Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

CKP



Oh iya aku ingat kisahnya sekitar penghujung 90-an. Sebut saja si cewek ini CKP, inisial namanya. Terserah mau panggil apa si CKP ini, sebut saja CKP itu singkatan dari CaKeP lah. CKP ini punya teman dekat bernama Mala, cewek juga. Tapi nanti dulu, ada awal mulanya. Kisah ini waktu di SMP.

Waktu itu aku lagi suka sama cewek yang namanya Fani, sapaan akrabnya di sekolah. Dia itu kakak kelasku: aku kelas 2, Fani kelas 3. Aku sering berkirim surat sama Fani. Cerita singkatnya aku nekat tiba-tiba beranikan diri untuk bertemu dia sepulang sekolah. Fani gak tahu kalau aku nulis surat itu menghabiskan waktu semalam suntuk cuma buat nulis kata-katanya berikut kertasnya yang salah melulu. Aku kasih surat beramplop warna-warni itu ke Fani sambil garuk-garuk kepala. Dia terima surat itu seraya senyum simpul. Tak lama berselang Fani balas suratku yang isinya dia senang terima suratku yang pertama itu, katanya itu surat pertama dari cowok yang dia terima. Aku pun begitu, betapa sumringahnya menerima surat balasan dari cewek yang aku suka, pertama kalinya dalam hidupku sebagai manusia. Seingatku surat-surat Fani sekarang sudah aku bakar semuanya, tapi ada sedikit yang masih sisa ya sekitar seruas robekan kertas saja yang isinya udah gak jelas.

Ternyata aku kecewa, Fani sudah ada yang suka sebelum aku. Namanya Andi. Karena dia tua dari aku ya aku sebut dia Bang Andi. Usut punya usut ternyata Bang Andi ini kakak kandungnya si Mala yang kelak jadi biangkerok cerita ini. Ya sudah, kisah berikutnya aku mulai menjauhi Fani, demi menghormati yang lebih tua: Bang Andi. Karena aku laki-laki yang berprinsip untuk pantang berkelahi demi seorang wanita, ya sudah aku pilih mundur teratur nan terhormat saja, pikirku waktu itu.

Waktu berlalu. Hingga akhirnya entah darimana datang seorang cewek bernama CKP. Ternyata dia ini teman dekatnya Mala. Dekat sekali aku lihat hubungan mereka. Kemana-mana selalu berdua, ibarat ban sepeda motor. CKP dan Mala ini duduk di kelas 1. Berhubung mereka berdua masuk sekolah di siang hari makanya sering berseliweran sebelum jam sekolah pagi usai. Aku sering lihat dua manusia ini. Singkatnya temanku bernama Eko dan Cuplis, dua karibku ini kenal dengan CKP. Berhubung waktu itu aku yang masih jomblo mereka berdua ingin nyomblangin aku sama salah satu di antara CKP atau Mala. Walhasil aku dikenalkan sama Eko ke CKP dan Mala. Dua-duanya agak mirip, sama-sama punya senyum manis. Entah pakai gula alami atau pengawet.

Setelah sekian hari, minggu, bulan, aku semakin kenalan dengan dua cewek ini. Tapi anehnya yang satu yakni si Mala malah mulai menjauh. Kebalikannya si CKP makin dekat ke aku. Entah apa namanya, cinta monyet kek, cinta apa kek. Yang jelas waktu itu aku beranikan diri nembak si CKP. Hasilnya? Diterima. Tanpa butuh waktu lama, tanpa butuh persyaratan dan ketentuan macam operator telepon seluler. Tak sampai hitungan jam.

Namun waktu jua yang menjawabnya. Keburukan itu walau ditutup-tutupi pasti akan ketahuan juga, ibarat daging ikan busuk. Suatu hari si CKP ketemu aku di sekolah. Dia cerita ke aku semua tentang dia, tentang aku. Semua. Tanpa disadari dia terpeleset berbicara soal si Mala, yang adiknya Bang Andi itu. Dia buka semua aibnya sendiri bersama si Mala. Ternyata mereka berdua itu menjadikan aku sebagai bahan taruhan mereka berdua. Artinya cinta si CKP ke aku cuma sebatas tipuan rekayasa belaka. Si CKP sampai ketakutan sendiri, raut wajahnya jadi seperti ingin menangis. Aku marah. Gak peduli sama raut wajahnya yang menurutku ketika itu juga tipuan belaka. Sebenarnya di awal aku menaruh hati sama si Mala, tapi karena aku tahu dia itu adiknya Bang Andi aku merasa gak enak. Belakangan aku tahu kelakuan buruk si CKP ini yang ternyata semakin jelas.

Sampai akhirnya aku lulus sekolah. Melanjutkan sekolah. Kuliah. Pindah rumah.  Aku sudah gak pernah tahu kabar semua tokoh yang ada dalam cerita ini. Sampai suatu ketika di Stasiun Bekasi, waktu aku hendak ke kampus Universitas Indonesia di Depok sempat aku bertemu dengan seorang cewek yang persis seperti CKP bersama seorang wanita paruh baya sedang duduk di bangku peron. Tak lama dia menyapa.
“Hai.
“Jun? Iya Jun kan kamu? Sapa dia.
Aku menjawab dengan elegan.
“Hai juga”
“Siapa ya?”
“Ini gw, CKP” Seraya menjabat tanganku.
Aku balas jabat tangannya.
Di sebelahnya ada sang ibunda. Dia kenalkan aku ke ibundanya:
“Ini loh ma, yang aku certain dulu waktu SMP. Si Jun yang waktu itu.”
Aku langsung mencium tangan ibundanya.
“Oh iya tante. Saya Jun, teman sekolah-nya CKP dulu”.
“Iya. Senang berkenalan dengan kamu, nak.”
“Sama-sama tante. Anaknya sekarang sudah besar yah. Mirip ibundanya”
Tak lama saya pamit kepada mereka berdua.
“CKP, Tante. Saya gak bisa berlama-lama ngobrol. Maaf saya harus pamit. Kereta saya sudah tiba”
“Oh iya, nak. Kapan-kapan main lah ke rumah. Kami udah pindah kok”. Si Tante seraya memberikan nomor telepon rumahnya.
“Insya Allah”. Saya pun pamit.

Begitu ceritanya. Gak menarik kan? Ya memang. Tapi buatku in pengalaman berharga jangan sampai jadi pecundang di lain waktu. Tidak enak memang rasanya jadi bahan permainan, apalagi ini permainan cinta. Mungkin terdengar naïf, ya kalau tidak jangan didengar, apalagi dibaca kisah ini. Tapi terlanjur nasi telah menjadi bubur, tinggal tambahkan cakwe, bawang goreng, ayam suwir, dan kerupuk sesuai selera. Biar tidak mubazir.

Suatu ketika berselang, sekitar beberapa tahun semenjak pertemuan terakhir itu, CKP sms aku, isinya mengajak untuk menikah. Aku jawab, maaf. Tak ada permainan kedua, terlebih bagi sang mantan.

Thursday, December 26, 2013

Neng di Jogja (bagian 4-tamat)


Hari ke-4
Rabu, 5 Des 2012

Hari terakhir sebelum si Neng pergi. Tak ada kuliah hari ini. Niat kami ke pantai lagi-lagi urung karena hujan. Setelah hujan reda di pagi hari kami bergegas sarapan di warung Lotek Bu Bagyo. Kemudian langsung bergeser ke utara. Ke mana? Akhirnya kesampaian juga ke destinasi kami: Borobudur. Saya pun ingat siang hari ini ada janji dengan dokter gigi langganan saya yang sempat bikin si Neng cemburu, begitu pengakuannya. Namanya Lea. Mbak Lea, saya memanggilnya.

Akhirnya kami ke Borobudur hingga siang hari menjelang. Setelah itu langsung tancap gas menemui si dokter gigi. Ternyata saya cuma diperiksa saja tak ada penanganan apa-apa. Kami kemudian pamit. Si Neng beres-beres barang yang akan dibawa pulang, saya membantunya. Kemudian kami mencari makan. Setelah itu saya antar dia pulang ke Stasiun Lempuyangan. Hujan rintik mengiringi langkah saya melepas kepergiannya. Entah kenapa tanpa sadar ada air mata yang jatuh. Ah, perpisahan memang selalu haru. Sayonara.
 


Si Neng depan KA Gajah Wong



Neng di Jogja (bagian 3)

Hari ke-3.

Selasa 4 Des 2012

Si Neng bangun pagi. Saya juga. Rencananya hari ini mau ke pantai tapi tidak jadi karena alasan rute yang terlampau jauh. Alhasil si Neng mau menepati janjinya. Apa itu? Beres-beres kamar saya. Langsung saja ketika peralatan sudah siap, saya pun ‘diusir’ sejenak keluar kamar sampai selesai dan hasilnya bikin saya takjub. Baru kali ini setelah sekian lama, kamar saya yang semrawut ada yang merapikannya. Luar biasa. Terimakasih, kata saya ke dia.
Kemudian kami bersiap menuju warung untuk sarapan. Lanjut ke kampus. Kuliah tidak terlalu banyak, cuma dua. Namun saya mesti presentasi di dua jadwal tersebut. Si Neng semalam yang bantu saya bikin tugas kuliah. Setelah kuliah yang melelahkan kami langsung tancap gas ambil laundry sekalian makan siang. Kemudian langsung menuju ke utara. Kemana? Borobudur, tujuannya. Namun apa daya ketika baru sampai Ring Road utara hujan semakin deras. Kami berteduh di rumah warga. Di tengah hujan deras kami sempat berkelahi, sedikit tapi tak lama kemudian selesai seiring hujan reda.

Setelah itu kami berkeliling kota Jogja hingga senja terbenam. Di tengah jalan si Neng ngidam susu sapi Kalimilk, ya akhirnya kami singgah di Kalimilk Kaliurang. Setelah itu lanjut cari makan malam ditemani hujan rintik yang tak kunjung reda. Tak apalah kata kami. Lanjut ke Pizza Hut Plasa Ambarukmo. Sempat terjadi perselisihan di antara kami namun lagi-lagi berujung tawa. Setelah itu kami bergeser kembali ke peraduan masing-masing. Tak lupa ambil laundry. Selesai. Malam yang indah.


Tuesday, December 17, 2013

Neng di Jogja (bagian 2)



Hari 2


Senin 3 Des 2012

Kami bangun pagi. Setelah saya shalat Subuh si Neng balik ke hotel untuk beres-beres sekaligus sarapan. Eh saya dibawakan sarapan doi loh yaitu roti isi berikut telor yang tidak habis disantap si Neneng. Setelah agak siang saya jemput beliau di hotel untuk lanjut ke kampus. Pada hari ini saya kenalkan si Neneng dengan beberapa rekan saya kuliah. Bangga dong saya merasa menjadi lelaki normal yang punya pasangan lawan jenis. Hahaha. Kuliah selesai jam 12.00 saya langsung cabut tanpa ba bi bu lagi. Kami bergegas mengambil laundry yang telah menunggu. Lumayan berat sih karena pakaian kami berdua dicampur jadi satu. Kemudian kami bersantap siang di Lotek Bu Bagyo Sagan. Saya makan lotek si Neneng makan fuyunghay walau tetap saja kami bertukar menu dan pada akhirnya saya yang jadi sapu jagad menghabiskan semua berhubung si Neneng katanya sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan. Langsung setelah perut terisi kami tancap gas menuju utara ke arah Merapi. Tak lupa isi bensin karena rute lumayan jauh yakni ke kawasan Kaliurang. Sampai di atas kami mendapat kejadian menarik ketika kami asyuk berfoto eh tiba-tiba digonggong serta dikejar anjing yang sontak saja kami langsung tancap gas ke bawah sedikit, menikmati hawa sejuknya Kaliurang sekaligus menyantap Dunkin Donuts yang belum kunjung habis, ketika itu tinggal dua potong jadi pas lah untuk kami berdua. Sekaligus kami berfoto bertiga bersama si Genit yang mengantar kami. Kemudian kami balik masing-masing untuk bersiap melanjutkan misi. Si Neneng balik ke hotel untuk beres-beres begitupun saya. Setelah itu tujuan kami ke Carrefour Mal Ambarukmo Plasa atau yang lebih populer disingkat AmPlas. Mau ngapain? Ya belanja belanji kebutuhan kami, saya khususnya. Si Neneng dengan sigap dan antusias mengambil troli belanjaan. Memang tak dapat dipungkiri kali ini bahwa naluri keibuan beliau muncul ketika melihat barang belanjaan yang ada dimana-mana. Hahaha. 

Kami lanjut bergeser ke Kalimilk Seturan. Katanya teman lama si Neneng telah menunggu, yang tidak jauh dari situ. Akhirnya kami makan malam kemudian menemui si kawan lama ini. Pertemuan terjadi. Setelah bincang kenangan yang cukup lama akhirnya kami pamit untuk kembali ke peraduan. Kami sempat singgah di Jembatan Gondolayu. Berfoto. Klik. Kenangan kami terpatri di situ.

Neng di Jogja (bagian 1)

Hari 1

Minggu 2 Des 2012

Kami tiba di Jogja menaiki bis Kramat Djati jurusan Bandung-Yogyakarta turun di perempatan Kaliurang sambung taksi ke kediaman si ganteng tralala trilili. Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Setiba di kos tiba-tiba Neneng merasakan panggilan alam kontan saja langsung aku suruh ke bilik termenung di ujung kamar kos. Ternyata si Neneng sudah tidak tahan kepingin menyalurkan hasrat buang air kecil yang menurut pengakuannya tidak terasa selama di perjalanan. Sekalian beliau mengganti roti jepang karena sedang dihinggapi mens. Beliau keluar kamar mandi dengan wajah polos nan sumringah berhubung lega tiada tara. Kami terlelap setelahnya. Siang menjelang zuhur kami keluar kandang menuju binatu atau bahasa Jawa-nya laundry. Hahaha. Di tempat ini si Neneng terperanjat karena harga jasa cuci yang menurut dia terlalu murah untuk cuci ekspres hanya IDR Rp 3500 dapat diambil keesokan hari. Hahaha lagi. Sekalian saya berpikir kemana rute kami selanjutnya yang searah sama tempat laundry dan kami berunding, akhirnya saya memutuskan untuk ke Candi Prambanan yang terletak kurang lebih 25 km dari Yogyakarta. Kami menunggangi si Genit, di tengah jalan ternyata si Genit kehabisan bahan bakar sehingga mampir ke SPBU yang kebetulan si Neneng juga kebelet jajan sekalian ke kamarmandi. Ndilalah di sebelah kamarmandi ada toko Dunkin Donuts, si Neneng gatel dan kemudian ngidam hingga akhirnya membeli setengah lusin untuk bekal kami di perjalanan kelak. Cuaca siang itu memang agak mendung setelah kami masuk ke Candi Prambanan. Kami disarungisasi, sebuah istilah baru yang saya dapat di Candi Prambanan. Setelah kami puas berkeliling Candi Prambanan lanjut ke Candi Sewu dan kemudian pulang. Di tengah perjalanan pulang ditemani hujan gerimis rinai yang syahdu bin sendu macam di salah satu lagu lawas, sambil kami berunding mencari penginapan buat si Neneng. Kebetulan di dekat kos saya ada hotel murah meriah tidak terlalu mahal akhirnya kami coba-coba bertanya ke tempat itu. Walhasil cocok, si Neneng memesan untuk 3 malam walau pada akhirnya cuma 2 malam untungnya bisa diretur pula. Sampai di hotel ternyata hari hujan. Pasca hujan reda kami bergegas menuju Stasiun Lempuyangan memesan tiket pulang Lempuyangan-Pasar Senen IDR Rp 125.000. Setelah hari gelap kami menuju Malioboro. Di sini si Neneng tampak sangat senang dan antusias bisa berjalan-jalan walau hari gerimis sampai berfoto-foto di Monumen Nol Kilometer Yogyakarta. Kami lanjut perjalanan karena terasa lapar dan menuju Kafe Mato Kopi yang terletak di bilangan Seturan Yogyakarta. Hujan tidak juga reda namun kami tancap gas walhasil kami terutama saya sebagai juru mudi kebasahan tapi tak apalah yang penting sampai karena sudah kelaparan akut. Kami memesan makan spesial kala itu, nasi telor penyet yang membuat si Neneng ketagihan, enak katanya. Hehe. Setelah kami kenyang akhirnya kembali ke peraduan masing-masing. Tapi tubuh saya harus drop karena terlalu lama beraktifitas kurang istirahat, dan si Neneng yang mestinya nginap di hotel menjenguk saya untuk mengobati. Malam pertama selesai.