Oh iya aku ingat
kisahnya sekitar penghujung 90-an. Sebut saja si cewek ini CKP, inisial
namanya. Terserah mau panggil apa si CKP ini, sebut saja CKP itu singkatan dari
CaKeP lah. CKP ini punya teman dekat bernama Mala, cewek juga. Tapi nanti dulu,
ada awal mulanya. Kisah ini waktu di SMP.
Waktu itu aku lagi
suka sama cewek yang namanya Fani, sapaan akrabnya di sekolah. Dia itu kakak
kelasku: aku kelas 2, Fani kelas 3. Aku sering berkirim surat sama Fani. Cerita
singkatnya aku nekat tiba-tiba beranikan diri untuk bertemu dia sepulang
sekolah. Fani gak tahu kalau aku nulis surat itu menghabiskan waktu semalam
suntuk cuma buat nulis kata-katanya berikut kertasnya yang salah melulu. Aku
kasih surat beramplop warna-warni itu ke Fani sambil garuk-garuk kepala. Dia
terima surat itu seraya senyum simpul. Tak lama berselang Fani balas suratku
yang isinya dia senang terima suratku yang pertama itu, katanya itu surat
pertama dari cowok yang dia terima. Aku pun begitu, betapa sumringahnya
menerima surat balasan dari cewek yang aku suka, pertama kalinya dalam hidupku
sebagai manusia. Seingatku surat-surat Fani sekarang sudah aku bakar semuanya,
tapi ada sedikit yang masih sisa ya sekitar seruas robekan kertas saja yang
isinya udah gak jelas.
Ternyata aku kecewa,
Fani sudah ada yang suka sebelum aku. Namanya Andi. Karena dia tua dari aku ya
aku sebut dia Bang Andi. Usut punya usut ternyata Bang Andi ini kakak
kandungnya si Mala yang kelak jadi biangkerok cerita ini. Ya sudah, kisah
berikutnya aku mulai menjauhi Fani, demi menghormati yang lebih tua: Bang Andi.
Karena aku laki-laki yang berprinsip untuk pantang berkelahi demi seorang
wanita, ya sudah aku pilih mundur teratur nan terhormat saja, pikirku waktu
itu.
Waktu berlalu.
Hingga akhirnya entah darimana datang seorang cewek bernama CKP. Ternyata dia
ini teman dekatnya Mala. Dekat sekali aku lihat hubungan mereka. Kemana-mana
selalu berdua, ibarat ban sepeda motor. CKP dan Mala ini duduk di kelas 1.
Berhubung mereka berdua masuk sekolah di siang hari makanya sering berseliweran
sebelum jam sekolah pagi usai. Aku sering lihat dua manusia ini. Singkatnya
temanku bernama Eko dan Cuplis, dua karibku ini kenal dengan CKP. Berhubung
waktu itu aku yang masih jomblo mereka berdua ingin nyomblangin aku sama salah
satu di antara CKP atau Mala. Walhasil aku dikenalkan sama Eko ke CKP dan Mala.
Dua-duanya agak mirip, sama-sama punya senyum manis. Entah pakai gula alami
atau pengawet.
Setelah sekian hari,
minggu, bulan, aku semakin kenalan dengan dua cewek ini. Tapi anehnya yang satu
yakni si Mala malah mulai menjauh. Kebalikannya si CKP makin dekat ke aku. Entah
apa namanya, cinta monyet kek, cinta apa kek. Yang jelas waktu itu aku
beranikan diri nembak si CKP. Hasilnya? Diterima. Tanpa butuh waktu lama, tanpa
butuh persyaratan dan ketentuan macam operator telepon seluler. Tak sampai
hitungan jam.
Namun waktu jua yang
menjawabnya. Keburukan itu walau ditutup-tutupi pasti akan ketahuan juga,
ibarat daging ikan busuk. Suatu hari si CKP ketemu aku di sekolah. Dia cerita
ke aku semua tentang dia, tentang aku. Semua. Tanpa disadari dia terpeleset
berbicara soal si Mala, yang adiknya Bang Andi itu. Dia buka semua aibnya
sendiri bersama si Mala. Ternyata mereka berdua itu menjadikan aku sebagai
bahan taruhan mereka berdua. Artinya cinta si CKP ke aku cuma sebatas tipuan
rekayasa belaka. Si CKP sampai ketakutan sendiri, raut wajahnya jadi seperti
ingin menangis. Aku marah. Gak peduli sama raut wajahnya yang menurutku ketika
itu juga tipuan belaka. Sebenarnya di awal aku menaruh hati sama si Mala, tapi
karena aku tahu dia itu adiknya Bang Andi aku merasa gak enak. Belakangan aku
tahu kelakuan buruk si CKP ini yang ternyata semakin jelas.
Sampai akhirnya aku
lulus sekolah. Melanjutkan sekolah. Kuliah. Pindah rumah. Aku sudah gak pernah tahu kabar semua tokoh
yang ada dalam cerita ini. Sampai suatu ketika di Stasiun Bekasi, waktu aku
hendak ke kampus Universitas Indonesia di Depok sempat aku bertemu dengan
seorang cewek yang persis seperti CKP bersama seorang wanita paruh baya sedang
duduk di bangku peron. Tak lama dia menyapa.
“Hai.
“Jun? Iya Jun kan
kamu? Sapa dia.
Aku menjawab dengan
elegan.
“Hai juga”
“Siapa ya?”
“Ini gw, CKP” Seraya
menjabat tanganku.
Aku balas jabat
tangannya.
Di sebelahnya ada
sang ibunda. Dia kenalkan aku ke ibundanya:
“Ini loh ma, yang
aku certain dulu waktu SMP. Si Jun yang waktu itu.”
Aku langsung mencium
tangan ibundanya.
“Oh iya tante. Saya
Jun, teman sekolah-nya CKP dulu”.
“Iya. Senang
berkenalan dengan kamu, nak.”
“Sama-sama tante.
Anaknya sekarang sudah besar yah. Mirip ibundanya”
Tak lama saya pamit
kepada mereka berdua.
“CKP, Tante. Saya
gak bisa berlama-lama ngobrol. Maaf saya harus pamit. Kereta saya sudah tiba”
“Oh iya, nak.
Kapan-kapan main lah ke rumah. Kami udah pindah kok”. Si Tante seraya
memberikan nomor telepon rumahnya.
“Insya Allah”. Saya
pun pamit.
Begitu ceritanya.
Gak menarik kan? Ya memang. Tapi buatku in pengalaman berharga jangan sampai
jadi pecundang di lain waktu. Tidak enak memang rasanya jadi bahan permainan,
apalagi ini permainan cinta. Mungkin terdengar naïf, ya kalau tidak jangan
didengar, apalagi dibaca kisah ini. Tapi terlanjur nasi telah menjadi bubur,
tinggal tambahkan cakwe, bawang goreng, ayam suwir, dan kerupuk sesuai selera. Biar tidak
mubazir.
Suatu ketika
berselang, sekitar beberapa tahun semenjak pertemuan terakhir itu, CKP sms aku,
isinya mengajak untuk menikah. Aku jawab, maaf. Tak ada permainan kedua,
terlebih bagi sang mantan.
No comments:
Post a Comment