Wednesday, May 28, 2014

Ustadz Mubarak Bamualim, Seorang Alim Nan Halim



Banyak yang bilang kalau ustadz Mubarak Bamualim itu sosok yang angker. Kalau kata ustadz Chusnul Yaqin beliau itu “macannya sunnah”. Beliau memang dikenal “angker” oleh murid-muridnya, bahkan rekan saya yang bernama Fatkhun Mubin sampai-sampai bilang kalau beliau itu seperti punya julukan “ustadz kuburan”, mengapa? Ya karena setiap beliau masuk kelas untuk mengajar pastilah semua yang di kelas hening seperti di kuburan; begitu ibaratnya. Ada lagi rekan saya yang bernama Abdurrahman Yongki juga mengiyakan hal serupa, beliau diibaratkan “ustadz maqabir” semakna dengan ustadz kuburan tadi. Jangan harap kita bisa curi-curi waktu untuk sejenak tidur di dalam kelas, beliau seakan punya radar untuk mendeteksi hal tersebut. Beberapa kali saya jumpai rekan saya yang mengantuk tak ayal kena semprotan beliau. Ternyata tidak untuk saya. Saya orang yang pernah menyaksikan kelemahlembutan beliau, di samping keangkeran tersebut di awal.

 Hal yang saya ingat dari ustadz Mubarak yaitu beliau menulis dengan tangan kiri. Waktu itu beliau mengajar mata kuliah menulis Arab [khat], dengan cekatan tangan beliau menggoreskan kapur di papan tulis dari kanan ke kiri. Saya pernah merasakan hal yang tidak menyenangkan kala ditegur oleh beliau. Memang saya akui kesalahan saya sendiri ketika itu.

 Kisahnya ketika saya pulang ke Jakarta lebih dari seminggu masa aktif belajar di Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya. Ada urusan yang penting ketika itu dimana saya harus mengurus tetek bengek segala keperluan yang berhubungan dengan SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru] yang ketika itu saya diterima di Universitas Indonesia. Alhasil waktu saya di Jakarta harus molor sekitar seminggu untuk mengurus ini itunya. Ketika saya kembali ke Surabaya, saya shalat jamaah di masjid ma’had. Saya sedang mengambil air wudhu dan persis di sebelah saya ada beliau yang sempat berpapasan mata dengan saya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati saya waktu itu antara ingin menyapa beliau dengan salam, namun lidah saya malahan kelu dan tidak sedikitpun mengeluarkan huruf. Sungguh ketika itu saya malu dan saya menyesali kebodohan saya sendiri. Sampai selang beberapa hari ketika beliau mengajar saya dalam salah satu mata kuliah di situlah saya ditegur; lebih tepatnya dinasehati. Beliau bilang tidak hanya khusus untuk saya tapi bagi siapa saja yang bertemu dengan ustadz di ma’had atau di manapun berada hendaknya bertegur sapa dengan salam, karena yang demikian merupakan ciri-ciri akhlak muslim yang baik. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu; bermakna keselamatan, rahmat, dan berkah Allah semoga padamu. Sungguh sebuah kata singkat namun padat makna. Begitulah beliau mengajari saya, muridnya yang tak kunjung pandai hingga kini. Sampai detik ini saya masih ingat rekaman hal itu yang menjadikan saya tergugah untuk selalu mencontoh akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik suri teladan manusia.

Ada satu hari yang paling saya kenang hingga kini, dimana saya berpamitan dengan ustadz Mubarak. Kala itu ba’da ashar selepas saya dan beliau yang menjadi imam, baru saja menunaikan kewajiban shalat berjamaah di masjid ma’had. Sempat ada dilema yang berkecamuk di hati saya tentang apa yang saya ingin ungkapkan ke beliau. Artinya dengan bahasa apa saya mengutarakan keinginan saya berpamitan kepada beliau. Jujur waktu itu berat rasanya bagi lidah saya untuk berpisah dengan beliau. Namun apa daya takdir jualah yang berbicara. Singkatnya saya beranikan diri untuk menegur beliau:
| Assalamu’alaikum ya ustadz
|Wa’alaikumsalam ya Junaidi. Apa kabarnya? Gimana, gimana?....
Tanpa diduga beliau menjabat tangan saya dan memeluk saya hangat ibarat ayah yang telah lama tidak bertemu dengan anaknya. Subhanallah. Saya gemetar ketika itu, bukan karena takut namun saya merasakan getaran cinta dari beliau yang penuh rahim. Saya lanjutkan:
| Anu ustadz, begini, saya mau pamit. Mau pulang.
|Loh.. loh.. mau kemana? Kenapa? Heh cerita ya. Kalau mau kerja di sini ya ndak apa-apa nanti saya bilang ke yayasan. Biar kamu dapat beasiswa di sini.
| Bukan. Bukan soal itu ustadz, ada uzur lain jadi saya harus pamit.
|………….

Sempat jeda.
Saya tidak kuasa menahan emosi yang bergejolak ketika itu. Ustadz Mubarak memang luar biasa, beliau paham situasi kala itu. Langsung saja tanpa basa basi beliau mengajak saya sowan ke rumahnya yang berada tak jauh dari masjid ma’had.

Sesampainya saya di depan rumah beliau, saya menunggu di luar, beliau masuk. Tak lama kemudian beliau memanggil dari dalam:
|Hei, ayo masuk. Ngapain di situ? Sini.
|Labbaik [saya datang] ya ustadz. *seraya masuk rumah beliau*.
|Sini duduk. Mau minum apa, hah? Air putih campur madu mau? Enak itu. Mumpung saya lagi baik ini *canda beliau seraya tersenyum*
|Apa aja ustadz asal gak ngerepotkan.
Kemudian beliau menyuguhkan air dingin dicampur dengan madu asli. Beliau menyuruh saya agar segera meminum air tersebut. Setelah saya jelaskan maksud pamitan saya maka beliau dengan bijaksana memahami masalah saya dan mengijinkan saya untuk pulang menempuh cita-cita. Tak lupa beliau berpesan agar saya selalu menjaga agama Islam yang mulia ini dengan cara selalu belajar dan bertanya kepada ahli ilmu di tempat saya berada. Beliau pun ucapkan salam kepada kedua orangtua saya. Sungguh di kala itu rasanya saya ingin menangis tapi hanya sedikit airmata yang keluar untuk menutupi malu bertemu orang seperti beliau yang saya kagumi.

Luar biasa. Saya tidak menyangka di balik sosok beliau yang garang ternyata beliau memiliki akhlak yang mulia. Sungguh saya beruntung sempat menjadi murid beliau, diajarkan langsung akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam sopan santun guru dan murid. Beliau adalah sosok alim [berilmu] yang juga halim [lemah lembut]. Terimakasih wahai ustadz Mubarak, semoga Allah membalas kebaikanmu dan menjadikan ilmu dan amalmu bercahaya menerangi semua.

Ada pesan yang saya ingat dari beliau kala mengajar: “ijtahidu ya akhi” [bersungguh-sungguh wahai saudaraku], antum [kalian] datang dari jauh ke sini jangan main-main ya.




"Muhammad is the Messenger of Allah; and those with him are forceful against the disbelievers, merciful among themselves. You see them bowing and prostrating [in prayer], seeking bounty from Allah and [His] pleasure. Their mark is on their faces from the trace of prostration. That is their description in the Torah. And their description in the Gospel is as a plant which produces its offshoots and strengthens them so they grow firm and stand upon their stalks, delighting the sowers - so that Allah may enrage by them the disbelievers. Allah has promised those who believe and do righteous deeds among them forgiveness and a great reward." [48:29]

No comments:

Post a Comment