Wednesday, May 7, 2014

Eko Prasetyo



Sandal jepit, jaket buluk, tas selempang, dan rokok sebatang. Begitu saya menggambarkan teman saya ini. Seorang yang penuh dengan kesederhanaan; bersahaja. Kala itu, tahun 2004 saya kenal dengan manusia ini, biasa saja memang. Waktu berlalu. Kami tumbuh bersama di kampus bernama Universitas Indonesia; julukan anak sastra melekat pada kami. Maklum kami kuliah di fakultas sastra, yang kini diganti namanya menjadi fakultas ilmu pengetahuan budaya. Entah makin bikin njelimet atau keren yang jelas nama fakultas sastra lebih kami sering gunakan. Hal ini dikarenakan sebutan untuk kantin sastra yang kerap disingkat kansas atau kancut karena merujuk pada bentuk bangunannya yang kerucut mirip rumah adat Papua; yaitu honai. 

Eko memang sederhana tapi luarbiasa. Sifat sederhananya yang menjadikan luar biasa. Saya banyak berdiskusi, berdebat, bercanda dengannya. Dia yang beri saya julukan 'bedebah serampangan' karena saya tidak pernah bisa rapi; 11 12 dengannya. Saya ingat dari manusia ini yaitu termasuk golongan anak kampus yang kuliah memakai sandal jepit; bersama-sama Mohammad Arief Dharmawan yang biasa dipanggil Kiwil dan Shubhi Abdillah yang biasa tidak dipanggil eh maksudnya biasa disapa Sub. Ketiga orang ini kuliah di jurusan yang sama: sastra Indonesia. Uniknya mereka semua konsisten memakai sendal jepit hingga akhir masa kuliah (jangan sebut kata 'wisuda' karena konon kata tersebut diharamkan oleh Shubhi). Entah apa motivasi mereka khususnya Eko menggunakan sendal jepit ke kampus. Namun bagi saya itu menggambarkan sikap anti kemapanan dari jiwa muda yang bergelora. Saya pun sering memakai sendal jepit ke kampus. Ada hal menarik dimana Eko pernah menitipkan karya-karya puisinya kepada saya sebagai bahan pembelajaran pengkajian puisi kala itu. Saya beruntung menjadi satu dari sekian orang yang diberi amanah untuk menyimpan pusaka beliau.

Sampai suatu ketika Eko ngotot ingin singgah di kediaman saya di Solo. Entah angin apa yang membawanya, bersama Kiwil dan Shubhi bertemu saya. Saya tak pernah menyangka itulah perjumpaan saya terakhir dengannya. Saya menyesal karena sempat bertengkar dengan Eko waktu itu, maafkan saya, ko. Tak ada lagi kini manusia yang dengan seenaknya mengejek saya sambil tertawa renyah dengan legawa tanpa tedeng aling-aling. Ya. Eko pernah menamai dirinya legowo prasodjo; terinsipirasi dari Mangan Ora Mangan Kumpul-nya Umar Kayam. Masih ingat di kamar itu ketika saya memutarkan lagu-lagu Dream Theater serta dengan sombongnya saya cerita  ke Eko soal konser Dream Theater di Jakarta yang saya hadiri pada 21 April 2012. Eko pernah berjanji kepada saya, kalau saya lulus kuliah dia ingin memasukkan saya jadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementrian Perhubungan tempat dia bekerja. Pun dengan sombongnya dia berujar bahwa kala itu dia telah menduduki jabatan penting soal-menyoal bagian kepegawaian alias HRD; artinya saya pasti dijamin masuk kantornya dengan acc-nya. Kini janjimu tinggal janji yang tak pernah ada lanjutannya, ko. Tamat.

Saya banyak belajar dari Eko, sadar atau tidak manusia ini telah mengajarkan saya bagaimana cara mensyukuri hidup ini. Dia tidak butuh untuk dikenal ataupun terkenal, seorang seniman sejati yang selalu berkawan dengan sepi. Saya yakin Eko merupakan manusia yang dikirim Allah untuk mengisi linimasa hidup saya. Selamat jalan Eko, semoga Allah jadikan luas tempatmu di sana. Sampai jumpa, kawan.


Eko Prasetyo Raharjo bin Tumidjo [25 Maret 1986-8 Agustus 2012]



Untuk Shubhi, Kiwil, Ali, dan Cungkring

by Eko Prasetyo on Tuesday, August 11, 2009 at 12:20pm ·
Mereka Menyebut Namamu Sudah Tertulis di Langit
: kepada Rendra

bila mereka menyebut namamu sudah tertulis di langit
maka aku akan mencoba ke atap rumah dan memandang ke atas

namun ku tahu ketika itu kau akan berpesan
jangan kau puja aku. aku malu
karena di bawah sini pun aku selalu dibantu 
terintip sedikit di celah awan kemegahan kursi itu yang terpanggul malaikat
kau tahu? aku telah merasakan nafasNya yang berembus sampai ke ujung jari-jari kakiku yang menyembul dari selimut

Aku tahu, Ia juga yang telah menarik sedikit selimutmu agar menyembul kakimu
karena jejak telah kau tapaki di mana-mana. membawa pengalamanmu lebih dari Rangkasbitung hingga Rotterdam
namun, aku tak habis pikir, kenapa Ia tak sibak saja selimutmu? agar kau dapat merasakan nafasNya di sekujur tubuhmu. selanjutnya aku akan bertanya, dingin ataukah hangat?

aku sedang di atap mencoba memandang ke atas
karena mereka menyebut namamu sudah tertulis di langit
aku pun berpikir bila nanti hujan turun sesekali akan aku tadahi
airnya kugunakan untuk mandi, mengepel lantai, atau mencuci
dan yang jatuh ke kali akan terbiar menjadi arus yang dapat membanjiri rumah

sebatas itu, karena aku berani menafsirkan pesanmu. tiap awan bukanlah ancaman. aku tak takut. aku tak mengibakan. namun, di hadapanNya aku menjadi takut lalu mengibakan. lalu ku tak akan berteriak, buat apa pernyataan ini! 

tapi, saat di atap masih ada yang tak mampu kutafsirkan di akhir doamu itu
“Allah Yang Maharahman,
imanku adalah pengalamanku”

di atap ku memandang ke atas
mereka menyebut namamu sudah tertulis di langit sejak awal

09Agustus2009

No comments:

Post a Comment