Oleh: RM Kencrot
Dosen:
Batas pengumpulan revisi sampai kapan?
Mahasiswa: Gatau
Dosen:
Kalau ditanya dosen lain jangan gunakan bahasa semacam ini. Serius.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya tidak pernah baper dengan namanya mahasiswa apalagi mahasiswi, cuma hal satu ini naga-naganya tidak layak
dilakukan oleh mahasiswa yang sebentar lagi akan jadi mantan mahasiswa alias
lulus alias silakan namakan sendiri. Menurut saya kegagalan dosen ataupun guru
dalam mengajar mendidik yang terbesar yaitu faktor kemapanan, banyak dari
pengajar yang terlalu merasa ingin lebih lantaran merasa banyak ini dan itu
dari muridnya seperti kantong ajaib Doraemon.
Mungkin
dalam benak serta akal pendek saya, beberapa mahasiswa menganggap bahwa saya
itu dosen yang jarang serius atau mungkin juga ini hanya kemungkinan yang saya
mungkin-mungkinkan saja agar paragraf ini jadi lebih mungkin panjang. Alih-alih
bagi saya sebenarnya tidak ada masalah kalau si mahasiswa x tersebut kirim
pesan dengan bahasa seenaknya atau anggaplah saya ini bukan dosen tapi temannya
atau Artificial Intelligence yang
biasa dia pakai. Namun rasanya kurang pas konteksnya mengingat si mahasiswa
belum sah secara de facto dan de jure menyandang gelar mahasiswa, masih ada
namanya revisi skripsi.
Kemapanan posisi sering kali membuat kita lupa bahwa ruang kelas bukan cuma soal transfer IPK atau tumpukan berkas revisi skripsi yang dicoret-coret tinta merah. Lebih dari itu, kelas adalah tempat peradaban kecil dirawat. Ketika kata "Gatau" meluncur mulus tanpa beban dari jari seorang calon sarjana—yang notabene setiap hari bergulat dengan mata kuliah komunikasi, etika profesional, dan retorika publik—di situlah kita patut mengheningkan cipta sejenak. Bukan untuk meratapi nilai si mahasiswa, tapi untuk melayat sopan santun yang perlahan mati di atas altar auto-reply gawai.
Barangkali, salah kita juga sebagai pengajar. Terlalu sibuk mengejar target output kurikulum, sibuk menghitung rasio bimbingan, hingga lupa mengajarkan bahwa sebelum ilmu diserap, adab harus diletakkan di tempat paling depan. Kita mendidik mereka tentang Personal Branding, Public Relations, dan teknik negosiasi tingkat tinggi, tapi lupa kalau dasar paling fundamental dari hubungan antarmanusia adalah: menghargai orang yang sedang memegang pulpen penentu kelulusan.
Atau mungkin, ini buah dari era digital yang menuntut segala hal berjalan instan. Huruf digepengkan, singkatan dihalalkan, hingga batas antara ruang santai warung kopi dan ruang sidang akademik lebur tanpa sisa. Gatau. Enam huruf yang merangkum betapa ringannya bobot tanggung jawab akademik hari ini. Seolah-olah hubungan dosen dan mahasiswa hanyalah transaksi di lapak online, di mana penjual dan pembeli tidak perlu saling menunduk hormat, asalkan barang sampai dan transaksi selesai.
Maka, mari kita doakan bersama. Semoga kelak di dunia kerja yang sesungguhnya—di mana bos galak tidak mempan disogok dengan sticker lucu atau alasan chat dibaca doang—mereka tidak kebingungan mencari tombol undo untuk hidup. Karena ijazah mungkin bisa dicetak dengan kertas tebal berlogo garuda di lapak-lapak gelap Pasar Pramuka Jakarta, tapi kewarasan sosial? Sayang sekali, itu tidak dijual di koperasi kampus.
Secara bahasa (etimologi), kata mahasiswa
terdiri dari dua morfem Sanskerta:
- Maha:
Besar, utama, tinggi.
- Siswa:
Pelajar atau murid.
Secara harfiah, ia berarti pelajar tingkat tinggi—bukan
lagi anak bawang yang butuh disuapi cara memegang pensil. Kemudian secara
istilah, mahasiswa bukan sekadar status administratif yang melekat karena
memegang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Mereka adalah kaum intelektual muda yang
berada di liminal space (zona transisi): setengah akademisi, setengah
calon profesional; setengah pemimpi, setengah pengkritik realitas. Di pundak
merekalah seharusnya melekat nalar kritis, bukan nalar auto-reply
"Gatau".
Adapun dalam lintasan sejarah umat manusia, mahasiswa
tidak pernah sekadar duduk manis mencatat sabda dosen di ruang kuliah. Mereka
adalah motor penggerak sejarah yang kerap mencabut status quo dari akarnya:
- Gerakan
1908 & 1928 (Budi Utomo & Sumpah Pemuda): Jauh
sebelum istilah gen-z atau influencer lahir, para
"mahasiswa" kedokteran STOVIA dan pemuda pergerakan-lah yang
merajut kesadaran nasional dari Sabang sampai Merauke. Mereka menggunakan
pena dan forum diskusi untuk meruntuhkan kolonialisme. Pendiri bangsa ini
beberapa dari mereka adalah mahasiswa.
- Tragedi
1966 & Reformasi 1998: Ketika rezim berkuasa mulai
buta dan tuli terhadap penderitaan rakyat, mahasiswa selalu menjadi garda
terdepan yang turun ke jalan—bukan demi tiket gratis, tapi karena ruang
dialog akademik di kelas sudah mati, digantikan oleh pembungkaman.
- Era
Digital (Sekarang): Hari ini, medan juang mereka bergeser dari jalan
raya ke ruang-ruang siber, riset data, hingga kampanye digital. Namun,
substansinya tetap sama: menjadi "hati nurani publik".
Koor penutup dibunyikan dengan nada minor, disusul denting sendok teh yang beradu dengan cangkir kopi pahit.
Dan pada akhirnya, kita, saya, Anda, kalian, antum, dia, mereka—para penghuni ruang-ruang kuliah yang mulai berbau kapur tua dan keputusasaan administratif—hanya bisa duduk termenung di balik meja kerja masing-masing. Menatap layar laptop yang menyala remang, sambil merenungkan sebuah pertanyaan eksistensial yang jauh lebih pelik daripada teori komunikasi massa mana pun:
Sebenarnya, yang sedang kita revisi ini naskah skripsi mereka, atau kewarasan kita sendiri?
Sebab betapa ironisnya peradaban hari ini. Kita menguras energi merumuskan Digital PR Campaign, memeras otak menjelaskan pentingnya audience mapping, membongkar pasang teori retorika agar mereka fasih bicara di muka umum. Tapi begitu keluar dari kelas, teori-teori canggih itu lebur seketika di hadapan satu huruf 'G' kapital dan empat huruf di belakangnya: G-A-T-A-U.
Sebuah mahakarya komunikasi nir-konteks. Ringkas, padat, dan langsung menghujam jantung keimanan seorang pendidik. Barangkali, inilah puncak pencapaian kurikulum merdeka yang sesungguhnya. Merdeka dari rasa sungkan, merdeka dari beban moral, dan yang paling spektakuler: merdeka dari rasa bersalah. Maka, untuk menutup upacara pemakaman etika akademik sore ini, mari kita kirimkan doa tulus bersama secangkir kopi sisa tadi pagi:
“Ya Allah,
jadikanlah para mantan mahasiswa ini orang-orang yang sukses di luar sana. Biar
nanti bos-bos galak, klien resek, dan kejamnya dunia korporat yang melanjutkan
sisa didikan kami dengan cara mereka yang paling 'kreatif'.”
Karena
hidup di luar kampus itu kejam, kawan. Di sana, chat yang dibalas "Gatau" tidak akan mendatangkan nilai C,
melainkan surat pemecatan kilat dengan pesangon senyum pahit.
Innalillahi
wa innailaihi raji’un.
Selamat
jalan, adab. Engkau terlalu indah untuk disia-siakan di kolom komentar
WhatsApp.
Tertanda,
RM
Kencrot Nikmat Jiwa
(Sekali Baca, Jiwa Langsung Meronta, Waras Langsung Tertunda)
No comments:
Post a Comment