Alkisah suatu ketika saya pergi berkendara roda dua dari Cipinang Muara menuju Semanggi pada hari Sabtu siang. Kala itu sehabis hujan sehingga jalanan jadi macet dan licin. Saya lewat jalan Casablanca namun berhubung jalan yang semakin padat saya berbelok di pertigaan sebelum pasar Gembrong. Namun apa yang terjadi di jalan itu pun diblokir karena ada acara hajatan warga sekitar, tampak pak Polisi berjaga dengan senyum sungging di bibirnya mengalihkan jalur. Langsung saja saya dan beberapa orang yang juga bersepeda motor memacu melewati gang sempit perkampungan. Di sudut jalan kami ingin melewati dengan menyebrang selokan kecil yang dapat dilewati oleh sepeda motor. Tiba-tiba ada seorang lelaki tua mengenakan songkok menghampiri rombongan kami dengan sikap kasar mengusir kami semua. Saya tidak berkata apa-apa, namun saya mendengar celetukan orang di sebelah saya yang jengkel akan sikap si bapak tua yang tidak member i jalan kepada kami yang sudah dizalimi hak pejalankakinya. Dia berkata “Islam apaan tuh? Islam cuma KTP doang”. Lalu kami pun terpaksa memutar balik dan pergi meninggalkan si bapak tua itu dengan kesan tidak baik. Saya heran, sudah jalan kami diblokir malahan kami tidak boleh lewat jalan yang seharusnya milik kami. Begitukan Islam mengajarkan umatnya? Sedangkan duri kecil di jalan saja diperintahkan untuk disingkirkan sebagai bukti keimanan yang paling kecil. Apalagi ini hak pejalan kaki yang telah dizalimi dua kali, ditambah dengan sikap arogannya yang mengusir kami. Saya percaya jika duri kecil saja disuruh oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk disingkirkan, pastilah jalan milik umat tidak akan digunakan untuk kepentingan individu apalagi kelompok semata. Semoga Allah menyadarkan si bapak tua tersebut.
Friday, December 13, 2013
Islam KTP
Jakarta
Alkisah suatu ketika saya pergi berkendara roda dua dari Cipinang Muara menuju Semanggi pada hari Sabtu siang. Kala itu sehabis hujan sehingga jalanan jadi macet dan licin. Saya lewat jalan Casablanca namun berhubung jalan yang semakin padat saya berbelok di pertigaan sebelum pasar Gembrong. Namun apa yang terjadi di jalan itu pun diblokir karena ada acara hajatan warga sekitar, tampak pak Polisi berjaga dengan senyum sungging di bibirnya mengalihkan jalur. Langsung saja saya dan beberapa orang yang juga bersepeda motor memacu melewati gang sempit perkampungan. Di sudut jalan kami ingin melewati dengan menyebrang selokan kecil yang dapat dilewati oleh sepeda motor. Tiba-tiba ada seorang lelaki tua mengenakan songkok menghampiri rombongan kami dengan sikap kasar mengusir kami semua. Saya tidak berkata apa-apa, namun saya mendengar celetukan orang di sebelah saya yang jengkel akan sikap si bapak tua yang tidak member i jalan kepada kami yang sudah dizalimi hak pejalankakinya. Dia berkata “Islam apaan tuh? Islam cuma KTP doang”. Lalu kami pun terpaksa memutar balik dan pergi meninggalkan si bapak tua itu dengan kesan tidak baik. Saya heran, sudah jalan kami diblokir malahan kami tidak boleh lewat jalan yang seharusnya milik kami. Begitukan Islam mengajarkan umatnya? Sedangkan duri kecil di jalan saja diperintahkan untuk disingkirkan sebagai bukti keimanan yang paling kecil. Apalagi ini hak pejalan kaki yang telah dizalimi dua kali, ditambah dengan sikap arogannya yang mengusir kami. Saya percaya jika duri kecil saja disuruh oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk disingkirkan, pastilah jalan milik umat tidak akan digunakan untuk kepentingan individu apalagi kelompok semata. Semoga Allah menyadarkan si bapak tua tersebut.
Alkisah suatu ketika saya pergi berkendara roda dua dari Cipinang Muara menuju Semanggi pada hari Sabtu siang. Kala itu sehabis hujan sehingga jalanan jadi macet dan licin. Saya lewat jalan Casablanca namun berhubung jalan yang semakin padat saya berbelok di pertigaan sebelum pasar Gembrong. Namun apa yang terjadi di jalan itu pun diblokir karena ada acara hajatan warga sekitar, tampak pak Polisi berjaga dengan senyum sungging di bibirnya mengalihkan jalur. Langsung saja saya dan beberapa orang yang juga bersepeda motor memacu melewati gang sempit perkampungan. Di sudut jalan kami ingin melewati dengan menyebrang selokan kecil yang dapat dilewati oleh sepeda motor. Tiba-tiba ada seorang lelaki tua mengenakan songkok menghampiri rombongan kami dengan sikap kasar mengusir kami semua. Saya tidak berkata apa-apa, namun saya mendengar celetukan orang di sebelah saya yang jengkel akan sikap si bapak tua yang tidak member i jalan kepada kami yang sudah dizalimi hak pejalankakinya. Dia berkata “Islam apaan tuh? Islam cuma KTP doang”. Lalu kami pun terpaksa memutar balik dan pergi meninggalkan si bapak tua itu dengan kesan tidak baik. Saya heran, sudah jalan kami diblokir malahan kami tidak boleh lewat jalan yang seharusnya milik kami. Begitukan Islam mengajarkan umatnya? Sedangkan duri kecil di jalan saja diperintahkan untuk disingkirkan sebagai bukti keimanan yang paling kecil. Apalagi ini hak pejalan kaki yang telah dizalimi dua kali, ditambah dengan sikap arogannya yang mengusir kami. Saya percaya jika duri kecil saja disuruh oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk disingkirkan, pastilah jalan milik umat tidak akan digunakan untuk kepentingan individu apalagi kelompok semata. Semoga Allah menyadarkan si bapak tua tersebut.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment