Friday, March 18, 2022

Apa Sih Sulitnya dan Sampai Kapan: Sebuah Catatan Refleksi Diri sebagai Seorang Manusia

 oleh RMK

Manusia adalah makhluk yang selalu ingin segala sesuatunya enak, lancar, mulus, indah, dan segala macam rupa yang menunjukkan sesuatu yang baik dan positif tanpa banyak rintangan, gangguan, hambatan, dan semisalnya. Begitulah sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Sekaligus manusia digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan bodoh, selalu cari celah dari sebuah larangan. Sudah dilarang tidak boleh memakan satu pohon di surga eh malah ngeyel. Padahal cuma itu saja pohon yang dilarang, selebihnya manusia bebas makan, minum, dan lain sebagainya di surga. Akibat itulah manusia turun ke bumi, yang takdirnya telah ditulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan semesta.

Lantas setelah manusia turun ke bumi mesti apa? Ternyata jawabannya sederhana. Ibadah. Bukan sampai di situ saja, Allah teruskan ayat setelahnya bahwa dengan tegas bahwa Allah tidak butuh diberi rejeki, justru Allah, zat Maha Pemberi Rejeki dan Maha Kuat. yang beri manusia rejeki segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk hidup di bumi sampai mati. Tujuan penciptaan jin dan manusia di muka bumi hanyalah ibadah, menyembah Allah saja tanpa sekutu, tanpa tandingan.

Allah telah wajibkan rukun agama Islam atas lima pilar yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Artinya kalau memang kita tidak mampu ya rukun Islam itu dilakukan semampu kita sebagai seorang hamba.

Dari kelima rukun Islam itu, ada yang menarik buat saya yaitu salat. Ibadah yang satu ini sungguh spesial di agama Islam. Karena ibadah ini sebagai simbol tegaknya agama dan sebagai ibadah yang pertama kali nantinya akan dihisab di hari kiamat. Artinya jika ibadah ini baik, maka ibadah yang lain akan ikut baik.

Bicara soal salat, maka tak lepas dari peristiwa Isra Miraj. Sebuah peristiwa agung yang menunjukkan kebesaran Allah yang kuasa menjalankan hamba-Nya dari Masjid Al Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsha di Baitul Maqdis. Peristiwa itu terjadi dalam satu malam, ketika itu Nabi Muhammad ﷺ sebelum berangkat terlebih dahulu menjalani operasi bedah jantung tanpa anaestesi oleh Malaikat Jibril dan Mikail, kemudian dibuang bagian yang kotor tempat bersarang dosa dan penyakit, kemudian diisi oleh hikmah karena sebagai persiapan menerima ibadah yang paling mulia dari seluruh ibadah dalam syariat Islam yaitu salat. Hal yang menarik dari ibadah salat yaitu jika ibadah-ibadah lainnya diperintahkan melalui Malaikat Jibril yang turun ke bumi, terkhusus salat maka Nabi Muhammad ﷺ dipanggil ke tempat tertinggi untuk bertemu Allah menerima perintah salat, oleh karena itu hal demikian menunjukkan agungnya kedudukan salat dibandingkan dengan ibadah lainnya.  

Isra Miraj mengandung dua kata yaitu Isra yang bermakna perjalanan malam dan Miraj yang bermakna naik ke langit. Kedua peristiwa tersebut terjadi hanya dalam satu malam saja dari tengah malam hingga menjelang subuh. Hal inilah yang didustakan oleh kafir Quraish pada waktu itu, dan diriwayatkan bahwa hampir seluruh sahabat Nabi Muhammad tidak percaya dan nyaris kafir akibat peristiwa yang menggoncangkan iman ini kecuali Abu Bakr, oleh karena itu beliau digelari As Siddiq yang bermakna membenarkan peristiwa Isra Miraj.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad sebelum naik ke langit, sempat menjadi imam salat bagi seluruh nabi dan rasul yang diutus untuk menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama terakhir dan rahmat bagi semesta. Ketika beliau naik ke langit pertama, berjumpa dengan Nabi Adam, bapak manusia. Di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Di langit keempat bertemu dengan Nabi Idris. Di langit kelima bertemu dengan Nabi Harun. Di langit keenam bertemu Nabi Musa. Di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.

Menurut Google Maps, jarak Kabah di Makkah ke Masjid Al Aqsha Baitul Maqdis yaitu 1789km melalui rute jalan darat yang mampu dilalui manusia via Kota Madinah. Dalam perjalanan itu Nabi Muhammad menaiki tunggangan bernama Buraq, hewan yang lebih kecil dari kuda dan lebih besar dari keledai yang mampu terbang memiliki kecepatan cahaya, beliau  sempat singgah di Madinah, kemudian singgah di Bukit Sinai, dan kemudian sampai di Masjid Al Aqsha.

Dari seluruh cerita di atas, saya mengambil hikmah besar tentang ibadah salat. Pertanyaan besar dan selalu saya ulang untuk diri saya sendiri. Apa sih sulitnya salat di zaman modern ini? Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba untuk salat? Sulitkah menemukan air di Indonesia ini?

Saya menemukan jawaban sendiri mengenai perihal salat. Bayangkan saja, dari seluruh syariat yang ada dalam Islam, hanya salat yang perintahnya langsung di langit tanpa perantara. Tempatnya di Sidratul Muntaha, ujung pohon bidara yang luasnya seluas langit dan bumi. Tempat dimana Malaikat Jibril sekalipun tidak mampu memasukinya, kecuali bagi yang dikehendaki Allah. Artinya hanya Nabi Muhammad manusia pilihan terbaik semesta yang Allah pilih dengan jasad dan ruh untuk menerima perintah yang paling mulia.

Kemudian muncul pelbagai referensi mengenai hidup di dunia. Allah telah sampaikan mengenai contoh terbaik manusia yang pernah hidup di bumi. Lantas mengapa saya sebagai hamba Allah dan pengikut Muhammad tidak mengambil suri teladan tersebut? Sungguh sebuah kerugian besar, mengingat Allah menggunakan huruf sumpah dalam Alquran dengan pengulangan.energi.

Manusia tidak mungkin menjangkau kemuliaan Allah, segala apapun yang mencakup zat, ilmu, dan kekuasaan-Nya. Apa ada manusia yang sangup mengukur luas semesta ini? Semesta yang lengkap dengan konstelasi keruwetan dan kerumitan yang tanpa batas. Perkara-perkara gaib teramat banyak yang pastinya tidak mampu dijangkau akal manusia yang cetek.

Dengan demikian tidak mungkin manusia mampu melihat Allah di dunia. Jelas hal ini dapat dimaknai dengan akal sehat. Bahwasanya energi Allah maha dahsyat dengan segala kemuliaan-Nya dan kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi beserta jagad raya semesta ini. Jika surga digambarkan oleh Allah dengan redaksi kalimat sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terbersit dalam hati seorang hamba. Maka pertanyaan berikutnya bagaimana wajah Allah sebagai pencipta itu semua? Sebuah kenikmatan yang digambarkan merupakan puncak kenikmatan di surga yaitu melihat wajah-Nya yang mulia. Maha Suci Allah dengan segala sifat asmaul husna yang dimiliki-Nya.

Segala macam ilmu pengetahuan manusia sejatinya hanya setitik ilmu yang Allah berikan bagi hamba-Nya, maka di luar itu adalah kebodohan dan kegelapan. Dialah Allah, An-Nur, Maha Cahaya yang menerangi kegelapan dengan rahmat-Nya yang luar biasa besar bagi hamba-Nya.

Kemudian saya ingin pertanyakan dua pertanyaan yang sederhana namun punya makna besar yaitu apa sulitnya bagi seorang hamba untuk beribadah?, kemudian sampai kapan mau tidak beribadah?

Telah dijelaskan sebelumnya perkara salat adalah ibadah paling mulia dari seluruh ibadah yang ada di semesta ini. Lantas ada syariat bernama azan yang berfungsi panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk menghadap kepada-Nya. Allah tidak butuh ibadah manusia sedikitpun. Walaupun manusia kufur seluruhnya atau sebaliknya beriman seluruhnya, maka sama sekali tidak berpengaruh kepada kerajaan dan kemuliaan Allah.

Logikanya, tidak mungkin bagi Allah untuk menyeru manusia dengan seruan sesuai dengan kemuliaan zat-Nya. Level frekuensi manusia tidak sanggup atau katakanlah tidak akan selevel dengan Allah. Maka dari itu sebagai bentuk rahmat Allah yang luar biasa besar, ada syariat azan. Namun banyak sekali saya temukan di sekitar saya, manusia yang lalai dari panggilan Allah.

Saya tidak menemukan adanya kesulitan atau halangan bagi manusia terutama yang hidup di Indonesia untuk menemukan air sebagai syarat sah wudhu yang menjadi kunci syarat sah salat. Air di negara ini berlimpah ruah seakan tidak ada habisnya, yang merupakan nikmat Allah bagi bangsa ini. Artinya kalau seribu empat ratus tahun lalu Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang mulia kesulitan menemukan air untuk bersuci dan hajat hidup lainnya, maka bangsa ini Allah berikan nikmat yang luar biasa dahsyatnya dengan kemudahan air. Oleh karena itu tidak ada uzur, kecuali bagi yang sakit atau musafir, bagi hamba Allah untuk tidak menemukan air sebagai syarat berwudhu untuk menunaikan salat. Justru kebalikannya, banyak manusia yang boros dalam menggunakan air wudhu, padahal yang demikian dilarang oleh Nabi Muhammad dan perkara wudhu sudah dicontohkan dengan jelas.

Allah Akbar. Allah Maha Besar.

Artinya yang kecil dan receh pastilah bukan Allah, melainkan makhluk khususnya yang bernama dunia yang teramat hina dan kecil.

Hal yang saya maknai dari azan yaitu Allah mengajak hamba-Nya untuk komunikasi. Bermunajat. Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya pun mencoba untuk bertanya lebih dalam, apa ruginya seorang hamba yang taat kepada Allah? Ingatlah Allah adalah zat yang tak pernah ingkar janji. Surga adalah jaminan terbesar Allah yang disiapkan bagi hamba-Nya yang taat. Pun sebaliknya neraka adalah jaminan Allah bagi hamba-Nya yang maksiat.

Pertanyaan berikutnya. Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang hamba dalam sehari semalam untuk menunaikan salat wajib? Anggaplah sepuluh menit, dengan rincian salat dan zikir. Semua dikalikan lima. Totalnya hanya lima puluh menit alias satu jam kurang. Hanya itu yang Allah minta agar hamba mengingat-Nya dalam sehari semalam. Namun kenyataannya masih banyak langkah-langkah berat untuk menuju masjid bagi kaum lelaki. Sampai ada satir berbunyi, gunung tinggi ku daki, lautan ku seberangi, masjid ku lewati.

Pertanyaan kedua yaitu sampai kapan manusia mau hidup begitu begitu saja tanpa ada perubahan berarti dalam hidupnya? Saya ingat khutbah seorang khatib yang berkata bahwa jangan sampai manusia masuk mesjid karena terpaksa. Maksudnya terpaksa karena kematian alias disalatkan di mesjid. Mestinya malu, semasa hidup tak pernah ke mesjid namun ketika wafat malah masuk mesjid namun beda cerita dan keadaan.

Hidup di bumi itu singkat. Kalau menggunakan perhitungan matematika langit, Allah berfiman bahwa satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di muka bumi. Kalau dihitung usia umat akhir zaman kira-kira hanya satu setengah jam saja kita hidup menggunakan perhitungan waktu akhirat. Lantas untuk apa manusia menghabiskan waktu yang hanya satu setengah jam akhirat kalau hanya dipakai maksiat kepada Allah. Sungguh kerugian besar.

Sementara perjalanan menuju surga itu teramat panjang dan misterius. Kalau manusia di bumi sering melakukan ritual mudik pulang kampung untuk bertemu sanak famili handai taulan biasanya menyiapkan bekal serta navigasi untuk di jalan dan dibagikan di kampung halaman tercinta. Maka bagaimana dengan mudik ke surga tempat asal muasal manusia anak cucu Nabi Adam. Pastilah manusia lebih siap untuk perjalanan teramat jauh yang butuh bekal dan navigasi yang mumpuni bernama ketaqwaan atas dasar ilmu dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan dalam Surah Al Fatihah. Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat surga dari para nabi, para shidiq, para syuhada, dan orang salih. Dan bukan jalan orang yang dimurkai karena berilmu tanpa beramal dan jalan orang sesat yang beramal tanpa berilmu. Amin.

Apa sih sulitnya ibadah? Sampai kapan hidup begini saja dan tidak mau ibadah?

 

No comments:

Post a Comment