oleh John Copelow
Pernahkah Anda berpikir tentang perkara lupa? Sebuah perkara receh namun besar. Perkara yang meliputi sifat dasar manusia yang di dalamnya terkandung makna luas menyangkut hakikat kehidupan manusia yang berhubungan dengan keseimbangan dan keharmonisan semesta, yaitu bernama lupa. Lupa memang menjadi ciri khas perkara kemanusiaan dalam kaitannya dengan interaksi manusia dengan manusia serta interaksi manusia dengan semesta.
Konsep lupa merupakan konsep fitrah manusia artinya
ini merupakan sifat asli bawaan manusia sejak manusia pertama Nabi Adam hingga
manusia paling terakhir yang hidup di muka bumi. Bahasa Inggris menggunakan
istilah forget /fərˈɡet/
yang bermakna
gagal untuk mengingat sesuatu. Gulo
(1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal
atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Keterbatasan akal manusia menjadi sebab akibat konsep
dasar lupa. Namun jangan salah, lupa dalam konteks keseimbangan semesta bermakna
besar yaitu dengan eksistensi lupa maka manusia selalu menjadi makhluk yang
selalu berevolusi menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk.
Bayangkan saja kalau manusia tidak memiliki sifat
lupa, alias manusia mengambil ceruk sifat ilahiah yang sempurna tanpa cela dan
noda sama sekali. Akibatnya adalah terjadi ketidakseimbangan dan
ketidakharmonisan di alam semesta ini. Manusia tidak ada yang mengoreksi
dirinya sendiri dan orang lain. Semua akan bertabrakan satu dengan yang lain.
Semesta akan hancur dengan sendirinya karena sejatinya lupa adalah oposisi
biner dari kata ingat.
Saya teringat sebuah cerita, untungnya saya tidak lupa
dalam hal ini, sebuah cerita dari ustadz yang menceritakan perkara apa saja
yang akan dilewati manusia dalam fase setelah kehidupan di muka bumi ini.
Bahkan baru saja manusia wafat dan dikebumikan, maka tidak selang beberapa lama
dia langsung dilupakan oleh keluarga atau bahkan pasangan hidupnya semasa di
dunia. Karena tidak ada manusia yang mati ditemani di alam kuburnya. Dari sini
saja dapat dipahami bahwa konsep lupa yang disengaja adalah merupakan sebuah
keniscayaan hidup atas orang yang mati. Lantas kemudian kehidupan terus
belanjut detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari bahkan tahun demi
tahun yang hingga pada akhirnya seorang manusia hanya akan dikenang namanya
entah karena sesuatu yang baik ataupun sebaliknya sesuatu yang buruk.
Begitulah kehidupan di semesta ini. Semesta yang
teramat luas yang manusia tidak tahu ukuran matematisnya berapa luasnya
semesta, sedangkan manusia hidup di bumi yang ukurannya amat sempit. Lantas
masih banyak manusia yang terlalu menyibukkan diri dengan hal yang tidak
bermanfaat untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Di bumi yang kecil ini kita
sombong, berlagak jadi makhluk sempurna padahal kenyataannya amat jauh panggang
dari asap. Manusia lahir dari lubang yang sempit, bernapas dari lubang yang
sempit, makan dan minum dari lubang yang sempit, buang kotoran dari lubang yang
sempit. Hingga pada akhirnya mati dan kembali ke tanah melalui lubang yang
sempit. Lantas di sisi mana manusia mesti sombong.
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati
meninggalkan nama. Pepatah lama ini rasanya mesti dikaji kembali melalui gaya
hidup manusia modern. Terlalu sibuknya kita dengan hidup ini menjadikan suatu
hal yang bernama makna menjadi semakin terkikis. Kita hidup di jaman dimana
laki-laki dan perempuan saling kenal di pagi hari dan sudah bilang cinta di
siang hari, begitu cepatnya, walau belum kenal secara utuh. Bayangkan di jaman
dulu manusia berkeluh kesah lewat buku catatan pribadi atau mungkin bisa juga
lewat tulisan yang dijadikan surat menyurat lewat PT Pos Indonesia. Dimana saat
hari raya Idul Fitri atau hari besar agama lainnya terdapat ucapan yang menjadi
sangat spesial pakai telur karena diucapkan dan diterima langsung oleh orang
yang bersangkutan secara ikhlas dan tepat sasaran. Atau mungkin saat dimana
orang saling berkirim pesan singkat lewat telegram yang disisipkan pesan sayang
berupa uang kepada yang tersayang. Pesan sayang yang diabadikan oleh penyair WS
Rendra lewat sajaknya yang terkenal berjudul Ada Tilgram Tiba Senja.
Maka dari itu tulisan ini saya abadikan agar kelak
dibaca oleh siapa saja asal dia masih manusia. Saya ucapkan terima kasih masih
mau dan sempat-sempatnya membaca tulisan receh yang tidak terlalu penting ini.
Niat saya cuma agar dikenang oleh anak cucu cicit canggah saya sebagai
pendahulunya yang eksis dengan menulis dan bahwa saya merupakan manusia nyata
dan pernah hidup dengan tulisan ini sebagai barang bukti otentiknya.
Alhasil, kenangan demi kenangan yang dialami oleh
seorang manusia pada akhirnya akan berujung kepada kenangan. Ya tinggal pilih
saja, mau berujung kenangan baik atau buruk serta bonusnya yaitu ada
kenangannya. Ibarat pahlawan yang sejatinya tidak perlu penghargaan atau
kenangan. Belajarlah untuk menjadi ikhlas. Ikhlas menjalani kehidupan sebagai
manusia yang tak luput dari sifat lupa. Lupakan hal yang baik dari diri
sendiri, maafkan orang lain yang pernah punya salah kepada kita, niscaya kita
akan dikenang sebagai yang baik dan tidak dilupakan.
No comments:
Post a Comment