Hari Jumat.
Tiba-tiba saya dengar pengumuman dari pengeras suara mesjid dekat rumah. Pengumuman itu berisi maklumat uang kas mesjid yang berjumlah 300 juta. Reaksi pertama saya yaitu kaget. Kok bisa ya mesjid di kampung namun uang kas sampai tembus nominal fantastis segitu?. Selidik punya selidik, saya perlahan mencari tahu darimana sumber uang sebanyak itu. Ternyata salah satunya adalah anggaran yang digelontorkan oleh Dewan Mesjid Indonesia (DMI) per tahun bagi mesjid-mesjid yang terdaftar sebagai anggota. Sisanya ya mudah ditebak, yaitu zakat dan sedekah jamaah mesjid.
Fungsi religius dan fungsi sosial mesjid menjadi terpisahkan. Begitu penuturan rekan saya yang dulu aktif di salah satu mesjid kampus. Padahal jika melihat realitanya, kedua fungsi tersebut selalu menyatu dan tak dapat dipisahkan. Dari seluruh rukun Islam yang lima, setelah syahadat seluruhnya perlu menggunakan modal finansial. Apalagi rukun kelima yaitu haji, yang merupakan puncak ibadah tertinggi yang membutuhkan modal finansial dan spiritual yang paling besar.
Bayangkan saja uang 300 juta itu jika disalurkan kepada yang membutuhkan maka akan sangat bermanfaat ketimbang diumumkan keras-keras pakai pengeras suara yang alih-alih malahan bikin sakit hati orang yang punya kuping waras. Masih banyak orang kelaparan, sakit, dan segala macam cobaan duniawi yang mestinya walau sedikit mampu diringankan oleh mesjid sebagai wadah pergerakan umat. Pandemi corona jelas meluluhlantahkan perekonomian, mestinya di sini lah mesjid tampil sebagai pahlawan bagi umat, bukan sebaliknya.
Alhasil, tidak heran kalau umat Islam malas ke mesjid. Stigma mesjid yang kolot dan sakral menjadikan orang hanya menafsirkan mesjid sebagai tempat ritual semata, tanpa disertai dengan aspek spiritual. Seharusnya mesjid merupakan tempat yang mengubah stigma jaman dulu tersebut. Benar kiranya, bahwa seharusnya orang yang mengurus mesjid adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya sadar betul bahwa segala sesuatu soal mesjid kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Harta yang ada di mesjid adalah titipan mau berapapun jumlahnya. Mau satu perak, dua perak, seribu, apalagi 300 juta.
No comments:
Post a Comment