oleh RM Kencrot
Sibuk. Kata yang paling digemari warga urban masa
kini. Sibuk dan sibuk dan sibuk. Rasanya hidup itu harus sibuk, kalau tidak
sibuk maka tidak dianggap hidup. Konon katanya macet di jalanan itu merupakan
tanda berputarnya roda ekonomi. Saya jadi teringat sebuah kata yaitu prioritas,
yang dilupakan oleh manusia yang sibuk dengan kata sibuk. Maka,
matilah kita secara perlahan di dalam sangkar bernama "kesibukan yang
direkayasa". Kita terjebak dalam ilusi bahwa makin kencang urat leher
tertarik karena urusan kantor, makin bermaknalah eksistensi kita di bumi.
Padahal, kalau ditarik benang lurusnya, sering kali kita ini cuma kebingungan
membedakan mana yang benar-benar penting
dan mana yang sekadar bising.
Semua mendadak mendesak. Semua
minta ditanggapi detik ini juga. Pesan grup WhatsApp meluncur bak peluru
nyasar, email menumpuk
seperti cucian kotor di musim hujan, dan kita dengan bangga menepuk dada sambil
berkata, "Sori bro, lagi
padat banget nih!" seolah-olah predikat "orang sibuk" adalah
medali emas Olympiade. Padahal ya, bisa jadi kita cuma sibuk memindahkan
tumpukan masalah dari meja kiri ke meja kanan, tanpa pernah benar-benar
menyelesaikannya. Kita mengorbankan secangkir kopi hangat di pagi hari, obrolan
lepas tanpa agenda, hingga waktu untuk sekadar bernapas lega—semua demi menukar
giliran masuk ke dalam pusaran macet yang sama saban sore.
Kita lupa dan absen pada kata prioritas. Bahwa hidup ini
sejatinya bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita jejalkan dalam 24
jam, melainkan tentang hal mana yang paling berharga untuk diberi ruang di
dalam dada. Kita terlalu takut dianggap malas kalau berhenti sejenak, padahal
mesin tua saja butuh rehat biar pistonnya tak jebol. Mungkin sudah saatnya kita
berani menawar kesibukan itu. Tak apa sesekali bilang "tidak" pada urusan yang tak berujung, lalu
bilang "ya" pada
waktu luang untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Sebab pada akhirnya,
ketika layar laptop ditutup dan lampu jalanan padam, yang tersisa bukanlah
seberapa sibuk kita kemarin, melainkan seberapa hadir kita dalam hidup yang
cuma mampir minum ini.
Lagipula,
mari kita jujur pada diri sendiri saat sedang terjebak di tengah kepulan asap
knalpot dan klakson yang bersahut-sahut di perempatan jalan: berapa banyak dari
"kesibukan" itu yang benar-benar berbuah karya, dan berapa banyak
yang cuma sekadar acting
terlihat sibuk demi validasi sosial?
Kita kerap terjebak dalam
romantisme absurd warga kota. Seolah-olah makin hitam lingkar di bawah mata,
makin tinggi derajat kepahlawanan kita. Kita mengagungkan multitasking—membalas surel
pekerjaan sambil mengunyah makan siang, lalu menelepon klien di sela-sela
mengendarai motor—padahal yang sebenarnya terjadi adalah pikiran kita tak
pernah benar-benar hadir di
mana pun. Hati dan pikiran kita tercecer di jalanan, tertinggal di ruang rapat,
atau tenggelam dalam riuh pemberitahuan gawai yang tak pernah tidur.
Di situlah ironinya. Kita
mengorbankan hal-hal yang hakiki—kesehatan yang pelan-pelan tergerus, obrolan
hangat tanpa interupsi layar gawai, hingga dentang waktu yang mestinya bisa
kita nikmati dengan hening—hanya demi mengejar target-target yang besok pagi
pun mungkin sudah terlupakan. Prioritas ditaruh di rak paling bawah, tertutup
debu rutinitas yang diulang-ulang tanpa makna.
Maka, tak ada salahnya kalau
sesekali kita menarik rem tangan. Berani mengambil jarak dari kegilaan tempo
kota. Menata ulang mana yang harus dikejar setengah mati, mana yang cukup
ditatap santai sambil menyeruput kopi hangat. Sebab hidup ini bukan balapan
ketahanan siapa yang paling cepat remuk dihantam rutinitas, melainkan seni
memilih apa yang pantas diperjuangkan sebelum garis akhir menyapa.
Kalau
mau diperas sampai ke intinya, kebahagiaan warga Jakarta itu sebenarnya tidak
ndakik-ndakik amat. Kita tak butuh narasi megah tentang kesuksesan finansial
atau pencapaian karier yang membumbung tinggi ke langit jika untuk menikmatinya
saja kita harus mengurut dada tiap kali menatap jalan raya. Bagi manusia
perkotaan yang kepalanya saban hari dipanggang asap knalpot dan dijejali urusan
kantor, kenikmatan tertinggi itu justru hadir dalam wujud yang paling
sederhana: waktu senggang, tidur
siang, dan jalanan yang lengang tanpa macet.
Bayangkan sebuah kemewahan
yang mengalahkan restoran berbintang atau barang bermerek: menyusuri koridor
beton Jakarta tanpa perlu mengepal setang motor keras-keras, tanpa erangan
klakson bersahut-sahutan, dan tanpa bayangan meleset dari jam masuk kerja.
Tidak kena macet di Ibu Kota itu rasanya seperti mendapat mukjizat kecil di
tengah hari bolong—sebuah momen langka di mana roda ekonomi tetap berputar,
tapi leher dan pikiran kita tidak ikut melintir.
Lalu, apa yang lebih sublim
dibanding tidur siang di hari kerja atau di akhir pekan tanpa terusik oleh
denting notifikasi gawai? Menutup mata sesaat, membiarkan tubuh yang ringsek
ditelan kasur tipis atau bahkan kursi kerja, lalu bangun tanpa rasa bersalah.
Di situlah waktu senggang menemukan bentuk terindahnya. Bukan waktu luang yang
diisi dengan agenda baru atau daftar belanjaan baru, melainkan ruang kosong
yang benar-benar kita miliki sendiri—tanpa target, tanpa tenggat, tanpa
interupsi.
Di tengah kota yang serba
terburu-buru ini, berani merebut kembali waktu senggang dan tidur siang adalah
bentuk perlawanan paling elegan. Itu adalah cara kita menegaskan kembali
prioritas: bahwa diri kita bukan sekadar onderdil mesin kota yang bisa terus
dipaksa berputar sampai aus, melainkan manusia yang berhak atas rasa tenang dan
rehat yang seutuhnya.
Media sosial—benda
ajaib yang awalnya cuma kita kira tempat reuni kawan lama atau wadah pamer foto
liburan—tanpa disadari telah merampas takhta kepemimpinan atas waktu dan
pikiran kita sendiri. Pelan tapi pasti, jempol kita dikendalikan oleh algoritma
yang lebih kenal tabiat kita ketimbang pasangan atau diri sendiri. Kita
mendadak menjadi makhluk yang selalu cemas kalau-kalau ketinggalan tren
terbaru, tontonan viral paling gres, atau perdebatan sengit yang sebenarnya tak
ada gunanya bagi kelangsungan hidup kita besok pagi.
Dulu, orang minum kopi
ya cuma untuk menikmati pahit manisnya dan melepas penat sejenak. Sekarang?
Kopi yang diseruput harus difoto dulu dari sudut terbaik, diberi penyaring
warna paling estetis, lalu diberi tulisan puitis yang dicari lewat pencarian
Google. Kita tidak lagi benar-benar menikmati momen; kita cuma sibuk
mendokumentasikannya demi tepuk tangan digital berupa like dan comment dari
orang-orang yang bahkan tak pernah kita temui di dunia nyata.
Tatanan komunikasi pun
ikut remuk. Obrolan tatap muka yang hangat di warung kopi kini berganti dengan
pemandangan surealis: empat orang duduk satu meja, tetapi masing-masing
menunduk khusyuk menatap layar gawai yang memantulkan cahaya biru ke wajah
mereka. Kita merasa tersambung dengan ribuan orang di jagat maya, padahal
sejatinya kita sedang mengisolasi diri dari orang yang duduk persis di hadapan
kita. Emosi kita diproduksi secara massal dan dikurasi: marah karena tagar yang
sedang tren, sedih karena konten melankolis orang lain, dan iri pada
potongan-potongan hidup orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.
Di situlah jebakan
terbesarnya. Media sosial membuat kita lupa pada skala prioritas dan hakikat
hadir secara utuh. Kita rela mengorbankan tidur malam yang berharga,
mengabaikan waktu senggang tanpa layar, dan menyerahkan kedamaian pikiran hanya
untuk terus-terusan menggeser layar (scrolling) tanpa
henti. Kita dikondisikan untuk takut pada keheningan, padahal di dalam
keheningan itulah pikiran bisa beristirahat dan kembali eling.
Apakah kita ingin
terus menjadi budak linimasa yang hidupnya disetir oleh jumlah followers dan algoritma, atau mau kembali berani
mengambil alih kendali atas waktu dan perhatian kita sendiri?