langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia membuang puntung rokoknya yang baru diisap setengah, lalu menggeber motornya membelah kemacetan sore.

Sepuluh menit kemudian, langkah kaki yang terburu-buru terdengar menggema di lorong kosan Dea. Darma muncul di ujung gang dengan napas memburu dan muka sekusut kain pel. Begitu melihat Dea lagi duduk santai sambil memegang gelas teh, langkah Darma mendadak tertahan.

"Dea..." panggil Darma, suaranya parau.

Dea bahkan gak berdiri dari posisi duduknya. Dia cuma mendongak, menatap Darma datar dari atas ke bawah. "Mau ngapain lagi, Bang? Kan udah gue bilang, selesai."

"Dea, dengerin gua dulu," Darma melangkah mendekat, mencoba memakai nada suara berat dan tegasnya yang biasa dia pakai kalau lagi ngatur Dea. "Lu gak bisa egois gini. Hubungan kita tuh udah jalan jauh. Cuma gara-gara masalah sosmed lu sampai tega blokir semua akses gua? Lu kayak anak kecil tahu gak?"

Dea tersenyum tipis. Sangat tipis sampai-sampai kelihatan seram. Dia menaruh gelas tehnya di lantai tegel.

"Gue yang anak kecil, atau lu yang gak tahu diri?" suara Dea pelan, tapi tajamnya menembus sampai ke tulang. "Lu ke sini naik motor macet-macetan, rela keringetan, itu buat siapa, Bang? Buat gue? Kagak. Lu ke sini karena lu gak terima 'Darma Darma' yang hebat dan selalu bener ini dicampakkan begitu aja. Lu butuh gue maafin biar lu bisa pulang dengan perasaan menang."

Darma tertegun. Kalimat Dea barusan bener-bener menohok ulu hatinya. Semua skenario penjelasan yang sudah dia susun rapi di kepala sepanjang jalan Slipi mendadak ambyar.

"Gue udah capek jadi jari lembut yang lu paksa main gitar sampai kapalan, Bang," Dea berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana kulotnya. "Sekarang kulit gue udah keras. Dan lu gak bakal bisa bikin kulit ini melunak lagi pakai janji-janji manis lu yang basi itu."

Dea melangkah mundur ke dalam kamarnya, tangannya memegang gagang pintu kayu kosannya.

"Pulang deh, Bang. Mandi. Bau matahari," kata Dea lirih, sebelum akhirnya menutup pintu kamar kosnya rapat-rapat dan memutar kunci dari dalam—klik.

Darma berdiri mematung di lorong yang remang-remang itu. Suara ketukan kunci tadi terdengar seperti vonis final yang gak bisa diganggu gugat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Darma Jaya si pengatur rute Jakarta bener-bener kehilangan arah pulang.

 

Bagian V: Jalan Pulang Masing-Masing

Tiga bulan setelah pintu kosan di Slipi itu dikunci dari dalam, Jakarta tetap menjadi kota yang tidak pernah peduli pada hati yang patah. Rutinitas berjalan seperti biasa; kemacetan di Slipi Petamburan tidak berkurang satu sentimeter pun, dan bus PPD 213 tetap berasap tebal membelah jalanan ibu kota.

Dea duduk di dekat jendela sebuah kedai kopi kecil di daerah seberang kampusnya. Di hadapannya, bukan lagi Blackberry tua yang kedap-kedip kehabisan daya, melainkan sebuah gawai baru dengan layar sentuh yang mulus. Lini masa Twitter-nya bersih. Tidak ada lagi pencarian berkala untuk nama Ava Victoria atau Yumanissa.

"Dea, dicariin tuh sama anak-anak anak BEM, katanya poster buat acara minggu depan belum kelar," tegur sela seorang temannya sambil menaruh segelas es kopi susu di meja.

Dea menoleh, lalu tersenyum lepas. "Aman, tinggal finishing dikit lagi. Bilang ke mereka, ntar malam gue kirim lewat surel."

Tidak ada lagi laporan "cek poin" pukul sembilan pagi atau sore hari. Kulit jarinya yang dulu sempat kapalan karena menahan sakit hati, kini benar-benar telah mengeras menjadi sebuah kekuatan baru. Dea tidak menjadi benci pada cinta; dia hanya menjadi lebih tahu kapan harus meletakkan batas. Dia bukan lagi gadis kosan yang bisa disetir rute hidupnya lewat instruksi teks chat selarut malam.

Sementara itu, di sudut Grogol, Darma Jaya baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya hari itu. Dia berjalan lambat ke parkiran motor, memegang helmnya yang kacanya sudah agak buram.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan gawai yang kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada lagi pesan “Mas sholat ya” atau titipan mengunduh anime terbaru yang biasanya menghiasi sore harinya. Darma sempat membuka aplikasi WhatsApp, memandangi foto profil Dea yang kini sudah tidak bisa dia lihat lagi karena nomornya telah diblokir permanen.

Rizal menepuk pundak Darma dari belakang, mengejutkannya. "Sore, Darma. Ke warkop biasa kagak?"

Darma terdiam sebentar, memandangi jalan raya di depan kampus yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang pulang kantor. Semburat langit oranye Jakarta sore itu persis sama dengan sore di mana dia diusir dari lorong kosan Slipi.

"Kagak deh, Zal. Gua mau langsung balik aja," jawab Darma pelan. Suaranya tidak lagi menggebu-gebu penuh komando seperti dulu. Ada nada pasrah yang matang di sana.

"Tumben. Lu udah kagak mau nyari pelarian lagi?" goda Rizal.

Darma tersenyum tipis, menggeleng. "Gua baru sadar, Zal. Selama ini gua sibuk jadi pahlawan di hidup orang, sampai gua lupa belajar gimana caranya jadi manusia yang tahu diri. Gua mau pulang, mau tidur cepat."

Darma menyalakan motor bebeknya, perlahan membelah jalanan Grogol tanpa ambisi untuk membuktikan apa-apa lagi pada dunia. Dia menerima kekalahannya dengan lapang dada. Kehilangan Dea adalah pukulan telak bagi egonya, tetapi justru dari reruntuhan ego itulah Darma pertama kalinya belajar untuk benar-benar mendengarkan orang lain, bukan sekadar mengatur.

Hubungan mereka tidak berakhir dengan keajaiban benci yang berubah jadi cinta kembali, tidak juga dengan tangisan histeris di pinggir jalan yang dramatis.

Mereka selesai dengan cara yang paling Jakarta: menjadi dua orang asing yang pernah saling menghafal rute angkutan umum yang sama, yang kini memilih menggunakan lajur jalan berbeda demi menyelamatkan kewarasan masing-masing. Di atas aspal kota yang keras ini, baik Dea maupun Darma, akhirnya menemukan jalan pulang mereka sendiri-sendiri—tanpa perlu ada lagi yang terluka oleh senar kebohongan lama.

 

 []

 

 

 

 

[]

Babak 1: Prolog

Surat untuk Rika

Kepada: Rika Hasan

Selamat Pagi Siang Sore dan Malam.

Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Kalau gitu aku mulai dari sini aja, dari paragraf pertama yang kamu baca. Anggaplah ini basa-basi yang menjadi intro pembuka surat ini.

Langsung saja, aku ingin bilang sesuatu yang mungkin sudah kamu tahu. Soalnya barusan aku udah mulai surat ini dengan sekapur sirih yang tidak penting. Baiklah. Mari menghela napas panjang sejenak sebelum kamu melanjutkan paragraf demi paragraf.

Rika..,

Aku tidak bisa melawan perasaan yang antah berantah datang dari mana asalnya ini. Semenjak perjumpaan yang gak pakai rekayasa walau ujungnya pakai rekayasa karena janjian, ada sesuatu aneh yang mengganjal di pikiran dan hati ini. Ya kalau kamu gak percaya aku punya pikiran sih gak apa-apa, kan lagipula gak perlu kamu pikirin juga. Hahaha.

Tapi paling gak aku punya kata yang kedua setelah pikiran tadi itu. Apa itu?

Iya benar. Kamu pintar. Dapat 100. Aku dapat 1000.

Aku masih punya hati. Walau gak punya pikiran. Hahaha.

Sebelum lanjut, ada baiknya kamu minum air dulu ya. Biar gak keselek meneruskan kata per kata selanjutnya.

Rika Hasan, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini. Dan aku bukan semacam lelaki yang pandai menyembunyikan perasaan. Artinya apa?

 

Bersambung….

 

Begini.

Adapun tujuanku menulis surat ini agar maksud dan tujuanku sampai dengan selamat sehat wal afiat. Aku banyak saksikan di saat ini, dimana teknologi semakin canggih, namun orang semakin luput dari apa yang disebut dengan makna. Semakin banyak teknologi social media semakin membuat orang satu sama lain menjadi jauh. Sangat berbeda sekali dengan apa yang mungkin kamu atau aku alami jaman dulu. Dimana cinta itu ditulis ketika sudah matang.

Eh barusan aku tulis soal apa? Ups.. Maaf ya aku lancang menuliskan cinta.

Aku tidak pernah paham soal cinta karena bagiku cinta bukan untuk dipahami tapi diyakini oleh hati untuk diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan. Dan konon, cinta itu gak butuh alasan tapi lebih butuh kepada balasan. Namun satu kalimat yang ingin aku ucapkan khusus buatmu:

Rika Hasan, aku sayang kamu.

Itu sudah.

 

Salam

Hamba Allah

 

NB: Maaf ya kalau tulisanku jelek dan gak kebaca

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ah, jadi begitu awal mulanya! Berawal dari Cash on Delivery (COD) handphone, sebuah interaksi kasual yang akhirnya membuka jalan cerita yang jauh lebih panjang.

Pertemuan yang awalnya murni transaksional seperti itu memang sering kali punya daya tarik tersendiri kalau diingat-ingat lagi. Dari yang tadinya asing, cuma janjian di suatu tempat untuk cek kondisi barang dan serah terima uang, ternyata bisa berlanjut menjadi kedekatan yang punya dinamika sedalam ini. Kalau melihat ke belakang, momen COD itu mungkin terasa sederhana, tapi di situlah titik awal semua obrolan, perhatian, bahkan konflik-konflik yang terjadi setelahnya dimulai. Menarik ya, bagaimana sebuah keputusan kecil untuk beli atau jual HP bisa mengubah arah interaksi dua orang secara total.

Padahal hanya bermula dari urusan cek kondisi fisik HP, layar, dan kelengkapan box, interaksi mereka pelan-pelan bergeser jadi cek kabar sehari-hari. Hubungan yang awalnya formal sebagai penjual dan pembeli bertransformasi menjadi ruang di mana mereka mulai berbagi cerita personal. Kalau ditarik garis merah ke linimasa obrolan tahun 2016 tadi, aku bisa melihat betapa jauhnya lompatan dinamika itu berjalan. Dari yang awalnya mungkin canggung saat ketemuan COD, berubah jadi hubungan yang sangat intens—penuh dengan panggilan sayang, rasa rindu, tapi di sisi lain juga menyimpan bom waktu berupa ego, tuntutan keterbukaan, dan rasa insecure yang sempat meledak malam itu.

Cerita setelah momen COD itu pasti punya banyak babak ya. Setelah transaksional itu selesai, bagaimana sebetulnya alur kedekatan mereka bergulir sampai akhirnya bisa se-intens yang terlihat di obrolan tersebut?

Tempat: Food court sebuah mal di daerah Jakarta Selatan.

Jojo: (Sambil menyerahkan kotak handphone) "Nih, coba dicek dulu aja fisiknya, Rik. Layarnya, kameranya, sama iCloud-nya udah gue sign out semua kok. Santai aja, cek sampai puas."

Rika: (Menerima handphone, agak canggung) "Oh iya, bentar ya Jo... Eh, ini layarnya emang dari awal udah dipasang tempered glass ya?"

Jojo: "Iya, sengaja gak gue lepas biar layarnya tetep mulus. Sayang kalau baret. Gimana? Sesuai kan sama foto yang gue kirim di OLX?"

Rika: (Tersenyum tipis, memeriksa tombol-tombol) "Iyadih, mulus banget malah. Terawat ya. Oke deh, ini uangnya ya, pas... pas sepuluh lembar. Mau dihitung dulu?"

Jojo: (Menerima uang tanpa menghitungnya) "Gak usah, percaya gue sama lo. Lagian kalau ada apa-apa kan lo tahu kontak gue. Kabarin aja kalau tiba-tiba ada kendala."

Rika: "Sip, makasih banyak ya, Jo. Sori nih jadi ngerepotin mesti nyamperin jauh-jauh ke sini."

Jojo: "Santai, Rik. Kebetulan gue juga lagi ada urusan searah kok. Pulang naik apa nanti?"

Rika: "Gampang, paling naik ojek online."

Jojo: "Oke, hati-hati di jalan ya."

Babak 2: Beberapa Hari Setelah COD (Beralih ke WhatsApp)

Berawal dari urusan teknis, pintu obrolan pun mulai terbuka lebih lebar.

Jojo: "Rik, gimana HP-nya? Aman kan? Gak ada kendala baterai atau apa gitu?"

Rika: "Eh Jojo. Aman kok, batrenya awet banget ternyata. Makasih ya, ini ngebantu banget buat kerjaan."

Jojo: "Alhamdulillah kalau aman. Syukur deh kalau bermanfaat."

(Tiga jam kemudian)

Jojo: "Eh iya Rik, sori nih random. Waktu COD kemarin gue liat gantungan kunci lo karakter anime ya? Lo suka nonton juga atau cuma lucu-lucuan aja?"

Rika: "Hahaha jeli banget mata lo, Jo. Iya, gue emang suka ngikutin beberapa serial. Kenapa? Lo suka juga?"

Jojo: "Wah, pas banget. Gue lagi nyari temen ngobrol yang nyambung soal ini. Kebetulan series yang ada di gantungan kunci lo itu salah satu favorit gue..."

Babak 3: Bulan-Bulan Berikutnya (Peralihan Menjadi Intens)

Pola komunikasi yang awalnya harian, mulai berubah menjadi rutinitas yang melibatkan emosi dan perhatian kecil.

Jojo: "Rik, udah di kantor? Jangan lupa sarapan ya, hari ini kayaknya jadwal lo padat kan?"

Rika: "Udah nih, baru sampai meja. Iya nih, siang nanti ada meeting panjang. Makasih ya udah diingetin. Lo sendiri jangan lupa makan siang nanti."

Jojo: "Gampang kalau gue mah. Nanti malam pulang jam berapa? Kalau capek, biar gue jemput aja ya di kantor? Kebetulan kerjaan gue beres jam 5 sore."

Rika: "Eh, gak usah repot-repot, Jo... Gue bisa balik sendiri kok, takut ngerepotin."

Jojo: "Gak ada istilah repot buat lo, Rik. Ya udah, nanti sore gue kabarin lagi ya kalau gue udah jalan ke arah kantor lo."

Dari interaksi yang awalnya sebatas formalitas penjual-pembeli inilah, fondasi kedekatan mereka terbangun, sebelum akhirnya berkembang menjadi hubungan yang lebih kompleks, penuh ekspektasi, dan dinamika emosi seperti yang terjadi di akhir Januari 2016 itu.

 

Babak 4: Kedekatan yang Mulai Membawa Beban (Pertengahan Januari 2016)

Setelah berbulan-bulan dekat, perhatian Jojo mulai berubah menjadi ekspektasi yang besar. Sementara itu, Rika mulai menghadapi masalah personal di keluarganya yang membuatnya menarik diri. Perbedaan respons ini mulai menciptakan jarak.

Jojo: "Rik, lo kok seharian ini balesnya singkat-singkat banget? Ada masalah di kantor?"

Rika: "Gak ada kok, Jo. Lagi agak capek aja, kerjaan emang lagi numpuk dari pagi."

Jojo: "Gak usah bohong lah, Rik. Gue tahu bedanya lo kalau lagi sibuk biasa sama lo yang lagi ngehindar. Kalau ada apa-apa tuh cerita, jangan dipendem sendiri. Gue kan di sini buat lo."

Rika: "Gue gak ngehindar, Jojo... Beneran deh. Cuma emang lagi banyak pikiran aja. Tapi ini urusan internal rumah, gue gak mau ngebani lo dulu."

Jojo: "Ngebani gimana sih? Kita udah jalan sejauh ini, tapi lo masih ngerasa urusan lo bakal jadi beban buat gue? Berarti selama ini lo belum sepenuhnya percaya ya sama gue?"

Rika: "Bukan gitu, Jo... pemikiran lo kejauhan. Gue cuma butuh waktu sendiri dulu buat beresin isi kepala gue. Nanti kalau udah tenang, gue cerita. Janji."

 

Babak 5: Puncak Ketegangan (Malam Hari, 29 Januari 2016)

Malam di mana ego dan rasa insecure Jojo berbenturan keras dengan Rika yang sedang kelelahan secara mental. Di sinilah gaya bahasa mereka mulai berubah drastis menjadi defensif dan penuh emosi.

Jojo: "Rik, lo di mana sekarang? Katanya tadi jam 9 udah mau balik dari tempat temen lo? Gue telpon gak diangkat."

Rika: "Sori baru megang HP lagi, Jo. Ini baru jalan balik ke rumah kok. Tadi seru ngobrol sama anak-anak jadi gak kecek HP-nya."

Jojo: "Hebat ya. Sama temen-temen lo bisa seseru itu sampai lupa ngabarin gue. Tapi kalau sama gue, lo bilangnya capek, banyak pikiran, butuh waktu sendiri."

Rika: "Ya ampun Jo, kok lo jadi banding-bandingin sama temen-temen gue sih? Mereka itu pelarian gue bentar biar gak stres mikirin masalah rumah. Kenapa lo jadi sensi gini?"

Jojo: "Gimana gak sensi? Gue ngerasa kayak gak dianggap tahu gak? Lo cerita ke orang lain bisa, tapi giliran sama gue lo tutup rapat-rapat. Lo anggap gue ini apa sebetulnya?"

Rika: "Jo, sumpah, jangan mulai deh... Gue capek banget hari ini. Kita bahas besok aja ya kalau kepala udah sama-sama dingin."

Jojo: "Gak bisa, Rik. Gue mau beres malam ini juga. Terserah lo mau bilang gue egois atau apa, tapi gue capek digantungin sama sikap lo yang kadang manis banget, tapi kadang jauh banget kayak orang asing!"

Babak 6: Titik Balik dan Keputusan (Dini Hari, 30 Januari 2016)

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ketegangan yang tadinya meluap-luap pelan-pelan menyusut menjadi kelelahan emosional yang berat bagi keduanya.

Jojo: "Gue gak tahu harus gimana lagi hadapi lo, Rik. Setiap kali gue coba masuk, lo selalu pasang tembok. Kalau emang keadaan rumah lo seberat itu, kenapa lo gak pernah kasih gue kesempatan buat nemenin lo?"

Rika: (Mengetik lambat, menahan air mata) "Jo... lo gak paham. Bukannya gue pasang tembok. Keadaan di rumah gue itu berantakan banget. Gue cuma malu, gue takut kalau lo tahu seisi rumah gue yang sebenarnya, lo bakal mikir dua kali buat bareng sama gue."

Jojo: (Hening agak lama) "Rik... kenapa lo bisa mikir kayak gitu tentang gue? Sejak awal kita COD, terus mulai sering jalan, apa gue pernah mandang lo dari latar belakang atau masalah lo? Gue cuma pengen ada di samping lo, itu aja."

Rika: "Gue tahu lo baik, Jo. Tapi ekspektasi lo ke gue itu besar banget. Di saat lo nuntut keterbukaan penuh, energi gue di rumah udah habis buat bertahan. Gue gak punya sisa energi buat meyakinkan lo setiap hari kalau gue gak berubah."

Jojo: "Jadi... maksud lo, gue ini cuma nambah-nambahin beban lo?"

Rika: "Nggak gitu... tapi untuk sekarang, kayaknya kita emang harus ngerem dulu, Jo. Kita jalan terlalu cepat, sementara gue sendiri belum selesai sama isi kepala dan masalah hidup gue sendiri."

Jojo: "Ngerem? Maksud lo... kita udahan?"

Rika: "Bukan udahan yang musuhan. Tapi mari kasih jarak dulu. Biar lo gak capek nungguin sesuatu yang belum siap gue kasih, dan gue gak merasa bersalah terus karena gak bisa menenuhi ekspetasi lo."

Jojo: (Menghela napas panjang) "Jujur, ini berat banget buat gue, Rik. Tapi kalau emang itu yang bisa bikin lo tenang dan gak merasa tertekan... gue bakal coba buat mundur pelan-pelan. Kabarin gue kalau lo udah siap, ya?"

Rika: "Makasih banyak ya, Jo. Sori buat semuanya... dan makasih udah pernah jadi bagian yang manis setelah hari COD itu."

Hubungan yang dimulai dari sebuah ketidaksengajaan—seperti transaksi COD handphone—sering kali memberikan pelajaran terdalam. Bukan karena mereka tidak saling sayang, tapi kadang waktu, kesiapan mental, dan keadaan hidup yang belum selaras memaksa dua orang untuk mengambil langkah mundur demi kebaikan bersama.

Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika menerima dan membaca surat tersebut.

Babak 7: Balasan yang Tertunda (Tiga Hari Setelah Surat Diterima)

Rika duduk di meja kerjanya saat jam istirahat siang. Surat dari Jojo sudah dilipat rapi dan disimpan di bagian paling dalam tasnya. Setelah membaca ulang surat itu untuk kesekian kalinya, ia akhirnya membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Jojo.

Rika: "Jo, suratnya udah gue baca. Semuanya. Sampai selesai."

Jojo: (Balesan instan, seolah memang sedang menunggu) "Eh, Rik. Gimana? Kebaca kan? Tulisan gue kayak ceker ayam soalnya, makanya sengaja gue kasih NB di bawahnya hahaha."

Rika: "Kebaca kok. Jelas banget malah. Makasih ya, Jo. Gue gak nyangka lo bakal nulis kayak gitu. Apalagi bagian lo bilang lo dapat nilai 1000 karena punya hati tapi gak punya pikiran. Garing tau gak, tapi bikin gue senyum pas lagi pusing-pusingnya."

Jojo: "Hahaha ya kan emang tujuannya biar lo gak tegang-tegang amat, Rik. Tapi... bagian yang terakhir, yang intinya, lo gak marah kan?"

Rika: "Gak marah, Jo. Malah gue ngerasa dihargai banget. Di zaman sekarang yang apa-apa serba instan lewat chat atau snap, lo mau meluangkan waktu buat mikir dan nulis surat pakai kertas. Itu berarti banget buat gue."

Jojo: "Gue cuma pengen lo tahu apa yang ada di hati gue aja, Rik. Tanpa nuntut lo harus jawab sekarang atau gimana-gimana. Gue tahu posisi lo lagi gak mudah."

Rika: "Jo... sore ini jemput gue di kantor bisa? Kita ngobrol langsung. Ada hal tentang rumah yang kayaknya emang udah waktunya gue bagi sama lo. Gak adil kalau gue terus-terusan sembunyi."

Jojo: "Bisa, Rik. Jam 5 sore gue udah standby di parkiran bawah ya."

Babak 8: Di Bawah Lampu Jalan Melawai Blok M (Sore Hari)

Gerimis tipis mengguyur daerah Panglima Polim sore itu. Jojo dan Rika duduk di sebuah kedai kopi kecil pinggir jalan setelah Jojo menjemputnya. Suasana canggung yang biasanya ada, kini berganti menjadi keheningan yang lebih dewasa.

Rika: (Memainkan sendok kopinya) "Gue sempat takut, Jo. Keluarga gue lagi retak, dan gue anak pertama yang harus megang semuanya. Setiap pulang ke rumah, rasanya kayak masuk ke medan perang. Makanya kemarin gue sensitif banget pas lo nuntut gue buat selalu ada."

Jojo: "Gue yang minta maaf, Rik. Surat itu gue tulis juga buat ngetok kepala gue sendiri. Gue sadar, media sosial dan ponsel ini sering bikin gue ngerasa kalau semua orang harus bisa dihubungi setiap detik, sampai gue lupa kalau lo punya hidup dan beban nyata di luar layar HP."

Rika: (Menatap Jojo) "Tapi pas gue baca kalimat lo yang dibilang 'cinta itu ditulis ketika sudah matang', gue mikir... mungkin gue gak perlu nunggu masalah gue selesai total baru bisa nerima orang lain. Karena kalau nunggu selesai, entah kapan."

Jojo: "Gue gak minta lo jadi sempurna atau gak punya masalah, Rik. Sejak kita COD HP pertama kali, gue cuma pengen jadi orang yang bisa lo andelin. Lo mau bagi 10% cerita lo ke gue, itu udah cukup. Sisanya biar kita jalanin pelan-pelan."

Rika: (Tersenyum, matanya agak berkaca-kaca) "Jadi, si Hamba Allah ini beneran sayang sama gue?"

Jojo: (Salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal) "Y-ya... kan udah tertulis hitam di atas putih, Rik. Gak bisa ditarik lagi. Gak ada tombol delete-nya kalau di kertas."

Babak 9: Babak Baru (Malam Hari, Menjelang Februari 2016)

Malam itu ditutup dengan perjalanan pulang yang jauh lebih tenang. Jarak yang sempat mereka buat beberapa hari lalu justru menjadi ruang bagi cinta mereka untuk "matang", persis seperti apa yang ditulis Jojo dalam suratnya.

Jojo: "Udah sampai depan gang rumah lo nih, Rik. Langsung istirahat ya, bersihin muka, minum air yang banyak—biar gak keselek kayak kata surat gue."

Rika: "Hahaha iya, Jojo. Makasih ya buat hari ini. Makasih udah jemput, udah dengerin cerita gue, dan..."

Jojo: "Dan apa?"

Rika: "Gue juga sayang sama lo. Udah, sana balik, udah malam!" (Rika langsung turun dari mobil dengan muka memerah)

Jojo: (Tersenyum lebar di balik kemudi, melihat punggung Rika yang berjalan masuk ke rumah) "Dapat nilai 1000 beneran gue hari ini."

Surat sederhana di atas kertas itu akhirnya berhasil menyelamatkan apa yang hampir rusak oleh ego digital. Mereka membuktikan bahwa ketika komunikasi lewat layar mulai terasa jauh dan bising, kembali ke cara-cara lama yang penuh makna justru bisa merekatkan kembali dua hati yang sempat merenggang.

 

Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika menerima dan membaca surat tersebut.

 Babak 10: Menjelang Akhir Tahun (Oktober 2016)

Enam bulan berlalu sejak pertemuan dengan keluarga Jojo. Hubungan mereka berjalan stabil, namun tantangan baru muncul dari dunia profesional Jojo. Jojo mendapatkan tawaran proyek besar di luar kota (Bandung) yang mengharuskannya bolak-balik Jakarta–Bandung setiap minggu. Di saat yang sama, adik Rika sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, membuat waktu luang Rika makin terkikis.

Jojo: "Rik, mulai bulan depan kayaknya gue bakal jarang di Jakarta tiap weekday. Proyek yang di Bandung beneran tembus. Jadi paling gue baru bisa balik Jakarta Jumat malam."

Rika: (Tersenyum, meski ada rasa berat di matanya) "Wah, selamat ya, Jo! Itu kan proyek yang lo incar dari pertengahan tahun lalu. Gue ikut seneng banget. Urusan kita mah gampang, Bandung-Jakarta kan sekarang ada travel, lagian cuma weekday kan?"

Jojo: "Iya sih... cuma gue kepikiran lo aja. Pas gue gak ada di Jakarta, lo pasti makin repot sendirian ngurusin Ibu sama adik lo. Biasanya kan minimal seminggu dua kali gue bisa bantu anter-anter."

Rika: "Jo, dengerin gue. Selama ini kan gue juga udah biasa mandiri. Lo fokus aja sama karier lo di sana. Justru ini ujian buat kita, kan kata surat lo dulu: cinta itu diwujudkan dengan perbuatan. Anggap aja ini bagian dari perbuatan kita buat saling jaga kepercayaan."

Babak 11: Komunikasi di Era LDR (Long Distance Relationship)

Jarak Jakarta–Bandung mungkin tidak seberapa, namun bagi pasangan yang terbiasa bertemu fisik, penyesuaian ini tetap menguras energi. Di sinilah mereka menguji kedewasaan komunikasi yang pernah mereka sepakati.

Jojo: (Voice Note WhatsApp - Jam 23.15)

"Rik, baru beres meeting sama vendor nih. Capek banget kepala rasanya mau pecah. Di sini hujan dari sore, jadi makin kangen Jakarta, kangen lo juga pastinya. Lo udah tidur ya? Jangan lupa selimutan, di Jakarta juga lagi musim hujan kan. Miss you."

Rika: (Membalas lewat teks - Jam 05.30 keesokan paginya)

"Pagi, Jojo. Pas lo kirim VN gue udah ketiduran, sori ya. Semangat buat hari ini! Jangan lupa sarapan sebelum ke lapangan. Gue sengaja gak telpon semalam biar lo bisa langsung istirahat. Proyeknya diseriusin, tapi badannya juga dijaga. Miss you more, Hamba Allah-ku. Hahaha."

Babak 12: Kejutan di Hari Jumat

Komitmen bukan hanya tentang bertahan di masa sulit, tapi juga tentang bagaimana menjaga percikan emosi tetap hidup di tengah rutinitas yang menjemukan. Jumat minggu ketiga, Jojo berencana pulang ke Jakarta tanpa memberi tahu Rika.

Jojo: (Menunggu di depan gerbang kantor Rika di daerah Melawai, jam 17.15)

Rika: (Keluar dari lobi kantor, tertegun melihat Jojo bersandar di motornya sambil memegang dua kantong plastik berisi martabak) "Lho? Jojo?! Kok udah di sini? Katanya baru jalan dari Bandung jam 7 malam nanti?"

Jojo: (Tertawa lebar melihat muka kaget Rika) "Sengaja gue kebut kerjaan dari subuh biar bisa dapet travel siang. Kangennya udah gak bisa ditahan sampai jam 7 malam, Rik."

Rika: (Langsung menghampiri dan mencubit lengan Jojo pelan) "Ih, kebiasaan deh suka bikin jantungan! Tapi... makasih ya. Pas banget gue lagi pusing kerjaan, langsung ilang liat muka lo."

Jojo: "Gak cuma muka gue, nih gue bawain Martabak Kubang langganan lo. Kita makan di mobil atau mau langsung balik ke rumah lo?"

Rika: "Makan di mobil dulu aja yuk sambil jalan. Gue mau denger semua cerita lo tentang Bandung."

Babak 13: Merajut Masa Depan

Sambil membelah kemacetan Jakarta di Jumat malam, mereka menyadari bahwa jarak beberapa bulan terakhir ini tidak melemahkan ikatan mereka, melainkan justru menguatkannya. Mereka bukan lagi dua orang asing yang canggung di food court saat COD HP seken dulu; mereka adalah tim.

Rika: "Jo, makasih ya udah selalu usahain pulang cepet tiap Jumat."

Jojo: "Sama-sama, Rik. Gue justru belajar banyak dari lo beberapa bulan ini. LDR mini ini bikin gue sadar, kalau kita beneran sayang sama orang, jarak itu cuma angka. Yang penting isi kepalanya tetep sama: mau dibawa ke mana hubungan ini."

Rika: "Terus, si Hamba Allah ini mau bawa hubungan ini ke mana emangnya?"

Jojo: (Menatap jalanan ke depan dengan senyum tipis tapi penuh keyakinan) "Ke tempat di mana gue gak perlu anter jemput lo ke rumah Ibu lagi, Rik. Tapi ke tempat di mana kita pulang ke pintu rumah yang sama."

Rika: (Tersenyum manis, menggenggam tangan Jojo yang bebas) "Oke. Gue pegang omongan lo ya, Jo."

Perjalanan dari sebuah transaksi COD handphone sederhana di awal tahun 2016 telah membawa mereka melalui badai ego, masalah keluarga, hingga jarak fisik. Tantangan demi tantangan justru menjadi proses "pematangan" cinta mereka, mengubah letupan emosi masa lalu menjadi pondasi masa depan yang kokoh.

Babak 14: Retakan yang Semakin Melebar (Pertengahan 2017)

Jarak Jakarta–Bandung yang awalnya bisa dijembatani oleh rindu, perlahan-lahan justru mempertegas jurang perbedaan di antara mereka. Jojo yang berjuang di luar kota mulai kelelahan secara mental, sementara sifat Rika yang defensif dan egois tingkat tinggi mulai mendominasi setiap interaksi. Rika selalu merasa masalahnya adalah yang paling berat, sehingga menganggap Jojo wajib menuruti seluruh standarnya tanpa celah.

Jojo: "Rik, weekend ini gue beneran gak bisa balik Jakarta. Proyek lagi coring beton semalaman, gue gak dapet libur. Sori banget ya, gue tahu kita udah janjian mau cari kado buat adik lo."

Rika: "Oh, jadi proyek lo itu selalu lebih penting daripada janji lo ke gue? Lo sadar gak sih, Jo, semenjak lo pindah ke Bandung, semua jadwal kita harus selalu ngikutin maunya lo? Gue capek ya kudu selalu ngertiin posisi lo, sementara lo gak pernah mikirin repotnya gue di Jakarta!"

Jojo: "Rik, tolonglah... Ini urusan kerjaan profesional, bukan gue sengaja mau main-main di sini. Gue di sini juga nyari modal buat masa depan kita. Kenapa lo selalu ngerasa lo yang paling menderita?"

Rika: "Ya emang nyata kan? Kalau lo beneran niat, lo pasti bisa sempetin waktu. Lagian dari awal emang kita udah beda kelas, Jo. Jalan pikiran lo terlalu simpel, lo gak pernah bisa bener-bener paham beban hidup gue!"

 

Babak 15: Puncak Titik Jenuh (Akhir 2017)

Kata-kata egois dan tuntutan sepihak dari Rika yang terus berulang selama berbulan-bulan akhirnya mengikis habis rasa sabar di hati Jojo. Surat tulus "Hamba Allah" yang dulu ditulis dengan keyakinan penuh, kini terasa seperti ironi. Di sebuah kafe di daerah Melawai—tempat yang dulu penuh memori manis—mereka duduk berhadapan untuk terakhir kalinya.

Rika: "Gue mau lo pilih, Jo. Lepas proyek di Bandung itu dan balik kerja di Jakarta biar bisa fokus jagain gue sama keluarga gue, atau kita selesai aja. Gue gak bisa punya pasangan yang setengah-setengah."

Jojo: (Menatap Rika dengan pandangan kosong, rasa sayangnya sudah berganti menjadi kelelahan yang teramat sangat) "Rik... lo sadar gak sih sama apa yang baru aja lo ucapin? Selama hampir dua tahun ini, gue selalu ngalah. Gue turunin ego gue, gue maklumi semua sifat keras lo, gue terima semua komplain lo karena gue pikir lo lagi stres."

Rika: "Ya emang tugas lo sebagai cowok kan?"

Jojo: (Menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit) "Nggak, Rik. Hubungan itu jalan dua arah. Tapi di mata lo, cuma ada Rika, Rika, dan Rika. Masalah lo harus paling didengar, ego lo harus paling dituruti, dan perbedaan di antara kita selalu lo jadiin senjata buat ngegoblokin gue. Gue juga punya batas jenuh."

Rika: "Oh, jadi lo mau lepas tangan sekarang? Jadi semua perjuangan lo selama ini cuma segini doang?"

Jojo: "Gue gak lepas tangan. Lo yang udah ngelepas gue pelan-pelan lewat ego lo yang setinggi langit itu. Gue pamit, Rik. Gue udah selesai."

 

Babak 26: Epilog (Tahun 2026)

Sembilan tahun telah berlalu sejak sore kelabu di Melawai itu. Jojo kini telah menetap sepenuhnya di Bandung, membangun karier dan kehidupan baru yang lebih tenang bersama seseorang yang bisa menghargai kehadirannya. Sementara itu, Rika masih sering duduk sendirian di sudut kedai kopi pinggir jalan Jakarta saat hujan turun. Di dalam laci mejanya yang paling dalam, masih tersimpan selembar kertas usang yang tintanya mulai memudar—surat dari seorang "Hamba Allah" yang dulu pernah menyayanginya dengan begitu tulus. Rika akhirnya menyadari satu hal yang terlambat: perbedaan di antara mereka sebetulnya bisa dijembatani, namun keegoisan tingkat tingginya sendirilah yang telah membakar jembatan itu hingga tak bersisa. Handphone seken yang dulu mempertemukan mereka kini sudah lama rusak dan diganti, persis seperti hubungan mereka yang berakhir menjadi sebatas memori usang yang tak akan pernah bisa diulang kembali.

Ending Note: Tidak semua cerita yang dimulai dengan manis akan berakhir di pelaminan. Kadang, seseorang dihadirkan dalam hidup kita bukan untuk menjadi teman masa depan, melainkan sebagai cermin besar agar kita belajar berkaca dan memperbaiki diri sebelum melangkah lagi.