oleh RMK
Manusia adalah makhluk yang selalu ingin segala
sesuatunya enak, lancar, mulus, indah, dan segala macam rupa yang menunjukkan
sesuatu yang baik dan positif tanpa banyak rintangan, gangguan, hambatan, dan
semisalnya. Begitulah sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Sekaligus
manusia digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan bodoh, selalu cari celah
dari sebuah larangan. Sudah dilarang tidak boleh memakan satu pohon di surga eh
malah ngeyel. Padahal cuma itu saja pohon yang dilarang, selebihnya manusia
bebas makan, minum, dan lain sebagainya di surga. Akibat itulah manusia turun
ke bumi, yang takdirnya telah ditulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan
semesta.
Lantas setelah manusia turun ke bumi mesti apa?
Ternyata jawabannya sederhana. Ibadah. Bukan sampai di situ saja, Allah
teruskan ayat setelahnya bahwa dengan tegas bahwa Allah tidak butuh diberi
rejeki, justru Allah, zat Maha Pemberi Rejeki dan Maha Kuat. yang beri manusia
rejeki segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk hidup di bumi sampai mati.
Tujuan penciptaan jin dan manusia di muka bumi hanyalah ibadah, menyembah Allah
saja tanpa sekutu, tanpa tandingan.
Allah telah wajibkan rukun agama Islam atas lima pilar
yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Artinya kalau
memang kita tidak mampu ya rukun Islam itu dilakukan semampu kita sebagai
seorang hamba.
Dari kelima rukun Islam itu, ada yang menarik buat
saya yaitu salat. Ibadah yang satu ini sungguh spesial di agama Islam. Karena
ibadah ini sebagai simbol tegaknya agama dan sebagai ibadah yang pertama kali
nantinya akan dihisab di hari kiamat. Artinya jika ibadah ini baik, maka ibadah
yang lain akan ikut baik.
Bicara soal salat, maka tak lepas dari peristiwa Isra
Miraj. Sebuah peristiwa agung yang menunjukkan kebesaran Allah yang kuasa
menjalankan hamba-Nya dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsha di Baitul
Maqdis. Peristiwa itu terjadi dalam satu malam, ketika itu Nabi Muhammad ﷺ
sebelum berangkat terlebih dahulu menjalani operasi bedah jantung tanpa
anaestesi oleh Malaikat Jibril dan Mikail, kemudian dibuang bagian yang kotor
tempat bersarang dosa dan penyakit, kemudian diisi oleh hikmah karena sebagai
persiapan menerima ibadah yang paling mulia dari seluruh ibadah dalam syariat
Islam yaitu salat. Hal yang menarik dari ibadah salat yaitu jika ibadah-ibadah
lainnya diperintahkan melalui Malaikat Jibril yang turun ke bumi, terkhusus
salat maka Nabi Muhammad ﷺ dipanggil ke tempat tertinggi untuk bertemu Allah
menerima perintah salat, oleh karena itu hal demikian menunjukkan agungnya
kedudukan salat dibandingkan dengan ibadah lainnya.
Isra Miraj mengandung dua kata yaitu Isra yang
bermakna perjalanan malam dan Miraj yang bermakna naik ke langit. Kedua
peristiwa tersebut terjadi hanya dalam satu malam saja dari tengah malam hingga
menjelang subuh. Hal inilah yang didustakan oleh kafir Quraish pada waktu itu,
dan diriwayatkan bahwa hampir seluruh sahabat Nabi Muhammad tidak percaya dan
nyaris kafir akibat peristiwa yang menggoncangkan iman ini kecuali Abu Bakr,
oleh karena itu beliau digelari As Siddiq yang bermakna membenarkan peristiwa
Isra Miraj.
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad sebelum naik
ke langit, sempat menjadi imam salat bagi seluruh nabi dan rasul yang diutus
untuk menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama terakhir dan rahmat bagi
semesta. Ketika beliau naik ke langit pertama, berjumpa dengan Nabi Adam, bapak
manusia. Di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga
bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di
langit kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam bertemu Nabi Musa. Di
langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.
Menurut Google Maps, jarak Kabah di Makkah ke Masjid
Al Aqsha Baitul Maqdis yaitu 1789km melalui rute jalan darat yang mampu dilalui
manusia via Kota Madinah. Dalam perjalanan itu Nabi Muhammad menaiki tunggangan
bernama Buraq, hewan yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai
yang mampu terbang memiliki kecepatan cahaya, beliau sempat singgah di Madinah, kemudian singgah di
Bukit Sinai, dan kemudian sampai di Masjid Al Aqsha.
Dari seluruh cerita di atas, saya mengambil hikmah besar
tentang ibadah salat. Pertanyaan besar dan selalu saya ulang untuk diri saya
sendiri. Apa sih sulitnya salat di zaman modern ini? Berapa lama waktu yang
dibutuhkan seorang hamba untuk salat? Sulitkah menemukan air di Indonesia ini?
Saya menemukan jawaban sendiri mengenai perihal salat.
Bayangkan saja, dari seluruh syariat yang ada dalam Islam, hanya salat yang
perintahnya langsung di langit tanpa perantara. Tempatnya di Sidratul Muntaha,
ujung pohon bidara yang luasnya seluas langit dan bumi. Tempat dimana Malaikat
Jibril sekalipun tidak mampu memasukinya, kecuali bagi yang dikehendaki Allah.
Artinya hanya Nabi Muhammad manusia pilihan terbaik semesta yang Allah pilih
dengan jasad dan ruh untuk menerima perintah yang paling mulia.
Kemudian muncul pelbagai referensi mengenai hidup di
dunia. Allah telah sampaikan mengenai contoh terbaik manusia yang pernah hidup
di bumi. Lantas mengapa saya sebagai hamba Allah dan pengikut Muhammad tidak
mengambil suri teladan tersebut? Sungguh sebuah kerugian besar, mengingat Allah
menggunakan huruf sumpah dalam Alquran dengan pengulangan.energi.
Manusia tidak mungkin menjangkau kemuliaan Allah,
segala apapun yang mencakup zat, ilmu, dan kekuasaan-Nya. Apa ada manusia yang
sangup mengukur luas semesta ini? Semesta yang lengkap dengan konstelasi
keruwetan dan kerumitan yang tanpa batas. Perkara-perkara gaib teramat banyak
yang pastinya tidak mampu dijangkau akal manusia yang cetek.
Dengan demikian tidak mungkin manusia mampu melihat
Allah di dunia. Jelas hal ini dapat dimaknai dengan akal sehat. Bahwasanya
energi Allah maha dahsyat dengan segala kemuliaan-Nya dan kerajaan-Nya meliputi
langit dan bumi beserta jagad raya semesta ini. Jika surga digambarkan oleh
Allah dengan redaksi kalimat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak
pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbersit dalam hati seorang
hamba. Maka pertanyaan berikutnya bagaimana wajah Allah sebagai pencipta itu
semua? Sebuah kenikmatan yang digambarkan merupakan puncak kenikmatan di surga
yaitu melihat wajah-Nya yang mulia. Maha Suci Allah dengan segala sifat asmaul
husna yang dimiliki-Nya.
Segala macam ilmu pengetahuan manusia sejatinya hanya
setitik ilmu yang Allah berikan bagi hamba-Nya, maka di luar itu adalah
kebodohan dan kegelapan. Dialah Allah, An-Nur, Maha Cahaya yang menerangi
kegelapan dengan rahmat-Nya yang luar biasa besar bagi hamba-Nya.
Kemudian saya ingin pertanyakan dua pertanyaan yang
sederhana namun punya makna besar yaitu apa sulitnya bagi seorang hamba untuk
beribadah?, kemudian sampai kapan mau tidak beribadah?
Telah dijelaskan sebelumnya perkara salat adalah
ibadah paling mulia dari seluruh ibadah yang ada di semesta ini. Lantas ada
syariat bernama azan yang berfungsi panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk
menghadap kepada-Nya. Allah tidak butuh ibadah manusia sedikitpun. Walaupun
manusia kufur seluruhnya atau sebaliknya beriman seluruhnya, maka sama sekali
tidak berpengaruh kepada kerajaan dan kemuliaan Allah.
Logikanya, tidak mungkin bagi Allah untuk menyeru
manusia dengan seruan sesuai dengan kemuliaan zat-Nya. Level frekuensi manusia
tidak sanggup atau katakanlah tidak akan selevel dengan Allah. Maka dari itu
sebagai bentuk rahmat Allah yang luar biasa besar, ada syariat azan. Namun
banyak sekali saya temukan di sekitar saya, manusia yang lalai dari panggilan
Allah.
Saya tidak menemukan adanya kesulitan atau halangan
bagi manusia terutama yang hidup di Indonesia untuk menemukan air sebagai
syarat sah wudhu yang menjadi kunci syarat sah salat. Air di negara ini
berlimpah ruah seakan tidak ada habisnya, yang merupakan nikmat Allah bagi
bangsa ini. Artinya kalau seribu empat ratus tahun lalu Nabi Muhammad dan para
sahabatnya yang mulia kesulitan menemukan air untuk bersuci dan hajat hidup lainnya,
maka bangsa ini Allah berikan nikmat yang luar biasa dahsyatnya dengan
kemudahan air. Oleh karena itu tidak ada uzur, kecuali bagi yang sakit atau
musafir, bagi hamba Allah untuk tidak menemukan air sebagai syarat berwudhu
untuk menunaikan salat. Justru kebalikannya, banyak manusia yang boros dalam
menggunakan air wudhu, padahal yang demikian dilarang oleh Nabi Muhammad dan
perkara wudhu sudah dicontohkan dengan jelas.
Allah Akbar. Allah Maha Besar.
Artinya yang kecil dan receh pastilah bukan Allah,
melainkan makhluk khususnya yang bernama dunia yang teramat hina dan kecil.
Hal yang saya maknai dari azan yaitu Allah mengajak
hamba-Nya untuk komunikasi. Bermunajat. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk
hamba-Nya. Saya pun mencoba untuk bertanya lebih dalam, apa ruginya seorang
hamba yang taat kepada Allah? Ingatlah Allah adalah zat yang tak pernah ingkar
janji. Surga adalah jaminan terbesar Allah yang disiapkan bagi hamba-Nya yang
taat. Pun sebaliknya neraka adalah jaminan Allah bagi hamba-Nya yang maksiat.
Pertanyaan berikutnya. Berapa lama waktu yang
dibutuhkan seorang hamba dalam sehari semalam untuk menunaikan salat wajib?
Anggaplah sepuluh menit, dengan rincian salat dan zikir. Semua dikalikan lima.
Totalnya hanya lima puluh menit alias satu jam kurang. Hanya itu yang Allah minta
agar hamba mengingat-Nya dalam sehari semalam. Namun kenyataannya masih banyak
langkah-langkah berat untuk menuju masjid bagi kaum lelaki. Sampai ada satir
berbunyi, gunung tinggi ku daki, lautan ku seberangi, masjid ku lewati.
Pertanyaan kedua yaitu sampai kapan manusia mau hidup
begitu begitu saja tanpa ada perubahan berarti dalam hidupnya? Saya ingat
khutbah seorang khatib yang berkata bahwa jangan sampai manusia masuk mesjid
karena terpaksa. Maksudnya terpaksa karena kematian alias disalatkan di mesjid.
Mestinya malu, semasa hidup tak pernah ke mesjid namun ketika wafat malah masuk
mesjid namun beda cerita dan keadaan.
Hidup di bumi itu singkat. Kalau menggunakan
perhitungan matematika langit, Allah berfiman bahwa satu hari di akhirat sama
dengan seribu tahun di muka bumi. Kalau dihitung usia umat akhir zaman
kira-kira hanya satu setengah jam saja kita hidup menggunakan perhitungan waktu
akhirat. Lantas untuk apa manusia menghabiskan waktu yang hanya satu setengah
jam akhirat kalau hanya dipakai maksiat kepada Allah. Sungguh kerugian besar.
Sementara perjalanan menuju surga itu teramat panjang
dan misterius. Kalau manusia di bumi sering melakukan ritual mudik pulang
kampung untuk bertemu sanak famili handai taulan biasanya menyiapkan bekal serta
navigasi untuk di jalan dan dibagikan di kampung halaman tercinta. Maka
bagaimana dengan mudik ke surga tempat asal muasal manusia anak cucu Nabi Adam.
Pastilah manusia lebih siap untuk perjalanan teramat jauh yang butuh bekal dan
navigasi yang mumpuni bernama ketaqwaan atas dasar ilmu dan mengikuti petunjuk
Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan dalam Surah Al
Fatihah. Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang lurus,
jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat surga dari para nabi, para
shidiq, para syuhada, dan orang salih. Dan bukan jalan orang yang dimurkai
karena berilmu tanpa beramal dan jalan orang sesat yang beramal tanpa berilmu.
Amin.
Apa sih sulitnya ibadah? Sampai kapan hidup begini
saja dan tidak mau ibadah?
No comments:
Post a Comment