Saturday, March 19, 2022

Sekardus Indomie dan Kekuatan Doa

oleh John Koplo




Suatu hari saya pernah berkhayal ingin punya Indomie satu kardus.

Sudah sejak lama impian ini saya ciptakan di alam bawah sadar saya. Jawaban yang muncul dari orang sekitar saya selalu sama. Ngaco.

Saya selalu optimis pada doa yang positif. Apa salahnya juga Indomie satu kardus. Ya kalau menurut medis, makan sesuatu yang mengandung monosodium glutamat alias mecin itu konon bisa menimbulkan efek negatif hingga muncul istilah generasi mecin. Entahlah.

Kalau saya menanggapinya dengan netral saja. Segala sesuatu kalau berlebihan pasti tidak baik. Artinya kalau makan Indomie satu kardus dalam satu waktu satu perut, itu yang bikin berbahaya. Berbahaya bagi tubuh sekaligus zalim terhadap hak orang lain yang mestinya ikut makan bersama.

Ngomong-ngomong soal Indomie, saya mau bertema kasih terlebih dahulu kepada peracik resep bumbu Indomie yang legendaris itu yang tahun lalu meninggal dunia, yaitu Ibu Nunuk Nuraini. Saya haturkan terima kasih seluas-luasnya kepada beliau semoga Allah jadikan amal baiknya sebagai kebaikan yang selalu mengalir sebagai lading pahala. Saya dan seluruh penduduk bumi berutang rasa pada beliau. Saya jadi ingat perkataan Chef Agus Jamhari soal resep rahasia yang teruji itu mahal harganya karena di balik itu semua ada pengalaman, konsistensi, uji coba, kegagalan, dan sederet kisah yang tidak semua orang tahu. Oleh karena itu saya paham resep Indomie buatan Ibu Nunuk Nuraini semoga Allah merahmati beliau, adalah yang terbaik sebagai warisan kuliner nusantara terbaik.

Alih-alih.

Tak ada yang mustahil di kolong langit. Tak ada doa yang tidak didengar dan dijawab, asal yakin bahwa Allah punya nama Ar Razzaq Al Wahhab, Maha Pemberi tak harap kembali. Isi doa saya itu receh, minta sekardus Indomie enteh bagaimana caranya. Ternyata Allah jawab doa saya dengan indah. Allah takdirkan saya kena musibah covid-19 omicron. Setelah proses isolasi mandiri yang melelahkan, ternyata saya dapat bantuan sosial dari pemerintah yang diwakili oleh pihak kelurahan yang isinya salah satunya adalah satu kardus Indomie rasa kaldu ayam. Saya kaget sekaligus bahagia. Alhamdulillah Allah jawab doa saya.

 Maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?

 


Friday, March 18, 2022

Apa Sih Sulitnya dan Sampai Kapan: Sebuah Catatan Refleksi Diri sebagai Seorang Manusia

 oleh RMK

Manusia adalah makhluk yang selalu ingin segala sesuatunya enak, lancar, mulus, indah, dan segala macam rupa yang menunjukkan sesuatu yang baik dan positif tanpa banyak rintangan, gangguan, hambatan, dan semisalnya. Begitulah sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Sekaligus manusia digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan bodoh, selalu cari celah dari sebuah larangan. Sudah dilarang tidak boleh memakan satu pohon di surga eh malah ngeyel. Padahal cuma itu saja pohon yang dilarang, selebihnya manusia bebas makan, minum, dan lain sebagainya di surga. Akibat itulah manusia turun ke bumi, yang takdirnya telah ditulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan semesta.

Lantas setelah manusia turun ke bumi mesti apa? Ternyata jawabannya sederhana. Ibadah. Bukan sampai di situ saja, Allah teruskan ayat setelahnya bahwa dengan tegas bahwa Allah tidak butuh diberi rejeki, justru Allah, zat Maha Pemberi Rejeki dan Maha Kuat. yang beri manusia rejeki segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk hidup di bumi sampai mati. Tujuan penciptaan jin dan manusia di muka bumi hanyalah ibadah, menyembah Allah saja tanpa sekutu, tanpa tandingan.

Allah telah wajibkan rukun agama Islam atas lima pilar yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Artinya kalau memang kita tidak mampu ya rukun Islam itu dilakukan semampu kita sebagai seorang hamba.

Dari kelima rukun Islam itu, ada yang menarik buat saya yaitu salat. Ibadah yang satu ini sungguh spesial di agama Islam. Karena ibadah ini sebagai simbol tegaknya agama dan sebagai ibadah yang pertama kali nantinya akan dihisab di hari kiamat. Artinya jika ibadah ini baik, maka ibadah yang lain akan ikut baik.

Bicara soal salat, maka tak lepas dari peristiwa Isra Miraj. Sebuah peristiwa agung yang menunjukkan kebesaran Allah yang kuasa menjalankan hamba-Nya dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsha di Baitul Maqdis. Peristiwa itu terjadi dalam satu malam, ketika itu Nabi Muhammad ﷺ sebelum berangkat terlebih dahulu menjalani operasi bedah jantung tanpa anaestesi oleh Malaikat Jibril dan Mikail, kemudian dibuang bagian yang kotor tempat bersarang dosa dan penyakit, kemudian diisi oleh hikmah karena sebagai persiapan menerima ibadah yang paling mulia dari seluruh ibadah dalam syariat Islam yaitu salat. Hal yang menarik dari ibadah salat yaitu jika ibadah-ibadah lainnya diperintahkan melalui Malaikat Jibril yang turun ke bumi, terkhusus salat maka Nabi Muhammad ﷺ dipanggil ke tempat tertinggi untuk bertemu Allah menerima perintah salat, oleh karena itu hal demikian menunjukkan agungnya kedudukan salat dibandingkan dengan ibadah lainnya.  

Isra Miraj mengandung dua kata yaitu Isra yang bermakna perjalanan malam dan Miraj yang bermakna naik ke langit. Kedua peristiwa tersebut terjadi hanya dalam satu malam saja dari tengah malam hingga menjelang subuh. Hal inilah yang didustakan oleh kafir Quraish pada waktu itu, dan diriwayatkan bahwa hampir seluruh sahabat Nabi Muhammad tidak percaya dan nyaris kafir akibat peristiwa yang menggoncangkan iman ini kecuali Abu Bakr, oleh karena itu beliau digelari As Siddiq yang bermakna membenarkan peristiwa Isra Miraj.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad sebelum naik ke langit, sempat menjadi imam salat bagi seluruh nabi dan rasul yang diutus untuk menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama terakhir dan rahmat bagi semesta. Ketika beliau naik ke langit pertama, berjumpa dengan Nabi Adam, bapak manusia. Di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam bertemu Nabi Musa. Di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.

Menurut Google Maps, jarak Kabah di Makkah ke Masjid Al Aqsha Baitul Maqdis yaitu 1789km melalui rute jalan darat yang mampu dilalui manusia via Kota Madinah. Dalam perjalanan itu Nabi Muhammad menaiki tunggangan bernama Buraq, hewan yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai yang mampu terbang memiliki kecepatan cahaya, beliau  sempat singgah di Madinah, kemudian singgah di Bukit Sinai, dan kemudian sampai di Masjid Al Aqsha.

Dari seluruh cerita di atas, saya mengambil hikmah besar tentang ibadah salat. Pertanyaan besar dan selalu saya ulang untuk diri saya sendiri. Apa sih sulitnya salat di zaman modern ini? Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba untuk salat? Sulitkah menemukan air di Indonesia ini?

Saya menemukan jawaban sendiri mengenai perihal salat. Bayangkan saja, dari seluruh syariat yang ada dalam Islam, hanya salat yang perintahnya langsung di langit tanpa perantara. Tempatnya di Sidratul Muntaha, ujung pohon bidara yang luasnya seluas langit dan bumi. Tempat dimana Malaikat Jibril sekalipun tidak mampu memasukinya, kecuali bagi yang dikehendaki Allah. Artinya hanya Nabi Muhammad manusia pilihan terbaik semesta yang Allah pilih dengan jasad dan ruh untuk menerima perintah yang paling mulia.

Kemudian muncul pelbagai referensi mengenai hidup di dunia. Allah telah sampaikan mengenai contoh terbaik manusia yang pernah hidup di bumi. Lantas mengapa saya sebagai hamba Allah dan pengikut Muhammad tidak mengambil suri teladan tersebut? Sungguh sebuah kerugian besar, mengingat Allah menggunakan huruf sumpah dalam Alquran dengan pengulangan.energi.

Manusia tidak mungkin menjangkau kemuliaan Allah, segala apapun yang mencakup zat, ilmu, dan kekuasaan-Nya. Apa ada manusia yang sangup mengukur luas semesta ini? Semesta yang lengkap dengan konstelasi keruwetan dan kerumitan yang tanpa batas. Perkara-perkara gaib teramat banyak yang pastinya tidak mampu dijangkau akal manusia yang cetek.

Dengan demikian tidak mungkin manusia mampu melihat Allah di dunia. Jelas hal ini dapat dimaknai dengan akal sehat. Bahwasanya energi Allah maha dahsyat dengan segala kemuliaan-Nya dan kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi beserta jagad raya semesta ini. Jika surga digambarkan oleh Allah dengan redaksi kalimat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbersit dalam hati seorang hamba. Maka pertanyaan berikutnya bagaimana wajah Allah sebagai pencipta itu semua? Sebuah kenikmatan yang digambarkan merupakan puncak kenikmatan di surga yaitu melihat wajah-Nya yang mulia. Maha Suci Allah dengan segala sifat asmaul husna yang dimiliki-Nya.

Segala macam ilmu pengetahuan manusia sejatinya hanya setitik ilmu yang Allah berikan bagi hamba-Nya, maka di luar itu adalah kebodohan dan kegelapan. Dialah Allah, An-Nur, Maha Cahaya yang menerangi kegelapan dengan rahmat-Nya yang luar biasa besar bagi hamba-Nya.

Kemudian saya ingin pertanyakan dua pertanyaan yang sederhana namun punya makna besar yaitu apa sulitnya bagi seorang hamba untuk beribadah?, kemudian sampai kapan mau tidak beribadah?

Telah dijelaskan sebelumnya perkara salat adalah ibadah paling mulia dari seluruh ibadah yang ada di semesta ini. Lantas ada syariat bernama azan yang berfungsi panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk menghadap kepada-Nya. Allah tidak butuh ibadah manusia sedikitpun. Walaupun manusia kufur seluruhnya atau sebaliknya beriman seluruhnya, maka sama sekali tidak berpengaruh kepada kerajaan dan kemuliaan Allah.

Logikanya, tidak mungkin bagi Allah untuk menyeru manusia dengan seruan sesuai dengan kemuliaan zat-Nya. Level frekuensi manusia tidak sanggup atau katakanlah tidak akan selevel dengan Allah. Maka dari itu sebagai bentuk rahmat Allah yang luar biasa besar, ada syariat azan. Namun banyak sekali saya temukan di sekitar saya, manusia yang lalai dari panggilan Allah.

Saya tidak menemukan adanya kesulitan atau halangan bagi manusia terutama yang hidup di Indonesia untuk menemukan air sebagai syarat sah wudhu yang menjadi kunci syarat sah salat. Air di negara ini berlimpah ruah seakan tidak ada habisnya, yang merupakan nikmat Allah bagi bangsa ini. Artinya kalau seribu empat ratus tahun lalu Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang mulia kesulitan menemukan air untuk bersuci dan hajat hidup lainnya, maka bangsa ini Allah berikan nikmat yang luar biasa dahsyatnya dengan kemudahan air. Oleh karena itu tidak ada uzur, kecuali bagi yang sakit atau musafir, bagi hamba Allah untuk tidak menemukan air sebagai syarat berwudhu untuk menunaikan salat. Justru kebalikannya, banyak manusia yang boros dalam menggunakan air wudhu, padahal yang demikian dilarang oleh Nabi Muhammad dan perkara wudhu sudah dicontohkan dengan jelas.

Allah Akbar. Allah Maha Besar.

Artinya yang kecil dan receh pastilah bukan Allah, melainkan makhluk khususnya yang bernama dunia yang teramat hina dan kecil.

Hal yang saya maknai dari azan yaitu Allah mengajak hamba-Nya untuk komunikasi. Bermunajat. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya pun mencoba untuk bertanya lebih dalam, apa ruginya seorang hamba yang taat kepada Allah? Ingatlah Allah adalah zat yang tak pernah ingkar janji. Surga adalah jaminan terbesar Allah yang disiapkan bagi hamba-Nya yang taat. Pun sebaliknya neraka adalah jaminan Allah bagi hamba-Nya yang maksiat.

Pertanyaan berikutnya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba dalam sehari semalam untuk menunaikan salat wajib? Anggaplah sepuluh menit, dengan rincian salat dan zikir. Semua dikalikan lima. Totalnya hanya lima puluh menit alias satu jam kurang. Hanya itu yang Allah minta agar hamba mengingat-Nya dalam sehari semalam. Namun kenyataannya masih banyak langkah-langkah berat untuk menuju masjid bagi kaum lelaki. Sampai ada satir berbunyi, gunung tinggi ku daki, lautan ku seberangi, masjid ku lewati.

Pertanyaan kedua yaitu sampai kapan manusia mau hidup begitu begitu saja tanpa ada perubahan berarti dalam hidupnya? Saya ingat khutbah seorang khatib yang berkata bahwa jangan sampai manusia masuk mesjid karena terpaksa. Maksudnya terpaksa karena kematian alias disalatkan di mesjid. Mestinya malu, semasa hidup tak pernah ke mesjid namun ketika wafat malah masuk mesjid namun beda cerita dan keadaan.

Hidup di bumi itu singkat. Kalau menggunakan perhitungan matematika langit, Allah berfiman bahwa satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di muka bumi. Kalau dihitung usia umat akhir zaman kira-kira hanya satu setengah jam saja kita hidup menggunakan perhitungan waktu akhirat. Lantas untuk apa manusia menghabiskan waktu yang hanya satu setengah jam akhirat kalau hanya dipakai maksiat kepada Allah. Sungguh kerugian besar.

Sementara perjalanan menuju surga itu teramat panjang dan misterius. Kalau manusia di bumi sering melakukan ritual mudik pulang kampung untuk bertemu sanak famili handai taulan biasanya menyiapkan bekal serta navigasi untuk di jalan dan dibagikan di kampung halaman tercinta. Maka bagaimana dengan mudik ke surga tempat asal muasal manusia anak cucu Nabi Adam. Pastilah manusia lebih siap untuk perjalanan teramat jauh yang butuh bekal dan navigasi yang mumpuni bernama ketaqwaan atas dasar ilmu dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan dalam Surah Al Fatihah. Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat surga dari para nabi, para shidiq, para syuhada, dan orang salih. Dan bukan jalan orang yang dimurkai karena berilmu tanpa beramal dan jalan orang sesat yang beramal tanpa berilmu. Amin.

Apa sih sulitnya ibadah? Sampai kapan hidup begini saja dan tidak mau ibadah?

 

Saturday, February 26, 2022

Lima Menit Sebelum Azan Maghrib

RM Kencrot

Lima menit sebelum azan maghrib saya menyiapkan makanan berbuka puasa, tiba-tiba perut saya mules. Kontan saya langsung menuju ke toilet menuntaskan hajat buang air besar alias berak. Sambil berak saya merenung. Isi renungannya tentang kenikmatan yang Allah tuliskan di Alquran, bahwa manusia tidak mungkin untuk menghitung nikmat yang banyak ini saking banyaknya. Ada hal menarik yaitu Allah menggunakan pilihan kata “manusia tidak akan sanggup merincinya”, artinya bukan hanya menghitung namun sekaligus menjabarkan satu per satu bentuk nikmat itu dan berikut konsekuensinya yang terangkum dalam oposisi biner jika X maka Y, begitupun sebaliknya.

Lantas muncul pertanyaan di benak saya: bagaimana jika nikmat itu dicabut?

Jika manusia tidak berak, maka berapa besar kerugian yang harus diganti dari perihal berak tersebut. Padahal berak itu sepele namun itulah cara Allah menunjukkan kuasa-Nya. Bayangkan kalau manusia sulit berak, atau minimal sulit kentut. Dapat dipastikan penyakit menghinggapi, entah apa namanya. Lengkap dengan rentetan biaya yang mesti dikeluarkan, yang pastinya menjadikan sesuatu yang tidak enak bagi manusia.

Selesai berak, saya lanjut buka puasa. Di situ saya merenung lagi soal kenikmatan yang Allah tantang manusia akan perihal tersebut. Perkara minum saja, manusia makhluk yang lemah sangat membutuhkan air. Bayangkan kalau manusia hidup tanpa air, akibatnya akan menjadi lemah kemudian mati. Begitulah cara Allah mengajak manusia untuk berkomunikasi lewat akal yang sehat dan pemahaman agama yang lurus. Banyak ayat di Alquran yang berisikan selalu Allah menyandingkan kisah-kisah orang terdahulu dan akal, agar dijadikan sebagai pelajaran sehingga tidak terulang di masa depan.

Hal yang saya pahami bahwa tidak mungkin ilmu Allah yang amat luas dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Tidak mungkin pula Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya kecuali dengan apa yang Dia kehendaki. Kenapa? Karena zat Allah yang memiliki energi maha dahsyat meliputi semesta jagad raya ini tidak mungkin bisa ditandingi oleh makhluk manapun, apalagi manusia.  Imaji yang diilustrasikan Allah di dalam Alquran itu sesungguhnya hanya konsep bahasa yang mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas. Ilustrasi perkara-perkara gaib dari mulai perihal kejadian sebelum manusia lahir sampai surga dan neraka sesungguhnya tidak mampu dijangkau akal manusia seutuhnya. Contoh saja, bagaimana mungkin manusia mendeskripsikan seperti apa itu surga, yang sifatnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Sungguh amat kufurnya kalau manusia menentang Allah.

Oleh karena itu Allah utus sang pembawa pesan dari langit ke bumi melalui malaikat Jibril, sang malaikat pilihan, malaikat terkuat dan terpercaya. Pesan bernama wahyu itu turun kepada manusia pilihan yang pernah hidup di bumi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ, nabi terakhir, manusia pilihan yang terpercaya. Jelas sekali hal ini agar manusia bisa mengambil contoh teladan langsung dari manusia yang hidup berdampingan di muka bumi. Profil manusia terlengkap ada di beliau ﷺ, sosok pemimpin, ayah, anak, guru, dan segala hal kebaikan terkumpul dalam diri beliau ﷺ. Artinya kalau seorang mengaku cinta Allah, maka ikutilah segala sesuatunya dari A sampai Z soal Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau sebaik-baik contoh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini.

 

Ya Allah ampuni hamba-Mu yang zalim ini, yang tidak tahu caranya bersyukur kepada-Mu. Jadikan hamba sebagai hamba-Mu yang bersyukur dan selalu bersyukur.

Tuesday, January 11, 2022

Politik Citra, Politik 2.0

 oleh John KW

Masih terngiang di kepala saya waktu ada pemimpin, atau sebutlah mantan pemimpin ibukota yang dulu hobinya blusukan. Bayangkan, ada orang penting yang memiliki jabatan di ibukota negara rela bolak balik keluar masuk gorong-gorong tempat saluran air yang kumuh dengan masih menggunakan pakaian rapi protokoler dengan minimal pakai batik dan celana panjang hitam berikut sepatu pantofel dengan rambut sedikit klimis menggunakan minyak rambut. Sebuah pemandangan unik yang epik dan tidak lazim dari seorang pemimpin suatu kaum yang terdiri dari etnis majemuk.

Pertanyaan demi pertanyaan melintas di kepala saya. Apa kepentingannya masuk gorong-gorong? Saya coba menjawab sendiri pertanyaan tersebut. Mungkin beliau mau mengecek saluran air guna memastikan tidak ada hambatan yang mengganggu demi hajat hidup orang banyak.  Atau alternatif jawaban lainnya, mungkin beliau ingin menyapa tikus-tikus atau penghuni gorong-gorong dari kalangan hewan dan tumbuhan, sekalian menyapa mahkluk tak kasat mata yang menghuni gorong-gorong. Mungkin.

Ada pula pemimpin daerah yang kerap marah-marah kepada rakyat yang dipimpinnya. Permasalahan sepele dan receh yang mestinya dapat diselesaikan dengan cara baik dan tidak mesti melibatkan beliau sebagai tampuk pimpinan, alias anak buah beliau juga mampu menyelesaikan tugas tersebut. Anehnya pola-pola semacam ini berulang.

Jawaban demi jawaban saya coba pikirkan.

Alih-alih.

Ada seorang calon legislatif miskin mencoba peruntungannya menjadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah. Miskin yang kata halusnya itu kurang mampu memiliki arti miskin dari segi financial dan miskin dari segi gagasan dan pemikiran. Lagi-lagi, isu janji politik palsu dan semu dijual yaitu dengan janji menurunkan harga bahan pokok yang sejatinya jika ditilik dan dipikir dengan hati jernih merupakan sebuah kemustahilan yang berujung pada kebohongan belaka. Janji politik menurunkan harga bahan pokok di negara berkembang merupakan isu klasik namun laris manis memikat hati masyarakat kelas bawah yang jauh dari informasi dan pengetahuan dasar mengenai hukum ekonomi sebab-akibat terkait dengan kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Padahal seharusnya yang dilakukan adalah bagaimana suatu daerah menaikkan produksi dan menurunkan konsumsi agar harga stabil

Politik Indonesia dipenuhi oleh orang-orang dengan ambisi tinggi namun tanpa dibekali amunisi pengetahuan dan kekayaan intelektual serta finansial. Sungguh naïf sekali orang-orang semacam itu dipilih melalui mekanisme partai yang konon mewakili aspirasi rakyat. Entah rakyat yang sebelah mana. Padahal jika melek mata dengan jelas gamblang bahwa ada peraturan tak tertulis mengenai ongkos politik Indonesia adalah mahal, bahkan sangat mahal. Logistik politik merupakan sesuatu yang aneh bin ajaib di negara ini, dimana orang bisa menghabiskan uang dengan mudahnya tanpa adanya jaminan uang kembali karena menang atau kalah ibarat pepatah klasik orang berkelahi, menang jadi arang kalah jadi abu.

Pada akhirnya slogan seperti wakil rakyat, berjuang untuk rakyat, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan segala macam yang mengatasnamakan rakyat hanyalah semu isapan jempol belaka dari negeri utopia bernama Indonesia. Entah sampai kapan segala sesuatu yang ada embel-embel rakyat bakalan stop digunakan oleh segelintir orang rakus dan haus kekuasaan. Kasihan rakyat.

Tuesday, November 30, 2021

Bu Sari Endahwarni

by RM Kencrotnikmatjiwa

Ada banyak dosen yang mengajar saya. Hanya beberapa yang buat saya berkesan, salah satunya adalah Ibu Sari Endahwarni (SEW) atau akrab disapa Bu Sari. Cara beliau mengajar memang sederhana, tidak muluk-muluk bahkan cenderung santai tidak menggebu-gebu atau meledak-ledak ekspresif. Malahan banyak yang bilang kalau beliau lebih mirip guru taman kanak-kanak ketimbang dosen. Menurut saya itu adalah pujian apik dari mahasiswa bagi Bu Sari.

Beberapa kenangan tentang beliau ada yang saya ingat. Di antaranya waktu kuliah selepas jam makan siang kalau beliau yang mengampu pasti dijamin ngantuk. Ya itu tadi sebabnya, cara mengajar beliau yang santai seperti mengajar anak taman bermain. Pun beliau sendiri pernah bilang di kelas, kalau kuliah dengan beliau di jam lepas makan siang pasti dijamin mengantuk dan menjadi obat tidur yang ampuh.

Pernah suatu hari waktu skripsi saya dibimbing oleh beliau ada kejadian yang tidak enak, sebutlah musibah. Siang itu saya ada jadwal pertemuan bimbingan skripsi dengan beliau, namun takdir berkata bahwa ban motor saya mesti bocor di tengah jalan. Saya langsung kontak beliau dan respon beliau sungguh cepat. Beliau malah menunggu saya sampai sore di kampus. Sungguh sebuah pengabdian dan tanggungjawab yang luar biasa dari beliau.

Masih teringat memori waktu sidang yudisium skripsi bersama beliau waktu itu jam delapan pagi saya sudah di kampus, setelah semalaman saya gusar gundah gulana. Saya ingat pernah kirim pesan singkat ke beliau dan dibalas dengan epik. Beliau bilang: kamu makan yang cukup, istirahat tidur, besok bangun salat subuh, sarapan, berdoa, dan berangkat. Dalam sidang skripsi yang alot itu saya diuji oleh ketua sidang Ibu Prof Dr. Njaju Jenny Malik dan Ibu Nia Kurnia Sofiah M.App, Ling. Sempat beberapa kali Bu Sari bermain mata dengan saya seolah memberikan kode sekaligus semangat untuk tenang dan rileks dalam berargumentasi.   

Bagi saya, Bu Sari merupakan tipikal dosen yang strukturalis. Beliau sangat tertib dalam pelbagai hal. Satu hal yang merupakan pesan beliau yang pernah ditulis di sampul buku catatan saya berbunyi: “BELAJAR TIDAK MENGENAL WAKTU, CAPAILAH CITA-CITA SETINGGI MUNGKIN. Sekaligus beliau membubuhkan tanda tangan di tulisan itu.

Setelah lulus saya lama tidak bertemu beliau hingga pada suatu hari di pagi hari saya nekat ke kampus. Semesta berkehendak. Bu Sari terlihat di depan pintu perpustakaan kampus. Saya langsung teriak dari jauh panggil nama beliau dan langsung berlari menghampiri. Beliau pun sempat heran. Saya maklum beliau heran karena waktu kuliah dulu rambut saya gondrong sampai menyentuh pinggang. Kemudian saya kenalkan diri saya dan beliau pun langsung mengingatnya. Sebuah momen pertemuan berharga bagi saya, bertemu dosen idola sepanjang masa.

Tampak air muka bahagia dari wajah beliau waktu saya bilang kalau saya ikut jejak beliau menjadi pengajar. Sebuah pencapaian seorang dosen yang tidak bisa dibayar dengan materi ketika tahu anak muridnya ikut jejak gurunya. Tak lupa pada kesempatan itu saya sempatkan swafoto dengan beliau agar momen itu menjadi abadi.

Saya haturkan terima kasih setinggi-tingginya untuk Bu Sari. Terima kasih telah menjadi linimasa dalam hidup saya yang suka atau tidak suka telah mewarnai cara saya mengajar dan mendidik mahasiswa. Terima kasih telah menjadi pembimbing saya, walau singkat namun jadi legenda. Semoga doa-doa yang terbaik selalu untuk Bu Sari dimanapun dan kapanpun agar ilmu yang saya dapat ini menjadi berkah bagi semesta. Bu Sari, namamu abadi.



Thursday, November 11, 2021

Pak Haji Dudu dalam Kenangan

 oleh John Koplo

Pernahkah Anda merasakan jabatan tertinggi manusia dalam hidup? Atau minimal menyaksikan atau bertemu orang dengan jabatan tertinggi dalam hidup ini? Mungkin kisah ini jadi salah satunya.

[]

Pak Haji Dudu, begitu saya panggil beliau. Nama lengkap beliau Prof. Dr. Drs. H. Dudu Duswara, S.H., M.Hum. Sederet gelar disematkan kepada beliau. Sebut saja, beliau merupakan hakim agung, profesor, dosen, guru besar, hakim ad hoc pengadilan tindak pidana korupsi, anggota majelis wali amanat, dan entah gelar apa lagi yang saya ketahui soal beliau. Intinya beliau telah mencapai puncak tertinggi pencapaian dalam hidup manusia di muka bumi. Dan semesta memberikan takdirnya untuk saya bertemu beliau.

Suatu hari saya dihubungi teman saya seorang dosen perguruan tinggi swasta di Bandung, dia bercerita bahwa ada temannya dosen senior yang ingin melengkapi berkas persyaratan sebagai guru besar di kampusnya itu. Dia bilang nanti si dosen senior itu akan hubungi saya untuk minta bantuan. Ternyata tak butuh waktu lama, si dosen senior yang ternyata adalah Pak Haji Dudu menghubungi saya setelah zuhur. Beliau bercerita ingin minta bantuan saya melengkapi berkas tes bahasa Inggris (TOEFL) untuk kepentingan guru besar. Awalnya beliau menawarkan diri untuk bertemu saya, namun begitu saya tahu beliau bukan orang sembarangan, seharusnya sangat layak bagi saya yang sowan mendatangi beliau, mengingat beliau sudah senior alias orang tua.

Cerita bersambung, beliau minta saya datang ke kantornya di Jl. Medan Merdeka Utara no.9 Jakarta yang ternyata adalah Kantor Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Akhirnya saya mengajak istri saya ke sana. Setelah kami sampai di gerbang kantor saya langsung bertemu sekuriti dan tanpa basa-basi saya bilang ingin bertemu Pak Haji Dudu, sontak saja si sekuriti itu seperti langsung antusias. Saya dan istri berpikir dalam hati, pastilah beliau ini bukan orang sembarangan. Belum sempat saya berpikir lama, saya langsung hubungi beliau memberi tahu bahwa saya sudah sampai kantor beliau dan beliau bilang nanti ada ajudannya yang jemput. Benar saja tak lama datang seorang dengan berpakaian rapi seperti paspampres menjemput saya. Perasaan saya waktu itu benar-benar campur aduk. Belum pernah saya merasakan pengalaman seperti ini.

Ketika saya dipersilakan masuk ruangan beliau, semakin saya paham bahwa orang yang saya temui ini merupakan orang besar, atau sebutlah pejabat tinggi negara. Ajudan alias anak buah beliau bukan hanya satu orang namun banyak. Terlihat bahwa ruangan beliau lebih mirip ruangan apartemen dengan segala perabotan mewah masa kini. Saya tidak perlu ceritakan detailnya, intinya seluruh kenikmatan di dunia ada di ruangan itu. Namun hal yang membuat saya takjub setelah bincang dengan beliau yakni tidak ada tampak sedikitpun kesombongan keluar dari mulut beliau, tutur kata yang sopan santun dan perilaku yang mulia beliau tunjukkan ke saya.

Sebelum saya pulang, tiba-tiba beliau memberikan saya secarik amplop bertuliskan nama beliau seraya beliau bilang kalau itu tidak boleh ditolak karena rezeki. Saya pun dikasih nasi kotak yang berisi makan siang beliau seraya beliau bilang bahwa saya mesti merasakan makan siang hakim agung, disambut gelak tawa beliau dan saya. Sebuah momen yang amat berkesan buat saya. Di akhir kalimat beliau bilang terima kasih untuk saya sudah jauh-jauh mau datang ke kantor beliau, sungguh akhlak mulia dari seorang hakim agung.

Di akhir hayatnya, sebelum beliau berpulang, sempat kirim pesan singkat ke saya. Isinya beliau berterima kasih ke saya dan beliau telah diangkat jadi guru besar dan minta didoakan agar amanah dalam jabatan tersebut. Sungguh sebuah penghargaan tinggi bagi saya dihubungi oleh beliau setelah sekian lama tak berjumpa.

Sampai detik ini saya tidak bisa memahami bagaimana cara semesta mempertemukan saya dengan Pak Haji Dudu. Beliau merepresentasikan seluruh puncak kenikmatan duniawi yang mungkin diraih oleh manusia, namun sedikitpun tidak membuat beliau sombong dan jumawa, malahan sebaliknya. Beliau adalah pribadi rendah hati yang berakhlak mulia. Tulisan ini saya dan istri saya persembahkan untuk beliau karena telah menolong saya mengatasi kesulitan dalam hidup. Semoga Allah balas jasa beliau, ampuni kesalahan beliau, dan jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga Firdaus dan kelak pertemukan saya dan istri saya kembali dengan beliau sang guru besar berhati besar.  

Wednesday, November 10, 2021

Pak Hasyim

 oleh John Koplo

 

Kalau Anda pernah salat di Masjid Al Iman Cipinang Elok pastilah kenal sosok ini, walau mungkin beliau tidak kenal Anda. Marilah saya ceritakan kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf untuk mengenal sosok orang tua yang luar biasa.

Pak Hasyim. Begitu beliau dikenal orang-orang. Perawakan beliau tinggi kurus dengan uban memenuhi rambut, biasanya beliau selalu mengenakan baju koko berwarna putih, songkok hitam ala Melayu, dan sarung bermotif gelap. Catatan saya tentang beliau ini sejak tahun 2003 semenjak saya tinggal di kawasan Cipinang Jakarta Timur. Bagi saya beliau menjadi inspirasi hidup sebagai manusia sederhana namun istiqomah menjalankan perintah agama. Bapak saya sering menyebut nama beliau, menurut keterangan bapak saya, Pak Hasyim kadang kala sering menjadi imam cadangan manakala imam rawatib berhalangan hadir. Sebagai ilustrasi, jarak antara rumah Pak Hasyim ke Masjid Al Iman Cipinang Elok kira-kira 50 meter dengan topografi sedikit menanjak dan menurun yang bagi sebagian orang yang sudah tua mungkin termasuk suatu masalah sendiri.

Namun itulah keunikan Pak Hasyim. Menurut catatan pribadi yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, beliau tidak pernah sekalipun meninggalkan salat berjamaah di masjid karena 30 menit sebelum salat berjamaah dimulai, beliau sudah beranjak dari rumah menuju masjid dan uniknya selalu berjalan kaki. Hal ini yang menjadikan beliau spesial untuk saya. Mungkin bagi sebagian orang ya biasa saja ada orang tua cukup sepuh berumur melakukan ritual semacam ini. Tetapi yang perlu jadi catatan yaitu kedisiplinan dan konsistensi menjalankan perintah agama.

Pernah suatu ketika saya memergoki beliau sedang ditawari untuk bonceng sepeda motor dari arah rumah beliau ke masjid, walhasil beliau menolaknya. Pun juga arah sebaliknya pada suatu hari juga lagi-lagi beliau tolak orang yang menawari beliau untuk berboncengan sepeda motor ke arah rumah beliau. Ini yang menjadi sebuah hal spesial bagi saya, sebuah komitmen pribadi untuk berjuang sendiri tanpa ingin diganggu oleh orang lain. Pertanyaan demi pertanyaan bersipongang dalam benak saya, mengapa orang setua itu yang rumahnya dilewati jalur angkot namun tidak pernah ingin menempuh jalan pintas ke masjid. Mungkin jawabannya adalah beliau menemukan kepuasan ritual dan spiritual ketika menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Bahwa jihad sesungguhnya menaklukan diri sendiri itu tercermin dari bagaimana cara kita mengalahkan ego yang kita miliki demi mencapai tujuan akhir yang bahagia.

Tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk beliau sekaligus saya selalu mendoakan agar beliau sehat wal afiat dan diberi keberkahan selalu, diampuni kesalahannya, dan dijadikan sebagai ahli surga atas apa yang telah beliau lakukan di dunia dan dengan keluasan rahmat Allah yang meliputi semesta. Semoga kelak saya bertemu Pak Hasyim yang sedang berjalan kaki di surga Firdaus. Amin.

                                                                                []