Thursday, October 15, 2026

Sibuk

 oleh RM Kencrot

Sibuk. Kata yang paling digemari warga urban masa kini. Sibuk dan sibuk dan sibuk. Rasanya hidup itu harus sibuk, kalau tidak sibuk maka tidak dianggap hidup. Konon katanya macet di jalanan itu merupakan tanda berputarnya roda ekonomi. Saya jadi teringat sebuah kata yaitu prioritas, yang dilupakan oleh manusia yang sibuk dengan kata sibuk. Maka, matilah kita secara perlahan di dalam sangkar bernama "kesibukan yang direkayasa". Kita terjebak dalam ilusi bahwa makin kencang urat leher tertarik karena urusan kantor, makin bermaknalah eksistensi kita di bumi. Padahal, kalau ditarik benang lurusnya, sering kali kita ini cuma kebingungan membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sekadar bising.

Semua mendadak mendesak. Semua minta ditanggapi detik ini juga. Pesan grup WhatsApp meluncur bak peluru nyasar, email menumpuk seperti cucian kotor di musim hujan, dan kita dengan bangga menepuk dada sambil berkata, "Sori bro, lagi padat banget nih!" seolah-olah predikat "orang sibuk" adalah medali emas Olympiade. Padahal ya, bisa jadi kita cuma sibuk memindahkan tumpukan masalah dari meja kiri ke meja kanan, tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya. Kita mengorbankan secangkir kopi hangat di pagi hari, obrolan lepas tanpa agenda, hingga waktu untuk sekadar bernapas lega—semua demi menukar giliran masuk ke dalam pusaran macet yang sama saban sore.

Kita lupa dan absen pada kata prioritas. Bahwa hidup ini sejatinya bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita jejalkan dalam 24 jam, melainkan tentang hal mana yang paling berharga untuk diberi ruang di dalam dada. Kita terlalu takut dianggap malas kalau berhenti sejenak, padahal mesin tua saja butuh rehat biar pistonnya tak jebol. Mungkin sudah saatnya kita berani menawar kesibukan itu. Tak apa sesekali bilang "tidak" pada urusan yang tak berujung, lalu bilang "ya" pada waktu luang untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Sebab pada akhirnya, ketika layar laptop ditutup dan lampu jalanan padam, yang tersisa bukanlah seberapa sibuk kita kemarin, melainkan seberapa hadir kita dalam hidup yang cuma mampir minum ini.

Lagipula, mari kita jujur pada diri sendiri saat sedang terjebak di tengah kepulan asap knalpot dan klakson yang bersahut-sahut di perempatan jalan: berapa banyak dari "kesibukan" itu yang benar-benar berbuah karya, dan berapa banyak yang cuma sekadar acting terlihat sibuk demi validasi sosial?

Kita kerap terjebak dalam romantisme absurd warga kota. Seolah-olah makin hitam lingkar di bawah mata, makin tinggi derajat kepahlawanan kita. Kita mengagungkan multitasking—membalas surel pekerjaan sambil mengunyah makan siang, lalu menelepon klien di sela-sela mengendarai motor—padahal yang sebenarnya terjadi adalah pikiran kita tak pernah benar-benar hadir di mana pun. Hati dan pikiran kita tercecer di jalanan, tertinggal di ruang rapat, atau tenggelam dalam riuh pemberitahuan gawai yang tak pernah tidur.

Di situlah ironinya. Kita mengorbankan hal-hal yang hakiki—kesehatan yang pelan-pelan tergerus, obrolan hangat tanpa interupsi layar gawai, hingga dentang waktu yang mestinya bisa kita nikmati dengan hening—hanya demi mengejar target-target yang besok pagi pun mungkin sudah terlupakan. Prioritas ditaruh di rak paling bawah, tertutup debu rutinitas yang diulang-ulang tanpa makna.

Maka, tak ada salahnya kalau sesekali kita menarik rem tangan. Berani mengambil jarak dari kegilaan tempo kota. Menata ulang mana yang harus dikejar setengah mati, mana yang cukup ditatap santai sambil menyeruput kopi hangat. Sebab hidup ini bukan balapan ketahanan siapa yang paling cepat remuk dihantam rutinitas, melainkan seni memilih apa yang pantas diperjuangkan sebelum garis akhir menyapa.

Kalau mau diperas sampai ke intinya, kebahagiaan warga Jakarta itu sebenarnya tidak ndakik-ndakik amat. Kita tak butuh narasi megah tentang kesuksesan finansial atau pencapaian karier yang membumbung tinggi ke langit jika untuk menikmatinya saja kita harus mengurut dada tiap kali menatap jalan raya. Bagi manusia perkotaan yang kepalanya saban hari dipanggang asap knalpot dan dijejali urusan kantor, kenikmatan tertinggi itu justru hadir dalam wujud yang paling sederhana: waktu senggang, tidur siang, dan jalanan yang lengang tanpa macet.

Bayangkan sebuah kemewahan yang mengalahkan restoran berbintang atau barang bermerek: menyusuri koridor beton Jakarta tanpa perlu mengepal setang motor keras-keras, tanpa erangan klakson bersahut-sahutan, dan tanpa bayangan meleset dari jam masuk kerja. Tidak kena macet di Ibu Kota itu rasanya seperti mendapat mukjizat kecil di tengah hari bolong—sebuah momen langka di mana roda ekonomi tetap berputar, tapi leher dan pikiran kita tidak ikut melintir.

Lalu, apa yang lebih sublim dibanding tidur siang di hari kerja atau di akhir pekan tanpa terusik oleh denting notifikasi gawai? Menutup mata sesaat, membiarkan tubuh yang ringsek ditelan kasur tipis atau bahkan kursi kerja, lalu bangun tanpa rasa bersalah. Di situlah waktu senggang menemukan bentuk terindahnya. Bukan waktu luang yang diisi dengan agenda baru atau daftar belanjaan baru, melainkan ruang kosong yang benar-benar kita miliki sendiri—tanpa target, tanpa tenggat, tanpa interupsi.

Di tengah kota yang serba terburu-buru ini, berani merebut kembali waktu senggang dan tidur siang adalah bentuk perlawanan paling elegan. Itu adalah cara kita menegaskan kembali prioritas: bahwa diri kita bukan sekadar onderdil mesin kota yang bisa terus dipaksa berputar sampai aus, melainkan manusia yang berhak atas rasa tenang dan rehat yang seutuhnya.

Media sosial—benda ajaib yang awalnya cuma kita kira tempat reuni kawan lama atau wadah pamer foto liburan—tanpa disadari telah merampas takhta kepemimpinan atas waktu dan pikiran kita sendiri. Pelan tapi pasti, jempol kita dikendalikan oleh algoritma yang lebih kenal tabiat kita ketimbang pasangan atau diri sendiri. Kita mendadak menjadi makhluk yang selalu cemas kalau-kalau ketinggalan tren terbaru, tontonan viral paling gres, atau perdebatan sengit yang sebenarnya tak ada gunanya bagi kelangsungan hidup kita besok pagi.

 

Dulu, orang minum kopi ya cuma untuk menikmati pahit manisnya dan melepas penat sejenak. Sekarang? Kopi yang diseruput harus difoto dulu dari sudut terbaik, diberi penyaring warna paling estetis, lalu diberi tulisan puitis yang dicari lewat pencarian Google. Kita tidak lagi benar-benar menikmati momen; kita cuma sibuk mendokumentasikannya demi tepuk tangan digital berupa like dan comment dari orang-orang yang bahkan tak pernah kita temui di dunia nyata.

 

Tatanan komunikasi pun ikut remuk. Obrolan tatap muka yang hangat di warung kopi kini berganti dengan pemandangan surealis: empat orang duduk satu meja, tetapi masing-masing menunduk khusyuk menatap layar gawai yang memantulkan cahaya biru ke wajah mereka. Kita merasa tersambung dengan ribuan orang di jagat maya, padahal sejatinya kita sedang mengisolasi diri dari orang yang duduk persis di hadapan kita. Emosi kita diproduksi secara massal dan dikurasi: marah karena tagar yang sedang tren, sedih karena konten melankolis orang lain, dan iri pada potongan-potongan hidup orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.

 

Di situlah jebakan terbesarnya. Media sosial membuat kita lupa pada skala prioritas dan hakikat hadir secara utuh. Kita rela mengorbankan tidur malam yang berharga, mengabaikan waktu senggang tanpa layar, dan menyerahkan kedamaian pikiran hanya untuk terus-terusan menggeser layar (scrolling) tanpa henti. Kita dikondisikan untuk takut pada keheningan, padahal di dalam keheningan itulah pikiran bisa beristirahat dan kembali eling.

 

Apakah kita ingin terus menjadi budak linimasa yang hidupnya disetir oleh jumlah followers dan algoritma, atau mau kembali berani mengambil alih kendali atas waktu dan perhatian kita sendiri?