Minggu 2 Des 2012
Kami tiba di Jogja menaiki
bis Kramat Djati jurusan Bandung-Yogyakarta turun di perempatan Kaliurang
sambung taksi ke kediaman si ganteng tralala trilili. Waktu menunjukkan pukul
02.00 WIB. Setiba di kos tiba-tiba Neneng merasakan panggilan alam kontan saja
langsung aku suruh ke bilik termenung di ujung kamar kos. Ternyata si Neneng
sudah tidak tahan kepingin menyalurkan hasrat buang air kecil yang menurut
pengakuannya tidak terasa selama di perjalanan. Sekalian beliau mengganti roti
jepang karena sedang dihinggapi mens. Beliau keluar kamar mandi dengan wajah
polos nan sumringah berhubung lega tiada tara. Kami terlelap setelahnya. Siang
menjelang zuhur kami keluar kandang menuju binatu atau bahasa Jawa-nya laundry.
Hahaha. Di tempat ini si Neneng terperanjat karena harga jasa cuci yang menurut
dia terlalu murah untuk cuci ekspres hanya IDR Rp 3500 dapat diambil keesokan
hari. Hahaha lagi. Sekalian saya berpikir kemana rute kami selanjutnya yang
searah sama tempat laundry dan kami berunding, akhirnya saya memutuskan untuk
ke Candi Prambanan yang terletak kurang lebih 25 km dari Yogyakarta. Kami
menunggangi si Genit, di tengah jalan ternyata si Genit kehabisan bahan bakar
sehingga mampir ke SPBU yang kebetulan si Neneng juga kebelet jajan sekalian ke
kamarmandi. Ndilalah di sebelah kamarmandi ada toko Dunkin Donuts, si Neneng
gatel dan kemudian ngidam hingga akhirnya membeli setengah lusin untuk bekal
kami di perjalanan kelak. Cuaca siang itu memang agak mendung setelah kami
masuk ke Candi Prambanan. Kami disarungisasi, sebuah istilah baru yang saya
dapat di Candi Prambanan. Setelah kami puas berkeliling Candi Prambanan lanjut
ke Candi Sewu dan kemudian pulang. Di tengah perjalanan pulang ditemani hujan
gerimis rinai yang syahdu bin sendu macam di salah satu lagu lawas, sambil kami
berunding mencari penginapan buat si Neneng. Kebetulan di dekat kos saya ada
hotel murah meriah tidak terlalu mahal akhirnya kami coba-coba bertanya ke
tempat itu. Walhasil cocok, si Neneng memesan untuk 3 malam walau pada akhirnya
cuma 2 malam untungnya bisa diretur pula. Sampai di hotel ternyata hari hujan.
Pasca hujan reda kami bergegas menuju Stasiun Lempuyangan memesan tiket pulang
Lempuyangan-Pasar Senen IDR Rp 125.000. Setelah hari gelap kami menuju Malioboro.
Di sini si Neneng tampak sangat senang dan antusias bisa berjalan-jalan walau
hari gerimis sampai berfoto-foto di Monumen Nol Kilometer Yogyakarta. Kami
lanjut perjalanan karena terasa lapar dan menuju Kafe Mato Kopi yang terletak
di bilangan Seturan Yogyakarta. Hujan tidak juga reda namun kami tancap gas
walhasil kami terutama saya sebagai juru mudi kebasahan tapi tak apalah yang
penting sampai karena sudah kelaparan akut. Kami memesan makan spesial kala
itu, nasi telor penyet yang membuat si Neneng ketagihan, enak katanya. Hehe.
Setelah kami kenyang akhirnya kembali ke peraduan masing-masing. Tapi tubuh
saya harus drop karena terlalu lama beraktifitas kurang istirahat, dan si
Neneng yang mestinya nginap di hotel menjenguk saya untuk mengobati. Malam pertama
selesai.
No comments:
Post a Comment