Thursday, May 29, 2014

Hidup ala Copy Paste



Pernah gak sih kalian mikirin hidup? Rasanya pertanyaan itu gak perlu dijawab panjang lebar, jawabannya iya. Nah terus hidup seperti apa yang kalian pikirin? Kalau ini sepertinya gak perlu dipikirin, nanti pusing sendiri. Sebenarnya gak usah dipikirin juga kalimat-kalimat tadi, soalnya  cuma untuk pembuka cerita saja kok. Biar gak seperti judulnya yang copy paste doang, paling gak lebih menarik lah; walau sedikit, dan maksa.
---------






Alkisah saya pernah mikirin soal hidup bersama rekan saya satu kontrakan. Di tengah keheningan tengah malam tiba-tiba dia bilang begini: 

| Bro, enak ya kita ini hidup, setiap hari gini-gini aja. Makan, minum, eek, tidur, bangun tidur, ibadah, terus gitu lagi berulang-ulang. Enak banget deh pokoknya hidup kita ini, nikmat mana lagi yang kamu dustakan. Bosan juga tapi mau gimana lagi, nasib orang miskin di dunia. Tapi paling gak kita udah berusaha bro, ada keuntungannya kita hidup model copy paste bin plagiat gini setiap hari.
| Enaknya apa bro?
| Ya paling gak kan kita ikut meringankan tugas malaikat pencatat amal perbuatan manusia. Jadi ketika si malaikat datang ingin mencatat dia bergumam: “Ini manusia berdua; si John Koplo dan si Faung Joe Manning; sama saja setiap hari kegiatannya hidup di dunia, tak ada perubahan sama sekali. Hidupnya cuma menjiplak itu ke itu saja. Tidak kreatif. Tapi tetap saya akan mencatat amal perbuatan kedua manusia ini karena itu memang kewajiban saya sebagai malaikat pencatat”. Kan jadi enak tugasnya si malaikat cuma tinggal ctrl c + ctrl v alias copy paste aja. Hahaha.
| Hahaha. Bener itu bro, bener banget.
| Tapi kira-kira malaikat itu bosan gak ya dengan kita? Kayaknya hidup kita ini gak ada artinya buat dunia. Hahaha
| Ya paling gak kita udah mengukir sejarah, bro. Jadi manusia yang ikut bikin sesak dunia. Hahaha.
-----



Hidup terkadang membosankan, kalau kita tidak bisa memaknai hidup itu sendiri. Betapa banyak manusia yang bosan hidup, ujung-ujungnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak baik yaitu bunuh diri. Alangkah bodohnya manusia semacam ini. Apa dia tidak ingat ketika dahulu kala sejarah penciptaan manusia yang dijelaskan di dalam Quran, dari mulai segumpal darah yang menjadi segumpal daging untuk kemudian berkembang hingga memiliki tulang belulang dan hingga akhirnya berupa manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik rupa? 


Sadar atau tidak sejatinya kita hidup di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Mengapa begitu? Bayangkan, dari jutaan sel sperma yang ada ketika membuahi sel telur hingga berupa janin, secara teori hanya sel sperma yang kuat lah yang sanggup menembus dinding sel telur yang memiliki proteksi terhadap gangguan asing untuk masuk dan bersama-sama membentuk koalisi dalam membendung serangan luar setelah terjadinya proses pembuahan sel. Bayangkan pula, setelah proses pembuahan terjadi maka sel sperma, sebut saja “yang menang” hanya satu saja, selebihnya sebutlah “yang kalah” maka akan tidak bertahan lama alias mati. Lantas artinya apa? Jelas lah bahwa manusia yang hidup serta akhirnya mampu merasakan oksigen dunia tentunya manusia pilihan yang telah melewati serangkaian proses biologis, kimiawi, dan fisika. Untuk menjadi seorang manusia saja butuh proses panjang, tidak instan seperti membuat teh celup. Dari sekian juta lebih probabilitas peluang untung menjadi manusia, maka hanya satu yang berhak dan layak jadi juaranya dan hal demikian bukanlah rekayasa kebetulan semata melainkan melalui hitungan matematis ilahi.

Dan kalian tahu siapa juaranya itu? Juaranya sedang membaca tulisan ini. Percayalah.

No comments:

Post a Comment