Thursday, November 11, 2021

Pak Haji Dudu dalam Kenangan

 oleh John Koplo

Pernahkah Anda merasakan jabatan tertinggi manusia dalam hidup? Atau minimal menyaksikan atau bertemu orang dengan jabatan tertinggi dalam hidup ini? Mungkin kisah ini jadi salah satunya.

[]

Pak Haji Dudu, begitu saya panggil beliau. Nama lengkap beliau Prof. Dr. Drs. H. Dudu Duswara, S.H., M.Hum. Sederet gelar disematkan kepada beliau. Sebut saja, beliau merupakan hakim agung, profesor, dosen, guru besar, hakim ad hoc pengadilan tindak pidana korupsi, anggota majelis wali amanat, dan entah gelar apa lagi yang saya ketahui soal beliau. Intinya beliau telah mencapai puncak tertinggi pencapaian dalam hidup manusia di muka bumi. Dan semesta memberikan takdirnya untuk saya bertemu beliau.

Suatu hari saya dihubungi teman saya seorang dosen perguruan tinggi swasta di Bandung, dia bercerita bahwa ada temannya dosen senior yang ingin melengkapi berkas persyaratan sebagai guru besar di kampusnya itu. Dia bilang nanti si dosen senior itu akan hubungi saya untuk minta bantuan. Ternyata tak butuh waktu lama, si dosen senior yang ternyata adalah Pak Haji Dudu menghubungi saya setelah zuhur. Beliau bercerita ingin minta bantuan saya melengkapi berkas tes bahasa Inggris (TOEFL) untuk kepentingan guru besar. Awalnya beliau menawarkan diri untuk bertemu saya, namun begitu saya tahu beliau bukan orang sembarangan, seharusnya sangat layak bagi saya yang sowan mendatangi beliau, mengingat beliau sudah senior alias orang tua.

Cerita bersambung, beliau minta saya datang ke kantornya di Jl. Medan Merdeka Utara no.9 Jakarta yang ternyata adalah Kantor Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Akhirnya saya mengajak istri saya ke sana. Setelah kami sampai di gerbang kantor saya langsung bertemu sekuriti dan tanpa basa-basi saya bilang ingin bertemu Pak Haji Dudu, sontak saja si sekuriti itu seperti langsung antusias. Saya dan istri berpikir dalam hati, pastilah beliau ini bukan orang sembarangan. Belum sempat saya berpikir lama, saya langsung hubungi beliau memberi tahu bahwa saya sudah sampai kantor beliau dan beliau bilang nanti ada ajudannya yang jemput. Benar saja tak lama datang seorang dengan berpakaian rapi seperti paspampres menjemput saya. Perasaan saya waktu itu benar-benar campur aduk. Belum pernah saya merasakan pengalaman seperti ini.

Ketika saya dipersilakan masuk ruangan beliau, semakin saya paham bahwa orang yang saya temui ini merupakan orang besar, atau sebutlah pejabat tinggi negara. Ajudan alias anak buah beliau bukan hanya satu orang namun banyak. Terlihat bahwa ruangan beliau lebih mirip ruangan apartemen dengan segala perabotan mewah masa kini. Saya tidak perlu ceritakan detailnya, intinya seluruh kenikmatan di dunia ada di ruangan itu. Namun hal yang membuat saya takjub setelah bincang dengan beliau yakni tidak ada tampak sedikitpun kesombongan keluar dari mulut beliau, tutur kata yang sopan santun dan perilaku yang mulia beliau tunjukkan ke saya.

Sebelum saya pulang, tiba-tiba beliau memberikan saya secarik amplop bertuliskan nama beliau seraya beliau bilang kalau itu tidak boleh ditolak karena rezeki. Saya pun dikasih nasi kotak yang berisi makan siang beliau seraya beliau bilang bahwa saya mesti merasakan makan siang hakim agung, disambut gelak tawa beliau dan saya. Sebuah momen yang amat berkesan buat saya. Di akhir kalimat beliau bilang terima kasih untuk saya sudah jauh-jauh mau datang ke kantor beliau, sungguh akhlak mulia dari seorang hakim agung.

Di akhir hayatnya, sebelum beliau berpulang, sempat kirim pesan singkat ke saya. Isinya beliau berterima kasih ke saya dan beliau telah diangkat jadi guru besar dan minta didoakan agar amanah dalam jabatan tersebut. Sungguh sebuah penghargaan tinggi bagi saya dihubungi oleh beliau setelah sekian lama tak berjumpa.

Sampai detik ini saya tidak bisa memahami bagaimana cara semesta mempertemukan saya dengan Pak Haji Dudu. Beliau merepresentasikan seluruh puncak kenikmatan duniawi yang mungkin diraih oleh manusia, namun sedikitpun tidak membuat beliau sombong dan jumawa, malahan sebaliknya. Beliau adalah pribadi rendah hati yang berakhlak mulia. Tulisan ini saya dan istri saya persembahkan untuk beliau karena telah menolong saya mengatasi kesulitan dalam hidup. Semoga Allah balas jasa beliau, ampuni kesalahan beliau, dan jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga Firdaus dan kelak pertemukan saya dan istri saya kembali dengan beliau sang guru besar berhati besar.  

No comments:

Post a Comment