Thursday, June 2, 2022

Bertengkar dengan Orang Tak Dikenal Perkara Duit Goceng

 Suatu hari selepas salat Jumat.

Saya pulang ke rumah naik motor. Di tengah jalan tiba-tiba uang saya jatuh gegara terhempas angin. Uang receh, cuma lima ribu perak. Lantas saya sadar dan reflek mau ambil itu uang. Waktu mau saya ambil tiba-tiba ada dua manusia yang berboncengan naik motor yang juga minat pada itu uang dan berusaha mengambilnya. Sontak saja saya teriak. Maksud teriak tidak ada yang aneh, cuma agak ekspresif saja. Kemudian si manusia-manusia itu salah satunya mungkin karena sudah kepalang tanggung takut diteriaki maling malah balik tanya ke saya apa boleh itu uang buat mereka. Langsung saja saya bilang TIDAK. Mirip iklan partai anu yang promosikan program anti korupsi.

Saya bilang tidak, sekaligus menimpali kalau itu harta buat istri saya. Lagipula ngapain juga itu manusia rebutan uang yang bukan jadi hak mereka. Permasalahannya bukan pada nilai uang lima ribu perak alias goceng namun pada nilai kejujuran. Kalau satu orang manusia semacam itu dibiarkan mudah mengambil hak orang lain yang bukan haknya maka bagaimana kalau dikali sepuluh, seratus, sejuta, dan seterusnya. Artinya makin banyak manusia malas semacam itu.

Hidup di jaman modern yang katanya canggih ini makin absurd. Makin banyak orang aneh yang keanehannya sulit ditebak dan dipahami dengan akal sehat. Logika dan akal sehat manusia banyak yang terjerembab ke lubang hitam yang tak jelas arah tujuannya. Orang dengan mudahnya mencari jalan pintas untuk jadi hebat, kaya, pintar dan lain sebagainya tanpa mau usaha keras dan menempuh jalan yang semestinya. Mirip dengan teknologi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh jalan pikiran manusia, pun begitu dengan sikap manusia itu sendiri yang tidak siap menerima teknologi.

Teknologi seharusnya menjadikan manusia lebih maju. Artinya maju dalam segala urusan yang bermakna positif. Bukan sebaliknya, manusia yang jadi budak teknologi akibat ketidaksiapan mental dalam menggunakan teknologi yang sejatinya untuk kebaikan umat manusia. Sikap mental yang cacat tanpa akhlak budi pekerti yang benar maka akan menjadikan manusia itu serakah tamak rakus sehingga teknologi yang seharusnya berjalan beriringan dengan akhlak manusia menjadi sebaliknya. Bermula dari hal kecil, kalau perkara uang goceng alias lima ribu perak saja sampai rebutan padahal jelas bukan haknya, maka bagaimana dengan nominal yang jauh lebih besar dari itu. Mari kembalikan pikiran dan hati nurani pada tempatnya agar menjadi manusia normal seutuhnya yang berguna bagi alam semesta.

No comments:

Post a Comment