Monday, August 31, 2026

Obituari Tata Krama Akademik di Kolom Komentar WhatsApp

 

Oleh: RM Kencrot

 

Dosen: Batas pengumpulan revisi sampai kapan?

Mahasiswa:  Gatau

Dosen: Kalau ditanya dosen lain jangan gunakan bahasa semacam ini. Serius.

------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya tidak pernah baper dengan namanya mahasiswa apalagi mahasiswi,  cuma hal satu ini naga-naganya tidak layak dilakukan oleh mahasiswa yang sebentar lagi akan jadi mantan mahasiswa alias lulus alias silakan namakan sendiri. Menurut saya kegagalan dosen ataupun guru dalam mengajar mendidik yang terbesar yaitu faktor kemapanan, banyak dari pengajar yang terlalu merasa ingin lebih lantaran merasa banyak ini dan itu dari muridnya seperti kantong ajaib Doraemon.

Mungkin dalam benak serta akal pendek saya, beberapa mahasiswa menganggap bahwa saya itu dosen yang jarang serius atau mungkin juga ini hanya kemungkinan yang saya mungkin-mungkinkan saja agar paragraf ini jadi lebih mungkin panjang. Alih-alih bagi saya sebenarnya tidak ada masalah kalau si mahasiswa x tersebut kirim pesan dengan bahasa seenaknya atau anggaplah saya ini bukan dosen tapi temannya atau Artificial Intelligence yang biasa dia pakai. Namun rasanya kurang pas konteksnya mengingat si mahasiswa belum sah secara de facto dan de jure menyandang gelar mahasiswa, masih ada namanya revisi skripsi.

Kemapanan posisi sering kali membuat kita lupa bahwa ruang kelas bukan cuma soal transfer IPK atau tumpukan berkas revisi skripsi yang dicoret-coret tinta merah. Lebih dari itu, kelas adalah tempat peradaban kecil dirawat. Ketika kata "Gatau" meluncur mulus tanpa beban dari jari seorang calon sarjana—yang notabene setiap hari bergulat dengan mata kuliah komunikasi, etika profesional, dan retorika publik—di situlah kita patut mengheningkan cipta sejenak. Bukan untuk meratapi nilai si mahasiswa, tapi untuk melayat sopan santun yang perlahan mati di atas altar auto-reply gawai.

Barangkali, salah kita juga sebagai pengajar. Terlalu sibuk mengejar target output kurikulum, sibuk menghitung rasio bimbingan, hingga lupa mengajarkan bahwa sebelum ilmu diserap, adab harus diletakkan di tempat paling depan. Kita mendidik mereka tentang Personal Branding, Public Relations, dan teknik negosiasi tingkat tinggi, tapi lupa kalau dasar paling fundamental dari hubungan antarmanusia adalah: menghargai orang yang sedang memegang pulpen penentu kelulusan.

Atau mungkin, ini buah dari era digital yang menuntut segala hal berjalan instan. Huruf digepengkan, singkatan dihalalkan, hingga batas antara ruang santai warung kopi dan ruang sidang akademik lebur tanpa sisa. Gatau. Enam huruf yang merangkum betapa ringannya bobot tanggung jawab akademik hari ini. Seolah-olah hubungan dosen dan mahasiswa hanyalah transaksi di lapak online, di mana penjual dan pembeli tidak perlu saling menunduk hormat, asalkan barang sampai dan transaksi selesai.

Maka, mari kita doakan bersama. Semoga kelak di dunia kerja yang sesungguhnya—di mana bos galak tidak mempan disogok dengan sticker lucu atau alasan chat dibaca doang—mereka tidak kebingungan mencari tombol undo untuk hidup. Karena ijazah mungkin bisa dicetak dengan kertas tebal berlogo garuda di lapak-lapak gelap Pasar Pramuka Jakarta, tapi kewarasan sosial? Sayang sekali, itu tidak dijual di koperasi kampus.

Secara bahasa (etimologi), kata mahasiswa terdiri dari dua morfem Sanskerta:

  • Maha: Besar, utama, tinggi.
  • Siswa: Pelajar atau murid.

Secara harfiah, ia berarti pelajar tingkat tinggi—bukan lagi anak bawang yang butuh disuapi cara memegang pensil. Kemudian secara istilah, mahasiswa bukan sekadar status administratif yang melekat karena memegang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Mereka adalah kaum intelektual muda yang berada di liminal space (zona transisi): setengah akademisi, setengah calon profesional; setengah pemimpi, setengah pengkritik realitas. Di pundak merekalah seharusnya melekat nalar kritis, bukan nalar auto-reply "Gatau".

Adapun dalam lintasan sejarah umat manusia, mahasiswa tidak pernah sekadar duduk manis mencatat sabda dosen di ruang kuliah. Mereka adalah motor penggerak sejarah yang kerap mencabut status quo dari akarnya:

  • Gerakan 1908 & 1928 (Budi Utomo & Sumpah Pemuda): Jauh sebelum istilah gen-z atau influencer lahir, para "mahasiswa" kedokteran STOVIA dan pemuda pergerakan-lah yang merajut kesadaran nasional dari Sabang sampai Merauke. Mereka menggunakan pena dan forum diskusi untuk meruntuhkan kolonialisme. Pendiri bangsa ini beberapa dari mereka adalah mahasiswa.
  • Tragedi 1966 & Reformasi 1998: Ketika rezim berkuasa mulai buta dan tuli terhadap penderitaan rakyat, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan yang turun ke jalan—bukan demi tiket gratis, tapi karena ruang dialog akademik di kelas sudah mati, digantikan oleh pembungkaman.
  • Era Digital (Sekarang): Hari ini, medan juang mereka bergeser dari jalan raya ke ruang-ruang siber, riset data, hingga kampanye digital. Namun, substansinya tetap sama: menjadi "hati nurani publik".

 Koor penutup dibunyikan dengan nada minor, disusul denting sendok teh yang beradu dengan cangkir kopi pahit.

Dan pada akhirnya, kita, saya, Anda, kalian, antum, dia, mereka—para penghuni ruang-ruang kuliah yang mulai berbau kapur tua dan keputusasaan administratif—hanya bisa duduk termenung di balik meja kerja masing-masing. Menatap layar laptop yang menyala remang, sambil merenungkan sebuah pertanyaan eksistensial yang jauh lebih pelik daripada teori komunikasi massa mana pun:

Sebenarnya, yang sedang kita revisi ini naskah skripsi mereka, atau kewarasan kita sendiri?

Sebab betapa ironisnya peradaban hari ini. Kita menguras energi merumuskan Digital PR Campaign, memeras otak menjelaskan pentingnya audience mapping, membongkar pasang teori retorika agar mereka fasih bicara di muka umum. Tapi begitu keluar dari kelas, teori-teori canggih itu lebur seketika di hadapan satu huruf 'G' kapital dan empat huruf di belakangnya: G-A-T-A-U.

Sebuah mahakarya komunikasi nir-konteks. Ringkas, padat, dan langsung menghujam jantung keimanan seorang pendidik. Barangkali, inilah puncak pencapaian kurikulum merdeka yang sesungguhnya. Merdeka dari rasa sungkan, merdeka dari beban moral, dan yang paling spektakuler: merdeka dari rasa bersalah. Maka, untuk menutup upacara pemakaman etika akademik sore ini, mari kita kirimkan doa tulus bersama secangkir kopi sisa tadi pagi:

 

“Ya Allah, jadikanlah para mantan mahasiswa ini orang-orang yang sukses di luar sana. Biar nanti bos-bos galak, klien resek, dan kejamnya dunia korporat yang melanjutkan sisa didikan kami dengan cara mereka yang paling 'kreatif'.”

 

Karena hidup di luar kampus itu kejam, kawan. Di sana, chat yang dibalas "Gatau" tidak akan mendatangkan nilai C, melainkan surat pemecatan kilat dengan pesangon senyum pahit.

 

Innalillahi wa innailaihi raji’un.

Selamat jalan, adab. Engkau terlalu indah untuk disia-siakan di kolom komentar WhatsApp.

 

Tertanda,

RM Kencrot Nikmat Jiwa (Sekali Baca, Jiwa Langsung Meronta, Waras Langsung Tertunda)

 

 

 

Thursday, August 27, 2026

Dosen, "Orang Gila" yang Eling, dan Estetika Huruf yang Menghujam

By RM Kencrot

Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Bismillah. Salawat serta salam kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Amma bakdu:

Nama saya Romika Junaidi, tetapi di kepala para pembaca yang akrab dengan tulisan-tulisan saya, orang lebih mengenali saya lewat gaya khas RM Kencrot — sebuah identitas pena yang merangkum filosofi sederhana: Mbeling tapi Eling. Nakal dalam berpikir, liar dalam merangkai kata, namun tidak pernah kehilangan kompas moral dan kesadaran spiritual.

Profesi utama saya itu hamba Allah, sisanya mah hanya duniawi saja, misalnya jadi tukang bekam sekaligus reflexology, atau jadi dosen yang sekarang ada wujudnya nyata di hadapan Antum.

Nah, sebagai pengampu di Prodi Ilmu Komunikasi, saya percaya bahwa perkenalan di hari pertama kuliah tidak boleh terjebak dalam kurikulum yang kaku dan membosankan. Dosen bukanlah sekadar mesin pembaca PowerPoint, melainkan kurator makna. Maka, biarlah esai singkat ini menjadi babak pembuka siapa diri saya di hadapan Anda sekalian.

Hidup bagi saya adalah sebuah perjalanan melintasi batas-batas konvensional. Di luar ruang kuliah, Anda mungkin akan menemukan saya sedang mengendalikan setang motor dalam tradisi touring roda dua, atau mendaki punggung gunung demi mencari keheningan di atas awan. Hobi-hobi fisik ini bukan sekadar pelarian, melainkan cara saya merawat denyut kehidupan agar tetap membumi. Di balik helm dan debu jalanan, kepala saya dipenuhi oleh kecintaan mendalam pada literasi—melahap apa saja dari Al-Qur'an sebagai pedoman hidup mutlak sebagai konsekuensi saya seorang muslim, Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, hingga buku apa pun yang lembarannya bisa dibaca.

Karakter kreatif saya terbentuk dari asupan mental para "orang gila" yang visioner. Saya mengidolakan Remy Sylado—sastrawan serbabisa yang wafat meninggalkan jejak kegilaan estetis, di mana saya cukup beruntung sempat berfoto bersama beliau sebelum ia berpulang. Begitu pula dengan Frank Zappa, musisi jenius yang pernah berkata telak tentang luasnya kebodohan di alam semesta ini "There is more stupidity than hydrogen in the universe, and it has a longer shelf life". Jajaran maestro lain seperti Seno Gumira Ajidarma, WS Rendra, Joko Pinurbo, hingga stand-up comedian Gerallio turut membentuk cara saya memandang realitas: bahwa sastra dan humor adalah senjata paling ampuh untuk menertawakan kemunafikan zaman. Bagi saya kemapanan sejati adalah sebuah omongkosong yang sangat kosong, soalnya saya belum mapan dan belum mencapai taraf gaji UMR (Upah Minimum RaffiAhmad). Saya suka ngopi apa saja yang penting halal wabil khusus kopi yang digiling asli, bukan kw. Mengutip Joko Pinurbo, "Lima menit menjelang minum kopi, aku ingat pesanmu: "Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi." · //Joko Pinurbo”

Perjalanan hidup saya juga dihiasi oleh pencapaian-pencapaian kecil yang absurd namun membanggakan. Di ranah digital, saya mengoleksi sebuah "lencana kehormatan": pernah diblokir oleh Roy Suryo di Twitter.  Pernah difollow Arya Wiguna, si musuhnya Eyang Subur, habis dia follow saya eh langsung saya unfollow,
Btw saya pernah memblokir mertua perempuan saya durasi satu tahun, yang saya kasih nama kontak di WhatsApp itu “Mertua Terbaik di Tata Surya”

Di panggung musik masa remaja, impian masa lalu terbayar ketika saya bisa bersua dan berfoto langsung dengan Eka The Brandals, sang vokalis band metal idola masa itu di sebuah toko roti Sedap Wangi (Googling aja alamatnya, roti dan kuenya enak-enak, legend). Saya pensiun dari dunia musik. Hijrah, tapi tetap terbuka untuk diskusi selama masih ada kopinya dan……

Rumah tangga saya adalah manifestasi nyata dari blessing in disguise—sebuah anugerah tersembunyi di balik tikungan takdir. Alhamdulillah, saya telah menikah dua kali, di mana istri pertama memiliki paras yang mirip dengan Raisa (@raisa6690), dan istri kedua kini pun dengan penuh kasih saya panggil dengan nama Raisa. Bagi saya, istri itu harus wajib 3 karena is three, kalau satu namanya is one. Chuakss.

Konsentrasi bidang ilmu saya di periklanan dengan cakupan media cetak dan out of home, consumer behaviour, copywriting, digital public relations, pop culture, humour studies, dan sebagainya yang terkait dengan mass communicaton. Mohon maaf kalau saya jarang menulis pakai bahasa Indonesia di papan tulis, karena saya terbiasa menulis konsep dan menggambar in English.

 

 

Peraturan Utama WAJIB FARDHU AIN di Kelas Saya

1.     Haram main ponsel

2.     Makruh terlambat

3.     Malas mencatat, maka itu saya wajibkan mencatat di sebuah buku tulis. Nantinya saya akan gunakan sebagai dalil untuk nilai akhir semester. Semakin Anda rajin maka terbuka peluang masuk surga jalur rajin belajar.

 

Disclaimer: kalau di kelas ada yang ngantuk  pasti tidak akan saya tegur, karena itu hak privasi kecuali ngobrol karena itu sudah melanggar hak kelas alias bikin gaduh rebut berisik

 

Panggilan Kolaborasi

Bagi saya, komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan seni menyalakan api pemikiran. Mari kita leburkan sekat antara dosen dan mahasiswa di kelas ini. Jika Anda ingin menyelami isi kepala saya lebih jauh, menagih materi, atau sekadar berdiskusi sambil menikmati sebungkus mie ayam porsi jumbo dan segelas air zam-zam atau secangkir kopi, pintu saya selalu terbuka melalui berbagai kanal berikut:

Blog & Tulisan: ketikateksbicara.blogspot.com

Email Akademik: romika@civitas.unas.ac.id

Instagram: @junkhaer

WhatsApp: +6281213515500

Mari kita jalani semester ini dengan penuh gelora. Selamat datang di ruang kelas saya, tempat di mana akal sehat diasah, kreativitas tanpa batas diuji, dan blessing in disguise selalu menanti di setiap tikungan tak terduga. Akhirul kalam, Alhamdulillah.

[]