Tuesday, December 17, 2013

Neng di Jogja (bagian 1)

Hari 1

Minggu 2 Des 2012

Kami tiba di Jogja menaiki bis Kramat Djati jurusan Bandung-Yogyakarta turun di perempatan Kaliurang sambung taksi ke kediaman si ganteng tralala trilili. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Setiba di kos tiba-tiba Neneng merasakan panggilan alam kontan saja langsung aku suruh ke bilik termenung di ujung kamar kos. Ternyata si Neneng sudah tidak tahan kepingin menyalurkan hasrat buang air kecil yang menurut pengakuannya tidak terasa selama di perjalanan. Sekalian beliau mengganti roti jepang karena sedang dihinggapi mens. Beliau keluar kamar mandi dengan wajah polos nan sumringah berhubung lega tiada tara. Kami terlelap setelahnya. Siang menjelang zuhur kami keluar kandang menuju binatu atau bahasa Jawa-nya laundry. Hahaha. Di tempat ini si Neneng terperanjat karena harga jasa cuci yang menurut dia terlalu murah untuk cuci ekspres hanya IDR Rp 3500 dapat diambil keesokan hari. Hahaha lagi. Sekalian saya berpikir kemana rute kami selanjutnya yang searah sama tempat laundry dan kami berunding, akhirnya saya memutuskan untuk ke Candi Prambanan yang terletak kurang lebih 25 km dari Yogyakarta. Kami menunggangi si Genit, di tengah jalan ternyata si Genit kehabisan bahan bakar sehingga mampir ke SPBU yang kebetulan si Neneng juga kebelet jajan sekalian ke kamarmandi. Ndilalah di sebelah kamarmandi ada toko Dunkin Donuts, si Neneng gatel dan kemudian ngidam hingga akhirnya membeli setengah lusin untuk bekal kami di perjalanan kelak. Cuaca siang itu memang agak mendung setelah kami masuk ke Candi Prambanan. Kami disarungisasi, sebuah istilah baru yang saya dapat di Candi Prambanan. Setelah kami puas berkeliling Candi Prambanan lanjut ke Candi Sewu dan kemudian pulang. Di tengah perjalanan pulang ditemani hujan gerimis rinai yang syahdu bin sendu macam di salah satu lagu lawas, sambil kami berunding mencari penginapan buat si Neneng. Kebetulan di dekat kos saya ada hotel murah meriah tidak terlalu mahal akhirnya kami coba-coba bertanya ke tempat itu. Walhasil cocok, si Neneng memesan untuk 3 malam walau pada akhirnya cuma 2 malam untungnya bisa diretur pula. Sampai di hotel ternyata hari hujan. Pasca hujan reda kami bergegas menuju Stasiun Lempuyangan memesan tiket pulang Lempuyangan-Pasar Senen IDR Rp 125.000. Setelah hari gelap kami menuju Malioboro. Di sini si Neneng tampak sangat senang dan antusias bisa berjalan-jalan walau hari gerimis sampai berfoto-foto di Monumen Nol Kilometer Yogyakarta. Kami lanjut perjalanan karena terasa lapar dan menuju Kafe Mato Kopi yang terletak di bilangan Seturan Yogyakarta. Hujan tidak juga reda namun kami tancap gas walhasil kami terutama saya sebagai juru mudi kebasahan tapi tak apalah yang penting sampai karena sudah kelaparan akut. Kami memesan makan spesial kala itu, nasi telor penyet yang membuat si Neneng ketagihan, enak katanya. Hehe. Setelah kami kenyang akhirnya kembali ke peraduan masing-masing. Tapi tubuh saya harus drop karena terlalu lama beraktifitas kurang istirahat, dan si Neneng yang mestinya nginap di hotel menjenguk saya untuk mengobati. Malam pertama selesai.


No comments:

Post a Comment