Pernah gak sih
kalian mikirin hidup? Rasanya pertanyaan itu gak perlu dijawab panjang lebar,
jawabannya iya. Nah terus hidup seperti apa yang kalian pikirin? Kalau ini
sepertinya gak perlu dipikirin, nanti pusing sendiri. Sebenarnya gak usah
dipikirin juga kalimat-kalimat tadi, soalnya cuma untuk pembuka cerita saja kok. Biar gak
seperti judulnya yang copy paste doang,
paling gak lebih menarik lah; walau sedikit, dan maksa.
---------
Alkisah saya pernah mikirin soal hidup bersama rekan saya satu kontrakan. Di tengah keheningan tengah malam tiba-tiba dia bilang begini:
| Bro, enak ya kita
ini hidup, setiap hari gini-gini aja. Makan, minum, eek, tidur, bangun tidur, ibadah,
terus gitu lagi berulang-ulang. Enak banget deh pokoknya hidup kita ini, nikmat
mana lagi yang kamu dustakan. Bosan juga tapi mau gimana lagi, nasib orang
miskin di dunia. Tapi paling gak kita udah berusaha bro, ada keuntungannya kita
hidup model copy paste bin plagiat gini
setiap hari.
| Enaknya apa bro?
| Ya paling gak kan
kita ikut meringankan tugas malaikat pencatat amal perbuatan manusia. Jadi
ketika si malaikat datang ingin mencatat dia bergumam: “Ini manusia berdua; si
John Koplo dan si Faung Joe Manning; sama saja setiap hari kegiatannya hidup di
dunia, tak ada perubahan sama sekali. Hidupnya cuma menjiplak itu ke itu saja.
Tidak kreatif. Tapi tetap saya akan mencatat amal perbuatan kedua manusia ini
karena itu memang kewajiban saya sebagai malaikat pencatat”. Kan jadi enak
tugasnya si malaikat cuma tinggal ctrl c + ctrl v alias copy paste aja. Hahaha.
| Hahaha. Bener itu
bro, bener banget.
| Tapi kira-kira
malaikat itu bosan gak ya dengan kita? Kayaknya hidup kita ini gak ada artinya
buat dunia. Hahaha
| Ya paling gak kita
udah mengukir sejarah, bro. Jadi manusia yang ikut bikin sesak dunia. Hahaha.
-----
Hidup terkadang
membosankan, kalau kita tidak bisa memaknai hidup itu sendiri. Betapa banyak
manusia yang bosan hidup, ujung-ujungnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang
tidak baik yaitu bunuh diri. Alangkah bodohnya manusia semacam ini. Apa dia
tidak ingat ketika dahulu kala sejarah penciptaan manusia yang dijelaskan di
dalam Quran, dari mulai segumpal darah yang menjadi segumpal daging untuk
kemudian berkembang hingga memiliki tulang belulang dan hingga akhirnya berupa
manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik rupa?
Sadar atau tidak
sejatinya kita hidup di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Mengapa
begitu? Bayangkan, dari jutaan sel sperma yang ada ketika membuahi sel telur
hingga berupa janin, secara teori hanya sel sperma yang kuat lah yang sanggup
menembus dinding sel telur yang memiliki proteksi terhadap gangguan asing untuk
masuk dan bersama-sama membentuk koalisi dalam membendung serangan luar setelah
terjadinya proses pembuahan sel. Bayangkan pula, setelah proses pembuahan
terjadi maka sel sperma, sebut saja “yang menang” hanya satu saja, selebihnya
sebutlah “yang kalah” maka akan tidak bertahan lama alias mati. Lantas artinya
apa? Jelas lah bahwa manusia yang hidup serta akhirnya mampu merasakan oksigen
dunia tentunya manusia pilihan yang telah melewati serangkaian proses biologis,
kimiawi, dan fisika. Untuk menjadi seorang manusia saja butuh proses panjang,
tidak instan seperti membuat teh celup. Dari sekian juta lebih probabilitas
peluang untung menjadi manusia, maka hanya satu yang berhak dan layak jadi
juaranya dan hal demikian bukanlah rekayasa kebetulan semata melainkan melalui
hitungan matematis ilahi.
Dan kalian tahu
siapa juaranya itu? Juaranya sedang membaca tulisan ini. Percayalah.

No comments:
Post a Comment