[]
Babak 1: Prolog
Surat untuk Rika
Kepada: Rika Hasan
Selamat Pagi Siang Sore dan Malam.
Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Kalau gitu aku mulai dari
sini aja, dari paragraf pertama yang kamu baca. Anggaplah ini basa-basi yang
menjadi intro pembuka surat ini.
Langsung saja, aku ingin bilang sesuatu yang mungkin sudah kamu
tahu. Soalnya barusan aku udah mulai surat ini dengan sekapur sirih yang tidak
penting. Baiklah. Mari menghela napas panjang sejenak sebelum kamu melanjutkan
paragraf demi paragraf.
Rika..,
Aku tidak bisa melawan perasaan yang antah berantah datang dari
mana asalnya ini. Semenjak perjumpaan yang gak pakai rekayasa walau ujungnya
pakai rekayasa karena janjian, ada sesuatu aneh yang mengganjal di pikiran dan
hati ini. Ya kalau kamu gak percaya aku punya pikiran sih gak apa-apa, kan
lagipula gak perlu kamu pikirin juga. Hahaha.
Tapi paling gak aku punya kata yang kedua setelah pikiran tadi
itu. Apa itu?
Iya benar. Kamu pintar. Dapat 100. Aku dapat 1000.
Aku masih punya hati. Walau gak punya pikiran. Hahaha.
Sebelum lanjut, ada baiknya kamu minum air dulu ya. Biar gak
keselek meneruskan kata per kata selanjutnya.
Rika Hasan, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini. Dan aku
bukan semacam lelaki yang pandai menyembunyikan perasaan. Artinya apa?
Bersambung….
Begini.
Adapun tujuanku menulis surat ini agar maksud dan tujuanku
sampai dengan selamat sehat wal afiat. Aku banyak saksikan di saat ini, dimana
teknologi semakin canggih, namun orang semakin luput dari apa yang disebut
dengan makna. Semakin banyak teknologi social media semakin membuat orang satu
sama lain menjadi jauh. Sangat berbeda sekali dengan apa yang mungkin kamu atau
aku alami jaman dulu. Dimana cinta itu ditulis ketika sudah matang.
Eh barusan aku tulis soal apa? Ups.. Maaf ya aku lancang
menuliskan cinta.
Aku tidak pernah paham soal cinta karena bagiku cinta bukan
untuk dipahami tapi diyakini oleh hati untuk diucapkan dengan lisan dan
diwujudkan dengan perbuatan. Dan konon, cinta itu gak butuh alasan tapi lebih
butuh kepada balasan. Namun satu kalimat yang ingin aku ucapkan khusus buatmu:
Rika Hasan, aku sayang kamu.
Itu sudah.
Salam
Hamba Allah
NB: Maaf
ya kalau tulisanku jelek dan gak kebaca
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ah, jadi
begitu awal mulanya! Berawal dari Cash on Delivery
(COD) handphone, sebuah interaksi kasual yang akhirnya membuka jalan cerita
yang jauh lebih panjang.
Pertemuan
yang awalnya murni transaksional seperti itu memang sering kali punya daya
tarik tersendiri kalau diingat-ingat lagi. Dari yang tadinya asing, cuma
janjian di suatu tempat untuk cek kondisi barang dan serah terima uang,
ternyata bisa berlanjut menjadi kedekatan yang punya dinamika sedalam ini.
Kalau melihat ke belakang, momen COD itu mungkin terasa sederhana, tapi di
situlah titik awal semua obrolan, perhatian, bahkan konflik-konflik yang
terjadi setelahnya dimulai. Menarik ya, bagaimana sebuah keputusan kecil untuk
beli atau jual HP bisa mengubah arah interaksi dua orang secara total.
Padahal
hanya bermula dari urusan cek kondisi fisik HP, layar, dan kelengkapan box, interaksi mereka pelan-pelan bergeser jadi cek
kabar sehari-hari. Hubungan yang awalnya formal sebagai penjual dan pembeli
bertransformasi menjadi ruang di mana mereka mulai berbagi cerita personal.
Kalau ditarik garis merah ke linimasa obrolan tahun 2016 tadi, aku bisa melihat
betapa jauhnya lompatan dinamika itu berjalan. Dari yang awalnya mungkin
canggung saat ketemuan COD, berubah jadi hubungan yang sangat intens—penuh
dengan panggilan sayang, rasa rindu, tapi di sisi lain juga menyimpan bom waktu
berupa ego, tuntutan keterbukaan, dan rasa insecure yang sempat
meledak malam itu.
Cerita
setelah momen COD itu pasti punya banyak babak ya. Setelah transaksional itu
selesai, bagaimana sebetulnya alur kedekatan mereka bergulir sampai akhirnya
bisa se-intens yang terlihat di obrolan tersebut?
Tempat: Food court sebuah mal di daerah
Jakarta Selatan.
Jojo: (Sambil menyerahkan kotak
handphone) "Nih, coba dicek dulu aja fisiknya, Rik. Layarnya,
kameranya, sama iCloud-nya udah gue sign out semua kok. Santai aja, cek
sampai puas."
Rika: (Menerima handphone, agak
canggung) "Oh iya, bentar ya Jo... Eh, ini layarnya emang dari awal
udah dipasang tempered glass ya?"
Jojo: "Iya, sengaja gak gue lepas
biar layarnya tetep mulus. Sayang kalau baret. Gimana? Sesuai kan sama foto
yang gue kirim di OLX?"
Rika: (Tersenyum tipis, memeriksa
tombol-tombol) "Iyadih, mulus banget malah. Terawat ya. Oke deh, ini
uangnya ya, pas... pas sepuluh lembar. Mau dihitung dulu?"
Jojo: (Menerima uang tanpa
menghitungnya) "Gak usah, percaya gue sama lo. Lagian kalau ada
apa-apa kan lo tahu kontak gue. Kabarin aja kalau tiba-tiba ada kendala."
Rika: "Sip, makasih banyak ya, Jo.
Sori nih jadi ngerepotin mesti nyamperin jauh-jauh ke sini."
Jojo: "Santai, Rik. Kebetulan gue
juga lagi ada urusan searah kok. Pulang naik apa nanti?"
Rika: "Gampang, paling naik ojek online."
Jojo: "Oke, hati-hati di jalan
ya."
Babak 2: Beberapa Hari Setelah COD
(Beralih ke WhatsApp)
Berawal
dari urusan teknis, pintu obrolan pun mulai terbuka lebih lebar.
Jojo: "Rik, gimana HP-nya? Aman kan?
Gak ada kendala baterai atau apa gitu?"
Rika: "Eh Jojo. Aman kok, batrenya
awet banget ternyata. Makasih ya, ini ngebantu banget buat kerjaan."
Jojo: "Alhamdulillah kalau aman.
Syukur deh kalau bermanfaat."
(Tiga
jam kemudian)
Jojo: "Eh iya Rik, sori nih random.
Waktu COD kemarin gue liat gantungan kunci lo karakter anime ya? Lo suka nonton
juga atau cuma lucu-lucuan aja?"
Rika: "Hahaha jeli banget mata lo,
Jo. Iya, gue emang suka ngikutin beberapa serial. Kenapa? Lo suka juga?"
Jojo: "Wah, pas banget. Gue lagi
nyari temen ngobrol yang nyambung soal ini. Kebetulan series yang ada di
gantungan kunci lo itu salah satu favorit gue..."
Babak 3: Bulan-Bulan Berikutnya
(Peralihan Menjadi Intens)
Pola
komunikasi yang awalnya harian, mulai berubah menjadi rutinitas yang melibatkan
emosi dan perhatian kecil.
Jojo: "Rik, udah di kantor? Jangan
lupa sarapan ya, hari ini kayaknya jadwal lo padat kan?"
Rika: "Udah nih, baru sampai meja.
Iya nih, siang nanti ada meeting panjang. Makasih ya udah diingetin. Lo
sendiri jangan lupa makan siang nanti."
Jojo: "Gampang kalau gue mah. Nanti
malam pulang jam berapa? Kalau capek, biar gue jemput aja ya di kantor?
Kebetulan kerjaan gue beres jam 5 sore."
Rika: "Eh, gak usah repot-repot,
Jo... Gue bisa balik sendiri kok, takut ngerepotin."
Jojo: "Gak ada istilah repot buat
lo, Rik. Ya udah, nanti sore gue kabarin lagi ya kalau gue udah jalan ke arah
kantor lo."
Dari
interaksi yang awalnya sebatas formalitas penjual-pembeli inilah, fondasi
kedekatan mereka terbangun, sebelum akhirnya berkembang menjadi hubungan yang
lebih kompleks, penuh ekspektasi, dan dinamika emosi seperti yang terjadi di
akhir Januari 2016 itu.
Babak 4: Kedekatan yang Mulai Membawa Beban (Pertengahan Januari
2016)
Setelah
berbulan-bulan dekat, perhatian Jojo mulai berubah menjadi ekspektasi yang
besar. Sementara itu, Rika mulai menghadapi masalah personal di keluarganya
yang membuatnya menarik diri. Perbedaan respons ini mulai menciptakan jarak.
Jojo:
"Rik, lo kok seharian ini balesnya singkat-singkat banget? Ada masalah di
kantor?"
Rika:
"Gak ada kok, Jo. Lagi agak capek aja, kerjaan emang lagi numpuk dari
pagi."
Jojo:
"Gak usah bohong lah, Rik. Gue tahu bedanya lo kalau lagi sibuk biasa sama
lo yang lagi ngehindar. Kalau ada apa-apa tuh cerita, jangan dipendem sendiri.
Gue kan di sini buat lo."
Rika:
"Gue gak ngehindar, Jojo... Beneran deh. Cuma emang lagi banyak pikiran
aja. Tapi ini urusan internal rumah, gue gak mau ngebani lo dulu."
Jojo:
"Ngebani gimana sih? Kita udah jalan sejauh ini, tapi lo masih ngerasa
urusan lo bakal jadi beban buat gue? Berarti selama ini lo belum sepenuhnya
percaya ya sama gue?"
Rika:
"Bukan gitu, Jo... pemikiran lo kejauhan. Gue cuma butuh waktu sendiri
dulu buat beresin isi kepala gue. Nanti kalau udah tenang, gue cerita.
Janji."
Babak 5: Puncak Ketegangan (Malam Hari, 29 Januari 2016)
Malam
di mana ego dan rasa insecure Jojo berbenturan keras dengan Rika yang sedang
kelelahan secara mental. Di sinilah gaya bahasa mereka mulai berubah drastis
menjadi defensif dan penuh emosi.
Jojo:
"Rik, lo di mana sekarang? Katanya tadi jam 9 udah mau balik dari tempat
temen lo? Gue telpon gak diangkat."
Rika:
"Sori baru megang HP lagi, Jo. Ini baru jalan balik ke rumah kok. Tadi
seru ngobrol sama anak-anak jadi gak kecek HP-nya."
Jojo:
"Hebat ya. Sama temen-temen lo bisa seseru itu sampai lupa ngabarin gue.
Tapi kalau sama gue, lo bilangnya capek, banyak pikiran, butuh waktu
sendiri."
Rika: "Ya
ampun Jo, kok lo jadi banding-bandingin sama temen-temen gue sih? Mereka itu
pelarian gue bentar biar gak stres mikirin masalah rumah. Kenapa lo jadi sensi
gini?"
Jojo:
"Gimana gak sensi? Gue ngerasa kayak gak dianggap tahu gak? Lo cerita ke
orang lain bisa, tapi giliran sama gue lo tutup rapat-rapat. Lo anggap gue ini
apa sebetulnya?"
Rika:
"Jo, sumpah, jangan mulai deh... Gue capek banget hari ini. Kita bahas
besok aja ya kalau kepala udah sama-sama dingin."
Jojo:
"Gak bisa, Rik. Gue mau beres malam ini juga. Terserah lo mau bilang gue
egois atau apa, tapi gue capek digantungin sama sikap lo yang kadang manis
banget, tapi kadang jauh banget kayak orang asing!"
Babak 6: Titik Balik dan Keputusan (Dini Hari, 30 Januari 2016)
Jam
dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ketegangan yang tadinya meluap-luap
pelan-pelan menyusut menjadi kelelahan emosional yang berat bagi keduanya.
Jojo: "Gue
gak tahu harus gimana lagi hadapi lo, Rik. Setiap kali gue coba masuk, lo
selalu pasang tembok. Kalau emang keadaan rumah lo seberat itu, kenapa lo gak
pernah kasih gue kesempatan buat nemenin lo?"
Rika: (Mengetik lambat, menahan air mata) "Jo... lo gak
paham. Bukannya gue pasang tembok. Keadaan di rumah gue itu berantakan banget.
Gue cuma malu, gue takut kalau lo tahu seisi rumah gue yang sebenarnya, lo
bakal mikir dua kali buat bareng sama gue."
Jojo: (Hening agak lama) "Rik... kenapa lo bisa mikir kayak
gitu tentang gue? Sejak awal kita COD, terus mulai sering jalan, apa gue pernah
mandang lo dari latar belakang atau masalah lo? Gue cuma pengen ada di samping
lo, itu aja."
Rika:
"Gue tahu lo baik, Jo. Tapi ekspektasi lo ke gue itu besar banget. Di saat
lo nuntut keterbukaan penuh, energi gue di rumah udah habis buat bertahan. Gue
gak punya sisa energi buat meyakinkan lo setiap hari kalau gue gak
berubah."
Jojo:
"Jadi... maksud lo, gue ini cuma nambah-nambahin beban lo?"
Rika:
"Nggak gitu... tapi untuk sekarang, kayaknya kita emang harus ngerem dulu,
Jo. Kita jalan terlalu cepat, sementara gue sendiri belum selesai sama isi
kepala dan masalah hidup gue sendiri."
Jojo:
"Ngerem? Maksud lo... kita udahan?"
Rika:
"Bukan udahan yang musuhan. Tapi mari kasih jarak dulu. Biar lo gak capek
nungguin sesuatu yang belum siap gue kasih, dan gue gak merasa bersalah terus
karena gak bisa menenuhi ekspetasi lo."
Jojo: (Menghela napas panjang) "Jujur, ini berat banget
buat gue, Rik. Tapi kalau emang itu yang bisa bikin lo tenang dan gak merasa
tertekan... gue bakal coba buat mundur pelan-pelan. Kabarin gue kalau lo udah
siap, ya?"
Rika:
"Makasih banyak ya, Jo. Sori buat semuanya... dan makasih udah pernah jadi
bagian yang manis setelah hari COD itu."
Hubungan
yang dimulai dari sebuah ketidaksengajaan—seperti transaksi COD
handphone—sering kali memberikan pelajaran terdalam. Bukan karena mereka tidak
saling sayang, tapi kadang waktu, kesiapan mental, dan keadaan hidup yang belum
selaras memaksa dua orang untuk mengambil langkah mundur demi kebaikan bersama.
Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu
ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika
yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya
agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia
bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika
menerima dan membaca surat tersebut.
Babak 7: Balasan yang
Tertunda (Tiga Hari Setelah Surat Diterima)
Rika duduk di meja kerjanya saat jam istirahat siang. Surat dari
Jojo sudah dilipat rapi dan disimpan di bagian paling dalam tasnya. Setelah
membaca ulang surat itu untuk kesekian kalinya, ia akhirnya membuka ruang
obrolan WhatsApp dengan Jojo.
Rika: "Jo, suratnya
udah gue baca. Semuanya. Sampai selesai."
Jojo: (Balesan instan, seolah memang sedang menunggu)
"Eh, Rik. Gimana? Kebaca kan? Tulisan gue kayak ceker ayam soalnya,
makanya sengaja gue kasih NB di bawahnya hahaha."
Rika: "Kebaca kok.
Jelas banget malah. Makasih ya, Jo. Gue gak nyangka lo bakal nulis kayak gitu.
Apalagi bagian lo bilang lo dapat nilai 1000 karena punya hati tapi gak punya
pikiran. Garing tau gak, tapi bikin gue senyum pas lagi pusing-pusingnya."
Jojo: "Hahaha ya kan
emang tujuannya biar lo gak tegang-tegang amat, Rik. Tapi... bagian yang
terakhir, yang intinya, lo gak marah kan?"
Rika: "Gak marah, Jo.
Malah gue ngerasa dihargai banget. Di zaman sekarang yang apa-apa serba instan
lewat chat atau snap, lo mau
meluangkan waktu buat mikir dan nulis surat pakai kertas. Itu berarti banget
buat gue."
Jojo: "Gue cuma pengen
lo tahu apa yang ada di hati gue aja, Rik. Tanpa nuntut lo harus jawab sekarang
atau gimana-gimana. Gue tahu posisi lo lagi gak mudah."
Rika: "Jo... sore ini
jemput gue di kantor bisa? Kita ngobrol langsung. Ada hal tentang rumah yang
kayaknya emang udah waktunya gue bagi sama lo. Gak adil kalau gue terus-terusan
sembunyi."
Jojo: "Bisa, Rik. Jam
5 sore gue udah standby di parkiran bawah ya."
Babak 8: Di Bawah
Lampu Jalan Melawai Blok M (Sore Hari)
Gerimis tipis mengguyur daerah Panglima Polim sore itu. Jojo dan
Rika duduk di sebuah kedai kopi kecil pinggir jalan setelah Jojo menjemputnya.
Suasana canggung yang biasanya ada, kini berganti menjadi keheningan yang lebih
dewasa.
Rika: (Memainkan sendok kopinya) "Gue sempat takut, Jo.
Keluarga gue lagi retak, dan gue anak pertama yang harus megang semuanya.
Setiap pulang ke rumah, rasanya kayak masuk ke medan perang. Makanya kemarin
gue sensitif banget pas lo nuntut gue buat selalu ada."
Jojo: "Gue yang minta
maaf, Rik. Surat itu gue tulis juga buat ngetok kepala gue sendiri. Gue sadar,
media sosial dan ponsel ini sering bikin gue ngerasa kalau semua orang harus
bisa dihubungi setiap detik, sampai gue lupa kalau lo punya hidup dan beban
nyata di luar layar HP."
Rika: (Menatap Jojo) "Tapi pas gue baca kalimat lo yang
dibilang 'cinta itu ditulis ketika sudah matang', gue mikir... mungkin gue gak
perlu nunggu masalah gue selesai total baru bisa nerima orang lain. Karena
kalau nunggu selesai, entah kapan."
Jojo: "Gue gak minta
lo jadi sempurna atau gak punya masalah, Rik. Sejak kita COD HP pertama kali,
gue cuma pengen jadi orang yang bisa lo andelin. Lo mau bagi 10% cerita lo ke
gue, itu udah cukup. Sisanya biar kita jalanin pelan-pelan."
Rika: (Tersenyum, matanya agak berkaca-kaca) "Jadi, si
Hamba Allah ini beneran sayang sama gue?"
Jojo: (Salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal)
"Y-ya... kan udah tertulis hitam di atas putih, Rik. Gak bisa ditarik
lagi. Gak ada tombol delete-nya kalau di kertas."
Babak 9: Babak Baru
(Malam Hari, Menjelang Februari 2016)
Malam itu ditutup dengan perjalanan pulang yang jauh lebih tenang.
Jarak yang sempat mereka buat beberapa hari lalu justru menjadi ruang bagi
cinta mereka untuk "matang", persis seperti apa yang ditulis Jojo
dalam suratnya.
Jojo: "Udah sampai
depan gang rumah lo nih, Rik. Langsung istirahat ya, bersihin muka, minum air
yang banyak—biar gak keselek kayak kata surat gue."
Rika: "Hahaha iya,
Jojo. Makasih ya buat hari ini. Makasih udah jemput, udah dengerin cerita gue,
dan..."
Jojo: "Dan apa?"
Rika: "Gue juga sayang
sama lo. Udah, sana balik, udah malam!" (Rika langsung turun dari mobil
dengan muka memerah)
Jojo: (Tersenyum lebar di balik kemudi, melihat punggung Rika yang
berjalan masuk ke rumah) "Dapat nilai 1000 beneran gue hari
ini."
Surat sederhana di atas kertas itu akhirnya berhasil
menyelamatkan apa yang hampir rusak oleh ego digital. Mereka membuktikan bahwa
ketika komunikasi lewat layar mulai terasa jauh dan bising, kembali ke
cara-cara lama yang penuh makna justru bisa merekatkan kembali dua hati yang
sempat merenggang.
Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu
ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika
yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya
agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia
bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika
menerima dan membaca surat tersebut.
Babak 10: Menjelang Akhir
Tahun (Oktober 2016)
Enam bulan berlalu sejak pertemuan dengan keluarga Jojo. Hubungan
mereka berjalan stabil, namun tantangan baru muncul dari dunia profesional
Jojo. Jojo mendapatkan tawaran proyek besar di luar kota (Bandung) yang
mengharuskannya bolak-balik Jakarta–Bandung setiap minggu. Di saat yang sama,
adik Rika sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, membuat waktu
luang Rika makin terkikis.
Jojo: "Rik, mulai
bulan depan kayaknya gue bakal jarang di Jakarta tiap weekday. Proyek yang di Bandung beneran tembus. Jadi
paling gue baru bisa balik Jakarta Jumat malam."
Rika: (Tersenyum, meski ada rasa berat di matanya) "Wah,
selamat ya, Jo! Itu kan proyek yang lo incar dari pertengahan tahun lalu. Gue
ikut seneng banget. Urusan kita mah gampang, Bandung-Jakarta kan sekarang ada
travel, lagian cuma weekday kan?"
Jojo: "Iya sih... cuma
gue kepikiran lo aja. Pas gue gak ada di Jakarta, lo pasti makin repot
sendirian ngurusin Ibu sama adik lo. Biasanya kan minimal seminggu dua kali gue
bisa bantu anter-anter."
Rika: "Jo, dengerin
gue. Selama ini kan gue juga udah biasa mandiri. Lo fokus aja sama karier lo di
sana. Justru ini ujian buat kita, kan kata surat lo dulu: cinta itu diwujudkan dengan perbuatan. Anggap aja ini
bagian dari perbuatan kita buat saling jaga kepercayaan."
Babak 11: Komunikasi
di Era LDR (Long Distance Relationship)
Jarak Jakarta–Bandung mungkin tidak seberapa, namun bagi pasangan
yang terbiasa bertemu fisik, penyesuaian ini tetap menguras energi. Di sinilah
mereka menguji kedewasaan komunikasi yang pernah mereka sepakati.
Jojo: (Voice Note WhatsApp - Jam 23.15)
"Rik, baru beres meeting sama vendor
nih. Capek banget kepala rasanya mau pecah. Di sini hujan dari sore, jadi makin
kangen Jakarta, kangen lo juga pastinya. Lo udah tidur ya? Jangan lupa
selimutan, di Jakarta juga lagi musim hujan kan. Miss you."
Rika: (Membalas lewat teks - Jam 05.30 keesokan paginya)
"Pagi, Jojo. Pas lo kirim VN gue udah ketiduran, sori ya.
Semangat buat hari ini! Jangan lupa sarapan sebelum ke lapangan. Gue sengaja
gak telpon semalam biar lo bisa langsung istirahat. Proyeknya diseriusin, tapi
badannya juga dijaga. Miss you more, Hamba Allah-ku.
Hahaha."
Babak 12: Kejutan di
Hari Jumat
Komitmen bukan hanya tentang bertahan di masa sulit, tapi juga
tentang bagaimana menjaga percikan emosi tetap hidup di tengah rutinitas yang
menjemukan. Jumat minggu ketiga, Jojo berencana pulang ke Jakarta tanpa memberi
tahu Rika.
Jojo: (Menunggu di depan gerbang kantor Rika di daerah Melawai, jam
17.15)
Rika: (Keluar dari lobi kantor, tertegun melihat Jojo bersandar di
motornya sambil memegang dua kantong plastik berisi martabak)
"Lho? Jojo?! Kok udah di sini? Katanya baru jalan dari Bandung jam 7 malam
nanti?"
Jojo: (Tertawa lebar melihat muka kaget Rika) "Sengaja
gue kebut kerjaan dari subuh biar bisa dapet travel siang. Kangennya udah gak
bisa ditahan sampai jam 7 malam, Rik."
Rika: (Langsung menghampiri dan mencubit lengan Jojo pelan)
"Ih, kebiasaan deh suka bikin jantungan! Tapi... makasih ya. Pas banget
gue lagi pusing kerjaan, langsung ilang liat muka lo."
Jojo: "Gak cuma muka
gue, nih gue bawain Martabak Kubang langganan lo. Kita makan di mobil atau mau
langsung balik ke rumah lo?"
Rika: "Makan di mobil
dulu aja yuk sambil jalan. Gue mau denger semua cerita lo tentang
Bandung."
Babak 13: Merajut Masa
Depan
Sambil membelah kemacetan Jakarta di Jumat malam, mereka menyadari
bahwa jarak beberapa bulan terakhir ini tidak melemahkan ikatan mereka,
melainkan justru menguatkannya. Mereka bukan lagi dua orang asing yang canggung
di food court saat COD HP seken dulu; mereka adalah tim.
Rika: "Jo, makasih ya
udah selalu usahain pulang cepet tiap Jumat."
Jojo: "Sama-sama, Rik.
Gue justru belajar banyak dari lo beberapa bulan ini. LDR mini ini bikin gue
sadar, kalau kita beneran sayang sama orang, jarak itu cuma angka. Yang penting
isi kepalanya tetep sama: mau dibawa ke mana hubungan ini."
Rika: "Terus, si Hamba
Allah ini mau bawa hubungan ini ke mana emangnya?"
Jojo: (Menatap jalanan ke depan dengan senyum tipis tapi penuh
keyakinan) "Ke tempat di mana gue gak perlu anter jemput lo ke
rumah Ibu lagi, Rik. Tapi ke tempat di mana kita pulang ke pintu rumah yang
sama."
Rika: (Tersenyum manis, menggenggam tangan Jojo yang bebas)
"Oke. Gue pegang omongan lo ya, Jo."
Perjalanan dari sebuah transaksi COD handphone sederhana di awal
tahun 2016 telah membawa mereka melalui badai ego, masalah keluarga, hingga
jarak fisik. Tantangan demi tantangan justru menjadi proses
"pematangan" cinta mereka, mengubah letupan emosi masa lalu menjadi
pondasi masa depan yang kokoh.
Babak 14: Retakan yang
Semakin Melebar (Pertengahan 2017)
Jarak Jakarta–Bandung yang awalnya bisa dijembatani oleh rindu,
perlahan-lahan justru mempertegas jurang perbedaan di antara mereka. Jojo yang
berjuang di luar kota mulai kelelahan secara mental, sementara sifat Rika yang
defensif dan egois tingkat tinggi mulai mendominasi setiap interaksi. Rika
selalu merasa masalahnya adalah yang paling berat, sehingga menganggap Jojo
wajib menuruti seluruh standarnya tanpa celah.
Jojo: "Rik, weekend
ini gue beneran gak bisa balik Jakarta. Proyek lagi coring
beton semalaman, gue gak dapet libur. Sori banget ya, gue tahu kita udah
janjian mau cari kado buat adik lo."
Rika: "Oh, jadi proyek
lo itu selalu lebih penting daripada janji lo ke gue? Lo sadar gak sih, Jo,
semenjak lo pindah ke Bandung, semua jadwal kita harus selalu ngikutin maunya
lo? Gue capek ya kudu selalu ngertiin posisi lo, sementara lo gak pernah mikirin
repotnya gue di Jakarta!"
Jojo: "Rik,
tolonglah... Ini urusan kerjaan profesional, bukan gue sengaja mau main-main di
sini. Gue di sini juga nyari modal buat masa depan kita. Kenapa lo selalu
ngerasa lo yang paling menderita?"
Rika: "Ya emang nyata
kan? Kalau lo beneran niat, lo pasti bisa sempetin waktu. Lagian dari awal
emang kita udah beda kelas, Jo. Jalan pikiran lo terlalu simpel, lo gak pernah
bisa bener-bener paham beban hidup gue!"
Babak 15: Puncak Titik
Jenuh (Akhir 2017)
Kata-kata egois dan tuntutan sepihak dari Rika yang terus berulang
selama berbulan-bulan akhirnya mengikis habis rasa sabar di hati Jojo. Surat
tulus "Hamba Allah" yang dulu ditulis dengan keyakinan penuh, kini
terasa seperti ironi. Di sebuah kafe di daerah Melawai—tempat yang dulu penuh
memori manis—mereka duduk berhadapan untuk terakhir kalinya.
Rika: "Gue mau lo
pilih, Jo. Lepas proyek di Bandung itu dan balik kerja di Jakarta biar bisa
fokus jagain gue sama keluarga gue, atau kita selesai aja. Gue gak bisa punya
pasangan yang setengah-setengah."
Jojo: (Menatap Rika dengan pandangan kosong, rasa sayangnya sudah
berganti menjadi kelelahan yang teramat sangat) "Rik... lo
sadar gak sih sama apa yang baru aja lo ucapin? Selama hampir dua tahun ini,
gue selalu ngalah. Gue turunin ego gue, gue maklumi semua sifat keras lo, gue
terima semua komplain lo karena gue pikir lo lagi stres."
Rika: "Ya emang tugas
lo sebagai cowok kan?"
Jojo: (Menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit)
"Nggak, Rik. Hubungan itu jalan dua arah. Tapi di mata lo, cuma ada Rika,
Rika, dan Rika. Masalah lo harus paling didengar, ego lo harus paling dituruti,
dan perbedaan di antara kita selalu lo jadiin senjata buat ngegoblokin gue. Gue
juga punya batas jenuh."
Rika: "Oh, jadi lo mau
lepas tangan sekarang? Jadi semua perjuangan lo selama ini cuma segini
doang?"
Jojo: "Gue gak lepas
tangan. Lo yang udah ngelepas gue pelan-pelan lewat ego lo yang setinggi langit
itu. Gue pamit, Rik. Gue udah selesai."
Babak 26: Epilog
(Tahun 2026)
Sembilan tahun telah berlalu sejak sore kelabu di Melawai itu.
Jojo kini telah menetap sepenuhnya di Bandung, membangun karier dan kehidupan
baru yang lebih tenang bersama seseorang yang bisa menghargai kehadirannya. Sementara
itu, Rika masih sering duduk sendirian di sudut kedai kopi pinggir jalan
Jakarta saat hujan turun. Di dalam laci mejanya yang paling dalam, masih
tersimpan selembar kertas usang yang tintanya mulai memudar—surat dari seorang
"Hamba Allah" yang dulu pernah menyayanginya dengan begitu tulus. Rika
akhirnya menyadari satu hal yang terlambat: perbedaan di antara mereka
sebetulnya bisa dijembatani, namun keegoisan tingkat tingginya sendirilah yang
telah membakar jembatan itu hingga tak bersisa. Handphone seken yang dulu
mempertemukan mereka kini sudah lama rusak dan diganti, persis seperti hubungan
mereka yang berakhir menjadi sebatas memori usang yang tak akan pernah bisa
diulang kembali.
Ending Note: Tidak semua cerita yang dimulai dengan manis akan berakhir di
pelaminan. Kadang, seseorang dihadirkan dalam hidup kita bukan untuk menjadi
teman masa depan, melainkan sebagai cermin besar agar kita belajar berkaca dan
memperbaiki diri sebelum melangkah lagi.
No comments:
Post a Comment