Wednesday, December 11, 2013

Cita-citaku



Suatu ketika saya pernah bertanya kepada guru saya tentang cita-cita beliau hidup di dunia. Beliau bernama Ustadz Syahrul Fatwa, Lc hafidzahullah- Sepele saja jawaban beliau namun mengena di hati saya. Beliau bilang cita-citanya sederhana, ingin jadi anak saleh yang mampu berbakti kepada kedua orangtuanya, setidaknya dapat mendoakannya hidup dan mati. Beliau bilang tidak ada kebahagiaan terbesar di dunia ini kecuali membahagiakan orangtua, karena beliau tidak akan ada dan tidak ada apa-apanya tanpa orangtua. Saya tercengang! Alangkah betapa mulianya jawaban yang keluar dari seorang ahli ilmu. Kemudian beliau membacakan hadits:



إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ


Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal:
1. Shadaqah jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat,
3. Anak saleh yang mendoakannya
[Muslim no. 1631]


Sungguh suatu hal yang membuat hati saya tergugah hingga kini. Pada akhirnya saya pun mengerti apa impian terbesar saya di dunia: saya ingin jadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua. Karena sekeras apapun saya berusaha untuk membalas jasa mereka maka sedikitpun saya tidak akan sanggup. Telah ada tertulis: "kasih anak sepanjang penggalan, kasih orangtua sepanjang jalan"



 

No comments:

Post a Comment