Friday, July 3, 2026

[]

Babak 1: Prolog

Surat untuk Rika

Kepada: Rika Hasan

Selamat Pagi Siang Sore dan Malam.

Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Kalau gitu aku mulai dari sini aja, dari paragraf pertama yang kamu baca. Anggaplah ini basa-basi yang menjadi intro pembuka surat ini.

Langsung saja, aku ingin bilang sesuatu yang mungkin sudah kamu tahu. Soalnya barusan aku udah mulai surat ini dengan sekapur sirih yang tidak penting. Baiklah. Mari menghela napas panjang sejenak sebelum kamu melanjutkan paragraf demi paragraf.

Rika..,

Aku tidak bisa melawan perasaan yang antah berantah datang dari mana asalnya ini. Semenjak perjumpaan yang gak pakai rekayasa walau ujungnya pakai rekayasa karena janjian, ada sesuatu aneh yang mengganjal di pikiran dan hati ini. Ya kalau kamu gak percaya aku punya pikiran sih gak apa-apa, kan lagipula gak perlu kamu pikirin juga. Hahaha.

Tapi paling gak aku punya kata yang kedua setelah pikiran tadi itu. Apa itu?

Iya benar. Kamu pintar. Dapat 100. Aku dapat 1000.

Aku masih punya hati. Walau gak punya pikiran. Hahaha.

Sebelum lanjut, ada baiknya kamu minum air dulu ya. Biar gak keselek meneruskan kata per kata selanjutnya.

Rika Hasan, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini. Dan aku bukan semacam lelaki yang pandai menyembunyikan perasaan. Artinya apa?

 

Bersambung….

 

Begini.

Adapun tujuanku menulis surat ini agar maksud dan tujuanku sampai dengan selamat sehat wal afiat. Aku banyak saksikan di saat ini, dimana teknologi semakin canggih, namun orang semakin luput dari apa yang disebut dengan makna. Semakin banyak teknologi social media semakin membuat orang satu sama lain menjadi jauh. Sangat berbeda sekali dengan apa yang mungkin kamu atau aku alami jaman dulu. Dimana cinta itu ditulis ketika sudah matang.

Eh barusan aku tulis soal apa? Ups.. Maaf ya aku lancang menuliskan cinta.

Aku tidak pernah paham soal cinta karena bagiku cinta bukan untuk dipahami tapi diyakini oleh hati untuk diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan. Dan konon, cinta itu gak butuh alasan tapi lebih butuh kepada balasan. Namun satu kalimat yang ingin aku ucapkan khusus buatmu:

Rika Hasan, aku sayang kamu.

Itu sudah.

 

Salam

Hamba Allah

 

NB: Maaf ya kalau tulisanku jelek dan gak kebaca

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ah, jadi begitu awal mulanya! Berawal dari Cash on Delivery (COD) handphone, sebuah interaksi kasual yang akhirnya membuka jalan cerita yang jauh lebih panjang.

Pertemuan yang awalnya murni transaksional seperti itu memang sering kali punya daya tarik tersendiri kalau diingat-ingat lagi. Dari yang tadinya asing, cuma janjian di suatu tempat untuk cek kondisi barang dan serah terima uang, ternyata bisa berlanjut menjadi kedekatan yang punya dinamika sedalam ini. Kalau melihat ke belakang, momen COD itu mungkin terasa sederhana, tapi di situlah titik awal semua obrolan, perhatian, bahkan konflik-konflik yang terjadi setelahnya dimulai. Menarik ya, bagaimana sebuah keputusan kecil untuk beli atau jual HP bisa mengubah arah interaksi dua orang secara total.

Padahal hanya bermula dari urusan cek kondisi fisik HP, layar, dan kelengkapan box, interaksi mereka pelan-pelan bergeser jadi cek kabar sehari-hari. Hubungan yang awalnya formal sebagai penjual dan pembeli bertransformasi menjadi ruang di mana mereka mulai berbagi cerita personal. Kalau ditarik garis merah ke linimasa obrolan tahun 2016 tadi, aku bisa melihat betapa jauhnya lompatan dinamika itu berjalan. Dari yang awalnya mungkin canggung saat ketemuan COD, berubah jadi hubungan yang sangat intens—penuh dengan panggilan sayang, rasa rindu, tapi di sisi lain juga menyimpan bom waktu berupa ego, tuntutan keterbukaan, dan rasa insecure yang sempat meledak malam itu.

Cerita setelah momen COD itu pasti punya banyak babak ya. Setelah transaksional itu selesai, bagaimana sebetulnya alur kedekatan mereka bergulir sampai akhirnya bisa se-intens yang terlihat di obrolan tersebut?

Tempat: Food court sebuah mal di daerah Jakarta Selatan.

Jojo: (Sambil menyerahkan kotak handphone) "Nih, coba dicek dulu aja fisiknya, Rik. Layarnya, kameranya, sama iCloud-nya udah gue sign out semua kok. Santai aja, cek sampai puas."

Rika: (Menerima handphone, agak canggung) "Oh iya, bentar ya Jo... Eh, ini layarnya emang dari awal udah dipasang tempered glass ya?"

Jojo: "Iya, sengaja gak gue lepas biar layarnya tetep mulus. Sayang kalau baret. Gimana? Sesuai kan sama foto yang gue kirim di OLX?"

Rika: (Tersenyum tipis, memeriksa tombol-tombol) "Iyadih, mulus banget malah. Terawat ya. Oke deh, ini uangnya ya, pas... pas sepuluh lembar. Mau dihitung dulu?"

Jojo: (Menerima uang tanpa menghitungnya) "Gak usah, percaya gue sama lo. Lagian kalau ada apa-apa kan lo tahu kontak gue. Kabarin aja kalau tiba-tiba ada kendala."

Rika: "Sip, makasih banyak ya, Jo. Sori nih jadi ngerepotin mesti nyamperin jauh-jauh ke sini."

Jojo: "Santai, Rik. Kebetulan gue juga lagi ada urusan searah kok. Pulang naik apa nanti?"

Rika: "Gampang, paling naik ojek online."

Jojo: "Oke, hati-hati di jalan ya."

Babak 2: Beberapa Hari Setelah COD (Beralih ke WhatsApp)

Berawal dari urusan teknis, pintu obrolan pun mulai terbuka lebih lebar.

Jojo: "Rik, gimana HP-nya? Aman kan? Gak ada kendala baterai atau apa gitu?"

Rika: "Eh Jojo. Aman kok, batrenya awet banget ternyata. Makasih ya, ini ngebantu banget buat kerjaan."

Jojo: "Alhamdulillah kalau aman. Syukur deh kalau bermanfaat."

(Tiga jam kemudian)

Jojo: "Eh iya Rik, sori nih random. Waktu COD kemarin gue liat gantungan kunci lo karakter anime ya? Lo suka nonton juga atau cuma lucu-lucuan aja?"

Rika: "Hahaha jeli banget mata lo, Jo. Iya, gue emang suka ngikutin beberapa serial. Kenapa? Lo suka juga?"

Jojo: "Wah, pas banget. Gue lagi nyari temen ngobrol yang nyambung soal ini. Kebetulan series yang ada di gantungan kunci lo itu salah satu favorit gue..."

Babak 3: Bulan-Bulan Berikutnya (Peralihan Menjadi Intens)

Pola komunikasi yang awalnya harian, mulai berubah menjadi rutinitas yang melibatkan emosi dan perhatian kecil.

Jojo: "Rik, udah di kantor? Jangan lupa sarapan ya, hari ini kayaknya jadwal lo padat kan?"

Rika: "Udah nih, baru sampai meja. Iya nih, siang nanti ada meeting panjang. Makasih ya udah diingetin. Lo sendiri jangan lupa makan siang nanti."

Jojo: "Gampang kalau gue mah. Nanti malam pulang jam berapa? Kalau capek, biar gue jemput aja ya di kantor? Kebetulan kerjaan gue beres jam 5 sore."

Rika: "Eh, gak usah repot-repot, Jo... Gue bisa balik sendiri kok, takut ngerepotin."

Jojo: "Gak ada istilah repot buat lo, Rik. Ya udah, nanti sore gue kabarin lagi ya kalau gue udah jalan ke arah kantor lo."

Dari interaksi yang awalnya sebatas formalitas penjual-pembeli inilah, fondasi kedekatan mereka terbangun, sebelum akhirnya berkembang menjadi hubungan yang lebih kompleks, penuh ekspektasi, dan dinamika emosi seperti yang terjadi di akhir Januari 2016 itu.

 

Babak 4: Kedekatan yang Mulai Membawa Beban (Pertengahan Januari 2016)

Setelah berbulan-bulan dekat, perhatian Jojo mulai berubah menjadi ekspektasi yang besar. Sementara itu, Rika mulai menghadapi masalah personal di keluarganya yang membuatnya menarik diri. Perbedaan respons ini mulai menciptakan jarak.

Jojo: "Rik, lo kok seharian ini balesnya singkat-singkat banget? Ada masalah di kantor?"

Rika: "Gak ada kok, Jo. Lagi agak capek aja, kerjaan emang lagi numpuk dari pagi."

Jojo: "Gak usah bohong lah, Rik. Gue tahu bedanya lo kalau lagi sibuk biasa sama lo yang lagi ngehindar. Kalau ada apa-apa tuh cerita, jangan dipendem sendiri. Gue kan di sini buat lo."

Rika: "Gue gak ngehindar, Jojo... Beneran deh. Cuma emang lagi banyak pikiran aja. Tapi ini urusan internal rumah, gue gak mau ngebani lo dulu."

Jojo: "Ngebani gimana sih? Kita udah jalan sejauh ini, tapi lo masih ngerasa urusan lo bakal jadi beban buat gue? Berarti selama ini lo belum sepenuhnya percaya ya sama gue?"

Rika: "Bukan gitu, Jo... pemikiran lo kejauhan. Gue cuma butuh waktu sendiri dulu buat beresin isi kepala gue. Nanti kalau udah tenang, gue cerita. Janji."

 

Babak 5: Puncak Ketegangan (Malam Hari, 29 Januari 2016)

Malam di mana ego dan rasa insecure Jojo berbenturan keras dengan Rika yang sedang kelelahan secara mental. Di sinilah gaya bahasa mereka mulai berubah drastis menjadi defensif dan penuh emosi.

Jojo: "Rik, lo di mana sekarang? Katanya tadi jam 9 udah mau balik dari tempat temen lo? Gue telpon gak diangkat."

Rika: "Sori baru megang HP lagi, Jo. Ini baru jalan balik ke rumah kok. Tadi seru ngobrol sama anak-anak jadi gak kecek HP-nya."

Jojo: "Hebat ya. Sama temen-temen lo bisa seseru itu sampai lupa ngabarin gue. Tapi kalau sama gue, lo bilangnya capek, banyak pikiran, butuh waktu sendiri."

Rika: "Ya ampun Jo, kok lo jadi banding-bandingin sama temen-temen gue sih? Mereka itu pelarian gue bentar biar gak stres mikirin masalah rumah. Kenapa lo jadi sensi gini?"

Jojo: "Gimana gak sensi? Gue ngerasa kayak gak dianggap tahu gak? Lo cerita ke orang lain bisa, tapi giliran sama gue lo tutup rapat-rapat. Lo anggap gue ini apa sebetulnya?"

Rika: "Jo, sumpah, jangan mulai deh... Gue capek banget hari ini. Kita bahas besok aja ya kalau kepala udah sama-sama dingin."

Jojo: "Gak bisa, Rik. Gue mau beres malam ini juga. Terserah lo mau bilang gue egois atau apa, tapi gue capek digantungin sama sikap lo yang kadang manis banget, tapi kadang jauh banget kayak orang asing!"

Babak 6: Titik Balik dan Keputusan (Dini Hari, 30 Januari 2016)

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Ketegangan yang tadinya meluap-luap pelan-pelan menyusut menjadi kelelahan emosional yang berat bagi keduanya.

Jojo: "Gue gak tahu harus gimana lagi hadapi lo, Rik. Setiap kali gue coba masuk, lo selalu pasang tembok. Kalau emang keadaan rumah lo seberat itu, kenapa lo gak pernah kasih gue kesempatan buat nemenin lo?"

Rika: (Mengetik lambat, menahan air mata) "Jo... lo gak paham. Bukannya gue pasang tembok. Keadaan di rumah gue itu berantakan banget. Gue cuma malu, gue takut kalau lo tahu seisi rumah gue yang sebenarnya, lo bakal mikir dua kali buat bareng sama gue."

Jojo: (Hening agak lama) "Rik... kenapa lo bisa mikir kayak gitu tentang gue? Sejak awal kita COD, terus mulai sering jalan, apa gue pernah mandang lo dari latar belakang atau masalah lo? Gue cuma pengen ada di samping lo, itu aja."

Rika: "Gue tahu lo baik, Jo. Tapi ekspektasi lo ke gue itu besar banget. Di saat lo nuntut keterbukaan penuh, energi gue di rumah udah habis buat bertahan. Gue gak punya sisa energi buat meyakinkan lo setiap hari kalau gue gak berubah."

Jojo: "Jadi... maksud lo, gue ini cuma nambah-nambahin beban lo?"

Rika: "Nggak gitu... tapi untuk sekarang, kayaknya kita emang harus ngerem dulu, Jo. Kita jalan terlalu cepat, sementara gue sendiri belum selesai sama isi kepala dan masalah hidup gue sendiri."

Jojo: "Ngerem? Maksud lo... kita udahan?"

Rika: "Bukan udahan yang musuhan. Tapi mari kasih jarak dulu. Biar lo gak capek nungguin sesuatu yang belum siap gue kasih, dan gue gak merasa bersalah terus karena gak bisa menenuhi ekspetasi lo."

Jojo: (Menghela napas panjang) "Jujur, ini berat banget buat gue, Rik. Tapi kalau emang itu yang bisa bikin lo tenang dan gak merasa tertekan... gue bakal coba buat mundur pelan-pelan. Kabarin gue kalau lo udah siap, ya?"

Rika: "Makasih banyak ya, Jo. Sori buat semuanya... dan makasih udah pernah jadi bagian yang manis setelah hari COD itu."

Hubungan yang dimulai dari sebuah ketidaksengajaan—seperti transaksi COD handphone—sering kali memberikan pelajaran terdalam. Bukan karena mereka tidak saling sayang, tapi kadang waktu, kesiapan mental, dan keadaan hidup yang belum selaras memaksa dua orang untuk mengambil langkah mundur demi kebaikan bersama.

Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika menerima dan membaca surat tersebut.

Babak 7: Balasan yang Tertunda (Tiga Hari Setelah Surat Diterima)

Rika duduk di meja kerjanya saat jam istirahat siang. Surat dari Jojo sudah dilipat rapi dan disimpan di bagian paling dalam tasnya. Setelah membaca ulang surat itu untuk kesekian kalinya, ia akhirnya membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Jojo.

Rika: "Jo, suratnya udah gue baca. Semuanya. Sampai selesai."

Jojo: (Balesan instan, seolah memang sedang menunggu) "Eh, Rik. Gimana? Kebaca kan? Tulisan gue kayak ceker ayam soalnya, makanya sengaja gue kasih NB di bawahnya hahaha."

Rika: "Kebaca kok. Jelas banget malah. Makasih ya, Jo. Gue gak nyangka lo bakal nulis kayak gitu. Apalagi bagian lo bilang lo dapat nilai 1000 karena punya hati tapi gak punya pikiran. Garing tau gak, tapi bikin gue senyum pas lagi pusing-pusingnya."

Jojo: "Hahaha ya kan emang tujuannya biar lo gak tegang-tegang amat, Rik. Tapi... bagian yang terakhir, yang intinya, lo gak marah kan?"

Rika: "Gak marah, Jo. Malah gue ngerasa dihargai banget. Di zaman sekarang yang apa-apa serba instan lewat chat atau snap, lo mau meluangkan waktu buat mikir dan nulis surat pakai kertas. Itu berarti banget buat gue."

Jojo: "Gue cuma pengen lo tahu apa yang ada di hati gue aja, Rik. Tanpa nuntut lo harus jawab sekarang atau gimana-gimana. Gue tahu posisi lo lagi gak mudah."

Rika: "Jo... sore ini jemput gue di kantor bisa? Kita ngobrol langsung. Ada hal tentang rumah yang kayaknya emang udah waktunya gue bagi sama lo. Gak adil kalau gue terus-terusan sembunyi."

Jojo: "Bisa, Rik. Jam 5 sore gue udah standby di parkiran bawah ya."

Babak 8: Di Bawah Lampu Jalan Melawai Blok M (Sore Hari)

Gerimis tipis mengguyur daerah Panglima Polim sore itu. Jojo dan Rika duduk di sebuah kedai kopi kecil pinggir jalan setelah Jojo menjemputnya. Suasana canggung yang biasanya ada, kini berganti menjadi keheningan yang lebih dewasa.

Rika: (Memainkan sendok kopinya) "Gue sempat takut, Jo. Keluarga gue lagi retak, dan gue anak pertama yang harus megang semuanya. Setiap pulang ke rumah, rasanya kayak masuk ke medan perang. Makanya kemarin gue sensitif banget pas lo nuntut gue buat selalu ada."

Jojo: "Gue yang minta maaf, Rik. Surat itu gue tulis juga buat ngetok kepala gue sendiri. Gue sadar, media sosial dan ponsel ini sering bikin gue ngerasa kalau semua orang harus bisa dihubungi setiap detik, sampai gue lupa kalau lo punya hidup dan beban nyata di luar layar HP."

Rika: (Menatap Jojo) "Tapi pas gue baca kalimat lo yang dibilang 'cinta itu ditulis ketika sudah matang', gue mikir... mungkin gue gak perlu nunggu masalah gue selesai total baru bisa nerima orang lain. Karena kalau nunggu selesai, entah kapan."

Jojo: "Gue gak minta lo jadi sempurna atau gak punya masalah, Rik. Sejak kita COD HP pertama kali, gue cuma pengen jadi orang yang bisa lo andelin. Lo mau bagi 10% cerita lo ke gue, itu udah cukup. Sisanya biar kita jalanin pelan-pelan."

Rika: (Tersenyum, matanya agak berkaca-kaca) "Jadi, si Hamba Allah ini beneran sayang sama gue?"

Jojo: (Salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal) "Y-ya... kan udah tertulis hitam di atas putih, Rik. Gak bisa ditarik lagi. Gak ada tombol delete-nya kalau di kertas."

Babak 9: Babak Baru (Malam Hari, Menjelang Februari 2016)

Malam itu ditutup dengan perjalanan pulang yang jauh lebih tenang. Jarak yang sempat mereka buat beberapa hari lalu justru menjadi ruang bagi cinta mereka untuk "matang", persis seperti apa yang ditulis Jojo dalam suratnya.

Jojo: "Udah sampai depan gang rumah lo nih, Rik. Langsung istirahat ya, bersihin muka, minum air yang banyak—biar gak keselek kayak kata surat gue."

Rika: "Hahaha iya, Jojo. Makasih ya buat hari ini. Makasih udah jemput, udah dengerin cerita gue, dan..."

Jojo: "Dan apa?"

Rika: "Gue juga sayang sama lo. Udah, sana balik, udah malam!" (Rika langsung turun dari mobil dengan muka memerah)

Jojo: (Tersenyum lebar di balik kemudi, melihat punggung Rika yang berjalan masuk ke rumah) "Dapat nilai 1000 beneran gue hari ini."

Surat sederhana di atas kertas itu akhirnya berhasil menyelamatkan apa yang hampir rusak oleh ego digital. Mereka membuktikan bahwa ketika komunikasi lewat layar mulai terasa jauh dan bising, kembali ke cara-cara lama yang penuh makna justru bisa merekatkan kembali dua hati yang sempat merenggang.

 

Surat yang ditulis oleh Jojo (si "Hamba Allah") itu ternyata menjadi jangkar baru dalam hubungan mereka. Di tengah situasi Rika yang sedang kalut dengan urusan keluarganya, kejujuran yang ditulis dengan gaya agak kaku tapi tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan yang sempat ia bangun. Berikut adalah kelanjutan cerita dan interaksi mereka setelah Rika menerima dan membaca surat tersebut.

 Babak 10: Menjelang Akhir Tahun (Oktober 2016)

Enam bulan berlalu sejak pertemuan dengan keluarga Jojo. Hubungan mereka berjalan stabil, namun tantangan baru muncul dari dunia profesional Jojo. Jojo mendapatkan tawaran proyek besar di luar kota (Bandung) yang mengharuskannya bolak-balik Jakarta–Bandung setiap minggu. Di saat yang sama, adik Rika sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, membuat waktu luang Rika makin terkikis.

Jojo: "Rik, mulai bulan depan kayaknya gue bakal jarang di Jakarta tiap weekday. Proyek yang di Bandung beneran tembus. Jadi paling gue baru bisa balik Jakarta Jumat malam."

Rika: (Tersenyum, meski ada rasa berat di matanya) "Wah, selamat ya, Jo! Itu kan proyek yang lo incar dari pertengahan tahun lalu. Gue ikut seneng banget. Urusan kita mah gampang, Bandung-Jakarta kan sekarang ada travel, lagian cuma weekday kan?"

Jojo: "Iya sih... cuma gue kepikiran lo aja. Pas gue gak ada di Jakarta, lo pasti makin repot sendirian ngurusin Ibu sama adik lo. Biasanya kan minimal seminggu dua kali gue bisa bantu anter-anter."

Rika: "Jo, dengerin gue. Selama ini kan gue juga udah biasa mandiri. Lo fokus aja sama karier lo di sana. Justru ini ujian buat kita, kan kata surat lo dulu: cinta itu diwujudkan dengan perbuatan. Anggap aja ini bagian dari perbuatan kita buat saling jaga kepercayaan."

Babak 11: Komunikasi di Era LDR (Long Distance Relationship)

Jarak Jakarta–Bandung mungkin tidak seberapa, namun bagi pasangan yang terbiasa bertemu fisik, penyesuaian ini tetap menguras energi. Di sinilah mereka menguji kedewasaan komunikasi yang pernah mereka sepakati.

Jojo: (Voice Note WhatsApp - Jam 23.15)

"Rik, baru beres meeting sama vendor nih. Capek banget kepala rasanya mau pecah. Di sini hujan dari sore, jadi makin kangen Jakarta, kangen lo juga pastinya. Lo udah tidur ya? Jangan lupa selimutan, di Jakarta juga lagi musim hujan kan. Miss you."

Rika: (Membalas lewat teks - Jam 05.30 keesokan paginya)

"Pagi, Jojo. Pas lo kirim VN gue udah ketiduran, sori ya. Semangat buat hari ini! Jangan lupa sarapan sebelum ke lapangan. Gue sengaja gak telpon semalam biar lo bisa langsung istirahat. Proyeknya diseriusin, tapi badannya juga dijaga. Miss you more, Hamba Allah-ku. Hahaha."

Babak 12: Kejutan di Hari Jumat

Komitmen bukan hanya tentang bertahan di masa sulit, tapi juga tentang bagaimana menjaga percikan emosi tetap hidup di tengah rutinitas yang menjemukan. Jumat minggu ketiga, Jojo berencana pulang ke Jakarta tanpa memberi tahu Rika.

Jojo: (Menunggu di depan gerbang kantor Rika di daerah Melawai, jam 17.15)

Rika: (Keluar dari lobi kantor, tertegun melihat Jojo bersandar di motornya sambil memegang dua kantong plastik berisi martabak) "Lho? Jojo?! Kok udah di sini? Katanya baru jalan dari Bandung jam 7 malam nanti?"

Jojo: (Tertawa lebar melihat muka kaget Rika) "Sengaja gue kebut kerjaan dari subuh biar bisa dapet travel siang. Kangennya udah gak bisa ditahan sampai jam 7 malam, Rik."

Rika: (Langsung menghampiri dan mencubit lengan Jojo pelan) "Ih, kebiasaan deh suka bikin jantungan! Tapi... makasih ya. Pas banget gue lagi pusing kerjaan, langsung ilang liat muka lo."

Jojo: "Gak cuma muka gue, nih gue bawain Martabak Kubang langganan lo. Kita makan di mobil atau mau langsung balik ke rumah lo?"

Rika: "Makan di mobil dulu aja yuk sambil jalan. Gue mau denger semua cerita lo tentang Bandung."

Babak 13: Merajut Masa Depan

Sambil membelah kemacetan Jakarta di Jumat malam, mereka menyadari bahwa jarak beberapa bulan terakhir ini tidak melemahkan ikatan mereka, melainkan justru menguatkannya. Mereka bukan lagi dua orang asing yang canggung di food court saat COD HP seken dulu; mereka adalah tim.

Rika: "Jo, makasih ya udah selalu usahain pulang cepet tiap Jumat."

Jojo: "Sama-sama, Rik. Gue justru belajar banyak dari lo beberapa bulan ini. LDR mini ini bikin gue sadar, kalau kita beneran sayang sama orang, jarak itu cuma angka. Yang penting isi kepalanya tetep sama: mau dibawa ke mana hubungan ini."

Rika: "Terus, si Hamba Allah ini mau bawa hubungan ini ke mana emangnya?"

Jojo: (Menatap jalanan ke depan dengan senyum tipis tapi penuh keyakinan) "Ke tempat di mana gue gak perlu anter jemput lo ke rumah Ibu lagi, Rik. Tapi ke tempat di mana kita pulang ke pintu rumah yang sama."

Rika: (Tersenyum manis, menggenggam tangan Jojo yang bebas) "Oke. Gue pegang omongan lo ya, Jo."

Perjalanan dari sebuah transaksi COD handphone sederhana di awal tahun 2016 telah membawa mereka melalui badai ego, masalah keluarga, hingga jarak fisik. Tantangan demi tantangan justru menjadi proses "pematangan" cinta mereka, mengubah letupan emosi masa lalu menjadi pondasi masa depan yang kokoh.

Babak 14: Retakan yang Semakin Melebar (Pertengahan 2017)

Jarak Jakarta–Bandung yang awalnya bisa dijembatani oleh rindu, perlahan-lahan justru mempertegas jurang perbedaan di antara mereka. Jojo yang berjuang di luar kota mulai kelelahan secara mental, sementara sifat Rika yang defensif dan egois tingkat tinggi mulai mendominasi setiap interaksi. Rika selalu merasa masalahnya adalah yang paling berat, sehingga menganggap Jojo wajib menuruti seluruh standarnya tanpa celah.

Jojo: "Rik, weekend ini gue beneran gak bisa balik Jakarta. Proyek lagi coring beton semalaman, gue gak dapet libur. Sori banget ya, gue tahu kita udah janjian mau cari kado buat adik lo."

Rika: "Oh, jadi proyek lo itu selalu lebih penting daripada janji lo ke gue? Lo sadar gak sih, Jo, semenjak lo pindah ke Bandung, semua jadwal kita harus selalu ngikutin maunya lo? Gue capek ya kudu selalu ngertiin posisi lo, sementara lo gak pernah mikirin repotnya gue di Jakarta!"

Jojo: "Rik, tolonglah... Ini urusan kerjaan profesional, bukan gue sengaja mau main-main di sini. Gue di sini juga nyari modal buat masa depan kita. Kenapa lo selalu ngerasa lo yang paling menderita?"

Rika: "Ya emang nyata kan? Kalau lo beneran niat, lo pasti bisa sempetin waktu. Lagian dari awal emang kita udah beda kelas, Jo. Jalan pikiran lo terlalu simpel, lo gak pernah bisa bener-bener paham beban hidup gue!"

 

Babak 15: Puncak Titik Jenuh (Akhir 2017)

Kata-kata egois dan tuntutan sepihak dari Rika yang terus berulang selama berbulan-bulan akhirnya mengikis habis rasa sabar di hati Jojo. Surat tulus "Hamba Allah" yang dulu ditulis dengan keyakinan penuh, kini terasa seperti ironi. Di sebuah kafe di daerah Melawai—tempat yang dulu penuh memori manis—mereka duduk berhadapan untuk terakhir kalinya.

Rika: "Gue mau lo pilih, Jo. Lepas proyek di Bandung itu dan balik kerja di Jakarta biar bisa fokus jagain gue sama keluarga gue, atau kita selesai aja. Gue gak bisa punya pasangan yang setengah-setengah."

Jojo: (Menatap Rika dengan pandangan kosong, rasa sayangnya sudah berganti menjadi kelelahan yang teramat sangat) "Rik... lo sadar gak sih sama apa yang baru aja lo ucapin? Selama hampir dua tahun ini, gue selalu ngalah. Gue turunin ego gue, gue maklumi semua sifat keras lo, gue terima semua komplain lo karena gue pikir lo lagi stres."

Rika: "Ya emang tugas lo sebagai cowok kan?"

Jojo: (Menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit) "Nggak, Rik. Hubungan itu jalan dua arah. Tapi di mata lo, cuma ada Rika, Rika, dan Rika. Masalah lo harus paling didengar, ego lo harus paling dituruti, dan perbedaan di antara kita selalu lo jadiin senjata buat ngegoblokin gue. Gue juga punya batas jenuh."

Rika: "Oh, jadi lo mau lepas tangan sekarang? Jadi semua perjuangan lo selama ini cuma segini doang?"

Jojo: "Gue gak lepas tangan. Lo yang udah ngelepas gue pelan-pelan lewat ego lo yang setinggi langit itu. Gue pamit, Rik. Gue udah selesai."

 

Babak 26: Epilog (Tahun 2026)

Sembilan tahun telah berlalu sejak sore kelabu di Melawai itu. Jojo kini telah menetap sepenuhnya di Bandung, membangun karier dan kehidupan baru yang lebih tenang bersama seseorang yang bisa menghargai kehadirannya. Sementara itu, Rika masih sering duduk sendirian di sudut kedai kopi pinggir jalan Jakarta saat hujan turun. Di dalam laci mejanya yang paling dalam, masih tersimpan selembar kertas usang yang tintanya mulai memudar—surat dari seorang "Hamba Allah" yang dulu pernah menyayanginya dengan begitu tulus. Rika akhirnya menyadari satu hal yang terlambat: perbedaan di antara mereka sebetulnya bisa dijembatani, namun keegoisan tingkat tingginya sendirilah yang telah membakar jembatan itu hingga tak bersisa. Handphone seken yang dulu mempertemukan mereka kini sudah lama rusak dan diganti, persis seperti hubungan mereka yang berakhir menjadi sebatas memori usang yang tak akan pernah bisa diulang kembali.

Ending Note: Tidak semua cerita yang dimulai dengan manis akan berakhir di pelaminan. Kadang, seseorang dihadirkan dalam hidup kita bukan untuk menjadi teman masa depan, melainkan sebagai cermin besar agar kita belajar berkaca dan memperbaiki diri sebelum melangkah lagi.

 

No comments:

Post a Comment