oleh John Koplo
Pernahkah Anda merasakan jabatan tertinggi manusia dalam hidup? Atau minimal menyaksikan atau bertemu orang dengan jabatan tertinggi dalam hidup ini? Mungkin kisah ini jadi salah satunya.
[]
Pak Haji Dudu, begitu saya panggil beliau. Nama
lengkap beliau Prof. Dr. Drs. H. Dudu Duswara,
S.H., M.Hum. Sederet gelar disematkan kepada beliau. Sebut saja, beliau
merupakan hakim agung, profesor, dosen, guru besar, hakim ad hoc pengadilan
tindak pidana korupsi, anggota majelis wali amanat, dan entah gelar apa lagi
yang saya ketahui soal beliau. Intinya beliau telah mencapai puncak tertinggi
pencapaian dalam hidup manusia di muka bumi. Dan semesta memberikan takdirnya
untuk saya bertemu beliau.
Suatu hari saya
dihubungi teman saya seorang dosen perguruan tinggi swasta di Bandung, dia
bercerita bahwa ada temannya dosen senior yang ingin melengkapi berkas
persyaratan sebagai guru besar di kampusnya itu. Dia bilang nanti si dosen
senior itu akan hubungi saya untuk minta bantuan. Ternyata tak butuh waktu
lama, si dosen senior yang ternyata adalah Pak Haji Dudu menghubungi saya
setelah zuhur. Beliau bercerita ingin minta bantuan saya melengkapi berkas tes
bahasa Inggris (TOEFL) untuk kepentingan guru besar. Awalnya beliau menawarkan
diri untuk bertemu saya, namun begitu saya tahu beliau bukan orang sembarangan,
seharusnya sangat layak bagi saya yang sowan mendatangi beliau, mengingat
beliau sudah senior alias orang tua.
Cerita bersambung,
beliau minta saya datang ke kantornya di Jl. Medan Merdeka Utara no.9 Jakarta
yang ternyata adalah Kantor Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Akhirnya
saya mengajak istri saya ke sana. Setelah kami sampai di gerbang kantor saya
langsung bertemu sekuriti dan tanpa basa-basi saya bilang ingin bertemu Pak
Haji Dudu, sontak saja si sekuriti itu seperti langsung antusias. Saya dan
istri berpikir dalam hati, pastilah beliau ini bukan orang sembarangan. Belum
sempat saya berpikir lama, saya langsung hubungi beliau memberi tahu bahwa saya
sudah sampai kantor beliau dan beliau bilang nanti ada ajudannya yang jemput.
Benar saja tak lama datang seorang dengan berpakaian rapi seperti paspampres
menjemput saya. Perasaan saya waktu itu benar-benar campur aduk. Belum pernah
saya merasakan pengalaman seperti ini.
Ketika saya
dipersilakan masuk ruangan beliau, semakin saya paham bahwa orang yang saya
temui ini merupakan orang besar, atau sebutlah pejabat tinggi negara. Ajudan
alias anak buah beliau bukan hanya satu orang namun banyak. Terlihat bahwa
ruangan beliau lebih mirip ruangan apartemen dengan segala perabotan mewah masa
kini. Saya tidak perlu ceritakan detailnya, intinya seluruh kenikmatan di dunia
ada di ruangan itu. Namun hal yang membuat saya takjub setelah bincang dengan
beliau yakni tidak ada tampak sedikitpun kesombongan keluar dari mulut beliau,
tutur kata yang sopan santun dan perilaku yang mulia beliau tunjukkan ke saya.
Sebelum saya pulang,
tiba-tiba beliau memberikan saya secarik amplop bertuliskan nama beliau seraya
beliau bilang kalau itu tidak boleh ditolak karena rezeki. Saya pun dikasih
nasi kotak yang berisi makan siang beliau seraya beliau bilang bahwa saya mesti
merasakan makan siang hakim agung, disambut gelak tawa beliau dan saya. Sebuah
momen yang amat berkesan buat saya. Di akhir kalimat beliau bilang terima kasih
untuk saya sudah jauh-jauh mau datang ke kantor beliau, sungguh akhlak mulia
dari seorang hakim agung.
Di akhir hayatnya,
sebelum beliau berpulang, sempat kirim pesan singkat ke saya. Isinya beliau
berterima kasih ke saya dan beliau telah diangkat jadi guru besar dan minta
didoakan agar amanah dalam jabatan tersebut. Sungguh sebuah penghargaan tinggi
bagi saya dihubungi oleh beliau setelah sekian lama tak berjumpa.
Sampai detik ini saya
tidak bisa memahami bagaimana cara semesta mempertemukan saya dengan Pak Haji
Dudu. Beliau merepresentasikan seluruh puncak kenikmatan duniawi yang mungkin
diraih oleh manusia, namun sedikitpun tidak membuat beliau sombong dan jumawa,
malahan sebaliknya. Beliau adalah pribadi rendah hati yang berakhlak mulia.
Tulisan ini saya dan istri saya persembahkan untuk beliau karena telah menolong
saya mengatasi kesulitan dalam hidup. Semoga Allah balas jasa beliau, ampuni
kesalahan beliau, dan jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga Firdaus dan
kelak pertemukan saya dan istri saya kembali dengan beliau sang guru besar
berhati besar.
No comments:
Post a Comment