Saturday, December 28, 2013

A

Ketika kuliah dulu, saya pernah mendapat pertanyaan nyeleneh dari dosen saya Pak Sujai. Beliau bilang: "coba kalian tahu gak, kata apa yang pertama kali diucapkan Adam dan Hawa pas jatuh ke bumi?".

A.
Mungkin ini adalah kata yang pertama kali diucapkan Adam dan Hawa ketika jatuh ke bumi. Namanya juga kemungkinan. Nah alih-alih, bahasa apa yang dipakai mereka berdua? Ini pertanyaan selanjutnya.Konon, Adam jatuh di daerah Sri Lanka tepatnya di Sri Pada (2243 m dpl) dan Hawa jatuh di Jeddah yang dalam bahasa Arab bermakna nenek. Maka tak heran kota Jeddah termasuk kota tertua di dunia. Di kota tersebut terdapat makam Hawa, entah benar atau tidak.

Arafah.
Tempat yang diyakini sebagai pertemuan kembali Adam dan Hawa di dunia. Bahkan tempat ini menjadi salah satu rukun ibadah haji yang terpenting pada tanggal 9 Dzulhijjah sekaligus termasuk tempat-tempat doa dikabulkan. Sungguh luar biasa. Hal ini juga membuktikan teori Pangaea yang menyatakan bahwa bumi merupakan satu bagian utuh dan bersambung. Logis. Karena pada saat itu belum ada lautan seperti sekarang ini sehingga Adam dan Hawa bisa bertemu.

Entah apa juga yang dikatakan Adam dan Hawa waktu bertemu kembali.

Friday, December 27, 2013

Si Kakek Pelabuhan Ratu

Suatu hari saya turing rodadua ke Pelabuhan Ratu bersama teman-teman semasa kuliah. Sampai di sana kami menginap semalam. Keesokan harinya kami menyempatkan diri berendam di mata air panas Cisolok. Tak jauh dari pantai Pelabuhan Ratu. Ketika kami sampai di tujuan langsung saja kami berganti pakaian renang. Byur. Kami berendam air hangat. Di tempat itu ada seorang kakek yang menghampiri kami. Perawakannya tampak tua namun semangatnya tak kalah dengan kami yang masih muda. Kami pun berbincang-bincang. Beliau berkata dengan percaya diri:

"Apa kelebihan saya dibanding kalian?"
"Gak tau kek"
"Mau tau jawabannya"?
"Iya, kek"
"Saya ini pernah muda, sedangkan kalian belum pernah tua, betul kan?" Hahahaha.

Tak lama si kakek berkisah soal cinta. Apa hakikat cinta sebenarnya. Menurutnya cinta itu bukan seperti hasrat gejolak kawula muda yang membara, namun cinta yang sesungguhnya baru dapat kita rasakan saat usia lanjut, dimana kita (sebagai lelaki) amat membutuhkan sosok perempuan sebagai teman hidup. Pesan beliau, cobalah kalian yang masih muda ketika nanti tua kelak akan merasakan sendiri hakikat cinta tersebut. Niscaya kalian wahai kaum muda akan buktikan ucapan saya yang pernah muda. Percayalah, ujar si kakek seraya tersenyum.



Thursday, December 26, 2013

Neng di Jogja (bagian 4-tamat)


Hari ke-4
Rabu, 5 Des 2012

Hari terakhir sebelum si Neng pergi. Tak ada kuliah hari ini. Niat kami ke pantai lagi-lagi urung karena hujan. Setelah hujan reda di pagi hari kami bergegas sarapan di warung Lotek Bu Bagyo. Kemudian langsung bergeser ke utara. Ke mana? Akhirnya kesampaian juga ke destinasi kami: Borobudur. Saya pun ingat siang hari ini ada janji dengan dokter gigi langganan saya yang sempat bikin si Neng cemburu, begitu pengakuannya. Namanya Lea. Mbak Lea, saya memanggilnya.

Akhirnya kami ke Borobudur hingga siang hari menjelang. Setelah itu langsung tancap gas menemui si dokter gigi. Ternyata saya cuma diperiksa saja tak ada penanganan apa-apa. Kami kemudian pamit. Si Neng beres-beres barang yang akan dibawa pulang, saya membantunya. Kemudian kami mencari makan. Setelah itu saya antar dia pulang ke Stasiun Lempuyangan. Hujan rintik mengiringi langkah saya melepas kepergiannya. Entah kenapa tanpa sadar ada air mata yang jatuh. Ah, perpisahan memang selalu haru. Sayonara.
 


Si Neng depan KA Gajah Wong



Neng di Jogja (bagian 3)

Hari ke-3.

Selasa 4 Des 2012

Si Neng bangun pagi. Saya juga. Rencananya hari ini mau ke pantai tapi tidak jadi karena alasan rute yang terlampau jauh. Alhasil si Neng mau menepati janjinya. Apa itu? Beres-beres kamar saya. Langsung saja ketika peralatan sudah siap, saya pun ‘diusir’ sejenak keluar kamar sampai selesai dan hasilnya bikin saya takjub. Baru kali ini setelah sekian lama, kamar saya yang semrawut ada yang merapikannya. Luar biasa. Terimakasih, kata saya ke dia.
Kemudian kami bersiap menuju warung untuk sarapan. Lanjut ke kampus. Kuliah tidak terlalu banyak, cuma dua. Namun saya mesti presentasi di dua jadwal tersebut. Si Neng semalam yang bantu saya bikin tugas kuliah. Setelah kuliah yang melelahkan kami langsung tancap gas ambil laundry sekalian makan siang. Kemudian langsung menuju ke utara. Kemana? Borobudur, tujuannya. Namun apa daya ketika baru sampai Ring Road utara hujan semakin deras. Kami berteduh di rumah warga. Di tengah hujan deras kami sempat berkelahi, sedikit tapi tak lama kemudian selesai seiring hujan reda.

Setelah itu kami berkeliling kota Jogja hingga senja terbenam. Di tengah jalan si Neng ngidam susu sapi Kalimilk, ya akhirnya kami singgah di Kalimilk Kaliurang. Setelah itu lanjut cari makan malam ditemani hujan rintik yang tak kunjung reda. Tak apalah kata kami. Lanjut ke Pizza Hut Plasa Ambarukmo. Sempat terjadi perselisihan di antara kami namun lagi-lagi berujung tawa. Setelah itu kami bergeser kembali ke peraduan masing-masing. Tak lupa ambil laundry. Selesai. Malam yang indah.


Friday, December 20, 2013

Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan

Apa itu ilmu?
Ilmu menurut harfiah berarti mengetahui, lawannya adalah kebodohan. Adapun ilmu menurut istilah yang didefinisikan oleh ulama yakni pengetahuan tentang sesuatu hal yang benar sesuai apa adanya dengan sebenar-benarnya. Ulama telah sepakat mengenai definisi ilmu yang dimaksud yakni ilmu agama yang dengannya seseorang mampu membedakan yang haq dan yang batil, halal dan haram dan lain sebagainya. Islam adalah agama yang memulai dengan ilmu sebagaimana wahyu pertama dari Allah yang turun kepada Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wasallam melalui perantara malaikat Jibril 'alaihissalam di gua Hira. Jibril berkata "bacalah!", namun Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wasallam yang buta huruf menjawab "saya tidak mampu membaca", lalu Jibril mengulang hingga tiga kali hingga turun ayat:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ    

Artinya:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [Al 'Alaq: 1-5]

 Tidak ada agama di dunia ini yang memulai ajarannya dengan ilmu kecuali Islam. Saking tingginya kedudukan ilmu di dalam Islam, hingga Imam Al Bukhari menulis di kitab Sahih Bukhari satu bab khusus mengenai ilmu yakni "al ilmu qabla al qaul wa al 'amal' (ilmu sebelum perkataan dan perbuatan). Dengan ilmu inilah merupakan sebab seseorang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu]

Dan tingkatan ilmu yang paling tinggi yakni ilmu tauhid karena di dalamnya pengesaan Allah dalam segenap penciptaan alam semesta-Nya, kehendak-Nya, dan nama-nama-Nya (asma' wa shifat). Ilmu tauhid menjadi pembeda seorang muslim dari pemeluk agama lain.

Adapun perkataan dan perbuatan (qaul wa 'amal) merupakan buah dari ilmu. Secara logis pun dapat diterima akal sehat, jika seorang manusia waras bagaimana ia berkata dan berbuat di dalam agama ini tanpa ilmu? Pastilah ia akan tersesat dan bahkan menyesatkan







 

Wednesday, December 18, 2013

Priper




 “Kalau saya sih lebih prepare nganu dibanding nganu”. Entah apa yang ada di benak orang yang mengucap kalimat tersebut. Pernyataan tersebut terlontar di salah satu televisi swasta ketika menayangkan opini masyarakat mengenai calon presiden dan legislatif yang akan dipilih pada pemilu 2014. Niat hati ingin menginggris ria malah jadi ngawur. Kalau dirunut kepada niat si penutur sebenarnya dia ingin mengucapkan “saya lebih cenderung kepada nganu dibanding anu”, namun karena kelakuan sok nyinyir jadinya diucapkan saya lebih prepare yang diucapkan “priper”; yang seharusnya prefer. Prepare bermakna persiapan, sedangkan prefer bermakna cenderung. Masa iya si penutur lebih siap nganu dibanding anu, padahal dia ditanya soal pemilu ingin memilih capres mana dari partai mana dengan alasan apa. Jelas terlihat di masyarakat sendiri penggunaan bahasa Indonesia kini sudah benar-benar disumpahi sumpah pemuda alias tidak jelas juntrungannya. Padahal semestinya di jaman yang semakin canggih ini orang semakin mudah mengakses ilmu pengetahuan termasuk wawasan akan kebangsaan sendiri. Sungguh memalukan, apa sulitnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan indah ketimbang sok nginggris tak karu-karuan, yang malah jadinya memperlihatkan kedunguan berbahasa di layar kaca. Miris.

Tuesday, December 17, 2013

Peter Agung (Peter Alekseyevich Romanov) (1672-1725)



Masa Kecil Peter Agung

Peter Agung adalah anak ke-14 dari Aleksei Mikhailovich. Dia juga merupakan cucu dari Tsar Mikhail Romanov yang dipilih jadi Tsar pada tahun 1613.  Lahir di Moskow pada tanggal 30 Mei 1672 dari perkawinan keduanya dengan Natalya Kirilovna Naryshkina yang berdarah Tartar sehingga Peter banyak mewarisi gen keturunan dari ibunya. Ketika itu Tsar telah berusia 42 tahun dan telah mempunyai 2 anak laki-laki serta 6 anak perempuan dari pernikahannya yang pertama. Anak yang pertama mengalami kesehatan yang buruk Aleksei Mikhailovich menikah dengan Natalya Kirilovna Naryshkina yang kala itu masih berusia muda pasca kematian istri pertamanya yang bernama Maria Miloslavkaya. Peter diklaim jadi tsar pada usia 10 tahun serta ibunya menjadi regent tepatnya pada tahun 1682 oleh kaum Boyar Duma dan ia memimpin Rusia bersama saudaranya Ivan V di bawah kekuasaan saudara tirinya Sofia.

Kehidupan serta Westernisasi Peter Agung

Pada tahun 1682 terjadi pemberintakan Streltsy yang mengakibatkan banyak dari kawan Peter Agung yang terbunuh. Pemberontakan Streltsy berlangsung pada bulan April-Mei 1682 yang dipimpin oleh saudara tiri Peter Agung yaitu Sofia Alekseyevna, hingga pemberontakan tersebut berhasil dipadamkannya setelah kembalinya ia dari Eropa untuk belajar ilmu perkapalan. Beberapa orang yag dieksekusi sebagian kecil dieksekusi langsung melalui tangan Peter Agung.

.

Pada tahun 1689, Sofia diturunkan karena kemunduran pemerintahan. Ditambah lagi pada tahun 1696 Tsar Ivan V meninggal sehingga Peter Agung adalah pengganti yang kuat untuk memimpin pemerintahan Rusia pada saat itu. Peter melakukan reformasi besar-besaran di segala bidang dan membuka wajah Rusia kepada Eropa. Ia merekrut insinyur-insinyur, ahli perkapalan, arsitek, serta pengrajin terbaik Eropa untuk datang ke Rusia. Sebanyak ratusan orang Rusia dikirimnya ke Eropa untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam bidang seni serta teknik perkapalan.

Peter Agung menikah  dengan Eudoxia Lopukhina pada tahun 1689. Darinya Peter memeroleh tiga orang anak, namun hanya satu yakni Tsaritsa Alekseyevich yang selamat pada masa kecilnya. Pernikahannya tersebut diwarnai ketidakberesan sehingga setelah 10 tahun Peter akhirnya menceraikan istrinya yang kemudian menjadi biarawati yang memang tidak diperbolehkan untuk menikah. Peter juga sempat menikah secara rahasia dengan wanita bernama Martha Skavronskaya yang mengganti namanya menjadi Katarina pada tahun 1707.

Salah satu misi Peter Agung adalah menguasai akses dan perdagangan Laut Baltik. Pada tahun 1700 ia memulai Perang Utara dengan musuh terbesar Rusia saat itu yakni Swedia, yang mana berlangsung hingga 21 tahun. Pada saat perang berlangsung kota St.Petersburg ditemukan tepatnya pada tahun 1703 di delta Sungai Neva. Akhirnya Rusia menang dalam Perang Utara dan menguasai Laut Baltik serta mendapatkan akses menuju Eropa dan kota St.Petersburg menjadi kota pelabuhan penting. St.Petersburg berarti kota Peter, yang dalam hal ini Peter terpengaruh oleh bahasa Jerman dengan mencantumkan kata Burg di belakang namanya sendiri.

Pada tahun 1712 Peter Agung memindahkan ibukota Rusia yang semula berada di Moskow ke kota St.Petersburg dan melanjutkan perhatiannya kepada pembangunan “surga Eropa” baginya. Hal ini dimaksudkan agar Rusia dapat leluasa mengadakan akses dengan Eropa serta dunia karena letak St.Petersburg lebih lekat ke Eropa  dibandingkan dengan Moskow yang berada jauh di pedalaman Rusia. Alasan lain adalah agar Rusia lebih mudah mengalahkan Swedia dalam Perang Utara karena ketika itu Swedia di bawah pemerintahan Charles II merupakan ancaman terbesar Eropa pada saat itu. Ketika Perang Utara berakhir pada tahun 1721, Rusia mendeklarasikan diri sebagai kemaharajaan dan Peter Agung mengklaim dirinya sendiri sebagai emperor yang pertama. Oleh karena itu Peter melakukan reformasi besar-besaran terutama di bidang politik dan ekonomi. Ia kembali menyusun pemerintahan senat sebagai institusi pemerintahan tertinggi dan 10 menteri yang disebut kolegii. Peter memperkenalkan pajak baru kepada semua orang terkecuali kepada clergy yang menambah devisa negara cukup signifikan. Hingga akhirnya ia pula yang menjadi inspirasi bagi terbentuknya Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia pada tahun 1725 beberapa selang waktu setelah kematiannya. “Tsar pembaharu” adalah julukan baginya karena relah mengubah tatanan pemerintahan Rusia yang konservatif ke arah yang lebih maju dengan membuka diri kepada Eropa serta memperbaharui angkatan bersenjata Rusia dan angkatan laut Rusia disamping ia sendiri adalah seorang pencoba di dalam bidang kelautan tersebut. Ia juga mereformasi penampilan rakyatnya hingga melakukan pemotongan jenggot secara paksa dan mengganti pakaian yang selama ini dipakai oleh rakyat Rusia., serta mereformasi huruf alfabet Rusia menjadi lebih sederhana. Ia juga mengganti penanggalan kalender Julian yang selama ini dipakai. 

Kepribadian Peter Agung menimbulkan banyak pertanyaan selama hampir tiga abad. Dia merupakan laki-laki yang besar dan kuat dengan tinggi 204 cm. Ia tumbuh sebagai seorang laki-laki raksasa. Kedua tangan dan kakinya dapat dibilang kecil, namun kedua bahunya sangat proporsional dengan tinggi badannya, namun kepalanya juga tidak besar untuk tubuhnya.. Ia merupakan ahli di bidang angkatan bersenjata dan angkatan laut. Ia juga ahli di bidang teknik perkapalan karena ia pernah belajar di Eropa tepatnya di Zaandam dan di Amsterdam bersama mayor Nicholas Witsen  mengenai teknik pembuatan kapal dengan menyamar sebgai rakyat jelata. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi pembicaraan dimana seorang tsar penguasa yang besar rela menyamar menjadi seorang rakyat jelata demi meraih ilmu tentang bagaimana membangun armada laut serta kapal yang kuat. Di Inggris ia menjumpai Raja William II, mengunjungi kota Greenwich, Oxford dan menyaksikan Fleet Review, Royal Navy di Deptford. Ia juga mengunjungi kota Leipzig, Dresden dan Wina, bertemu August Perkasa dan Leopold I, Penguasa Roma Suci. Ia tidak sempat ke Venezia karena keburu ada pemberontakan Streltsy sehinga ia harus kembali secepatnya ke Rusia dari Inggris untuk memadamkan sekitar 1200 orang yang dieksekusi melalui tangannya sendiri beberapa diantaranya. Hingga akhirnya saudara tirinya Sofia menjadi biarawati layaknya istrinya.

Akhir Hidup Peter Agung

Pada tahun 1723 Peter Agung mengalami penurunan kesehatan terutama penyakit di sekitar daerah urine yang dialaminya. Pada musim panas tahun 1724 tim dokter Peter Agung melakukan operasi pada bagian urine tersebut. Peter terus menerus berada di atas tempat tidurnya bahkan hingga musim gugur. Pada awal Januari 1725 Peter terserang penyakit uremia. Peter Agung wafat pada 28 Januari 1725 ketika ia berusia 52 tahun 7 bulan. Banyak reaksi rakyat yang terjadi ketika kematiannya.


Sumber Rujukan :

Fahrurodji,A. Rusia Baru Menuju Demokrasi, Penerbit: Obor. Jakarta: 2004
Massie, Robert K. Peter The Great: His Life
Vernadsky, George. A History of Russia