Prolog
Aku tak
menyesal atas apa yang sudah terjadi. Gerangan cinta memang tidak bisa ditebak
macam orang berjudi dengan koin yang peluangnya hanya 50:50. Fifty fifty kalau
bahasa anak sekarangnya. Bagiku cinta itu ya mengalir apa adanya. Eh gak sih
itu mah terlalu klise. Ralat deh. Bagiku cinta itu mengalor-ngidul apa adanya.
Gak ada definisi baku soal cinta. Mbah Albert Einstein yang kata orang otaknya
jenius saja gak punya rumus buat menjabarkan apa yang disebut dengan CINTA. Nah
apalagi aku yang cuma tamatan SMA, walau sekarang lagi kuliah. Haha. Ya
begitulah cinta yang deritanya tiada akhir, kata Sun Pat Kay dalam cerita Kera
Sakti. Kalau ada akhirnya mah nanti filmnya habis dong. Terus penontonnya
bubar.
Cinta mampu
menembus batas. Walau memang sih gak bisa menembus wings pembalut kalau pas aku
lagi dapet. Becanda. Maaf kalau aku kelewatan. Maksudku cinta bisa
mempersatukan manusia yang dulunya sering berantem bahkan jadi musuh utama
hingga jadi satu. Iya sih jadi satu maksudnya bukan fisiknya tapi ya kalau
meminjam istilah politik jaman sekarang sih menyatukan visi dan misi. Ceileh.
Kenapa? Gak suka ya kalau aku ngomong soal politik. Bilang aja kalau politik
itu kotor. Ah gak juga tuh. Politikus yang katanya jorok kayak tikus aja punya
cinta. Walau cintanya itu karena kepentingan. Istilahkan saja: cinta
kepentingan.
Nah sekiranya
nanti aku bertemu si anu di linimasa hidupku kelak, aku gak akan menyesal.
Malahan sabar ya buat yang gak dapat aku mention. Hahaha. Sok pede. Bahasamu
itu lho nak si mbah ndak ngerti, begitu kata si mbahku yang putri. Maklum
beliau kan gak pernah tahu yang namanya Twitter. Gini lho, maksudku siapa saja
yang bisa jadi teman hidupku aku akan jadi teman hidupnya. Mengabdi untuknya
atau lebih pasnya yaitu berkhidmat untuknya sampai waktu yang tidak ditentukan.
Saling memberi dan menerima. Begitu bahasa santun dan ringkasnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kami baku
tindih.
Ah tidak.
Kenapa badanku malah semakin semangat, bukannya malah menolak. Entah ada
kekuatan gaib dari mana hingga bikin aku cuma terpana sekaligus berapi-api
ingin baku cium dengan lelaki yang ada di depan bibirku ini. Ibarat penonton
yang punya tugas ya cuma untuk menonton tanpa boleh komentar barang sedikitpun.
Gila, pikirku. Siapa pula manusia berjenis kelamin laki-laki yang dengan
seenaknya bisa merampas bibirku ini. Sekonyong-konyong badanku secara reflex
mengikuti fitrahnya. Kami baku peluk.
Aku gak
munafik. Aku sadar aku cuma manusia yang tergadai atas fitrahnya. Apalagi aku
wanita yang katanya sebagai si tulang rusuk yang hilang dari laki-laki. Kalau
bahasaku sih tulang rusuk yang masih nyelip dan akan terus setia nyelip. Oh iya
aku lupa, sebelum aku semakin lupa, amit-amit jadi pikun. Kenalkan namaku
Sarinah. Gak keren ya? Aku sendiri merasa begitu. Namaku gak gaul.
Bersambung…
"Sarinah."
Nama itu terdengar asing di telingaku sendiri saat aku mencoba
merasakannya di balik desah napas kami yang masih bertaut. Lelaki itu, yang
wajahnya bahkan belum sempat kulihat jelas karena tertutup kabut nafsu dan
remang lampu ruangan, melepaskan ciumannya. Ia menatapku. Matanya tajam, seolah
sedang membaca isi kepalaku yang lagi kacau balau antara rasa berdosa dan rasa
yang... ya ampun, rasanya luar biasa.
"Namamu klasik," bisiknya. Suaranya berat, tipe suara
yang sering dipakai narator film dokumenter atau mungkin pengisi suara iklan
kopi yang bikin perempuan baper. "Seperti nama pahlawan."
Aku mendengus, berusaha menormalkan detak jantung yang sudah berpacu
seperti detak mesin cuci rusak. "Pahlawan kesiangan maksudmu?"
Dia tertawa kecil. Tawa yang, entah kenapa, membuatku merasa
seperti sedang dijebak oleh takdir yang terlalu niat buat bercanda. Dia
menjauhkan tubuhnya sedikit, memberi jarak agar kami bisa saling memandang. Di
bawah cahaya temaram, aku baru sadar kalau dia bukan orang asing. Tunggu dulu.
Wajah itu. Wajah yang sering muncul di layar ponselku tiap kali dia memposting
status sok filosofis atau sekadar pamer kopi di kedai yang harganya bisa buat
makan warteg tiga hari.
"Kamu?" aku membelalak. "Kamu kan si... si
pengamat politik dadakan yang tiap hari ngetweet soal 'cinta kepentingan'
itu?"
Dia menyeringai, sebuah seringai yang mungkin bisa membuat
komisi etik kebingungan. "Jadi, kamu memperhatikan tweet-ku, Sarinah? Aku
pikir perempuan sepertimu lebih tertarik melihat konten masak-masak atau
tutorial make-up di Instagram."
"Jangan sok tahu," balasku ketus, meski tanganku masih
sedikit gemetar di pundaknya. "Aku cuma sesekali lewat di timeline. Algoritmanya saja yang bego, masa menyarankan
akun penuh debat kusir kayak kamu."
Dia meraih tanganku, jemarinya kasar namun hangat. "Apapun
alasannya, algoritma itu hari ini justru membawa kita ke sini. Di titik temu
yang... katakanlah, di luar nalar."
Aku terdiam. Benar kata si Mbah, cinta itu memang aneh. Tadi aku
masih sibuk mengutuk situasi, sekarang aku malah merasa seperti sedang berada
di dalam bab pertama novel picisan yang dijual murah di toko buku loak. Apakah
ini yang namanya chemistry? Atau jangan-jangan ini
cuma efek samping dari kopi yang aku minum tadi siang?
"Terus," kataku, mencoba mengalihkan pembicaraan agar
tidak terlalu melankolis—karena jujur, aku paling anti dengan adegan
dramatisir. "Habis ini kita mau apa? Mau bahas visi dan misi ke depan?
Atau mau lanjut 'baku tindih' lagi biar urusan kita jadi lebih rumit?"
Lelaki itu terdiam sejenak. Dia menatapku lurus, tak ada lagi
kesan sok intelek yang sering dia pamerkan di media sosial. Kali ini, dia
terlihat seperti manusia biasa. Manusia yang juga punya keinginan, ketakutan,
dan mungkin saja, tulang rusuk yang sedang mencari tempat berlabuh.
"Sarinah," panggilnya lagi. "Kita nggak perlu
bahas politik. Bagaimana kalau kita bahas, kenapa bibirmu rasanya lebih jujur
daripada apa yang kamu tulis di profil media sosialmu?"
Aku memutar bola mata, tapi diam-diam sudut bibirku terangkat.
Dasar tengil. Tapi, yah, setidaknya dia tidak bertanya soal status hubungan
atau kapan kami akan menikah. Itu sudah cukup untuk membuatku merasa bahwa
malam ini, setidaknya, kami berdua hanyalah dua manusia yang sedang sama-sama
tersesat, namun kebetulan menemukan jalan yang sama untuk berhenti sejenak. Dan
soal masa depan? Ah, biarlah itu menjadi urusan Tuhan dan algoritma Twitter
yang sialan itu.
Aku menyentil sedikit keningnya. Bukan karena marah, lebih ke
arah gemas yang dipaksakan. "Bibirku jujur karena dia nggak bisa ngetik backspace, beda sama jempolmu yang tiap jam kerjaan
utamanya merevisi cuitan biar kelihatan bijak." Dia terkekeh, lalu bangkit
dari posisi baku tindih tadi dan duduk di tepi tempat tidur, membiarkan
punggungnya bersandar di dinding. Aku pun menyusul, menjaga jarak aman—jarak
yang sebenarnya tidak aman-aman amat kalau melihat betapa tipisnya baju yang
kukenakan.
"Menarik," gumamnya pelan. Dia menoleh, menatapku
sejenak sebelum kembali menatap langit-langit kamar yang catnya mulai
mengelupas di beberapa sudut. "Kamu selalu punya cara buat bikin orang
merasa telanjang, meski secara harfiah kita masih berpakaian." "Itu
namanya empati, Mas. Sesuatu yang biasanya hilang kalau orang sudah kebanyakan
baca buku teori sosial tapi lupa caranya ngobrol sama manusia beneran."
Aku mengambil napas panjang, mencoba menetralkan degup jantung yang mulai
kompromi. "Jadi, siapa namamu? Jangan bilang namamu juga diambil dari
tokoh perjuangan. Kalau iya, aku pulang sekarang."
Dia tersenyum miring. "Namaku Danu. Dan tenang saja, orang
tuaku cuma terinspirasi dari nama sungai, bukan revolusi." "Danu,"
aku mengeja namanya pelan. Terdengar... pas. "Oke, Danu. Sekarang, jujur
saja. Kita ini apa? Kecelakaan kerja? Ketidaksengajaan yang didorong hormon?
Atau jangan-jangan ini eksperimen sosial buat konten YouTube kamu yang
pengikutnya cuma dua ribu itu?"
Danu tertawa lepas kali ini. Suaranya mengisi kekosongan kamar
yang sedari tadi cuma ditemani suara kipas angin berderit. "Kamu riset aku
sampai ke jumlah pengikut? Berarti benar dugaanku, kamu memang stalker kelas kakap."
Aku memutar bola mata, tapi tidak membantah. Memang, jempolku
sempat iseng mencari profilnya setelah insiden "baku tindih" itu
terjadi. Bukan karena suka, ya! Hanya ingin memastikan bahwa dia bukan penjahat
kelamin atau buronan interpol. "Nggak usah geer. Aku cuma antisipasi biar
besok-besok kalau aku hilang, polisi tahu siapa orang terakhir yang
melihatku."
Danu menoleh, kali ini tatapannya tidak lagi tajam menantang,
tapi lebih... teduh. Ada semacam kejujuran yang menguar di sana, yang membuat
dinding pertahananku yang setinggi Tembok Berlin mulai retak sedikit demi
sedikit.
"Jujur, Sarinah," katanya, suaranya kini merendah,
kehilangan nada sok inteleknya. "Tadi aku memang cuma berniat mampir. Tapi
pas lihat kamu, rasanya semua rencana 'baku tindih' yang tadinya cuma main-main
di kepala, tiba-tiba terasa... berbeda. Aku nggak tahu ini apa. Dan jujur, itu bikin
aku takut."
Aku tertegun. Laki-laki yang mengaku takut itu biasanya cuma ada
dua jenis: yang sedang berbohong untuk mendapat simpati, atau yang memang
sedang jatuh tersungkur. Dan melihat cara dia menatapku—tatapan yang tidak
menuntut apa-apa selain pengakuan—aku merasa dia masuk ke kategori kedua. Aku
menghela napas, jemariku mulai memainkan ujung baju. Sinismeku masih ada, tapi
intensitasnya meluruh. "Kamu tahu, Danu? Katamu tadi cinta itu 'cinta
kepentingan'. Kalau malam ini kita anggap saja kepentingan untuk saling
menenangkan, kira-kira bisa nggak?"
Dia terdiam sejenak, lalu perlahan merayap mendekat, kali ini
bukan untuk baku tindih, tapi sekadar menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Saling menenangkan, ya? Kedengarannya jauh lebih beradab daripada sekadar
baku tindih."
Aku diam saja, membiarkannya. Mungkin ini yang dimaksud dengan
'tulang rusuk yang nyelip'. Kadang, kita memang harus tersesat dulu di linimasa
orang lain, baru tahu di mana posisi kita yang sebenarnya.
Malam itu, di kamar yang remang-remang ini, kami tidak lagi
bicara soal politik. Kami bicara soal hal-hal sepele yang justru terasa jauh
lebih berat daripada beban negara.
Pagi menyapa dengan sinisme yang masih tersisa, menyusup lewat
celah jendela kamar kos Danu yang tak tertutup rapat. Cahaya matahari yang
masuk bukannya terasa hangat, malah membuat segalanya terlihat terlalu
nyata—termasuk fakta bahwa aku, Sarinah, semalam baru saja melakukan hal paling
tidak masuk akal dalam sejarah hidupku.
Aku bergegas merapikan pakaian. Gerakanku cepat, efisien,
seolah-olah sedang diburu oleh detektif yang menyelidiki kasus hilangnya
kewarasanku sendiri. Danu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya yang tadi
malam terlihat teduh kini kembali ke mode 'default': seorang pria yang mungkin
sedang memikirkan cara memutarbalikkan fakta di Twitter nanti siang. Aku
menatapnya sejenak. Ada keinginan jahat untuk meninggalkan pesan tertulis di
cermin dengan lipstik, atau mungkin mencuri salah satu kaus oblongnya sebagai
kenang-kenangan. Tapi tidak, itu terlalu klise. Aku ingin dia penasaran, ingin
dia terjebak dalam spekulasi yang lebih rumit daripada analisis politiknya.
Aku berbisik pelan tepat di telinganya, "Jangan cari aku di
kolom komentar, Danu. Aku bukan bot yang bisa kamu reply sesuka hati."
Setelah itu, aku melenggang pergi.
Dua jam kemudian, di tengah-tengah kesibukanku—yang sebenarnya
cuma melamun di meja kerja sambil menunggu dosen pembimbing skripsi membalas
chat—ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi pesan singkat. Nomor
tak dikenal, tapi aku tahu betul siapa pemiliknya.
Danu: "Sarinah. Kamu lupa sesuatu."
Aku tersenyum tipis. Oh, dia sudah menemukannya.
Aku: "Apa? Dompet? Kunci motor? Atau mungkin harga diriku
yang semalam tertinggal di bawah bantalmu?"
Danu: "Lebih krusial. Dan jauh lebih... personal. Warnanya
krem. Ada rendanya sedikit. Sumpah, ini benda paling 'domestik' yang pernah ada
di kamar ini."
Sialan. Kancut. Ahhh.
Aku mendesis tertahan. Aku ingat betul, tadi malam saat kami
sibuk "baku tindih" dan kemudian bertukar pikiran soal hidup, aku
sempat melepasnya karena alasan—yah, mari kita sebut sebagai alasan kenyamanan
ekstrem. Aku pikir aku sudah memungut semuanya. Ternyata, si kecil itu malah
bersembunyi di balik kaki tempat tidur, seolah sedang melakukan aksi protes
diam-diam.
Aku: "Buang saja. Anggap itu sumbangan buat riset perilaku
manusia kamu."
Danu: "Nggak bisa. Ini bukti autentik. Kalau kamu nggak
datang buat mengambilnya sekarang, aku akan posting di story dengan caption:
'Siapa pemilik barang bukti yang tertinggal ini? Apakah ini peninggalan
pahlawan atau sisa revolusi?'"
Tangan kanan ku terkepal. Dasar pria tengil! Dia benar-benar
menggunakan taktik "politik kotor" untuk memaksaku bertemu dengannya
lagi. Tapi di satu sisi, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan
karena takut barang itu akan disebarluaskan—karena aku tahu dia tidak akan
senekat itu—tapi karena aku tahu, ini adalah celah yang sengaja kubuka agar dia
punya alasan untuk tidak membiarkanku menghilang begitu saja.
Aku: "Tunggu di sana. Jangan berani-berani menyentuh benda
itu dengan tangan kotormu, apalagi dijadikan konten. Kalau sampai itu masuk ke
linimasa, aku pastikan akunmu kena report massal sampai lenyap dari
peredaran."
Danu: "Siap, Komandan. Aku tunggu di sini, lengkap dengan
kopi dan... rasa penasaran yang semakin membuncah."
Aku meletakkan ponselku. Senyumku mengembang. Memang benar kata
orang, kadang kita harus kehilangan sesuatu yang sangat privat agar kita bisa
mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah alasan untuk kembali lagi.
Aku memacu motorku dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang santai, menembus
kemacetan Jakarta yang pagi ini terasa seperti antrean sembako murah. Di dalam
helm, aku cuma bisa menggerutu. Tragedi kancut,
pikirku. Kalau saja Mbah tahu, mungkin beliau bakal langsung naik darah dan
menyiramku pakai air bunga tujuh rupa. Masa depan cucunya cuma jadi bahan
guyonan di kamar kos seorang pengamat politik kelas teri.
Sampai di depan pintu kamarnya, aku tidak mengetuk. Aku langsung
membukanya karena dia tidak menguncinya.
Danu duduk di kursi kerjanya, menghadap laptop. Di atas meja, di
samping gelas kopi yang isinya sudah tinggal ampas, benda itu tergeletak begitu
saja. Krem. Berenda. Terlihat sangat kontras di antara tumpukan buku-buku
filsafat dan mouse komputer. Benar-benar pemandangan yang surealis. Dia
menoleh, lalu menyeringai. Seringai yang kali ini tidak membuatku ingin
memukulnya, tapi justru membuat perutku terasa seperti ada kawanan kupu-kupu
yang baru belajar terbang.
"Sudah datang?" tanyanya santai. Dia tidak memegang
benda itu, juga tidak mencoba melucu dengan menjadikannya properti konten. Dia
hanya menatapku, membiarkannya tergeletak di sana sebagai saksi bisu kejadian
semalam.
Aku berjalan mendekat, mengambil barang bukti itu, dan
memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan cepat. "Sudah puas? Sudah merasa
menang karena berhasil memancingku balik ke sini?"
Danu beranjak dari kursi, berdiri di hadapanku. Jarak kami
sekarang tidak sedekat tadi malam, tapi aromanya—aroma kopi dan sedikit bau
buku tua—masih terasa sama. "Siapa bilang aku merasa menang? Aku justru
merasa kalah."
Aku mengernyit. "Kalah kenapa?"
"Aku kalah karena ternyata rencana buat bersikap sok
intelek dan menjaga jarak supaya kita tetap jadi 'dua orang asing yang
kebetulan lewat' itu gagal total," ujarnya pelan. Dia mendekat satu
langkah. "Semalam, pas kamu pergi, aku sadar satu hal. Linimasa hidupku yang tadinya cuma berisi
komentar-komentar sinis tentang negara dan kebijakan, tiba-tiba terasa kosong.
Cuma karena ada satu helai kain yang tertinggal di lantai kamarku."
Aku terdiam. Sinismeku ingin sekali menyambar, ingin membalas
dengan kalimat tajam tentang betapa klisenya rayuan itu. Tapi tenggorokanku
mendadak tercekat.
"Kamu mau kopi?" tanyanya, memecah keheningan yang
mulai terasa canggung. "Bukan kopi 'cinta kepentingan', cuma kopi tubruk
biasa yang jujur."
Aku menarik napas panjang, menatapnya lurus. Ada kejujuran yang
tidak bisa dia sembunyikan di balik tatapannya. Aku sadar, tragedi kecil ini
bukan sekadar soal kancut yang tertinggal, tapi soal tembok pertahananku yang
memang sudah ingin diruntuhkan sejak awal.
"Pakai gula sedikit," jawabku akhirnya, suaraku
sedikit lebih lembut dari biasanya. "Dan jangan coba-coba bikin thread Twitter soal kejadian pagi ini. Kalau aku lihat
satu tweet saja tentang 'kain krem', aku pastikan skripsimu yang belum kelar
itu jadi bahan riset psikologiku."
Danu tertawa, kali ini tawanya terasa lebih hangat, lebih
manusiawi. "Siap, Komandan. Aku jamin, ini rahasia negara."
Dia berbalik menuju dapur kecil di sudut kamar, meninggalkan aku
yang berdiri terpaku di tengah ruangan, menyadari bahwa kadang untuk memulai
sebuah hubungan, kita memang butuh satu "tragedi" konyol yang memaksa
kita untuk tidak bergegas pergi.
Aku menyandarkan punggung ke meja kerjanya yang berantakan,
memperhatikan punggungnya saat dia sibuk menyeduh kopi. Pria ini, Danu,
benar-benar definisi dari kontradiksi. Tadi malam dia adalah perampas bibir
yang lihai, dan pagi ini dia menjelma jadi lelaki yang menawarkan kopi tubruk
dengan gestur yang sangat domestik.
"Kamu selalu begini kalau habis 'terlibat' dengan
seseorang?" tanyaku, memecah suara desir air panas yang sedang dituang.
Danu berbalik, membawa dua cangkir keramik yang mungkin umurnya
sudah lebih tua dari hubungan kami yang baru seumur jagung ini. Dia meletakkan
kopi itu di meja, lalu berdiri di depanku. "Sarinah, aku ini pengamat
politik. Kalau aku selalu begini dengan setiap orang yang mampir, aku nggak
akan punya waktu buat nulis analisa soal kebijakan publik."
Dia mendekat, kali ini berhenti tepat di depanku. "Kamu itu
anomali. Kayak typo dalam dokumen resmi yang
harusnya dihapus, tapi malah bikin dokumen itu jadi lebih menarik buat
dibaca."
"Wah, pujian atau hinaan itu?" aku mendengus, menyesap
kopi yang ternyata pas takarannya. Pahitnya jujur, seperti apa yang kubayangkan
dari hidup seorang Danu.
"Observasi," jawabnya singkat.
Kami terdiam lagi. Kali ini keheningannya tidak canggung, tapi
seperti sedang menunggu. Menunggu siapa yang berani melangkah lebih jauh dari
sekadar basa-basi pagi. Aku memandang sekeliling kamarnya lagi. Poster band progressive rock yang gambarnya sedikit pudar ditempel
asal di dinding, rak buku yang isinya lebih banyak buku sejarah daripada buku
sastra, dan... kancutku yang tadi sudah masuk tas, seolah masih menghantui
sisa-sisa udara di ruangan ini.
"Danu," panggilku. "Kalau nanti kamu merasa aku
ini cuma 'typo' yang mengganggu, jangan coba-coba buat 'delete' aku begitu
saja. Aku ini tipe wanita yang kalau ditinggal tanpa penjelasan, bakal menteror
hidupmu sampai kamu harus pindah domisili ke luar negeri."
Dia menatapku lama. Bukan tatapan tajam seorang analis, tapi
tatapan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa dia sedang menghadapi
sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar permainan kata-kata.
"Sarinah," dia membalas dengan nada yang nyaris
berbisik. "Aku bukan tipikal orang yang suka menghapus file tanpa back-up. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah
hidupku, aku nggak berniat buat sekadar save as. Aku mau save."
Aku mendengus, meski jantungku tidak bisa berbohong. Dasar pria
ini. Belum apa-apa sudah berani bermain dengan analogi komputer.
"Save as aja
dulu," kataku sambil berjalan menuju pintu. "Lihat nanti, file ini bakal rusak atau malah bikin komputermu jadi
lebih canggih."
Aku membuka pintu kamar kosnya, udara Jakarta yang panas
menyambutku. Aku berbalik, melihatnya masih berdiri di sana, dengan kopi di
tangan dan seringai yang kali ini tidak tampak tengil, tapi tampak... menunggu.
"Sampai ketemu di linimasa," kataku sambil menutup
pintu.
Aku berjalan keluar, menyadari satu hal: tragedi kancut itu
bukan lagi sebuah kesalahan. Itu adalah pembuka jalan. Dan entah kenapa,
langkah kakiku terasa jauh lebih ringan daripada saat aku datang tadi. Mungkin
karena aku baru saja meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar pakaian di
sana. Aku meninggalkan celah bagi seseorang untuk benar-benar masuk.
Seminggu berlalu sejak insiden "kain krem" itu.
Hubungan kami berkembang menjadi sesuatu yang tak bisa didefinisikan—lebih dari
sekadar "teman kopi", tapi masih jauh dari kata "aman".
Danu, dengan segala sok-tahunya, mulai terlalu sering muncul di notifikasiku,
dan sialnya, aku mulai menikmatinya.
Sampai sore itu, semuanya meledak.
Aku sedang menunggumu di sebuah kafe, tempat yang biasanya jadi
saksi bisu perdebatan kami soal isu sosial yang tak penting. Namun, Danu datang
dengan wajah yang berbeda. Tidak ada seringai tengil. Dia membawa ponselnya
dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melemparkannya ke meja di hadapanku.
"Jelaskan ini," suaranya dingin, kontras dengan udara
kafe yang pengap.
Aku melirik layar ponselnya. Itu adalah screenshot sebuah akun anonim di X (Twitter). Akun itu
memposting foto sudut kamar kos Danu—sudut yang sama tempat kami menyesap kopi
pagi itu—dengan caption yang provokatif: “Intelijen politik atau sekadar
tempat penampungan 'tulang rusuk' yang salah sasaran? Hati-hati, Bung.
Credibility is gone once you let the wrong woman in.”
Dan yang membuat darahku mendidih bukan fotonya, tapi
komentar-komentar yang mulai masuk. Ada yang mulai mengaitkan identitas Danu
sebagai pengamat politik dengan "skandal domestik". Dan yang paling
parah, ada yang menyebut namaku.
"Kamu?" tanyaku, suaraku bergetar antara marah dan
tidak percaya. "Kamu yang membocorkan ini? Kamu yang memotret sudut
kamarmu sendiri buat konten?"
Danu menatapku tajam. "Itu yang kamu pikirkan? Aku yang
sengaja membuat skandal ini demi engagement? Sarinah,
aku mempertaruhkan reputasiku, karier menulisku, semua yang kubangun dari nol,
hanya karena aku ingin 'jujur' soal kamu di linimasa!"
"Lalu kenapa fotonya ada di sana?!" teriakku, membuat
beberapa pengunjung menoleh.
"Aku tidak tahu!" dia menggebrak meja. "Seseorang
masuk ke kosku saat aku pergi beli makan. Laptopku terbuka. Dan sekarang, semua
orang mengira aku cuma pria yang menghalalkan segala cara, termasuk memakai...
urusan ranjang sebagai bumbu analisis politik!"
Hatiku mencelos. Aku melihat sekeliling, merasa seolah semua
orang di kafe ini sedang menatapku sebagai "si wanita skandal" itu.
Selama ini aku sinis, aku keras, tapi aku punya prinsip. Aku tidak pernah ingin
menjadi bahan gosip murahan.
"Danu," kataku, suaraku kini merendah, dingin seperti
es. "Sejak awal, kamu bilang cinta itu 'cinta kepentingan'. Kalau sekarang
kepentinganku sudah tidak sejalan dengan kepentingan reputasimu, silakan hapus
aku dari linimasamu."
"Sarinah, jangan mulai—"
"Jangan panggil aku," aku berdiri, mengambil tasku.
"Kamu selalu bangga dengan analisis politikmu, kan? Coba analisis ini:
bagaimana rasanya ketika seseorang yang kamu anggap 'typo' dalam hidupmu,
ternyata punya harga diri yang jauh lebih besar daripada ribuan followers yang kamu puja."
"Sarinah, tunggu!"
Aku tidak menoleh. Aku keluar dari kafe itu, meninggalkan Danu
yang masih terperangah di kursinya. Di luar, hujan mulai turun, deras sekali. Jakarta
sore ini seolah sedang menertawakan kebodohanku yang percaya bahwa dua orang
yang bertemu karena "tragedi kancut" bisa berakhir menjadi sesuatu
yang disebut cinta. Aku berjalan menembus hujan, membiarkan air membasahi
wajahku, menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh. Aku bukan lagi Sarinah yang
sinis. Aku adalah Sarinah yang baru saja sadar, bahwa di dunia yang penuh
dengan "kepentingan", terkadang menjadi sendiri adalah satu-satunya
cara untuk tetap menjadi manusia.
Danu benar tentang satu hal: hidup memang tidak bisa ditebak.
Tapi dia salah soal satu hal lagi: hidupku bukan file yang bisa dia save sesuka hatinya.
Tiga hari berlalu seperti masa berkabung. Ponselku kumatikan
total. Aku tidak ingin melihat notifikasi yang isinya hanya cacian atau orang-orang
sok tahu yang berusaha menyambung-nyambungkan hidupku dengan karier Danu. Aku
kembali ke duniaku sendiri: kuliah, perpustakaan, dan mencoba berpura-pura
bahwa "tragedi kancut" itu hanyalah mimpi buruk setelah kebanyakan
minum kopi.
Tapi, hidup memang punya selera humor yang gelap.
Pagi ini, saat aku sedang duduk di pojok kantin kampus, seorang
mahasiswa—yang biasanya sibuk dengan rapat organisasi—mendekatiku. Wajahnya
canggung, tangannya memegang gadget.
"Eh, Kak Sarinah, ya? Maaf, ini... ada titipan. Dia bilang
kalau Kakak nggak mau buka handphone, dia bakal
nunggu di depan gerbang fakultas sampai Kakak keluar."
Dia menyodorkan sebuah amplop cokelat. Tebal. Bukan amplop
cinta, tapi amplop dokumen.
Aku membukanya dengan tangan gemetar. Isinya bukan surat
permintaan maaf yang melankolis. Itu adalah print out
investigasi mandiri. Danu telah melacak alamat IP pengunggah foto itu.
Ternyata, pelakunya bukan orang asing, melainkan asisten risetnya
sendiri—seseorang yang selama ini merasa "tersaingi" karena Danu
mulai jarang membahas politik dan lebih sering membahas "kehidupan".
Di bagian bawah tumpukan dokumen itu, ada sebuah catatan kecil
tertulis tangan dengan huruf kapital yang berantakan:
SARINAH. AKU TIDAK PEDULI REPUTASI. AKU SUDAH MENGUNGGAH KLARIFIKASI
LENGKAP DI BLOG PRIBADIKU. AKU MEMILIH MENGAKUI SEMUANYA—BAHWA AKU MENYUKAIMU
DAN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ORANG LAIN MENGOTORI NAMAMU. JIKA KAMU MENGANGGAP
INI ADALAH 'KEPENTINGAN', MAKA KEPENTINGANKU SATU-SATUNYA ADALAH KAMU.
Aku merasakan detak jantungku berpacu lagi, kali ini bukan
karena amarah, tapi karena sesuatu yang sudah lama kupendam di bawah lapisan
sinisme: harapan.
Aku segera menyalakan ponselku. Ribuan notifikasi masuk, tapi
aku langsung menuju blog Danu. Di sana, dia tidak menulis analisis politik yang
bertele-tele. Dia menulis tentang bagaimana seorang wanita bernama Sarinah
telah mengubah pandangannya tentang cinta—bahwa cinta bukan lagi soal
untung-rugi atau koin 50:50, tapi tentang keberanian untuk berdiri di sisi
seseorang saat badai datang.
Aku menatap layar ponsel, lalu ke arah gerbang fakultas. Di
sana, di bawah terik matahari yang menyengat, sosok Danu berdiri. Dia tidak
memakai kemeja rapi ala pengamat politik yang sering dia banggakan. Dia hanya
memakai kaus oblong, dengan wajah yang tampak lelah karena kurang tidur. Dia
tidak melihat ke arah ponsel, dia hanya menatap lurus ke gedung fakultasku,
menunggu.
Sinis? Tentu saja. Aku masih Sarinah yang sama. Tapi melihatnya
berdiri di sana, seperti orang bodoh yang siap menanggung malu demi
melindungiku, membuat tembok yang kubangun tiga hari terakhir runtuh seketika.
Aku berjalan keluar, melewati kerumunan mahasiswa yang mulai
berbisik-bisik melihat drama nyata ini. Saat jarak kami tersisa dua langkah,
Danu menatapku. Tidak ada lagi seringai tengil. Hanya tatapan pria yang baru
saja menaruh seluruh pertaruhannya di atas meja.
"Kamu telat membaca," katanya pelan.
"Dan kamu terlalu dramatis," balasku, meski suaraku
serak.
"Jadi?" dia bertanya, suaranya sedikit bergetar.
"Apakah akunku masih perlu di-report massal?"
Aku menatapnya tajam, lalu mendengus pelan—khas Sarinah yang
sebenarnya. "Tergantung. Bagaimana kalau sebagai ganti dari 'tragedi
kancut' itu, kamu traktir aku kopi yang benar-benar enak, dan kali ini, kamu
janji nggak akan pakai aku sebagai bahan riset atau konten lagi?"
Danu menghela napas panjang, bahunya merosot lega. Dia
menyodorkan tangannya. Bukan untuk menjabat, tapi untuk menggenggam.
"Deal," katanya.
Aku menyambut tangannya. Dingin. Tangan kami sama-sama dingin,
tapi saat bersentuhan, kurasa ada sesuatu yang mulai menghangat. Mungkin ini
yang namanya save yang permanen, bukan sekadar save as.
Kami berjalan menjauh dari gerbang fakultas, mengabaikan tatapan
penasaran para mahasiswa yang mungkin sedang sibuk mengetik *thread* gosip
terbaru di linimasa mereka masing-masing. Biarlah. Lagipula, bukankah hidup
memang sebuah drama yang ditulis oleh sutradara yang tidak pernah memberikan
naskah kepada pemeran utamanya?
"Jadi," kataku sambil menyesuaikan langkah dengan
langkahnya yang sedikit lebih lebar. "Apa yang terjadi sama asisten
risetmu itu? Sudah kamu 'politisasi' dia?"
Danu tertawa, sebuah tawa yang terdengar lebih ringan, seolah
beban yang selama ini dia pikul di pundaknya baru saja diangkat paksa.
"Aku tidak memecatnya. Aku cuma memberinya tugas riset tentang 'dampak
privasi dalam komunikasi digital' selama tiga bulan penuh. Tanpa akses
internet, tanpa ponsel. Kalau dia benar-benar mau paham soal skandal, biar dia
merasakannya sendiri di ruang hampa."
Aku mendengus, mencoba menahan senyum. "Jahat juga ya. Tapi
cukup adil."
Kami berhenti di sebuah kedai kopi kecil di pinggiran kampus,
tempat yang suasananya lebih mirip ruang tunggu bengkel daripada kafe *fancy*
tempat para *influencer* pamer *latte art*. Di sini, kopi cuma ada dua jenis:
manis atau pahit. Tidak ada kerumitan definisi. Danu menarik kursi untukku.
Saat kami duduk, dia tidak langsung mengeluarkan ponsel untuk *update* status
atau mengecek tren di X. Dia hanya menatapku, membiarkan kebisingan jalanan Jakarta
di sore hari menjadi latar belakang yang tidak penting.
"Sarinah," panggilnya pelan. "Aku sadar, seminggu
terakhir ini aku sudah terlalu banyak bicara. Aku terlalu sibuk membangun
citra, terlalu sibuk mendefinisikan cinta dengan istilah-istilah yang sebenarnya
tidak kupahami sendiri."
"Lalu?"
"Lalu aku sadar, kalau cinta itu memang seperti yang kamu
bilang di prolog dulu. Mengalor-ngidul. Tidak ada definisi baku. Dan kalaupun
ada, definisi itu cuma milik kita berdua, bukan milik pengikut di akun media
sosialku."
Aku menyesap kopi tubruk yang disajikan di gelas kaca tebal.
Pahit, pekat, dan jujur. Persis seperti percakapan kami saat ini. "Kamu
sudah mulai bisa belajar dari aku, ya? Awas saja kalau nanti tiba-tiba kamu
nulis *thread* berjudul '5 Pelajaran Hidup dari Wanita Sinis'."
Danu tergelak. "Kalau pun aku nulis, judulnya bukan
itu."
"Terus apa?"
"Judulnya: 'Tentang Bagaimana Menemukan Tulang Rusuk yang
Ternyata Suka Berdebat'."
Aku melempar tatapan tajam, tapi sedetik kemudian kami berdua
malah tertawa. Tawa yang, entah kenapa, rasanya sangat melegakan. Seolah-olah,
setelah semua kegaduhan, kebohongan, dan tragedi kecil yang memalukan itu, kami
akhirnya menemukan frekuensi yang sama. Aku melihat tangannya di atas meja.
Jemari yang kasar, yang kemarin sempat gemetar saat menyerahkan dokumen
klarifikasi itu. Tanpa berpikir panjang, aku meletakkan tanganku di atasnya.
Bukan karena ingin menguasai, tapi karena ingin memastikan bahwa manusia di
depanku ini nyata. Bukan cuma barisan kode atau algoritma Twitter.
"Danu," kataku dengan nada yang sedikit lebih serius.
"Kita masih jauh dari kata selesai. Mungkin besok akan ada lagi masalah.
Mungkin besok kita bakal berantem lagi karena hal konyol. Dan mungkin, kancutku
yang lain akan tertinggal di tempatmu lagi."
Dia tersenyum, kali ini senyum yang paling tulus yang pernah
kulihat. "Kalau itu yang terjadi, aku tidak akan menjadikannya konten. Aku
akan menjadikannya alasan untuk memintamu datang lagi."
Aku memutar bola mata, tapi genggamanku semakin erat. Jakarta
mungkin akan terus berisik dengan opininya, dan linimasa mungkin akan terus
bergerak dengan bencananya. Tapi untuk sore ini, di antara aroma kopi dan sisa
hujan, aku merasa bahwa terkadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah
berhenti menganalisis hidup, dan mulai menjalaninya saja. Sarinah yang sinis
mungkin belum sepenuhnya hilang, tapi Sarinah yang sekarang... yah, setidaknya
dia tidak lagi merasa sendirian di tengah keramaian. Dan itu sudah lebih dari
cukup.
Malam itu, gerimis kembali turun membasahi aspal Jakarta,
menciptakan refleksi lampu jalan yang berpendar di genangan air. Kami
memutuskan untuk pulang dengan motor Danu. Motor tua yang suaranya lebih mirip
traktor rusak daripada kendaraan bermotor masa kini, tapi entah kenapa, memeluk
pinggangnya di atas jok yang keras ini terasa lebih nyaman daripada duduk di
kursi kafe manapun. Di lampu merah perempatan besar, dia sedikit menoleh ke
belakang, suaranya teredam deru angin malam. "Sarinah! Kamu mau langsung
pulang atau mau cari makan dulu? Perutku sudah lebih berisik daripada *reply*
netizen!"
Aku menyandarkan daguku di bahunya, merasakan getaran mesin di
balik jaket denimnya. "Terserah! Asal bukan tempat yang banyak *spot*
fotonya. Aku sudah lelah dengan dunia yang isinya cuma mau kelihatan
keren."
Dia tertawa, lalu tancap gas begitu lampu berubah hijau. Kami
tidak berakhir di restoran *franchise* atau tempat makan viral. Dia membawaku
ke sebuah warung tenda di pinggir jalan, tempat di mana asap sate kambing
mengepul tebal menutupi spanduk bertuliskan "Sop Kambing Tiga Saudara".
Di sana, di antara bapak-bapak yang sedang asyik merokok dan
obrolan tentang harga kebutuhan pokok yang naik, kami duduk di kursi plastik
yang sudah sedikit miring. Tidak ada *gadget* di tangan. Tidak ada pamer estetika.
Hanya sepiring sate, nasi hangat, dan kecap yang berceceran di atas meja kayu
yang dilapisi plastik kusam.
"Ini," ucapnya sambil menyodorkan tusukan sate paling
besar ke arahku. "Analisisku, ini adalah tempat terbaik buat kita berdua.
Nggak ada *followers*, nggak ada skandal. Cuma ada kita sama lemak kambing yang
kolesterolnya tinggi."
Aku tersenyum, kali ini tanpa rasa sinis sedikit pun.
"Ternyata otakmu masih berfungsi dengan baik setelah sempat dicuci oleh
algoritma."
"Aku serius, Sar," katanya, menatapku lurus sementara
tangannya sibuk mengipasi sate. "Mungkin setelah ini, aku bakal
benar-benar vakum dari dunia 'pengamat politik'. Mungkin aku mau coba jadi
orang biasa saja. Mungkin mau buka bengkel, atau jadi guru les, atau apa pun
yang nggak bikin aku harus ngetweet tiap sepuluh menit."
Aku menghentikan kunyahanku, menatapnya dengan lekat. "Kamu
yakin? Dunia itu candu, Danu. Pengakuan orang-orang di linimasa itu racun yang
enak rasanya."
Dia terdiam sejenak, menatap ke arah keramaian jalan raya yang
tak pernah tidur. "Aku sudah merasakannya. Dan jujur, rasanya hambar.
Setelah semua kegaduhan kemarin, aku sadar kalau satu-satunya yang bikin aku
tetap berpijak di bumi adalah fakta bahwa besok aku masih bisa ngajak kamu
makan sate di tempat kumuh ini."
Aku tertegun. Kalimatnya sederhana, tidak puitis, jauh dari gaya
bahasa intelek yang sering dia pakai untuk memukau pengikutnya. Tapi justru
itulah yang membuatnya terasa nyata.
"Kalau begitu," kataku pelan, "jangan vakum dulu.
Sayang kalau ilmunya terbuang. Tapi, kurangi kadarnya. Jangan sampai kamu lupa
cara ngomong sama manusia di depanmu sendiri cuma gara-gara sibuk ngomong sama
hantu-hantu di balik layar."
"Siap, Komandan," jawabnya sambil tersenyum lebar.
Malam itu, di bawah tenda sederhana, aku menyadari sesuatu.
Mungkin kami bukan pasangan yang romantis seperti di film-film. Kami cuma dua
orang yang sama-sama berantakan, yang dipertemukan oleh sebuah keteledoran
kecil dan disatukan oleh keinginan untuk menjadi manusia yang lebih jujur.
Dan saat kami berjalan menuju motor untuk pulang, Danu tiba-tiba
menggenggam tanganku dengan erat di bawah jaketnya. Genggaman yang bukan lagi
soal kepemilikan, tapi tentang sebuah janji untuk saling menjaga. Aku tidak
tahu akan sampai di mana perjalanan ini. Tapi melihat punggung Danu di depanku,
dan merasakan dinginnya malam Jakarta yang mulai berubah menjadi hangat, aku
merasa tidak perlu lagi menebak-nebak peluang 50:50 itu. Cinta itu memang tidak
perlu rumus, apalagi logika politik. Cinta itu cuma perlu keberanian untuk
duduk di kursi plastik miring, memesan sate yang sama, dan menertawakan betapa
konyolnya kehidupan yang sudah kami jalani.
……Dan untuk saat ini, Sarinah yang sinis ini, sudah cukup puas
dengan takdirnya.
Dalam perjalanan pulang, Jakarta seolah melambat. Motor tua Danu
membelah udara malam yang mulai dingin, menyisakan deru mesin yang
ritmis—sebuah melodi konstan yang entah mengapa terasa lebih menenangkan
daripada debat politik paling sengit sekalipun. Aku memeluk pinggangnya lebih
erat, bukan karena takut jatuh, tapi karena aku ingin menyerap kehangatan yang
mulai tumbuh di antara kami. Sesampainya di depan rumahku, aku tidak langsung
turun. Aku membiarkan mesin motor itu mati, membiarkan keheningan malam
mengambil alih, hanya diselingi suara jangkrik yang entah dari mana datangnya
di tengah beton Jakarta.
"Sarinah," panggil Danu pelan. Dia tidak menoleh, tapi
aku bisa merasakan bahunya menegang sedikit. "Besok... aku bakal menemui
orang tuamu."
Aku tertawa renyah, sebuah tawa yang jujur. "Mau bahas apa?
Analisis kebijakan publik tentang restu orang tua?"
"Bukan," jawabnya singkat. Dia berbalik, menatapku di
balik kaca helm yang sudah dibuka. Wajahnya serius, lebih serius daripada saat
dia memenangkan debat di platform manapun.
"Aku cuma mau bilang kalau aku mau berhenti jadi pengamat politik yang
cuma bisa berteori. Aku mau jadi orang yang punya 'kepentingan' jelas.
Kepentingan untuk memastikan kamu tidak pernah menyesal sudah memungutku dari
linimasa yang berantakan itu."
Aku terdiam. Kalimatnya, yang dulu mungkin akan kupatahkan
dengan sarkasme tajam, kali ini terasa seperti jangkar yang menjatuhkan diri ke
dasar laut. Mantap. Kokoh.
"Kamu tahu, Danu?" aku berkata sambil turun dari
motor, kakiku menyentuh aspal dengan mantap. "Kalau kamu datang ke
rumahku, jangan pakai bahasa-bahasa intelekmu itu. Bapakku orangnya praktis.
Kalau kamu bicara soal 'distribusi keadilan' atau 'hegemoni kekuasaan', dia
bakal mengusirmu pakai sapu lidi."
Danu tersenyum kecut, tapi ada kilatan jenaka di matanya.
"Jadi, aku harus bicara apa?"
"Bicara soal betapa kamu bisa menjaga cucunya nanti, atau
betapa kamu bisa memperbaiki genteng yang bocor. Bahasa orang nyata, bukan
bahasa Twitter," kataku, lalu melangkah menuju gerbang.
Aku berhenti sebentar, menoleh padanya yang masih terduduk di
atas motor tua itu. "Dan Danu?"
"Ya?"
"Terima kasih untuk kopinya. Dan untuk... segalanya. Malam
ini, aku tidur tanpa perlu memikirkan algoritma."
Dia hanya mengangguk, lalu menyalakan mesin motornya. Suara
berisik itu kini tidak lagi mengganggu, justru terdengar seperti sebuah janji
bahwa besok, atau lusa, atau kapan pun itu, akan ada seseorang yang datang
mengetuk pintu rumahku—bukan sebagai pengamat politik, tapi sebagai pria yang
sedang belajar mencintai dengan cara yang paling manusiawi.
Aku menutup gerbang, menyandarkan punggung di baliknya, dan
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menarik napas panjang dengan
lega.
Cinta itu memang tidak punya rumus. Tapi, setelah semua
kekacauan, "tragedi kancut", dan linimasa yang sempat terbakar, aku
akhirnya mengerti satu hal: cinta itu bukan tentang siapa yang paling pintar
menganalisis, tapi tentang siapa yang berani bertahan saat segalanya
berantakan.
Besok, matahari akan terbit lagi. Dan entah apa yang akan
terjadi di linimasa nanti, aku tidak lagi peduli. Karena yang terpenting, di
dunia nyata ini, aku sudah menemukan seseorang yang mau duduk bersamaku,
berbagi sate, dan menertawakan ketidakpastian.
Bersambung… atau mungkin, ini memang awal dari sesuatu yang baru
saja dimulai.
Belum, ini bukan akhir. Justru, ini adalah bab di mana
topeng-topeng mulai benar-benar tanggal.
Keesokan harinya, tepat seperti janjinya, Danu datang ke rumah.
Dia tidak mengenakan kemeja rapi atau jas sok formal, melainkan kemeja batik
yang sedikit kusut di bagian lengan—satu-satunya kemeja yang dia anggap
"cukup sopan" tanpa harus terlihat seperti politisi yang mau
kampanye. Dia membawa martabak manis yang bungkusnya sudah agak lecek karena
perjalanan. Klasik. Sangat manusiawi.
Bapakku, seorang pensiunan guru yang bicara lebih banyak dengan
tatapan mata daripada kata-kata, duduk di ruang tamu sembari mengisap kretek.
Danu duduk di hadapannya, dan untuk pertama kalinya sejak kami kenal, aku
melihat Danu yang gugup. Dia bukan pengamat politik yang kritis; dia hanyalah
seorang pria yang sedang berusaha mendapatkan izin untuk menyambangi hidup
anaknya.
"Saya Danu, Pak," katanya, suaranya tidak lagi berat
dan berwibawa seperti saat dia membuat analisis di Twitter. "Saya... teman
Sarinah."
Bapak hanya mengangguk, lalu mematikan rokoknya. "Teman
yang mana? Teman debat, atau teman yang mau serius?"
Danu terdiam sejenak. Aku bisa melihat otot rahangnya bergerak,
menahan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Dia tidak menjawab dengan kutipan
filsuf atau istilah politik. Dia menatap Bapak, lalu menatapku, kemudian
kembali ke Bapak.
"Saya tidak tahu seberapa serius saya di mata Bapak,"
ujar Danu dengan nada yang sangat pelan namun mantap. "Tapi saya tahu,
setiap kali saya bicara dengan Sarinah, saya merasa lebih manusia daripada saat
saya bicara dengan ribuan orang di linimasa. Saya tidak bisa menjanjikan masa
depan yang tanpa masalah, Pak. Saya sendiri masih berantakan. Tapi saya
berjanji, saya akan belajar menjadi orang yang cukup rapi untuk bisa
mendampingi dia."
Ruangan itu hening. Hanya suara detak jam dinding yang
terdengar. Aku mematung di ambang pintu, menahan napas. Ini bukan skrip. Ini
bukan konten. Ini adalah kejujuran yang paling berisiko.
Bapak kemudian menghela napas panjang, lalu tersenyum
tipis—senyum yang jarang dia tunjukkan. Dia mengambil potongan martabak itu.
"Orang yang tahu dia berantakan biasanya lebih mudah diperbaiki daripada
orang yang merasa dirinya paling benar."
Danu melepaskan napas lega, bahunya yang sedari tadi tegang kini
meluruh.
Namun, di tengah suasana yang mulai mencair itu, ponsel Danu di
saku celananya bergetar hebat. berkali-kali. Dia melirik layarnya, dan wajahnya
mendadak pucat. Bukan karena politik, bukan karena followers, tapi
karena satu pesan yang membuat dunianya—dan duniaku—kembali terguncang.
Pesan dari nomor tak dikenal: "Selamat datang di kehidupan
nyata, Danu. Sekarang, giliran aku yang akan membongkar siapa sebenarnya orang
yang kamu bela itu. Sarinah, atau seharusnya aku panggil... si masa lalu yang
ingin kamu kubur?"
Danu menatapku dengan mata yang membulat. Rahasia. Ternyata,
bukan cuma aku yang punya "typo" dalam hidup. Danu pun punya naskah
yang belum pernah dia ceritakan padaku.
Aku menatapnya tajam. Sinismeku kembali, bukan sebagai
pertahanan, tapi sebagai insting untuk bertahan hidup. "Danu. Apa
maksudnya itu?"
Danu tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang
penuh penyesalan, seolah-olah dia baru saja menyadari bahwa kebahagiaan yang
kami bangun di atas sate pinggir jalan tadi malam, baru saja disiram air dingin
yang sangat pekat.
Drama baru saja dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan lagi
algoritma. Musuhnya adalah masa lalu yang datang menagih hutang.
Apa yang harus dilakukan Sarinah sekarang: langsung menginterogasi
Danu di depan Bapak, atau berpura-pura tenang agar Bapak tidak curiga, padahal
hatinya sudah mulai curiga ada sesuatu yang disembunyikan Danu? Perang batin
sudah mulai.
Aku memilih untuk tenang. Bukan karena aku sudah memaafkan, tapi
karena aku tahu Bapak punya radar yang sangat tajam untuk mendeteksi
kebohongan. Jika aku mengamuk sekarang, Bapak akan mengusir Danu—dan aku akan
kehilangan kesempatan untuk tahu siapa sebenarnya "si masa lalu" ini.
Aku duduk di kursi kayu di samping Danu, lalu meletakkan tanganku di atas
lututnya. Rasanya dingin. Dia gemetar.
"Bapak, sepertinya ada urusan pekerjaan yang mendesak untuk
Mas Danu," kataku dengan nada sedatar mungkin, sambil melirik Danu untuk
memberi kode agar dia segera mengikuti alurku. "Boleh kita lanjut
pembicaraannya di teras?"
Bapak memandang kami bergantian, menyesap teh hangatnya dengan
santai. "Ya sudah. Urus dulu yang penting. Jangan sampai urusan di luar
sana bikin martabaknya jadi dingin, nanti nggak enak dimakan."
Kami beranjak ke teras depan yang remang-remang. Begitu pintu
tertutup, aku langsung menyambar ponsel dari tangannya. Aku membaca pesan itu
berulang kali. Siapa pun pengirimnya, dia tahu terlalu banyak.
"Siapa?" tanyaku, suaraku bisikan tajam yang nyaris
tertelan suara gesekan daun di halaman.
Danu menyandarkan punggungnya di tiang teras, wajahnya terlihat
jauh lebih tua dari usianya. "Seseorang yang pernah ada di hidupku sebelum
aku mengenal Twitter, Sarinah. Seseorang yang dulu aku tinggalkan karena aku
terlalu egois mengejar ambisi jadi 'suara publik'."
"Dan dia tahu tentang kita? Bagaimana dia tahu soal martabak,
soal rumah ini, soal aku?" cecarku.
Danu menatapku, matanya berkaca-kaca. "Karena dia bukan
orang asing, Sarinah. Dia adalah orang yang dulu pernah menjadi alasan kenapa
aku menulis thread pertamaku tentang 'cinta kepentingan'. Dia yang mengajariku
cara menjadi sinis, sebelum akhirnya aku bertemu denganmu dan sadar bahwa
sinisme itu justru menghancurkan segalanya."
Duniaku mendadak terasa miring. Jadi, selama ini Danu bukan
sekadar pengamat politik. Dia adalah pria yang membawa bagasi emosional yang
bahkan belum selesai dia bereskan.
"Apa yang dia mau?"
"Dia tidak mau uang," jawab Danu getir. "Dia mau
aku mengakui di depan publik bahwa semua pandanganku tentang cinta selama ini
adalah palsu. Bahwa aku hanyalah seorang penipu yang menggunakan kata-kata manis
untuk menutupi kenyataan bahwa aku tidak pernah benar-benar bisa mencintai
siapa pun."
Aku tertawa sinis, tawa yang kering dan getir. "Lalu
sekarang kamu mau menyerah? Kamu mau menghancurkan apa yang baru saja kita
mulai demi membuktikan dia benar?"
"Tentu saja tidak!" Danu meraih tanganku, namun kali
ini aku menariknya.
"Jangan sentuh aku kalau kamu masih menyimpan
keraguan," kataku tegas. "Dengar, Danu. Kamu bilang padaku kemarin
kalau kamu mau jadi orang nyata. Nah, sekarang buktikan. Kalau dia mau kamu
mengakui kalau kamu penipu, tunjukkan padanya bahwa kamu sudah berubah. Bukan dengan kata-kata di linimasa, tapi
dengan tindakan di dunia nyata."
Ponsel itu kembali bergetar. Sebuah foto baru masuk. Foto aku
dan Danu yang sedang makan sate tadi malam di warung tenda.
Pesan: "Masih mau main-main? Aku sedang melihat kalian dari
jarak 20 meter. Mau aku buat martabak itu jadi makanan terakhir yang kalian
nikmati dengan tenang?"
Aku menoleh ke arah jalan raya, mencari sosok yang mungkin
sedang mengawasi. Danu pun ikut menoleh, matanya memicing, mencari bayangan di
balik kegelapan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah gerbang. Bukan
suara orang asing yang mengendap-endap, melainkan langkah sepatu yang mantap
dan sengaja diperdengarkan. Seorang wanita, dengan jaket kulit yang menutupi
siluet tubuhnya, berdiri di sana. Wajahnya tertutup bayangan lampu jalan, tapi
senyumnya terlihat jelas.
"Halo, Danu," suara wanita itu dingin, tajam, dan
sangat familiar. "Sudah lama kita tidak bicara tentang 'kepentingan',
bukan?"
Aku mematung. Danu di sampingku menegang hebat. Dan yang paling
parah, pintu rumah terbuka. Bapak muncul dari dalam, menatap wanita di gerbang
dengan kening berkerut.
"Lho? Siapa ini? Teman kamu lagi, Dan?" tanya Bapak
dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri.
Situasi bukan lagi sekadar konflik asmara. Ini sudah menjadi
pengepungan. Dan aku, Sarinah, harus memutuskan: apakah aku akan membiarkan
Danu jatuh, atau berdiri di sampingnya untuk menghadapi badai yang baru saja
mengetuk pintu rumah Bapak.
Wanita itu melangkah masuk ke halaman rumah tanpa menunggu
jawaban dari Bapak. Langkahnya angkuh, sepatu botnya menghantam ubin teras
dengan bunyi klak-klak yang ritmis, seolah sedang menandai
teritorial. Dia berhenti tepat di bawah cahaya lampu teras, memperlihatkan
wajah yang tajam, tegas, dan entah mengapa, memiliki guratan kemiripan dengan
Danu dalam cara dia menatap dunia—penuh kalkulasi.
"Saya kenalan lama Danu, Pak," ujarnya santai, tanpa
memedulikan tatapan heran Bapak. Dia beralih padaku, matanya menyapu
penampilanku dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan yang bisa
membekukan air dalam sekejap. "Dan kamu pasti Sarinah. Si 'typo' yang
dianggap Danu sebagai kesalahan terindah itu."
Bapak berdeham, suasana menjadi tegang seperti dawai gitar yang
diputar terlalu kencang. "Kenalan lama? Masuk dulu. Jangan di luar, nanti
dikira maling."
Aku melirik Danu. Pria itu tampak seperti orang yang baru saja
tersambar petir. Dia berdiri kaku, seolah jiwanya sudah kabur ke linimasa lain.
Aku menyikut pinggangnya keras-keras agar dia sadar ke dunia nyata.
"Masuk, Dan," bisikku tajam. "Jangan berdiri di
sana kayak patung pahlawan yang mau dirobohkan."
Kami berempat duduk di ruang tamu. Bapak dengan posisi duduk
bersedekahnya yang tenang, wanita itu di kursi tamu, sementara aku dan Danu
duduk di sofa panjang. Wanita itu—yang belakangan kutahu bernama Kirana—membuka
percakapan seolah dia sedang memimpin rapat redaksi media besar.
"Danu mungkin lupa memberi tahu kamu," Kirana memulai,
mengeluarkan sebuah file tipis dari tasnya dan
meletakkannya di meja, tepat di atas bungkus martabak yang mulai dingin.
"Dia punya kecenderungan untuk membuang masa lalu yang sudah tidak
berguna. Tapi sayangnya, masa lalu itu punya ingatan yang lebih panjang
daripada feed Twitter-nya."
"Kirana, cukup," suara Danu akhirnya keluar, parau.
"Kenapa? Kamu takut Bapaknya Sarinah tahu kalau
analisis-analisis jeniusmu tentang 'cinta kepentingan' itu sebenarnya adalah
surat cinta yang gagal kamu sampaikan padaku bertahun-tahun lalu?" Kirana
tersenyum miring, senyum yang mematikan.
Aku merasakan jantungku berdegup kencang, bukan karena cemburu,
tapi karena melihat bagaimana topeng Danu yang baru saja kupuji-puji tadi
malam, kini terkelupas habis di depan mataku.
Bapak menyesap tehnya, matanya menatap Kirana dengan tenang.
"Saya guru, Nak. Saya tahu kapan murid saya sedang berbohong dan kapan dia
sedang mencoba menjadi jujur meski caranya salah. Danu datang ke sini tadi
untuk jujur, meski dia belum selesai bercerita soal masa lalunya."
Kirana tertegun. Dia tidak menyangka Bapak akan selembut itu.
Aku berdiri, menatap Kirana tepat di matanya. "Aku tidak
peduli apa yang terjadi di masa lalu kalian. Mau itu surat cinta, mau itu
dendam politik, itu urusan kalian. Tapi kalau kamu datang ke sini untuk
menghancurkan apa yang sedang kami coba bangun sekarang, berarti kamu sama saja
dengan akun-akun anonim yang kamu benci itu."
Aku menunjuk pintu keluar. "Kamu mau bicara soal masa lalu?
Silakan. Tapi jangan di rumah Bapak. Kamu bilang kamu benci cara Danu
menggunakan kepentingan untuk cinta, kan? Jangan jadi orang munafik dengan
melakukan hal yang sama."
Kirana terdiam. Untuk pertama kalinya, seringainya memudar. Dia
menatap Danu, yang kini sudah menunduk dalam, lalu menatapku.
"Kamu punya nyali juga untuk seorang 'typo'," gumam
Kirana. Dia berdiri, mengambil kembali file-nya.
"Danu, kalau kamu memang sudah berubah, buktikan. Tapi ingat, masa lalu
itu seperti log server. Bisa dihapus, tapi jejaknya tidak pernah
benar-benar hilang."
Dia melangkah keluar, namun di ambang pintu, dia berhenti.
"Oh ya, Sarinah. Hati-hati. Dia tidak pernah benar-benar mencintai
seseorang tanpa alasan. Cari tahu apa alasannya memilih kamu sekarang, sebelum
kamu jadi korban analisis berikutnya."
Setelah pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruang tamu. Bapak
bangkit, menepuk pundak Danu pelan, lalu masuk ke dalam tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, meninggalkan kami berdua di ruang tamu yang mendadak terasa
sangat luas dan dingin.
Danu menatapku, matanya memohon pengertian. "Sarinah, aku
bisa jelaskan—"
"Jangan sekarang," potongku. Aku merasa lelah, sangat
lelah. "Aku cuma mau tahu satu hal, Danu. Apakah alasannya dia datang
adalah karena kamu yang memancingnya, atau dia yang memang tidak bisa
membiarkanmu bahagia?"
Danu terdiam, lalu menjawab dengan suara nyaris tak terdengar,
"Keduanya."
Aku menarik napas panjang. Ternyata, "tragedi kancut"
itu hanyalah permulaan. Badai yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini,
aku tidak tahu apakah kami bisa selamat dengan sate dan kopi tubruk saja.
Aku berdiri dari sofa, meninggalkan Danu yang masih terpaku
dalam penyesalan yang membeku. Aku berjalan ke arah jendela, menatap jalanan di
depan rumah yang sudah sepi. Bayangan Kirana tadi—anggun, tajam, dan penuh
dendam—masih menari-nari di kepalaku. Dia benar tentang satu hal: jejak masa
lalu tidak pernah benar-benar terhapus.
"Sarinah..." Danu memanggil lagi, suaranya parau.
Aku berbalik. "Danu, kalau kamu mau menjelaskan, jangan
pakai analisis. Jangan pakai analogi. Jangan pakai istilah politik. Ceritakan
seperti manusia biasa yang punya hati yang sempat salah arah."
Danu menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Bukan tentang
data, bukan tentang engagement, tapi tentang rasa
takut. Rasa takut menjadi pria biasa yang tidak punya "nilai jual" di
mata Kirana, wanita yang dibesarkan di lingkungan yang selalu menuntut standar
tinggi. Untuk bertahan, dia menciptakan persona "pengamat politik"
yang sinis agar dunia segan padanya. Sarinah, atau aku, adalah anomali yang
muncul tepat saat dia sudah lelah menjadi orang lain.
"Dia bukan cuma masa laluku, Sar," Danu mengakui
dengan suara bergetar. "Dia adalah standar yang kupakai untuk menghakimi
diriku sendiri selama ini. Dan saat aku melihatmu... saat kita makan sate
itu... aku sadar kalau standar itu tidak relevan lagi. Aku ingin berhenti
mengejar validasi, dan mulai mengejar ketenangan."
Aku mendengarkan tanpa memotong. Sinismeku sedikit demi sedikit
luluh oleh getaran di suaranya yang terdengar jujur, jauh dari nada-nada cuitan
Twitter-nya yang berapi-api.
"Tapi, kenapa dia bisa tahu di mana kita tadi malam?"
desakku.
Danu menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Aku... aku masih
membagikan lokasi di dashboard pribadiku yang lupa
kupatikan. Aku pikir itu sudah tidak aktif. Itu kesalahan bodoh."
Aku menghela napas. Kebodohan yang manusiawi.
"Danu," kataku akhirnya, mendekat padanya. "Kalau
kamu mau jujur, maka jujurlah sampai ke akar-akarnya. Kalau masih ada 'pesan'
atau 'janji' lain yang belum selesai dengan dia, selesaikan sekarang. Aku tidak
akan menjadi pelarianmu dari Kirana, dan aku tidak akan menjadi bidak dalam
catur kalian."
Danu menatapku, matanya memancarkan kesadaran. Dia mengerti
bahwa aku tidak butuh rayuan, aku butuh kepastian bahwa dia sudah benar-benar
"log out" dari masa lalunya.
"Aku akan menghapus semuanya, Sar. Akun-akun itu, dashboard itu, semuanya. Aku akan benar-benar mulai
dari nol. Kalaupun harus jadi orang biasa yang tidak punya followers, aku sudah siap."
Aku terdiam sejenak. "Buktinya?"
Danu mengeluarkan ponselnya. Di depanku, dia membuka aplikasi
Twitter-nya. Jari-jarinya melayang di atas layar sejenak, ragu, sebelum
akhirnya dia menekan tombol Deactivate Account.
"Sudah," katanya sambil meletakkan ponsel itu di meja,
terbalik. "Tidak ada lagi linimasa. Tidak ada lagi persona. Cuma Danu yang
tadi pagi gugup di depan Bapakmu."
Aku menatap ponsel yang tergeletak itu. Keberanian yang nekat,
atau mungkin sebuah gila yang terukur. Tapi entah kenapa, melihatnya melepaskan
satu-satunya identitas yang dia banggakan, membuatku merasa bahwa dia mungkin
memang sedang mencoba untuk nyata.
"Sekarang," kataku sambil mengambil martabak yang
dingin, "makan martabaknya. Habiskan. Terus pulang. Aku butuh waktu
sendiri untuk berpikir."
Danu mengangguk patuh, tidak membantah, tidak berusaha melucu.
Dia memakan martabak itu dengan tenang, seolah setiap kunyahannya adalah cara
untuk menelan masa lalu.
Setelah dia pergi, aku berdiri di depan pintu yang tertutup. Aku
tahu badai ini belum benar-benar reda. Kirana tidak akan hilang begitu saja.
Tapi untuk malam ini, aku merasa bahwa setidaknya, Danu sudah membuang topeng
yang selama ini memisahkan kami.
Malam itu, aku tidak tidur. Aku duduk di tepi tempat tidur,
menatap ponselku sendiri. Benarkah ini awal yang baru, atau justru awal dari
sebuah kehancuran yang lebih besar?
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor
baru.
“Ternyata dia benar-benar melakukannya. Lucu. Kamu pikir dia sudah
'menghapus' masa lalu dengan mematikan akun itu? Kita lihat saja berapa lama
dia bertahan menjadi orang biasa sebelum rasa haus akan validasi itu
membunuhnya. Aku masih mengawasi, Sarinah.”
Aku mematikan ponsel, menaruhnya di meja, dan menatap
langit-langit kamar. Kirana benar. Validasi adalah candu yang sulit berhenti.
Tapi setidaknya, sekarang aku tahu satu hal: aku bukan lagi orang yang pasif.
Jika perang ini adalah tentang siapa yang paling bertahan, aku adalah lawan
yang tidak akan menyerah begitu saja.
Pagi itu, aku tidak menunggu. Tidak ada gunanya menunggu bola
ketika lawan sudah bermain agresif di area pertahananku. Aku sudah tahu siapa
Kirana, atau setidaknya, aku tahu di mana dia harus dicari. Sebagai seseorang
yang terbiasa dengan riset, aku membuka "arsip" yang selama ini
kuhindari: jejak digital publik yang tertinggal.
Aku tidak mencari Danu. Aku mencari Kirana.
Ternyata, Kirana bukan sekadar "mantan yang dendam".
Dia adalah seorang corporate comms di sebuah agensi
besar yang sangat bergantung pada citra. Dia membenci Danu bukan cuma karena
masalah hati, tapi karena Danu—dengan seluruh dramanya—telah merusak
kredibilitas jaringan profesional yang mereka bangun bersama. Dia ingin
menghancurkan Danu untuk menyelamatkan reputasinya sendiri dari asosiasi
"pria tidak stabil".
Aku tidak membalas pesannya. Aku justru mengirim satu pesan
singkat ke nomornya, pesan yang sangat sederhana:
"Kopi, besok jam 10 di kafe tempat Danu sering ngetweet dulu.
Cuma kamu dan aku. Kalau kamu datang bawa ancaman, aku bawa bukti riset
bagaimana kamu secara tidak langsung mendanai akun-akun anonim yang merusak
reputasi agensimu sendiri. Jangan bilang kamu nggak tahu, karena jejak
transfernya masih ada di server yang kebetulan pernah aku pelajari waktu Danu
masih 'ceroboh'."
Aku tahu itu gertakan. Aku hanya punya potongan kecil
data—sisa-sisa log yang tertinggal di laptop Danu
yang sempat kubaca sekilas. Tapi di dunia yang penuh kepalsuan ini, gertakan
yang terasa nyata seringkali lebih efektif daripada kebenaran yang tidak
terbukti.
Pagi harinya, aku pergi ke kafe itu. Aku tidak berdandan heboh.
Aku hanya memakai kemeja katun dan membawa buku catatan—seperti mahasiswi yang
akan bimbingan skripsi.
Kirana sudah duduk di sana, menyesap americano
dingin dengan wajah yang angkuh. Saat dia melihatku, dia tersenyum sinis.
"Berani juga kamu datang sendirian," katanya.
"Aku nggak datang untuk berantem, Kirana," jawabku
tenang, duduk di depannya tanpa ragu. "Aku datang untuk menawarkan win-win solution. Kamu mau Danu hancur? Silakan. Tapi
kamu bakal ikut terseret kalau publik tahu siapa sebenarnya yang mendanai akun
anonim itu. Aku sudah menyalin semuanya ke cloud pribadi. Kalau
sesuatu terjadi padaku atau Danu, dokumen itu akan terkirim otomatis ke redaksi
media tempatmu bekerja."
Kirana membelalak. Topeng angkuhnya sedikit retak. "Kamu
mengancamku?"
"Aku hanya memberikan analisis politik, persis seperti apa
yang sering Danu lakukan," balasku datar. "Kita sama-sama tahu,
industri yang kita geluti ini sangat sensitif terhadap skandal. Kamu ingin
reputasimu bersih? Tinggalkan kami. Biarkan Danu menjadi orang biasa yang tidak
relevan bagimu."
Kirana terdiam, menatapku dengan kebencian yang mendalam, tapi
juga dengan kalkulasi yang matang. Dia tahu aku tidak akan mundur.
"Kamu pikir dia benar-benar akan mencintaimu? Dia itu addict pada validasi, Sarinah. Dia akan bosan dalam
hitungan bulan."
"Mungkin," kataku sambil tersenyum tipis. "Tapi
itu masalahku, bukan masalahmu. Masalahmu sekarang adalah bagaimana menjaga
agensimu tetap aman dari skandal 'pendanaan akun anonim'. Jadi, gimana? Kita
selesai di sini, atau kita lanjut main catur sampai salah satu dari kita
benar-benar habis?"
Kirana menatapku lama, lalu berdiri dengan suara kursi yang
berdecit keras. Dia tidak menjawab, tapi dia meletakkan kartu namanya di atas
meja dan pergi tanpa menoleh lagi.
Aku tahu, ini belum selesai sepenuhnya. Kirana adalah tipe orang
yang akan mencari celah lain. Tapi setidaknya, hari ini, aku telah menarik
garis batas.
Saat aku keluar dari kafe, aku melihat Danu berdiri di seberang
jalan, mematung dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia melihatku bicara dengan
Kirana. Dia melihatku memegang kendali.
Dia menyeberang jalan, menghampiriku dengan napas yang memburu.
"Sar? Tadi itu... apa yang kamu lakukan?"
Aku menatapnya, lalu tersenyum—kali ini senyum yang tulus, bukan
senyum sinis yang biasa aku pakai untuk melindungi diri.
"Aku sedang melakukan apa yang harus dilakukan oleh
seseorang yang punya 'kepentingan'," kataku sambil berjalan melewatinya.
"Ayo pulang. Aku lapar. Dan besok, aku mau kamu benar-benar mulai cari
kerja yang nggak ada hubungannya dengan Twitter."
Danu mengikuti langkahku, diam seribu bahasa. Dia baru saja
sadar bahwa wanita "typo" yang dia pungut dari linimasa, ternyata
jauh lebih berbahaya daripada analisis politik mana pun yang pernah dia tulis.
Dan mungkin, justru itulah alasan kenapa dia tidak bisa berhenti menatapku.
Satu minggu berlalu. Danu menepati janjinya dengan cara yang
paling ekstrem: dia tidak hanya menutup akun, tapi dia menjual laptop
lamanya—benda yang menjadi "senjata" sekaligus
"penjara"-nya selama ini. Dia kini sibuk dengan proyek baru yang jauh
dari layar monitor: membantu Bapak merawat kebun kecil di belakang rumah dan
belajar memperbaiki peralatan elektronik yang rusak.
Aku memperhatikannya dari teras. Danu dengan celana training lusuh dan keringat yang mengucap di kening,
sedang mencoba menyambung kabel pompa air yang macet. Dia terlihat... tidak
keren. Sama sekali tidak ada aura intelek yang biasanya dia pamerkan. Tapi, dia
terlihat jauh lebih nyata.
"Sar!" panggilnya tanpa menoleh, tangannya masih sibuk
dengan obeng. "Ternyata memperbaiki barang yang rusak secara fisik itu
jauh lebih jujur daripada memperbaiki opini publik yang rusak. Barang ini kalau
disambung, ya nyala. Kalau opini, disambung malah makin meledak."
Aku tertawa, lalu berjalan mendekat sambil membawakan segelas es
teh manis. "Tumben bijak. Biasanya jam segini kamu lagi sibuk memikirkan thread tentang fenomena sosial yang nggak
penting."
Danu meletakkan obengnya, lalu menerima es teh itu dengan tangan
yang kotor oleh oli. Dia menatapku cukup lama. "Tadi pagi, ada email masuk
ke alamat pribadiku. Bukan dari Kirana, tapi dari salah satu redaktur media
tempatku dulu sering menulis. Mereka menawarkan posisi kontributor tetap dengan
bayaran yang lumayan."
Aku terdiam. Es teh di tanganku terasa mendadak dingin.
"Terus?"
"Aku sudah membalasnya," katanya tenang.
"Kamu terima?"
Danu menggeleng. "Aku bilang aku sudah tidak tertarik
dengan dunia yang menuntutku untuk selalu punya opini tentang segalanya. Aku
bilang aku sedang sibuk mengurusi pompa air yang rusak dan belajar menjadi
manusia yang tidak perlu divalidasi oleh ribuan likes."
Dia berdiri, menghapus keringatnya dengan punggung tangan.
"Sar, aku tahu Kirana masih ada di luar sana, mungkin sedang memikirkan
langkah selanjutnya. Tapi aku sudah tidak peduli. Selama aku bisa melakukan
hal-hal nyata, seperti memperbaiki rumah Bapak atau sekadar minum kopi bareng
kamu tanpa harus memikirkan caption, kurasa
itulah definisi 'cinta kepentingan' yang sebenarnya buatku sekarang."
Tiba-tiba, ponselku bergetar di saku. Notifikasi dari nomor yang
sama dengan yang dulu pernah mengirimiku foto di warung sate. Pesan singkat,
hanya satu kalimat: "Pengecut. Kamu pikir lari dari dunia
digital bisa menyelamatkanmu dari kenyataan? Kita belum selesai."
Aku menatap Danu yang tampak begitu tenang dengan tangannya yang
penuh oli. Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya soal pesan itu. Biarlah
kali ini aku yang memegang kendali. Kirana ingin bermain catur? Baiklah. Aku
akan menunjukkan padanya bahwa bidak yang dia remehkan justru bisa menjadi yang
paling menentukan di akhir permainan.
"Dan," panggilku.
"Ya?"
"Nanti malam, temani aku ke pameran seni di pusat kota. Aku
dengar ada pameran foto tentang 'Jakarta yang Tersembunyi'. Mungkin kita bisa
cari inspirasi untuk hidup yang lebih... jujur."
Danu tersenyum, senyum yang kali ini tidak lagi menyimpan
keraguan. "Siap, Komandan. Tapi aku ganti baju dulu ya. Masa aku ke
pameran seni dengan bau oli mesin?"
Aku memperhatikan punggungnya saat dia berjalan masuk ke rumah.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa kami bukan lagi dua orang yang sedang
tersesat. Kami adalah dua orang yang sedang merancang rumah di atas puing-puing
masa lalu kami sendiri.
Malam nanti, di pameran itu, aku berencana untuk melakukan satu
hal lagi: mengungkap siapa sebenarnya Kirana dengan cara yang paling elegan.
Bukan lewat ancaman, tapi lewat kebenaran. Dan jika dia masih ingin bermain,
maka aku sudah siap dengan langkah skakmat-ku.
Malam di pameran seni itu terasa mencekam sekaligus elektik.
Ruangan galeri yang luas itu dipenuhi cahaya lampu sorot yang dramatis,
menyoroti foto-foto sisi gelap dan terang Jakarta. Aku dan Danu berjalan
perlahan, tangannya menggenggam jemariku—genggaman yang terasa seperti jangkar
di tengah arus yang tak menentu.
Di sudut ruangan, aku melihatnya. Kirana. Dia tampak memukau
dengan gaun malam berwarna gelap, dikelilingi oleh rekan-rekan bisnis dan
beberapa influencer yang sedang sibuk memotret pameran. Dia
tidak tahu bahwa aku sudah menyiapkan "panggung" kecil untuknya.
Pameran ini adalah acara amal yang diselenggarakan oleh yayasan
yang juga didanai oleh agensi Kirana. Aku telah bekerja sama dengan salah satu
kurator pameran—seorang teman lama yang juga muak dengan taktik kotor di balik
layar industri mereka—untuk menyisipkan "karya seni" tambahan.
"Dan, kamu tunggu di sini," bisikku. "Aku ada
urusan sebentar."
"Sar, jangan macam-macam," sahutnya cemas.
"Hanya bicara, Dan. Hanya bicara."
Aku berjalan menuju meja kendali proyektor galeri. Dengan senyum
paling ramah yang bisa kupalsukan, aku menyerahkan sebuah flashdisk kepada teknisi. "Tolong putar ini tepat
saat sesi pidato Kirana di depan panggung utama. Ini video montase dedikasi
untuk agensi mereka."
Sesi pidato dimulai. Kirana naik ke panggung dengan anggun,
memulai pidato tentang "transparansi dan integritas dalam dunia
komunikasi". Begitu dia mencapai klimaks pidatonya, aku memberi isyarat
pada teknisi.
Layar raksasa di belakangnya tidak menampilkan video dedikasi.
Layar itu menampilkan tangkapan layar—bukan tangkapan layar politik, melainkan
tangkapan layar bukti aliran dana dari rekening agensi Kirana ke sejumlah akun bot yang selama ini digunakan untuk menggiring opini
publik dan menjatuhkan kompetitor. Data itu tidak menuduh siapa pun secara
langsung, tapi nama perusahaan Kirana tertera dengan jelas sebagai sumber dana
utama. Suasana galeri yang tadinya tenang mendadak riuh. Bisikan-bisikan mulai
terdengar, ponsel mulai terangkat untuk merekam. Kirana membalikkan badan,
wajahnya yang tadinya tenang berubah pias, kontras dengan layar raksasa di
belakangnya. Dia mencari-cari pelaku, dan matanya terkunci pada sosokku yang
berdiri di barisan penonton dengan segelas wine di tangan.
Aku tidak berteriak. Aku hanya mengangkat gelas, memberi salam
kecil padanya.
Danu, yang berdiri di sampingku, tampak terperangah. Dia menatap
layar itu, lalu menatapku, lalu kembali ke layar. Dia menyadari apa yang telah
kulakukan. Kirana turun dari panggung dengan panik, mencoba memanggil stafnya
untuk mematikan proyektor, tapi terlambat. Kerusakan reputasi itu sudah terjadi
di depan para kolega dan media yang hadir.
Dia berjalan ke arahku, napasnya memburu karena murka yang
tertahan. "Kamu... kamu gila! Kamu menghancurkan karierku!"
"Aku hanya melakukan analisis, Kirana," bisikku,
suaraku sedingin es. "Sama seperti yang Danu lakukan dulu. Tapi bedanya,
aku punya bukti yang tidak bisa dibantah. Kamu mau bermain catur? Ini
skakmat-mu."
Kirana menatapku dengan kebencian yang luar biasa, namun dia
tidak bisa berbuat apa-apa. Kamera sudah mengarah padanya. Dia harus pergi
sebelum skandal ini menelannya hidup-hidup.
Dia berbalik dan pergi, kali ini tanpa langkah anggun yang tadi
dia pamerkan.
Danu menggenggam tanganku lebih erat. "Sar, kamu... kamu
mempertaruhkan segalanya."
"Aku mempertaruhkan kebohongan untuk melindungi kebenaran
kita, Dan," jawabku.
Kami keluar dari galeri itu, meninggalkan keributan di belakang.
Jakarta malam itu terasa lebih tenang. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa
aroma hujan yang akan datang. Aku tidak merasa puas karena telah menghancurkan
Kirana. Aku hanya merasa... lega.
Kami sampai di parkiran. Danu menatapku dengan tatapan yang
sulit diartikan. "Setelah ini, hidup kita tidak akan pernah sama lagi.
Mereka akan mengejarmu, Sar."
"Biar saja," kataku sambil menyalakan motornya.
"Selama kita tidak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain, aku tidak
peduli siapa yang mengejar."
Danu naik ke jok motor, melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Jadi, ke mana kita sekarang, Komandan?"
"Ke tempat di mana tidak ada sinyal, tidak ada linimasa,
dan tidak ada masa lalu," jawabku mantap.
Kami melaju menembus lampu-lampu kota, meninggalkan drama dan
algoritma di belakang, menuju sesuatu yang lebih nyata: sebuah masa depan yang
kami tulis sendiri, tanpa naskah dari siapa pun. Perjalanan keluar dari pusat
kota terasa seperti pelarian dari sebuah penjara tak kasat mata. Kami tidak
menuju ke mana-mana, hanya mengikuti arah jalan yang semakin lama semakin sepi,
meninggalkan gemerlap lampu gedung tinggi yang kini tampak kecil dari kejauhan.
Seminggu kemudian, kami berada di sebuah desa kecil di lereng
gunung, jauh dari jangkauan sinyal 4G yang stabil. Danu benar-benar menepati
ucapannya. Dia kini menghabiskan harinya membantu seorang pembuat kerajinan
bambu, sementara aku—yang tadinya terbiasa dengan hiruk-pikuk skripsi dan
debat—kini belajar menghargai sunyi.
Apakah Kirana berhenti? Tentu tidak.
Di desa ini, tanpa ada yang tahu, kami masih sering mendapatkan
kiriman surat atau pesan lewat kurir yang entah dari mana asalnya. Isinya bukan
lagi ancaman terang-terangan, melainkan cuplikan kehidupan kami di sini—foto
kami sedang makan di warung, foto saat Danu membantu warga desa. Kirana ingin
menunjukkan bahwa ke mana pun kami lari, dia masih bisa melihat kami. Dia ingin
kami tahu bahwa "skakmat" di pameran seni itu hanyalah pembuka jalan bagi
sebuah permainan yang jauh lebih panjang.
Suatu sore, saat aku sedang duduk di beranda rumah kayu kami,
Danu datang dengan wajah yang sangat tenang. Dia membawa sebuah kotak kecil.
"Sar," panggilnya. "Surat ini baru saja sampai.
Bukan dari Kirana."
Aku membuka amplop itu. Isinya bukan surat, melainkan sebuah
dokumen yang menyatakan bahwa agensi tempat Kirana bekerja telah resmi
melakukan audit internal setelah skandal pameran seni itu. Mereka bukan hanya
memecat Kirana, tapi juga menuntutnya atas penyalahgunaan dana perusahaan.
"Dia kalah di dunianya sendiri," bisik Danu.
Aku menatap Danu. "Tapi kita masih diawasi, Dan. Dia tidak
akan membiarkan kita tenang selama dia masih punya satu napas tersisa."
Danu duduk di sampingku, lalu meraih tanganku. "Biarkan
saja. Dia ingin kita hidup dalam ketakutan karena itu adalah satu-satunya cara
dia merasa berkuasa. Tapi lihat sekeliling kita, Sar."
Dia menunjuk ke arah sawah yang menghijau, di mana matahari
terbenam sedang melukis warna jingga di langit. "Di sini, tidak ada
algoritma. Tidak ada validasi. Yang ada cuma kita, dan kenyataan bahwa kita
punya pilihan untuk tidak peduli."
Tiba-tiba, sebuah suara mesin mobil terdengar memecah keheningan
desa yang biasanya tenang. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan
gerbang rumah kayu kami.
Kirana turun dari mobil itu. Dia tidak lagi memakai gaun mewah.
Dia memakai pakaian serba hitam, wajahnya pucat, dan matanya tidak lagi
menunjukkan kemarahan, melainkan keputusasaan yang sangat dalam. Dia berjalan
mendekati kami, langkahnya gontai.
"Aku kehilangan segalanya," suaranya parau, pecah.
"Agensiku hancur. Karierku tamat. Semua karena bukti yang kamu tunjukkan
malam itu, Sarinah."
Aku dan Danu berdiri, bersiap untuk apa pun yang mungkin
terjadi.
"Lalu kamu mau apa ke sini?" tanyaku tegas. "Mau
membalas dendam?"
Kirana menatap kami, lalu tertawa getir. "Membalas dendam?
Dengan apa? Aku tidak punya apa-apa lagi. Aku datang ke sini bukan untuk
membalas dendam, tapi untuk bertanya satu hal: Apakah selama ini, saat kamu pura-pura
bahagia dengan pria ini, kamu benar-benar merasa menang?"
Dia menatap Danu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia
tidak pernah berubah, Dan. Dia akan selalu mencari 'proyek' baru untuk
dianalisis. Kamu pikir kamu adalah cintanya? Kamu cuma objek penelitiannya yang
paling menarik saat ini."
Danu terdiam, tapi dia tidak melepaskan genggaman tanganku.
"Apapun yang kamu katakan, Kirana, itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku
sudah memilih jalan ini."
Kirana menatap kami lama, lalu membuang sebuah kunci mobil ke
tanah. "Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Karena aku sadar, hukuman
terberat bagi kalian bukan lagi teror dariku, melainkan kenyataan bahwa kalian
harus hidup dengan orang yang mungkin saja, suatu saat nanti, akan bosan dengan
kalian sendiri."
Dia masuk kembali ke mobilnya, lalu pergi meninggalkan debu yang
beterbangan.
Kami berdiri di sana, terdiam. Angin gunung berhembus dingin.
Kata-kata Kirana tadi, meski terdengar seperti racun, menyisakan keraguan yang
sangat kecil namun tajam di benakku.
"Sar," suara Danu memecah hening. "Kamu percaya
padanya?"
Aku menatap Danu, lalu menatap tanganku yang masih dalam
genggamannya. "Aku tidak tahu, Dan. Tapi ada satu hal yang aku tahu."
"Apa?"
"Kalau suatu saat kamu benar-benar bosan, jangan cari
analisis politik atau 'proyek' baru. Cari aku. Dan kalau aku yang bosan, aku
tidak akan lari. Aku akan menagih janji sate kambing kita malam itu."
Danu tersenyum, lalu memelukku erat. "Janji. Tidak ada lagi
analisis. Hanya kita."
Malam itu, di tengah gunung yang sunyi, kami tidak lagi mengejar
siapa pun. Kami akhirnya berhenti berlari. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku
tahu bahwa hidup yang nyata memang tidak pernah benar-benar tenang. Hidup nyata
adalah tentang memilih untuk tetap bertahan, bahkan ketika keraguan itu sendiri
mencoba untuk memisahkan kita.
Tiga bulan berlalu di lereng gunung. Kedamaian di sini bukan
seperti di film-film yang selalu diiringi musik latar yang menenangkan.
Kedamaian di sini adalah tentang bangun pagi dengan punggung pegal karena kasur
tipis, tentang aroma tanah basah setelah hujan, dan tentang Danu yang kini
lebih banyak bicara dengan pohon kopi daripada dengan followers-nya.
Namun, kedamaian memang punya cara sendiri untuk diuji.
Suatu Selasa, saat aku sedang membantu Danu memilah biji kopi di
gudang kecil belakang rumah, sebuah amplop cokelat besar terselip di balik
tumpukan karung goni. Tidak ada pengirimnya, hanya ada namaku yang tertulis
dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Terlalu rapi.
Aku membukanya. Isinya bukan ancaman, bukan pula kiriman dari
Kirana. Isinya adalah sebuah artikel jurnal akademis—penelitian kualitatif
tentang "Dinamika Komunikasi dalam Hubungan Berbasis Tragedi".
Penulisnya anonim, namun saat aku membaca abstraknya, aku merasa seperti sedang
membaca isi kepalaku sendiri.
“Sarinah: Sang Pengamat yang Menjadi Subjek. Sebuah studi kasus
tentang bagaimana seseorang yang berusaha menjaga harga diri justru terjebak
dalam naskah yang ditulis oleh orang yang ia benci.”
Darahku mendesak ke kepala. Ini bukan sekadar artikel. Ini
adalah rekaman percakapan kami, perasaan-perasaanku yang paling privat, bahkan
detail tentang malam saat kami "baku tindih" di kamar kosnya yang
dulu. Semuanya tertulis dengan bahasa akademis yang dingin, seolah-olah hidup
kami hanyalah data yang bisa dikategorikan.
"Danu," panggilku, suaraku nyaris hilang.
Danu menoleh, lalu mendekat. Dia membaca lembar demi lembar.
Wajahnya yang tadinya tenang, perlahan berubah pucat pasi. Dia memegang kertas
itu dengan tangan yang gemetar.
"Ini..." Danu menelan ludah. "Ini riset siapa?
Ini terlalu mendetail. Bahkan momen saat aku mematikan akun Twitter-ku ada di
sini."
"Ini bukan riset orang lain, Dan," kataku, mataku
mulai berkaca-kaca karena amarah yang memuncak. "Ini risetmu. Ini gaya
bahasamu. Ini caramu menganalisis hidup. Kamu... kamu menulis riset ini selama
kita tinggal di sini? Kamu menjadikan 'ketenangan' kita sebagai bahan
observasimu?"
Danu ternganga. Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya
dengan kasar. "Sar, aku... aku menulis catatan harian untuk memproses
diriku sendiri. Aku tidak pernah bermaksud mempublikasikannya!"
"Tapi sudah ada di sini, Dan! Sudah ada dalam bentuk jurnal
yang siap disebarkan!" teriakku, suaraku pecah. "Jadi selama ini,
saat kamu bilang kamu mau jadi orang biasa, kamu cuma sedang mengumpulkan data
untuk proyek 'pensiun' paling jeniusmu? Kamu tidak pernah benar-benar berhenti
menjadi pengamat politik, kan? Kamu cuma pindah objek riset!"
"Bukan begitu, Sar! Aku cuma mencoba memahami kenapa aku
bisa jatuh cinta padamu, dan satu-satunya cara otakku bekerja adalah dengan
menulis!"
Aku menatapnya dengan rasa kecewa yang luar biasa. Kirana salah.
Kirana bilang Danu akan bosan. Tapi kenyataannya lebih pahit: Danu tidak bosan.
Dia justru menjadikan perasaanku sebagai data.
Aku berjalan keluar dari gudang, meninggalkan Danu yang masih
terperangah dengan kertas-kertas risetnya. Aku tidak lari ke arah jalan raya,
aku lari ke arah hutan pinus di belakang rumah. Aku butuh ruang untuk bernapas,
untuk memikirkan apakah pria yang selama ini kupikir sudah berubah menjadi
"manusia nyata", ternyata hanyalah seorang peneliti yang sedang
memakai topeng "pria lugu".
Di tengah hutan, aku berhenti. Aku merogoh saku celanaku,
mengeluarkan ponsel yang selama ini hampir tidak pernah kugunakan. Ada satu
pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal—kali ini dari akun email yang
sepertinya adalah pengelola jurnal itu.
“Data yang Anda berikan sangat menarik, Saudara Danu. Apakah kita
bisa melanjutkan publikasi ini ke tahap selanjutnya? Data tentang kehidupan
pribadi Sarinah adalah aset berharga untuk riset Anda tentang 'Resiliensi dalam
Skandal'.”
Aku tertegun. Jadi, riset ini bukan cuma untuk "proses
diri". Ini memang untuk publikasi.
Danu tidak benar-benar pensiun. Dia hanya sedang mencari
"panggung" yang lebih megah, dan kali ini, panggungnya adalah
martabatku sendiri.
Aku kembali ke rumah kayu itu bukan dengan tangisan, melainkan
dengan api yang tenang di dalam dada. Di ruang tengah, Danu masih terduduk di
lantai, dikelilingi oleh lembaran-lembaran kertas yang kini terasa seperti
racun. Dia menatapku masuk dengan mata yang penuh permohonan—mata pria yang
tahu dia baru saja melakukan kesalahan fatal, namun masih mencoba mencari
pembenaran atas impuls intelektualnya yang busuk.
"Sar, dengarkan..."
"Diam," potongku. Suaraku tidak bergetar. Dingin dan
tajam, persis seperti belati. "Aku baru saja membaca email dari editor
jurnal itu, Dan. Kamu bukan cuma sedang menulis catatan harian. Kamu sedang
berencana 'menjual' aku ke pasar akademis dengan label 'Resiliensi dalam
Skandal'."
Danu terbelalak. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya seolah
kehilangan tenaga. "Itu... itu draf awal. Aku cuma... aku cuma merasa
perlu mendokumentasikan perubahan hidup kita agar aku tidak lupa siapa aku
sebenarnya!"
"Kamu tidak lupa siapa dirimu, Dan. Kamu cuma terlalu takut
menjadi orang biasa yang tidak punya power," kataku,
melangkah mendekatinya hingga aku berdiri tepat di atas tumpukan kertas
risetnya. "Kamu ingin jadi pengamat lagi, kan? Kamu ingin merasa superior
lagi karena bisa membedah perasaan manusia seperti membedah bangkai politik,
kan?"
Aku mengambil tumpukan kertas itu, lalu satu per satu, aku
merobeknya tepat di depan wajahnya. Suara kertas yang robek terdengar seperti
detak jam yang menghitung waktu kematian hubungan kami.
"Sarinah, jangan!"
"Ini data kamu, kan?" tanyaku sambil melemparkan
serpihan kertas itu ke udara. "Ini analisis jeniusmu tentang 'ketiadaan
makna' dalam cinta? Selamat, Danu. Sekarang duniamu benar-benar tidak bermakna
karena kamu baru saja kehilangan subjek penelitianmu."
Aku berbalik ke kamar, mengemasi tas satu-satunya yang kubawa
saat pertama kali pindah ke sini. Pakaian, buku catatan, dan—konyolnya—kain
krem yang dulu menjadi awal dari tragedi kami.
Danu menghalangi pintu kamar, tubuhnya yang tegap kini terlihat
menyedihkan. "Kalau kamu pergi sekarang, kamu tahu aku akan hancur, Sar.
Aku sudah membuang segalanya untukmu!"
"Kamu membuang segalanya untuk proyek ini, Danu.
Bukan untuk aku," jawabku, mendorong bahunya minggir. "Kamu bukan
mencintaiku. Kamu mencintai ide tentang aku. Kamu mencintai betapa menariknya
'Sarinah' saat dia marah, saat dia berdebat, saat dia hancur. Kamu bukan
pasanganku, kamu adalah pengamatku."
Aku berjalan keluar rumah tanpa menoleh. Langit malam di lereng
gunung ini gelap gulita, tanpa bintang, seolah tahu bahwa aku baru saja
mematikan lampu utama dalam hidupku.
Di depan gerbang, aku tidak memesan ojek atau menunggu angkutan.
Aku berjalan kaki menuruni jalur setapak yang menuju jalan utama desa. Jauh di
belakang, aku mendengar Danu berteriak memanggil namaku, suaranya memantul di
dinding-dinding bukit, terdengar putus asa namun entah mengapa, terasa seperti
naskah drama yang sudah sangat sering kudengar.
Aku tidak menoleh. Aku tahu jika aku menoleh, aku mungkin akan
luluh karena kebodohan sentimental yang selama ini kami sebut cinta.
Saat sampai di halte desa yang sepi, sebuah mobil sedan hitam
berhenti perlahan di depanku. Jendela kaca turun, menampilkan wajah Kirana yang
sudah tidak memakai riasan tebal, tampak lelah dengan kehidupan yang baru saja
hancur.
"Kamu benar," kata Kirana tanpa basa-basi. "Dia
tidak bisa berhenti menganalisis. Bahkan saat dia sedang tidur, otaknya sedang
membedah."
"Kamu mau menertawakanku?" tanyaku sinis.
"Tidak," jawabnya, menyalakan mesin mobil. "Aku
mau mengajakmu pergi dari sini. Aku akan ke luar kota, meninggalkan semuanya.
Kamu mau ikut? Kita bisa jadi dua wanita yang paling dibenci oleh Danu di dunia
ini."
Aku menatap Danu yang mulai terlihat berlari di kejauhan,
menuruni jalan setapak dengan napas yang memburu. Lalu aku menatap Kirana.
Dua pilihan yang buruk. Kembali pada pria yang menjadikan
hidupku sebagai data, atau pergi bersama wanita yang sudah menghancurkan
hidupku.
Aku membuka pintu mobil dan masuk. "Jalan, Kirana. Sebelum
dia sampai di sini dan mulai menulis bab tentang pelarianku."
Mobil itu melesat membelah kabut malam, meninggalkan Danu yang
berdiri mematung di tengah jalan, tangannya terulur sia-sia ke arah lampu
belakang mobil yang perlahan menjauh.
Aku tidak melihat ke belakang. Aku tidak akan membiarkan hidupku
menjadi bahan analisis siapa pun lagi. Perjalanan ini baru saja menemukan bab
baru yang jauh lebih gelap, dan untuk pertama kalinya, aku tidak butuh naskah.
Aku akan menulisnya sendiri, dengan cara yang paling kejam.
Mobil melaju membelah kabut tebal pegunungan. Di spion tengah,
aku melihat lampu motor Danu mengecil, lalu hilang ditelan kelokan tajam.
Kirana tidak membuka obrolan. Dia hanya mengemudi dengan tatapan lurus ke
depan, sesekali meremas kemudi seolah sedang memegang leher seseorang.
"Kenapa kamu menjemputku?" suaraku memecah keheningan
kabin yang berbau kulit jok dan sisa parfum mahal yang memudar.
Kirana mendengus, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas.
"Karena kamu satu-satunya orang yang tahu betapa brilian sekaligus betapa busuknya otak pria
itu. Kita berdua adalah korban dari narasi yang dia bangun. Kamu korban
'cinta', aku korban 'ambisi'. Dan lihat, dia menghancurkan kita berdua dengan
cara yang sama: membedah kita hingga tidak ada lagi yang tersisa."
Aku menatap jalanan yang berkelok. Aku tidak lagi merasa sedih.
Yang ada hanya kehampaan yang dingin. "Kita bukan teman, Kirana. Jangan
lupakan itu."
"Aku tidak minta jadi temanmu, Sarinah," jawabnya
dingin. "Aku hanya minta sekutu. Kamu punya bukti-bukti transfer yang
sempat kamu pakai untuk menjatuhkanku, bukan? Aku butuh itu. Bukan untuk
menjatuhkan Danu, tapi untuk menjatuhkan yayasan yang memanfaatkanku dan
mencuci tangan setelah namaku hancur."
Aku tersenyum miring. Jadi, ini transaksinya. Dia memberiku
tumpangan keluar dari "laboratorium" Danu, dan aku memberikan peluru
untuk perang yang dia pimpin. Sebuah aliansi yang lahir dari rasa benci yang
sama.
"Di mana kita akan berhenti?" tanyaku.
"Tempat di mana dia tidak akan pernah bisa melacak
kita," jawab Kirana singkat. "Jauh dari jangkauan internet, jauh dari
radar analisisnya."
Namun, di tengah perjalanan, ponselku di dalam tas bergetar.
Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar saat aku membukanya—sebuah
nomor yang tidak dikenal, namun pesannya sangat spesifik.
“Sarinah, aku tidak menulis riset itu untuk dipublikasikan. Aku
menulisnya karena itu satu-satunya caraku mengingat siapa kamu setelah aku
mulai kehilangan ingatan jangka pendekku. Penyakit ini... ini alasan kenapa aku
obsesif pada data. Aku takut lupa bagaimana rasanya mencintaimu.”
Aku mematung. Penyakit? Apa ini taktik baru Danu? Apakah ini
sebuah plot twist untuk menarik simpati dan memaksaku kembali
menjadi "objek penelitian"-nya?
Kirana melirik ponselku. "Jangan dibaca. Itu sampah."
"Danu bilang dia sakit," kataku pelan.
Kirana menginjak rem mendadak hingga mobil terhenti di bahu
jalan. Dia menoleh padaku, matanya menyala. "Dia selalu punya alasan,
Sarinah. Dulu dia bilang dia butuh riset demi karier. Sekarang dia bilang dia
butuh riset demi kesehatan. Dia akan selalu punya narasi untuk membuatmu merasa
bersalah dan kembali ke pelukannya."
Aku menatap ponsel itu, lalu menatap kegelapan di luar jendela.
Jika itu benar, maka pria yang kutinggalkan di tengah jalan itu mungkin sedang
sekarat. Jika itu bohong, maka dia sedang menontonku pergi dari jauh, sambil
mencatat reaksinya sebagai bab terakhir dari risetnya.
"Jalan," kataku pada Kirana.
"Kamu tidak percaya padanya?"
"Aku percaya satu hal," jawabku sambil mematikan
ponsel dan melemparnya ke lantai mobil. "Bahwa siapapun dia, entah dia
sakit atau pura-pura, aku tidak mau lagi menjadi bagian dari ceritanya. Biarkan
dia menulis kesimpulannya sendiri dalam kesendirian."
Mobil kembali melaju. Kami meninggalkan pegunungan, meninggalkan
kenangan, dan meninggalkan pria yang mencintai data lebih dari manusia. Di
kursi penumpang, aku menutup mata. Untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan
apa yang akan terjadi besok. Aku tidak memikirkan engagement, tidak
memikirkan validasi, dan yang terpenting, aku tidak memikirkan bagaimana cara
agar tetap relevan di mata Danu.
Jakarta, atau entah di mana kami akan berakhir, mungkin akan
menyambut kami dengan drama baru. Tapi setidaknya, untuk malam ini, aku adalah
Sarinah yang bebas. Tanpa rumus, tanpa data, dan tanpa Danu.
Bab ini mungkin berakhir di sini. Tapi di dunia yang penuh dengan
narasi, terkadang akhir hanyalah awal dari cerita yang jauh lebih kejam dan
jujur.
------------------------------
Tiga tahun berlalu.
Jakarta sudah berubah. Beberapa gedung tua di kawasan pusat kota
telah dirobohkan, digantikan oleh menara-menara kaca yang lebih tinggi, lebih
angkuh, dan tentu saja, lebih steril dari kenangan. Aku kini bekerja di sebuah
arsip nasional, sebuah tempat di mana waktu seolah membeku. Di sini, aku tidak
perlu menganalisis tren atau mengelola citra. Aku hanya perlu memastikan bahwa
sejarah tetap tersimpan pada tempatnya, tanpa perlu diinterpretasi ulang oleh
kepentingan siapa pun.
Kirana? Dia menghilang tak lama setelah kami sampai di titik
aman. Dia menepati janjinya—memberiku ruang, setelah aku memberikan bukti yang
dia butuhkan untuk membersihkan namanya. Kami tidak berteman, tapi kami saling
menghormati sebagai dua orang yang pernah sama-sama menjadi bidak di papan
catur yang sama.
Pagi itu, saat aku sedang menata tumpukan dokumen tua, seorang
pria paruh baya dengan seragam petugas kebersihan datang membawa sebuah
bungkusan kecil.
"Ada titipan untuk Mbak Sarinah," katanya, meletakkan
bungkusan itu di meja kerjaku.
Aku menatap bungkusan itu. Isinya bukan bom, bukan pula surat
ancaman. Itu adalah sebuah kotak kayu tua yang berdebu. Jantungku berdegup
kencang. Aku tahu kotak itu. Kotak yang dulu pernah kulihat di meja kerja Danu,
saat kami masih bertaruh pada cinta yang mengalor-ngidul.
Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Di dalamnya tidak ada data, tidak ada riset, dan tidak ada
jurnal akademis yang dingin. Isinya adalah kumpulan tiket bioskop, struk makan
sate yang sudah memudar tintanya, foto-foto polaroid kami berdua di warung
tenda yang tidak pernah diunggah ke mana pun, dan sebuah buku catatan kecil
dengan tulisan tangan yang mulai berantakan.
Aku membuka buku catatan itu. Halaman pertamanya tertanggal tiga
tahun lalu, tepat setelah aku pergi.
“Sarinah. Jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah benar-benar
selesai. Riset itu... aku membakarnya. Aku sadar, aku bukan sedang meneliti
dirimu. Aku sedang meneliti diriku sendiri yang begitu takut kehilanganmu
hingga aku harus mereduksimu menjadi angka-angka agar aku merasa memiliki
kendali.”
“Tentang penyakitku? Itu benar. Ingatanku memudar setiap hari. Dan
riset itu adalah caraku melawan lupa. Tapi aku sadar, cara yang kupilih itu
salah. Aku malah melupakan apa yang paling penting: mencintaimu apa adanya,
tanpa perlu membedahnya.”
Aku membalik halaman selanjutnya. Tulisan tangannya makin lama
makin tidak karuan, namun pesannya semakin lugas.
“Aku tidak tahu di mana kamu sekarang. Tapi aku ingin kamu tahu,
aku tidak lagi jadi pengamat. Aku bukan lagi Danu yang haus validasi. Aku
adalah Danu yang sekarang tidak ingat lagi bagaimana cara memakai Twitter, tapi
masih ingat persis bagaimana cara kamu tertawa kalau martabak itu kurang
manis.”
Di halaman terakhir, hanya ada satu alamat di pinggiran kota
kecil dan sebuah kunci rumah.
Aku terdiam cukup lama di ruangan arsip yang dingin itu. Dunia di
luar sana masih berisik dengan opininya. Linimasa mungkin masih membicarakan
skandal-skandal baru, dan orang-orang masih sibuk membangun citra. Tapi di
tanganku, ada sebuah masa lalu yang menolak untuk mati.
Aku punya pilihan. Menyimpan kotak ini di rak arsip, menaruhnya
bersama sejarah orang-orang yang sudah lama tiada, dan membiarkan cerita
tentang Danu menjadi sejarah yang terkubur. Atau, aku mengambil cuti, naik
kereta api menuju alamat itu, dan melihat apakah di sana masih ada manusia yang
tersisa dari sisa-sisa reruntuhan masa lalu.
Aku berdiri, meraih tas kerjaku, dan meninggalkan ruang arsip.
Untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan naskah, tidak memikirkan
"skakmat", dan tidak memikirkan konsekuensi.
Aku melangkah keluar ke bawah sinar matahari Jakarta yang terik.
Aku tidak tahu apakah Danu masih hidup, atau apakah dia masih mengenali
wajahku. Tapi aku tahu satu hal: ini adalah bab terakhir yang ingin aku tulis
sendiri.
Bukan sebagai pengamat, bukan sebagai subjek data, tapi sebagai
Sarinah yang akhirnya memutuskan untuk berhenti mencari definisi, dan mulai
mencari—dan mungkin, memaafkan—manusia di balik segala kekacauan itu.
Aku memanggil taksi. Tujuanku bukan lagi tempat aman. Tujuanku
adalah tempat di mana segalanya dimulai: sebuah kebenaran yang jujur,
sesederhana martabak manis yang sudah dingin, dan sehangat genggaman tangan di
atas meja plastik yang miring.
Kisah ini mungkin tidak berakhir dengan bahagia, tapi setidaknya,
kali ini, kisah ini berakhir dengan keberanian untuk pulang.
Kereta api yang membawaku ke pinggiran kota terasa seperti mesin
waktu yang lambat. Sepanjang perjalanan, aku hanya menatap jendela. Pemandangan
Jakarta yang padat perlahan digantikan oleh deretan pohon mahoni dan
rumah-rumah kayu yang jauh dari kebisingan algoritma.
Taksi Bluebird yang
membawaku dari stasiun berhenti di depan sebuah rumah kecil di ujung desa.
Rumah itu sederhana, dengan pagar bambu yang sudah mulai lapuk dan kebun kecil
yang ditumbuhi bunga liar yang dibiarkan tumbuh sembarangan. Ini bukan rumah
mewah, bukan pula tempat persembunyian yang angker. Ini adalah rumah seseorang
yang telah berhenti berperang dengan dunia.
Aku berdiri di depan pintu selama beberapa menit. Tanganku
terangkat untuk mengetuk, tapi aku ragu. Bagaimana jika dia tidak ingat padaku?
Bagaimana jika penyakitnya benar-benar telah menghapus namaku dari memorinya?
Sebelum aku sempat mengetuk, pintu itu terbuka perlahan.
Seorang pria berdiri di sana. Rambutnya sudah memutih di
beberapa bagian, dan ada garis-garis kelelahan yang lebih dalam di sudut
matanya. Dia tidak lagi memakai kemeja batik atau pakaian yang tampak
"intelek". Dia memakai kaus lusuh dan memegang sebuah alat
pertukangan kecil. Dia bukan Danu yang dulu. Dia adalah sisa dari pria itu.
Dia menatapku lama, matanya menyipit seolah sedang mencoba
memproses sesuatu yang mustahil.
"Sarinah?" suaranya serak, nyaris seperti bisikan
angin di antara dedaunan.
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk pelan, air mata yang
selama tiga tahun ini kutahan, akhirnya jatuh tanpa permisi.
Danu tidak langsung memelukku. Dia meletakkan alat
pertukangannya, lalu menatap tangannya yang kasar, seolah takut menyentuhku.
"Aku... aku sering menulis namamu di dinding gudang belakang. Setiap kali
aku merasa lupa, aku melihat ke sana. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau
hari ini, namamu akan berdiri tepat di depan mataku."
"Kamu ingat aku?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Aku lupa banyak hal, Sar," jawabnya jujur, tidak ada
nada defensif, tidak ada analisis. "Aku lupa rumus politik, aku lupa
nama-nama menteri, aku lupa password akun-akun yang dulu aku banggakan. Tapi...
aku tidak pernah lupa bagaimana rasanya merasa tenang saat kamu ada di
dekatku."
Dia melangkah keluar, lalu tanpa ragu, dia menarikku ke dalam
pelukannya. Pelukannya tidak seerat dulu, tapi terasa jauh lebih hangat.
Pelukan seorang pria yang sudah tidak memiliki ambisi apa pun selain keberadaan
orang di depannya.
Di dalam rumahnya, tidak ada tumpukan kertas riset. Tidak ada
layar komputer. Hanya ada dinding yang penuh dengan tulisan tangan—nama "Sarinah"
tertulis berulang kali dengan berbagai ukuran dan bentuk. Di meja makan, ada
dua piring kosong dan satu bungkus martabak manis yang mungkin baru saja dia
beli di pasar desa.
Kami duduk berhadapan. Tidak ada kata-kata hebat yang terucap.
Tidak ada penjelasan tentang masa lalu yang rumit.
"Aku tidak bisa memperbaiki apa yang sudah rusak,
Sar," katanya sambil menuangkan teh hangat ke cangkirku. "Tapi aku
bisa memastikan kalau sisa hari-hariku tidak akan diisi dengan naskah atau
pengamatan. Hanya... sekadar hidup."
"Itu sudah cukup," kataku pelan.
Malam itu, kami duduk di teras sambil menatap bintang yang
jarang terlihat di Jakarta. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang tersisa
untuknya. Aku tidak tahu apakah penyakitnya akan membawa semuanya pergi besok
pagi. Tapi untuk pertama kalinya sejak tiga tahun lalu, aku tidak sedang
memikirkan "besok".
Aku tidak sedang menulis bab, tidak sedang meneliti perilaku,
tidak sedang membangun skakmat. Aku hanya sedang duduk, menikmati teh yang
hangat, di samping seorang pria yang dulu pernah menjadi musuh, kekasih,
sekaligus naskah terburuk dalam hidupku.
Dan saat Danu menggenggam tanganku, dengan jemari yang kasar dan
gemetar, aku sadar satu hal: hidup yang nyata tidak memerlukan ending yang sempurna. Hidup yang nyata hanya memerlukan
keberanian untuk memaafkan masa lalu dan membiarkan diri kita untuk sekadar
"ada" di detik ini.
Aku tidak lagi mencari definisi. Aku tidak lagi mencari naskah.
Aku pulang. Dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.
[SELESAI]
Epilog: Keheningan
Setelah Debat
Tiga tahun setelah kepulangan itu, rumah di ujung desa tidak
lagi menyimpan nama-nama yang ditulis di dinding. Nama "Sarinah"
telah berpindah dari dinding kayu menuju ke jantung yang semakin melambat.
Danu akhirnya berhenti berjuang melawan ingatannya. Dia tidak
lagi memburu data, karena dia telah menemukan satu-satunya hal yang benar-benar
layak diingat: ketenangan. Saat senja tiba, dia tidak lagi menganalisis arah
angin atau perubahan politik dunia. Dia hanya duduk di kursi goyang, membiarkan
tangannya yang kasar tetap menggenggam tangan Sarinah, dalam sebuah keheningan
yang jauh lebih jujur daripada semua tulisan yang pernah dia terbitkan.
Mereka tidak menciptakan sejarah besar. Mereka tidak mengubah
arah linimasa. Mereka hanya menjadi dua manusia yang belajar bahwa cinta
bukanlah tentang siapa yang paling pintar mendefinisikan, melainkan tentang
siapa yang paling berani bertahan saat segalanya kehilangan arah.
Di meja kayu tua itu, tetap ada martabak manis yang dingin
setiap sore—sebuah pengingat bahwa tidak ada yang perlu menjadi sempurna, cukup
menjadi nyata.
Pesan Moral
1.
Validasi adalah Penjara: Seringkali, kita terjebak dalam upaya untuk terlihat pintar,
sukses, atau benar di mata orang lain (melalui followers, opini,
atau status), hingga kita melupakan kehidupan nyata yang sedang berlangsung
tepat di depan mata.
2.
Kejujuran pada Diri Sendiri: Keberanian terbesar bukanlah berani
mengalahkan musuh atau memenangkan argumen, melainkan berani mengakui kerapuhan
diri sendiri dan berhenti bersembunyi di balik topeng persona yang kita
ciptakan.
3.
Memaafkan adalah Pembebasan: Baik Sarinah maupun Danu tidak akan pernah
bisa melangkah maju jika mereka terus memelihara dendam atau terjebak dalam
kalkulasi masa lalu. Memaafkan bukan berarti melupakan, tetapi melepaskan beban
agar kita bisa hidup di masa kini.
4.
Hidup Bukanlah Analisis: Kita tidak bisa membedah perasaan atau hubungan manusia dengan
logika yang dingin. Ada hal-hal dalam hidup yang hanya bisa dimengerti melalui
rasa, bukan melalui data.
Quotes Pilihan
"Kita sering sibuk merangkai naskah kehidupan yang sempurna
untuk dipamerkan kepada dunia, sampai kita lupa bahwa hidup yang sebenarnya
terjadi di balik layar, saat tidak ada kamera atau audiens yang melihat."
"Cinta bukan tentang siapa yang bisa menganalisis siapa.
Cinta adalah saat kamu berani berhenti meneliti, dan mulai bersedia untuk
sekadar 'menjadi' bersama orang lain dalam ketidakpastian."
"Terkadang, langkah paling berani yang bisa dilakukan
seseorang bukanlah memenangkan argumen, melainkan mengakui bahwa ia sudah lelah
menjadi benar dan hanya ingin menjadi manusia."
"Jangan habiskan seluruh waktumu untuk mendokumentasikan
hidup sampai kamu lupa bagaimana caranya untuk benar-benar menjalaninya."
No comments:
Post a Comment